• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komposisi fitoplankton HAB

Dalam dokumen biodiversitas fitoplankton yang berpotensi (Halaman 58-66)

BAB III PEMBAHASAN

2. Komposisi fitoplankton HAB

c. Cyanophyta

Kelas Cyanophyceae termasuk dalam filum Cyanophyta.

(Nontji, 2007) menyebutkan bahwa kelas Cyanophyceae biasanya jarang dijumpai, (Panda et al, 2012) juga menyatakan bahwa kelas cyanophycae merupakan kelas fitoplankton yang paling sedikit dijumpai.

Pada penelitian sebelumnya di perairan teluk gerupuk, tidak ada spesies fitoplankton yang ditemukan dari kelas cyanophyceae (Sri Endah Purnamaningtyas et al, 2019), sedangkan Rahmatullah et al (2016) melaporkan, diperairan estuari Kuala Rigaih kelas cyanophyceae merupakan kelas dengan kelimpahan terendah yakni hanya 11 spesies.

Spesies yang termasuk dalam kelas cyanophyceae antara lain Lyngbya birgei, Trichodesmium erythraeum, Trichodesmium hildebrandtii, Trichodesmium thiebautii, Trichodesmium lacustre, Merismopedia elegans, Spirulina major, Spirulina subsalsa

lebih tinggi kelimpahannya dibandingkan pada musim timur. Hal ini disebabkan oleh intensitas hujan yang lebih tinggi pada saat pengambilan sampel di musim timur, sedangkan pada musim barat intensitas hujan relatif rendah. Kondisi ini disebabkan karena pada musim penghujan salinitas, suhu dan penitrasi cahaya yang masuk ke perairan menjadi rendah serta konsentrasi nutrien pada musim penghujan akan lebih rendah dibandingkan dengan musim kemarau, Selain itu tingkat kekeruhan perairan pada musim penghujan juga lebih tinggi karena pengaruh sedimen yang terbawa dari aliran sungai yang masuk ke badan perairan.

Penelitian dari Mirna Dwirastina dan Arif Wibowo (2015) di perairan sungai Manna Bengkulu selatan juga mengatakan bahwa kelimpahan fitoplankton tertinggi terjadi pada bulan Mei karena musim kemarau, proses dekomposisi bahan organik pada musim kemarau terjadi lebih cepat karena masa tinggal air disungai lebih lama, sehingga unsur-unsur hara dapat dimanfaatkan secara optimum oleh fitoplankton untuk tumbuh, arus air juga tidak terlalu deras dan dapat memudahkan penetrasi cahaya matahari masuk kedalam perairan.

3. Indeks Keanekaragaman, Kemerataan dan Dominansi Fitoplankton.

a. Nilai indeks keanekaragaman

Nilai indeks keanekaragaman, kemerataan, dan dominasi dapat digunakan untuk menilai stabilitas komunitas fitoplankton

di lautan (Duarte et al. 2012). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman berkisar antara 1,81 hingga 3,18.

Menurut Rizky Nurdevita Sari (2018), nilai indeks keanekaragaman H' ˃ 3 menunjukkan jenis fitoplankton yang lebih beragam dan memiliki korelasi dengan kondisi lingkungan.

Semakin tinggi indeks keanekaragaman maka semakin baik pula kondisi lingkungannya dan semakin stabil kondisi komunitas biota perairannya.

Nilai indeks keanekaragaman tertinggi terdapat pada stasiun 3 yakni 3,18. Sedangkan nilai keanekaragaman terendah terdapat pada stasiun 2 yakni 1,81. (Muliyana Ambarwati, 2019) menyatakan bahwa Perbedaan nilai indeks keanekaragaman fitoplankton disebabkan karena perbedaan jumlah total individu, selain itu, juga disebabkan oleh kualitas air yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti posisi atau letak stasiun, adanya kegiatan manusia yang mempengaruhi naik turunnya unsur hara (nitrat dan fosfat) yang masuk ke perairan dan faktor alamiah seperti pergerakan arus, angin, dan turbulensi massa air.

