BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
telat datang untuk latihan di lapangan. Sebenarnya Ketua Karmun memiliki kekesalan kepada Tancap atas kejadian tersebut. Namun, kekesalan tersebuit tidak diwujudkan dengan bahasa yang kasar, tetapi memperhalusnya dengan kalimat “kucopot! Dia jadi pengurus air minum pemain saja!”. Pada hakikatnya jabatan yang ditawarkan jika Tancap dicopot adalah hinaan baginya. Bentuk tuturan yang memperhalus bagian tertentu yang dinilai memiliki muatan tidak pantas atau tidak layak didengar dengan kata atau kalimat berbeda tetapi dengan maksud yang sama disebut dengan deiksis sosial eufimisme.
interpretasi terhadap makna yang diperoleh (Horatius dalam Pradotokusumo, 2005: 2).
Membaca sastra pada hakikatnya adalah berkomunikasi secara tidak langsung dengan pengarang dari tulisan yang kita baca. Untuk itu, antara pembaca sastra dan pengarang harus memiliki kesepahaman tentang bahasa dan makna itu sendiri. Sebab, keberhasilan komunikasi dapat tercapai apabila terjadi kesepahaman antarpenutur dan lawan tutur atau dengan kata lain lawan tutur dapat memahami maksud tuturan (Hymes dalam Nurkamto, 2002: 5). Untuk itu, mempelajari makna yang disampaikan oleh penutur (penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar mengarahkan pembaca pada tindakan mengkaji bahasa dengan teori pragmatik. Crystal (1987:120) menyatakan pragmatik mengkaji faktor-faaktor yang mendorong pilihan bahasa dalam interaksi sosial dan pengaruh pilihan tersebut pada mitratutur. Artinya, meskipun secara teoretis harus mengacu pada kaidah- kaidah bahasa yang telah ditetapkan, tetapi seringkali di dalam praktik berbahasa tidak cukup hanya mengikuti kaidah saja, mengonstruksi kalimat harus selalu mengaitkannya dengan konteks di tempat tutur itu terbangun maupun konteks di luar dari tuturan itu sendiri.
Seperti halnya sastra, pembaca harus mampu menagkap pesan- pesan yang disampaikan oleh pengarang melalui jalinan ceritanya. Pesan yang tersurat mungkin dengan mudah dapat dipahami oleh pembaca. Tetapi
sastra yang notabenenya adalah karya imajinasi yang penuh dengan muatan konotasi di dalamnya, tentu banyak mengandung pesan atau makna yang sifatnya implisit. Sebut saja novel Laskar Pelangi dan Mimpi-Mimpi Lintang Maryamah Karpov karya Andrea Hirata. Peneliti secara terbuka mengAkui bahwa gejala dan fenomena kebahasaan sangat apik ditampilkan oleh pengarang (Andrea Hirata) dalam melukiskan peristiwa demi peristiwa sehingga terjalin menjadi sebuah cerita yang apik, asik, menghibur, dan memiliki ke dalaman makna yang sungguh layak mendapatkan pujian. Tidak heran jika novel-novel tersebut menjadi sangat lAku di pasaran (menjadi best seller) dan memenangi berbagai ajang bergengsi (Santo, 2015; Junianto, 2010).
Terkait dengan pragmatik, tentu di dalam kedua novel tersebut mengandung fenomena dan gejala bahasa yang patut dikaji dengan teori ini.
Terbukti, berbagai penelitian terhadap kedua novel tersebut telah dilakukan dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Fokus kajian atau penelitiannya berbeda-beda, sebab pragmatik sendiri adalah bidang ilmu yang di dalamnya terpecah menjadi empat fokus kajian yaitu deiksis, praanggapan, implikatur, dan tindak tutur. Penelitian ini sendiri menggunakan pendekatan prakmatik dengan berfokus pada aspek implikatur dan deiksis di dalam kedua novel tersebut.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa di dalam kedua novel tersebut, gejala pragmatiknya memiliki tingkat kesamaan yang tinggi. Misalnya, pada aspek implikatur, peneliti menemukan tiga ragam implikatur yaitu implikatur konvensional, praanggapan, dan implikatur nonkonvensional. Penelusuran tentang ragam impliktur ini mengacu pada konsep yang dikemukakan oleh Grice (1975). Alhasil, antara konsep dan temuan berjalan beriringan.
