• Tidak ada hasil yang ditemukan

biodiversitas fitoplankton yang berpotensi

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "biodiversitas fitoplankton yang berpotensi"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Plankton adalah organisme hidup kecil yang mengapung dalam pergerakan air.2 Plankton dibagi menjadi dua kelompok, yaitu fitoplankton (plankton tumbuhan) dan zooplankton (plankton hewan). Fitoplankton Harmful algal blooms (Hab) Identifikasi saat pasang surut di Perairan Pantai Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Intensitas cahaya yang cukup, suhu air yang hangat dan kandungan nutrisi yang berlebih akibat pembenihan di kawasan budidaya laut dapat menyebabkan pertumbuhan plankton yang cepat di perairan, sehingga sering terjadi kompetisi antar spesies dan dominasi spesies tertentu.

Pembunuhan massal ikan serta kasus keracunan dan kematian manusia akibat blooming di Indonesia pertama kali dilaporkan di Flores pada tahun 1983. Tingginya potensi penangkapan ikan di Teluk Gerupuk memerlukan penelitian untuk mengidentifikasi potensi keberadaan fitoplankton HAB, untuk mencegah blooming alga yang sangat berbahaya bagi ikan dan kehidupan manusia.

Rumusan dan Batasan Masalah

Selain itu, juga terjadi di Ujung Pandang pada Agustus 1987 dan di Kalimantan Timur pada Januari 1988. Berdasarkan objek yang diteliti, dan untuk memperjelas ruang lingkup penelitian, perlu ada batasan masalah. Batasan masalah dalam penelitian ini antara lain: Fitoplankton yang berpotensi menyebabkan blooming alga berbahaya (HABs) di Teluk Gerupuk.

Tujuan dan Manfaat

Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Lingkup dan lingkungan penelitian 1. keramba kosong), stasiun IV (kandang musang dan lobster air tawar) dan stasiun V (jauh dari keramba) masing-masing berjarak 100 m. Jarak antara stasiun I dan stasiun II 100 m, stasiun II dan stasiun III 100 m, stasiun III dan stasiun IV 100 m, stasiun IV dan stasiun V 100 m.

Telaah Pustaka

  • Definisi Plankton
  • Pembagian Plankton
  • Habitat Plankton
  • Struktur Komunitas
  • Harmful Algae Blooms (HABs )
  • Dampak Blooming Alga

Identifikasi fitoplankton yang berpotensi menimbulkan alga berbahaya (Habs) di Perairan Teluk Hurun” (skripsi S2, FTK UIN Raden Intan Lampung, 2018), hal.26. Jika nilai indeks kemerataan relatif tinggi, maka keberadaan setiap jenis organisme hidup di perairan akan merata. Nontji (2006) menyatakan bahwa Bacillariophyceae merupakan kelas fitoplankton yang banyak terdapat di perairan Indonesia dalam jumlah banyak.

Di perairan pesisir Kota Makassar, jenis skeletema fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae merupakan genus. Penelitian sebelumnya di perairan Teluk Gerupuk tidak menemukan jenis fitoplankton dari kelas cyanophyceae (Sri Endah Purnamaningtyas et al, 2019), sedangkan Rahmatullah et al (2016) melaporkan bahwa di perairan muara Kuala Rigaih kelas cyanophyceae dengan kelimpahan terendah, dengan hanya 11 spesies. Fitoplankton di Teluk Gerpuk terdiri dari 3 filum yaitu Bacillariophyta (100 spesies), Cyanophyta (8 spesies) dan Miozoa (15 spesies).

Suhu, salinitas, kedalaman dan pH merupakan parameter laut yang mempengaruhi struktur fitoplankton di perairan Teluk Gerupuk.

Gambar 2.1. Fitoplankton, Noctiluca Scintillans (salah satu  contoh Plankton Neritik)
Gambar 2.1. Fitoplankton, Noctiluca Scintillans (salah satu contoh Plankton Neritik)

Kerangka Teori

Metode Penelitian

  • Desain Penelitian
  • Populasi dan Sampel
  • Waktu dan Tempat Penelitian
  • Variabel Penelitian
  • Alat dan Bahan Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data

Populasi dalam penelitian ini terdiri dari semua jenis fitoplankton yang terdapat di Teluk Gerupuk Lombok Tengah. Sampel dalam penelitian ini adalah jenis fitoplankton yang tertangkap pada penyaringan air laut yang diambil di Teluk Gerupuk menggunakan jaring plankton. Penelitian ini tentang keanekaragaman hayati fitoplankton yang dapat menyebabkan ledakan alga yang berpotensi membahayakan di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah.