Akibat dari penurunan keanekaragaman fitoplankton juga diduga karena adanya kompetensi secara eksklusif antar spesies, akan tetapi pada status trofik yang semakin tinggi dapat menyebabkan turunnya keanekaragaman fitoplankton yang disebabkan oleh stres. Tinggi dan rendahnya nilai keanekaragaman fitoplankton juga dipengaruhi oleh kedangkalan suatu perairan.

Perairan yang dangkal cenderung memiliki nilai keanekaragaman

yang lebih tinggi daripada perairan yang lebih dalam dikarenakan intensitas cahaya matahari yang masuk kedalam perairan dangkal dapat menembus keseluruh badan air hingga dasar perairan. (Pipit Sandra Aprilia, 2019)

b. Nilai indeks kemerataan

Kemerataan adalah gambaran seberapa besar penyebaran kesamaan jumlah individu di tingkat komunitas (Odum 1971).

Nilai indeks kemerataan (E) berkisar antara 0,23 hingga 0,45,.

Nilai indeks kemerataan tertinggi terdapat pada stasiun 4 dan 3 yakni sebesar 0,45 dan 0,44 Ini menunjukkan bahwa penyebaran setiap takson fitoplankton cenderung sama (merata) dan kondisi lingkungan cukup stabil, sedangkan nilai indeks terendah terdapat pada stasiun 2 yakni sebesar 0,23 dan disusul oleh stasiun 1 dan 5 sebesar 0,33 dan 0,39 hal ini menunjukkan bahwa penyebaran setiap takson cukup merata dan kondisi tidak stabil karena mengalami tekanan.(Dash 2001).

c. Nilai indeks dominansi

Indeks dominasi digunakan untuk menentukan apakah ada spesies tunggal yang berhasil mengubah komunitas. Menurut Dash (2001), indeks mendominasi antara nilai 0 dan 1. Jika nilai indeks mencapai 0, itu berarti tidak ada spesies yang menang. Di sisi lain, jika nilai D dapat 1, berarti ada satu spesies yang menang. Nilai indeks dominasi (D) pada stasiun 3 dan 4 ialah 0,05 dan 0,06 yang menunjukkan bahwa tidak ada spesies fitoplankton yang mendominasi. Sedangkan pada stasiun 1,2, dan 5 ialah 0,13,

0,34, dan 0,20 hal ini menunjukkan bahwa struktur komunitas labil karena terjadi tekanan ekologis (stres).

Hal ini berimplikasi pada nilai indeks kemerataan dan juga berdampak pada indeks keanekaragaman fitoplankton, dimana pada stasiun 3 dan 4 nilai indeks keanekaragaman tinggi karena struktur komunitas dalam keadaan stabil sedangkan indeks keanekaragaman pada stasiun 1,2, dan 5 rendah karena adanya tekanan ekologis yang mengakibatkan struktur komunitas labil hal ini diduga disebabkan oleh pergerakan arus yang disebabkan oleh ombak yang tinggi karena stasiun 1, 2, dan 5 yang berada jauh dari pesisir pantai dan beredekatan dengan tempat kegiatan wisata bahari (surfing) sehingga menyebabkan nilai indeks keanekaragaman pada stasiun ini rendah.

4. Korelasi Keberadaan Fitoplankton HAB dan Kualitas Perairan Teluk Gerupuk

Pengelompokan stasiun yang diperoleh menunjukkan ada sebanyak 3 zona. Pengelompokan habitat dibuat berdasarkan indeks keanekaragaman fitoplankton dan 3 zona dihasilkan dari pengelompokan tersebut. Stasiun 3 dan 4 memiliki indeks kesamaan 98,21% dan antara stasiun 1 dan 5 indeks kesamaan adalah 96,90%, sedangkan Stasiun 2 tidak mirip dengan stasiun lain. Zona 1 terdiri dari Stasiun 3 dan 4, zona 2 terdiri dari Stasiun 1 dan 5 dan zona 3 dibentuk dari stasiun 2. Stasiun 2 tidak memiliki kesamaan dengan stasiun lain karena stasiun ini nilai indeks keanekaragamannya

terendah dibandingkan stasiun yang lainnya. Zona 1 dibentuk dari Stasiun 3 dan 4. Stasiun 3 dan 4 memiliki nilai indeks keanekaragaman tertinggi dibandingkan stasiun lainnya dan memiliki struktur komunitas yang stabil.

