• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan Pendidikan Islam

Dalam dokumen konsep akhlak peserta didik terhadap guru (Halaman 78-95)

B. Data Khusus

2. Tujuan Pendidikan Islam

tentang etika mengembalikan sesuatu kepada guru dalam kitab yang menerangkan akhlak.93

datang dari Allah Swt. sedangkan diri manusia adalah penerima proses dan kandungan tersebut yang tak lain adalah peserta didik.94

Sedangkan dalam pandangan Muhammad Athiyah al-Abrasyi, pendidikan Islam adalah sebuah proses untuk mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan berbahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik lisan atau tulisan.

Menurut marimba, pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dari pengertian ini pendidikan ditopang dengan adanya tiga unsur pokok, pertama harus ada usaha yang berupa bimbingan bagi perkembangan potensi jasmani dan rohani secara berimbang. Kedua, adanya usaha yang dilakukan itu berdasarkan atas ajaran Islam. Ketiga, usaha itu bertujuan agar peserta didik memiliki kepribadian utama menurut ukuran Islam.

Lebih luas lagi yaitu pendapat dari guru besar pendidikan Islam di Tunisia, Muhammad Fadhil al-Jamali yang mengajukan pengertian pendidikan Islam dengan upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia untuk lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang

94 Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Teras, 2011), 21-22.

tinggi dan kehidupan yang mulia sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik pada level akal, perasaan maupun perbuatan.95

Tujuan pendidikan Islam adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah proses pendidikan berakhir. Tujuan ini di klasifikasikan kepada tujuan umum, tujuan sementara, tujuan akhir dan tujuan operasional.

Banyak sekali konsep dan teori tujuan pendidikan Islam yang telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan, baik pada zaman klasik, pertengahan maupun dewasa ini. Namun dapat dipahami bahwa beragamnya konsep dan teori tujuan pendidikan Islam tersebut merupakan bukti adanya usaha dari para intelektual muslim dan masyarakat muslim umumnya untuk menciptakan suatu sistem pendidikan yang baik bagi masyarakatnya.

Namun demikian, berkembangnya pemikiran tentang tujuan pendidikan Islam tidak pernah melenceng dari prinsip dasar yang menjadi asas berpijak dalam pengembangan tujuan pendidikan yang dimaksud.

Diantara prinsip-prinsip tersebut adalah prinsip universal, keseimbangan, kejelasan, dinamis dan relevan.96

Berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, tentunya tidak dapat dilepaskan dari hakekat pendidikan Islam itu sendiri. Manusia adalah

95 Ibid., 23-24.

96 Armai Arief, Pengantar Ilmu Pendidikan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 27.

makhluk yang sadar tujuan, dari arti setiap aktifitasnya senantiasa disadari dan memiliki tujuan yang hendak dicapainya.97

Tujuan ini haruslah komperhensif mencakup semua aspek, serat terintegrasi dalam pola kepribadian ideal yang bulat dan utuh. Adapun aspek tersebut diantaranya:

1. Tujuan normatif, yaitu tujuan yang ingin dicapai berdasarkan norma- norma yang mampu mengkristalisasikan nilai-nilai yang hendak diinternalisasi. Misalnya:

a. Tujuan formatif, untuk memberikan persiapan dasar yang korektif.

b. Tujuan selektif, untuk membedakan yang benar dan yang salah.

c. Tujuan determinatif, untuk mengarahkan diri pada sasaran-sasaran yang sejajar dengan proses kependidikan.

d. Tujuan integratif, untuk memadukan fungsi psikis ke arah tujuan umum.

e. Tujuan aplikatif, penerapan segala pengetahuan yang telah diperoleh dalam pengalaman pendidikan.

2. Tujuan fungsional, tujuan yang sasarannya diarahkan pada kemampuan peserta didik untuk memfungsikan daya kognisi, afeksi dan psikomotorik dari hasil pendidikan yang diperoleh, sesuai dengan yang ditetapkan. Tujuan ini meliputi:

97 Tobroni, Pedidikan Islam: Paradigma Teologis, Filosofis dan Spiritualitas (Malang:

Universitas Muhammadiyah Malang, 2008), 49.

a. Tujuan individual, untuk mengamalkan nilai-nilai yang telah diinternalisasikan kedalam pribadi berupa moral, intelektual dan skill.

b. Tujuan sosial, pemberian nilai-nilai kedalam kehidupan sosial dengan orang lain dalam masyarakat.

c. Tujuan moral, untuk berperilaku sesuai dengan tuntunan moral.

