101 | H a l a m a n
Bab 10
Dampak Pembangunan Kota Citra Maja Raya bagi
102 | H a l a m a n strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis dengan daerah belakangnya. Pemahaman dari daerah belakangnya ini, Kota nampak sebagai aglomerasi atau pengelompokkan bangunan yang dikelilingi atau dibatasi oleh jalur-jalur jalan atau sungai-sungai yang diselang-seling dengan kelompok pepohonan besar kecil. Dengan kata lain, dalam prosesnya, pembangunan Kota seringkali menyembunyikan proses penghancuran wilayah-wilayah kecil yang ada disekitarnya.
Maka, kami menganalisis bahwa dengan adanya pembangunan Kota dibalik kawasan desa dapat memunculkan ketimpangan sosial dari berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan lain sebagainya.
Hal ini pun dapat memicu terjadinya konflik antar penduduk lokal desa dan pendatang di Kota. Melihat dari sangat pentingnya pendidikan bagi generasi kita, kami memusatkan perhatian kepada dampak dari pembangunan Kota Citra Baru Maja untuk turut serta dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Desa Pasir Kembang yang berada ditengah kawasan pembangunan Kota Citra Baru Maja tersebut dan juga bagaimana perhatian masyarakat desa sendiri terhadap pendidikan tersebut. Akankah memajukan pendidikan di desa atau justru menciptakan pelapisan sosial baru diantara masyarakat.
Sistematika Penulisan
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif melalui teknik wawancara untuk mendapatkan data dan sumber informasi yang sesuai dengan tema penelitian. Sistematika dalam tulisan ini ditulis dengan beberapa bagian, yaitu: Pertama, adalah pengantar, pada bagian pengantar penelitei menjelaskan latar belakang, inti dari tema penelitian yaitu Dampak Pembangunan Kota Citra Maja Raya terhadap Kualitas Pendidikan Desa Pasir Kembang, dan hal yang menarik untuk dikaji. Kedua, adalah sistematika penulisan, bagian ini menjelaskan pendekatan yang digunakan pada penelitian, teknik pengumpulan data, dan sistematika penulisan. Ketiga, adalah deskripsi lokasi, bagian ini digunakan untuk memperkenalkan dan mendeskripsikan lokasi yang dilakukan di Citra Maja Raya, Lebak, Banten.
Keempat, tinjauan teori, bagian ini menjelaskan tentang keteraitan antara teori struktural fungsional. Ke5, adalah pola pendidikan di Desa Pasir Kembang.
Keenam, adalah strategi masyarakat Desa Pasir Kembang dalam meningkatkan pendidikan. Ketujuh, ialah kesimpulan dari kelompok berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang sudah dilakukan.
Deskripsi Lokasi
Citra Maja Raya terletak di daerah Lebak, Banten, Jawa Barat, dengan luas wilayah 2.730 hektar. Gambar di bawah ini merupakan peta lokasi dari Citra Maja Raya. Lokasi Citra Maja Raya terletak di jalan Citra Maja Raya Boulevard, Blok A1 No. 1-9, Lebak, Banten, Jawa Barat.
103 | H a l a m a n Gambar 10.1
Peta Lokasi dari Citra Maja Raya
Sumber: Google Maps (2017)
Pembangunan yang dimulai sejak tahun 1995, saat ini masih dalam proses pengerjaan, dan pada tahun 1996-1997 sudah ada 500-1000 rumah yang telah terbangun. Kemudian pada tahun 1998 terjadi krisis moneter yang memicu penarikan investasi dari para investor dan menyebabkan pembangunan perumahan menjadi terbengkalai. Beberapa investor kembali melihat prospek pembangunan Kota Citra Maja Raya pada tahun 2005 dan pembangunan kembali dilanjutkan pada tahun 2013. Proses pembebasan lahan yang diupayakan oleh berbagai PT investor berlangsung sejak 1995, namun hal ini menimbulkan beberapa permasalahan. Seperti misalnya, perebutan lahan. Perebutan lahan yang terjadi disebabkan oleh tidak adanya surat izin jual beli yang disepakati, atau surat yang dibuat diatas namakan orang lain. Sehingga, sampai saat ini masih ada warga desa yang mempertahankan tanah milik mereka pada 14 desa yang terletak di tengah Citra Maja Raya. Akan tetapi, dengan adanya 14 desa tersebut belum memberikan dampak untuk pembangununan infrastruktur desa. Proses perbaikan masih di lakukan hanya sebatas untuk akses menuju Citra Maja Raya. Selain itu, Ruang Tebuka Hijau (RTH) belum terbangun dan minimnya penanaman pohon memberikan suasana kawasan yang sangat gersang dan panas. Gambar dibawah ini merupakan pintu utama Citra Maja Raya. Lokasi Citra Maja Raya terletak di jalan Citra Maja Raya Boulevard, Blok A1 No. 1-9, Lebak, Banten, Jawa Barat.
