Pendahuluan
Perkembangan Kota ternyata tidak selalu identik dengan kemajuan dan kemampuan Kota itu sendiri untuk menyediakan layanan dan kesempatan kerja yang memadai. Kota tumbuh dibawah kendali para perencana pembangunan yang pro kepada paradigma modernisasi semata-mata hanya mengejar kepentingan pertumbuhan ekonomi dan melayani kepentingan industrialisasi ternyata terbukti hanya melahirkan ketidakadilan, kekecewaan, dan proses marginalisasi masyarakat miskin. Perkembangan Kota agar tidak
“tumbuh tanpa perasaaan” dan mengalienasikan manusia, tak pelak yang dibutuhkan adalah kepekaan dan visi para perencana pembangunan yang lebih berpihak kepada masyarakat miskin. Tanpa didukung oleh visi yang pro pada ketimbangan kemanusiaan, keadilan dan menghargai hak asasi masyarakat miskin, niscaya perkembangan mega urban hanya akan menggali lubang kuburnya sendiri (Martono, 2012:46).
Marginalisasi ialah keadaan di mana menempatkan atau menggeser sebagian orang ke wilayah pinggiran karena tidak memiliki peluang yang sama dalam memperoleh berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial dan pendidikan. Marginalisasi juga merupakan suatu proses pengabaian hak- hak yang seharusnya didapat oleh pihak yang termarginalkan. Proses marginalisasi ini merupakan masalah serius yang terjadi di masyarakat lokal Maja. Marginalisasi yang terjadi di Maja ini merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji secara sosiologis. Proses marginalisasi ini terjadi di Maja, di mana Maja merupakan salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Indonesia. Kecamatan Maja memiliki luas kurang lebih 10.900 Ha dan juga terdapat 14 desa. Maja berada di perbatasan antara Kecamatan Tigakarsa, Kabupaten Tangerang dan Kecamatan Tenjo, Kabupaten bogor serta berbatasan dengan Kecamatan Kopo, Kabupaten serang. Selain itu memiliki jarak dari Jakarta kurang lebih 90 km dan dari Rangkasbitung yaitu 21 km.
Pembangunan perumahan Citra Maja yang dilakukan secara masif tersebut yang kemudian menimbulkan terjadinya proses marginalisasi masyarakat lokal di Kecamatan Maja. Dan hal inilah yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri oleh kami memilih tema dalam bidang ekonomi mengenai marginalisasi masyarakat lokal Maja yang haknya terabaikan dalam berbagai hal diantaranya dalam aspek perekonomian tidak lagi memiliki kesempatan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti sedia kala, karena lahan sebagai mata pencharian kini telah tergusur dengan adanya pembangunan tersebut serta pembebasan lahan yang tidak sesuai dengan kesepakatan
90 | H a l a m a n awal. Kini proses-proses pemiskinan masyarkat lokal Maja terjadi akibat tidak mampu bersaing dalam pemenuhan perekonomian.
Sistematika Penulisan
Secara garis besar tulisan ini terbagi menjadi beberapa bagian. Pertama, berisi latar belakang yang berisi gambaran umum mengenai isi keseluruhan tulisan. Dibagian ini pula dijelaskan alasan penulis memilih tema, dan juga apa yang menjadi daya tarik dari tema tersebut. Kedua, mengenai tinjauan teori yaitu menggunakan teori marginalisasi dalam mengkaji kasus di dalam mayarakat lokal Kota Maja. Ketiga, deskripsi lokasi mengenai beberapa alternatif akses menuju Maja Raya, selain itu sejarah pembangunan perumahan Citra Maja Raya. Keempat, metode yang digunakan dalam memperoleh data yaitu metode kualitatif berupa wawancara langsung dengan masyarakat lokal dan pihak kecamatan Maja. Ke5, Pembahasan mengenai proses terjadinya marginalisasi masyarakat lokal Maja mengenai latar belakang kehidupan masyarakat lokal, faktor-faktor penyebab terjadinya marginalisasi terhadap masyarakat lokal Maja, dampak yang dirasakan oleh masyarakat lokal Maja. Keenam, berisi upaya atau solusi untuk pemenuhan hak-hak masyarakat lokal Maja, dan yang terakhir kesimpulan dari penulisan ini.
