BAB III
PAPARAN DATA
„Azis ibn Abd al-Fatih ibn Maulana Ishaq (dari Raden Ainul Yaqin, yang disebut Sunan Giri.75
Ayahnya KH. Hasyim Asy‟ari adalah pendiri pesantren Keras di Jombang, sementara kakeknya, Kiai Usman adalah kiai terkenal dan pendiri pesantren Gedang yang didirikan pada akhir abad ke-19. Selain itu, moyangnya, Kiai Sihah, adalah pendiri pesantren Tambak beras, Jombang. Wajar saja apabila KH. Hasyim Asy‟ari menyerap lingkungan agama dari lingkungan pesantren keluarganya dan mendapatkan ilmu pengetahuan agama Islam. Ayah KH. Hasyim Asy‟ari sebelumnya merupakan santri terpandai di pesantren Usman. Ilmu akhlaknya sangat mengagumkan sang Kiai sehingga ia dikawinkan dengan anaknya Halimah (perkawinan merupakan hal yang biasa dilakukan di pesantren untuk menjalin ikatan antar Kiai). Ibu KH. Hasyim Asy‟ari merupakan anak pertama dari tiga saudara laki-laki dan dua perempuan:
Muhammad, Leler, Fadil dan Nyonya Arif. Ayah KH. Hasyim Asy‟ari berasal dari tingkir dan keturunan Abdul Wahid dari Tingkir. Dipercayai bahwa mereka adalah keturunan raja Muslim Jawa, Jaka Tingkir dan raja Hindu Majapahit, Brawijaya VI. Jadi, KH. Hasyim Asy‟ari juga dipercayai merupakan keturunan dari keluarga bangsawan.
75 Suwendi, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), 135-136.
KH. Hasyim Asy‟ari adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara, yaitu Nafi‟ah, Ahmad, Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Sampai umur lima tahun, beliau dalam asuhan orang tua dan kakeknya di pesantren Gedang di pesantren ini, para santri mengamalkan ajaran agama Islam dan belajar berbagai cabang ilmu agama Islam. Suasana ini tidak diragukan lagi memengaruhi karakter KH. Hasyim Asy‟ari yang sederhana dan rajin belajar. Pada tahun 1876, ketika KH. Hasyim Asy‟ari berumur enam tahun, ayahnya mendirikan pesantren keras, sebelah selatan Jombang, suatu pegalaman yang kemungkinan besar memengaruhi beliau untuk kemudian mendirikan pesantren sendiri. Oleh karena itu, jelaslah bahwa kehidupan masa kecilnya di lingkungan pesantren berperan besar dalam pembentukan wataknya yang haus ilmu pengetahuan dan kepeduliannya pada pelaksanaan ajaran-ajaran agama dengan baik. 76
b. Perkembangan Hidup
Bakat kepemimpinannya KH. Hasyim Asy‟ari sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Ketika bermain dengan teman-teman sebayanya, Hasyim kecil selalu menjadi penengah. Jika melihat temannya melanggar aturan permainan, ia akan menegurnya. Dia
76 Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran dan Tokoh Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2013), 203-205.
membuat temannya senang bermain karena sifatnya yang suka menolong dan melindungi sesama. Selain itu, sejak kecil KH. Hasyim Asy‟ari juga sudah menunjukkan tanda-tanda kecerdasannya. Pada usia 13 tahun, dia sudah bisa membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar (senior) darinya. Ia juga dikenal rajin bekerja. Watak kemandiriannya yang ditanamkan sang kakek (Kiai Usman), mendorongnya untuk berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Itu sebabnya, KH. Hasyim Asy‟ari selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar mancari nafkah dengan bertani dan berdagang. Hasilnya kemudian dibelikan kitab dan digunakan untuk bekal menuntut ilmu.77
Setelah beberapa tahun belajar di Mekkah, akhirnya pada tahun 1313 H/1899 M, KH. Hasyim Asy‟ari memutuskan pulang ke tanah air.
