PENGARUH DIKLAT PPCKS (PENDIDIKAN DAN PELATIHAN CALON KEPALA SEKOLAH) DAN DIKLAT PKS (PENGUATAN KEPALA SEKOLAH) TERHADAP KINERJA KEPALA SEKOLAH
JENJANG SD DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH
Oleh:
ELY SURYAWATI NIM : 200403043
Tesis Ini Ditulis Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Gelar Magister Pendidikan
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MATARAM 2021
Logo
THE EFFECTIVENESS OF PPCKS EDUCATION AND TRAINING OF CANDIDATE PRINCIPLES AND PKS TRAINING
(STRENGTHENING OF SCHOOL PRINCIPLES) ON THE PERFORMANCE OF PRINCIPLES OF ELEMENTARY SCHOOL
IN CENTRAL LOMBOK Oleh:
Ely Suryawati NIM : 200403043 Abstract
The purpose of this study was to analyze the process and results of applying the concepts of PPCKS and PKS education and training in school management practices and to analyze the effect of principal training through PPCKS and PKS on the performance of elementary school principals in Central Lombok Regency. The study used a mixed approach of quantitative and qualitative exploratory sequential types.
Involving 61 samples according to the Taro Yamane formulation which was then determined by cluster random sampling. Data were collected using descriptive qualitative analysis and a questionnaire in the form of a Likert scale which was then analyzed quantitatively. The results of the study found that: 1) The application of the concept of education and training that had been provided by LP2KS in the form of PPCKS and PKS had been implemented in Central Lombok Regency, 2) The results of the application of the PPCKS and PKS training concepts had been implemented by the principal of elementary schools in Central Lombok Regency with the following results: (a) Change leadership with maximum results, (b) Development of school work plans with not optimal results, (c) Facilities and infrastructure with maximum results, (d) Supervision and assessment of teacher performance with maximum results. 3) The PPCKS and PKS patterns of education and training have a significant effect on the principal's performance. The results of the pairwise comparisons test are:
PPCKS training is the best pattern in influencing the performance of school principals. The implication is that it is necessary to remind principals who have been trained so that the performance of principals can be improved.
Keywords: education, training, PPCKS, PKS and principal performance
PENGARUH DIKLAT PPCKS (PENDIDIKAN DAN PELATIHAN CALON KEPALA SEKOLAH) DAN DIKLAT PKS (PENGUATAN KEPALA SEKOLAH) TERHADAP KINERJA KEPALA SEKOLAH
JENJANG SD DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH Oleh:
Ely Suryawati NIM: 200403043 Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa proses dan hasil penerapan konsep pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahan dan menganalisa tentang pengaruh diklat kepala sekolah melalui PPCKS dan PKS terhadap kinerja kepala sekolah SD di Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian menggunakan pendekatan campuran antara kuantitatif dan kualitatif jenis exploratory sequential.
Dengan melibatkan 61 sampel sesuai formulasi Taro Yamane yang selanjutnya ditentukan secara cluster random sampling. Data dikumpulkan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuesioner dalam bentuk skala likert yang selanjutnya dianalisis secara kuantitatif.
Hasil penelitian menemukan bahwa: 1) Penerapan konsep pendidikan dan pelatihan yang telah diberikan oleh LP2KS berupa PPCKS dan PKS sudah diterapkan di Kabupaten Lombok Tengah, 2) Hasil penerapan konsep diklat PPCKS dan PKS telah diterapkan oleh kepala sekolah SD di Kabupaten Lombok Tengah dengan hasil : (a) Kepemimpinan perubahan dengan hasil maksimal, (b) Pengembangan rencana kerja sekolah dengan hasil belum maksimal, (c) Sarana dan prasarana dengan hasil belum maksimal, (d) Supervisi dan penilaian kinerja guru dengan hasil maksimal.
3) Diklat pola PPCKS dan PKS berpengaruh signifikan terhadap kinerja kepala sekolah. Hasil Uji pairwise comparisons adalah: Diklat PPCKS merupakan pola terbaik dalam memberikan pengaruh terhadap kinerja kepala sekolah. Implikasinya, perlu diingatkan kembali kepala sekolah yang sudah di diklat agar kinerja kepala sekolah dapat ditingkatkan.
Kata Kunci: pendidikan, pelatihan, PPCKS, PKS dan kinerja kepala sekolah
Motto:
“ Kepanikan adalah penyakit Ketenangan adalah separuh obat Dan Kesabaran adalah permulaan kesembuhan”
-AliBin Abi Thalib-
PERSEMBAHAN :
Tesis ini saya persembahkan untuk :
1. Ayahku tercinta H. Moh. Zar’an Saleem yang selalu memotivasi untuk selalu mengejar ilmu hingga akhir hayatnya.
2. Ibuku yang tak henti bibirnya basah berdo’a (Hj. Suniwarti) 3. Anak-Anakku (Kakak Ust.Nuriel dan Adek dr.Raffasya) yang
selalu memberikan rasa dalam kehidupan
4. Special Thanks to Suami tercinta (Agus Satriyawan) yang telah sabar dan selalu memberi dukungan
5. Kedua BIG TEACHER HEBAT (Dr. H. Maimun, M.Pd & Dr.
Yusuf, M.Pd) Terimakasih telah “bedengah” buat kami
6. Saudara seperjuangan Trio Pemburu eMPeDe (Bapak H.Wildan dan Miq L. Zaenuri)
7. Almamaterku UIN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, lindungan dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lingkungan kerja dan stres kerja dengan kinerja pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah.
Tesis ini dapat terwujud atas bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan sedalam-dalamnya kepada ;
1. Bapak Dr. H. Maimun, M.Pd. selaku dosen pembimbing I dan Bapak Dr. Yusuf, M.Pd. selaku pembibing II yang dengan sabar membimbing penulis sehingga tesis ini terselesaikan
2. Bapak Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag Selaku Rektor Universitas Islam Negeri Mataram.
3. Bapak Prof. Dr. H. Fahrurrozi, M.A. selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Mataram.
4. Dr. Mohammad Thohri, M.Pd selaku Ketua Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Mataram.
5. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah atas kesediannya memberikan izin penelitian.
6. Seluruh keluargaku tercinta (ayahku, ibuku, kedua putraku, suamiku, dan pamanku) yang senantiasa memberikan motivasi, dan do’a sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan lancar.