Tinjauan Teoritis
Marginal memiliki arti posisi terpinggir atau berada di dekat batas. Penjelasan lain marginal memiliki arti rendahnya kemampuan dalam memperoleh sumber daya untuk bertahan hidup yang biasanya berada di daerah tepi area, dekat antara garis batas yang di huni dan daerah tak berpenghuni dan biasanya jauh dari daerah padat penduduk (Pelc, 2017:15). Marginalitas dari sudut pandang ini berasal dari keterpencilan fisik (rendahnya aksesibilitas terhadap layanan dan tempat kerja), kerapuhan ekologi, kepadatan populasi rendah, struktur etnis, memiliki ekonomi terbelakang, tidak tersedianya sumber daya atau ketidakmampuan untuk menggunakannya dan isolasi dari pengaruh politik (Pelc, 2017:18).
Aspek proses marginalitas mencakup jenis marginalitas yang berasal dari proses yang berbeda: aktivitas manusia yang disengaja. Berikut empat jenis prosesual marginalitas: kontingen, sistematik, agunan (jaminan) dan leveraged. Marginalisasi, yaitu bentuk pengucilan kelas bawah dari satu masyarakat karena mereka terpinggirkan dari arus utama ekonomi (Paddison, 2001:169). Pengertian lain menjelaskan bahwa marginalisasi memiliki faktor yang saling terkait seperti contohnya memiliki penghasilan rendah dikarenakan tidak memiliki kualifikasi yang cukup sehingga terpinggirkan.
Terkecuali mengalami diskriminasi atau tidak memiliki akses terhadap layanan dan fasilitas (Pelc, 2017:23).
91 | H a l a m a n Tabel 9.1
Jenis Prosesual Marginalitas
Kontingen Sistemik Agunan
(Jaminan)
Leveraged
Hasil dari persaingan pasar, di mana beberapa aktor tidak kompetitif dan
terpinggirkan.
Hasil dari hegemonik kekuatan sistem politik dan ekonomi yang menghasilkan ketidakadilan distribusi manfaat sosial, politik dan ekonomi.
Aset pihak peminjam yang dijanjikan kepada pemberi pinjaman, jika peminjam gagal bayar, pihak pemberi
pinjaman dapat memiliki agunan tersebut.
Tekanan angkatan kerja di negara maju karena
persaingan tenaga kerja dengan gaji rendah.
Sumber: Pelc, 2017:19
Deskripsi Lokasi
Maja merupakan salah satu Kecamatan di daerah Kabupaten Lebak, Banten yang berada di perbatasan antara Kecamatan Tigakarsa, Kabupaten Tangerang dan Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor serta berbatasan dengan Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang. Selain itu Maja memiliki jarak dari Jakarta kurang lebih 90 km dan dari Rangkasbitung yaitu 21 km. Untuk mengunjungi Maja telah terdapat beberapa akses alternatif untuk ke sana diantaranya Tol Jakarta Merak, keluar Balaraja Barat KM 37 Maja, Tol Citra Raya Tigaraksa Maja, Tol Cikande Maja ataupun Commuter Line Maja – Serpong – Tanah Abang Jakarta. Jika menggunakan transportasi Commuter Line dari Jakarta dapat ditempuh dari Stasiun Tanah Abang Jakarta - Stasiun Maja. Setelah sampai di Stasiun Maja hanya terdapat transportasi ojek untuk menuju Kecamatan Maja.