Selanjutnya, dengan menggunakan konsep pragmatik yang dikemukakan oleh Grevisse dan Goosse (1995:113), peneliti menelusuri tentang wujud implikatur yang digunakan di dalam kedua novel tersebut. Hasilnya, antara novel Laskar Pelangi dan Mimpi-Mimpi Lintang Maryamah Karpov karya Andrea Hirata sama-sama menggunakan implikatur yang wujudnya berupa kalimat pernyataan, kalimat tanya, kalimat perintah, dan kalimat seruan. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Amaliah (2012) sebagaimana yang telah ditampilkan pada bagian penelitian relevan. Selain Amaliah, penelitian Asnawi (2010) juga menunjukkan hasil yang relevan. Hanya saja, kesamaan itu tampak pada novel Maryamah Karpov. Sedangkan novel lainnya yang dikaji oleh Asnawi berbeda dengan penelitian ini.
Selain implikatur, deiksis di dalam novel Laskar Pelangi dan Mimpi- Mimpi Lintang Maryamah Karpov karya Andrea Hirata juga memiliki tingkat kesamaan yang tinggi. Dengan mengacu pada teori Lyons (1995:270) lima bentuk deiksis dijumpai di dalam kedua novel tersebut yaitu deiksis
perorangan atau persona, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana, dan deiksis sosial. Deiksis perorangan dalam penelitian ini ditemukan menjadi dua yaitu deiksis persona untuk orang pertama dan deiksis persona untuk orang ketiga. Deiksis tempat juga dibedakan menjadi tiga yaitu deiksis proksimal, semiproksimal, dan deiksis distal. Deiksis waktu pun demikian dibagi tiga yaitu deiksis masa lampau, deiksis masa sekarang atau saat ini, dan deiksis masa yang akan datang atau masa depan. Deiksis wacana dibedakan menjadi dua yaitu anafora dan katafora. Deiksis katafora tidak dijumpai di dalam novel Maryamah Karpov karya Andrea Hirata. Hanya ini letak perbedaan temuan dari kedua novel. Deiksis sosial dibedakan menjadi dua yaitu deiksis eufimisme dan deiksis honorifiks.
Temuan ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian terdahulu khususnya pada aspek deiksis sosial, seperti penelitian Zanto (2015), Junianto (2010), dan Nofitasari (2012).
.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Setelah melewati tahapan pengumpulan data, reduksi data, pemeriksaan data, pengolaaan data, analisis data, hingga tahap penyajian hasil analisis sebagaimana yang ditampilkan pada Bab IV, maka tahapan terakhir adalah menarik sebuah simpulan dan merumuskan saran berdasarkan simpulan tersebut.
A. Simpulan
Ragam implikatur yang terdapat di dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dibedakan menjadi tiga yaitu implikatur konvensional, implikatur praanggapan, dan implikatur nonkonvensional. Ragam implikatur tersebut selanjutnya diwujudkan dalam empat bentuk yaitu kalimat pernyataan, kalimat perintah, kalimat tanya, dan kalimat seru. Sama halnya dengan novel Laskar Pelangi, novel Maryamah Karpov karya Andrea Hirata pun ditemukan ragam dan wujud implikatur yang sama.
Deiksis di dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dibedakan menjadi lima yaitu deiksis perorangan, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacan, dan deiksis sosial. Deiksis perorangan dibedakan menjadi dua yaitu deiksis persona pertama dan deiksis persona ketiga. Deiksis tempat dibedakan menjadi tiga yaitu deiksis proksimal, deiksis semiproksimal, dan
138
deiksis distal. Deiksis waktu dibedakan menjadi tiga yaitu deiksis masa lalu, deiksis masa kini, dan deiksis masa yang akan datang. Deiksis wacana dibedakan menjadi dua yaitu deiksis anafora dan deiksis katafora. Deiksis sosial dibedakan menjadi dua yaitu deiksis eufimisme dan deiksis honorifiks.
Kelima deiksis tersebut juga ditemukan di dalam novel Maryamah Karpov.
Hanya saja, di dalam novel Maryamah Karpov, ragam deiksis wacana katafora tidak dijumpai.
B. Saran
Melalui penelitian ini, saran yang diberikan oleh peneliti kepada pembaca yaitu:
1. Dinamika, gejala, dan fenomena kebahasaan di dalam sastra adalah sesuatu yang tidak pernah ada habisnya untuk dikaji. Bukan hanya pada kedua novel ini, melainkan banyak novel-novel lain di luar sana yang membutuhkan perhatian atau apresiasi dari pembaca. Mari meningkatkan semangat baca sastra, apresiasi para sastrawan pemula yang menghasilkan karya. Jangan membiarkan karya-karya mereka terlapak, tertinggal, terhempas, lalu punah entah ke mana. Sebab, mereka membutuhkan nilai, dan nilai itu muncul ketika karya mereka terbaca.