7. Rekan-rekan mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Mataram Angkatan 2020.
8. Pihak-pihak lain yang telah membantu penyelesaian tesis ini yang tidak dapat dituliskan satu persatu.
Mataram, 29 Desember 2021
Penulis
DAFTAR ISI
COVER LUAR ... i
LEMBAR LOGO ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN PENGUJI ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN ... vi
ABSTRAK ... vii
MOTTO ... viii
PERSEMBAHAN ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan dan Batasan Masalah ... 8
1. Rumusan Masalah ... 8
2. Batasan Masalah ... 8
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9
1. Tujuan Penelitian ... 9
2. Manfaat Penelitian ... 9
D. Definisi Operasional ... 10
1. Definisi pendidikan dan pelatihan ... 11
2. PPCKS dan PKS ... 14
3. Kinerja Guru ... 19
BAB II Penelitian Terdahulu yang Relevan dan Hipotesis Penelitian ... 2
1. Penelitian Terdahulu yang relevan ... 21
2. Kerangka Berfikir ... 25
3. Hipotesis Penelitian ... 28
BAB III Metode Penelitian ... 29
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 29
a. Jenis Penelitian ... 29
b. Pendekatan Penelitian ... 30
B. Populasi dan Sampel ... 30
a. Populasi ... 30
b. Sampel ... 31
C. Waktu dan Tempat Penelitian... 32
D. Variabel Penelitian ... 32
E. Desain Penelitian ... 32
F. Instrumen/Alat dan Bahan Penelitian ... 33
G. Teknik Pengumpulan Data/Prosedur Penelitian ... 40
H. Teknik Analisis Data ... 41
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan... 47
A. Hasil Penelitian ... 47
1. Deskripsi Data Kualitatif ... 47
2. Deskripsi Data Kuantitatif ... 66
B. Pembahasan ... 74
1. Data Kualitatif ... 74
2. Data Kuantitatif ... 87
BAB V Penutup ... 90
1. Kesimpulan ... 90
2. Saran ... 91
Daftar Pustaka ... 92 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 : Perbedaan Pendidikan Dan Pelatihan ... 15
Tabel 2.1 : Perbedaan dan Persamaan Penelitian Terdahulu ... 29
Tabel 3.1. Desain penelitian kuantitatif ... 40
Tabel 3.2. Kisi-kisi Kinerja Kepala Sekolah ... 45
Tabel 3.3. Macam Data dan Teknik Pengumpulanya ... 50
Tabel 3.4. Tabel Konversi Skor Angket Kinerja Kepala Sekolah ... 54
Tabel 4.1 Keadaan Lokasi Penelitian ... 59
Tabel 4.2 Daftar Penilaian Pakar ... 59
Tabel : 4.3. Rekapitulasi Skor Diklat ... 83
Tabel 4.4. Tabel Konversi Skor Angket Kinerja Kepala Sekolah ... 84
Tabel : 4.5 Uji Normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov ... 85
Tabel : 4.6 Uji Homogenitas dengan Levene Statistic ... 85
Tabel : 4.7 Analisys One Way ANOVA Tabel ... 86
Tabel : 4.8 Multiple Comparisons ... 87
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 : Alur diklat calon kepala sekolah ... 19 Gambar 1.2 : Alur diklat penguatan kepala sekolah ... 22 Gambar 2.1 Diagram Kerangka Pikir ... 33
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan mutu sekolah telah menjadi perhatian dunia yang paling utama dalam pendidikan. Pada prinsipnya peningkatan mutu menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai manfaat lebih tinggi serta sesuai dengan kebutuhan. Sesuatu yang bermanfaat tidak berguna apabila tidak sesuai dengan kebutuhan dan demikian sebaliknya. Nilai manfaat dan kesesuaian dengan kebutuhan pelanggan, masyarakat, dunia kerja merupakan aspek-aspek mutu yang amat penting. Dalam lingkungan sistem pendidikan, khususnya dunia persekolahan tuntutan akan pengembangan penjaminan mutu atau quality assurance merupakan gejala yang wajar karena penyelenggaraan pendidikan merupakan bagian dari public accountability.
Setiap komponen stakeholders pendidikan baik orang tua, masyarakat, dunia kerja, maupun pemerintah dalam peranan dan kapasitasnya masing-masing memiliki kepentingan terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Memberikan jaminan mutu pendidikan jauh lebih kompleks dibandingkan dengan penjaminan mutu yang dilakukan oleh dunia industri. Produk yang dihasilkan oleh dunia industri berupa barang dapat dengan mudah dilihat sedangkan produk yang dihasilkan oleh sistem pendidikan berupa jasa yang bersifat tidak nyata sehingga tidak mudah menentukan mutunya.
Menentukan mutu sekolah tidak cukup hanya melihat mutu lulusannya tetapi lebih kepada bagaimana proses menghasilkan suatu lulusan. Suatu proses yang berkualitas akan menghasilkan produk yang berkualitas dan sebaliknya sehingga penjaminan mutu pendidikan lebih berorientasi pada proses dibandingkan dengan hasil.
Misalnya, mutu penyelenggaraan proses pembelajaran dapat dilihat dari unsur-unsurnya sebagai indikator mutu, antara lain, tenaga pengajar, kurikulum, sarana dan prasarana, produktivitas, dan mutu lulusan.
Sebagaimana halnya produk barang, pendidikan dituntut untuk
menghasilkan produk bermutu. Suatu produk dapat dianggap bermutu apabila memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan kebutuhan, tujuan, dan harapan pelanggan secara terpadu, harmonis dan sinergi. Oleh karena itu , untuk bisa mencapai harapan dan tujuan yang dimaksud diatas perlu adanya upaya-upaya dari pemerintah. Termasuk memperbaiki perilaku-perilau yang tidak baik di dalam dunia pendidikan khususnya kepala sekolah.1 Salah satu upaya pemerintah yang banyak kita dengar sejak tahun 2016 yakni diklat penguatan kepala sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja kepala sekolah yang sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Kemampuan kinerja seorang kepala sekolah tergantung pada diri kepala sekolah itu sendiri. Oleh karena itu, usaha-usaha peningkatan kinerja kepala sekolah sebaiknya bersumber pada kepala sekolah itu sendiri, yang merupakan fungsi utama dari fungsi manajemen, yaitu bagaimana mendorong pegawai agar mau bekerja lebih giat, kompak dan efektif.2 Pencapaian kinerja kepala sekolah dipengaruhi oleh beberapa variabel, antara lain kepemimpinan, pengetahuan, dan latar belakang pendidikan. Kinerja dalam hal ini merupakan penilaian tingkat kerja yang sesungguhnya telah dilaksanakan dengan jelas.3 Namun pada kenyataannya tidak semua kepala sekolah mampu untuk melaksanaakan tugas dan fungsinya, untuk itu agar kinerja kepala sekolah lebih meningkat, maka pemerintah harus mampu menciptakan seorang pemimpin yang sedemikian rupa, sehingga tiap individu dapat memotivasi diri mereka sendiri untuk mau bekerja lebih giat lagi.
Kinerja yang baik merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap organisasi. Kinerja yang baik dalam suatu organisasi tidak dapat dilepaskan dari kinerja para pemimpin dalam melaksanakan
1 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indenesia, “Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah” Nomor 6 (9 April 2018).
2Agus Anjar, dkk., “Pengaruh Perilaku Inovatif, Terhadap Kinerja Kepala Sekolah Dasar Di Kabupaten Labuhanbatu,” Jurnal Education and development Institut Pendidikan Tapanuli Selatan Vol.8 No.3 (t.t.): 26. Muhamad Nazim,
“Hubungan Antara Lingkungan Kerja Dan Stres Kerja Dengan Knerja Pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah,” 2018, t.t., 24.
3Ade Mulyani, “Pengaruh Kinerja Kepala Sekolah Dan Kinerja Guru Terhadap Mutu Pembelajaran Pada SMK Sekabupaten Purwakarta,” Jurnal Adminisistrasi Pendidikan Vol.XIV No.1 (2012).
tugas dan tanggung jawabnya. Dengan demikian, maju atau tidaknya suatu organisasi sangat ditentukan oleh peran dan kualitas pemimpinnya. Kinerja kepala sekolah dikatakan meningkat dan semakin berkualitas apabila individu yang ada dalam organisasi berhasil mencapai standar kerja yang telah ditetapkan oleh organisasi dan dijadikan sebagai acuan penentu keberhasilan individu dalam bekerja.4 Mengelola kinerja kepala sekolah sangat diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Agar mampu mengelola kinerja pegawai, pihak organisasi perlu mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai karena dengan memahami hal tersebut, organisasi dengan mudah mencari solusi dan keputusan yang efektif berkaitan dengan kinerja pegawai.5
Kinerja kepala sekolah masih menjadi permasalahan yang selalu dihadapi oleh pihak organisasi6 termasuk juga Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah. Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah sebagai organisasi merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah di bidang pendidikan yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas dan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah merupakan salah satu instansi pemerintah yang memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pemerintah memerlukan kepala sekolah yang kompeten dan berkualitas agar tujuan, visi, misi dapat terwujud atau tercapai sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.7 Hal ini dikarenakan kepala sekolah merupakan sumber daya yang ampuh dalam mencapai tujuan dan berbagai sasaran instansi.
4 Muhamad Nazim, “Hubungan Antara Lingkungan Kerja Dan Stres Kerja Dengan Knerja Pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah.”. Ade Mulyani, “Pengaruh Kinerja Kepala Sekolah Dan Kinerja Guru Terhadap Mutu Pembelajaran Pada SMK Sekabupaten Purwakarta.”