92 | H a l a m a n Gambar 9.1
Peta Akses menuju Maja
Sumber : www.rumahcitramaja.com
Kecamatan Maja terdiri dari 14 desa diantaranya desa Tanjungsari, Cilangkap, Pasir Kacapi, Sangiang, Maja Baru, Maja, Curug Badak, Pasirkembang, Gubugan Cibereum, Padasuka, Mekarsari, Buyut Mekar, Binong, dan Sindangmulya. Selain desa-desa yang berada di Kecamatan Maja terdapat juga pembangunan perumahan yang sedang masif dikerjakan yaitu Citra Maja Raya. Sejarah pembangunan perumahan Citra Maja Raya di awali pada tahun 1995, yang di pelopori oleh PT Armedian dan PT Ekuator dengan upaya pembebasan lahan-lahan di sekitar perumahan kecamatan Maja. Saat transaksi jual beli tanah pada saat itu, belum terdapat prosedur yang konkret seperti surat menyurat hanya dengan ucapan lisan bahwa penjualan tanah dari batas tertentu sampai batas tertentu. Saat itu, sebagian besar surat tanah berupa girik yaitu bukan dalam bentuk sertifikat. Hal ini yang kemudian menimbulkan konflik antara penduduk lokal Maja dengan pihak pengelola yang menaungi pembangunan perumahan Citra Maja Raya yaitu Ciputra Group. Selanjutnya, pembangunan perumahan ini sempat terhenti pada tahun 1998 dikarenakan terjadinya krisis moneter, pembangunanan ini sempat terbengkalai karena tidak ada yang meneruskan dan hanya berupa puing-puing bangunan. Pembangunan ini dilanjutkan pada tahun 2005 dengan adanya perubahan PT pengelola yaitu PT. Fist Stan dan dengan perubahan PT pengelola pembangunan ini terjadilah izin perpanjangan pembangunan perumahan Citra Maja Raya sampai dengan tahun 2034.
Analisis dampak lingkungan pada masa pembangunan awal sejak tahun 1995 kurang menjalankan fungsinya dengan baik hingga saaat ini. Hal tersebut menimbulkan dampak-dampak kerusakan lingkungan yang sekarang dirasakan oleh masyarakat sekitar Kecamatan Maja.
93 | H a l a m a n Gambar 9.2
Perumahan Citra Maja Raya
Sumber : Data Pribadi (2017)
Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif, yaitu data berupa teks dan gambar, memiliki langkah-langkah unik dalam analisis datanya, dan bersumber dari strategi penelitian yang berbeda-beda (Creswell, 2014:245).
Penelitian dilakukan pada bulan November 2017. Sasaran penelitian adalah masyarakat lokal Kota Maja. Sumber data penelitian terdiri dari dua, diantaranya data primer, data yang diperoleh langsung dari narasumber dengan mengajukan pertanyaan melalui wawancara yang mendasar dan mendalam. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari berbagai catatan, dokumentasi, data-data yang ada di lokasi penelitian yaitu dari kecamatan maja dan dari masyarakat lokal desa Pasirkembang dan Curug Badak.
Proses Terbentuknya Marginalisasi Masyarakat Lokal Maja Struktur sosial masyarakat Kecamatan Maja pada awalnya menerapkan struktur sosial yang bersifat homogen dalam bidang mata pencaharian. Hal ini sesuai dengan data yang kami dapatkan dari salah satu narasumber yaitu kepala desa Curug Badak Akhmad Sulaeman:
“Sebelum adanya pembangunan perumahan yang dipelopori oleh PT. Armedian dan PT. Equator, mata pencaharian masyarakat di kecamatan Maja mayoritas sebagai petani”
Namun semenjak tahun 1995 saat mulai pembebasan lahan dan pembangunan perumahan oleh PT tersebut menyebabkan struktur masyarakat Maja mulai bergeser yang awalnya bertani menjadi berbagai
94 | H a l a m a n macam mata pencaharian seperti tukang tambal ban, pembuat makanan rumahan dan buruh serabutan.
Struktur sosial apabila ditinjau dari ketidaksamaan sosial yaitu diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial. Diferensiasi adalah perbedaan individu atau kelompok dalam suatu masyarakat yang tidak menunjukan adanya perbedaan (hierarki), sedangkan stratifikasi yaitu suatu tingkatan dalam masyarakat. Kehidupan masyarakat Kecamatan Maja semenjak adanya pembangunan perumahan Citra Maja Raya terciptanya pola stratifikasi antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang yang beranggapan di kecamatan Maja atau saat ini disebut Kota Baru Maja terdapat stratifikasi atau tingkatan. Hal tersebut ditandai bahwa masyarakat lokal memiliki tingkatan yang lebih rendah dibandingkan dengan masyarkat pendatang.