Parameter fisik-kimia di perairan Teluk Gerupuk tidak berbeda secara spasial dan temporer. Hasil pengukuran parameter kualitas air masih normal untuk mendukung kehidupan fitoplankton.

Suhu air (rata-rata) yang diperoleh berkisar antara 32-33°C. Nilai temperatur yang didapat tidak jauh berbeda. Menurut Widyarini (2016), kisaran suhu tidak jauh berbeda karena tingkat radiasi ultravioletnya relatif sama. Kisaran suhu yang diperoleh masih sesuai dengan kehidupan fitoplankton. Effendi (2003) menyatakan bahwa suhu air dipengaruhi oleh musim, ketinggian, ketinggian permukaan laut, waktu dalam sehari, sirkulasi angin, tutupan awan, dan kedalaman air. Suhu dapat dipengaruhi oleh keberadaan fitoplankton.

Kisaran suhu yang optimal untuk pertumbuhan fitoplankton 20-300C.

Nilai salinitas di sungai pesisir dipengaruhi oleh air tawar dari sungai (Effendi 2003). Salinitas air di Teluk Gerupuk bervariasi antara 43-51°/ₒₒ, salinitas tidak berbeda secara signifikan berdasarkan pengukuran untuk sementara waktu. Menurut Dahuri et al. (1996), salinitas adalah salah satu parameter yang menentukan jenis fitoplankton yang ditemukan di lautan, yang tergantung pada karakteristik fitoplankton. Nilai salinitas yang diperoleh sangat tinggi, tetapi ini masih bagus untuk pertumbuhan fitoplankton. Nontji (2008),

menyatakan bahwa salinitas 11-40°/ₒₒ adalah rentang salinitas yang sesuai dengan kehidupan fitoplankton.

Hasil analisis jumlah jenis fitoplankton pada 5 stasiun diperoleh tertinggi pada stasiun 4 (61 jenis), hal ini disebabkan karena perairan pada stasiun 4 faktor fisika-kimia perairannya mendukung berdasarkan baku mutu kualitas air kelas II (air budidaya). Nilai pH stasiun 4 sangat baik untuk kehidupan kultivan (organisme budidaya) maupun fitoplankton yaitu 9. Nilai pH yang cocok sebagaimana baku mutu kualitas air kelas II yaitu antara 6-9. Oleh karena itu, dengan pH 9 proses metabolisme dan laju pertumbuhan akan meningkat sangat baik.

Jumlah jenis tertinggi ke 2 diperoleh pada stasiun 3 (56 jenis) kemudian stasiun 1 dan 2 memperoleh jumlah jenis yang sama (46 jenis) dan terakhir stasiun 5 dengan jumlah jenis terendah (33).

Jumlah jenis tersebut dinyatakan melimpah dan lebih beragam dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Endah Purnamaningtyas et al (2019) yang juga melakukan penelitian di Teluk Gerupk, hanya menemukan 36 genus dari 2 kelas yaitu Bacillariophyceae dan Dinophyceae. Hal ini disebabkan karena parameter fisika-kimia yang mempengaruhi keberadaan fitoplankton juga lebih rendah dibandingkan penelitian ini.

Distribusi dan kelimpahan fitoplankton sangat dipengaruhi oleh lingkungan perairan (Soedibjo 2006). Hasil korelasi menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara

