A. Deskripsi Data
1. Deskripsi Data Hasil Tes Keterampilan Berpikir Tingkat
Keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik diukur sebelum dan sesudah perlakuan pembelajaran. Variabel keterampilan berpikir tingkat tinggi diukur dengan tes esai dengan jumlah soal 17 butir, skor minimum ideal = 0 dan skor maksimum ideal = 51. Skor perolehan kemudian dikonversi menjadi nilai dengan skala 0 – 100. Katagori keterampilan berpikir tingkat tinggi menggunakan penilaian acuan patokan (PAP). Rekap hasil analisis deskriptif nilai tes awal (O1) dan tes akhir (O2) peserta didik disajikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.17. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Nilai Tes Awal dan Tes Akhir Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Kelompok Penelitian
Deskriptor Nilai Kelompok
PBM-BK PBM PR
O1 O2 O1 O2 O1 O2
Jumlah subjek (n) 71 71 68 68 64 64
Nilai maks. ideal 100 100 100 100 100 100
Nilai tertinggi 60,78 84,31 50,98 82,35 43,14 70,59 Nilai terendah 5,88 37,25 9,80 31,37 3,92 21,57
Rata-rata 26,53 60,89 24,95 56,24 26,13 45,04
Katagori Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah
Simpangan baku 10,8 10,7 9,0 10,9 7,8 11,0
Keterangan: PBM-BK: pembelajaran berbasis masalah bermuatan karakter, PBM:
pembelajaran berbasis masalah, PR: pembelajaran reguler, O1: nilai tes awal,O2: nilai tes akhir
Tabel 2.1. menunjukan perbandingan nilai keterampilan berpikir tingkat tinggi pada beberapa parameter statistik. Rata-rata nilai tes awal peserta didik untuk tiga kelompok tidak berbeda jauh dan termasuk katagori rendah. Hal ini menunjukan kemampuan awal peserta didik untuk keterampilan berpikir tingkat tinggi pada ketiga kelompok itu setara.
Tabel 4.1. juga menunjukan bahwa hasil tes akhir keterampilan berpikir tingkat tinggi kelompok PBM-BK memiliki rata-rata nilai lebih tinggi dibanding kelompok PBM dan PR. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik yang diajar dengan pembelajaran berbasis masalah bermuatan karakter memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi yang lebih baik dibanding kelompok peserta didik yang diajarkan dengan pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran reguler. Di samping itu, Tabel 2.1. juga menunjukan bahwa rata-rata nilai keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik yang diajar dengan PBM lebih tinggi dibanding yang diajar dengan PR.
Data nilai tes awal keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik juga disajikan dalam tabel distribusi frekuensi berdasarkan katagori kemampuan. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.18. Distribusi Frekuensi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Peserta didik Berdasarkan Nilai Tes Awal pada Kelompok Penelitian Interval
Skor Katagori PBM-BK PBM PR
f % f % f %
86 – 100 Sangat tinggi 0 0,0 0 0,0 0 0,0
71 – 85 Tinggi 0 0,0 0 0,0 0 0,0
56 – 70 Sedang 3 4,2 2 3,0 0 0,0
40 - 55 Rendah 44 62,0 37 55,2 37 57,8
0 – 39 Sangat rendah 24 33,8 29 41,8 27 42,2
JUMLAH 71 100 68 100 64 100
Secara visual distribusi kemampuan awal peserta didik untuk variabel keterampilan berpikir tingkat tinggi disajikan dalam histogram pada Gambar 2.1.
Gambar 2.2. Histogram Frekuensi Peserta didik pada Katagori Kemampuan Berdasarkan Nilai Tes Awal Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi
Tabel 2.2. dan Gambar 2.1. menunjukkan bahwa ketiga kelompok penelitian memiliki distribusi kemampuan peserta didik untuk variabel keterampilan berpikir tingkat tinggi terkonsentrasi pada katagori rendah dan sangat rendah.