Tabel 9.2
Heterogenitas Mata Pencaharian Masyarakat Lokal Maja
Sumber: Data Kecamatan Maja
Selanjutnya perkembangan Kota ternyata tidak lantas identik dengan kemajuan dan kemampuan Kota itu sendiri untuk menyediakan layanan dan kesempatan kerja yang memadai. Kota tumbuh dibawah kendali para perencana pembangunan yang pro kepada paradigma modernisasi semata- mata hanya mengejar kepentingan pertumbuhan ekonomi dan melayani
Nama Desa Mata
Pencaharian
Mata Pencaharian
Mata Pencaharian
Tanjungsari 0 0 0
Cilangkap Pertanian Kerajinan
anyaman Kerajinan makanan Pasir Kacapi Lengkoas Singkong Rambutan
Sangiang Lengkoas Singkong Rambutan
Maja Baru Perdagangan Pertanian Home Industri Maja Perdagangan Pertanian Home Industri Curug Badak Pertanian Perkebunan Kerajinan
makanan Pasirkembang Opak
singkong/enye- enye
Pertanian padi -
Gubugan Cibereum Pertanian Peternakan Perdagangan
Padasuka 0 0 0
Mekarsari Lengkoas Rambutan Singkong
Buyut Mekar Kerajinan
anyaman Pasir Batu Bata
Binong Opak Batu Bata Karet
Sindangmulya Pertanian -
95 | H a l a m a n kepentingan industrialisasi ternyata terbukti hanya melahirkan ketidakadilan, kekecewaan, dan proses marginalisasi masyarakat miskin. Perkembangan mega urban agar tidak “tumbuh tanpa perasaaan” dan mengalienasikan manusia, tak pelak yang dibutuhkan adalah kepekaan dan visi para perencana pembangunan yang lebih berpihak kepada masyarakat miskin.
Tanpa didukung oleh visi yang pro pada ketimbangan kemanusiaan, keadilan dan menghargai hak asasi masyarakat miskin, niscaya perkembangan mega urban hanya akan menggali lubang kuburnya sendiri (Martono, 2012:46).
Mengutip dari penjelasan yang dipaparkan oleh Kepala Desa Pasir Kembang yaitu Agus Saepudin:
“Jika membangun hanya sekadar membuat infrasturuktur, rumah, dan fasilitas lain tanpa memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat lokal sekitar tidak akan terbentuk sebuah Kota yang diidamkan”.
Sindiran keras bagi para pejabat pemerintahan yang dikemukan oleh salah satu kepala desa di Kecamatan Maja ini, proses terjadinya marginalisasi di awali dengan proses pembebasan lahan yang berawal pada tahun 1995 masyarakat lokal setempat menjual lahan yang menjadi mata pencaharian sehari-hari kepada PT. Armedian dan PT. Ekuator, proses pembebasan lahan yang tidak sesuai dengan perjanjian awal kemudian merugikan masyarakat lokal daerah Maja. Lahan yang seharusnya tidak di jual namun ikut terjual dengan dalih tidak terdapatnya surat-menyurat yang jelas dalam proses jual beli tanah tersebut. Hal ini kemudian membuat masyarakat lokal Maja kehilangan mata pencahariannya yaitu sebagai petani, ladang mereka tergusur mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti yang kami kutip dari salah satu informan masyarakat lokal Maja yaitu Muhammad Hasni:
“Dulu saya makan tinggal metik dikebun sekarang mah saya harus beli dulu beras beli, cabe beli, sayur beli semua serba beli”.
Disinilah proses marginalisasi terbentuk di mana masyarakat lokal menjadi terpinggirkan dalam hal pemenuhan kebutuhan, mereka tidak lagi memiliki akses harus mencari pekerjaan lain untuk dapat terus bertahan hidup. Mereka bekerja serabutan sebagai tukang parkir, tukang tambal ban, dan wanita bekerja sebagai pembuat kerupuk emping. Struktur masyarakat lokal Maja yang pada awalnya Homogen dalam bidang mata pencaharian dengan adanya pembangunan ini menjadi berubah, struktur masyarakat lokal Maja perlahan-lahan berubah terbentuk pola staritfikasi antara masyarakat pendatang dan masyarakat lokal Maja. Pembangunan perumahan Citra Maja Raya sebagai upaya memajukan daerahnya dengan membangun perumahan-perumahan sebagai pusat investasi dan bisnis nyatanya menimbulkan masalah baru, timbul pertanyaan Mengapa masyarakat lokal
96 | H a l a m a n tidak bergabung dalam proyek pembanguan perumahan Citra Maja Raya?