104 | H a l a m a n Gambar 10.2
Tampak Depan Citra Maja Raya
Sumber: Google (2017)
Kajian Teoritis
Penelitian dan penulisan paper ini dikaji melalui pendekatan-pendekatan teori structural fungsional. Menurut Durkheim, masyarakat merupakan kesapemilik di mana di dalamnya terdapat bagian-bagian yang memiliki fungsinya masing- masing, dan saling menyatu dalam keseimbangan. Untuk itu, teori ini lebih menekankan social order (keharmonisan sosial) dan mengabadikan konflik atau ketegangan-ketegangan lainnya yang ada di masyarakat (Suriani, 2016:
63). Artinya, masyarakat dianalogikan sebagai organ tubuh manusia. Di mana masyarakat serupa dengan organ tubuh yang saling keterkaitan dan memiliki fungsi satu sama lain. Jika terdapat satu bagian yang mengalami disfungsi, maka seluruh organ tubuh tersebut tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Sama halnya dengan dampak antara pembangunan Kota Citra Maja Raya dengan tingkat kesadaran pendidikan di Desa Pasir Kembang. Dari hasil analisis kami, dapat diketahui bahwa Citra Maja Raya merupakan satu kesapemilik dengan beberapa desa yang terdapat di tengah lingkaran pembangunan tersebut. Namun, akses jalan yang dibuat tidak sampai ke desa-desa yang ada. Sehingga, realitas ini menimbulkan persepsi adanya sekat-sekat yang membentuk kelas sosial antara penduduk asli dan pendatang. Begitu pula dengan pendidikan yang sudah ada dan yang sedang dalam perencanaan pembangunan.
Pola Pendidikan Desa Pasir Kembang
Pendidikan di Kota Maja, awalnya hanya berupa pesantren. Seiring berjalannya waktu, dengan berkembang sistem pemerintahan desa, maka berkembang pula pendidikan di Kota Maja., khususnya di Desa Pasir Kembang. Saat ini, terdapat 15 Pondok Pesantren, 2 Sekolah Dasar (SD), 1
105 | H a l a m a n Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang masih dalam proses pembangunan. Ada dua faktor yang menyebabkan masyarakat Pasir Kembang memperoleh pendidikan yang tinggi. Di bawah ini merupakan skema dari strategi masyarakat dalam meningkatkan pendidikan:
Skema 10.1
Faktor Penyebab Masyarakat Sulit Memperoleh Pendidikan Tinggi
Sumber: Hasil Analisis (2017)
Masyarakat Desa Pasir Kembang pada umumnya hanya bersekolah sampai jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Karena lokasi SMA yang ada di luar Desa Pasir Kembang menyulitkan masyarakat dalam mengakses jalan.
“Ngelanjutin ke SMA mah pengen, teh. Tapi, jaraknya jauh dari desa ke Kota Majanya. Orangtua juga pernah nyaranin gitu kalo bisa kerja mah kerja aja, tapi saya masih bingung jadi belum dipikirin lagi.
(Wawancara dengan Rahmawati, warga Desa Pasir Kembang, 18 November 2017) Masyarakat Desa Pasir Kembang juga berpikiran bahwa menempuh pendidikan SMA tidaklah terlalu penting, karena pendidikan SMA tidak menjamin pekerjaan yang baik bagi masyarakat. Masyarakat lulusan SMA rata-rata hanya bekerja di pabrik sepatu, atau hanya sebagai pembuat kerupuk opak. Adapun masyarakat yang lulus SMA, dan sempat bekerja cukup lama di Kota, pada akhirnya kembali ke Desa Pasir Kembang dan bekerja sebagai buruh pabrik atau pembuat kerupuk opak.
“Saya cuma lulusan SMK perkantoran, teh. Mau kerja bingung jadi apa, akhirnya saya sekarang jualan kerupuk opak aja seiketnya isi 10 harga Rp 3000,-. Bikin di rumah, nanti diambil sama orang buat dibawa ke Jakarta atau saya jualin aja di sekitaran desa”
(Wawancara dengan Asni, warga Desa Pasir Kembang, 18 November 2017)
106 | H a l a m a n Gambar 10.3
SD Negeri 2 Pasir Kembang
Sumber: Google (2013)
Menurut Ritzer dalam teori modal kulturalnya menyatakan bahwa siswa dan keluarga-keluarga menengah atas memiliki latar belakang kultural, ilmu pengetahuan, kecondongan bawaan, dan kecakapan yang memudahkan kecakapan di sekolah. Sebaliknya, siswa yang berasal dari keluarga menengah ke bawah memiliki latar belakang kultural, ilmu pengetahuan, kecondongan bawaan, dan kecakapan yang kurang mendukung kecakapan di sekolah (George Ritzer, 2013: 596).