5 Devi Shinta Prahesti, I Gede Riana, dan I Made Artha Wibawa, “Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Terhadap Kinerja Karyawan Dengan OCB Sebagai Variabel Mediasi,” E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, 30 Juli 2017, 2761, https://doi.org/10.24843/EEB.2017.v06.i07.p06.
6 Prahesti, Riana, dan Wibawa.
7Doni Marlius dan Andre Vebrian, “Pengaruh Disiplin Kerja dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja ASN Pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Barat” 04, no. 02 (2020): 10.
Hasil observasi awal dengan sejumlah guru di kabupaten Lombok Tengah menunjukkan bahwa kinerja seorang kepala sekolah masih banyak yang belum memadai hal terkecil dapat dilihat dari waktu kehadiran seorang kepala sekolah di sekolahnya, dengan alasan rapat dan sebagainya. Hal itu membuat seorang guru mengikuti arus kepala sekolahnya. Disamping itu, keberadaan kepala sekolah merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah instansi atau organisasi, khususnya di Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah. Karena dengan adanya kepala sekolah yang berkualitas akan berpengaruh terhadap kualitas kerja guru di sekolah dan pada akhirnya akan berpengaruh pada kinerja instansi.8
Faktor kepala sekolah sebagai salah satu yang mempengaruhi keefektifan kinerja guru bukan hanya kepemimpinan saja, namun juga ada faktor lain seperti keterampilan, motivasi kerja, latar belakang pendidikan, juga ada faktor diluar kepala sekolah itu sendiri, seperti budaya sekolah, dan sebagainya. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seorang kepala sekolah beserta dengan keempat kompetensi di dalamnya. pendidikan dan pelatihan kepemimpinan guru dan iklim kerja berpengaruh positif terhadap kinerja guru sekolah dasar se Kabupaten Lombok tengah, baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian lain dilakukan oleh Gagnon pada tahun 2012 yang menemukan bahwa dengan penggunaan tipe kepemimpinan yang tepat dengen kondisi organisasi dapat memberikan pengaruh positif di lingkungan organisasi, karyawan akan semakin termotivasi untuk bekerja lebih baik sehingga kinerjanya akan meningkat.9
Untuk mencapai tujuan pendidikan pemimpin atau kepala sekolah harus mempunyai keterampilan untuk dapat melaksanakan fungsi-fungsinya dan tugas-tugasnya, maka para manajer membutuhkan berbagai kemampuan dan keterampilan dasar yaitu:
keterampilan membuat konsep (conceptual skill), keterampilan
8Komunitas Guru Kelas, “Observasi bersama guru SD di komunitas guru kelas.,”
5/ pukul 10.00wita 2021.
9Antiek Yunarningsih dan Djarot Tri Bowo Santoso, “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Pengalaman Diklat Terhadap Kompetensi Profesional Guru,” 2012, 7.
melaksanakan administrasi (administrative skill), keterampilan bekerja sama (human relationship skill), dan keterampilan melaksanakan secara teknis (technical skill).10 Keempat keterampilan manajerial tersebut, diperlukan untuk melaksanakan tugas manajerial secara efektif dan efisien. Adapun kriteria pemimpin ideal yang ingin diketahui pada penelitian ini diantaranya : 1) Membuat program dan perencanaan sekolah, 2) Melakukan pengelolaan Standar Nasional Pendidikan yang sesuai dengan 8 standar, 3) Melakukan supervisi dan kewirausahaan, 4) Menjalankan kepemimpinan sekolah serta mengelola dan menerapkan system informasi manajemen sekolah.
Oleh karna itu, pengelolaan pendidikan memerlukan pemimpin yang potensial dan kompetensi serta pendidikan dan pelatihan sehingga seluruh pengelolaan pendidikan dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Pendidikan dan pelatihan adalah suatu proses yang akan menghasilkan suatu perubahan perilaku sasaran diklat. Secara nyata perubahan perilaku itu berbentuk peningkatan mutu kemampuan dari sasaran diklat. Pendidikan di artikan sebagai usaha sadar yang sistematis dalam mengembangkan potensi manusia secara optimal, baik pola pikir atau sikap dan perilaku yang ada pada dirinya agar menjadi manusia seutuhnya. 11
Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Kepala Sekolah ini dirancang oleh Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang bekerjasama dengan lembaga-lembaga seperi P4TK, LPMP serta universitas yang dianggap kredibel dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh LPPKS salah satunya Lembaga Penyelenggara Diklat (LPD).12
10 Hendro Widodo, “Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah (Studi Kasus Di SD Muhammadiyah Ambarketawang 3 Gamping Sleman),” 2017, 9. Widodo.
Ganjar Winata, “Refleksi Keterampilan Manajerial, Komunikasi Interpersonal dan Budaya Mutu Berfokus pada Perilaku Anggota Organisasi (Organizational Citizenship Behavior),” Inovasi Pembangunan : Jurnal Kelitbangan 5, no. 02 (1 Agustus 2017): 121–36, https://doi.org/10.35450/jip.v5i02.40.
11 Dedeh Sofia Hasanah, “Pengaruh Pendidikan Latihan (diklat) Kepemimpinan Guru Dan Iklim Kerja Terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Se Kecamatan Babakancikao Kabupaten Purwakarta” 11 (2010): 16.
12Ani Safitri dan Rahmi Alendra Yusiyaka, “Pengelolaan Diklat Penguatan
Dari hasil wawancara dengan kepala bidang GTK Kabupaten Lombok Tengah, diklat penguatan kepala sekolah telah dilaksanakan sejak tahun 2016 dengan 2 cara yaitu PPCKS (Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala sekolah) dan PKS (Penguatan Kepala Sekolah).13
Dewasa ini, Keberhasilan suatu lembaga pendidikan merupakan salah satu bentuk upaya dari pemerintah dan pegawai, dari observasi awal menunjukkan bahwa masalah yang harus mendapat perhatian khusus oleh pemerintah Kabupaten Lombok Tengah yakni tentang kinerja seorang kepala sekolah, hal ini dikarenakan pemangku kebijakan terlalu bebas dan menutup mata dalam mengambil tindakan untuk mengangkat pemimpin yang kurang mampu, sehingga daya saing dengan daerah-daerah lain cenderung kurang dalam berkompetisi.14 Oleh karena itu, dalam hal ini sangat dibutuhkan kinerja seorang pemimpin yang baik untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga pemerintah memberikan pendidikan pendidikan dan pelatihan khusus untuk melatih kinerja kepala sekolah.
Adapun kelebihan dan kekurangan pada diklat yang diberikan oleh pemerintah khususnya bagi kepala sekolah yang sudah menjabat sebagai kepala sekolah diberikan kesempatan mengikuti penguatan kepala sekolah selama 9 hari penuh, seluruh peserta diklat mendapatkan materi-materi yang berkaitan dengan persekolahan.
Diantaranya kebijakan kementerian, kebijakan pemerintah daerah, teknis analisis manajemen, pengembangan RKS dan pelaporan, pengelolaan keuangan, pengelolaan kurikulum, pengelolaan PTK, pengelolaan peserta didik, pengelolaan sarpras, supervisi dan PK Guru, supervisi dan PK Tendik, rencana PKB, kepemimpinan perubahan, pengembangan kewirausahaan, pengembangan sekolah berdasarkan 8 SNP.15 Kegiatan ini diawali dengan pre-test dan
Kepala Sekolah Untuk Meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah (Studi Kepala Sekolah SDN Di Kabupaten Sukabumi,” t.t., 11.
13Kabid GTK, “Wawancara bersama Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikandi,” 15 April 2021.
