70 | H a l a m a n
Bab 7
71 | H a l a m a n diperoleh dari wawancara dan penelitian langsung ke Kota Maja, seperti para perangkat pemerintahan yang ada di Maja, dari Lurah, Camat, kepala Desa dan warga setempat. Referensi pendukung diambil dari data yang diberikan perangkat pemerintah dan sumber lain dari media elektronik seperti jurnal dan skripsi. Dengan demikian itu semua dapat mempertajam isi dari tulisan ini.
Tinjauan Teoritis
Layanan Kota yang secara konvensional dipahami sebagai barang konsumsi dan Kota yang disediakan umum saat ini diselenggarakan di bawah layanan pemerintah daerah dengan cara yang memungkinkan orang untuk berbelanja barang-barang konsumsi ini dengan memilih dengan kaki mereka. Penduduk metropolitan yang mampu melakukannya karenanya dapat menemukannya di tempat yang tinggi layanan Kota yang berkualitas sekaligus, sekaligus membatasi pajak yang mereka bayar untuk layanan ini dengan mengecualikan orang miskin tidak hanya dari Kota tapi juga karena memenuhi syarat untuk menggunakan layanan itu sendiri. Dalam artikel ini, Frug (1998) berpendapat bahwa konsepsi layanan Kota yang diprivatisasi ini telah menjadi bahan utama dalam mendorong divisi ini. Wilayah metropolitan Amerika ke lingkungan yang memiliki hak istimewa dan keinginan, sebuah divisi yang terlalu sering ditandai oleh garis ras, etnisitas, dan kelas. Dia menyerukan penggantian visi konsumen yang berorientasi pada layanan Kota dengan sebuah alternatif yang dirancang untuk mempromosikan apa yang dia sebut
"community building". Berfokus pada hasrat meluas untuk sekolah yang baik dan takut terhadap kejahatan yang meluas, dia mengusulkan bahwa layanan Kota menjadi terorganisir bukan sebagai sarana untuk memisahkan dan membagi populasi metropolitan namun sebagai mekanisme untuk memperluas kapasitas penduduk metropolitan untuk tinggal di tempat yang beragam. masyarakat. Dengan melakukan itu, katanya, melibatkan pembukaan sekolah negeri di seluruh wilayah hingga keragaman dan melakukan pencegahan, dan bukannya melarikan diri; strategi utama untuk menangani kejahatan.
Pada saat yang sama, Kota dapat terlibat dalam berbagai kegiatan sekarang terutama provinsi lain. Saat ini, vitalitas ekonomi suatu Kota sangat bergantung pada pribadi inisiatif dan pengambilan keputusan pemerintah nasional dan negara bagian dan bukan di Kota kebijakan. Kota tidak memberikan pekerjaan atau pelatihan kerja bagi pengangguran mereka, Membangun perumahan bagi mereka yang membutuhkannya, atau menyediakan makanan di daerah yang besar pribadi rantai belanjaan telah ditinggalkan. Juga trauma hidup keluarga sangat terpengaruh menurut kebijakan Kota Masalah keluarga yang tidak bisa diatasi oleh individu yang terkena berada di tangan organisasi atau pejabat sukarela (baik lokal, negara bagian, atau federal) yang menerapkan kebijakan pemerintah negara bagian atau nasional. Bahkan bentuk budaya seperti tim olah raga profesional - yang memberi warganya rasa pengabdian kepada wilayah metropolitan tempat
72 | H a l a m a n mereka tinggal dikendalikan oleh organisasi swasta. Akibatnya, Kota, yang didefinisikan sebagai aninstitusi atau entitas pemerintah (begitulah cara saya menggunakan istilah tersebut dalam kalimat sebelumnya), hanya memiliki dampak yang sangat terbatas pada kehidupan Kota yang didefinisikan sebagai suatu tempat. ( Frug: 1998)
Tabel 7.1
Jenis-jenis Kota Jasa Berdasarkan Tahapan Pemabangunannya
Sumber: World Economic Forum (2015)
Kota jasa itu terdiri dari beberapa jenis menurut tahapan pembangunannya, yaitu Kota yang Belum Sempurna, Kota Fungsional, Kota Terintegrasi, dan Kota yang Terukur. Kota jasa itu secara konvensional dipahami sebagai barang konsumsi dan Kota yang disediakan umum saat ini diselenggarakan di bawah layanan pemerintah daerah dengan cara yang memungkinkan orang untuk berbelanja barang-barang konsumsi ini dengan memilih sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Penduduk metropolitan yang mampu melakukannya karena dapat menemukannya di tempat yang tinggi layanan Kota yang berkualitas baik.
