PROFIL LEMBAGA
C. Analisis Temuan
2. Strategi Internalisasi Nilai-nilai Rukun Iman Pada Anak Autis
Berdasarkan penyajian data dan kajian teori di atas dapat disimpulkan jika pokok dari pengajaran rukun iman adalah tidak sebatas dari bagaimana seorang anak menghapalkannya, tapi lebih kepada bagaimana ia dapat menginternalisasikan dan menjadikan kebiasaan dalam kehidupan sehari- hari.Secara garis besar, semua materi rukun iman yang ada dalam kajian teori diajarkan dan diinternalisasikan kepada anak autis. Namun pada sub pokok materi tertentu, tidak diajarkan karena pertimbangan akan intelegensi anak yang tidak bisa dipaksa berfikir abstrak.
kelainan. Hal ini dikarenakan kebutuhan tiap karakteristik autis berbeda.
Dengan berdasarkan pada hasil interview yang peneliti sajikan dalam penyajian data, didapat kesimpulan sebagai berikut:
a.Pengembangan lingkungan belajar secara terpadu dimaksudkan dengan mengkolaborasikan antara prinsip- prinsip umum dan khusus, dimana dalam prinsip khusus tersebut guru harus melihat dan mempertimbangkan karakteristik siswa.
b.Pada umumnya gangguan pada atypcal autism dibagi menjadi dua yaitu pertama, SID(Sensory Modulation Disorder). Adapun tipe SID(Sensory Modulation Disorder) juga dibagi menjadi dua yaitu tipe Sensory Devensivenese(menghindar dari input yang tidak berbahaya) dan tipe under araoused overstimuled (ketelambatan mengolah sensasi yang masuk). Kedua, Based Motor Disorder. Adapun tipe Based Motor Disorder juga dibagi menjadi dua yaitu, dyspraxia( ketidakmampuan dalam merencanakan dan melakukan gerak motorik baru) dan postural deficit (manifestasi dari gangguan proses sensori ).
c.Pada autis Asperger Syndrome biasanya hanya mengalami satu model gangguan yaitu Sensory Discrimination Disorder. Dimana gejala dari gangguan ini adalah membuat penderita mengabaikan input audiotory dan visual.
d.Pada dasarnya walaupun sama- sama mengalami syndrom autis, namun setiap tipe gangguan autis membutuhkan penanganan yang berbeda.
Merujuk pada kajian teori didepan diterangkan jika rumusan baku yang dipakai untuk mendiagnosis apakah anak menderita autis adalah dengan menggunakan ICD (International Classification of Diseases) Revisi ke-10 tahun 1993 dan DSM (Diagnostic And Statistical Manual) Revisi IV tahun 1994. Dalam ICD(International Classification of Disease) Revisi ke- 10 tahun 1993, WHO(World Health Organization) mengklasifikasikan autis menjadi lima bagian dengan ciri- ciri karakteristik yang berbeda dii setiap poinnya, dan kesemuanya berada dibawah payung naungan PDD(Pervasive Developmental Disorder). Sedikit berbeda dengan rujukan kajian teori, di lapangan secara garis besar para dokter dan guru sepakat membaginya menjadi dua garis besar. Yaitu autis untuk mereka yang menunjukkan gejala di usia tiga tahun. Dan gejala autis / autism syndrome, ketika anak tersebut menunjukkan gejala sebelum usia tiga tahun. Adapun Rett Syndrome, Atypcal autism dan asperger syndrome, masuk menjadi bagian dari autism syndrome.
Berdasarkan hal di atas, secara garis besar di dapat analisis jika pada dasarnya kepala sekolah dan guru pendamping masih memakai acuan baku yang sama untuk mengklasifikasikan tipe- tipe autis. Hanya saja sedikit perbedaan tersebut adalah pada penyebutannya saja. Dimana dalam lapangan secara garis besar mereka membagi gangguan Pervasive Developmental Disorder menjadi dua yaitu Autism dan syndrome autism yang terdiri dari Rett’s syndrome, Chilhood autism, Asperger syndrome dan Atypcal autism.
Hal ini dimaksudkan untuk penyederhanaan penyampaian kepada wali murid.
Dalam interview yang telah dijabarkan dalam penyajian data di depan, disebutkan jika sebagai guru terutama bagi anak berkebutuhan khusus harus memiliki latar belakang pendidikan luar biasa selain sikap sabar, telaten, penyanyang dan kreatif. Karena hal itu merupakan syarat mutlak keprofesionalan seorang guru, sebagaimana yang telah dibahas dalam kajian teori didepan. Namun berdasarkan gambaran obyek di depan didapat analisis yang menunjukan jika tenaga pendidik di Taman Kanak- kanak Inklusi Star Kid’s Jember belum ada yang memiliki latar belakang pendidikan luar biasa, kecuali para therapysnya. Berdasarkan observasi data yang ada, mayoritas guru adalah berasal dari Sekolah Menengah keguruan dan sarjana umum, walaupun dalam mengajar bisa dikatakan sukses. Peneliti sebut sukses karena berdasarkan fakta dilapangan ada beberapa anak dari Taman kanak- kanak Inklusi Star Kids yang meneruskan sekolah dasar bersama anak normal disekolah reguler. Namun apabila hal itu dikembalikan pada syarat keprofesionalan guru tentu saja permasalahan tersebut belum memenuhi standar keprofesionalan.