parameter lingkungan dan fitoplankton. Parameter utama yang mempengaruhi struktur komunitas fitoplankton di lokasi penelitian adalah, suhu, salinitas,kedalaman, dan pH. Nilai korelasi yang diperoleh adalah suhu (1,29), salinitas (1,82), kedalaman (0,76), dan pH (0,82). Menurut Damar (2014), produktivitas utama fitoplankton tergantung pada ketersediaan nutrisi dan cahaya, tetapi cahaya bukanlah faktor pembatas dalam pengembangan fitoplankton di perairan tropis. Parameter plankton dan kimia yaitu salinitas dan pH memiliki korelasi positif (Widyarini et al. 2017). Chrismadha dan Ali (2007), menemukan bahwa ada korelasi kuat antara komunitas fitoplankton dan kekeruhan, pH, oksigen terlarut, total padatan terlarut, dan fosfat. Sebuah studi yang dilakukan oleh Arianto Choirun (2015) di Pesisir Brondong menunjukkan bahwa parameter lingkungan yang memiliki korelasi signifikan dengan fitoplankton adalah suhu, dan DO.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Fitoplankton di perairan Teluk gerpuk terdiri dari 3 filum, yaitu Bacillariophyta (100 spesies), Cyanophyta (8 spesies), dan Miozoa (15 spesies). Bacillariophyta terdiri dari kelas Bacillariophyceae, Mediophyceae dan Coscinodiscophyceae. Cyanophyta terdiri dari kelas Cyanophyceae (Lyngbya birgei, Trichodesmium erythraeum, Trichodesmium hildebrandtii, Trichodesmium thiebautii, Trichodesmium lacustre, Merismopedia elegans, Spirulina major, Spirulina subsalsa), Miozoa terdiri dari kelas Kelas Dinophyceae (Alexandrium catenella, Tripos furca, Ceratium tripos, Ceratium kofoidii, Ceratium macroaros, Prorocentrum lima, Prorocentrum emarginatum, Prorocentrum mexicanum, Prorocentrum convacum, Prorocentrum gracile, Protoperidinium subpyriforme, Protoperidinium steinii, Protoperidinium conicum, Podolampas elegans, Triposolenia bicornis)

2. Pada stasiun 3 dan 4 nilai indeks keanekaragaman tinggi karena struktur komunitas dalam keadaan stabil sedangkan indeks keanekaragaman pada stasiun 1,2, dan 5 rendah karena adanya tekanan ekologis yang mengakibatkan struktur komunitas labil dan menyebabkan turunnya nilai indeks keanekaragaman fitoplankton yang disebabkan oleh stres.

Pengelompokan habitat berdasarkan nilai indeks keanekaragaman fitoplankton telah membentuk tiga zona habitat, yaitu zona 1 (Stasiun 3 dan 4), zona 2 (Stasiun 1 dan 5), dan zona 3 (Stasiun 2).

Suhu, salinitas, kedalaman, dan pH adalah parameter laut yang mempengaruhi struktur fitoplankton di perairan Teluk Gerupuk.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka disarankan 1. Kepada Masyarakat agar lebih memperhatikan kualitas perairan

dilingkungan keramba.

2. Kepada PEMDA agar lebih giat memberikan penyuluhan kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga kualitas perairan disekitar keramba.

3. Kepada Mahasiswa disarankan melakukan penelitian lanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

A P Anggara, N E Kartijono, P M H Bodijantoro. Keanekaragaman Plankton di Kawasan Cagar Alam Tlogo Dringo, Dataran Tinggi dieng, Jawa Tengah.

Jurnal MIPA, 40(2), 2017.

Abdullah Afif, Widianingsih dan Retno Hartati.Komposisi Dan Kelimpahan Plankton Di Perairan Pulau Gusung Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan.

Journal Of Marine Research. Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014.

Ade Irawan, Qadar Hasani , Herman Yuliyanto. Fenomena Harmful Algal Blooms (Habs) Di Pantai Ringgung Teluk Lampung, Pengaruhnya Dengan Tingkat Kematian Ikan Yang Dibudidayakan Pada Karamba Jaring Apung (Phenomenon Of Harmful Algal Blooms (Habs) In Ringgung Beach- Lampung Bay, Inluence For Fish Mortality On Cage Culture). Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol. 15 (1).

Amalia Nurtirta Sari, Sahala Hutabarat, Prijadi Sudarsono.Struktur Komunitas Plankton pada Padang Lamun di Pantai Pulau Panjang, Jepara.

Diponogoro Journal Of Maquares Volume. 3 Nomor. 2, 2014.

