• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi Partai Politik

Dalam dokumen Pengantar Ilmu Politik (Halaman 120-125)

PARTAI POLITIK

B. Definisi Partai Politik

Mengartikan partai politik mungkin terlihat sebagai tugas yang pada pandangan awal cukup sederhana. Pada tahun 1984, ilmuwan politik Robert Huckshom memberikan definisi pragmatis tentang partai politik dalam bukunya yang berjudul Political Parties In America, yaitu partai politik adalah kelompok warga negara yang berdiri sendiri dan memiliki tujuan untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum dan bersaing dengan harapan untuk mengambil kendali atas pemerintahan dengan memenangkan jabatan publik dan mengelola struktur pemerintahan.

Bagi Huckshom, alasan mendasar untuk memiliki partai politik adalah cukup sederhana, yaitu partai adalah alat yang diperlukan untuk memenangkan pemilihan dan mengendalikan pemerintahan.

Akan tetapi, benarkah demikian? Sebagaimana diketahui oleh mahasiswa partai politik, banyak partai yang sah berdiri karena alasan yang tidak ada hubungannya dengan pemenangan pemilu. Bagaimana pula orang menjelaskan proliferasi partai ketiga dalam beberapa tahun terakhir? Sebagai contoh, meskipun partai penggemar bir di Polandia pada mulanya didirikan sebagai sebuah parodi, seiring waktu mengembangkan program serius di mana tujuan partai dirumuskan dengan bercanda –diskusi politik yang hidup di pub-pub yang menyediakan bir yang sangat bagus– menjadi terkait dengan nilai- nilai kebebasan berserikat dan berekspresi, toleransi intelektual, dan standar hidup yang tinggi. Pada 1991, partai ini meraih 16 kursi di Sejm –majelis rendah parlemen Polandia. Jadi, meskipun Partai Penggemar Bir bermula sebagai parodi, ia menjadi sebuah kekuatan dalam politik Polandia karena ide-idenya bukan karena ia dibentuk dengan tujuan untuk memenangkan pemilu. Hal yang sama dapat dikatakan tentang Partai Hijau yang berkomitmen pada masalah lingkungan hidup, nonkekerasan, keadilan sosial, dan pengorganisasian akar

rumput. Partai hijau sangat mendukung undang-undang reformasi, keuangan kampanye yang akan memperbarui demokrasi tanpa dukungan perusahaan donor. Seperti Partai Penggemar Bir, partai hijau hampir tidak memiliki harapan menang dalam sebagian besar pemilu AS –termasuk pemilu yang paling penting dari semua, yakni pemilihan presiden. Calon presiden partai hijau tahun 2000, Ralph Nader, meskipun ia mengalahkan calon Presiden Demokrat Al Gore pada 2000, hanya meraih 2,7% suara rakyat.

Namun, para ilmuwan politik sepakat mengklasifikasikan sebagian besar partai ketiga (termasuk para penggemar bir dan partai hijau, bersama dengan banyak partai lain) sebagai partai yang sah. Akan tetapi, seiring dengan legitimasi seperti itu muncul banyak asumsi yang dibuat oleh akademisi tentang apa yang termasuk partai politik dan apa yang bukan dan bahkan yang lebih sering, seperti apa seharusnya partai politik itu. Jika partai ingin bertindak sebagai “lembaga mediasi”

antara yang memerintah dan yang diperintah, lalu apa tugas yang harus mereka lakukan? Haruskah mereka menjadi fasilitator pemilu yang memberikan kepada para calon akses kertas suara? Atau apakah mereka ada untuk mempromosikan ide-ide tidak peduli seberapa kontroversial ide itu? Sebagaimana ilmuwan politik membuat asumsi tentang perilaku pemilih. Misalnya, apakah pemilih berperilaku dalam cara yang sangat rasional, sehingga menjadikan partai sebagai objek utilitas politik? Atau apakah pemilih menjauhkan diri dari partai sama sekali dan membuat pertimbangan lain –jika ada– ke dalam pembuatan pilihan suara mereka?