Sesampainya di tanah air, ia tidak langsung mendirikan pesantren, tetapi terlebih dahulu mengajar di pesantren ayah dan kakeknya, dan kemudian antara tahun 1903-1906 beliau mengajar di kediaman mertuanya, kemuning kediri. Pada tahun yang sama KH. Hasyim Asy‟ari membeli sebidang tanah dari seorang dalang di dukuh Tebuireng untuk mendirikan sebuah pesantren yang belakangan terkenal dengan nama pesantren Tebuireng Jombang. Pendirian pesantren
77 Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran dan Tokoh Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2013), 205.
menjadi babakan awal dan memberikan kesempatan bagi KH. Hasyim Asy‟ari mengaktualisasikan kapasitas keilmuannya, bukan hanya untuk dirinya melainkan juga masyarakat Jawa dan Nusantara.78
Disana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu sebagai tempat tinggal. Dari bangunan kecil inilah embrio pesantren Tebuireng dimulai. Bagian depan dari bangunan bambu ini digunakan oleh KH. Hasyim Asy‟ari sebagai tempat mengajar dan shalat berjamaah, sedangkan bagian belakang dijadikan tempat tinggal.
Pada awal berdiri, jumlah santri yang belajar baru delapan orang, dan tiga bulan kemudian bertambah menjadi 28 orang.79
Di pesantren inilah KH. Hasyim Asy‟ari mencurahkan pikirannya sehingga karena kealimannya, terutama dibidang hadis, pesantren ini berkembang begitu cepat dan terkenal dengan pesantren Hadis. KH. Hasyim Asy‟ari dalam mengelola Tebuireng membawa perubahan baru. Beberapa perubahan dan pembaharuan yang dilakukan pada masa kepemimpinan KH. Hasyim Asy‟ari antara lain mengenalkan sistem madrasah. Sebelumnya sejak tahun 1899 M, Tebuireng menggunakan sistem sorogan dan bandongan. Akan tetapi sejak tahun 1916 M, mulai dikenalkan sistem madrasah, dan tiga tahun kemudian
78Achmad Muhibbin Zuhri, Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tentang Ahl al-Sunnah Wa al- Jama’ah (Surabaya: Khalista, 2010), 85.
79 Syamsul, Jejak Pemikiran dan Tokoh Pendidikan Islam, 207.
yakni pada tahun 1919 M, mulai dimasukkan mata pelajaran umum, dimana langkah ini merupakan hasil rumusan KH. Maksum, menantu KH. Hasyim Asy‟ari.80
Jasa KH. Hasyim Asy‟ari selain daripada mengembangkan ilmu di Tebuireng ialah keikutsertaannya mendirikan organisasi Nahdatul Ulama, bahkan ia sebagai Shaikhul Akbar dalam perkumpulan ulama yang terbesar di Indonesia. Selain daripada itu KH. Hasyim Asy‟ari duduk dalam pucuk pimpinan MIAI yang kemudian menjadi Masyumi. Begitu pula dalam gerakan pemuda dan kelaskaran, seperti:
GPII Muslimat, Hizbullah, Sabilillah, Barisan Mujahidin dan lain-lain, ia menjadi penganjur dan penasihatnya. Dalam gerakan tersebut, beliau bukan saja mengorbankan buah pikirannya, tetapi juga harta bendanya.
Sebagai ulama ia hidup dengan tidak mnegharapkan sedekah dan belas kasihan orang. Tetapi beliau mempunyai sandaran hidup sendiri, yaitu beberapa bidang sawah, hasil perniagaannya. Beliau seorang shalih, sungguh beribadat, taat dan rendah hati. Ia tidak ingin pangkat dan jabatan, baik di zaman Belanda, atau di zaman Jepang.
80Sya‟roni, Model Relasi Ideal Guru dan Murid, Telaah Atas Pemikiran al Zarnuzi dan KH. Hasyim Asy’ari, 56.
Kerap kali beliau diberi pangkat dan jabatan, tetapi ia menolaknya dengan bijaksana.81
c. Pendidikan
Menginjak usia 15 tahun, KH. Hasyim Asy‟ari berkelana ke berbagai pesantren yakni ke pesantren Wonokoyo Probolinggo, pesantren Langitan Tuban, pesantren Trenggilin Madura, dan akhirnya ke pesantren Siwalan Surabaya. Di pesantren ini beliau menetap selama dua tahun, dan karena kecerdasannya, beliau diambil menantu oleh Kyai Ya‟qub, pengasuh pesantren tersebut. Kemudian beliau dikirim oleh mertuanya ke Makkah untuk menuntut ilmu disana. Beliau kemudian bermukim di sana selama tujuh tahun dan tidak pernah pulang, kecuali pada tahun pertama saat putranya yang baru lahir meninggal yang kemudian disusul istrinya.