Arianto Choirun, Syarifah Hikmah Julinda Sari, Feni Iranawati. Identifikasi Fitoplankton Spesies Harmfull Algae Bloom (Hab) Saat Kondisi Pasang Di Perairan Pesisir Brondong, Lamongan, Jawa Timur (Phytoplankton Harmfull Algae Bloom (Hab) Identification During Tide Period In Brondong Coastal Waters, Lamongan, East Java). Torani (Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan) Vol.25 (2) Agustus 2015.

Arinardi, O.H., Sutomo, A.B., Kisaran Kelimpahan dan Komposisi Plankton Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia. (Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1997).

Astrid Wulan Junaidi. Deteksi Fitoplankton Berpotensi Berbahaya (Habs) Di Perairan Pesisir Laut Kota Makassar. Skripsi Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar, 2017.

Barokah et all. JPB Kelautan dan Perikanan Vol. 11 No. 2. (Jakarta,2016)

Chitra Devi Amalia, Zahidah Hasan, Yuniar Mulyani. Distribusi Spasial Komunitas Plankton Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Di Situ Bagendit Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Jurnal Perikanan dan Kelautan, Vol. 3, No. 4, Desember 2012.

Delliana Ratna Sari, Jafron Wasiq Hidayat, Riche Hariyati. Struktur Komunitas Plankton di Kawasan Wana Wisata Curug Semirang Kecamatan Ungaran Barat, Semarang. Jurnal Biologi Vol. 6 No. 2, April 2017.

Eha Soliha, S. Y. Sri Rahayu, Triastinurmiatiningsih. Kualitas Air dan Keanekaragaman Plankton di Danau Cikaret, Cibinong, Bogor. Jurnal Ekologia Vol. 16 No. 2, Oktober 2016.

Encik Weliyadi. Identifikasi Spesies Fitoplankton Penyebab Harmful Algal Bloom (Hab) Di Perairan Tarakan. Jurnal Harpodon Borneo Vol.6. No.1.

April, 2013.

Eritrina Ardining Tyas, Sahala Hutabarat, Churun Ain. Struktur Komunitas Plankton Pada Perairan Yang Di Tumbuhi Eceng Gondok Sebagai

Bioindikator Kualitas Perairan Di Danau Rawa Pening, Semarang. Journal Of Maquares, Volume 6, nomor 2, 2017.

Fahrul, Melati Ferianita. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Bumi Aksara.

Giri Rohmad Barokah et al. Kelimpahan Fitoplankton Penyebab Hab (Harmfulalgal Bloom) Di Perairan Teluk Lampung Pada Musim Barat Dan Timur (The Abundance Of Phytoplankton Causing HAB (Harmful Algal Bloom) In Lampung Bay During West And East Monsoon). Jurnal Kelautan Dan Perikanan Vol. 11 No. 2 Tahun 2016.

Heriyanto, N. M. Keragaman Plankton dan Kualitas Perairan di Hutan Mangrove. Buletin Plasma Nutfah, 18(1). 2016.

Horas P. Hutagalung. Pengaruh Suhu Air Terhadap Kehidupan Organisme Laut.

Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Laut Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi – LIPI, Jakarta, Volume XIII, No. 4, 1988.

Kaswadji, R. F. Studi Pendahuluan Tentang Penyebaran dan: Kelimpahan Fitoplankton di Delta Upang Sumatera Selatan. Fakultas Perikanan, IPB.

Bogor. 1976.

Maulinna Kusumo Wardhani. Kawasan Konservasi Mangrove: Suatu Potensi Ekowisata.Jurnal Kelautan, Volume 4, No.1 April 2011.

Masó, M. and Garcés, E. Harmful Microalgae Blooms (HAB); The Problematic and Conditions that Induce Them. Marine Pollution Bulletin, 53 (2006):

620 – 630. (USA, 2006).

Mirna Dwirastina Dan Arif Wibowo. Karakteristik Fisika – Kimia Dan Struktur Komunitas Plankton Perairan Sungai Manna, Bengkulu Selatan. Jurnal Limnotek, 22 (1), 2015.

