BAB I PENDAHULUAN
E. Desain penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian kualitatif dan kuantitatif. Desain penelitian kualitatif pada penelitian ini menerapkan desain kualitatif yaitu metode untuk menggambarkan , memahami, dan mengembangkan makna oleh beberapa individu atau kelompok yang sumbernya berupa masalah sosial atau kemanusiaan. Upaya penelitian kualitatif dalam prosesnya melibatkan usaha seperti pengajuan pertanyaan dan prosedur, pengumpulan data dari partisipan secara spesifik, tema dari khusus ke umum yang dianalisa secara induktif dan menafsirkan makna data. Penelitian ini memiliki struktur atau kerangka yang fleksibel dalam laporan akhirnya. Partisipan dalam penelitian ini harus menerapkan cara pandang yang bermodel induktif, berfokus terhadap makna individual dan menerjemahkan kompleksitas suatu persoalan.49
Sedangkan desain penelitian kuantitatif menggunakan
49 John W. Creswell, Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed.
Single factor independent groups design. Penelitian ini membandingkan skor atau nilai yang lebih dari dua kelompok, yaitu kelompok diklat melalui PPCKS, diklat melalui PKS, dan tidak mengikuti diklat kepala sekolah. Desain tersebut digambarakan sebagai berikut.
Tabel 3.1. Desain penelitian kuantitatif
A1 A2 A3
Y1A1 Y1A2 Y1A3
Y2A1 Y2A2 Y2A3
… … …
… … …
YnA1 YnA2 YnA3
Keterangan:
A1: Kelompok Kepala sekolah yang menempuh Diklat melalui PPCKS
A2: Kelompok Kepala sekolah yang menempuh Diklat melalui PKS
A3: Kelompok Kepala sekolah yang tidak mengikuti diklat kepala sekolah
Y1A1: skor angket guru ke-1 kelompok A1 Y2A1: skor angket guru ke-2 kelompok A1 YnA2: skor angket guru ke-n kelompok A2 YnA3: skor angket guru ke-n kelompok A3 F. Instrumen Penelitian
Penelitian ini mengukur dua variabel yakni variabel kualitatif dan kuantitatif. Variabel kualitatifnya adalah (1) proses penerapan konsep pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajemen persekolahan dan (2) hasil penerapan konsep pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahan, sedangkan variabel kuantitatifnya adalah pengaruh diklat kepala sekolah melalui PPCKS dan PKS terhadap kinerja kepala sekolah jenjang SD di Kabupaten Lombok Tengah.
Oleh sebab itu, setiap variabel dikembangkan instrumen masing-
masing.
Beberapa tahapan pengembangan instrumen, yaitu;
pemaparan definisi konseptual variabel, definisi operasional variabel, kisi-kisi instrumen, penyusunan instrumen, dan validasi instrumen. Deskripsi tahapan tersebut untuk setiap variabel yang diukur disajikan di bawah ini.
a. Instrumen data kualitatif 1) Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara digunakan untuk mengumpulkan data tentang (1) Proses penerapan konsep pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahan, dan (2) Hasil penerapan konsep pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahan.
Pedoman wawancara akan digunakan oleh peneliti untuk mewawancarai guru dan kepala sekolah jenjang SD yang menjadi sampel penelitian. Pedoman wawancara berisi sejumlah item pertanyaan yang bersifat terbuka. Aspek-aspek yang menjadi fokus pertanyaan adalah:
(a) Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman atau perilaku selama menjadi kepala sekolah.
(b) Pertanyaan yang berkaitan dengan proses persekolahan yang dilakukan oleh kepala sekolah
(c) Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat atau penilaian guru terhadap kepala sekolah.
(d) Pertanyaan yang berkaitan dengan hasil dari kinerja kepala sekolah.
(e) Pertanyaan tentang pengetahuan diri maupun kepala sekolah yang berkaitan dengan diklat kepala sekolah.
(f) Pertanyaan yang berkaitan dengan perbedaan yang dirasakan guru ketika kepala sekolah sebelum diklat dan sesudah diklat kepala sekolah.
(g) Pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakang atau demografi.
Sebelum digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data, instrument pedoman wawancara terlebih dahulu divalidasi dengan menggunakan validasi pakar.
2) Lembar Observasi
Lembar observasi merupakan instrumen pendukung yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang (1) Proses penerapan konsep pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahan, dan (2) Hasil penerapan konsep pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahan.
Lembar observasi akan digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang berasal dari proses persekolah yang terjadi pada jenjang SD yang menjadi sampel penelitian. Lembar observasi berisi sejumlah item yang menjadi fokus observasi.
Aspek-aspek yang menjadi fokus observasi adalah:
(a) Berkaitan dengan pengalaman atau perilaku selama menjadi kepala sekolah.