Selama di Makkah, KH. Hasyim Asy‟ari belajar dibawah bimbingan ulama terkenal, seperti Shaikh Amin al-Athor, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad Zawawi, Shaikh Mahfudz al-Tirmasi, dan sebersentuhan dengan paham Wahabi yang sedang gencar-gencarnya.
Dan beliau tertarik dengan ide pembaharuan ini.
81 Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, 205.
Namun beliau tidak setuju dengan beberapa pemikiran Wahabi yang kebablasen dalam beberapa pembaharuannya. Gerakan ini gencar dilakukan oleh Muhammad Abduh. KH. Hasyim Asy‟ari setuju dengan gagasan Muhammad Abduh tersebut untuk membangkitkan semangat Islam, tetapi beliau tidak setuju dengan hal pelepasan diri dari Madzhab.82
Selain ahli dalam bidang agama, KH. Hasyim Asy‟ari juga ahli dalam mengatur kurikulum pesantren, mengatur strategi pengajaran. Di dunia pendidikan, ia adalah seorang pendidik yang sulit dicari tandingannya. Ia menghabiskan waktu dari pagi hingga malam untuk mengajar para santrinya. Kegiatan mengajar ia mulai pada pagi hari, selepas memimpin shalat Shubuh. Ia mengajarkan kitab kepada para santri hingga menjelang matahari terbit.
Diantara kitab yang diajarkan setelah Shubuh adalah al-Tahri>ri dan al-Shifa>’ fi Huqu>q al-Mus}afa karya al-Qadhi „Iyadh. Kemudian setelah menunaikan shalat Dhuha, KH. Hasyim Asy‟ari kembali memberikan pengajaran kitab kepada para santrinya. Namun, selesai pengajaran pada waktu ini khusus ditujukan bagi santri senior. Kitab yang diajarkan, antara lain, kitab al-Muhaddzab karya al-Shairazi dan
82Sya‟roni, Model Relasi Ideal Guru dan Murid, Telaah Atas Pemikiran al Zarnuzi dan KH. Hasyim Asy’ari, 53-56.
al-Muwatta’ karya Imam Malik. Pengajian untuk santri senior ini biasanya berakhir pada pukul 10.00. Selepas shalat Dhuhur, beliau mengajar lagi sampai menjelang waktu Ashar hingga menjelang Maghrib.
Kitab yang diajarkan adalah Fathal-Qarib. Pengajian ini wajib diikuti semua santri tanpa terkecuali. Hingga akhir hayatnya, kitab ini secara kontinu dibaca setiap selesai shalat Ashar. Kegiatan mengajar para santrinya, baru ia mulai kembali setelah shalat Isya‟. Ia mengajar di Masjid sampai pukul sebelas malam. Materi yang biasa diajarkan adalah ilmu tasawuf dan tafsir. Di bidang tasawuf, beliau membacakan kitab Ihy>a’ Ulu>m al-Di>n karya Imam Ghazali, dan tafsir adalah tafsir al- Qur’an al-Adzi>m karya Ibnu Katsir.83
d. Wafat KH. Hasyim Asy‟ari
KH. Hasyim Asy‟ari wafat pada jam 03.45 dini hari tanggal 25 Juli 1947 bertepatan dengan 7 Ramadhan tahun 1366 H. dalam usia 79 tahun.84 Dengan meninggalkan peninggalan yang monumental berupa pondok pesantren Tebuireng yang tertua dan terbesar untuk kawasan Jawa Timur dan yang telah mengilhami para alumninya untuk mengembangkannya di daerah-daerah lain walaupun dengan
83 Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran dan Tokoh Pendidikan Islam, 207-208.
84 Suwendi, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, 136.
menggunakan nama yang lain bagi pesantren-pesantren yang mereka dirikan.
Banyak alumni Tebuireng yang bertebaran di seluruh Indonesia, menjadi Kyai dan guru-guru agama yang masyhur dan ada di antara mereka yang memegang jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan republik Indonesia, seperti menteri agama dan lain-lain.85 2. Kondisi Sosial, Ekonomi dan Keagamaan di Abad 20
a. Sosial
Kondisi sosial dalam bidang pendidikan lebih didominasi oleh pendidikan barat. Sebagian besar golongan masyarakat bumiputera yang memperoleh pendidikan barat, karena dengan mengenyam pendidikan ini maka seseorang mendapatkan prioritas untuk memperoleh posisi sebagai pengawasan dan pemegang kekuasaan.
