PROFIL LEMBAGA
1. Nilai- nilai Rukun iman yang di Internalisasikan pada anak Autis
Berdasarkan observasi, wawancara dan dokumentasi tersebut, data- data terkait tentang fokus penelitian menyangkut strategi internalisasi nilai-nilai rukun iman dan implikasinya terhadap perilaku anak autis di Taman Kanak- kanak Inklusi Star Kid’s Jember.
“ Semua materi pokok rukun iman diajarkan, mulai dari iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab, iman kepada rasul, iman kepada hari kiamat dan iman kepada qadha dan qadhar. Namun untuk sub pokok tertentu tidak kami ajarkan. Misalnya mengenai asmaul husna. Dari ke 99 nama-nama Allah tersebut hanya sebagian kecil saja yang kami ajarkan, mengingat intelegensi dan penalaran anak autis yang terkadang minim”.5
Tidak berbeda jauh dengan pernyataan Cicik Setiowati, Sri Wahyuni guru pendamping autis/ shadow teacher juga berpendapat sama.
Bahwasannya untuk mempermudah proses pembelajaran, maka hanya beberapa materi sub pokok mengenai sifat Tuhan yang diajarkan. Lebih jauh Sri Wahyuni mengatakan,
“ Sama halnya dengan sekolah reguler lain, disini kami mengajarkan semua rukun iman, namun dengan bahasa yang lebih sederhana dan tidak sampai mendetail. Misalnya dari 99 asmaul husnadan sifat wajib Allah hanya beberapa saja yang saya ajarkan. Dan itupun yang sekiranya bisa dipraktekan dalam kehidupan sehari- hari. Untuk sifat jaiz Allah tidak kami ajarkan, namun sesekali kami selipkan. Karena anak autis butuh penyederhanaan materi maka dalam pengajarannya kami tidak menggunakan istilah arabnya melainkan indonesianya.
Untuk istilah arab (sifat wajib Allah) hanya sekedar kami nyanyikan”.6 Berdasarkan wawancara dengan Budi Utomo, orang tua dari Erlangga Budi Utomo mengatakan jika anaknya sudah paham doa-doa pendek dan lancar menyebutkan semua rukun iman. Ia juga mengatakan jika anaknya sudah bisa sholat sekalipun belum penuh lima waktu. Bahkan ketika ia lupa berdoaketika melakukan suatu aktivitas, maka anaknya akan mengingatkannya. Lebih jauh, Budi Utomo mengatakan,
“Erlangga lancar ketika saya suruh menyebutkan rukun iman. Setiap pulang dari sekolah, saya selalu tanyakan materi yang diajarkan
5Wawancara, Cicik Setiowati, guru Pendidikan Agama Islam Taman Kanak- kanak Inklusi Star Kids Jember, Jumat, 3 Juli 2015, diruang B.
6Wawancara,Sri Wahyuni, guru pendamping Taman Kanak- kanak Inklusi Star Kids Jember, Jumat 3 Juli 2015, diruang B.
disekolah. Lalu diawali dengan Bismillah, dia akan menyanyikan sifat- sifat Allah. Dia juga hapal doa-doa pendek seperti doa akan makan, sebelum tidur dan bangun tidur. Bahkan dia sudah bisa shalat walaupun tidak penuh lima waktu. Bahkan ketika saya lupa berdoa sebelum makan, ia akan menegur saya”.7
Mendukung pernyataan dari wali murid di atas, peneliti melakukan wawancara dengan salah seorang murid, Erlangga Budi Utomo. Ketika peneliti menanyakan perihal rukun iman, sambil bermain dan berlari- lari ia menjawabnya dengan lancar. Sesekali ia diam dan tersenyum sambil menggaruk kepala jika lupa. Ia mengatakan bahwa rukun iman ada enam, dan semuanya bersumber dari Allah S.W.T. Sehubungan dengan hal tersebut, Erlangga mengatakan,
“Rukun iman ada enam. Satu iman kepada Allah bacaannya Assyhadu anlla illa ha Illaullah, dua iman kepada malaikat, ada malaikat yang memberi hujan, membagi rezeqi, bermain terompet, membunuh nyawa, menjaga surga, menjaga neraka. Nama nya saya lupa tapi mereka semua baik, besar, putih dan punya sayap. Kecuali yang membunuh, bu guru bilang malaikat yang membunuh itu seram wajahnya, besar, suaranya keras dan bikin kaget. Tiga, iman kepada kitab. Ada Al- Quran, yang biasanya dibaca pak Man dan bu Adel. Ada buku juga gambarnya perempuan, bayi sama domba.Marcel punya. Empat iman kepada rasul Waasyhadu anna Muhammad Rasulullah. Lima iman kepada hari kiamat. Tanah longsor, kebakaran, banjir. Enam iman kepada qodo’ dan qodar. Kalau naik sepeda pelan- pelan terus jatuh itu katanya takdir. Pokoknya semua itu yang membuat Allah”.8
Berdasarkan wawancara dengan Suzi Safaryuni guru pendamping autis menyatakan bahwa sub materi tidak semua diajarkan, melainkan hanya beberapa sub pokok materi yang diajarkan. Hal ini dikarenakan intelegensi anak autis yang rata- rata rendah, dan hanya ada beberapa sub materi yang
7Wawancara Budi Utomo, wali murid siswa Autis Taman Kanak- kanak Inklusi Star Kid’s Jember, Sabtu 11 Juli 2015 di Klinik Therapy.