Identifikasi dan penghitungan plankton dilakukan dengan metode total strip counting dan identifikasi menggunakan buku identifikasi plankton (Identification guide of plankton) Ilustrasi plankton laut Jepang oleh Dr. Lokasi pengambilan sampel dilakukan di kawasan keramba jaring apung di perairan Teluk Gerupuk Lombok Tengah, setelah itu ditentukan 5 stasiun pengambilan sampel yaitu stasiun I, II, III, IV, dan V. Penelitian ini dilakukan di dua fase, yaitu. tahap sampling lapangan dan tahap sampling observasi laboratorium.

Variabel utama dalam penelitian ini adalah keanekaragaman hayati fitoplankton yang berpotensi menyebabkan terjadinya blooming alga berbahaya di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah. Alat yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah mikroskop, kamera, jaring plankton, ember, kaca + kaca penutup, botol sampel 100ml, buku identifikasi plankton, kertas label, refraktometer, termometer. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui pengamatan langsung di lapangan dan pengambilan sampel menggunakan jaring plankton.

Pengambilan sampel plankton dilakukan dengan menyaring 100 liter air pada setiap stasiun, menggunakan ember berukuran 20 liter dan menyaringnya sebanyak 5 kali. Pengambilan sampel fitoplankton dilakukan dengan menyaring 100 liter air pada setiap stasiun, menggunakan ember berukuran 20 liter dan menyaring sebanyak 5 kali. Kemudian sampel fitoplankton yang telah disaring menggunakan jaring plankton akan ditangkap dan ditempatkan pada tabung pengumpul plankton yang berada di bagian bawah jaring plankton berukuran 50 mL.

Teknik Analisis Data

Pi = Jumlah individu spesies ke-i dibagi jumlah individu Lnpi = Ln Jumlah individu spesies ke-i dibagi jumlah individu menurut kriteria. Selanjutnya indeks keanekaragaman yang diperoleh pada setiap stasiun dianalisis secara deskriptif untuk membandingkan indeks keanekaragaman pada setiap stasiun yang diteliti. Untuk mengetahui dominasi spesies tertentu di perairan dapat digunakan Indeks Dominansi Simpson (Odum, 1993) yaitu sebagai berikut.

D = 1, artinya ada spesies yang mendominasi spesies lain atau struktur komunitasnya tidak stabil, karena tekanan ekologis (stres).

PAPARAN DATA DAN TEMUAN

Hasil Penelitian

Data di bawah ini menyajikan perbandingan kelimpahan fitoplankton non-HAB dan fitoplankton HAB di Teluk Gerupuk. Gambar tersebut menunjukkan bahwa proporsi fitoplankton non-HAB lebih besar dibandingkan dengan proporsi fitoplankton HAB. Persentase kelimpahan HAB fitoplankton dari masing-masing kelas ditentukan pada 5 stasiun di perairan Teluk. Nilai parameter fisika yang meliputi suhu berkisar antara 32°C-33°C dengan kedalaman 0,5 m dari permukaan laut, sedangkan nilai parameter kimia yang meliputi pH berkisar antara 7-9 , dengan salinitas 43-510 . /00.

Namun selama masa penelitian, spesies HAB tidak menunjukkan peristiwa pasang merah atau menyebabkan kematian ikan atau organisme lain di lokasi penelitian. Nilai-nilai indeks ekologi fitoplankton yang berpotensi menyebabkan HAB, meliputi keanekaragaman (H'), kemerataan (E) dan dominasi (D), ditunjukkan pada Tabel 3.5 dan grafik pada Gambar 6.4. Fitoplankton penyebab blooming alga berbahaya (HABs) di Teluk Gerupuk teridentifikasi sebanyak 9 genus antara lain : Chaetoceros, Nitzschia, Bacteriastrum, Prorocentrum, Alexandria, Ceratium, Amphora, Protoperidinium dan Trichodesmium, yang terdiri dari filum Bacillariophyta, Cyanophyta dan Miozoa.