Mengutip penjelasan dari informan kami selanjutnya yaitu Jaka:
“Ya neng, mau sebenernya kerja disitu tapi kasus kemarin tetangga saya kerja disitu sebagai tukang bangunan gak dibayar selama berminggu-minggu, saya takut. Lagi juga kebanyakan yang kerja disitu orang luar daerah sini, katanya lebih bagus kerjanya”.
Fakta baru yang timbul dari pembangunan Citra Maja Raya bahwa masyarkat luar lebih diutamakan dalam bergabung untuk melakukan proyek pembangunan perumahan tersebut. Hal ini lagi-lagi membuat masyarakat lokal termarginalkan dari daerahnya sendiri. Bahkan stakeholder daerah desa tersebut mengungkapkan bahwa mereka penduduk setempat tidak memiliki akses jalan untuk ke perumahan Citra Maja Raya, karena dibangun tembok pembatas antara perumahan dan desa, sehingga jika ingin keluar desa harus memutar telebih dahuli, berikut kutipan dari Sa5n:
“Saya kalau mau ke Citeras harus muter dulu soalnya jalannya di blok”.
Skema 9.1
Proses Terjadinya Marginalisasi Masyarakat Lokal Maja
Sumber: Temuan Lapangan (2017)
Hal ini lagi-lagi yang membuat masyarakat lokal Maja terpinggirkan dalam akses infrastruktur jalan umumnya, sebuah kelompok dominan memaksakan pola tersebut pada minoritas (Schaefer, 2012:289). Penjabaran diatas merupakan fakta-fakta yang menyebabkan masyarakat lokal termarginalkan dalam aspek-aspek kehidupan di Maja.
97 | H a l a m a n Dampak Pembangunan Perumahan Citra Maja Baru
Terdapat faktor yang menjadi penyebab terjadinya Marginalisasi masyarakat lokal Maja sehingga mulai bermunculan dampak akibat pembangunan perumahan di Kota Baru Maja yaitu, adanya pembebasan lahan pada tahun1995 oleh PT. Armedian dan PT. Equator, kemiskinan yang terjadi pada masyarakat lokal dan juga daya saing yang dimiliki masyarakat lokal lebih rendah dari masyarakat pendatang. Selanjutnya terdapat dampak yang ditimbulkan dari beberapa faktor diatas yaitu pertama, kami akan mamaparkan dampak dari aspek ekonomi terhadap pembangunan perumahan Citra Maja Raya yaitu terjadinya ketimpangan penghasilan antara masyarakat lokal dan masyarakat pendatang, masyarakat lokal seperti yang telah disinggung masyarakat lokal kehilangan mata pencahariannya karena lahan persawahannya tergusur dan bahkan rumah-rumah masyarakat lokal setempat ikut tergusur. Namun, disisi lain dilihat dari segi ekonomi dengan pembangunan perumahan Citra Maja Raya ini mendapatkan keuntungan bagi pemerintah daerah diantaranya sebagai objek pajak daerah sehingga dapat meningkatkan APBD Banten. Selain itu tersedianya fasilitas umum yang memadai.
Kedua, dampak yang ditimbulkan dilihat dari aspek gaya hidup, dengan pembangunan ini terjadinya perubahan gaya hidup masyarakat lokal di antaranya terlihat dari pola pergaulan remaja yang menjadikan jalan-jalan umum disekitar perumahan Citra Maja Raya sebagai tempat ‘tongkrongan’
dan sebagai tempat hiburan. Dahulu yang pemuda desa tempat
‘tongkronganya’ adalah ladang dan hiburannya hanya sekadar dari televisi sekarang telah berubah. Selain itu, penggunaan style busana dan tampilan juga berubah contohnya seperti hair coloring. Ketiga, adalah meningkatnya kriminalitas dan pola pergaulan remaja yang menyimpang. Karena persaingan yang semakin terasa antara kelompok masyarakat pendatang dan kelompok masyarakat lokal dalam hal pemenuhan kebutuhan, menyebabkan kemungkinan untuk melakukan segala cara untuk pemenuhan tersebut memiliki peluang yang besar. Sehingga kriminalitas yang terjadi di daerah kecamatan Maja meningkat. Pola pergaulan remaja yang menyimpang meningkat karena berubahnya jenis tongkrongan dari semulanya ladang kini dijalan sekitar perumahan Citra Maja Raya. Keempat, dari segi lingkungan dengan pembangunan perumahan Citra Maja raya ini menyebabkan kondisi lingkungan menjadi tidak baik, seperti udara yang semakin gersang karena penebangan pohon secara masif, polusi udara, serta kesulitan untuk mendapatkan air bersih.