2. Sebuah tulisan tidak pernah terlepas dari konstruksi makna yang dibangun oleh penulis atau pengarangnya. Konstruksi inilah yang sebenarnya menjadi pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang.
Dalam hal ini, membaca sastra bukanlah menjadi bagian yang kosong atau hanya hiburan semata, melainkan ada realitas yang dapat dijadikan contoh atau pelajaran di dalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi 6) Jakarta: Balai Pustaka.
Amaliah, Nurul. 2012. “Ragam dan Wujud Implikatur dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata: Suatu Tinjauan Pragmatik”. Jurnal Metasastra, Volume 6 Nomor 2.
Aslinda dan Leni Syafyahya. 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: PT Refika Adita.
Asnawi. 2010. “Implikatur dalam Novel Edensor dan Maryamah Karpov Karya Andrea Hirata”. Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra. Volume 4 Nomor 1.
Brown dan Yule. 1996. Analisis Wacana (Diterjemahkan oleh Soetikno).
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Cahyono, Bambang Yudi. 2002. Kristal-kristal Ilmu Bahasa. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal.
Jakarta: Rineka Cipta.
Crystal, David. 1987. The Cambridge Encyclopedia of Language. Cambridge, England: Cambridge University.
Cummings, Louise. 2007. Pragmatik Sebuah Perspektif Multidisipliner (Diterjemahkan oleh Eti Setiawati). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Depdikbud. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dewa, I Putu Wijana. 2011. “Wacana khotbah Jumat di Surakarta: Suatu Kajian Linguistik Kultural”. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Djajasudarma, Fatimah. 2012. Wacana dan Pragmatik. Bandung: Rafika Aditama.
Faruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Belajar (Anggota Ikapi).
____. 2012. Metode Penelitian Sastra, Sebuah Penjelajahan Awal.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gazdar, Gerald. 1979. Pragmatics: Implicature, Presupposition, and Logical Form. New York: Academic.
George, Yule. 2006. Pragmatik (Terjemahan oleh Indah Fajar Wahyuni dan Rombe Mustajab). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Grevisse, de Maurice et Goosse, André. 1995. Nouvelle Grammaire Française. Belgium: De Boek.
Grice, H.P. 1975. Logic and Conversation. New York: Oxford University Press.
Hendy, Zaidan, 1993. Kesusastraan Indonesia I. Bandung: Angkasa.
Huang, Yan. 2007. Pragmatics. New York: Oxford University Press.
Jalaluddin, Rakhmat. 1992. Psikologi Komunikasi (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Junianto. 2010. “Pemakaian Deiksis Sosial dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata”. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik (Diterjemahkan oleh Sumarlam). Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).
Levinson, C. Stephen. 1983. Pragmatics. Cambridge: University Press.
Lubis, A. H. H. 1991. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Lyons, John. 1995. Pengantar Teori Linguistik (Diterjemahkan oleh Soetikno).
Jakarta: Gramedia
Mey, Jacob L. 1993. Pragmatics; An Introduction. Cambridge, Massachusetts: Blackwell Publishers.
Morris, C.W. 1938. “Foundation of the Theory of Signs”. International Encyclopedia of Unified Science. Chicago PreSS, pp. 77 – 138.
(Reprinted in Morris 1971).
Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nababan, PWJ. 1987. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya). Jakarta:
Depdiknas.
141
Nofitasari. 2012. “Deiksis Sosial dalam Novel Laskar Pelangi”. Skripsi.
FKIP Universitas Negeri Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Nurhayati. 2012. Pengantar Ringkas Sastra. Yogyakarta: Yuma Pressindo.
Nurkamto, Joko. 2002. Pendekatan Komunikatif: Penerapan dan Pengaruhnya terhadap Pembelajaran Bahasa Inggris Kajian Etnografi di SMU Negeri Surakarta (1997/ 1998). Disertasi. Jakarta: Universiatas Negeri Jakarta.
Parera, Jos Daniel. 2001. Sintaksis. Jakarta: PT.Gramedia.