Kondisi sosial dalam perbedaan ras juga menhadapi praktik dari kolonial belanda. Dalam diskriminasi ras, warna kulit seseorang menetukan statusnya. Bahkan diadakan pula perbedaan gaji antara serdadu pribumi yang berlainan suku.
Kondisi sosial dalam tipe tempat tinggal, rumah dengan gaya modern juga menjadi tanda kehidupan yang tinggi. Lokasi rumah yang
85 Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), 205-206.
khusus, ukuran besarnya, struktur dan susunannya. Semua secara langsung menunjukkan status pemiliknya.
b. Ekonomi
Indonesia merupakan masyarakat kolonial yang serba terbelakang, misalnya saja bidang ekonominya. Pada masa pergerakan nasional di Indonesia masih dipengaruhi oleh reaksi-reaksi para penjajah yang selalu menimbulkan pertentangan kepentingan secara terus menerus. Reaksi penjajah tersebut yaitu sistem yaitu eksploitasi.
Dengan pertentangan kepentingan tersebut menyebabkan keadaan ekonomi pada masa pergerakan nasional masih tetap terbelakang. Kondisi ekonomi menjadi terbelakang karena sistem produksi yang lama yang tidak mampu menghadapi kapitalis kalonial yang mempunya organisasi dan teknoligi modern.86
c. Politik
Di abad ini lahir beberapa organisani keagamaan Islam, antara lain:
1.) Sarekat dagang Islam, tiga tahun setelah berdirinya Budi Utomo didirikan sarekat dagang Islam dengan pendirinya H. Samanhordi.
Organisasi ini memiliki ciri-ciri Islam dan ekonomisme. Tujuannya ialah melindungi dan menjamin kepentingan perdagangan muslim terhadap ancaman persaingan dengan pedagang Cina.
86 Hajati dkk., Sejarah Indonesia (Jakarta: Universitas Terbuka Poesponegoro, 2008).
2.) Sarekat Islam, pada tahun 1911 di Solo berdiri sarekat Islam sebagai kelanjutan dari sarekat dagang Islam, tujuannya adalah mengembangkan jiwa berdagang di kalangan kaum muslim, melepaskan ketergntungan ekonomi dari bangsa-bangsa asing, memberi bantuan bagi pedagang muslimin yang kekurangan modal dan memajukan pengajaran dan berjuang mengankat derajat rakyat pribumi.87
3. Karya-Karya KH. Hasyim Asy’ari
Pada zamannya, tepatnya sejak permulaan tahun 1900-an hingga paruh akhir 1940-an, KH. Hasyim Asy‟ari termasuk salah satu intelektual Muslim Jawa yang produktif. Beberapa karya dari berbagai disiplin kajian Islam berhasil diselesaikan. Karya-karya tersebut ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan bahasa Jawa.
Salah satu karya KH. Hasyim Asy‟ari yang sangat populer di dunia pendidikan hingga saat ini adalah, ada>b al-‘A<lim wa al-Muta’allim fi> ma>
Yahta>j Ilaih al-Muta’allim Fi> Ahwa>l Ta’allum ma Yatawaqqaf ‘Alaih al- Muta’allim fi Maqa>mat al-Ta’li>m (etika pengajar dan pelajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan pengajar dalam kegiatan pembelajaran) karya ini merupakan resume dari tiga kitab yang menguraikan tentang pendidikan Islam, yaitu kitab Ada<b al-Mu’allim (etika pengajar) hasil karya Shaikh Muhammad ibn Sahnun, Ta’li>m al-Muta’allim fi> T{ari>q al-Ta’allu>m
87 http://defineconnotation.com, diakses pada tanggal 26 Juli 2016 pukul 12.00 WIB.
(pengajaran untuk pelajar: tentang cara-cara belajar) yang dikarang oleh Shaikh Burhanuddin al-Zarnuji, dan kitab rad}kirat al-Shaml wa al- Mutakallim fi> Ada<b al-‘Ali<m wa al-Muta’allim (pengingat: memuat pembicaraan mengenai etika pengajar dan pelajar) karya Shaikh ibn Jama’ah. Sebagaimana diterangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari sendiri, kitab ini selesai ditulis pada hari Minggu, tanggal 22 Jumadi Thani tahun 1343 H/1924 M.