(b) Berkaitan dengan proses persekolahan yang dilakukan oleh kepala sekolah
(c) Berkaitan dengan pendapat atau penilaian guru terhadap kepala sekolah.
(d) Berkaitan dengan hasil dari kinerja kepala sekolah.
(e) Pengetahuan diri maupun kepala sekolah yang berkaitan dengan diklat kepala sekolah.
(f) Pertanyaan yang berkaitan dengan perbedaan yang dirasakan guru ketika kepala sekolah sebelum diklat dan sesudah diklat kepala sekolah.
(g) Berkaitan dengan latar belakang atau demografi.
Sebelum digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data, instrumen lembar observasi terlebih dahulu divalidasi dengan menggunakan validasi pakar.
b. Instrumen data kuantitatif
Instrumen Pengukuran Kinerja Kepala Sekolah 1) Definisi konseptual Kinerja Kepala Sekolah
Kinerja kepala sekolah menduduki peran yang sangat penting dalam mencapai mutu pendidikan. Dengan demikian, kinerja kepala sekolah berarti hasil kerja kepala sekolah
dalam mencapai tujuan pendidikan.50 oleh karena itu kepala sekolah dituntut untuk mempunyai pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan yang memadai.
Menurut Mathis dan Jackson, kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan dan tidak dilakukan karyawan.
Kinerja karyawan adalah yang mempengaruhi seberapa banyak mereka memberikan kontribusi kepada organisasi yang antara lain termasuk (1) kuantitas keluaran (2) kualitas keluaran, (3) jangka waktu keluaran, (4) kehadiran di tempat kerja, (5) sikap kooperatif. Sementara itu Cushway (2002)
“kinerja adalah menilai bagaimana seseorang telah bekerja dibandingkan dengan target yang telah ditentukan.51
2) Definisi operasional Kinerja Kepala Sekolah
Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan pada tingkat mikro yang melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengerahan, dan pengontrolan, selain itu kepala sekolah juga bertugas sebagai educator (pendidik), manager, administrator, supervisor, leader (pemimpin), inovator, dan motivator.
Jika pengertian kinerja yang telah dikemukakan di atas diterapkan kepada kepala sekolah, maka kinerja kepala sekolah yaitu prestasi kerja atau hasil kerja yang dicapai oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok, fungsi, dan tanggung jawabnya. Kinerja kepala sekolah dapat diukur dari tiga aspek yaitu : (1) Perilaku sekolah pada saat melaksanakan fungsi-fungsi manajerial, (2) Cara melaksanakan tugas dalam mencapai hasil kerja yang tercermin dalam komitmen dirinya sebagai refleksi kompetensi yang dimilikinya, (3) Hasil dari pekerjaanya yang tercermin dalam perubahan kinerja sekolah yang dipimpinnya.
Dengan kata lain kinerja kepala sekolah adalah kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas yang
50 Budi Suhardiman, Studi Pengembangan Kepala Sekolah, Konsep dan Aplikasi.
51 Budi Suhardiman.
dimiliki kepala sekolah dalam menyelesaikan suatu pekerjaan di sekolah yang dipimpinya. Lebih luas lagi ukuran keberhasilan sekolah yang dapat ditampilkan oleh kepala skeolah sebagai berikut: (1). Keberhasilan dalam mengelola sekolah (2). Keberhasilan dalam mengelola kegiatan pembelajaran (3). Mengelola ketenagaan (4).
Mengelola sarana prasana (5). Mengelola keuangan (6).
Mengelola lingkungan solah (7). Serta megelola hubungan sekolah dengan masyarakat.52
3) Kisi-kisi Instrument Kinerja Kepala Sekolah
Kisi-kisi kinerja kepala sekolah bisa dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.2. Kisi-kisi Kinerja Kepala Sekolah No. Pernyataan
Variabel Kinerja kepala sekolah (Y)
Angket Jumlah
Item
Nomor Item 1. Menyelesaikan tugas dengan penuh
rasa tanggung jawab untuk mencapai hasil yang maksimal.
2 1,2
2. Keahlian sesuai dengan pekerjaan yang dikerjakan.
2 3,4
3. Menyelesaikan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab untuk
mencapai hasil yang maksimal.
2 5,6
4. Bekerja sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan oleh instansi.
2 7,8
5. Kualitas pekerjaan yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan.
2 9,10 6. Mengerjakan pekerjaan sesuai
dengan waktu yang ditetapkan.
2 11,12 7. Tingkat pencapaian volume kerja
yang dihasilkan telah sesuai dengan harapan/target yang
2 13,14
52 Budi Suhardiman.
No. Pernyataan
Variabel Kinerja kepala sekolah (Y)
Angket Jumlah
Item
Nomor Item diharapkan instansi.
8. Semua target kerja dapat di capai sesuai dengan waktu yang
ditetapkan.