Deskripsi Lokasi
Dengan lokasinya yang tak jauh dari Stasiun Maja, membuatnya bisa diakses dengan mudah dari Jakarta via kereta komuter atau KRL. Naik mobil jalan darat (dari Maja ke Jakarta) 2-3 jam. Tapi dengan KRL pasti sampainya, ke Tanah Abang sejam setengah. Apalagi dengan KRL saat ini semakin nyaman, frekuensi perjalanannya juga semakin rapat. Setiap setengah jam sekali sekarang ada train bolak-balik Maja-Jakarta. Apalagi nanti akan dibangun double track sampai Merak. Kota Baru Maja merupakan bagian dari 10 Kota baru yang dikembangkan pemerintah hingga 2019 mendatang. Kawasan ini juga nantinya akan tersambung dengan jalan tol Serang-Balaraja yang saat ini sedang dimatangkan, serta jalan nasional ruas Rangkasbitung-Pamulang.
Rencananya pemerintah akan membuat jalan negara dari Pamulang sampai Rangkasbitung. Trasenya sudah ada, dan akan diwujudkan. Kota Baru Maja
Belum
Sempurna Fungsional Terintegrasi Terukur Layanan
perKotaan
Kebutuhan kelangsungan hidup dasar terpenuhi dalam hal air, limbah &
sanitasi, dan tempat tinggal
Kebutuhan tenaga, transportasi, kesehatan dan
pendidikan terpenuhi
Infrastruktur terukur untuk kualitas hidup, ruang hijau, budaya
& perawatan lansia
transit massal, pendidikan lanjutan, dan lain- lain untuk daya saing ekonomi
73 | H a l a m a n digagas pemerintah satu dari 10 Kota baru di Indonesia. Dan lokasinya persis dengan KRL dengan konsep TOD. Rata-rata pembeli kita banyak dari daerah Serpong, Tangerang, dan Jakarta. Karena dengan KRL terhubung langsung ke Tanah Abang satu jam setengah.
Gambar 7.1
Peta lokasi dari stasiun Tanah Abang ke Kota Baru Maja
Sumber : Dokumentasi Goegle (2015)
Perjalanan dari Jakarta ke Maja hanya membutuhan waktu 1 setengah jam menggunakan KRL yang langsung dari stasiun Tanah Abang. Dari stasiun maja memang tidak terlalu banyak kendaraan umum, itu hanya ada ojek konvensional, sedangkan angkot tidak diperbolehkan beroperasi di sekitaran stasiun Maja.
Perkembangan Maja menjadi Kota Berbasis Jasa
Perkembangan Maja menjadi Kota berbasis jasa diperkirakan 5 atau 10 tahun kedepan setelah Maja selesai dibangun menjadi Kota yang disertai dengan infrastruktur serta sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai. Maja berpontensi menjadi Kota yang berbasis Jasa dan Industri Manufaktur. Jasa disini itu dalam bidang supir kendaraan umum seperti busway, ojek, satpam dan bidang jasa lainnya. Warga yang dulunya bekerja sebagai petani karena lahan pertanian mereka sudah digantikan dengan pembangunan perumahan akan berubah pekerjaan menjadi bekerja dalam bidang jasa. Ada juga dari mereka yang buka warung kecil-kecilan untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. (Mirna Amin MT. 2010)
Saat ini warga sangat merasa pendapatan ekonomi mereka sangat menurun.
Mereka sangat merasakan dampak dari pembanguna Kota baru Maja tersebut. Banyak dari mereka yang kehilangan tempat tinggal dan sumber mata pencharian mereka. Karena ada dari mereka yang di bayar untuk ganti rugi penggususran dan ada juga yang tidak mendapatkan sema sekali. Jika dilihat dari penjelasan World Economic Forum (2015) pada tabel 1 jenis Kota Jasa berdasarkan tahapan pembangunannya, Kota Baru Maja termasuk ke
74 | H a l a m a n dalam jenis Kota yang belum sempurna. Hal itu terlihat dari pembangunan Kota Baru Maja yang masih belum semuanya, pada saat ini hanya kebutuhan kelangsungan hidup dasar saja yang baru terpenuhi dalam hal air, limbah &
sanitasi, dan tempat tinggal. Tetapi dalam kebutuhan tenaga, transportasi, kesehatan dan pendidikan itu masih belum terpenuhi. Transportasi ke Maja itu hanya bisa dengan kendaraan pribadi, kendaraan umum jarang sekali yang bisa masuk ke sana.
