• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deteksi Kanker Serviks

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

8. Deteksi Kanker Serviks

Pada tahap awal, kanker dapat terdeteksi selama prosedur skrining, namun sebagian besar perempuan memiliki kesadaran yang rendah untuk melakukan pemeriksaan baik melalui test paps smear maupun inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Hasil penelitian, bahwa dari 171 perempuan yang mengetahui tentang kanker serviks, hanya 24,5 % (42 perempuan) yang melakukan prosedur skrining (Wuriningsih, 2016).

1. IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)

Sesuai dengan namanya, IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asetat 3-5%. Apabila setelah pulasan terjadi perubahan warna asam asetat yaitu tampak bercak putih, maka kemungkinan ada kelainan tahap prakanker serviks. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks (Wijaya, 2010).

Proses skrining dengan IVA merupakan pemeriksaan yang paling disarankan oleh Departemen Kesehatan. Salah satu pertimbangannya karena biayanya yang sangat murah. Namun perlu diingat, pemeriksaan ini dilakukan hanya untuk deteksi dini. Jika terlihat tanda yang mencurigakan, maka metode deteksi lainnya yang lebih lanjut harus segera dilakukan (Wijaya, 2010).

Laporan hasil konsultasi WHO menyebutkan bahwa IVA dapat mendeteksi lesi tingkat atas prakanker (High-Grade Precancerous Lesions) dengan sensitivitas sekitar 66-96% dan spesifitas 64-98%.

Sedangkan nilai prediksi positif (positive predictive value) dan nilai prediksi negatif (negative predictive value) masing-masing antara 10-20% dan 92-97% (Wijaya, 2010).

Keunggulan secara skrinning ini ialah cukup sederhana, murah, cepat, hasil segera diketahui, dan pelatihan kepada tenaga kesehatan lebih mudah dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan

inovasi-inovasi tertentu agar hasil skrining memiliki spesifitas lebih baik, misalnya menggunakan informasi penapis (filter) yang akan menambah spesifitas hasil tersebut (Wijaya, 2010).

2. Tes Pap Smear

Tes Pap Smear merupakan cara atau metode untuk mendeteksi sejak dini munculnya lesi prakanker serviks. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cepat, tidak sakit, dan dengan biaya yang relatif terjangkau serta hasil yang akurat (Wijaya, 2010).

Pemeriksaan pap smear dilakukan ketika wanita tidak sedang masa menstruasi. Waktu yang terbaik untuk skrining adalah antara 10 dan 20 hari setelah hari pertama masa menstruasi. Selama kira-kira dua hari sebelum pemeriksaan, seorang wanita sebaiknya menghindari douching atau penggunaan pembersih vagina, karena bahan-bahan ini dapat menghilangkan atau menyembunyikan sel-sel abnormal (Wijaya, 2010).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien/pasien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Proses keperawatan terdiri atas lima tahap yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

Setiap tahap dari proses keperawatan saling terkait dan ketergantungan satu sama lain (Budiono, 2015).

1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian terdiri dari pengumpulan informasi subjektif dan objektif (misalnya, tanda-tanda vital, wawancara klien/keluarga, pemeriksaan fisik) dan peninjauan informasi riwayat pasien dan rekam medik. Perawat juga mengumpulkan kekuatan (untuk mengidentifikasi peluang promosi kesehatan) dan resiko (area yang merawat dapat mencegah atau potensi masalah yang dapat ditunda) (NANDA Internasional, 2015). Pengkajian untuk klien kanker serviks antara lain : a) Data dasar

Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang (hasil laboratorium).

1) Identitas pasien

Meliputi nama lengkap, tempat/tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama, alamat, pendidikan, pekerjaan, asal suku bangsa,

tanggal masuk rumah sakit, no medical record (MR), nama orang tua, dan pekerjaan orang tua.

2) Identitas penanggung jawab

Meliputi nama, umur, pekerjaan dan hubungan dengan pasien.