2 15,16
9. Pekerjaan selalu sesuai dengan target yang sudah direncanakan.
2 17,18
10. Kuantitas pekerjaan yang dihasilkan sesuai waktu yang direncanakan.
2 19,20
11.
Pengetahuan akan pekerjaan dalam pembuatan sarana dan prasarana dapat membantu dalam mengatasi permasalahan yang muncul pada saat bekerja.
2 21,22
12.
Dengan keterampilan yang dimiliki dalam sarana dan prasarana, saya lebih menguasai bidang tugas yang saya kerjakan.
2 23,24, 25
13.
Selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan sebagai
pertimbangan dalam menyelesaikan pekerjaan.
2 26,27,28
14. Selalu memberikan gagasan- gagasan untuk kemajuan instansi tempat saya bekerja dalam bidang sarana-prasana.
2 29,30
15. Melakukan supervisi dan penilaian kinerja guru
2 31,32, 33
16.
Kreativitas yang tinggi dapat membantu dan mencapai hasil kerja yang baik.
2 34, 35, 36
No. Pernyataan
Variabel Kinerja kepala sekolah (Y)
Angket Jumlah
Item
Nomor Item 17.
Memiliki format penilaian dalam mensupervisi dan mengevaluasi sekolah dan pembelajaran
2 37, 38
4) Validitas dan realibitas a) Pengujian Validitas
Validitas butir pernyataan angket angket kinerja guru secara empirik diperoleh dengan dua prosedur.
Pertama menganalisis validitas isi butir pernyataan angket kinerja guru melalui penilaian pakar dan kedua menganalisis validitas konstruksi butir angket.
b) Validitas Isi
Penilaian pakar dilakukan dengan tujuan untuk menelaah ketepatan isi butir pernyataan angket ditinjau dari relevansi isi dan tujuan, konstruksi, dan kebahasaannya. Proses telaah pakar untuk validasi isi butir pernyataan instrumen kinerja guru melibatkan 4 orang pakar. Penentuan validitas isi menggunakan metode Lawshe. Setiap pakar menjawab pertanyaan dengan tiga pilihan jawaban yaitu (1) relevan, (2) berguna tapi tidak relevan, dan (3) tidak diperlukan, terhadap butir-butir instrumen yang ditelaah, dengan cara memberikan tanda centang (√) pada lembar yang disusun. Besaran nilai validitas isi ditunjukan dengan content validity ratio (CVR) yang diperoleh dengan rumus, CVR = (ne – N/2) / (N/2), dimana ne adalah jumlah anggota pakar yang menjawab “relevan”, N adalah jumlah total pakar.53
CVR merupakan derajat kesepakatan para pakar dari satu butir yang dapat mengekspresikan tingkat validitas isi melalui indikator tunggal yang berkisar dari -1 sampai 1.
53 Dr. Yusuf, M.Pd, Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dan Karakter (Pengukuran Terhadap Dampak Pembelajaran Berbasis Masalah), 1 1 (Jl.
Kerajinan 1 Blok C/13 Mataram: Sanabil, 2020).
Ketentuan; Jika CVR > 0, maka butir dinyatakan valid.
Jika CVR = 0, maka butir dinyatakan tidak valid, tetapi diperbaiki. Jika CVR < 0, maka butir
c) Konsistensi Internal
Setelah instrumen dinyatakan valid oleh pakar berdasarkan nilai CVR, instrumen kemudian diujicobakan pada 20 orang guru SD di kabupaten Lombok Tengah, yang bukan sampel penelitian. Ujicoba lapangan untuk menentukan konsistensi internal butir instrumen.
Perhitungan validitas butir menggunakan rumus korelasi product moment dari Carl Pearson54 dengan SPSS 2.1.
Ada dua metode yang dapat digunakan untuk menyatakan suatu butir instrumen valid atau tidak, yakni;
(1) nilai koefisien korelasi yang diperoleh dari hasil analisis dibandingkan dengan harga koefisien korelasi pada tabel dengan tingkat kepercayaan yang dipilih. (2) Jika koefisien korelasi hasil analisis yang diperoleh lebih dari atau sama dengan 0,30 maka instrumen dikatakan valid.55 Penelitian ini menggunakan cara yang pertama, butir konsisten jika nilai r > r(0,05;20).
d) Pengujian Reliabilitas
Instrumen yang baik wajib memenuhi ketentuan reliabilitas instrumen. Reliabilitas menyatakan keajegan instrumen penilaian diri peserta didik yang dikembangkan. Reliabilitas dilihat dari besaran koefisien reliabilitas Cronbach Alpha yang dihitung menggunakan SPSS 20. Standar reliabilitas instrumen mengikuti teori Kerlinger, bahwa reliabilitas atau keandalan sekurang- kurangnya adalah 0,70.56