• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi Negara

Dalam dokumen Pengantar Ilmu Politik (Halaman 61-66)

KONSEP NEGARA

C. Definisi Negara

Di bawah ini disajikan beberapa definisi atau batasan tentang negara (Soelistyati Ismail Gani, 1984: 60).

1. Suatu definisi atau batasan mengatakan bahwa negara adalah suatu organisasi politik, yang dibentuk atas suatu dasar dan tujuan tertentu oleh sekelompok manusia yang mendiami suatu wilayah tertentu secara tetap, mempunyai suatu pemerintahan yang dibentuk dan diperlengkapi dengan kekuasaan tertinggi yang disebut kedaulatan untuk membuat dan menjalankan undang- undang bagi sekelompok manusia tersebut, demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Organisasi politik yang disebut negara ini, bebas dari pengawasan dan penguasaan yang dilakukan oleh badan kekuasaan lain.

2. Definisi atau batasan lain mengatakan bahwa negara adalah suatu masyarakat manusia yang secara permanen (tetap) mendiami suatu daerah tertentu, merdeka secara legal dari pengemudian (kontrol) dari luar dan memiliki suatu pemerintahan yang diorganisasikan, yang membentuk serta mengadministrasikan hukum atas semua manusia serta golongan yang ada di bawah yurisdiksinya, yang ada di bawah kekuasaannya.

3. Max Weber memberikan batasan sebagai berikut. Negara adalah suatu organisasi asosiasi yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekuasaan fisik secara sah dalam suatu wilayah (the state is a human society that succesfully claims the monopoly of the legitimate use of physical force within a given territory).

4. Robert M. Mac Iver dalam The Modern State memberikan definisi atau batasan sebagai berikut: negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penertiban di dalam suatu masyarakat dalam suatau wilayah dengan berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintahan yang untuk maksud tersebut diberi kekuasaan memaksa (the state is an association which, acting through law as promulgated by a government endowed to this and

with coercive power, maintains within a community territorially demarcated the external conditions of order).

5. Harold J. Laski memberikan definisi atau batasan sebagai berikut:

negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih agung daripada individu atau kelompok yang merupakan bagian masyarakat itu. Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup bersama dan bekerja sama untuk mencapai terkabulnya keinginan-keinginan mereka bersama. Masyarakat merupakan negara kalau tata cara hidup yang harus ditaati baik oleh individu maupun oleh asosiasi ditentukan oleh suatu wewenang yang bersifat memaksa dan mengikat bagi mereka semua (the state is a society which is integrated by possessing a coercive authority legally supreme over any individual or grup which is part of the society. A society is a group of human beings living together and working together for the satisfaction of their mutual wants. Such a society is a state when the way of life to which boot individuals and associations must comfirm is defined by a coercive authority binding upon the all).

Dengan memperhatikan beberapa definisi atau bahasan tentang negara tersebut di atas, istilah “negara” telah digunakan untuk menunjukkan pada banyak hal, antara lain: sebuah kumpulan lembaga, sebuah satuan teritorial, sebuah ide filsafat, sebuah perangkat pemaksaan atau penindasan, dan sebagainya. Hal ini muncul sebagian dari fakta bahwa negara telah dipahami dalam empat cara yang cukup berbeda (Andrew Heywood, 2014: 96), yaitu sebagai berikut.

1. Perspektif Idealis

Idealisme adalah sebuah pandangan tentang politik yang menekankan pentingnya moralitas dan cita-cita. Idealisme filosofis mengimplementasikan bahwa ide-ide lebih riil dari dunia materi.

Pendekatan idealis tentang negara paling jelas direfleksikan dalam tulisan-tulisan dari G.H.F. Hegel, yaitu Phenomenology of Spirit (1807) dan Philosophy of Right (1821). Hegel mengidentifikasikan tiga momen eksistensi sosial, yaitu sebagai berikut.

a. Keluarga. Di dalam keluarga, ia berpendapat sebuah altruisme tertentu berjalan dan mendorong masyarakat untuk menampilkan kepentingan mereka sendiri untuk

mendahulukan kepentingan anak-anak mereka atau orang tua mereka.

b. Masyarakat sipil. Masyarakat sipil dipandang sebagai sebuah lingkup “egoisme universal”, di mana individu mendahulukan kepentingan mereka sendiri di depan kepentingan orang lain.

c. Negara. Hegel melihat negara sebagai sebuah komunitas etis yang didukung oleh sikap saling simpati-altruisme universal.

Kelemahan dari idealisme tersebut adalah ia mengemukakan gambaran yang tidak kritis tentang negara dan dengan mendefinisikan negara dalam sudut pandang etis, gagal membedakan dengan jelas antara lembaga-lembaga yang merupakan bagian dari negara dan lembaga-lembaga yang berada di luar dari negara.

2. Perspektif Fungsionalisme

Perspektif fungsional tentang negara berfokus pada peran atau tujuan lembaga negara. Fungsi utama negara adalah pemeliharaan tatanan sosial. Negara didefinisikan sebagai rangkaian lembaga yang menegakkan” tatanan” dan menghasilkan stabilitas sosial.

Tatanan (ketertiban) sebagai sebuah prinsip politik, yaitu tatanan yang menunjuk pada bentuk-bentuk perilaku yang stabil dan dapat diprediksi dan terutama yang menjamin keamanan personal. Akan tetapi, tatanan (ketertiban) memiliki dua asosiasi politik yang sangat berbeda. Hal yang paling umum adalah ia terkait dengan otoritas politik dan dianggapnya dapat dicapai jika dipaksakan

“dari atas” melalui sebuah sistem hukum. Karenanya, “hukum dan ketertiban” menjadi sebuah konsep tunggal yang menyatu.