Gambar 6.2. Peta Lokasi stasiun pengambilan sampel
Gambar 6.2. Peta Lokasi stasiun pengambilan sampel

PEMBAHASAN

  • Biologi dan morfologi fitoplankton HAB
  • Komposisi fitoplankton HAB
  • Nilai indeks ekologi fitoplankton
  • Korelasi fitoplankton HAB dan kualitas perairan

Kelimpahan dan konsentrasi fitoplankton dipengaruhi oleh faktor fisikokimia seperti suhu, kedalaman, salinitas, pH dan ketersediaan nutrisi yang merupakan faktor pembatas produksi fitoplankton di perairan. Sri Endah Purmaningtyas dkk, 2019). Penelitian Mirna Dwirastina dan Arif Wibowo (2015) di perairan sungai selatan Manna Bengkulu juga menyebutkan bahwa kelimpahan fitoplankton terbesar terjadi pada bulan Mei karena musim kemarau. - unsur hara dapat dimanfaatkan secara optimal oleh fitoplankton untuk tumbuh, arus air juga tidak terlalu deras dan dapat memudahkan penetrasi sinar matahari ke dalam perairan. Menurut Rizky Nurdevita Sari (2018), nilai indeks keanekaragaman H' ˃ 3 menunjukkan jenis fitoplankton yang lebih beragam dan memiliki korelasi dengan kondisi lingkungan.

Semakin tinggi indeks keanekaragaman, semakin baik kondisi lingkungan dan semakin stabil keadaan komunitas biotik perairan. Muliyana Ambarwati, 2019) menyatakan bahwa perbedaan nilai indeks keanekaragaman fitoplankton merupakan hasil dari perbedaan jumlah individu maupun kualitas perairan yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti lokasi atau lokasi stasiun, aktivitas manusia yang mempengaruhi fluktuasi nutrisi (nitrat dan fosfat) yang masuk ke perairan, dan faktor alam seperti pergerakan arus, angin dan turbulensi massa air. Nilai indeks kemerataan tertinggi terdapat pada stasiun 4 dan 3 yaitu 0,45 dan 0,44.Hal ini menunjukkan bahwa sebaran setiap takson fitoplankton biasanya sama (seragam) dan kondisi lingkungan cukup stabil, sedangkan nilai terendah dari indeks tersebut terdapat pada stasiun 2 yaitu 0,23, disusul stasiun 1 dan 5 dengan 0,33 dan 0,39. Hal ini menunjukkan bahwa sebaran setiap takson cukup merata dan kondisinya tidak stabil akibat tekanan (Dash 2001).

Nilai indeks dominasi (D) pada stasiun 3 dan 4 sebesar 0,05 dan 0,06 menunjukkan tidak ada spesies fitoplankton yang mendominasi. Hal ini berimplikasi pada nilai indeks kemerataan dan juga berdampak pada indeks keanekaragaman fitoplankton, dimana pada stasiun 3 dan 4 nilai indeks keanekaragaman tinggi karena struktur komunitas dalam keadaan stabil sedangkan indeks keanekaragaman pada stasiun 1, 2 dan 5 tergolong rendah karena tekanan ekologis yang menyebabkan struktur masyarakat tidak stabil, hal ini diduga disebabkan oleh pergerakan arus akibat gelombang tinggi karena stasiun 1, 2 dan 5 jauh dari pantai dan dekat dengan kegiatan penangkapan ikan wisata bahari (surfing), menjadikan nilai indeks keanekaragaman di stasiun ini rendah. Menurut Damar (2014), produktivitas primer fitoplankton bergantung pada ketersediaan unsur hara dan cahaya, namun cahaya bukanlah faktor pembatas dalam perkembangan fitoplankton di perairan tropis.