Skema 7.1
Perkembangan Kota Baru Maja Berdasarkan Tahap Pembangunannya
Sumber: Hasil Analisis 2017
Tantangan yang Dihadapi Maja sebagai Kota Jasa
Modal merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam pengembangan sebuah Kota. Modal merupakan kekayaan yang dapat digunakan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam produksi untuk menambah output.
Dilihat dari fungsinya dalam pembangunan ekonomi, modal mempunyai dua fungsi pokok yaitu: sebagai alat pendorong perkembangan ekonomi, dan sebagai sumber-sumber untuk menaikkan tenaga produksi. Modal di negara- negara berkembang pada umumnya relatif jarang. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor. Namun salah satu faktor yang dominan yang menyebabkan langkanya jumlah modal yaitu adanya lingkaran perangkap kemiskinan.
Dilihat dari segi modal, Maja mungkin belum memiliki modal yang cukup untuk berkembng menjadi Kota berbasis jasa. Tetapi dalam hal sarana dan prasaran, Maja sudah mulai membangun infrastruktur yang bisa mendukung Maja berkembang mejadi Kota berbasi jasa, misalnya saja seperti jalan.
Walaupun jalan yang sedang dibangun Maja baru jalan yang terbuat dari semen belum aspal, tapi itu sudah bisa mempermudah akses menuju ke Maja. Skill merupakan pengembangan pengetahuan yang didapatkan melalui training dan pengalaman dengan melaksanakan beberapa tugas. Skill juga merupakan hal yang penting dalam perkembangan Kota jasa. Skill secara garis besar terbagi 4, yaitu : (1)Basic Literacy Skill: Keahlian dasar yang sudah pasti harus dimiliki oleh setiap orang seperti membaca, menulis, berhitung serta mendengarkan(2)Technical Skill: Keahlian secara teknis yang didapat melalui pembelajaran dalam bidang teknik seperti mengoperasikan
Kota Baru Maja
Kota Berbasis Jasa (City
Services)
Belum Sempurna (Berdasarkan Tahap
Pembangunannya)
75 | H a l a m a n komputer dan alat digital lainnya. (3) Interpersonal Skill: Keahlian setiap orang dalam melakukan komunikasi satu sama lain seperti mendengarkan seseorang, memberi pendapat dan bekerja secara tim. (4) Problem Solving:
Keahlian seseorang dalam memecahkan masalah dengan menggunakan loginya.
Dilihat dari segi skill untuk menjadi Kota berbasis Jasa, masyarakat Maja masih kurang akan hal tersebut. Hal itu dikarenakan tingkat pendidikan yang mereka dapatkan sangat rendah. Banyak dari masyaralat Maja yang sekolah hanya sampai jenjang SD/SMP saja, karena di Maja tidak ada sekolah tingkat lanjut atau SMA. Jika mereka ingin sekolah maka mereka harus pergi keluar dari Maja untuk mendapatkan pendidiakan yang layak. Dari sini dapat dilihat bahwa, masyarakat Maja harus bersaing dengan pendatang yang akan mendiami Maja bebrapa tahun kedepan. Karena tingkat pendidikan mereka yang rendah maka mereka kurang memiliki skill yang seharusnya mereka miliki dalam menuju Kota berbasis Jasa. Kebanyakan dari mereka hanya memiliki skill sebagai petani, tukang ojek, dan berjualan kecil-kecilan. Inilah salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat Maja untuk dapat bersaing dengan penduduk non lokal yang akan mendiami Maja beberapa tahun kedepan.
Lahan merupakan suatu aspek yang harus dimiliki untuk bisa berkembang menjadi sebuah Kota yang berkembang dalam bidang Jasa. Lahan merupakan suatu lingkungan fisik yang mencakup iklim, relief, tanah, hidrologi, dan tumbuhan yang sampai pada batas tertentu akan mempengaruhi kemampuan penggunaan lahan. (Purwowidodo : 1983) Ketersediaan lahan yang ada di Maja, atau kesiapan lahan untuk digunakan manusia sebagai tempat beraktifitas itu bisa dikatakan cukup luas. Masih banyak lahan yang ada di Maja yang belum disentuh oleh pemangunan seperti rumah. Tapi beberapa tahun kedepan Maja mungkin akan kekurangan lahan kosong karena kebutuhan masayarakat yang terus meningkat dan ketersediaan lahan yang semakin berkurang.