14 Kabid GTK.
15 Utomo, dkk., Pengembangan Sekolah Berdasarkan 8 SNP SPPKS-RPS, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Jakarta, 2019).
diakhiri dengan post-test untuk mengukur tingkat keberhasilan Diklat. Selain itu, peserta juga mendapatkan materi literasi digital yang digunakan untuk menguatkan program literasi di sekolah sebagai tantangan dari era 4.0 dan syarat mutlak kepala sekolah menguasai IT.16 Sedangkan kekurangannya adalah waktu yang diberikan belum maksimal, karena dengan begitu banyak materi dengan rentan waktu 9 hari sangat kurang.
Seputar pengelolaan sekolah sejatinya bukan barang baru bagi kepala sekolah yang mengikuti diklat, karena saat ini seluruh peserta sudah menjadi pimpinan di unit sekolah masing-masing. Akan tetapi, setiap sesi terdapat diskusi dan curah pendapat di setiap materi, sehingga ada berbagai macam pengalaman yang disampaikan oleh peserta diklat yang bisa dijadikan contoh pengembangan untuk diterapkan disekolah masing-masing. Peserta Diklat ini diambil datanya dari Dapodik (Data Pokok Pendidik) sekolah dan terdaftar sebagai sekolah inti di sekolahnya. Pelaksanaan Diklat dipandu oleh pengajar yang memiliki lisensi sebagai master trainer dari lembaga yang terjamin kualitasnya seperti LPMP dan LP2KS.17
Dari hasil pemantauan awal menunjukkan bahwa ada beberapa sekolah yang kepala sekolahnya telah memiliki sertifikat NUKS (Nomor Unik Kepala Sekolah) dan telah diberikan penguatan kepala sekolah serta pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah masih lalai dalam menjalankan tugasnya. Hal ini dapat dilihat dari tugas guru dalam membuat perangkat pembelajaran masih kurang, keaktifan guru dalam mengikuti kegiatan KKG dan daftar kehadiran guru di sekolah masih terlihat banyak yang kosong.
Berdasarkan uraian di atas, maka pada Kabupaten Lombok Tengah dalam rangka meningkatkan kinerja kepala sekolah perlu adanya peran kepemimpinan yang kuat. Namun dari hasil wawancara dengan beberapa guru menunjukkan kinerja kepala sekolah masih cukup rendah, hal ini terlihat dari sekolah kurang mengembangkan
16 Rizki Trianto Rokhim, dkk., Pengembangan Literasi Digital MPPKS-DIG, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Jakarta, 2019).
17Joko Priyadi, “Pengelolaan Latihan Kepemimpinan Pada Diklat Calon Kepala Sekolah di Lembanga pengembangan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS),”
2017, 2017.
keterampilan guru dan tenaga pendidik secara terus menerus secara berkelanjutan, guru melaksanakan tugasnya hanya sekedarnya saja tanpa persiapan materi maupun metode pengajaran yang akan digunakan, guru bermalas-malasan dalam mengajar, guru tidak sesuai dengan jurusannya, halaman tidak tertata rapi, ruang kelas yang tidak kondusif dan lain sebagainya. Dari hasil pengamatan lapangan, peneliti tidak menemukan adanya administrasi sekolah yang tertata dengan baik.18
Kinerja guru hampir dipastikan berkaitan langsung dengan kinerja seorang kepala sekolah. Berdasarkan hasil wawancara diatas hal ini mengindikasikan bahwa kinerja kepala sekolah yang ada di Kabupaten Lombok Tengah belum sepenuhnya terlaksana dengan baik. Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Diklat Penguatan Kepala Sekolah melalui PPCKS dan PKS Terhadap Kinerja Kepala Sekolah SD Di Kabupaten Lombok Tengah.
B. Rumusan Dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan, dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana proses penerapan pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahan?
b. Bagaimana hasil penerapan pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahan?
c. Apakah diklat kepala sekolah melalui PPCKS dan PKS berpengaruh signifikan terhadap kinerja kepala sekolah SD di Kabupaten Lombok Tengah?
2. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah terlihat bahwa permasalahan terjadi sangat luas. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua permasalahan yang terjadi mampu
18Ely Suryawati, “Pengamatan Peneliti,” 12 Februari 2021.
diselesaikan dengan satu penelitian. Hal ini dikarenakan berbagai keterbatasan yang ada, baik keterbatasan tenaga, waktu dan biaya.
Adanya berbagai keterbatasan penelitian ini di batasi pada masalah:
a. Diklat Penguatan kepala sekolah yang dimaksud dalam penilitian ini adalah pendidikan dan pelatihan kepala sekolah yang diselenggarakan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan dalam rangka meningkatkan kinerja kepala sekolah sehingga kualitas sekolah semakin membaik. Pada penelitian ini fokus kepada diklat PPCKS (Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah) dan PKS (Penguatan Kepala Sekolah)
b. Kinerja kepala sekolah yang akan diteliti adalah tugas manajerial kepala sekolah dibatasi oleh indikator sebagai berikut :
1) Menjalankan kepemimpinan perubahan 2) Pengembangan rencana kerja sekolah 3) Sarana dan prasarana
4) Supervisi dan penilaian kinerja guru C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menganalisa:
a. Proses penerapan pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahannya
b. Hasil penerapan pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahan.
c. Pengaruh diklat kepala sekolah melalui PPCKS dan PKS terhadap kinerja kepala sekolah SD di Kabupaten Lombok Tengah.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
a. Manfaat Teoritik
1) Untuk menambah referensi terhadap kajian pendidikan terkait dengan diklat kepala sekolah melalui Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah (PPCKS). Diklat
calon kepala sekolah merupakan salah satu upaya untuk membekali calon kepala sekolah/madrasah dengan kompetensi yang relevan. Sedangkan Penguatan Kepala Sekolah (PKS) merupakan pendidikan dan pelatihan untuk kepala sekolah yang sedang menjabat sebagai kepala sekolah upaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di sekolah sesuai dengan permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah sebagai pengganti peraturan Menteri Pendiidkan Nasional Nomor 28 Tahun 2010.
2) Sebagai bahan acuan dan referensi pada penelitian sejenis yang dilakukan dimasa yang akan datang.
b. Manfaat Praktis
Sedangkan secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan berguna bagi berbagai pihak, antara lain:
1) Bagi Dinas Pendidikan.
Bagi Dinas Pendidikan, diharapkan dapat sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil sebuah kebijakan dan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi pada Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah agar terus meningkatkan kompetensi kepala sekolah, salah satunya dengan memberikan pelatihan – pelatihan, serta penguatan-penguatan .
2) Bagi Guru
Bagi guru agar dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan kinerja dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, agar dapat meningkatkan kualitas mengajar di sekolah.
D. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Pendidikan dan pelatihan (Diklat)
Istilah diklat merupakan singkatan dari pendidikan dan pelatihan. Bisa dikatakan dua kata ini telah menyatu dan membentuk satu pengertian. Istilah diklat ini banyak digunakan
dalam berbagai bidang seperti pendidikan dan manajemen.
Menurut H.A.R. Tilaar dalam pengertian pendidikan dan pelatihan dibedakan.19 Pelatihan mengasumsikan adanya dasar pendidikan formal. Pelatihan mempunyai konotasi menguasai keterampilan- keterampilan tertentu baik keterampilan fisik maupun mental akademik yang diperlukan dalam profesi tertentu. Pelatihan, dengan demikian dikaitkan dengan dunia kerja dan produktifitas.
Pendidikan sebaliknya mempunyai orientasi kepada pengembangan pribadi seseorang.
Diklat adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seorang individu.20 Pengertian tersebut menunjukan bahwa pelatihan adalah upaya pembelajaran, yang diselenggarakan oleh organisasi (instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan dan lain sebagainya) untuk memenuhi kebutuhan atau untuk mencapai tujuan organisasi.21 Hal senada diungkapkan oleh Nitisemito, pelatihan adalah suatu kegiatan dari perusahaan yang bermaksud untuk dapat memperbaiki dan mengembangkan sikap, tingkah laku keterampilan dan pengetahuan dari para karyawan yang sesuai dengan perusahaan yang bersangkutan.22 Jadi dapat disimpulkan bahwa diklat adalah sebuah proses yang terstruktur yang di dalamnya ada suatu kegiatan untuk pengembangan dan perbaikan kinerja para pesertanya guna meningkatkan tujuan-tujuan organisasinya.