d. Tujuan profesional, untuk mengamalkan keahliannya sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.98

3. Tujuan operasional, tujuan yang mempunyai sasaran teknis manajerial.

Menurut Langeveld, tujuan ini dibagi menjadi enam macam, yaitu:

a. Tujuan umum, untuk mengupayakan bentuk manusia kamil.

b. Tujuan khusus, yaitu tujuan pendidikan yang disesuaikan dengan keadaan tertentu, baik berkaitan dengan cita-cita pembangunan suatu bangsa, tugas dari suatu badan atau lembaga pendidikan, bakat kemampuan peserta didik.

c. Tujuan tak lengkap, yang berhubungan dengan nilai hidup saja.

Misalnya kesusilaan, keindahan dan lain sebagainya.

d. Tujuan insidental, tujuan yang timbul karena kebetulan, bersifat sesaat.

e. Tujuan sementara, tujuan yang ingin dicapai pada fase tertentu dari tujuan umum.

98 Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendididkan Islam, 75-76.

f. Tujuan intermedier, berkaitan dengn penguasaan suatu pengetahuan dan keterampilan demi tercapainya tujuan sementara.99

Proses pendidikan terkait dengan kebutuhan dan tabiat manusia tidak lepas dari tiga unsur, yaitu jasad, ruh dan akal. Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam secara umum harus dibangun berdasarkan tiga komponen tersebut, yang masing-masing harus dijaga keseimbangannya. Maka dari sini, tujuan pendidikan Islam dapat dikelompokkan menjadi tiga.100

1. Pendidikan Jasmani

Keberadaan manusia telah diprediksi sebagai khalifah yang akan berinteraksi dengan lingkungannya, maka keunggulan fisik memberikan indikasi kualifikasi yang harus diperhitungkan, yaitu kegagahan dan keperkasaan seorang raja.

Fisik memang bukan tujuan utama segala-galanya. Akan tetapi, ia sangat berpengaruh dan segala-galanya. Ia sangat berpengaruh dan memang peran penting, sampai-sampai kecintaan Allah terhadap orang mukmin lebih diprioritaskan untuk orang yang mempunyai keimanan yang kuat dan fisik yang kuat dibanding dengan orang yang mempunyai keimanan yang kuat tetapi fisiknya lemah.

Pendidikan jasmani merupakan usaha untuk menumbuhkan, menguatkan dan memelihara jasmani dengan baik. Dengan demikian,

99 Ibid., 78.

100 Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2012), 117.

jasmani mampu melaksanakan berbagai kegiatan dan beban tanggung jawab yang dihadapinya dalam kehidupan individu dan sosial.

Disamping mampu dalam menghadapi berbagai penyakit yang mengancamnya. 101

2. Pendidikan Akal

Pendidikan akal adalah peningkatan pemikiran akal dan latihan secara teratur untuk berpikir benar. Pendidikan intelektual akan mampu memperbaiki pemikiran tentang ragam pengaruh dan realitas secara tepat dan benar. Hal ini akan menghasilkan keputusan atas segala sesuatu yang dipikirkan menjadi tepat dan benar, tujuan pendidikan akal

Dengan demikian, tujuan pendidikan akal terikat perhatiannya dengan perkembangan intelegensi yang mengarahkan manusia sebagai individu untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya yang mampu memberi pencerahan diri.102

3. Pendidikan Akhlak

Akhlak mempunyai kedudukan sangat penting dalam ajaran Islam, untuk mencapai keridhoan Allah. Sendi-sendi agama yang bertumpu pada tiga komponen, yaitu iman, Islam dan ihsan. Ketiganya merupakan sistem yang dalam praktek tidak dapat dipisahkan satu sama

101 Ibid., 118.

102 Ibid., 119.

lain, tetapi merupakan totalitas untuk mewujudkan akhla>k al kari>mah dalam setiap perilaku manusia dalam setiap aspek kehidupan.

Pembentukan akhlak mulia merupakan tujuan utama yang harus disuritauladankan oleh guru pada anak didik. Tujuan utama dari pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang bermoral, jiwa bersih, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi, mengetahui kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak manusia, dapat membedakan buruk dan baik, memilih fad}ila karena cinta fad}ila, menghindari perbuatan tercela dan mengingat Tuhan disetiap melakukan pekerjaan.