Nilai tes akhir keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik dapat dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan distribusi kemampuan akhir peserta didik pada setiap kelompok penelitian berdasarkan katagori kemampuan. Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.19. Distribusi Frekuensi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Peserta didik Berdasarkan Nilai Tes Akhir pada Kelompok Penelitian
Interval Katagori PBM-BK PBM PR
f % f % f %
86 – 100 Sangat tinggi 0 0,0 0 0,0 0 0,0
71 – 85 Tinggi 13 18,3 3 4,4 0 4,7
56 – 70 Sedang 34 47,9 34 50,0 10 50,0
40 - 55 Rendah 22 31,0 26 38,2 32 43,8
0 – 39 Sangat rendah 2 2,8 5 7,4 22 1,6
JUMLAH 71 100 68 100 64 100
24
44
3 0 0
29
37
2 0 0
27
37
0 0 0
0 10 20 30 40 50
Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
Frekuensi
Katagori pada kelompok penelitian PBM-BK
Tabel 2.3 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persentase peserta didik yang mencapai katagori tinggi dan katagori sedang pada setiap kelompok penelitian. Tidak ada peserta didik yang mencapai katagori kemampuan sangat tinggi. Secara visual distribusi kemampuan akhir peserta didik pada lima katagori kemampuan untuk variabel keterampilan berpikir tingkat tinggi disajikan dalam histogram pada Gambar 2.2.
Gambar 2.3. Histogram Frekuensi Peserta didik pada Katagori Kemampuan Berdasarkan Skor Tes Akhir Keterampilan Berpikir Tingkat
Tinggi pada Kelompok Penelitian
Berdasarkan Gambar 2.2, tampak bahwa frekuensi tertinggi untuk katagori tinggi dan katagori sedang terdapat pada peserta didik kelompok PBM-BK, kemudian diikuti oleh kelompok PBM, dan yang paling rendah adalah kelompok PR. Pembelajaran berbasis masalah bermuatan karakter mendorong lebih banyak peserta didik untuk mencapai katagori tinggi dan sedang dibanding pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran reguler.
Penelitian ini mencari efek pembelajaran berbasis masalah bermuatan karakter terhadap keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Efek pembelajaran dilihat dari normalized gain-score (NGs). NGs tersebut merupakan efek nyata dari pembelajaran yang dilakukan. Pada
2
22
34
13
0 5
26
34
3 0
22
32
10
0 0
0 5 10 15 20 25 30 35 40
Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
Ffekuensi
Katagori pada kelompok penelitian PBM-BK PBM PR
Tabel 2.4 disajikan secara statistik deskriptif NGs pada setiap kelompok penelitian.
Tabel 2.20. Data Statistik Deskriptif NGs Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Kelompok Penelitian1
Deskriptor Kelompok
PBM-BK PBM PR
Jumlah subjek (n) 71 68 64
Tertinggi 0,76 0,73 0,57
Terendah 0,07 0,12 0,03
Rata-rata 0,46 0,42 0,26
Katagori Sedang Sedang Rendah
Tabel 2.4 menunjukan perbandingan skor NGs keterampilan berpikir tingkat tinggi pada beberapa parameter statistik. Terdapat perbedaan rata-rata NGs keterampilan berpikir tingkat tinggi pada tiga kelompok penelitian. Rata-rata NGs kelompok PBM-BK lebih tinggi dibanding kelompok PBM dan PR.
Katagori keterampilan berpikir tingkat tinggi kelompok PBM-BK dan PBM lebih baik dibanding kelompok PR. Berdasarkan rata-rata NGs dan katagori tersebut, secara deksriptif tampak bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik yang diajar dengan pembelajaran berbasis masalah bermuatan karakter lebih baik dibanding kelompok peserta didik yang diajarkan dengan pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran reguler.
Distribusi kemampuan peserta didik dalam aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi berdasarkan NGs disajikan pada Tabel 2.5.
Tabel 2.21. Distribusi Frekuensi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Peserta didik Berdasarkan NGs pada Kelompok Penelitian
Interval Skor Katagori PBM-BK PBM PR
f % f % f %
NGs > 0,7 Tinggi 3 4,2 2 2,9 0 0,0
0,4 < NGs ≤ 0,7 Sedang 61 85,9 56 82,4 19 29,7
NGs ≤ 0,40 Rendah 7 9,9 10 14,7 45 70,3
JUMLAH 71 100 68 100 64 100
1 Perhitungan normalized gain-score (NGs) keterampilan berpikir tingkat tinggi kelompok penelitian disajikan pada lampiran 4.2, h. 364
Tabel 2.5. menunjukkan bahwa terdapat perbedaan frekuensi dan persentase peserta didik setiap katagori kemampuan pada kelompok penelitian. Kelompok PBM-BK memiliki frekuensi dan persentase peserta didik lebih tinggi dengan katagori tinggi dan katagori sedang dibanding kelompok PBM dan PR. Tabel 2.5. juga menunjukan bahwa peserta didik pada kelompok PR tidak ada yang termasuk dalam katagori kemampuan tinggi.