Dengan demikian, mendefinisikan apa itu partai politik dan fungsi apa yang harus diembannya merupakan tugas yang hampir mustahil untuk bisa objektif. Sebaliknya, tugas itu bersifat normatif dan jawaban yang diberikan oleh para ilmuwan politik berbeda dari waktu ke waktu.

Berikut adalah beberapa jawaban yang sering dikutip untuk pertanyaan

“apa yang dimaksud dengan partai politik?”.

1. Edmund Burke (1770): Partai adalah kumpulan orang yang bersatu untuk memperjuangkan kepentingan nasional melalui usaha bersama mereka, berdasarkan pada prinsip-prinsip tertentu yang mereka semua sepakati.

2. Anthony Downs (1957): Dalam arti luas, partai politik adalah koalisi orang-orang yang berusaha menguasai aparat pemerintahan dengan cara yang sah. Yang kita maksud dengan koalisi adalah

sekelompok individu yang memiliki tujuan tertentu yang sama dan saling bekerja sama untuk mencapainya. Yang kita maksud dengan aparat pemerintah adalah perangkat fisik, hukum, dan kelembagaan yang digunakan pemerintah untuk melaksanakan peran khusus dalam pembagian kerja. Yang kita maksud dengan cara sah adalah pengaruh yang melembaga atau sah.

3. V.O. Key, Jr (1964): Partai politik, setidaknya dikancah Amerika, cenderung menjadi ‘kelompok’ khusus. Dalam kumpulan pemilih secara keseluruhan, kelompok terbentuk dari orang-orang yang menganggap dirinya sebagai anggota partai dalam pengertian lain istilah ‘partai’ bisa mengacu pada kelompok pekerja profesional.

Kadang-kadang partai menunjukkan kelompok-kelompok dalam pemerintahan sering kali partai mengacu pada suatu entitas yang termasuk salah satu dari partai di dalam pemilih, kelompok politik profesional, partai di legislatif, dan partai di pemerintahan sebenarnya, pemakaian yang mencakup semua ini memiliki aplikasi yang sah karena semua jenis kelompok yang disebut partai berinteraksi secara erat dan kadang-kadang mungkin sebagai satu jenis. Namun, baik secara analitis dan operasional istilah ‘partai’

paling sering mengacu pada beberapa jenis kelompok dan kita perlu memperjelas makna di mana istilah ini digunakan.

4. William Nisbet Chambers (1967): Partai politik dalam arti modern dapat dianggap sebagai formasi sosial yang relatif tahan lama yang berusaha meraih jabatan atau kekuasaan dalam pemerintahan, menunjukkan suatu struktur atau organisasi yang menghubungkan para pemimpin di pusat pemerintahan dengan pengikut rakyat yang signifikan di arena politik dan kantong-kantong lokal, dan menghasilkan perspektif atau setidaknya simbol-simbol identifikasi atau kesetiaan kelompok.

5. Leon D. Epstein (1980): [Apa] yang dimaksud dengan partai politik adalah kelompok, meskipun terorganisir secara longgar, yang berusaha untuk memilih pemegang jabatan pemerintah dengan nama tertentu.

6. Ronald Reagen (1984): Partai politik bukanlah persaudaraan. Ini bukan seperti dasi sekolah tua yang Anda kenakan. Anda bersatu dalam partai politik karena keyakinan tertentu tentang seperti apa seharusnya pemerintah.

7. Joseph Schlesinger (1991): Partai politik adalah kelompok yang terorganisir untuk mendapatkan kontrol atas pemerintahan atas nama kelompok itu dengan memenangi pemilihan jabatan-jabatan publik.

8. John Aldrich (1995): Partai politik dapat dilihat sebagai koalisi elite untuk merebut dan menggunakan jabatan politik. Akan tetapi, partai politik lebih dari koalisi. Partai politik adalah koalisi terlembaga, yang telah mengadopsi aturan, norma, dan prosedur.

Meskipun ada berbagai definisi yang berbeda dan beberapa di antaranya telah bertahan lama, definisi-definisi tersebut masih menjadi subjek perdebatan. Apakah partai seharusnya menekankan akar ideologis mereka, sebagaimana diinginkan oleh Burke dan Reagan? Atau apakah partai hanya digunakan sebagai alat untuk mencapai akses ke jabatan pemerintah, seperti yang disajikan oleh Epstein, Schlesinger, dan Aldrich? Atau mungkin partai adalah instrumen mediasi penting yang dirancang untuk mengelola dan menyederhanakan pilihan pemilih agar dapat memengaruhi tindakan pemerintah, seperti yang dijelaskan oleh Downs, Key, dan Chamber?