Pada stasiun 3 dan 4 nilai indeks keanekaragaman tinggi karena struktur komunitas dalam keadaan stabil, sedangkan indeks keanekaragaman pada stasiun 1, 2 dan 5 rendah karena tekanan ekologis sehingga mengakibatkan struktur komunitas tidak stabil dan menyebabkan penurunan indeks keragaman nilai fitoplankton yang disebabkan oleh stres. Pengelompokan habitat berdasarkan nilai indeks keanekaragaman fitoplankton telah membentuk tiga zona habitat yaitu zona 1 (stasiun 3 dan 4), zona 2 (stasiun 1 dan 5) dan zona 3 (stasiun 2). Abdullah Afif, Widianingsih dan Retno Hartati Komposisi dan Kelimpahan Plankton di Perairan Pulau Gusung, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

PENUTUP

Kesimpulan

Cyanophyta tadasi dari kelas Cyanophyceae (Lyngbya birgei, Trichodesmium erythraeum, Trichodesmium hildebrandtii, Trichodesmium thiebautii, Trichodesmium lacustre, Merismopedia elegans, Spirulina major, Spirulina subsalsa), Miozoa tadasi dari kelas Kelas Dinophyceae (Alexandrium catenella, Tripos furca, Ceratium tripos, Ceratium kofoidii, Ceratium macroaros, Prorocentrum lima, Prorocentrum emarginatum, Prorocentrum mexicanum, Prorocentrum convacum, Prorocentrum gracile, Protoperidinium subpyriforme, Protoperidinium steinii, Protoperidinium conicum, Podolampas elegans, Triposolenia bicornis).

Saran

Kejadian Mekar Alga Berbahaya (Habs) di Pantai Ringgung - Teluk Lampung, Dampak Kematian Ikan pada Budidaya Keramba). Amalia Nurtirta Sari, Sahala Hutabarat, Prijadi Sudarsono Struktur komunitas Plankton di padang lamun di Pantai Pulau Panjang, Jepara. Sebaran spasial komunitas planktonik sebagai bioindikator kualitas perairan di Situ Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Melimpahnya fitoplankton menyebabkan HAB (harmful algal bloom) di Teluk Lampung pada musim barat dan timur. Puslitbang Lingkungan Laut Puslitbang Oseanologi – LIPI, Jakarta, Volume XIII, No. Pengaruh Faktor Fisikokimia Perairan terhadap Kelimpahan dan Keanekaragaman Plankton pada Ekosistem Terumbu Karang Alami dan Buatan di Perairan PLTU Paiton.

Skripsi Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Tahun 2019.

Lampiran 4: Tabel Fitoplankton yang ditemukan di Teluk Gerupuk
Lampiran 4: Tabel Fitoplankton yang ditemukan di Teluk Gerupuk

Gambar

Gambar 2.1. Fitoplankton, Noctiluca Scintillans (salah satu  contoh Plankton Neritik)
Gambar 2.2. Plankton Oseanik (Rhizosolenia robusta)  Sedangkan  menurut  sebaran  vertikalnya,  plankton  laut  dapat  dibagi menjadi :
Gambar 2.3. Neuston (trichodesmium thiebauti)
Gambar 2.4. Pleuston (Physalia physalis) ubur-ubur api  merupakan  hewan  serupa ubur-ubur  yang  dikenal  memiliki  sengatan  yang  melepuhkan,  bahkan  mematikan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaisumber tenaga kerja, jumlah penduduk yang besar dapat menjadi penggerak perekonomian dari sisi penawaran.Namun kenyataannya yang dihadapi hingga saat ini,

langsung contohnya, sistem tanam ini mampu mempercepat pertumbuhan padi namun alat yang telah ada hingga saat ini masih memiliki kelemahan, diantaranya jumlah

Aplikasi BNP dan NT-proBNP yang telah banyak diakui hingga saat ini adalah untuk menegakkan diagnosis gagal jantung sebagai penyebab utama pada kondisi dimana keluhan

diantaranya akhirnya memilih menjual properti mereka secara online karena semakin merugi, meski hingga saat ini PHRI belum mendapatkan jumlah hotel dan resto mana saja yang

Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah fitoplankton pada perlakuan awal kontrol yang ditemukan pada wadah pemeliharaan ikan nila yang belum terkontaminasi dengan limbah

Berapa jumlah santriwan dan santriwati pada saat pertama kali berdirinya pondok pesantren ini, dan bagaimana perkembangannya hingga sekarang.. Berdirinya pondok pesantren Al-Islah

Gempa susulan yang terjadi bahkan mencapai 50 kali banyaknya dengan kekuatan gempa rata-rata 6 hingga 7 skala richter.. Lempeng tektonik yang berbenturan penyebab gempa ini

Alat besi terutama yang modern juga berperan penting dalam praktikum, diantaranya untuk menyeterilkan alat-alat lain, mengatur suhu pada saat menumbuhkan bakteri