• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Kekuasaan

Dalam dokumen Pengantar Ilmu Politik (Halaman 94-97)

KEKUASAAN

A. Konsep Kekuasaan

Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk memengaruhi tingkah laku orang lain atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga perilaku tersebut sesuai dengan kehendak dan tujuan orang yang memiliki kekuasaan tersebut. Fenomena kekuasaan ini adalah hal yang umum terjadi dalam semua masyarakat dan dalam berbagai bentuk kehidupan bersama.

Manusia memiliki berbagai keinginan dan tujuan yang ingin mereka capai. Oleh karena itu, sering kali mereka merasa perlu untuk mendorong kemauan mereka kepada orang lain atau kelompok lain. Ini menciptakan pemahaman bahwa mengendalikan orang lain merupakan suatu keharusan untuk menjaga kepentingan mereka sendiri. Oleh karena itu, bagi banyak orang, memiliki kekuasaan adalah nilai yang diinginkan. Kekuasaan sosial hadir dalam konteks hubungan sosial dan dalam organisasi sosial.

Ossip K. Flechtheim mendefinisikan kekuasaan sosial sebagai

“totalitas kapasitas, hubungan, dan proses yang menghasilkan ketaatan dari pihak lain untuk tujuan-tujuan yang ditetapkan oleh pemegang kekuasaan.” Robert M. Maclver mengemukakan bahwa kekuasaan sosial adalah “kemampuan untuk mengendalikan perilaku orang lain, baik secara langsung dengan memberi perintah maupun secara tidak langsung dengan menggunakan berbagai alat dan cara yang tersedia.”

Kekuasaan sosial terdapat dalam berbagai hubungan sosial dan dalam organisasi sosial.

Biasanya, kekuasaan melibatkan hubungan, di mana ada pihak yang memerintah dan pihak yang diperintah, satu pihak yang memberi perintah dan satu pihak yang menaatinya. Tidak ada kesetaraan dalam martabat, dan unsur paksaan selalu hadir dalam hubungan kekuasaan.

Paksaan tidak selalu harus bersifat terang-terangan, karena hanya kemungkinan adanya paksaan tersebut sering sudah cukup.

Setiap individu secara bersamaan merupakan subjek dan objek kekuasaan. Sebagai contoh, seorang presiden membuat undang-undang (sebagai subjek kekuasaan), tetapi pada saat yang sama, dia juga harus patuh kepada undang-undang (sebagai objek kekuasaan). Hampir semua orang pernah memberi perintah dan menerima perintah. Ini sangat terlihat dalam organisasi militer hierarkis, di mana seorang prajurit diperintah oleh komandannya, sementara komandan tersebut juga diperintah oleh atasannya.

Robert M. Maclver mengemukakan bahwa kekuasaan dalam masyarakat selalu membentuk piramida. Ini terjadi karena satu bentuk kekuasaan membuktikan superioritasnya dibandingkan bentuk kekuasaan lain, yang mengakibatkan bentuk yang lebih kuat ini menguasai yang lainnya. Dalam sejarah masyarakat, golongan yang berkuasa (penguasa) relatif selalu lebih sedikit jumlahnya daripada golongan yang dikuasai (yang diperintah). Ini berlaku baik dalam sistem demokrasi maupun diktatur.

Sumber kekuasaan berasal dari berbagai aspek, seperti kekerasan fisik (misalnya, polisi yang menggunakan kekuatan untuk menegakkan hukum), kedudukan sosial (misalnya, seorang komandan terhadap bawahannya), kekayaan (misalnya, seorang pengusaha kaya yang memiliki pengaruh politik melalui kekayaannya), atau kepercayaan (misalnya, seorang pemimpin agama yang dihormati oleh jemaatnya).

Kekuasaan sering dikaitkan dengan pengaruh, yang sering dianggap sebagai bentuk yang lebih lunak dari kekuasaan. Namun, tidak semua orang dengan kekuasaan yang sama memiliki pengaruh yang sama besar, karena pengaruh dipengaruhi oleh karakteristik pribadi individu yang memegang kekuasaan. Pengaruh juga tidak selalu terkait dengan kekuasaan, karena ada orang yang memiliki pengaruh meskipun tidak memiliki kedudukan atau kekuasaan.

Salah satu bentuk kekuasaan yang penting adalah kekuasaan politik.

Kekuasaan politik adalah kemampuan untuk memengaruhi kebijakan publik, baik dalam pembuatan kebijakan maupun dampaknya sesuai dengan tujuan pemegang kekuasaan. Ini adalah bagian dari kekuasaan sosial yang fokusnya pada negara sebagai pihak yang berwenang untuk mengatur perilaku sosial dengan menggunakan paksaan. Kekuasaan politik tidak hanya mencakup kemampuan untuk memperoleh ketaatan dari masyarakat, tetapi juga melibatkan pengaruh terhadap tindakan dan aktivitas negara di berbagai bidang seperti administratif, legislatif, dan yudikatif.

Namun, suatu kekuasaan politik tidak mungkin berjalan tanpa penggunaan kekuasaan. Kekuasaan harus digunakan dan diterapkan.

Jika penggunaan kekuasaan berjalan efektif, hal ini dapat disebut sebagai

“pengendalian.” Untuk menggunakan kekuasaan politik, harus ada penguasa yang memegang kekuasaan, serta alat dan sarana kekuasaan agar penggunaannya bisa efektif. Di banyak negara, khususnya yang masih memiliki loyalitas lokal yang kuat, keabsahan (legitimasi) sering menjadi masalah yang penting. Legitimasi adalah konsep bahwa kedudukan seseorang atau kelompok penguasa diterima oleh masyarakat karena sesuai dengan prinsip-prinsip dan prosedur yang dianggap wajar.

Ossip K. Flechtheim membedakan dua macam kekuasaan politik, yakni:

1. bagian dari kekuasaan sosial yang (khususnya) terwujud dalam lembaga (kekuasaan negara atau state power), seperti lembaga- lembaga pemerintahan DPR, Presiden, dan sebagainya;

2. bagian dari kekuasaan sosial yang ditunjukkan kepada negara.

Hal yang dimaksud adalah berbagai aliran, kelompok, dan organisasi, baik yang secara eksplisit berhubungan dengan politik (seperti partai politik), maupun yang pada dasarnya tidak fokus pada

kegiatan politik, tetapi memiliki pengaruh pada tindakan pemerintahan.

Ini mencakup organisasi ekonomi, kelompok mahasiswa, organisasi agama, kelompok minoritas, dan sejenisnya.

Namun, apa yang dianggap sebagai kekuasaan politik berbeda-beda di setiap negara. Di Indonesia, terutama di masa lalu, banyak organisasi wanita yang memiliki peran dalam kekuasaan politik, sementara di negara-negara Barat (kecuali Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir dengan gerakan “women’s lib”), Filipina, dan Jepang, organisasi wanita biasanya tidak memiliki karakter politik yang kuat. Hal yang sama berlaku untuk organisasi akademik, kelompok pemuda, dan sejenisnya. Di Indonesia dan beberapa negara Barat seperti Belanda, sistem peradilan tidak secara signifikan terlibat dalam kekuasaan politik.

Namun, di India dan Amerika Serikat, beberapa keputusan Mahkamah Agung yang melibatkan pengujian konstitusionalitas undang-undang (judicial review) adalah bagian dari kekuasaan politik, karena dapat mengubah pembagian kekuasaan di dalam negara. Oleh karena itu, di negara-negara tersebut, sebagian dari kekuasaan Mahkamah Agung memiliki dimensi politik yang penting.

Dalam dokumen Pengantar Ilmu Politik (Halaman 94-97)