19 Ace Suryadi dan H.A.R. Tilaar, Analisis Kebijakan Pendidikan, Suatu Pengantar (Bandung: Remaja Rosdakarya., 2008).
20 Henry Simamora, Manajemen Sumber Daya Manusia, cetakan pertama (Jakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN., t.t.).
21 Safitri dan Yusiyaka, “Pengelolaan Diklat Penguatan Kepala Sekolah Untuk Meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah (Studi Kepala Sekolah SDN Di Kabupaten Sukabumi.”
22Dedeh Sofia Hasanah, “Pengaruh Pendidikan Latihan (DIKLAT)
Kepemimpinan Guru dan Iklim Kerja Terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Se Kecamatan BabakancikaoKabupaten Purwakerta,” Jurnal Penelitian Pendidikan, 02, 11 (Oktober 2010).
Tabel 1.1
Perbedaan Pendidikan Dan Pelatihan23
Pelatihan Pendidikan
Dilihat dari segi waktu, pendidikan memakan waktu lebih lama, pendidikana berlangsung sepanjang hayat manusia
Pelatiahan haya untuk jangka waktu tertentu pada kondisi tertentu,masanya relatif pendek
Pendidikan tidak memandang batas umur, tidak hanya untuk kebutuhan perusahaan,tetapi berguana dalam berbagai hal.
Sasaran pelatihan dikhususkan bagi orang dewasa,umumnya sebagai pemenuh kebutuhan sebuah perusahaan
Pendidikan umumnya bersifat konvesional
Sedangkan pelatihan bersipat lebih modern dan flexsible Pendidikan sifatnya lebih
teoritis.
Pelatihan sifatnya lebih keperaktik
Pendidikan lebih toleran terhadap peningkatan kemampuan kongitif dan afektif seseorang.(perubahan perilaku dan pola
fikir)/kemampuan untuk mengetahui sesuatu(knowing something).
Pelatihan menginginkan terjadinya perubahan dan peningkatan keterampilan (skill) , lebih mengacu pada aspek
psikomotorik/kemampuan untuk melakukan
sesuatu(doing something)
Pendidikan tidak membatasi aspek yang ingin
dipelajari.(bersipat luas
Materi yang disajikan haya mengacu pada satu aspek kompetensi yang ingin dicapai (khusus) “just in time” yang artinya pembelajaran untuk satu kompetensi atau
keterampilan tertentu pada saat yang diperlukan
23 Henry Simamora, Manajemen Sumber Daya Manusia. 1887-257
Beberapa hal dalam pendidikan dan pelatihan yang memiliki karakteristik yang sama yaitu : (1) diklat sama-sama membuat orang belajar. (2) terjadinya proses transfer ilmu pengetahuan, informasi dari narasumber kepada peserta diklat dan keterampilan. (3) membutuhkan sumber dan sarana belajar yang mendukung. (4) bersifat dinamis. (5) memiliki tujuan akhir untuk meningkatkan kualitas pada pesertanya.24
Adapun tujuan diklat yaitu : (1) memperbaiki kinerja, (2) memutahirkan keahlian para pegawai sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, (3) membantu memecahkan persoalan operasional, (4) mengorientasikan pegawai terhadap organisasi, (4) mengorientasikan pegawai terhadap organisasi, (5) memenuhi kebutuhan-kebtuhan pertumbuhan pribadi, (6) untuk meningkatkan efisiensidan efektifitas kerja pegawai dalam mencapaisasaran- sasaran yang telah ditetapkan.25
Untuk mengetahui keberhasilan sebuah pendidikan dan pelatihan yang dilakukan, dalam kegiatan ini diperlukan evaluasi.
Evaluasi merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kegiatan pendidikan dan pelatihan. Tujuan evaluasi dalam kegiatan diklat diantaranya : (1) untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh peserta diklat dalam suatu periode proses belajar mengajar tertentu, (2) untuk mengetahui kedudukan peserta dalam kelompoknya, (3) untuk mengetahui tingkat usaha yang telah dilakukan para peserta dalam diklat, (4), untuk mengetahui efisiensi metode diklat yang digunakan.26
Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan diklat yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah yaitu kompetensi manajerial, kewirausahaan, supervise, kepemimpinan, kepribadian dan sosial, penguatan pendidikan karakter dan pengembangan sekolah berdasarkan 8 Standar Nasional Pendidikan sehingga
24 Sulistiyani,dkk., Manajemen Sumber Daya Manusia (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2003).
25 Sulistiyani,dkk.
26Dedeh Sofia Hasanah, “Pengaruh Pendidikan Latihan (DIKLAT)
Kepemimpinan Guru dan Iklim Kerja Terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Se Kecamatan BabakancikaoKabupaten Purwakerta.”
diharapkan dapat mengembangkan sumber daya manusia yang ada di sekolah.
2. PPCKS (Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah) dan PKS (Penguatan Kepala Sekolah)
a. Pengertian Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah (PPCKS)
Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah (PPCKS) merupakan Diklat Calon Kepala Sekolah dalam salah satu upaya untuk membekali calon kepala sekolah/madrasah dengan kompetensi yang relevan.27 Oleh karena itu, pengembangan mutu proses pembelajaran diklat difokuskan pada upaya untuk mewujudkan kepala sekolah yang amanah, profesional dan berjiwa wirausaha. Untuk menjamin muatan atau isi materi pembelajaran diklat secara terstandar, diperlukan penyusunan program diklat calon kepala sekolah oleh pihak terkait Master Trainer. Dalam implementasinya, penyusunan program diklat calon kepala sekolah dilaksanakan oleh lembaga penyelenggara diklat dalam hal ini diselenggarakan oleh LPPKS.28
b. Materi Diklat PPCKS
Materi yang disampaikan pada saat diklat calon kepala sekolah diantaranya adalah (1). Literasi digital, (2). Teknis analisis manajemen, (3). Pengembangan rencana kerja sekolah, (4).
Pengelolaan keuangan, (5) pengelolaan peserta didik, (6). Sarana prasarana, (7). Pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan, (8).
Supervisi dan penilaian kinerja guru, (9). Supervisi dan penilaian kinerja tenaga kependidikan, (10). Rencana penilaian kinerja berkelanjutan, (11). Kepemimpinan perubahan, (12).
Pengembangan kewirausahaan, (12). Pengembangan sekolah berdasarkan delapan standar nasional pendidikan.29
c. Proses Pelaksanaan Diklat PPCKS
27 Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, “Petunjuk TeknisPenyusunan Program Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah” (LembagaPengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah, 2013).
28 Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.
29Sumarso, “Modul DIklat Penguatan Kepala Sekolah,” Goeroendeso (blog), 21 Oktober 2019, https://goeroendeso.wordpress.com/2019/09/24/modul-diklat- penguatan-kepala-sekolah/.
Proses pelaksanaan diklat calon kepala sekolah melalui beberapa tahapan yang sudah ditentukan, antara lain (1). Kepala Dinas Pendidikan menunjuk lembaga penyelenggara diklat calon kepala sekolah atau disebut P3KS (Penyelenggara Program Penyiapan Kepala Sekolah), (2). P3KS Merencanakan Diklat Calon Kepala Sekolah, (3). Kepala Dinas Pendidikan membuat undangan peserta diklat, (4). Kepala Sekolah menyampaikan undangan kepada gurunya yang mengikuti diklat CKS, (5). Guru menerima undangan diklat resmi dari Dinas Pendidikan yang disampaikan oleh kepala sekolah, (6). P3KS melaksanakan diklat calon kepala sekolah dengan pendekatan IN 1 = 70 jam, ON= 200 jam, IN 2 = 30 jam total 300 jam, (7). P3KS membuat rekaptulasi hasil diklat CKS, (8). P3KS melakukan proses sertifikasi, (9).