Bahkan Downs, pencipta definisi aslinya, merasa bahwa definisinya yang awal tidak cukup menggambarkan realitas karena partai yang berkuasa sering kali tidak sesuai dengan ideanya tentang entitas pengambil keputusan tunggal dan rasional yang mengendalikan kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, Downs memberikan definisi ulang partai sebagai berikut. Partai politik adalah tim orang yang berusaha untuk mengendalikan aparat pemerintah dengan mencapai jabatan dalam pemilihan umum. Dengan tim, yang kita maksud adalah koalisi yang anggotanya menyetujui semua tujuan mereka, bukan hanya sebagian dari tujuan tersebut.

Pengertian yang mengambang tersebut ditambah dengan tiadanya konsensus luas dalam komunitas ilmu politik tentang apa itu partai politik atau seharusnya seperti apakah partai politik itu. Di AS, kebingungan sudah muncul sejak awal pemerintahan Amerika modern. Dalam The Federalist, James Madison menyamakan partai dengan kelompok kepentingan yang ia cap dengan nada mengejek sebagai “faksi”, namun pembahasan Madison tentang “faksi” agak kabur dengan penekanan utama pada pengendalian atas “kejahatan”

pemilik kepentingan. Salah satu alasan untuk kurangnya koherensi intelektual para perumus adalah ketidakpercayaan mereka terhadap sumber kekuasaan politik. Bagi kaum federalis, kata “kekuasaan”

memiliki konotasi negatif sehingga Alexander Hamilton mengganti kata itu dengan “energi” seorang lawan Partai Demokrat-Republik berbicara keras menentang energizer Federalist pada 1802, dengan mengatakan,

“Saya akan segera memberikan suara saya pada seekor serigala untuk menjadi seorang gembala, sebagaimana untuk seorang pria, yang selalu bersaing untuk merebut energi pemerintahan.”

Tidak mengherankan, para perumus enggan untuk mempertajamkan pemikiran mereka tentang partai politik. Sebaliknya, mereka sering memanfaatkan kebuntuan publik, yang pada dasarnya menjadi penyebab partai-partai bertikai memperebutkan tujuan yang terbatas. Alexis de Tocqueville menulis dalam Democracy in America bahwa “partai-partai adalah kejahatan yang inheren dalam pemerintahan yang bebas.” Efek baik partai, kata Tocqueville, adalah bahwa persaingan di pemerintahan yang dijamin oleh Konstitusi AS membuat mereka berpikiran sempit:

“mereka bersinar dengan semangat cengeng, bahasa mereka keras, namun kemajuan mereka lambat dan tidak pasti”. Cara yang mereka gunakan sama jeleknya dengan tujuan yang mereka cari. Akibatnya, kata Tocqueville, “opini publik mengenai pertanyaan-pertanyaan detail terpecah belah ad infinitum.

Dengan berlalunya waktu, para sarjana telah berusaha untuk mendefinisikan partai politik dengan membedakannya dari “faksi”, yaitu kelompok kepentingan yang sering memberikan tugas yang lebih mulia kepada partai daripada kepada yang disebut terakhir. Pada 1942, V.O.

Key, Jr., menyatakan bahwa kelompok kepentingan memperjuangkan kepentingan mereka dengan mencoba untuk memengaruhi pemerintah dan bukan dengan mengajukan calon dan mengupayakan tanggung jawab untuk mengelola pemerintahan [sebagaimana yang dilakukan partai politik]. Para sarjana lain tidak setuju dengan alasan bahwa di era ketika partai politik lemah, kelompok kepentingan sering memengaruhi pencalonan, sangat menentukan dalam pemilihan calon favorit, dan membantu mengelola pemerintah dengan memengaruhi penunjukan pejabat dan proses pengambilan keputusan itu sendiri.

Dalam dokumen Pengantar Ilmu Politik (Halaman 120-125)