Muawanah, T Haryono, W Widiatmoko dan R Purnomowati. Fenomena Out Break HABs (Harmful Algal Blooms) di Teluk Lampung. Buletin Budidaya Laut No. 39. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung.

(Lampung, 2015)

Muh. Shabir Usman, Janny D. Kusen, Joice R. T. S. L Rimper. Struktur Komunitas Plankton di Perairan Pulau Bangka Kabupaten Minahasa Utara.

Jurnal Pesisir dan Laut tropis Volume. 2 Nomor. 1, 2013.

Mujib, A.S., Ario D dan Yusli W. Spatial distribution of Planktonic dinoflagellate in Makassar Waters, South Sulawesi. Jurnal Perikanan dan Kelautan vol. 3 No 1. (Bandung: Universitas Padjajaran, 2012).

Muliyana Ambarwati. Pengaruh Faktor Fisika-Kimia Perairan Terhadap Kelimpahan Dan Keanekaragaman Plankton Di Ekosistem Terumbu Karang Alami Dan Buatan Perairan Pltu Paiton. Skripsi Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya 2019.

Nasir A, Muhammad L dan Nurfadillah. Ratio of Nutrient and Diatom – Dinoflagellate community In Spermonde Waters, South Sulawesi. Jurnal Perikanan dan Kelautan, Vol 3 No. 1, 2012.

Nontji, A. Tiada Kehidupan di Bumi Tanpa Keberadaan Plankton. (Bogor:

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia - Pusat Penelitian Oseanografi, 2006).

Noverita D. Takarina et ll. Relationship Between Environmental Parameters And The Plankton Community Of The Batuhideung Fishing Grounds,

Pandeglang, Banten,Indonesia. Jurnal Biodiversitas Volume 20, Number 1, January 2019.

Nybakken, J. W. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Diterjemahkan oleh H. M. Eidman, Koesoebiono, D. G. Bengen, M. (Jakarta: PT Gramedia, 1992).

Odum, E. P. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga. Terjemahan : Samingan, T., Srigandono. Fundamentals Of Ecology. Third Edition. (Gadjah Mada University Press, 1993).

Okid Parama Astirin, Ahmad Dwi Setyawan. Biodiversitas Plankton di Waduk Penampung Banjir Jabung, Kabupaten Lamongan dan Tuban. Voume 1, Nomor 2 Juli 2000.

Pasengo Y. L, Studi Dampak Limbah Pabrik Plywood Terhadap Kelimpahan dan Keanekaragaman Fitoplankton di Perairan Dangkang Desa Barowa Kecamatan Bua Kab. Luwu. Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan.

Universitas Hasanuddin. Makassar, 1995.

Praseno, D. P. dan Sugestiningsih. Red tide di perairan Indonesia. (Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi – LIPI,2000).

Prayitno, H B. Kondisi trofik perairan Teluk Jakarta dan potensi terjadinya ledakanpopulasi alga berbahaya (HABs). Jurnal Vol. 37, No. 2, hal. 247 - 262. 2011. Pusat Penelitian Oseanolografi dan Limnologi - LIPI. (Jakarta, 2011).

Pipit Sandra Aprilia. Hubungan Struktur Komunitas Fitoplankton Dan Kualitas Air Di Perairan Tongas Kabupaten Probolinggo. Skripsi Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2019.

Rahmatullah,Ali M.S, Karina S. Keanekaragaman dan Plankton Di Estuari Kuala Rigaih Kecamatan Setia bakti Kabupaten Aceh Jaya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unsyiah. Vol., No 3, 2016.

Raymont, J.E.G. Plankton dan Produktivitas Bahari (Alih bahasa: Koesoebiono).

(Institut Pertanian Bogor, 1981)

Rizky Nurdevita Sari. Identifikasi Fitoplankton Yang Berpotensi Menyebabkan Harmful Algae Blooms (Habs) Di Perairan Teluk Hurun (Skripsi, FTK UIN Raden Intan Lampung, 2018),hlm.26.

Rozirwan. Identifikasi Morfologi Dinoflagelata dari Fenomena Ledakan PopulasiAlga di Pantai Lido, Johor Bahru Malaysia. Jurnal Penelitian Sains Volume 13 Nomor 2, Juli 2002.

