• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Internalisasi Nilai- nilai Rukun iman terhadap Perilaku Anak Autis

PROFIL LEMBAGA

3. Dampak Internalisasi Nilai- nilai Rukun iman terhadap Perilaku Anak Autis

Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan di lapangan, sebenarnya gejala autisme yang disandang anak autis memiliki tingkatannya sendiri.

Mulai dari ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe). Namun fakta dilapangan menunjukkan jika mayoritas masyarakat umum tidak

81 Riky Amalia Adel, Wawancara, Ruang Kelas A, 23 Agustus 2015.

82Dwi Lestari, Wawancara, Ruang Therapys, 23 Agustus 2015.

menyadari seluruh keberadaan atau tingkatannya. Mereka memandang jika semua anak autis sama. Padahal menurut Dwi, parah atau ringannya gangguan autisme seringkali diparalelkan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh Dwi Lestari, therapy dan psikolog anak autis di taman kanak- kanak inklusi Star Kid’s Jember bahwa,

“Anak-anak autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan, maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Pada akhirnya dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi kondisi psikologi dan perilakunya.83

Masih menurut Dwi Lestari, berdasarkan pengamatan dan pengalamannya selama menjadi psikolog dan therapy anak autis, ia mengatakan,

“ Pada umumnya anak autis memiliki kondisi psikologi yang tidak seimbang, mudah emosi, meledak- ledak dan cenderung agresif.

Sehingga implikasinya adalah pada perilaku negatif yang ditimbulkan.

Bukan hal baru jika masalah perilaku anak-anak dengan ciri anak autis pada gangguan spektrum autistik dan anak lainnya adalah salah satu masalah yang paling menantang dan sering kali membuat stres orang tua dan sekolah. Namun yang harus disadari tidak semua anak autis menunjukkan perilaku tersebut. Karena pada umumnya perilaku autisme digolongkan menjadi dua jenis yaitu pertama perilaku eksesif(berlebihan). Perilaku ini ditandai dengan sikap hiperaktif dan tantrum(mengamuk) yang dilakukan oleh anak. Misalnya menjerit, mengepak, menggigit, memukul, dan sebagainya. Terkadang dalam berperilaku eksesif anak akan menyakiti diri sendiri(self abuse).Kedua perilaku defisit (berkekurangan). Perilaku defisit ditandai dengan gangguan bicara, perilaku sosial kurang sesuai(naik ke pangkuan ibu bukan untuk kasih sayang tetapi untuk meraih kue),defisit sensoris sehingga dikira tuli, bermain tidak benar dan emosi yangtidak tepat

83 Ibid.

misalnya tertawa tanpa sebab, menangis tanpa sebab danmelamun.

Adapun masalah perilaku yang seringkali dilakukan oleh anak autis sebagai akibat dari tidak seimbangnya kondisi psikologi anak adalah perusakan properti, agresi fisik , cedera diri dan tantrum.

Dalam mendefinisikan masalah perilaku anak autis, Suratman memandang tidak hanya dari satu sudut pandang saja, sudut pandang anak autis saja atau orang tua saja, melainkan mengkolaborasikan keduanya.

Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan, ia mengatakan,

“ Tidak bijaksana apabila seorang anak autis dituntut selalu paham dengan apa yang menjadi kemauan orangtua, namun tidak dibenarkan juga jika kita selaku guru dan orang tua dari mereka membiarkan mereka melakukan hal yang mereka inginkan tanpa memberi batasan yang jelas. Alangkah lebih baiknya jika sebelum menilai anak autis, kita memahami pula kondisi dan keinginan mereka. Kita harus pula melihat berdasarkan apa yang mereka pandang. Dari sudut pandang anak, masalah perilaku meliputi: ketidakmampuan untuk memahami tuntutan kelas/orang tua, kesulitan berkomunikasi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka, kesulitan berat dalam memulai dan mempertahankan interaksi sosial dan hubungan, kebingungan tentang efek dan konsekuensi dari banyak perilakunya, banyak berperilaku terbatas dan berulang-ulang. Sehingga membatasi kemampuan anak untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan teman sebaya. Tuntutan dan ketidakmampuan tersebut seringkali membuat anak bertambah stress dan tidak menutup kemungkinan memicu parahnya autis.