Skema 7.2
Kebutuhan Lahan di PerKotaan
Sumber: Hasil Analisis (2017) Pertumbuhan Penduduk
Meningkat
Kebutuhan akan lahan terus meningkat
Ketersedian lahan perKotaan
terbatas
76 | H a l a m a n Penutup
Perkembangan Maja menjadi Kota berbasis jasa akan tejadi 5-10 tahun kedepan. Tapi ada dua hal yang menjadi tantangan bagi penduduk Maja dalam mencapai nama Kota jasa tersebut. Yang pertama dari segi jumlah menara telekomunkasi yang sangat terbatas di Maja yang menjadi salah satu syarat sebuah Kota bisa dikatakan Kota Jasa. Dengan diiringi kemajuan teknologi yang bisa mendukung Kota maja menjadi Kota jasa. Yang kedua yaitu rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Maja yang relatif rendah.
Banyak dari mereka hanya sekolah sampai jenjang SMP bahkan hanya sampai SD saja. Itulah yang menjadi hambatan bagi maja untuk berkembang menjadi Kota jasa.
Modal merupakan kekayaan yang dapat digunakan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam produksi untuk menambah output. Dilihat dari fungsinya dalam pembangunan ekonomi, modal mempunyai dua fungsi pokok yaitu: sebagai alat pendorong perkembangan ekonomi, dan sebagai sumber-sumber untuk menaikkan tenaga produksi. Modal di negara-negara berkembang pada umumnya relatif jarang. Dilihat dari segi modal, Maja mungkin belum memiliki modal yang cukup untuk berkembng menjadi Kota berbasis jasa. Tetapi dalam hal sarana dan prasaran, Maja sudah mulai membangun infrastruktur yang bisa mendukung Maja berkembang mejadi Kota berbasi jasa, misalnya saja seperti jalan.
Dilihat dari segi skill untuk menjadi Kota berbasis Jasa, masyarakat Maja masih kurang akan hal tersebut. Hal itu dikarenakan tingkat pendidikan yang mereka dapatkan sangat rendah. Banyak dari masyaralat Maja yang sekolah hanya sampai jenjang SD/SMP saja, karena di Maja tidak ada sekolah tingkat lanjut atau SMA. Jika mereka ingin sekolah maka mereka harus pergi keluar dari Maja untuk mendapatkan pendidiakan yang layak. Ketersediaan lahan yang ada di Maja, atau kesiapan lahan untuk digunakan manusia sebagai tempat beraktifitas itu bisa dikatakan cukup luas. Masih banyak lahan yang ada di Maja yang belum disentuh oleh pembangunan seperti rumah. Tapi beberapa tahun kedepan Maja mungkin akan kekurangan lahan kosong akrena kebutuhan masayarakat yang terus meningkat dan ketersediaan lahan yang semakin berkurang.
77 | H a l a m a n Skema 7.3
Perkembangan Maja menjadi Kota Jasa
Sumber: Hasil Analisis (2017)
78 | H a l a m a n
Bab 8
Real Estate Kota Maja sebagai Dinamika Ruang Pemukiman
Pendahuluan
Dalam penulisan penelitian ini bertujuan untuk mengkaji serta menganalisis permasalahan housing dan perubahan ruang yang terjadi di Kota Baru Maja.
Housing merupakan gagasan tentang perumahan sebagai barang sosial yang menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memenuhi kebutuhan primer semua kalangan masyarakat. Pembangunan pemukiman memerlukan adanya lahan yang memadai untuk dapat mengakomodir ledakan penduduk di perKotaan, khususnya di Daerah Khusus IbuKota Jakarta yang memiliki keterbatasan lahan. Sehingga munculah gagasan pembangunan Kota Maja Baru sebagai buffer area (daerah penopang) Kota Jakarta seperti Kota-Kota penyangga lainnya.