P3KS menyusun laporan hasil pelaksanaan Diklat CKS dan menyerahkan ke Dinas Pendidikan (10). P3KS menyusun laporan hasil pelaksanaan Diklat CKS dan sertifikat kemudian diserahkan ke Dinas Pendidikan, (11). Dinas Pendidikan membuat pengumuman kelulusan hasil Diklat Calon Kepala Sekolah dan Menyerahkan sertifikat kepala sekolah, (12). Peserta menerima sertifikat kepala sekolah, dan yang terakhir (13). P3KS mengirim salinan sertifikat ke LPPKS.30
30 Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, “Petunjuk TeknisPenyusunan Program Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah.”
Gambar 1.1
Alur diklat calon kepala sekolah d. Hasil Capaian PPCKS
Agar pelaksanaan penyusunan program diklat calon kepala sekolah berlangsung secara efektif dan efisien, dan hasilnya dapat dipetanggung jawabkan, diperlukan kecermatan dalam menganalisis AKPK sebagai acuan dalam penyusunan program diklat calon kepala sekolah.31 Pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah (PPCKS) ini tidak mudah dan jauh berbeda dengan diklat-diklat yang pernah ada. Diperlukan pemahaman dan pengalaman yang baik dan komprehensif untuk bisa menyelenggarakan diklat ini dengan akurasi dan presisi yang tepat.
Tapi bagaimanapun juga ini sebuah upaya yang bisa kita tempuh untuk melahirkan generasi baru kepala sekolah/madrasah yang lebih baik lagi.
31 Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.
3. Penguatan Kepala Sekolah (PKS)
a. Pengertian Penguatan Kepala Sekolah (PKS)
Penguatan Kepala Sekolah (PKS) merupakan pendidikan dan pelatihan untuk kepala sekolah yang sedang menjabat sebagai kepala sekolah upaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di sekolah. Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah sebagai pengganti peraturan Menteri Pendiidkan Nasional Nomor 28 Tahun 2010, menyatakan bahwa salah satu syarat mengikuti proses pengangkatan menjadi calon kepala sekolah harus memiliki Surat Tanda Tamat Pendidikan Calon Kepala Sekolah (STTP). Bagi kepala sekolah yang sedang aktif dan diangkat sebelum diundangkannya Permendikbud No.6 Tahun 2018 tertanggal 9 April 2018, dan belum memiliki STTP calon kepala sekolah wajib mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan penguatan kepala sekolah.32
b. Materi Diklat PKS
Materi yang disampaikan pada saat diklat calon kepala sekolah diantaranya adalah (1). Literasi digital, (2). Teknis analisis manajemen, (3). Pengembangan rencana kerja sekolah, (4).
Pengelolaan keuangan, (5) pengelolaan peserta didik, (6). Sarana prasarana, (7). Pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan, (8).
Supervisi dan penilaian kinerja guru, (9). Supervisi dan penilaian kinerja tenaga kependidikan, (10). Rencana penilaian kinerja berkelanjutan, (11). Kepemimpinan perubahan, (12).
Pengembangan kewirausahaan, (12). Pengembangan sekolah berdasarkan delapan standar nasional pendidikan.33
c. Alur diklat penguatan kepala sekolah
Proses yang dilalui pada diklat penguatan kepala sekolah dapat dilihat pada gambar dibawah ini, pada gambar dibawah dapat dilihat bahwa alur diklat penguatan kepala sekolah dimulai dari (1). kepala dinas pendidikan menunjuk (LPD) lembaga penyelenggara diklat penguatan kepala sekolah (2). Dinas
32 Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.
33Sumarso, “Modul DIklat Penguatan Kepala Sekolah.”
pendidikan melalui operator dinas memilih peserta diklat penguatan kepala sekolah melalui sim diklat, (3). LPD mengupload data PKS untuk penguatan diklat, (4). LPPKS memverifikasi data PKS untuk dilanjutkan ke diklat penguatan kepala sekolah, (5).
LPD membuat kegiatan diklat penguatan kepala sekolah melalui panitia yang sudah dibentuk, (6). Panitia membuat kelas diklat, mengunduh kelengkapan diklat,menginput kehadiran peserta, menginput nilai pre-test dan post test, (7). Pengajar diklat melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar, mengunduh form penilaian dan mengunggah penilaian, (8). Panitia memverifikasi data hasil diklat, menutup kelas diklat, dan mencetak sertifikat, (9).
Kepala sekolah menerima hasil diklat penguatan kepala sekolah.34
Gambar 1.2
Alur diklat penguatan kepala sekolah d. Hasil capaian
Agar pelaksanaan penyusunan program diklat penguatan kep ala sekolah berlangsung secara efektif dan efisien, dan hasilnya
34 Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, “Petunjuk TeknisPenyusunan Program Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah.”
dapat dipetanggung jawabkan, diperlukan kecermatan dalam menganalisis AKPK sebagai acuan dalam penyusunan program diklat penguatan kepala sekolah.35 Penguatan kepala sekolah ini tidak mudah dan jauh berbeda dengan diklat-diklat yang pernah ada. Diperlukan pemahaman dan pengalaman yang baik dan komprehensif untuk bisa menyelenggarakan diklat ini dengan akurasi dan presisi yang tepat. Tapi bagaimanapun juga ini sebuah upaya yang bisa kita tempuh untuk melahirkan generasi baru kepala sekolah/madrasah yang lebih baik lagi.
4. Kinerja Kepala sekolah a. Pengertian Kinerja
Kinerja adalah performance atau unjuk kerja. Kinerja menurut LAN (Lembaga Administrasi Negara) adalah prestasi kerja atau pelaksanaan kerja atau hasil unjuk kerja. Sementara itu, menurut August W. Smith, performance is output derives from proceses, human or therwise, yaitu kinerja adalah hasil dari suatu proses yang dilakukan oleh manusia.36 Secara umum kinerja dapat dimaknai sebagai hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan seperti standar hasil kerja, target atau sasaran/kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.
Sedangkan menurut Latham & Wexley, kinerja merupakan beberapa keputusan atau penilaian yang mempengaruhi status pegawai dalam suatu organisasi untuk mengakui referensi, terminasi, promosi, demosi, transfer peningkatan gaji atau penambahan diklat.37 Prawirosentoro mengartikan bahwa “kinerja atau performance adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung
35 Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.
36Rajawali Pers, “Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru,” dalam Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, t.t.
37 Wagiran, Kinerja Guru (Teori, Penliaian dan Upaya Peningkatannya) (Yogyakarta: Deepublish, 2013).
jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika”.38
b. Indikator Kinerja kepala sekolah
Untuk meningkatkan mutu pendidkan di sekolah itu tidak lepas dari peran kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah tersebut.Peningkatan mutu pendidikan disekolah itu merupakan indikator kinerja sekolah yang bersangkutan.Dengan demikian kinerja kepala sekolah dapat dilihat apakah visi, misi, dan tujuan sekolah yang telah ditentukan sebelumnya sudah tercapai.Jika sudah tercapai dapat dikatakan bahwa kinerja kepala sekolah itu baik.