8Wawancara Erlangga Budi Prasetyo Utomo, siswa Autis, Senin, 20 Juli 2015, dikelas A.
bisa di tunjukkan langsung contohnya. Lebih jauh berikut pernyataan Suzi Safaryuni,
“Kita tahu jika anak autis akan mudah paham lewat apa yang dia dengar dan lihat sehari- harinya. Untuk itu kami sepakat menyederhanakan materi yang ada. Meringkas beberapa materi saja.
kita tahu bahwasannya rukun iman ada enam. untuk penggambaran rukun iman pertama, yaitu iman kepada Allah, kita biasa mengenalkan mereka dengan sifat wajib Allah, dan asmaul husna yang jumlahnya ada 99. Namun tidak kesemua asmaul husna itu kita ajarkan. Asmaul husna yang diajarkan antara lain Allah Maha Pengasih, Maha Penyanyang, Merajai, Maha Suci, Maha Mengatur, Maha Pencipta, Maha Pengampun, Maha Pemberi Rezeqi, Maha Memiliki Ilmu, Maha Memuliakan, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Lembut, Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Mengabulkan, Maha Mengawasi,Maha Kaya, Maha Kekal, Maha Mandiri dan Maha Menghukum anak nakal.
Untuk malaikat, kita ajarkan semua. Namun prioritas kami bukan menghapal nama malaikat, melainkan mereka tahu tugas malaikat.
Untuk rukun iman ketiga, saya katakan jika dalam kelas ini ada banyak agama jadi ada banyak buku wajib (kitab). Tapi yang biasa saya tunjukan hanya Al- Quran dan Injil. Rukun iman ke-empat, iman kepada Rasul dan Nabi, hanya sebatas pada Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Daud, Nabi Musa, Nabi Ismail dan Nabi Isa. Selanjutnya untuk rukun iman kelima, yaitu iman kepada hari kiamat, tidak kami katakan jika kiamat ada dua. Biasanya pembelajaran pada sub ini sebatas pada mengenalkan apa itu kiamat, dan contohnya. Sedangkan untuk rukun iman yang terakhir, yaitu iman kepada qadha dan qadar, materi didampaikan secara garis besar saja.
tidak dijelaskan secara detail apa itu pengertian qadha dan qadar.
Secara garis besar biasanya dijelaskan jika qadha dan qadar itu adalah takdir. Takdir baik dan buruk.”9
Sebagian besar guru pendamping/ shadow teacher dan guru Pendidikan Agama Islam, Cicik sepakat berpendapat bahwa merupakan hal mudah jika sekedar mengenalkan pokok materi rukun iman, maka tidak ada masalah ketika menjelaskan semua rukun iman tersebut. Namun hal itu menjadi sedikit sulit ketika sudah masuk sub pokok tertentu. Sehingga untuk
9Wawancara, Suzi Safaryuni,Guru Pendamping/ Shadow Teacher, Senin, 20 Juli 2015 diruang kelas A.
mempermudah penyampaian materi, sekolah memundurkan satu langkah kurikulum yang ada. Hal itu sebagaimana yang disampaikan oleh Cicik Setiowati. Ia mengatakan,
“Tidak ada masalah ketika hanya menerangkan macam-macam rukun iman. Hanya menyebutkan rukun iman pertama sampai ke enam, saya yakin semua guru di sini bisa. Tapi kalau sudah masuk sub pokok tertentu menjadi lumayan sulit. Misalnya ketika siswa mulai bertanya mengenai seperti apa wajah Allah,dan dimana tempat tinggal-Nya.