Isu housing pada penelitian ini berkaitan dengan perkembangan ruang di Kota Maja. Bagi sebuah lingkungan perKotaan, Menurut Sastra dan Marlina (2006:
29) kehadiran lingkungan perumahan sangatlah penting dan bagian terbesar pembentuk struktur ruang perKotaan adalah lingkungan pemukiman. dengan demikian pembangunan perumahan akan memicu pembangunan pada sektor lainnya. Seperti sarana dan prasana, ruang publik dan jaringan. Oleh karena itu perencanaan sebuah perumahan memegang peranan yang sangat penting dalam pengendalian laju pembangunan agar berdampak positif dan berkesinambungan (Sastra dan Marlina, 2006: 29)
Perumahan merupakan kebutuhan dasar disamping pangan dan sandang.
Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan akan perumahan yang meningkat bersamaan dengan pertambahan penduduk diperlukan penanganan dengan perencanaan yang seksama disertai keikutsertaan dana dan daya yang ada di dalam masyrakat. Menurut Blaang (1986 : 4) kebutuhan akan rumah sebagai tempat tinggal atau hunian, baik di perKotaan maupun di pedesaan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Pada dasarnya, pemenuhan kebutuhan akan rumah sebagai tempat tinggal atau hunian merupakan tanggung jawab masyarakat itu sendiri, namun demikian pemerintah pusat, pemerintah daerah dan perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang pembangunan perumahan didorong untuk dapat membantu masyarkat dalam pemenuhan kebutuhan akan rumah sebagai tempat tinggal atau hunian.
Perumahan dan pemukiman menjadi salah satu kunci di dalam membentuk ruang sosial, ruang disini dapat diartikan sebagai bentuk dari adanya ruang fisik dan non fisik dari sebuah pemukiman yang ada di masyarakat.
79 | H a l a m a n Pembangunan perumahan di Kota Baru Maja diharapkan tidak hanya menciptakan ruang fisiknya saja seperti (sarana dan prasarana umum, jalan raya, taman, balai Kota dan lain-lain) tetapi diikuti dengan ruang non fisiknya yaitu dengan terciptanya suatu suasana yang damai, saling bertoleransi, berinteraksi antara masyarakat pendatang dengan masyarakat setempat.
Sistematika Penulisan
Secara garis besar tulisan ini terbagi menjadi beberapa bagian. Pertama, latar belakang penulisan yang dapat memberi gambaran umum dari keseluruhan isi tulisan serta hal-hal menarik yang dapat diangkat dengan tema housing.
Kedua, terdapat tinjauan teoritik yang akan kami angkat untuk menganalisis hasil temuan di lapangan. Ketiga, sekilas tentang wilayah pembangunan Kota baru Maja untuk mendeskripsikan secara umum mengenai lokasi dan kondisi Kota Maja. Keempat, membahas Kota Baru Maja dan masalah housing kawasan penyangga Kota Jakarta. Bagian kelima akan mengulas perubahan ruang pasca pembangunan di kawasan real estate Citra Baru Maja. Dan di bagian terakhir sebagai penutup akan dijelaskan mengenai kesimpulan dari keseluruhan isi yang disajikan dalam tulisan ini beserta analisis. Data-data dalam tulisan ini didapat dengan melakukan wawancara langsung kepada narasumber terkait, seperti Kepala Desa di wilayah Pasir Kembang dan Curug Badak, serta tokoh masyarakat. Selain itu data sekunder sebagai data pendukung penelitian ini diambil dari berbagai sumber media elektronik seperti artikel yang dimuat diberbagai situs internet, foto-foto dokumen pribadi, serta buku bacaan. Dengan demikian data tersebut lebih mempertajam analisa dalam pembuatan tulisan ini.
Tinjauan Teoritik
Real estate merupakan tanah dan seluruh pengembangan diatasnya maupun pada tanah tersebut. Di mana pengembangan diatasnya dapat berupa pembangunan jalan,tanah terbuka (misalnya pembukaan hutan) dan selokan,dengan demikian real estate dapat diartikan sebagai tanah dan semua pengembangan lainnya yang melekat terhadap tanah tersebut. (Sirota 2006:1)
Housing Issues atau isu-isu mengenai perumahan sekarang sudah diakui sebagai hak asasi manusia. Hal ini merupakan hak, yang tidak berbeda dengan hak memilih atau mengapresiasikan diri secara bebas. Dengan demikian perumahan tidak dapat dipandang sebagai penggerak ekonomi dan suatu komoditas untuk investasi saja melainkan sebuah penggerak dinamika sosial dan barang sosial yang memiliki nilai-nilai berharga di dalamnya.