Pandangan yang lain mengaitkan tatanan dengan kesetaraan dan keadilan sosial dan menekankan bahwa stabilitas dan keamanan dapat muncul secara alami “dari bawah” melalui kerja sama dan sikap saling menghargai. Perspektis fungsionalis semacam itu, misalnya telah diadopsi oleh kalangan nonmarxis, yang cenderung melihat negara sebagai sebuah mekanisme melalui mana konflik kelas diredam untuk menjamin ketahanan sistem kapasitas jangka panjang. Kelemahan pandangan fungsionalisme tentang negara adalah ia cenderung untuk mengasosiasikan setiap lembaga yang memelihara tatanan (seperti misalnya keluarga, media massa, serikat buruh dan tempat ibadah) dengan negara itu sendiri.

3. Perspektif Organisasional

Perspektif organisasional ini mendefinisikan negara sebagai perangkat pemerintahan dalam pengertiannya yang paling luas, yaitu sebagai rangkaian lembaga yang dapat dikenal bersifat

“publik”, di mana mereka bertanggung jawab dalam pengaturan kehidupan sosial dan dibiayai oleh belanja publik. Kelebihan pandangan ini adalah ia membedakan dengan jelas antara negara dan masyarakat sipil (masyarakat yang berpolitik). Dalam sudut pandang organisasional ini, dapat diidentifikasikan lima cara penting dari negara, yaitu sebagai berikut.

a. Negara adalah penguasa

Negara menggunakan kekuasaan yang mutlak dan tak terbatas, di mana negara berdiri di atas semua organisasi dan kelompok lain di dalam masyarakat. Thomas Hobbes mengusung ide tentang kekuasaan negara dengan menggambarkan negara sebagai “leviathan”, yaitu sebuah monster raksasa, biasanya digambarkan sebagai sebuah makhluk laut.

b. Lembaga negara bersifat publik

Lembaga negara dapat dikenali bersifat “publik” berbeda dengan lembaga “privat” (swasta) dari masyarakat sipil. Badan publik bertanggung jawab membuat dan menyelenggarakan keputusan bersama, sedangkan badan privat seperti misalnya keluarga, perusahaan swasta dan serikat buruh, ada untuk memenuhi kebutuhan individual.

c. Negara adalah sebuah ukuran legitimasi

Keputusan negara biasanya (meskipun tidak harus) diterima sebagai pengikat para anggota masyarakat karena sebagaimana diklaim, mereka dibuat untuk kepentingan publik atau untuk kebaikan bersama. Negara dianggap mencerminkan kepentingan-kepentingan permanen dari masyarakat.

d. Negara adalah sebuah perangkat dominasi

Otoritas negara disokong oleh pemaksaan. Negara harus memiliki kapasitas untuk memastikan bahwa hukum- hukumnya dipatuhi dan para pelanggarnya dihukum. Menurut Max Weber, negara didefinisi oleh monopolinya terhadap sarana “kekerasan yang sah”.

e. Negara adalah sebuah kesatuan teritorial

Wilayah hukum negara didefinisikan secara geografis dan ia mencakup semua yang hidup di dalam batas-batas wilayah negara tersebut, baik mereka itu warga negara atau bukan.

Pada tingkat internasional, negara dianggap (paling tidak dalam teori) sebagai sebuah entitas otonomi.

4. Perspektif Internasional

Perspektif internasional tentang negara terutama sebagai pelaku pada tingkat dunia, yaitu sebagai “unit” dasar politik internasional.

Hal ini memperlihatkan struktur ganda negara, yaitu fakta bahwa ia memiliki dua wajah, satu wajah menghadap keluar dan satu wajah menghadap ke dalam, sedangkan definisi-definisi sebenarnya berkenaan dengan wajah negara yang menghadap ke dalam, yaitu hubungannya dengan individu dan kelompok yang hidup di dalam batas-batas wilayahnya dan kemampuannya untuk memelihara tatanan domestik. Sementara itu, pandangan internasional ini berkenaan dengan wajah negara yang menghadap keluar, yaitu hubungan dengan negara-negara lain sehingga kemampuannya untuk memberikan perlindungan diri dari serangan luar. Definisi klasik tentang negara dalam hukum internasional terdapat di dalam Konvensi Montevideo tentang hak dan tugas negara (1933).

Menurut Pasal 1 Konvensi Montevideo, negara memiliki empat ciri, yaitu:

a. sebuah batas wilayah tertentu;

b. sebuah populasi permanen;

c. sebuah pemerintahan efektif;

d. kapasitas untuk melakukan hubungan dengan negara-negara lain.

Jadi, dari uraian-uraian tentang negara tersebut di atas dapat disimnpulkan bahwa negara adalah sebuah kesatuan politik yang membentuk wilayah hukum berdaulat di dalam batas-batas tertentu, dan menyelenggarakan otoritas melalui serangkaian lembaga permanen.

Lembaga ini adalah lembaga yang dapat dikenali bersifat publik, di mana mereka bertanggung jawab dalam pengaturan kehidupan masyarakat, dan dibiayai dengan belanja publik. Oleh karena itu, negara

mencakup pengadilan, industri nasional, sistem keamanan nasional, dan seterusnya. Ini dapat dikenali dengan seluruh lembaga politik.

Dalam dokumen Pengantar Ilmu Politik (Halaman 61-66)