Jika pengertian kinerja yang telah dikemukakan di atas diterapkan kepada kepala sekolah, maka kinerja kepala sekolah yaitu prestasi kerja atau hasil kerja yang dicapai oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok, fungsi, dan tanggung jawabnya. Kinerja kepala sekolah dapat diukur dari tiga aspek yaitu : 1) Perilaku sekolah pada saat melaksanakan fungsi-fungsi manajerial, 2) Cara melaksanakan tugas dalam mencapai hasil kerja yang tercermin dalam komitmen dirinya sebagai refleksi kompetensi yang dimilikinya, 3) Hasil dari pekerjaanya yang tercermin dalam perubahan kinerja sekolah yang dipimpinnya. Dengan kata lain kinerja kepala sekolah adalah kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas yang dimiliki kepala sekolah dalam menyelesaikan suatu pekerjaan di sekolah yang dipimpinya. Lebih luas lagi ukuran keberhasilan sekolah yang dapat ditampilkan oleh kepala skeolah sebagai berikut: (1). Keberhasilan dalam mengelola sekolah 2. Keberhasilan dalam mengelola kegiatan pembelajaran, (3). Mengelola ketenagaan, (4). Mengelola sarana prasana, (5). Mengelola keuangan, (6). Mengelola lingkungan solah, (7). Serta megelola hubungan sekolah dengan masyarakat.39
38 Prawirosentono, Manajemen Sumber Daya Manusia, Kebijakan Kinerja Karyawan (Ygyakarta: BPFE, 1999).
39 Budi Suhardiman, Studi Pengembangan Kepala Sekolah, Konsep dan Aplikasi.
BAB II
PENELITIAN TERDAHULU YANG RELEVAN DAN HIPOTESIS A. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian seperti ini sudah dilakukan di kabupaten Sukabumi dan hanya meneliti tentang bagaimana cara merekrutmen calon kepala sekolah yang dilakukan oleh LPPKS, adapun penelitian yang akan dilakukan pada pemelitian ini ingin mengetahui sejauh mana dampak pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh LPPKS melalui dua tahapan yang berbeda yaitu diklat calon kepala sekolah dan diklat penguatan kepala sekolah yang berpengaruh pada kinerja kepala sekolah khususnya dikabupaten Lombok Tengah. Selain itu, urgensi dari penelitian ini adalah peningkatan kinerja kepala sekolah di Kabupaten Lombok Tengah yang semakin membaik sehingga pelayanan yang diberikan kepada ekosistem sekolah menjadi maksimal.
Kajian penelitian terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu
a. Hasil Penelitian Suhartin (2007) Penelitian ini didasarkan pada masalah pokok Kinerja Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah Provinsi Jawa Barat rendah, diduga disebabkan oleh disiplin kerja belum berjalan secara optimal.
Pendekatan dalam penelitian ini peneliti ingin melihat bagaimana pengaruh disiplin kerja terhadap Kinerja pegawai dengan judul penelitian “ Pengaruh Disiplin kerja terhadap Kinerja pegawai pada Sekretariat Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah Provinsi Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode deskriptif analisis, dengan mendeskrifsikan fenomena sosial yang tengah berlangsung, di mana peneliti mengamati pengaruh Disiplin kerja (variabel bebas) dengan simbol X, terhadap kinerja pegawai (variabel terikat) dengan simbol Y.
b. Hasil Penelitian Robiana (2009) Permasalahan pokok penelitian ini adalah rendahnya Kinerja Auditor Badan
(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012).
Pengawasan Daerah Provinsi Jawa Barat, rendahnya 9 kinerja auditor diduga dipengaruhi oleh kepemipinan partisipatif Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey analisis deskriptif yang menggambarkan dan menjelaskan fenomena sosial yang sedang terjadi dengan meneliti hubungan antar variabel Kepemimpinan partisipatif (X) dengan Kinerja Auditor Badan Pengawasan Daerah Provinsi Jawa Barat (Y) Menggunakan teknik analisis kuantitatif melalui analisis jalur (Path Analysis ) yang dimaksudkan untuk mengetahui besarnya pengaruh Kepemimpinan partisipatif (X) terhadap Kinerja auditor (Y) baik secara simultan maupun parsial. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengaruh variabel Kepemimpinan partisipatif (X) terhadap Kinerja auditor Badan Pengawasan Daerah Provinsi Jawa barat secara simultan menunjukan besaran nilai 81,69%, serta pengaruh variabel yang tidak diteliti terhadap kinerja auditor Badan Pengawasan Daerah Provinsi Jawa Barat dengan besaran 18,31 %.
c. Hasil Penelitian I Ketut Dharta (2010) dengan judul Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) terhadap kinerja pegawai negeri sipil pada sekretariat kota Malang yang membuktikan bahwa : Hubungan antara variabel pendidikan dan pelatihan yang terdiri dari metode yang digunakan, materi diklat dan pelatih diklat terhadap variable kinerja karyawan dengan hasil sebesar 75,4% yang artinya hubungannya kuat.40
d. Hasil Penelitian Rismadi (2011) Penelitian ini didasarkan pada masalah pokok Kinerja Pegawai Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Jawa Barat rendah, di duga disebabkan oleh Disiplin kerja belum berjalan secara optimal. Pendekatan dalam penelitian ini peneliti ingin melihat bagaimana pengaruh Disiplin kerja terhadap Kinerja pegawai dengan judul penelitian “ Pengaruh Disiplin kerja terhadap Kinerja pegawai pada dinas pendidikan di Daerah Provinsi Jawa Barat. Metode
40I Ketut Dartha, “Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Terhadap Kinerja Pegawai Negeri Sipil Pada Sekretariat Daerah Kota Malang,” Jurnal Ekonomi Modernisasi, t.t., http:ejournal.ukanjuruhan.ac.id.
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode deskriptif analisis, dengan mendeskrifsikan fenomena sosial yang tengah berlangsung, di mana peneliti mengamati pengaruh Disiplin kerja (variabel bebas) dengan simbol X, terhadap kinerja pegawai (variabel terikat) dengan simbol Y.
e. Hasil Penelitian Muhamad Nazim (2018) dengan judul Hubungan antara lingkungan kerja dan stres kerja dengan kinerja dinas pendidikan kabupaten Lombok tengah yang membuktikan bahwa : Hubungan antara variabel pendidikan dan pelatihan yang terdiri dari metode yang digunakan, materi diklat dan pelatih diklat terhadap variable kinerja karyawan dengan hasil sebesar 75,4% yang artinya hubungannya kuat.41 Selain itu, persamaan dan perbedaan penelitian yang akan dilakuan dengan penelitian terdahulu diuraikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1
Perbedaan dan Persamaan Penelitian Terdahulu No Nama Judul
Penelitian Terdahulu
Teori Penelitian Terdahulu
Teori yang digunakan Peneliti
Perbedaan dan
Persamaan 1 Robiana
(2009) Pengaruh kepemimpinan Partisipatif terhadap kinerja
pegawai Badan Pengawasan Provinsi Jawa Barat
DimensiDi mensi Kinerja
Aspek- aspek Kinerja Pegawai
Sama-sama membahas kinerja akan tetapi teori yang digunakan berbeda
2 Suhartin (2007) Pengaruh
Prinsip- Prinsip kinerja
Dimensidi mensi kinerja
Sama-sama membahas kinerjaakan
41 Muhamad Nazim, “Hubungan Antara Lingkungan Kerja Dan Stres Kerja Dengan Knerja Pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah.”
Disiplin terhadap kinerja pegawai pada Badan
Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Jawa Barat.
kerja tetapi teori
yang digunakan berbeda
3 I Ketut Dharta (2010)
Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) terhadap kinerja
pegawai negeri sipil pada sekretariat kota Malang
Prinsip- prinsip kinerja
Aspek- aspek diklat Pegawai
Sama-sama membahas diklat akan tetap teori yang digunakan berbeda
4 Rismadi (2011) Pengaruh Disiplin terhadap kinerja pegawai pada Dinas
Pendidikan Daerah Provinsi Jawa Barat.