Gagasan tentang perumahan sebagai barang sosial menjadi tanggung jawab pemerintah. Menurut Lailani Farha, gagasan dalam pembangunan perumahan di Kawasan Kota Baru Maja, pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi masyarakat
80 | H a l a m a n salah satunya yaitu yang terpemilikg di dalam Pasal 28 H ayat (1) UUD negara RI Tahun 1945 yang menegaskan bahwa: “ Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak mendapatkan pelayanan kesehatan.”
di mana kebutuhan akan perumahan dan tempat tinggal menjadi salah satu hal yang utama dalam perencanaan pembangunan perumahan di Kota Baru Maja ini.
Ketika berbicara mengenai housing tentu berkaitan erat dengan ruang yang terdapat di dalamnya. Pembangunan perumahan di Kota baru maja menimbulkan perubahan salah satunya yaitu dari aspek ruang. Menurut Lefebrve ruang adalah ruang sosial, dia selalu terkait dengan sebuah gejala sosial (Gottdiener & Hutchison, 2011:81).Dengan demikian ia mengungkapkan bahwa ruang bukan hanya sekadar berbentuk ruang fisik melainkan terdapat pula ruang sosial yang berdinamika di dalamnya.
Perubahan ruang fisik selalu diikuti dengan perkembangan ruang sosial.
Dapat ditinjau dari beberapa aspek baik aspek sosial masyarakat, pola interaksi, ekonomi, dan budaya. Seperti halnya representasi ruang, ruang abstrak adalah ruang menurut sudut pandang subjek abstrak seperti perencanaan Kota atau arsitek. Namun ruang abstrak tidak sekadar bersifat ideasional, sebenarnya ia menggantikan ruang historis (yang dibangun berdasarkan ruang absolut). Ruang abstrak ditandai oleh tidak adanya hal- hal yang diasosiasikan dengan ruang absolut (pohon, udara bersih, dan lainnya). Ia adalah ruang yang didominasi, dikendalikan, diduduki, otoriter (bahkan di dalamnya terjadi kebrutalan dan kekerasan) dan represif. (Ritzer, 2016: 330).
Dengan demikian pembangunan real estate sebagai isu housing maka tentu saja akan mempengaruhi perubahan serta perkembangan ruang di Kota Baru Maja. Real estate dapat dikatakan sebagai produk housing. Dengan dibangunnya real estate tentu akan meningkatkan eksistensi perumahan dan perkembangan ruang disana akan bergerak lebih progress. Dengan demikian perubahan ruang terjadi, baik ruang sosial dan ruang fisiknya. Ketika ruang fisik berkembang maka ruang sosial akan turut berkembang dan berubah sesuai poros perkembangan ruang fisiknya. Perubahan terebut akan terus berjalan sesuai dengan perkembangan ruang di Kota Baru Maja seiring pembangunan real estate disana.
Deskripsi Lokasi Kota Baru Maja
Kota Kekerabatan Maja dibentuk berdasarkan Kepmenpera No.
02/Kpts/M/1998 tanggal 28 Februari 1998 tentang pembentukan tim pembangunan perumahan dan permukiman skala besar kawasan Maja, Kota Maja dengan cakupan wilayah: Kecamatan Maja (Kabupaten Lebak), Kecamatan Tenjo (Kabupaten Bogor), Kecamatan Cisoka (Kabupaten Tangerang) sampai saat ini telah berjalan hampir 12 tahun, berbagai program
81 | H a l a m a n pemerintah pun telah direncanakan dan dilaksanakan di wilayah tersebut.
Kawasan Maja merupakan salah satu Kasiba yang memiliki keunikan tersendiri, karena terletak di tiga wilayah Kabupaten dan dua wilayah Provinsi, yaitu: Kabupaten Lebak (Provinsi Banten), Kabupaten Tangerang (Provinsi Banten), Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Barat). Secara detail kawasan siap bangun (kasiba) Maja terdiri atas empat Kecamatan yaitu: Kecamatan Cisoka dan Tigaraksa (Kabupaten Tangerang), Kecamatan Maja (Kabupaten Lebak), Kecamatan Tenjo (Kabupaten Bogor).
Sumber: Hasil Analisis (2017)
Gambar 8.1 Peta Lokasi Maja
Sumber : www.Citramaja.com KOTA JAKARTA
DKI
KOTA TANGGERANG
BANTEN KOTA BOGOR
JAWA BARAT KOTA LEBAK
BANTEN
KOTA MAJA
BANTEN Skema 8.1
Wilayah Yang Mengelilingi Kota Maja
Sumber : Hasil Analisis (2017)