Secara visual distribusi kemampuan akhir peserta didik pada tiga katagori kemampuan untuk variabel keterampilan berpikir tingkat tinggi ditinjau dari NGs disajikan dalam histogram pada Gambar 2.3.
Gambar 2.4. Histogram Frekuensi Peserta didik Tiap Katagori Kemampuan Berdasarkan NGs Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi
Gambar 4.3. menunjukan bahwa frekuensi tertinggi untuk katagori tinggi dan katagori sedang terdapat pada peserta didik kelompok PBM- BK, kemudian diikuti oleh kelompok PBM, dan yang paling rendah adalah kelompok PR. Pembelajaran berbasis masalah bermuatan karakter mendorong lebih banyak peserta didik mencapai katagori tinggi dan sedang dibanding pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran reguler untuk keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Dimensi keterampilan berpikir tingkat tinggi yang diukur dalam penelitian ini meliputi; (1) berpikir kritis, (2) berpikir kreatif, dan (3) pemecahan masalah. Jika dilihat secara terpisah untuk setiap dimensi tersebut, maka hasil analisis juga menunjukan ukuran parameter statistik
7
61
3 10
56
2 45
19 0 0
10 20 30 40 50 60 70
Rendah Sedang Tinggi
Frekuensi
Katagori pada kelompok penelitian PBM-BK PBM PR
yang bervariasi pada ketiga kelompok penelitian. Tabel 2.6 di bawah ini menyajikan hasil analisis skor keterampilan berpikir tingkat tinggi ditinjau dari masing-masing dimensi.
Tabel 2.22. Data Deskriptif NGs Dimensi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi pada Kelompok Penelitian
Dimensi Kelompok Parameter Statistik
Rata-rata Katagori
Berpikir kritis PBM-BK 0,38 Rendah
PBM 0,29 Rendah
PR 0,29 Rendah
Berpikir kreatif PBM-BK 0,37 Rendah
PBM 0,29 Rendah
PR 0,18 Rendah
Pemecahan masalah PBM-BK 0,63 Sedang
PBM 0,66 Sedang
PR 0,22 Rendah
Tabel 2.6 menunjukan perbandingan skor NGs pada tiga dimensi keterampilan berpikir tingkat tinggi. Terdapat perbedaan rata-rata NGs dan katagori keterampilan berpikir tingkat tinggi pada tiga kelompok penelitian. Pada dimensi berpikir kritis dan berpikir kreatif, rata-rata kelompok PBM-BK lebih tinggi dibanding kelompok PBM dan PR.
Katagori berpikir kritis dan berpikir kreatif untuk ketiga kelompok penelitian adalah sama, yaitu katagori rendah. Namun demikian, pada aspek keterampilan pemecahan masalah, kelompok PBM-BK dan PBM mencapai katagori sama, yaitu sedang dan berbeda dengan kelompok PR, yaitu katagori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah bermuatan karakter berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif peserta didik, tetapi tidak berpengaruh terhadap keterampilan pemecahan masalah.
Tabel 2.6 juga menunjukan, untuk dimensi pemecahan masalah, rata-rata NGs kelompok PBM-BK lebih rendah dibanding kelompok PBM, tetapi masih lebih tinggi dibanding kelompok PR. Kelompok PBM-BK dan PBM memiliki katagori kemampuan pemecahan masalah dalam katagori sedang, tetapi pada kelompok PR termsauk dalam katagori rendah. Berdasarkan rata-rata dimensi pemecahan masalah tampak bahwa pembelajaran berbasis masalah bermuatan karakter tidak
lebih baik dibanding pembelajaran berbasis masalah, namun lebih baik dibanding pembelajaran reguler.