Pradotokusumo, Partini Sarjono. 2005. Pengajian Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Preston, D.S. 1984. Information System Strategy: Reconceptualization, Measurement, and Implications, MIS Quarterly, 34 (2), 233-259.
Purwo, Bambang K. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Rahardi, Kuntjana. 2005. Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta.
Penerbit Erlangga.
Rani Dkk. 2006. Analisis Wacana Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian.
Malang: Bayu Media Publishing.
Rohmadi. 2010. Morfologi Telaah Morfem dan Kata. Surakarta: Yuma Pustaka.
Rusminto, Nurlaksana Eko. 2009. Analisis Wacana Bahasa Indonesia (Buku Ajar). Bandar Lampung: Universitas Lampung.
Sangidu. 2004. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Santo. 2015. “Penggunaan Deiksis dalam Novel Maryama Karpov Karya Andrea Hirata”. Jurnal MAGISTRA Volume 2 Nomor 2 Januari 2015.
Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Searle, John. 1969. Speech Act. Cambridge: University Press.
Semi, M. Atar. 1988. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.
________. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.
Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sudaryat, Yayat. 2009. Makna dalam Wacana. Bandung: CV Yrama Widya.
Sugiyono. 2015. Metodologi Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alpabeta.
Sulistyo, Edy Tri. 2013. Pragmatik: Suatu Kajian Awal. Surakarta: UNS Press.
Sumardjo, Jacob dan Saini. 1988. Konteks Sosial Novel Indonesia 1920- 1977. Bandung: Penerbit Alumni.
Suyono. 1990. Pragmatik Dasar-Dasar dan Pengajaran. Malang: yayasan asih asah asuh (YA 3 Malang).
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung:
Angkasa.
__________. 1987. Teknik Pengajaran Ketrampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa.
__________. 1990. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa
Thomas, Jenny. 1995. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics.
England: Longman.
Verhaar, J.W.M. 2006. Asas-asas Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Waluyo, Herman. J. 2002. Pengkajian Sastra Rekaan. Salatiga: Widyasari Press.
Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2010. Analisis Wacana Pragmatik, Kajian Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
_________. 1999. “Semantik dan Pragmatik” dalam Seminar Nasional I Semantik sebagai Dasar Fundamental Pengkajian Bahasa.” Surakarta Pascasarjana UNS.
Yule, George. 2006. Pragmatik (Edisi Terjemahan oleh Indah Fajar Wahyuni dan Rombe Mustajab). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Zulfahnur, dkk. 1996. Teori Sastra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
RIWAYAT HIDUP
Rahmianti, lahir di Pabiringa, Kabupaten Jeneponto pada tanggal 25 Oktober 1994. Anak pertama dari tiga bersaudara yang merupakan buah kasih sayang dari pasangan Muh Ramli dan Roslia.
Penulis menempuh pendidikan dasar pada tahun 2001 di SD Impres112 Tamarunang tamat tahun 2007. Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 2 Jeneponto dan tamat pada tahun 2009. Penulis melanjutkan pendidikan lagi ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) pada SMA Negeri 1 Jeneponto pada Tahun 2009 dan tamat pada tahun 2012. Pada tahun yang sama penulis diterima di STKIP YAPTI Strata Satu (S1) Pendidikan,jurusan pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia kemudian menyelesaikan studi pada tahun 2016. Pada tahun 2016 penulis kembali melanjutkan pendidikan di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Akhirnya, atas kehendak Allah Swt serta iringan doa dari orang tua dan keluarga, melalui perjuanagan panjang dan kerja keras penulis dalam mengikuti pendidikan di perguruan tinggi sehingga dapat menyelesaikan studi dengan tesis yang berjudul “Implikatur dan Deiksis Novel Laskar Pelangi dan Novel Mimpi- Mimpi Lintang Karya Andrea Hirata”.
\
DATA KORPUS LASKAR PELANGI
No Kutipan Hal Keterangan
1 “Sembilan orang…baru sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satu….,”
2 Kutipan di atas bercerita tentang kegelisahan ibu Mus terhadap jumlah siswa yang datang pada hari pertama masuk SD
2 “Kasihan ayahku…”
Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya.
“barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan keinginan sekolah, dan mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu- sepupuku, menjadi kuli…”
3 Kutipan di atas bercerita tentang kebimbangan tokoh aku untuk mengikuti kegiatan sekolah atau menjadi kuli karena merasa iba terhadap ayahnya
3 “Bapak Guru….”
“Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkannya ke sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia di sekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak- anak ayamku…”
7 Pada kutipan ini bercerita tentang ibu Harun yang berharap Harun anaknya yang memiliki
keterbelakangan mental dapat diterima di sekolah
4 “Genap sepuluh orang….” 7 Kutipan ini menjelaskan
kegembiraan pak Harfan karena jumlah siswa baru kini berjumlah 10 orang
5 “Anak Pak Cik akan sebangku dengan Lintang”
10 Kutipan ini menjelaskan bahwa Ibu Mus memberi tahukan ayah dari tokoh aku bahwa anaknya akan sebangku dengan Lintang.
6 “Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah akan datang…”
“Namun, kesombongan
membutakan mata dan menulikan telingan mereka hingga mereka musnah dilamun ombak…”
22 Kutipan ini menjelaskan tentang Pak Harfan yang sedang bercerita tentang kisah Nabi Nuh kepada siswa baru
7 “Silahkan Ananda perkenalkan
nama dan alamat rumah…..” 26 Kutipan bercerita tentang Bu Mus yang sedang mempersilahkan A Kiong untuk memperkenalkan diri 8 “Silahkan Ananda…..” 26 Kutipan ini menjelaskan bahwa Ibu
Mus kembali menyuruh A Kiong yang masih ragu untuk
memperkenalkan dirinya
9 “Ayolah anakku, kuatkan hatimu, sebutkan namamu! Paling tidak sebutkan nama bapakmu ini, sekali saja! Jangan bikin malu orang Hokian!”
26 Kutipan ini menjelaskan bahwa tokoh aku berasumsi bahwa ayah dari A Kiong sangat berharap anaknya bisa memperkenalkan diri, meskipun ayah A Kiong tidak berbicara langsung kepada tokoh Aku
10 “Baiklah ini kesempatan terakhir untukmu mengenalkan diri, jika belum bersedia maka harus kembali ke tempat duduk.”
27 Kutipan ini menjelaskan bahwa Ibu Mus memperingatkan kepada A Kiong untuk kembali
memperkenalkan dirinya karena sejak dari awal hanya tersenyum saja tanpa berbicara
11 “Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak”
31 Kutipan ini adalah sebuah kalimat nasehat yang dikatakan oleh Ibu Mus kepada siswanya tentang materi pelajaran Budi Pekerti 12 “Tak satu pun kulihat ada anak
muda memegang pacul! Tak pernah kulihat orang-orang muda demikian malas seperti di sini.”
36 Kutipan ini berisi tentang cibiran seorang gentleman di depan najelis setelah berkeliling kampung
13 “Aku mau ikut ke pasar, Cai,”
Syahdan memohon kepada Kucai, ketika kami dibagi kelompok dalam pelajaran pekerjaan tangan dan harus membeliu kertas kajang di pasar.
“Tapi sandal dan bajuku buruk begini,” katanya lagi dengan polos dan tahu diri sambil melipat karung kecapang yang
dipakainya sebagai tas sekolah.
“Jangan kau bikin malu aku. Dan, apa kata anak-anak SD PN nanti?” jawab Kucai…..
66 Kutipan ini menjelaskan bahwa Syahdan memohon kepada Kucai agar diikutsertakan ke pasar untuk membeli kertas
14 “Barangsiapa yang kami tunjuk sebagai amir dan telah kami tetapkan gajinya untuk itu, maka apa pun yang ia terima selain gajinya itu adalah penipuan”
71 Dalam kutipan ini Ibu Mus
menjelaskan pelajaran budi pekerti tentang karakter yang dituntut Islam dari seoprang amir
15 “Ibunda Guru, Ibunda mesti tahu bahwa anak-anak kuli ini
kelakuannya seperti setan……
anak-anak kumal ini yang tak bisa diatur hanya akan
memberatkan hisabku!”
71 Kutipan ini menjelaskan bahwa Kucai selaku pemimpin dalam kelas meminta pemungutan suara ulang untuk memilih ketua kelas baru karena ia gamang pada
pertanggungjawaban di hari
kemudian setelah mendengarkan penjelasan Ibu Mus tentang karakter seorang amir dalam Islam.
16 “Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak mau beranjak, menghalang di tengah jalan. Tak ada siapa-siapa yang bisa kumintai bantuan. Aku hanya berdiri mematung,
berbicara dengan diriku sendiri.”
87 Kutipan ini menjelaskan alasan tokoh Lintang bahwa ia terlambat masuk kelas karena ia melihat seekor buaya
17 “Kemarilah Ayahanda…berapa empat kali empat?”