Sellner, K. G., G. J. Doucette, and G. J. Kirkpatrick.Harmful Algal Blooms : Causes, Impacts, And Detection. J. Ind. Microbiol. Biotechnol.30 : 383- 406 (USA, 2003).

Sri Endah Purnamaningtyas et Al. Distribusi Dan Kelimpahan Fitoplankton Di Teluk Gerupuk, Nusa Tenggara Barat. Balai Riset Pemulihan Sumberdaya Ikan, 2015.

Sutomo. Kejadian Red tide dan Kematian Massal Udang Jebbung (Peaneusmurguensis) dan Udang Windu (Peaneusmonodon) dalam Budidaya Jaring Apung di Muara Keramat Kebo, Teluk Naga, Tanggerang. (Bogor: Puslit Oseanografi LIPI,1993).

Tarunamulia et al. Perspektif Pengembangan Perikanan Budidaya Berdasarkan Karakteristik Pantai Di Teluk Gerupuk Dan Teluk Bumbang Kabupaten

Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jurnal Riset Akua Kultur, Volume 10 Nomor 1, 2015.

Yulida Qurrata Aini, Agil Al Idrus, Lalu Japa. Komunitas Plankton Pada Perairan Habitat Mangrove di Gili Sulat Lombok Timur. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2018.

LAMPIRAN

Lampiran 3: Persiapan alat dan bahan

Persiapan alat dan bahan Alat ukur pH air

Identifikasi di laboratorium Identifikasi di buku pedoman plankton

Lampiran 4: Tabel Fitoplankton yang ditemukan di Teluk Gerupuk

Filum Kelas Spesies

Bacillariophyta

Mediophyceae

Biddulphia rhombus Biddulphia mobiliensis Biddulphia pulchella Bacteriastrum elongatum Bacteriastrum mediterraneum Bacteriastrum minus

Chaetoceros decipiens Chaetoceros diversus

Chaetoceros didymus var. Angelica Chaetoceros pendulus

Chaetoceros anastomosans Chaetoceros lorenzianus

Chaetoceros didymus var. Protuberans

Chaetoceros laciniosus Chaetoceros laevis Chaetoceros frichei Chaetoceros mitra Chaetoceros brevis Chaetoceros affine Chaetoceros compressus Chaetoceros didymus Leptocylindrus minimus Leptocylindrus danicus Climacosphenia moniligera Cerataulina dentate

Isthmia enervis Cerataulus turgidus Odontella aurita

Licmophora abbreviate Lithodesmium variabile Streptotheca indica Eunotogramma marinum Cosciodiscophyceae

Actinophycus splendens Coscinodiscus marginatus Coscinodiscus radiates Coscinodiscus oculus-iridis Coscinodiscus wailessi Melosira borreri Melosira nummuloides Rhizosolenia cochlea

Filum Kelas Spesies

Rhizosolenia hebetate Rhizosolenia styliformis Stephanopyxis palmeriana Triceratium favus

Triceratium alternans Triceratium sticulum Bacillariophyceae

Asterionella kariana Asterionellopsis glacialis Amphora lineolata Amphora alata Amphora inflexa Amphora gigantean Amphora laevis Amphora quadrata

Amphiprora delicatula grevile Achnantes longipes

Mastogloia mauritiana brun Nitzschia sigma

Nitzschia improvisa simonsen Nitzschia sigmoidea

Nitzschia corpulenta Nitzschia jeleneckii

Nitzschia longissima var. Reversa Nitzschia longisima

Bacillaria paradoxa Bacillaria paxilipera

Cylindrotheca closterium Tryblionella coarctata Hantzschia amphioxis Climaconeis inflexa Diploneis novaeseelandiae Gyrosigma hippocampus Haslea crucigera

Tropidoneis lepidoptera var.

