• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai- nilai Rukun Iman yang Diinternalisasikan Pada Anak Autis Berdasarkan data dan fakta di lapangan serta hasil temuan observasi,

PROFIL LEMBAGA

C. Analisis Temuan

1. Nilai- nilai Rukun Iman yang Diinternalisasikan Pada Anak Autis Berdasarkan data dan fakta di lapangan serta hasil temuan observasi,

peneliti pernah melakukan wawancara dan mengatakan jika Tuhan ada dua. Ia memasang muka cemberut dan menggelengkan kepala ketika ditanya. Bahkan ia memilih menangis, menyepak dan menjerit histeris saat beberapa guru memaksanya untuk bersalaman dengan peneliti. Barulah ketika peneliti minta maaf dan membujuk lama, ia mengangguk dan menyalami peneliti, walaupun masih dengan wajah kesal.93

Jika melihat pada kajian teori didepan, untuk materi rukun iman yang pertama( Iman kepada Allah) maka akan kita ketahui jika ada beberapa sub pokok materi yang berkaitan dengan hal tersebut. Mulai dari sifat- sifat Allah (Al- wujud, Al- qidam, Al- baqa’, Al- mukhlafatu lil hawaditsi, Al- qiyahluhu binafsihi, Al- Qiyahluhu binafsihi, As- Sam’u, Al- Bashar, Al- Kalam, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu- Bashiran, Kaunuhu Mutakaliman, Al- Wahdaniyah, Al- Qudrah, Al- Iradah, Al- ‘ilmu, Al- Hayat, Kaunuhu Kadiran, Kanuhu Mukarraman, Kaunuhu ‘Ilmu, dan Kaunuhu Hayat), Asmaul Husna, hingga sifat Jaiz Allah.

Namun berdasarkan pertimbangan akan kemampuan intelegensi, maka materi tersebut tidak seluruhnya diajarkan. Hanya pon- poin tertentu yang dianggap penting dan masih bisa dipraktekan saja yang diajarkan.

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka guru melakukan penyesuaian- penyesuaian terhadap materi, guna mempermudah penginternalisasian nilai- nilai rukun iman. Adapun salah satu penyesuaian tersebut adalah dengan menyederhanakan bahasa yang dipakai dan memundurkan satu langkah kurikulum. Misalnya dalam menerangkan sifat- sifat Allah dan asmaul husnaguru tidak memakai istilah bahasa arab sama sekali. Guru akan menerangkan jika Allah itu Maha melihat, Maha mendengar, Maha pengasih, Maha penyanyang dan lain sebagainya, itupun dengan disertai contoh yang konkrit, sehingga tidak menimbulkan makna ambigu bagi siswa. Untuk sifat jaiz Allah, guru tidak mengajarkannya dikarenakan takut menimbulkan

makna lain yang nantinya malah tidak bersesuaian dengan tujuan pembelajaran

Terkait dengan materi rukun iman yang kedua yaitu pada malaikat, dalam kajian teori di depan telah dijelaskan mengenai ayat yang berkenaan dengan malaikat dan tugasnya. Secara rinci kajian teori di depan menggambarkan mengenai keberadaan malaikat, mulai dari kesepuluh nama-nama malaikat, wujud malaikat, hingga tugas- tugasnya.Dalam kajian teori juga telah dijelaskan jika malaikat merupakan makhluk gaib sebangsa nyawa saja. Namun berdasarkan fakta di lapangan hal tersebut sedikit berbeda, ketika materi mengenai rukun iman yang kedua diajarkan. Karena pertimbangan anak autis yang tidak bisa diajak berfikir abstrak maka guru menyederhanakan materi menjadi sesuatu yang mudah dinalar. Guru tidak menjelaskan secara rinci mengenai nama malaikat, hanya saja guru mengajarkan semua tugas malaikat. Misalnya jibril yang bertugas meniup terompet, dan adapula malaikat bermuka sangar, serta jahat yang menjaga neraka. Menghukum anak- anak nakal. Sedangkan untuk menggambarkan wujud malaikat, beberapa guru menggambarkan dengan obyek tertentu.

Misalnya malaikat besar dan tinggi, bercahaya terang seperti lampu dan punya sayap besar seperti burung.

Sedikit berbeda dengan rukun iman yang pertama dan kedua, untuk materi rukun iman yang ketiga, guru tidak mengalami kesulitan berarti, karena ada contoh kongkrit yang bisa ditunjukkan. Namun sebagaimana materi rukun iman yang pertama dan kedua, dalam menerangkan rukun iman

yang ketiga guru hanya mengajarkan beberapa macam kitab suci saja. yaitu Al- Quran dan Injil. Jika kita melihat pada pembahasan kajian teori di depan, akan kita temukan pembahasan mengenai lima kitab suci yang diturunkan Allah pada Rasul-Nya.

Namun berdasarkan pertimbangan mengenai kekurangan anak autis, maka dalam praktik di lapangan, guru terpaksa memangkas materi. Karena dalam pengajaran pada anak autis guru dituntut untuk memberi contoh kongkrit yang bisa dilihat. Secara umum dalam kajian di depan juga dijelaskan mengenai realisasi keimanan yang dibagi menjadi lima, yaitu yang pertama mengimani jika kitab itu datangnya dari Allah, mengimani kitab tersebut baik secara rinci/ tafshil maupun garis besarnya saja, ketiga membenarkan jika kitab itu murni, keempat mengamalkan hukum yang ditulis dalam kitab dan kelima adalah mengimani adanya shahifah pada beberapa nabi pilihan. Jika teori di atas dikaitkan dengan fakta di lapangan, maka akan terlihat jika hanya beberapa bentuk realisasi keimanan saja yang ada.