95 Kutipan ini menjelaskan bahwa tokoh Lintang menanyakan hasil perkalian empat kali empat kepada ayahnya sementara ayahnya adalah orang yang tidak berpendidikan 18 “13 kali 16 kali 7 tambah 83
kurang 39!”
106 Kutipan ini adalah tantangan matematika dari Ibu Mus kepada para siswa agar berlomba menjwabnya
19 “Misalnya negeri yang terdekat yang ditaklukkan tentara Persia pada tahun….”
“620 Masehi! Persia merebut kekuasaan Heraklius….”
110 Kutipan ini adalah pertanyaan dari Ibu Mus yang dijawab langsung oleh Lintang dengan penjelasan yang detail
20 “Ayo yang lain, jangan hanya anak Tanjong keriting ini saja yang terus menjawab,”
123 Kutipan ini menjelaskan tentang perintah Ibu Mus kepada siswanya agar berani menjawab pertanyaan karena setiap ada pertanyaan hanya Lintang yang selalu memberi
jawaban 21 “…berkiballah bendelaku…”
“…lambang suci gagah pelwila…”
“…belgelak-belgelak!
Selentak…selentak…!”
129 Kutipan ini adalah lagu Berkibarlah Bendera Karya Ibu Sud yang dinyanyikan oleh A Kiong setiap pelajaran seni suara, yang dimana A Kiong menyanyikannnya dengan cadel
22 “Aku akan membawakan sebuah lagu tentang cinta Ibunda Guru, cinta yang teraniaya lebih tepatnya….”
135 Kutipan ini bercerita tentang Tokoh Mahar ketika ia disuruh untuk menyanyikan sebuah lagu pada saat pelajaran seni suara yang disertai dengan prolog sebelum ia bernyanyi
23 “Dengarkan musiknya ,Bang, ikuti iramanya,”
“Drum itu tak bisa kau perlakukan semena-mena.”
147 Kutipan ini menjelaskan tokoh Mahar mengistruksikan kepada Harun untuk mengikuti irama musik
24 “Gambar TV itu bisa dipantul- pantulkan melalui kaca, Ayahanda Guru,”
153 Kutipan ini menjelaskan tentang saran yang diberikan oleh Tokoh Mahar kepada Pak Harfan 25 “Tahukah Kalian…”
“Pelangi sebenarnya adalah sebuah lorong waktu!”
“Jika kalian berhasil melintasi pelangi maka kita akan bertemu dengan orang-orang Belitong tempo dulu dan nenek moyang orang-orang Sawang.”
160- 161
Kutipan ini menjelaskan bualan tokoh Mahar kepada teman- temanya tentang pelangi adalah sebuah lorong waktu
26 “Diam dan simaklah panggilan menuju kemenangan itu…”
162 Kalimat ini menjelaskan bahwa tokoh Aku menyuruh teman- temannya diam ketika mendengar suara adzan dikumandangkan karena menurut tokoh aku itu adalah pesan dari orang tua yang harus diindahkan
27 “Syahdan….Syahdan….bangun, Dan…”
173 Kutipan ini menjelaskan tentang upaya tokoh Sahara utuk
menyadarkan Syahdan yang pingsan setelah terpental dari pelepah bersama Tokoh Aku ketika sedang bermain pelepah pinang hantu
28 “Turun dulu, Tuan Raja…” 197 Kutipan ini menjelaskan tentang perintah syahdan kepada tokoh Aku untuk segera turun dari sepeda karena ia tidak bisa mengayuh sepeda ketika tanjakan
29 “Apa yang dilakukan anak-anak bebek ini?”
222 Kutipan ini menjelaskan tentang tokoh Aku yang bergumam tentang pikiran para tamu terhormat di acara karnaval
30 “Tak ada petani, buruh timah, guru ngaji, atau penjaga pintu air lagi untuk karnaval tahun ini!
Dan ia berteriak lagi.
“Semua kekuatan sekolah Muhammadiyah akan kita satukan untuk satu hal!!!
“Apa itu Har? Ayolah, bagaimana nanti kami akan tampil? Jangan bertele-tele!”
Kalian akan tampil dalam koreografi massal suku Masai
225 Kutipan ini menjelaskan tentang Tokoh Mahar yang memberikan ide kepada teman-temannya untuk penampilan mereka pada karnaval yang akan mereka ikuti