Karya lain yang berhasil diselesaikan oleh KH. Hasyim Asy‟ari adalah al-Tiby>an fi> al-Nahy ‘an muqa>ta’at al-Arha>m wa al-Aqarib wa al- Ikhwa>n (penjelasan mengenai larangan memutuskan hubungan kekeluargaan, kekerabatan dan persahabatan). Dalam buku ini KH. Hasyim Asy‟ari mengurai tata cara menjalin silaturrahim, bahaya atau larangan memutuskannya dan arti membangun interaksi sosial. Kitab ini lebih merupakan risalah (catatan, sebuah buku kecil) karena hanya memiliki 17 halaman. Kitab ini diselesaikan pada hari Senin, 20 Syawal 1360 H/1940 M.88
Sebagai salah satu tokoh yang membidangi lahirnya Nahdhatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asy‟ari juga menulis risalah untuk organisasi tersebut. Risalah yang dibuatnya itu diberi judul Muqaddima>t al-Qanu>nu al- Asa>si> li Jam’iya>ti Nahda>t al-‘Ulama>’ (Pembukaan Anggaran Dasar
88 Syamsul, Jejak Pemikiran dan Tokoh Pendidikan Islam, 210.
Organisasi Nahdlatul Ulama‟) dengan tebal sepuluh halaman. Yang menarik, risalah tersebut memuat ayat-ayat al-Qur‟an dan beberapa Hadits yang menjadi basis legitimasi organisasi Nahdlatul Ulama. Tidak hanya itu, risalah tersebut juga memuat pendapat-pendapat legal KH. Hasyim Asy‟ari mengenai berbagai persoalan agama.
KH. Hasyim Asy‟ari juga menulis juga menulis Risa>la fi> Ta’qi>d al- Akhdh bi Ahad al-Mudhahib al-A’imma al-Arba>’a (risalah tentang argumentasi kepengikutan terhadap empat madhhab). Risalah ini lebih menitik beratkan pada uraian mengenai arti penting bermadhhab dalam fiqh.
Selain itu, KH. Hasyim Asy‟ari juga menekankan betapa pentingnya berpegang kepada salah satu diantara empat madhhab yang ada. Meskipun hanya setebal empat halaman, risalah secara umum juga menguraikan metodologi penggalian hukum, metode ijtiha>d, serta respon atas pernyataan ibn Hazm tentang taqli>d.89
Kitab-kitab lain yang ditulis KH. Hasyim Asy’ari adalah:
1. Mawa>’iz (beberapa nasihat).
2. Al-Nu>r al-Mubi>n fi> Mahabbat Sayyid al-Mursali>n (cahaya yang jelas menerangkan cinta kepada pemimpin para rasul).
89 Syamsul, Jejak Pemikiran dan Tokoh Pendidikan Islam, 210.
3. Al-Tanbi>ha>t al-Wajiba> Liman Yathna al-Mawlid bi al-Munkara>t (peringatan untuk orang-orang yang melaksanakan peringatan maulid Nabi dengan cara-cara kemungkaran).
4. Risa>lat Ahl al-Sunnat wa al-Jama>’at fi> Hadi>th al-mawta’ wa Ashrat al- Sa’ah wa Bayan Mafhum al-Sunnat wa al-Bid’ah (Risalah Ahlussunnah Wa al-Jama‟ah mengenai hadis-hadis tentang kematian dan tanda-tanda hari kiamat serta penjelasan mengenai sunnah dan bid‟ah).
5. Dhaw’ al-Misba>h fi> Baya>n Ahka>m al-Nika>h (cahaya lampu yang benderang menerangkan hukum-hukum nikah).
6. Ad-Durra>t al-Muntashira>t fi> Masa>il Tis’a ‘Ashara (mutiara yang memancar dalam penjelasan dalam 19 masalah).
7. Al-Risa>la fi> al-Aqa>id (risalah tantang keimanan).
8. Al-Risa>la fi> al-Tasawuf (risalah tentang tasawuf).
9. Ziya>da>t Ta’liqa>t ‘ala> Manzu>ma>t al-Shaikh ‘abd Allah ibn Ya>si>n al Fasuruani (catatan tambahan: sanggahan argumentasi terhadap syair- syair karya Abdullah ibn Yasin al Fasuruani).
10. Tamyi>z al Haqq min al-Bati>l (perbedaan antara yang benar dan salah).90
90 Syamsul, Jejak Pemikiran dan Tokoh Pendidikan Islam, 210.