Di lapangan anak- anak diajari jika semua kitab datangnya dari Allah, namun mereka tidak diajari untuk mengimani kitab tersebut secara tafsili.

Mereka hanya diberitahu jika kitab itu di turunkan kepada Rasul (secara garis besar). Secara umum mereka diajarkan untuk mengamalkan isi dari kitab tersebut namun lewat perbuatan sederhana. Misalnya tidak boleh mencuri, harus saling berbagi, dan senantiasa menjaga kebersihan. Untuk bentuk realisasi mengenai shahifah mereka tidak diajari. Namun dalam waktu

tertentu cerita mengenai beberapa nabi penerima shahifah ( Nabi Musa dan Ibrahim) tetap dieritakan sebagai pembelajaran.

Selanjutnya materi rukun iman yang ke- empat yaitu iman kepada Rasul, secara garis besar materi yang diajarkan di lapangan bersesuaian dengan kajian teori di depan. Di dalam lapangan seringkali diceritakan kisah mengenai nabi Ibrahim dan Isra miraj yang dilakukan oleh Rasul. Namun jika dalam kajian teori kita tahu dan paham jika Rasul melakukan Isra Miraj dengan berkendaraan buroq, di lapangan guru menjelaskan kepada siswa jika Rasulullah naik kelangit menaiki awan putih seperti kapas.

Dalam kajian teori di depan pembahasan rukun iman ke lima yaitu iman kepada hari kiamat lebih ditekankan kepada tanda-tanda akhir zaman, mengenai lahirnya Dajjal, Yajuz Majuz, jumlah perempuan yang lebih banyak daripada laki- laki, dikumpulkannya manusia di padang masyar, hingga siksa kubur. Selain itu dijelaskan juga mengenai kiamat sughra dan kubra. Sebagaimana kajian teori di depan, berdasarkan observasi dan wawancara yang peneliti lakukan, dengan melihat pada penyajian data, dapat dianalisis jika secara umum materi mengenai tanda- tanda kiamat diajarkan di sekolah. Hanya saja lingkupnya terbatas pada kiamat sughra. Dengan penggambaran bencana alam, longsor, banjir dan sebagainya.

. Terkait dengan iman kepada qadha dan qadar dalam kajian teori di depan, secara gamblang telah dijelaskan perihal qadha dan qadar. Baik itu ayat yang menjelaskan mengenai hal tersebut, pengertian, maupun kewajiban mengimaninya. Namun tidak dijelaskan perbedaan keduanya. Sama halnya

dengan kajian teori di depan, dalam penyajian data yang didasarkan pada penelitian lapangan, guru tidak menjelaskan pengertian qadha dan qadar secara rinci. Materi mengenai qadha dan qadar hanya sebatas diajarkan dengan contoh kongkrit yang mudah dinalar dengan bahasa sederhana yaitu takdir baik dan takdir buruk.

Terlepas dari ke- enam nilai-nilai rukun iman di atas, dan berdasarkan wawancara dengan Suratman dalam penyajian data di depan, secara umum dapat dijelaskan jika materi agama islam terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai rukun iman sudah seharusnya tidak sekedar menjadi teori yang diajarkan atau dihapalkan saja. Melainkan lebih dari itu, teori sudah seharusnya juga diinternalisasikan pada anak autis. Mengingat pola berfikir anak yang masih seperti spon, menyerap apapun yang ada disekitarnya, membangun pondasi keimanan sejak usia dini dengan mengenalkan dan menginternalisasikan materi merupakan hal yang mutlak harus dilakukan.

Bersesuaian dengan pernyataan diatas, hal tersebut juga diungkapkan oleh Abdul Malik Karim Amrullah dalam bukunya Pendidikan Islam Menggali Tradisi Mengukuhkan Eksistensi yang telah menjadi kajian teori didepan. Dalam bukunya ia mengatakan jika masalah keimanan dan rukun iman berintegrasi ke dalam Islam sebagai pengamalan dari rukun Islam. Artinya, rukun Islam adalah pernyataan dari rukun iman. Rukun iman sebagai teori kemudian dilanjutkan dengan prakteknya menggunakan rukun Islam. Rukun iman merupakan titik tolak ilmu- ilmu yang berhubungan dengan keimanan membentuk manusia mukmin yang beramal shaleh.

Berdasarkan penyajian data dan kajian teori di atas dapat disimpulkan jika pokok dari pengajaran rukun iman adalah tidak sebatas dari bagaimana seorang anak menghapalkannya, tapi lebih kepada bagaimana ia dapat menginternalisasikan dan menjadikan kebiasaan dalam kehidupan sehari- hari.Secara garis besar, semua materi rukun iman yang ada dalam kajian teori diajarkan dan diinternalisasikan kepada anak autis. Namun pada sub pokok materi tertentu, tidak diajarkan karena pertimbangan akan intelegensi anak yang tidak bisa dipaksa berfikir abstrak.