98 | H a l a m a n Skema 9.2
Dampak Marginalisasi Masyarakat Lokal Maja
Sumber: Temuan Lapangan (2017)
Solusi Terjadinya Marginalisasi Masyarakat Lokal
Saat ini kemiskinan yang terjadi pada masyarakat lokal Maja sangat signifikan, ditandai dengan penghasilan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, mengingat saat ini kebanyakan dari mereka memiliki mata pencaharian serabutan. Namun pemerintah setempat tidak tinggal diam begitu saja, sudah terdapat beberapa program banpemilik agar mereka mendapatkan pekerjaan yang penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti yang dipaparkan oleh Kepala Desa Curug Badak Agus Saepudin (45), bahwa pemerintah setempat sudah mengadakan pengembangan keterampilan bagi masyarakat lokal Maja, dan juga pihak kecamatan sering mengumumkan adanya lowongan pekerjaan dan membantu agar masyarakat lokal Maja dapat masuk dan bekerja pada pekerjaan tersebut.
Selain solusi mengenai kehilangan mata pencaharian yang berdampak pada kemiskinan yang dialami masyarakat lokal Maja terdapat juga solusi untuk menangani pencemaran udara yang ditimbulkan dari pembangunan perumahan Citra Maja Raya terhadap lingkungan sekitar di Kecamatan Maja yaitu, Pemerintah setempat lebih tegas atas peraturan pembangunan perumahan yang lebih menekankan kepada Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Penutup
Proses terbentuknya marginalisasi masyarakat lokal Maja ditandai dari proses pembebasan lahan yaitu pada tahun 1995 oleh PT. Armedian dan PT.
Ekuator. Dalam proses pembebasan lahan tidaklah berjalan dengan lancar
99 | H a l a m a n karena pada saat itu pihak dari perusahaan tersebut membeli lahan dari masyarakat lokal tidak sesuai perjanjian misalnya, di awal mereka sepakat melakukan pembebasan lahan hanya 5 meter namun saat pelaksanaannya pihak perusahaan melakukan pembebasan lahan lebih dari 5 meter dan tidak diketahui oleh masyarakat atau warga yang memiliki lahan tersebut.
Selanjutnya terdapat akibat atau dampak dari adanya proses diatas, ditandai dengan adanya pembebasan lahan yang menjadi dampak bagi mata pencaharian masyarakat lokal Maja, dengan berkurangnya lahan pertanian, perkebunan, dan sebagainya menyebabkan penghasilan masyarakat lokal menjadi tidak seperti biasanya bahkan sangat kurang dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, selain itu terdapat pula ketimpangan antara masyarakat lokal dan masyarakat pendatang dari segi penghasilan. Selain dilihat dampak bagi masyarakat lokal Maja itu sendiri dari adanya pembangunan perumahan menyebabkan pencemaran udara di Kecamatan Maja. Namun dari beberapa dampak negatif diatas terdapat juga dampak positif bagi perkembangan Kecamatan Maja, yaitu dari adanya pembangunan perumahan dapat meningkatkan pendapatan pajak daerah sehingga meningkatnya APBD Banten.
Skema 9.3
Marginalisasi Masyarakat Lokal di Maja
Dapat disimpulkan kembali bahwa faktor atau penyebab yang paling besar bagi proses terjadinya marginalisasi masyarakat lokal Maja yaitu adanya pembebasan lahan secara besar-besaran yang menyebabkan masyarakat lokal menjadi kehilangan mata pencahariannya dan berpengaruh terhadap penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini menjadi sangat kontras ketika penghasilan yang didapatkan oleh masyarakat lokal berbanding terbalik dengan masyarakat pendatang, dan juga Kecamatan Maja yang awalnya asri banyak pohon-pohon dan sawah menjadi sangat
100 | H a l a m a n gersang akibat adanya pembangunan perumahan tersebut. Namun dibalik pembangunan perumahan tersebut tidaklah selamanya negatif ada hal positif yang menjadi dampaknya yaitu dapat menambah pajak daerah dan nantinya menambah pula pendapatan daerah Banten.
101 | H a l a m a n