BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
3. Deiksis dalam Novel Laskar Pelangi
Data LP 038
“Bapak Guru….,”
“Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkannya ke sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia di sekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku…”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 7)
Kutipan data LP 038 di atas bercerita tentang ibu Harun yang berharap Harun anaknya yang memiliki keterbelakangan mental dapat diterima di sekolah Muhammadiyah. Dalam wacana di atas, kata kami merupakan kata ganti orang pertama jamak dan merupakan deiksis persona yang mengacu atau menunjuk pada Ibu dan Harun itu sendiri.
Sedangkan kata -nya dan ia merupakan kata ganti orang ketiga tunggal yang mengacu atau menunjuk pada tokoh Harun. Selanjutnya, kata ku pada kata ayam-ayamku merupakan kata ganti orang pertama tunggal yang menunjuk pada Ibu Harun.
b. Deiksis Tempat
Deiksis tempat merupakan kata yang menunjuk atau merujuk pada satu wilayah atau tempat yang ditunjukkan melalui tuturan pembicara dalam tiga ranah yaitu deiksis tempat dengan jarak dekat (proksimal), semi jauh (semiproksimal), dan jauh (distal). Kutipan yang menunjukkan penggunaan deiksis tempat dalam novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata sebagai berikut;
Data LP 039
“Bapak Guru….,”
“Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkannya ke sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia di sekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku…”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 7)
Kutipan data LP 039 di atas bercerita tentang ibu Harun yang berharap Harun anaknya yang memiliki keterbelakangan mental dapat diterima di sekolah Muhammadiyah. Dalam wacana di atas, kata ke sana merujuk atau menunjuk pada suatu tempat atau wilayah yang jauh.
Penunjukan tersebut merupakan bentuk deiksis tempat untuk jangkauan wilayah yang jauh (distal)
Data LP 040
“Tak satu pun kulihat ada anak muda memegang pacul! Tak pernah kulihat orang-orang muda demikian malas seperti di sini.”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 36)
Kutipan data LP 040 di atas disampaikan oleh seorang gentlement yang berisi tentang cibiran kepada masyarakat kampong di depan suatu majelis. Sang gentlement memberikan cibiran tersebut setelah berkeliling kampung dan melihat kondisi sekitar. Dalam wacana tersebut, kata di sini merujuk atau menunjuk pada wilayah atau tempat yang dekat dengan dirinya sendiri yakni kampung yang saat itu ditinggalinya untuk sementara dan berkeliling-keliling sore. Penunjukan tersebut merupakan deiksis
tempat yang jaraknya dekat dengan penutur sehingga bentuk deiksis waktu yang digunakan adalah proksimal.
c. Deiksis Waktu
Deiksis waktu dimaksudkan sebagai penunjukan waktu dalam suatu tuturan. Deiksis waktu dibedakan menjadi tiga yaitu deiksis lampau atau masa lalu, deiksis masa kini, deiksis masa yang akan datang. Ketiga jenis deiksis tersebut dipaparkan sebagai berikut;
Data LP 041
“Saya harap argumentasi mereka bisa setepat jawabannya tadi”
(Novel Laskar Pelangi, hal 379)
Kutipan data LP 041 di atas menjelaskan tentang tantangan tokoh Drs. Zulfikar (guru di Sekolah PN) yang menantang regu F (Sekolah Muhammadiyah) atas jawaban mereka tentang cincin Newton. Di dalam kutipan tersebut, kata tadi merupakan merujuk atau menunjuk pada kondisi atau waktu dari satu kejadian yang telah berlalu. Artinya, kata tersebut merupakan deiksis waktu untuk masa yang telah berlalu
Data LP 042
“Kali ini Ibunda tidak memberimu nilai terbaik untuk mendidikmu sendiri.”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 190)
Kutipan data 042 di atas disampaikan oleh Ibu Mus kepada Mahar yang nilainya menurun dari sebelumnya saat itu. Frasa kali ini pada
kutipan tersebut menunjuk atau merujuk pada waktu yang sedang terjadi saat itu. Dengan demikian, kutipan tersebut mengandung deiksis waktu untuk masa saat ini.
Data LP 043
“Kalau ada nasib, lain hari kalian bisa bertemu lagi”
(Novel Laskar Pelangi, hal 298)
Kutipan data LP 043 di atas menjelaskan tentang perkataan A Miauw kepada tokoh Aku karena tokoh Aku tidak percaya tentang kepergian A Ling ke Jakarta. Frasa lain hari pada kutipan di atas mengandung arti atau merujuk pada waktu di masa depan. Dengan demikian, kutipan tersebut melalui frasa lain hari mengandung unsur deiksis waktu untuk masa yang akan datang. Begitu pula hanya dengan kutipan berikut ini;
Data LP 044
“Apa itu Har? Ayolah, bagaimana nanti kami akan tampil?
Jangan bertele-tele!”
(Novel Laskar Pelangi, hal 225)
Kutipan data LP 044 di atas menjelaskan tentang tokoh Mahar yang memberikan ide kepada teman-temannya untuk penampilan mereka pada karnaval yang akan mereka ikuti. Penggunaan deiksis waktu pada kutipan di atas ditandai dengan penggunaan kata nanti. Kata nanti sendiri berarti merujuk atau menunjuk pada satuan waktu yang akan datang atau di masa depan.
d. Deiksis Wacana
Deiksis wacana adalah deiksis yang menggunakan acuan dalam suatu tuturan yang sifatnya intertekstual. Deiksis wacana dibedakan menjadi dua yaitu deiksis anafora dan deiksis katafora. Anafora adalah penunjukan kembali pada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Katafora adalah penunjukan ke sesuatu yang disebutkan kemudian. Deiksis wacana dalam novel Laskar Pelangi dibuktikan dengan data berikut;
Data LP 045
“Kasihan ayahku…” Maka Aku tak sampai hati memandang wajahnya. “Barangkali sebaiknya Aku pulang saja, melupakan keinginan sekolah, dan mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli…”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 7)
Kutipan data LP 045 di atas menggunakan partikel –nya pada kata wajahnya untuk menggantikan kedudukan tokoh ayah yang telah disebutkan sebelumnya. Oleh karena itu, deiksis wacana ini bersifat anafora.