Tidak mungkin kita menjelaskan secara berbelit-belit mengenai hal itu, dan masalahnya pertanyaan itu selalu ada. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, kami sepakat memangkas sedikit materi. Kami terpaksa tidak menjelaskan mengenai sifat jaizAllah, agar materi mudah dicerna dan tidak menimbulkan makna ambigu”.10
Pernyataan di atas juga disampaikan Amalia Adel, ia menyatakan jika sedikit sulit ketika menerangkan mengenai sifat-sifat Allah. Karena tidak semua anak akan memahaminya dengan tepat. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka sekolah sepakat hanya mengajarkan materi yang sekiranya bisa diterima oleh nalar mereka. Terutama jika materi tersebut berkaitan dengan ke-Tuhanan. Selain itu, untuk sub pokok bahasan tertentu, guru Pendidikan Agama Islam memberi wewenang kepada guru pendamping untuk menyederhanakan materi, sehingga mudah di terima masing-masing anak. Lebih jauh Amalia Adel mengatakan,
“Kami semua para guru di sini, sedikit mengalami kesulitan ketika harus menerangkan lebih dalam apa itu Allah, bagaimana wujudnya dan bagaimana sifat-sifatnya. Maka untuk mengatasi kesulitan itu, kami sepakat memangkas sedikit kurikulum yang ada. Istilahnya memundurkannya selangkah. Jika di sekolah reguler pada umumnya dijelaskan keseluruhan sifat Allah yang terangkum dalam asmaul husna, di sekolah ini hanya beberapa poin dari asmaul husna yang kami
10 Cicik Setiowati, Wawancara, Kelas B, 3 Juli 2015.
jelaskan. Kami jelaskan yang sekiranya sifat itu terpuji dan layak untuk dicontohkan. Misalnya Allah Maha Bercahaya dan Maha Melihat.
Kami tidak ajarkan jika Allah Maha Memerintah. Karena kami tidak mau mereka salah mengartikan kata memerintah di sini. Kami ingin membentuk mereka menjadi anak baik, penurut dan nantinya bisa diterima oleh masyarakat. Bukan anak yang suka memerintah. Selain itu untuk memudahkan penginternalisasian, para guru pendamping juga diberi wewenang untuk menyederhanakan materi asal tidak keluar dari konsep, karena hanya guru pendampinglah yang benar-benar memahami bagaimana karakteristik dari anak didiknya”.11
Terkait sub pokok materi yang diinternalisasikan pada anak autis, peneliti melakukan wawancara terhadap Salim Al- Khaff, salah satu siswa kelas A. Sedikit berbeda dengan teman- teman autis lainnya, ia lebih menyukai diam, dan duduk sendiri. Dalam menjawab pertanyaan penelitipun, ia lebih sering menggelengkan kepala. Hal ini sedikit berbeda ketika guru pendampingnya yang bertanya. Dengan cepat dan antusias ia menjawabnya.
Bahkan ia tertawa ketika jawabannya salah. Lebih jauh Salim mengatakan,
“Allah itu besar (sambil melingkarkan tangannya ke atas), kuat, seperti raja. Suka menyuruh shalat, kadang tidak boleh makan kalau belum siang( maksudnya berpuasa). Allah dengar semua yang kita bilang jadi kalau ngomong harus pelan(sambil memelankan suaranya). Allah suka beri hadiah kalau salim baik, tapi kalau salim nakal, Allah marah.
Kalau marah, wajahnya seram(sambil mengerutkan dahi). Jadi Salim tidak suka banting mainan lagi. Kalau Allah marah, mainan Salim diambil”.12
Hasil wawancara yang peneliti lakukan di atas, diperkuat dengan hasil observasi. Pada saat guru pendamping menyuruhnya adzan, ia langsung menghampiri kawan- kawannya dan menata shaf. Sambil berdiri dan menghitung, ia bersama- sama mengajak kawan-kawannya adzan. Saat ada
11 Rizky Amalia Adel, Wawancara, Kelas B, 9 Juli 2015.
12Wawancara, Salim Al- Khaff, siswa Autis Taman Kanak-kanak Inklusi Star Kid’s Jember, Kamis, 09 Juli 2015, di Ruang kelas A.
salah satu kawan yang tertawa di tengah- tengah adzan, ia langsung melirik dan cemberut sambil menunjuk kawan yang dimaksud.13
Pada dasarnya seluruh pokok materi rukun iman sebagian besar diinternalisasikan pada anak autis. Hanya pada sub pokok materi tertentu tidak diajarkan. Hal ini berdasarkan pada pertimbangan rata-rata intelektual anak autis dalam memahami suatu objek. Oleh karenanya, agar tidak menimbulkan makna ambigu, sebagian sub pokok materi dipangkas.