Proboscidea

Meuniera membranacea Pleurosigma aestuari Pleurosigma elongatum Pleurosigma nicobaricum Sellaphora laevissima Cymatopleura solea Campylodiscus hibernicus Campylodiscus clypeus Fragilaria crotonensis Neosynedra provincialis

Filum Kelas Spesies

Podocytis spathulata Synedra Formosa Synedra superb Synedra ulna

Grammatophora marina Grammatophora oceanica Grammatophora serpentina Rhabdonema arcuatum Rhabdonema punctatum

Hyalosynedra laevigata Lyrella amphoroides Striatella unipunctata Thalasiotrix longissima Rhaponeis amphiceros Diatoma hyalina

Plagiotropis lepidoptera Miozoa

Dinophyceae

Alexandrium catenella Tripos furca

Ceratium tripos Ceratium kofoidii Ceratium macroceros Prorocentrum lima

Prorocentrum emarginatum Prorocentrum mexicanum Prorocentrum convacum Prorocentrum gracile

Protoperidinium subpyriforme Protoperidinium steinii

Protoperidinium conicum Podolampas elegans

Filum Kelas Spesies

Triposolenia bicornis Cyanophyta

Cyanophyceae

Lyngbya birgei

Trichodesmium erythraeum Trichodesmium hildebrandtii Trichodesmium thiebautii Trichodesmium lacustre Spirulina major

Spirulina subsalsa Merismopedia elegans

Jumlah spesies 123

Lampiran 5: Data Gambar Fitoplankton yan ditemukan di Teluk Gerupuk A. MIOZOA

Alexandrium Catenella Ceratium Macroceros Ceratium Kofoidii

Ceratium Tripos Prorocentrum Convacum Prorcentrum Emarginatum

Prorocentum Gracile Prorocentrum Mexicanum Prorocentrum Lima

Protoperidinium Steinii Protoperidinium Conicum Podolompas Elegans

B. Cyanophyta

Tripos Furca Triposolenia Bicornis

Sirulina Subsalsa Spirulina Major

Trichodesmium Erythraeum Trichodesmium Hildebrantii

Trichodesmium Thiebautii Trichodesmium Lacustre

C. Bacillariophyta

Merismopedia Elegans Lyngbya Birgei

Actinopychus Splendens Amphora Alata Amphora Lineolata

Amphora Inflexa Amphipora Delicatula Achnantes Longipes

Biddulphia Pulchella Biddulphia Rhombus Biddulphia Mobiliensis

Bacteriastrum Minus Bacteriastrum Elongatum Bacteriastrum Mediterraneum

Chaetoceros Decipiens Chaetoceros Lorenzianus Chaetoceros Compressus

Coscinodiscus Radiatus Coscinodiscus Wailessi Climacosphenia Moniligera

Climaconeis Inflexa Campylodiscus Hibernicus Campulodiscus Clypeus

Cerataulina Dentata Cerataulus Turgidus Cymatopleura Solea

Diploneis Novaeseelandiae Navicula Molis Eunotogramma Marinum

Fragilaria Crotonensis Gyrosigma Hippocampus Grammatophora Oceanica

Grammatophora Marina Grammatophora Serpentina Hantzschia Amphyoxis

Haslea Crucigera Hyalosynedra Laevigata Isthmia Enervis

Licmophora Abbreviata Lithodesmium Variabile Lyrella Amphoroides

Melosira Nummuloides Melosira Borreri Nitzschia Longissima Var Reversa

Nitzschia Corpulenta Nitzschia Jeleneckii Nitzschia Sigma

Nitzschia Sigmoidea Nitzschia Improvisa Nitzschia Longisima

Nitzschia Sigmoidea Nitzschia Improvisa Nitzschia Longisima

Pleurosigma Elongatum Pleurosigma Aestuari Pleurosigma Nicobaricum

Rhabdonema Punctatum Rhabdonema Arcuatum Rhaponeis Amphiceros

Rhizosolenia Styliformis Rhizosolenia Hebetata Rhizosolenia Cochlea

Synedra Ulna Synedra Superba Synedra Formosa

Sellaphora Laevissima Striatella Unipunctata Streptotheca Indica

Triceratium Favus Triceratium Sticulum Triceratium Alternans

Dalam dokumen biodiversitas fitoplankton yang berpotensi (Halaman 58-66)

Dokumen terkait