Data LP 046
“Dengar kata adikmu ini, Abangda Harun, kalau abang bermain drum seperti itu bisa-bisa Jim Morrison melompat dari liang kuburnya.
(Novel Laskar Pelangi, hal. 148) Kutipan data LP 046 di atas menggunakan partikel –nya pada kata kuburnya. Partikel –nya tersebut merujuk atau menunjuk pada tokoh Jim
Morrison yang telah disebutkan sebelumnya. Oleh karena itu, kutipan tersebut mengandung unsur deiksis wacana yang sifatnya anafora.
Data LP 047
“Substansinya adalah Newton terang-terangan berhasil membuktikan kesalahan teori-teori warna yang dikemukakan Descartes dan Aristoteles! Bahkah yang paling mutakhir ketika itu, Robert Hooke. Perlu dicatat bahwa Robert Hooke mengadopsi teori cahaya berdasarkan filosofi mekanisme Descartes dan mereka semua, ketiga orang itu menganggap warna memiliki spectrum yang terpisah….”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 381)
Kutipan data LP 047 di atas menggunakan kata mereka yang merujuk atau menunjuk pada tiga orang yang telah disebutkan sebelumnya yaitu Descartes, Aristoteles, dan Robert Hooke. Pola penunjukan seperti itu merupakan bentuk deiksis wacana tipe anafora.
Data LP 048
“Barangsiapa yang kami tunjuk sebagai amir dan telah kami tetapkan gajinya untuk itu, maka apa pun yang ia terima selain gajinya itu adalah penipuan”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 381)
Kutipan data LP 048 di atas menggunakan kata ia sebagai bentuk kata ganti orang ketiga tunggal yang merujuk atau menunjuk pada tokoh Amir yang menjadi konstituennya dan telah disebutkan sebelumnya.
Dengan demikian, antara kata Amir dan kata ia memiliki hubungan konstituen atau dalam artian merujuk pada hal yang sama. Hal tersebut merupakan sebuah bentuk deiksis katafora.
e. Deiksis Sosial
Deiksis sosial menunjuk atau merujuk pada hubungan sosial atau perbedaan-perbedaan sosial. Deiksis didefinisikan sebagai ungkapan yang terikat dengan konteksnya. Deiksis sendiri dibedakan menjadi dua yaitu deiksis eufimisme dan deiksis honorifiks. Deiksis eufimisme adalah ragam deiksis yang berupaya memperhalus bagian yang dianggap kurang layak atau kurang pantas untuk didengar dengan maksud meningkatkan intensitas kesopanan antara penutur dan mitratutur. Sedangkan deiksis honorifiks adalah ragam deiksis yang berupa tambahan sapaan untuk memperhalus tuturan. Bentuk deiksis sosial dalam novel Laskar Pelangi dapat ditampilkan dalam bentuk kutipan data berikut;
Data LP 049
“Sembilan orang…baru sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satu….,”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 381)
Kutipan data LP 049 di atas disampaikan oleh Ibu Mus. Kutipan di atas bercerita tentang kegelisahan Bu Mus terhadap jumlah siswa yang datang pada hari pertama masuk SD. Menghampiri batas waktu, satu orang siswa tak kunjung datang melengkapi Sembilan yang lainnya. Dari peristiwa itu, Bu Mus datang ke Pak Harfan yang tidak lain adalah kepala sekolaj dengan menggunakan sapaan Pamanda Guru. Kata Pamanda Guru sendiri adalah sapaan tambahan yang digunakan oleh Bu Mus
sebagai bentuk rasa hormatnya kepada Pa Harfan yang tidak lain adalah pimpinannya. Jadi, terlihat bahwa deiksis sosial terjadi melalui penggunaan sapaan tersebut yang menjelaskan bahwa antara Bu Mus dan Pak Harfan adalah rekan kerja yang strata keduanya berbeda.
Karena Bu Mus adalah bawahan, maka sepatutnya ia harus memberikan penghargaan kepada pimpinannya yaitu Pak Harfan (Kepala Sekolah Muhammadiyah). Deiksis sosial seperti ini disebut dengan deiksis sosial honorifiks.
Data LP 050
“Tahukah kalian… Pelangi sebenarnya adalah sebuah lorong waktu! Jika kalian berhasil melintasi pelangi maka kita akan bertemu dengan orang-orang Belitong tempo dulu dan nenek moyang orang-orang Sawang.”
(Novel Laskar P elangi, hal. 160-161) Kutipan data LP 050 disampaikan oleh oleh Mahar di depan teman- temannya. Kutipan ini menjelaskan bualan tokoh Mahar kepada teman- temanya tentang pelangi adalah sebuah lorong waktu. Kata pelangi pada kutipan di atas merujuk atau menunjuk pada kematian. Kata tersebut bermakna konotasi. Yang ingin disampaikan oleh Mahar dengan kata tersebut adalah kematian. Jadi, kata pelangi pada kutipan tersebut hanya untuk menghaluskan maksud atau makna dari kata kematian. Tujuannya agar pendengar tidak merasa tAkut dengan kematian. Deiksis sosial seperti ini disebut dengan deiksis sosial eufimisme.
4. Deiksis dalam Novel Maryamah Karpov Karya Andrea Hirata