Prinsip- Prinsip Disiplin kerja
Dimensidi mensi disiplin
Sama-sama membahas kinerja akan tetapi teori yang digunakan berbeda
5 Muhamad Nazim (2018)
DimensiDi mensi
Aspek- aspek
Sama-sama membahas
Hubungan antara lingkungan kerja dan stres kerja dengan kinerja dinas pendidikan kabupaten Lombok tengah
Kinerja Kinerja Pegawai
kinerja akan tetapi teori yang digunakan berbeda
6 Abdul Kadir (2011) Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) terhadap kinerja pegawai PLN Kabupaten Malang
Dimensi- dimensi kinerja
Aspek- aspek diklat Pegawai
Sama-sama membahas diklat akan tetapi teori yang digunakan berbeda
Adapun persamaannya dengan penelitian yang akan dilakukan adalah sama-sama meneliti tentang pengaruh diklat terhadap kinerja sedangkan perbedannya yaitu pada penelitian terdahulu diatas meneliti tentang pengaruh diklat terhadap kinerja pegawai negeri sipil yang di persiapkan dan penyelenggarannya oleh atasannya secara langsung, sedangkan pada penelitian ini akan dikaji tentang pengaruh diklat yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui diklat PPCKS dan PKS terhadap kinerja kepala sekolah khususnya di Kabupaten Lombok Tengah.
B. Kerangka Berpikir
Pemeritah selaku induk kerja menuntut agar setiap kepala sekolah untuk selalu bekerja dengan produktif. Salah satu cara agar para kepala sekolah tetap bekerja dengan produktif yaitu dengan memberikan diklat kepada calon kepala sekolah dan penguatan untuk kepala sekolah agar kinerja kepala sekolah semakin
meningkat. Kinerja kepala sekolah dikatakan meningkat dan semakin berkualitas apabila kepala sekolah yang ada dalam organisasi berhasil mencapai standar kerja yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan dijadikan sebagai acuan penentu keberhasilan kepala sekolah dalam bekerja.
Mengelola kinerja pegawai sangat diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Agar mampu mengelola kinerja pegawai, pihak organisasi perlu mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai karena dengan memahami hal tersebut, organisasi dengan mudah mencari solusi dan keputusan yang efektif berkaitan dengan kinerja pegawai. Apabila organisasi mampu menyediakan hal tersebut tentunya para pegawai akan bersemangat dalam bekerja, mempunyai gairah kerja dan tanggung jawab yang tinggi terhadap penyelesaian tugas-tugasnya yang mempunyai kualitas handal dan terpercaya sehingga apabila hal-hal tersebut terjadi maka kinerja pegawai tersebut dalam bekerja bisa dikatakan tinggi.
Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah (PPCKS) merupakan Diklat Calon Kepala Sekolah dalam salah satu upaya untuk membekali calon kepala sekolah/madrasah dengan kompetensi yang relevan. Oleh karena itu, pengembangan mutu proses pembelajaran diklat difokuskan pada upaya untuk mewujudkan kepala sekolah yang amanah, profesional dan berjiwa wirausaha. Untuk menjamin muatan atau isi materi pembelajaran diklat secara terstandar, diperlukan penyusunan program diklat calon kepala sekolah oleh pihak terkait Master Trainer.
Penguatan Kepala Sekolah (PKS) merupakan pendidikan dan pelatihan untuk kepala sekolah yang sedang menjabat sebagai kepala sekolah upaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di sekolah. Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah sebagai pengganti peraturan Menteri Pendiidkan Nasional Nomor 28 Tahun 2010, menyatakan bahwa salah satu syarat mengikuti proses pengangkatan menjadi calon kepala sekolah harus memiliki Surat Tanda Tamat Pendidikan Calon Kepala Sekolah (STTP). Bagi kepala sekolah yang sedang aktif dan diangkat sebelum
diundangkannya Permendikbud No.6 Tahun 2018 tertanggal 9 April 2018, dan belum memiliki STTP calon kepala sekolah wajib mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan penguatan kepala sekolah
Pekerjaan yang seharusnya dapat dikerjakan secara tim dan bersama-sama menjadi terbengkalai karena masing masing pegawai hanya fokus berkontribusi sesuai pekerjaan yang harus dia kerjakan tanpa memperdulikan pekerjaan pegawai lain. Jika antar pegawai tidak saling mendukung dalam pekerjaan maka instansi tidak akan mencapai visi misi dan targetnya. Peran kepala sekolah yang seharusnya menata keberadaan sekolah justru menciptakan suasana yang tidak kondusif dan kinerja menjadi tidak optimal.
Dalam penelitian ini peran dan fungsi Kepala Sekolah sangat penting, dalam hal ini fokus pada 3 komponen besar yaitu manajerial, kewirausahaan dan supervisi. Menjalankan peran dan fungsi ini membuat kepala sekolah banyak melakukan penataan dan pengelolaan terhadap berbagai komponen yang ada di sekolah dan menjadikan 8 SNP yang ada menjadi ukuran-ukuran yang harus dicapai. Diklat seorang kepala sekolah dapat dilihat melalui evaluasi diri sekolah yang terfokus pada 4 indikator kerja yakni:
(1) Menjalankan kepemimpinan perubahan. (2) Pengembangan rencana kerja sekolah. (3) Sarana dan prasarana. (4) Supervisi dan penilaian kinerja guru. Dalam kerangka berpikir ini, peneliti ingin mengetahui sejauh mana pelaksanaan hasil diklat PPCKS dan PKS kepala sekolah yang sudah dilaksanakan dengan mengedepankan indikator yang sudah ada. Berpijak dari pemikiran di atas, maka dapat digambarkan sebuah kerangka pemikiran sebagai berikut:
C.
Gambar 2.1
Diagram Kerangka Pikir Pengaruh Diklat PPCKS dan PKS terhadap Kinerja Kepala Sekolah Kabupaten Lombok Tengah
C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian dalam penelitian ini diajukan untuk rumusan masalah yang kuantitatif, yaitu rumusan masalah nomor 3. Hipotesis dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian. Merujuk pada rumusan masalah, maka hipotesis penelitian ini adalah: “Diklat kepala sekolah melalui PPCKS dan PKS berpengaruh signifikan terhadap kinerja kepala sekolah SD di kabupaten Lombok Tengah”
Indikator yang akan di ukur di PPCKS 1) Menjalankan kepemimpinan
perubahan
2) Pengembangan rencana kerja sekolah
3) Sarana dan prasarana
4) Supervisi dan penilaian kinerja guru Kinerja Kepala Sekolah :
1. Quantity of work
2. Quality of work 3. Creativeness 4. Job Knowledge Indikator yang akan di ukur di PKS
1. Menjalankan kepemimpinan perubahan
2. Pengembangan rencana kerja sekolah
3. Sarana dan prasarana
4. Supervisi dan penilaian kinerja guru
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
1. Jenis Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian maka penelitian ini merupakan jenis penelitian mix methods. Mixed methods merupakan pendekatan penelitian dengan menggabungkan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif.42 Penelitian ini mengkaji aspek kualitatif mengenai: (1) proses penerapan konsep pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahan dan (2) hasil penerapan konsep pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajem persekolahan. Sedangkan aspek kuantitatifnya adalah mengkaji pengaruh diklat kepala sekolah melalui PPCKS dan PKS terhadap kinerja kepala sekolah jenjang SD di Kabupaten Lombok Tengah.
Pada penelitian ini menggunakan strategi metode sequential mixed methods atau strategi metode campuran bertahap, khususnya pada strategi exploratory sequential, yaitu pada tahap pertama peneliti mengumpulkan dan menganalisa data kualitatif, selanjutnya peneliti mengumpulkan dan menganalisa data kuantitatif pada tahap kedua berdasarkan hasil pada tahap pertama.
Dimana pada tahap pertama dengan mengumpulkan dan menganalisa data kualitatif untuk menjawab perumusan masalah penelitian yang pertama dan kedua, yaitu bagaimana penerapan konsep pendidikan dan pelatihan PPCKS dan PKS dalam praktik manajemen persekolahannya dan apakah proses dan hasil persekolahan sudah sesuai dengan pedoman PPCKS dan PKS selama kepala sekolah melaksanakan tugas di sekolah. Maka dengan penggunaan metode tersebut, peneliti mencoba untuk mendeskripsikan pengaruh diklat PPCKS dan
42 John W. Creswell, Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, Edisi Ketiga (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010).