Sedangkan dalam sudut pandang seorang guru atau orang tua, perilaku mereka seringkali terlihat seperti menganggu mulai dari kurangnya kurangnya kepatuhan atau gangguan rutinitas kelas, suka tantrum, merusak benda-benda, hingga agresi terhadap diri sendiri atau orang lain. Sehingga untuk menjembataninya diperlukan komunikasi antar keduanya ( anak autis dan orangtua/ guru)”. 84

Dalam observasi di lapangan, peneliti melihat selain komunikasi diperlukan juga latihan dan terapi bagi anak autis untuk melakukan pengendalian diri. Dalam hal ini kepala sekolah Taman kanak- kanak Inklusi Star Kids Jember melakukan modifikasi dengan mengkolaborasikan strategi

84Suratman, Wawancara, Kantor Therapys, 10 september 2015.

dan terapi. Selain itu dalam ekstrakurikuler Iqro yang diwajibkan untuk diikuti siswa- siswi Taman Kanak- kanak Inklusi Star Kid’s Jember selain belajar membaca seringkali guru memasukkan nilai- nilai Al- Quran (rukun iman) pada pembelajaran. Menurut Suratman, tujuan dilakukannya modifikasi ini adalah untuk merangsang daya pikir keingintahuan dan pengendalian perilaku anak autis.85

Berdasarkan wawancara dengan Dwi Lestari , ia mengatakan jika perilaku agresif yang dilakukan anak autis tidak boleh disamakan dengan anak normal. Perilaku agresif mereka merupakan sebuah symptom bukan akibat dari ketrampilan yang bersifat parenting buruk. Perilaku anak autis kadang-kadang tidak mengikuti norma sosial, memotong pembicaraan orang seenaknya, mengatakan sesuatu tentang seseorang didepan orang tersebut tanpa merasa bersalah.86

Hal tersebut diperkuat dengan observasi yang peneliti lakukan pada tanggal 16 September 2015. Ketika peneliti menanyakan guru idola pada salah seorang anak autis bernama Qanita, ia tersenyum sambil menggandeng guru pendampingnya. Tidak berapa lama kemudian, ia berseru sambil menunjuk bapak penjual cireng di depannya. Dengan polos ia mengatakan,

“Ibu, lihat bapak itu kepalanya botak dan hidungnya besar”. Guru pendamping langsung menggelengkan kepala, dan memberi tahu jika ia tidak boleh berkata begitu. Qanita menggelengkan kepala dan meyakinkan

85Observasi,01 Oktober 2015.

86Dwi Lestari, Wawancara, Kantor Therapys, 05 september 2015.

gurunya jika apa yang dia katakan benar. Ia mengatakan, “Tapi itu kan benar Bu.”87

Berkenaan dengan perilaku anak autis tersebut, Suratman mengatakan jika perilaku negatif yang dilakukan anak autis dapat dikendalikan seiring masuknya pembelajaran dan pembiasaan yang dilakukan disekolah.lebih jauh Suratman berkata,

“Dalam menghadapi anak autis, kita harus mengetahui kebiasaannya karena pada dasarnya mereka tidak suka didekte dan dikerasi. Kita biasakan saja apa yang bisa dia lakukan. Seperti bangun pagi, shalat, menata tempat tidurnya sendiri. Sebagai contoh bila dia sudah pernah diberi uang 10.000, maka dia akan hapal jika kita akan memberi uang 10.000. sama halnya dengan apa yang dilakukan Rayyan. Karena ia sudah dibiasakan membayar terlebih dahulu sebelum mengambil barang, maka ia terbiasa berbuat demikian. Pada dasarnya sikap atau perilaku mereka bisa dikendalikan, ketika mereka sudah memahami benar dan salah. Boleh dan tidak. Psikologis mereka juga lebih tenang.

Mereka mampu memahami sekitarnya. Hal ini bisa dilihat dari perilaku terarah mereka dimana mereka jarang berteriak dan marah-marah atau bahkan mereka tidak lagi menyakiti dirinya karena mereka paham itu salah dan dibenci Tuhan. Namun yang harus disadari hal ini tidak selalu berhasil. Karena adakalanya mereka mendadak kembali pada sikap agresif. Atau dengan kata lain pengendalian tersebut bersifat sementara”.88

Untuk menambah keabsahan data maka peneliti melakukan interview dan observasi dengan salah satu siswa autis yang pada saat itu ikut merayakan ulang tahun temannya, Sin Marcelino, siswa penderita Down Syndrome. Dalam acara tersebut, semua anak tampak bergembira, menyanyikan lagu ulang tahun untuk Sin. Sin yang duduk, tersenyum senang walaupun ia tidak benar- benar memahami makna ulang tahun. Ia sesekali tertawa karena melihat teman-teman bernyanyi dan bertepuk tangan

87 Observasi, 16 September 2015.

88Suratman, Wawancara, Kantor Therapys, 24 Juni 2015.

mengistimewakannya.89 Rayyan yang juga ikut berbahagia dengan ulang tahun temannya, menyanyi sambil berdiri. Lebih jauh Rayyan mengatakan,

“ Habis ini Sin potong kue, terus dibagi bersama teman, tidak boleh makan sendiri. Terus nanti Rayyan salaman sambil ngasi ucapan. Nanti Rayyan peluk Sin. Sebelum makan harus berdoa biar tidak dipipisi setan kuenya. Nanti cuci tangan pakai sabun biar setannya tidak nempel di kuku. ”90