Artinya, latar belakang keluarga dapat mempengaruhi pola pikir anak dan tanpa disadari hal tersebut bisa menjadi pola kebiasaan yang berulang. Selain itu, lingkungan sekitar juga mempengaruhinya. Pola pengulangan kebiasaan pendidikan yang terjadi di Desa Pasir Kembang, Lebak, Banten merupakan bentuk realitas dari kurangnya pencerdasan masyarakat mengenai sangat pentingnya pendidikan untuk melangsungkan kehidupan selanjutnya. Ketika kami mengadakan dialog terbuka, Bapak Akhmad selaku Kepala Desa Pasir Kembang menyampaikan,
“Dulu zaman saya sekolah, edukasi dia anggap tidak penting.
Karena warga-warga desa menganggap dirinya “kaya” akan sumber daya alam. Misalnya, ladang, sawah, dan lain sebagainya.”
(Wawancara dengan Akhmad, Kepala Desa Pasir Kembang, 18 November 2017) Menurutnya, tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan di Desa Pasir Kembang sangat minim. Dengan kekayaan sumber daya alam saat itu, mendorong masyarakat untuk tidak melanjutkan pendidikan lebih tinggi dan hanya menggantungkan kelangsungan hidup kepada alam. Namun
107 | H a l a m a n sayangnya, pola kebiasaan pendidikan ini berlangsung hingga sekarang.
Kepala Desa Curug Badak, yakni Bapak Agus juga menyayangkan hal ini.
“Padahal kita tahu, kalo kekayaan alam gak selamanya ada. Liat aja sekarang, sawah udah habis karena ada pembangunan. Kalo seperti ini, mau nyari uang kemana lagi? Sementara pendidikan di sini rendah dan keterampilan juga nggak punya. Alternatif pekerjaan yang diberikan pengusaha juga sifatnya sementara. Artinya, nanti kalau pembangunan udah selesai, setiap pekerjaan pasti punya kualifikasi dan sayangnya warga desa saya, maupun desa Pasir Kembang kurang akan hal itu.”
(Wawancara dengan Agus Supandi, Kepala Desa Curug Badag, 30 November 2017) Selain itu, pemicu pola pengulangan kebiasaan yang dilakukan juga didorong oleh rendahnya ekonomi masyarakat Desa Pasir Kembang saat ini. Sejak awal adanya rencana pembangunan, penduduk asli telah menyadari bahwa mereka akan kehilangan lapangan pekerjaan. Namun, masyarakat yang memiliki pemahaman primitif cenderung nyaman dengan tempat aslinya, walaupun terancam bahaya.
“Boro-boro untuk pendidikan, untuk orangtua mencukupi kesahiran aja masih suka kurang. Tapi, sekarang ini saya dan Pak Agus sedang berusaha untuk membuka wawasan tentang pendidikan agar kedepannya kami meningkat. Ya minimal mereka bisa sampe tingkat SLTA. Sekarang pun udah lumayan yang ngelanjutin kuliah setelah kerja.”
(Wawancara dengan Akhmad, Kepala Desa Pasir Kembang, 18 November 2017) Strategi Masyarakat dalam Meningkatkan Pendidikan
Pendidikan memang tidak terlalu diutamakan di Desa Pasir Kembang ini, namun lambat laun fikiran masyarakat Desa Pasir Kembang mulai terbuka akan pentingnya pendidikan. Beberapa strategi dilakukan oleh masyarakat, khususnya Kepala Desa, agar pendidikan di Desa Pasir Kembang meningkat.
Di bawah ini merupakan skema dari strategi masyarakat dalam meningkatkan pendidikan:
108 | H a l a m a n Skema 10.2
Strategi dalam Meningkatkan Pendidikan
Sumber: Hasil Analisis (2017)
Pihak pemerintahan di Desa Pasir Kembang mulai berusaha meningkatkan pendidikan di desa ini, dengan menambah beberapa sekolah seperti SD, dan SMP, serta 1 SMA yang mulai dibangun di Desa Pasir Kembang. Jadi, bukan hanya pendidikan dalam bidang agama (pesantren/madrasah) yang ada di Desa ini, karena pendidikan yang bersifat umum juga dibutuhkan agar masyarakat Desa Pasir Kembang dapat maju. Selain dari pihak pemerintah yang berusaha meningkatkan pendidikan di Desa Pasir Kembang, masyarakat pun juga berusaha melakukan strategi untuk meningkatkan pendidikan di Desa Pasir Kembang. Dengan adanya sekolah SD, dan SMP umum, masyarakat tidak terlalu khawatir akan anak-anak mereka yang kekurangan ilmu pengetahuan umum. Ketika lulus SMP pun, beberapa masyarakat juga masih menyekolahkan anak-anaknya di tingkat SMA/SMK.