Pendidikan akhlak bertujuan untuk membina kualitas manusia prima dengan ciri-ciri antara lain:

a. Beriman dan bertakwa kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

b. Berakal sehat atau mempunyai kemampuan akademik, yaitu mampu mengembangkan kecerdasannya dengan mencintai ilmu terutama yang sesuai dengan bakatnya.

c. Mempunyai kematangan kepribadian, berbudi luhur, jujur, amanah, berani, qona>a, sabar/tangguh, syukur, bertanggung jawab, cinta tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial, dan percaya diri.

d. Mempunyai keterampilan belajar, bekerja dan beramal shalih, disiplin, bekerja keras, mandiri, penuh perilaku yang inovatif dan kreatif, sehat jasmani dan rohani.103

Dalam sistem operasionalisasi kelembagaan pendidikan, tujuan- tujuan tersebut ditetapkan secara berjenjang dalam struktur program instruksional, sehingga tergambarlah klasifikasi gradual yang semakin meningkat. Bila dilihat dari pendekatan sistem instruksional tertentu, pendidikan Islam bisa dibagi dalam beberapa tujuan, yaitu sebagai berikut:

1. Tujuan instruksional khusus, diarahkan pada setiap bidang studi yang harus dikuasai dan diamalkan oleh anak didik.

2. Tujuan instruksional umum, diarahkan pada penguasaan atau pengamalan suatu bidang studi secara umum atau garis besarnya sebagai suatu kebulatan.

3. Tujuan kurikuler, yang ditetapkan untuk dicapai melalui garis-garis besar program pengajaran di tiap institusi pendidikan.

4. Tujuan institusional, adalah tujuan yang harus dicapai menurut program pendidikan di tiap sekolah atau lembaga pendidikan tertentu secara bulat seperti tujuan institusional SLTP/SLTA.

103 Ibid., 120.

5. Tujuan umum atau tujuan nasional, adalah cita-cita hidup yang ditetapkan untuk dicapai proses kependidikan dengan berbagai cara atau sistem, baik sistem formal atau non formal, maupun sistem informal.104

Dalam ajaran Islam, seluruh aktifitas manusia bertujuan meraih tercapainya insan yang beriman dan bertakwa. Dengan demikian apabila anak didik telah beriman dan bertakwa, artinya telah tercapai tujuannya.

Apabila dikaitkan dengan pendidikan Islam yang bertujuan mencetak anak didik yang beriman, wujud dari tujuan itu adalah akhlak anak didik. Adapun akhlak anak didik itu mengacu pada kurikulum yang diterapkan dalam pendidikan formal maupun non formal. Beberapa indikator tercapai tujuan pendidikan Islam dapat dibagi menjadi tiga tujuan mendasar.105

a. Tujuan tercapainya anak didik yang cerdas. Ciri-cirinya adalah memiliki tingkat kecerdasan intelektualitas yang tinggi sehingga mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh dirinya sendiri maupun membantu menyelesaikan masalah orang lain yang membutuhkannya.

104 M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Toeritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), 27.

105 Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2009), 146.

b. Tujuan tercapainya anak didik yang memiliki kesabaran keshalihan emosional sehingga mampu memperhatikan kedewasaan menghadapi masalah dalam kehidupannya.

c. Tujuan tercapainya anak didik yang memiliki kesalehan spiritual, yaitu menjalankan perintah Allah dan Rasulullah Saw. dengan melaksanakan rukun Islam yang lima dan mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan pendidikan Islam yang telah diuraikan diatas dapat disitematisasi sebagai berikut:

a. Terwujudnya insan akademik yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.

b. Terwujudnya insan kamil yang berakhlakul karimah.

c. Terwujudnya insan muslim yang berkepribadian.

d. Terwujudnya insan yang cerdas dalam mengaji dan mengkaji ilmu pengetahuan.

e. Terwujudnya insan yang bermanfaat untuk kehidupan orang lain.

f. Terwujudnya insan yang sehat jasmani dan rohani.

g. Terwujudnya karakter muslim yang menyebarkan ilmunya kepada sesama manusia.106

106 Ibid., 147.

BAB IV

ANALIS DATA

A. Analisis Terhadap Kandungan Kitab Ada>b al-‘A<lim Wa al-Muta’allim Karya KH. Hasyim Asy’ari

KH. Hasyim Asy‟ari adalah salah satu ulama jawa yang produktif, beliau telah mengarang kitab Ada>b al-‘A<lim Wa al-Muta’allim. Dalam kitab tersebut membahas hal-hal yang harus dimengerti dan dilaksanakan oleh peserta didik agar dalam mencari ilmu peserta didik tidak salah langkah dan akhirnya peserta didik mendapatkan ilmu yang benar-benar matang dan sesuai dengan keilmuan islami.