Berdasarkan observasi di atas, peneliti melihat gambaran keadaan dimana seorang anak yang ikut bergembira karena melihat kegembiraan orang lain, walaupun ia sendiri tidak memahami alasan kenapa ia harus bergembira. Sin hanya membaca mimik gembira dari wajah teman-teman yang mengistimewakannya dan ia ikut pula bergembira. Sedangkan dari Rayyan, peneliti melihat bagaimana ia bersikap terhadap kegembiraan temannya, dengan memberi pelukan ulang tahun. Ia juga menasehati temannya untuk segera memotong kue dan membagi dengan yang lain.

Menurut Mardiono wali murid dari Wafiudin Aqso mengatakan jika selalu ada hasil dari terapi dan pengenalan agama sejak dini dengan cara yang sederhana, dapat merubah perilaku negatif anaknya walaupun tidak permanen. Lebih jauh, Mardiono mengatakan,

“Saya sering mendampingi Wafi dalam therapy. Namun untuk belajar dikelas saya biarkan dia mandiri dan berkumpul dengan teman- temannya. Saya tidak tahu pasti perilaku positif yang dilakukan anak saya apakah implikasi dari pengajaran dikelas ataukah karena terapy diklinik. Tapi saya yakin keduanya saling mempengaruhi dan memberi manfaat. Bahkan sekarang anak saya sudah mandiri. Dia mulai berani

89Observasi, 27 Agustus 2015.

90Rayyan Avveroes Ahsan, Wawancara, Ruang Bermain, 27 Agustus 2015.

berkomunikasi dengan oranglain walaupun sebatas pada keluarga atau tetangga yang sering dia temui. Bahkan dia selalu berdoa sebelum makan dan dia sudah paham untuk mengalah ketika berebut mainan dengan saudaranya. Walaupun tidak saya sangkal juga terkadang dia masih egois. Misalnya ketika saluran televisi RCTI dirumah tetangga berada pada channel 4 maka dia akan menyuruh saya mengganti chanel RCTI dirumah sama persis dengan tetangga. Jika dibujuk dia tidak mau atau kadang menangis namun tidak sampai marah. Tapi saya lihat sejauh ini perilakunya sudah positif”.91

Pendapat Mardiono di atas, sama dengan Suratman. Dimana dalam wawancara mendalam, ia mengatakan jika anak autis dapat berperilaku baik berdasarkan pembiasaan yang diajarkan lingkungannya. Walaupun mereka tidak benar- benar bisa sembuh, namun bukan berarti mereka tidak bisa berperilaku baik sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat. Lebih jauh Suratman mengatakan,

“Indikator perilaku baik dan buruk yang dipakai antara satu anak dengan anak lainnya tidak sama. Misalnya, indikator baik untuk anak hyperaktif atau eksesif adalah ketika ia bisa mengurangi kebiasaan berlari- lari dan mengamuk. Ketika ia tidak lagi menjerit dan memaksakan kehendaknya.

Sedangkan indikator baik untuk anak defisit, adalah ketika ia bisa mengungkapkan keinginanannya pada orang lain dengan bahasa verbal, bukan sekedar menangis atau diam dan menyakiti diri sendiri. Tapi pada intinya semua perilaku positif yang ada dalam agama dan hukum masyarakat bisa diajarkan pada anak autis. Tapi yang harus disadari, kita tidak bisa mengharapkan mereka selalu berperilaku baik dan positif. Karena tetap bagaimanapun juga, ada saat mereka akan kembali pada perilaku aslinya ketika mereka tidak suka dengan sesuatu” .92

Pernyataan di atas didukung oleh observasi yang peneliti lakukan pada tanggal 28 september 2015. Awalnya peneliti bermaksud mendokumentasikan kegiatan belajar siswa ketika therapys. Alif, salah seorang siswa autis enggan untuk bertemu dengan peneliti karena merasa terganggu dan tidak suka saat

91Wawancara, Mardiono, wali murid siswa autis Taman Kanak- kanak Inklusi Star Kid’s Jember, Senin 6 Juli 2015 di ruang Therapys.

92Suratman, Wawancara, Kantor Therapys, 18 September 2015.

peneliti pernah melakukan wawancara dan mengatakan jika Tuhan ada dua. Ia memasang muka cemberut dan menggelengkan kepala ketika ditanya. Bahkan ia memilih menangis, menyepak dan menjerit histeris saat beberapa guru memaksanya untuk bersalaman dengan peneliti. Barulah ketika peneliti minta maaf dan membujuk lama, ia mengangguk dan menyalami peneliti, walaupun masih dengan wajah kesal.93