Hal ini dilakukan agar masyarakat Desa Pasir Kembang juga dapat bekerja dengan layak, baik di dalam desa, ataupun di perKotaan. Terdapat salah satu contoh dari strategi ini, yaitu masyarakat Desa Pasir Kembang yang telah lulus SMP, di sekolahkan kembali oleh orangpemilikya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Keperawatan. Setelah lulus SMK, sang anak sempat bekerja di Kota, dan terlebih lagi ingin melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Berikut merupakan tabel kondisi penduduk berdasarkan pendidikan di Desa Pasir Kembang tahun 2016:
Tabel 10.1
Kondisi Penduduk Berdasarkan Pendidikan di Desa Pasir Kembang tahun 2016
Penduduk Umur
7—12 Sekolah L 212
P 209
Belum Sekolah L 188
P 185
13—15 Sekolah L 110
P 109
Belum Sekolah L 373
16—18 Sekolah L 30
P 40
109 | H a l a m a n Tidak Melanjutkan Sekolah L 50
P 59 19> Bisa Baca dan Tulis L 0
P 0 Tidak Bisa Baca dan Tulis L 0 P 0
JUMLAH 1575
Sumber: Monografi Desa (2016)
Dengan adanya data di atas, dapat diketahui bahwa minat dari masyarakat asli Desa Pasir Kembang untuk menempu pendidikan masih sedikit untuk usia di atas 13 tahun atau setara dengan SMP sampai dengan kuliah. Namun, pendidikan untuk usia di bawah 13 tahun yakni 7 sampai dengan 12 tahun atau setara dengan SD, sudah memiliki peminat akan kesadaran pendidikan yang cukup. Walaupun, masih banyak juga yang tidak bersekolah pada usia tersebut. Berikut merupakan tabel jumlah penduduk berdaasarkan pendidikan yang ditamatkan di Desa Pasir Kembang tahun 2016. Berdasarkan data yang didapatkan dari tabel di atas, penelitei mendapatkan kepastian bahwa lulusan atau tamatan untuk tingkat SD paling banyak dari jenjang lainnya. Kemudian untuk jenjang S1, masih sangat sedikit jumlah tamatannya.
Tabel 10.2
Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan yang Ditamatkan di Desa Pasir Kembang tahun 2016
Jenjang Pendidikan Jumlah
SD 421
SMP 219
SMA 48
D I 0
D II 1
D III 0
D IV 0
S1 6
S2 0
Sumber: Monografi Desa (2016)
Penutup
Adanya pembangunan di Kota Maja memberikan beberapa dampak bagi penduduk asli Kota Maja. Terdapat beberapa dampak dari pembangunan Kota Maja, baik dampak positif maupun negatif bagi pendidikan di Kota Maja.
Dengan adanya pembangunan, maka akan ada celah untuk bagi para pendatang untuk berkecimpung di dunia pendidikan masyarakat asli Kota Maja, namun dengan adanya pembangunan juga akan menimbulkan kelas sosial terlebih khusus dalam bidang pendidikan, dan adanya kelas sosial ini
110 | H a l a m a n akan menimbulkan konflik bagi para masyarakat asli dan pendatang.
Kemudian dampak lainnya ialah terkait keinginan masyarakat Desa Pasir Kembang itu sendiri untuk memiliki kesetaraan terutama dalam bidang pendidikan. Selain itu, dengan adanya pembangunan tersebut, tokoh pemerintahan di Desa Pasir Kembang yakni Kepala Desa memiliki upaya- upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan seperti misalnya membangun sekolah-sekolah baru. Hal tersebut dilakukan karena adanya kesadaran pendidikan yang semakin tinggi, dan menginginkan warganya tidak lagi disebut sebagai terbelakang. Kemudian, pembangunan ini juga memberikan kemudahan masyarakat asli Desa Pasir Kembang untuk menempuh perjalanan ke sekolah, terutama SMP dan SMA. Karena untuk sampai ke SMP dan SMA disana, jalan yang dilalui adalah akses jalan yang sudah dibenahi oleh pihak perusahaan pembangunan Citra Maja Raya. Sementara untuk akses jalan menuju SD, pesantren atau madrasah masih melalui jalan yang ada di Desa Pasir Kembang itu sendiri.
Penulis berharap, dengan adanya pembangunan Kota Maja ini, maka wilayah-wilayah asli Kota Maja tetap terjaga dengan baik, baik dalam segi pendidikan, ekonomi, maupun sosial. Interaksi yang terjalin pun kami harapkan tidak ada sekat bagi penduduk asli dan pendatang. Harapan terakhir, dengan adanya pembangunan ini, penulis berharap konflik yang terjadi bisa teratasi dengan baik, dan tidak menjadi konflik yang berkelanjutan.
111 | H a l a m a n