Di bab pertama dalam kitab tersebut membahas keutamaan ilmu dan keutamaan orang yang mencari ilmu, bahwasanya orang yang mencari ilmu itu akan lebih tinggi derajatnya daripada orang yang ahli ibadah.

Pada bab dua peserta didik harus benar-benar mengetahui dirinya dan harus menempatkan dirinya sebagai peserta didik. Selain itu juga harus menjaga diri agar tidak terjerumus ke jalan yang salah.

Akhlak peserta didik terhadap dirinya sendiri menurut KH. Hasyim Asy‟ari yang terangkum dalam kitab Ada>b al-‘A<lim Wa al-Muta’allim menyangkut masalah hati peserta didik, masalah niat, usaha peserta didik,

88

keikhlasan, membagi waktu, menyedikitkan makan dan minum, wira’i, mengurangi makanan yang menyebabkan bodoh dan meninggalkan pergaulan yang kurang manfaat.

Pada bab selanjutnya akhlak peserta didik terhadap pendidik menyangkut masalah pemilihan guru, usaha dalam memilih guru, ketaatan kepada guru, guru adalah orang yang dimuliakan, tetap mengingat kewajiban sebagai peserta didik, sabar atas perilaku guru, tidak menghadap guru, sopan terhadap guru, tidak memperlihatkan pengetahuan yang sudah diketahui dan menyebarkan ilmu yang didapat dari guru.

Selanjutnya akhlak peserta didik terhadap pelajaran dan hal-hal yang dipegangi bersama guru dan teman-temannya, dalam bab ini ada tiga belas sub pembahasan, yang membahas tentang pelajaran yang harus didahulukan oleh peserta didik, peserta didik juga tidak boleh terjebak dengan perbedaan ulama, berusaha dengan giat untuk memperoleh ilmu, sabar menanti gilirannya bersama teman-teman ketika, menjaga kesopanan terhadap guru dan bersemangat akan keberhasilannya.

Pembahasan tentang pendidik terletak pada bab enam sampai tujuh, seperti akhlak peserta didik yang sebelumnya, akhlak pendidik juga mempunyai akhlak terhadap dirinya sendiri sebagai pendidik. Dalam bab ini ada sepuluh bab yang ditawarkan oleh KH. Hasyim Asy‟ari.

Bab enam membahas tentang akhlak pendidik terhadap pelajaran, dalam pembahasan ini KH. Hasyim Asy‟ari menjelaskan akhlak pendidik mulai dari

sebelum berangkat, guru seharusnya sabar atas perlakuan peserta didik walaupun peserta didik tidak ikhlas mencari ilmu tetapi guru harus tetap mengajar.

Bab ketujuh membahas akhlak guru terhadap peserta didik, untuk memberikan contoh yang baik KH. Hasyim Asy‟ari juga memberikan penjelasan kepada para guru selain untuk menyampaikan ilmu tetapi juga memberikan contoh perilaku yang baik, selain bisa menguasai teori pendidik juga harus bisa memberikan praktek akhlak yang terpuji bagi peserta didik dan juga berusaha membantu peserta didik dalam mencari ilmu. Selain itu juga kepada guru untuk berkata yang baik kepada peserta didik.

B. Analisis Kontribusi Konsep Akhlak Peserta Didik Terhadap Guru Dalam Kitab Ada>b al-‘A<lim Wa al-Muta’allim Karya KH. Hasyim Asy’ari Dalam Tujuan Pendidikan Islam

Konsep yang disusun oleh KH. Hasyim Asy‟ari tentang akhlak peserta didik terhadap guru dalam kitab karya beliau yaitu kitab Ada>b al-‘A<lim Wa al- Muta’allim ini sangat relevan dengan tujuan pendidikan Islam. Dan tujuan pendidikan Islam sendiri bisa dikelompokkan atas tiga tujuan yaitu pendidikan akal, pendidikan jasmani dan pendidikan akhlak. Justru yang menjadi tujuan yang terpenting dalam tujuan pendidikan Islam adalah tentang pendidikan akhlak yang mulia. Baik akhlak kepada guru, teman, kerabat serta setiap orang yang berada disampingnya. Tidak hanya manusia saja yang yang dihormati oleh

peserta didik, tetapi lingkungan sekitarnya juga harus menjadi objek akhlak baik dari peserta didik.