Selain keprofesionalan guru, penggunaan strategi juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penyampaian informasi kepada siswa.
Penggunaan strategi pada materi keimanan harus disesuaikan dengan isi materi, mengingat materi keimanan merupakan materi pendidikan agama dengan konsep assam’iyat(perkara yang tidak bisa dicapai penalarannya
hanya dengan pemikiran akal). Selain itu penerapan strategi pada pembelajaran juga harus mempertimbangkan ketersediaan waktu dan kemampuan siswa. Berdasarkan interview dan observasi yang peneliti lakukan dapat disimpulkan jika dalam metode pembelajaran untuk anak autis disesuaikan dengan usia perkembangan dari anak tersebut, kemampuan yang dia miliki, hambatan yang dimiliki anak saat mereka belajar, serta gaya belajar atau lerning style-nya pada masing-masing anak. Metode yang biasanya diberikan adalah bersifat kombinasi dari beberapa metode.
Meskipun tidak terlalu banyak, ada juga yang penderita autis yang memiliki respons yang sangat baik terhadap stimulus visual sehingga metode belajar yang menggunakan stimulus visual sangat diutamakan bagi mereka.
Selain karena berdasarkan pada hal tersebut pada kajian teori didepan juga telah disebutkan jika salah satu bagian penting dari proses belajar adalah kemampuan individu memproduksi hasil belajarnya. Pengajaran sebagai suatu sistem merupakan kegiatan yang meliputi berbagai komponen yang berkaitan erat satu sama lain. Dalam pengajaran tersebut komponen yang terpenting adalah interaksi antara pengajar dan peserta didik. Hubungan antar komponen diatas haruslah terwujud secara fungsional dan merupakan satu kesatuan organisasi. Apabila ada satu komponen tidak berfungsi dengan baik, maka proses pengajaran akan menemui kegagalan yang disebabkan oleh keadaan yang disfungsional. Oleh karenanya dalam hal tersebut guru dituntut untuk kreatif dan menguasai berbagai macam strategi untuk
selanjutnya mengkomunikasikannya pada siswa agar tercapai tujuan pembelajaran.
Sebelum menerapkan strategi pembelajaran, guru harus terlebih dahulu memahami siswanya. Mengklasifikasikannya kedalam kelompok-kelompok tertentu agar mudah dalam menyampaikan isi materi. Untuk menunjang hal tersebut, maka Taman Kanak- kanak Inklusi mengadakan pra- test kepada setiap siswanya. Dimana pra- test dilakukan untuk tujuan mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku siswa dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan, sebelum nantinya memilih pendekatan belajar.
Berdasarkan kajian teori dan interview dengan kepala sekolah yang telah peneliti jabarkan dalam penyajian data maka dapat diketahui jika apa yang dilakukan kepala sekolah sebelum menentukan strategi belajar bagi anak autis adalah bersesuaian dengan strategi dasar pengajaran yang ditulis oleh Abdul Muis dalam Buku Ajar Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Dalam bukunya Abdul Muis menyebutkan ada 4 strategi dasar dalam pengajaran yang meliputi beberapa hal sebagai berikut:
a.Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku siswa dan kepribadiananak didik sebagaimana yang diharapkan.
b.Memilih pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
c.Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan tekhnik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan guru.
d.Menetapkan norma- norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standart keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman dalam melakukan evaluasi.
Siswa berkebutuhan khusus model autis membutuhkan strategi tersendiri yang lebih khusus dari seorang guru untuk bisa menangkap apa yang diajarkan. Penyandang autis selalu menderita gangguan perilaku dan otak. Meskipun mereka tidak mampu bersosialisasi, tapi anak autis tidak bisa dikatakan bodoh.
Dalam kajian teori didepan juga telah dijelaskan jika menurut Ratih Ganda Setyawan dalam seminar One day International Seminar Indonesia Neurosience Club yang berjudul “Beda sensori Integrasi dan sensori motor”
mengungkapkan jika penerimaan terhadap hasil belajar anak normal dengan anak autis berbeda meskipun stimulus yang diberikan sama.kerusakan syaraf motorik dan sensorik memiliki peranan yang sangat besar terhadap kinerja otak pada anak autis. Kerusakan tersebut mengganggu kinerja otak, membuat otak tidak bisa menggambar persepsi dan pada akhirnya membuat respon yang salah tanpa telaah berarti. Hal tersebut pada akhirnya membuat persepsi yang berbeda pula terhadap perkembangan intelegensi satu sama lain.
Selain pernyataan diatas dalam Jurnal Pendidikan Khusus yang ditulis Tri Gunardi dan sudah dibahas dalam kajian teori didepan juga menyebutkan