Dari beberapa konsep akhlak peserta didik menurut KH. Hasyim Asy‟ari dalam kitab Ada>b al-‘A<lim Wa al-Muta’allim yang telah di uraikan di atas, relevansinya dapat dianalisis menjadi beberapa poin dengan tujuan pendikan Islam.

1. Menurut KH. Hasyim Asy‟ari hendaknya peserta didik melakukan shalat istikha>ra siapa yang pantas menjadi gurunya. Hal ini relevan dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu terwujudnya insan yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Sebelum belajar peserta didik untuk mendekatkan diri kepada Allah agar tidak salah memilih guru, sehingga peserta didik benar-benar mendapatkan guru yang profesional dan kapasitas keilmuannya mumpuni.

Pendapat ini juga diperkuat dengan pendapatnya jama‟ah tentang kode etik penuntut ilmu dalam bergaul dengan gurunya. Yang mengemukankan bahwa peserta didik yang ingin menuntut ilmu harus memilih calon guru secara cermat. Setelah dipertimbangkan memadai dan shalat istikha>ra.

2. Menurut KH. Hasyim Asy‟ari peserta didik harus taat kepada gurunya dan segala urusan. Hal ini juga dikuatkan oleh jama‟ah, peserta didik diibaratkan seperti orang sakit untuk mematuhi nasehat dokter. Dalam hal ini relevan dengan indikator tujuan pendidikan Islam, peserta didik harus memiliki keshalihan emosional.

3. Menurut KH. Hasyim Asy‟ari peserta didik harus memandang gurunya sebagai sosok yang terhormat dan sosok yang harus dimuliakan. Hal ini didukung oleh pendapat Muhammad „Athiyah al-Abrasy tentang kewajiban- kewajiban peserta didik kepada gurunya, yang mana peserta didik harus menghormati dan memuliakan guru serta mengagungkan karena Allah.

Pendapat ini relevan dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu terwujudnya insan kamil yang berakhalakul karimah untuk sesama manusia.

4. Menurut pendapat KH. Hasyim Asy‟ari peserta didik harus bersabar terhadap perilaku gurunya, peserta didik harus mentakwil perilaku buruk dari gurunya adalah pelajaran bagi peserta didik untuk mencapai tingkat kesuksesan dalam menimba ilmu. Pendapat ini juga sesuai dengan tujuan pendidikan Islam bahwa peserta didik harus mempunyai kesabaran emosional sehingga mampu memperhatikan kedewasaan menghadapi masalah dalam kehidupannya.

5. Menurut KH. Hasyim Asy‟ari peserta didik harus mempunyai sifat sopan kepada gurunya, baik ketika duduk bersama dengan gurunya maupun ketika berbicara. Dan tidak boleh bertanya yang bisa menyinggung hati guru, seperti untuk apa, menurut pendapat siapa dan lain sebagainya. Hal ini relevan dengan tujuan pendidikan Islam yaitu bertujuan untuk membentuk moral, agar peserta didik berperilaku sesuai tuntunan moral, tidak berpendapat seenaknya sendiri tanpa ada aturan yang membentenginya.

Jama‟ah menguatkan pendapat ini bahwa peserta didik harus mengagungkan guru dan meyakini kesempurnaan ilmunya.

6. Menurut pendapat KH. Hasyim Asy‟ari jika peserta didik mendengarkan penjelasan guru tentang hukum atau cerita padahal peserta didik hafal, maka peserta didik tetap harus mendengarkan dengan seksama. Pendapat ini dikuatkan oleh pendapat jama‟ah, peserta didik harus menunjukkan rasa terima kasih kepada gurunya meskipun guru menyampaikan informasi yang sudah diketahui murid. Dan ia tidak boleh menunjukkan yang sudah diketahui. Pendapat ini juga relevan dengan tujuan pendidikan Islam untuk terwujudnya insan yang berakhlakul karimah, akhlak dalam hal ini adalah akhlak yang khusus terhadap guru.

7. Menurut pendapat KH. Hasyim Asy‟ari jika guru memberikan sesuatu maka peserta didik harus menerima dengan tangan kanan. Jika menerima tulisan tentang syara‟ dan sebagainya, hendaknya peserta didik menyebarkan ke khalayak umum. Pendapat ini relevan dengan tujuan pendidikan Islam untuk mewujudkan karakter muslim yang menyebarkan ilmunya kepada sesama manusia.

BAB V

PENUTUP

Dalam dokumen konsep akhlak peserta didik terhadap guru (Halaman 78-95)

Dokumen terkait