1. Riwayat kesehatan a. Keluhan utama

Biasanya pasien datang kerumah sakit dengan keluhan seperti pendarahan intra servikal dan disertai keputihan yang menyerupai air dan berbau (Padila, 2015). Pada pasien kanker serviks post kemoterapi biasanya datang dengan keluhan mual muntah yang berlebihan, tidak nafsu makan, anemia.

b. Riwayat kesehatan sekarang

Menurut Diananda (2008) biasanya pasien pada stadium awal tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti keputihan yang berbau busuk, perdarahan setelah melakukan hubungan seksual, rasa nyeri disekitar vagina, nyeri pada panggul. Pada pasien kanker serviks post kemoterapi biasanya mengalami keluhan mual muntah yang berlebihan, tidak nafsu makan, dan anemia.

c. Riwayat kesehatan dahulu

Biasanya pada pasien kanker serviks memiliki riwayat kesehatan dahulu seperti riwayat penyakit keputihan, riwayat penyakit HIV/AIDS

(Ariani, 2015). Pada pasien kanker serviks post kemoterapi biasanya ada riwayat penyakit keputihan dan riwayat penyakit HIV/AIDS.

d. Riwayat kesehatan keluarga

Biasanya riwayat keluarga adalah salah satu faktor yang paling mempengaruhi karena kanker bisa dipengaruhi oleh kelainan genetika.

Keluraga yang memiliki riwayat kanker didalam keluarganya lebih berisiko tinggi terkena kanker dari pada keluraga yang tidak ada riwayat didalam keluarganya (Diananda, 2008).

5. Riwayat Obstetri

Untuk mengetahui riwayat obstetri pada pasien dengan kanker serviks yang perlu diketahui adalah:

a. Keluhan haid

Dikaji tentang riwayat menarche dan haid terakhir, sebab kanker serviks tidak pernah ditemukan sebelumnya menarche dan mengalami atropi pada masa menopose. Siklus menstruasi yang tidak teratur atau terjadi pendarahan diantara siklus haid adalah salah tanda gejala kanker serviks.

b. Riwayat kehamilan dan persalinan

Jumlah kehamilan dan anak yang hidup karna kanker serviks terbanyak pada wanita yang sering partus, semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapatkan karsinoma serviks (Aspiani, 2017).

6. Riwayat psikososial

Biasanya tentang penerimaan pasien terhadap penyakitnya serta harapan terhadap pengobatan yang akan dijalani, hubungan dengan suami/keluarga

terhadap pasien dari sumber keuangan. Konsep diri pasien meliputi gambaran diri peran dan identitas. Kaji juga ekspresi wajah pasien yang murung atau sedih serta keluhan pasien yang merasa tidak berguna atau menyusahkan orang lain (Reeder, dkk, 2013). Pasien kanker serviks post kemoterapi biasanya mengalami keluhan cemas dan ketakutan.

7. Riwayat kebiasaan sehari-hari

Biasanya meliputi pemenuhan kebutuhan nutrisi, elimenasi, aktivitas pasien sehari-hari, pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur (Padila, 2015).

Pada pasien kanker serviks post kemoterapi biasanya mengalami keluhan tidak nafsu makan, kelehan, gangguan pola tidur.

8. Pemeriksaan fisik, meliputi : a. Keadaan umum:

Pasien kanker serviks post kemoterapi sadar, lemah dan tanda-tanda vital normal (120/80 mmHg).

b. Kepala:

Pemeriksaan kepala meliputi bentuk kepala, kebersihan kepala, apakah ada benjolan atau lesi, dan biasanya pasien kanker serviks post kemoterapi terdapat rambut rontok

c. Mata:

Pemeriksaan mata meliputi kesimetrisan dan kelengkapan mata, kelopak mata, konjungtiva anemis atau tidak, ketajaman penglihatan. Biasanya ada keadaan dimana konjungtiva anemis dan skelera ikterik karena mengalami proses perdarahan.

d. Hidung :

Pemeriksaan hidung meliputi tulang hidung dan posisi septum nasi, kondisi lubang hidung, apakah ada sekret, perdarahan atau tidak, serta sumbatan jalan yang mengganggu pernafasan.

e. Telinga :

Pemeriksaan telinga meliputi bentuk, kesimetrisan, keadaan lubang telinga, kebersihan, serta ketajaman telinga.

f. Leher:

Pemeriksaan leher meliputi kelenjar tiroid, vena jugularis apakah ada pembesaran atau tidak, biasanya pada pasien kanker serviks post kemoterapi terdapat pembesaran kelenjar getah bening pada stadium lanjut

g. Dada:

Pemeriksaan meliputi inspeksi untuk menilai bentuk thoraks, kesimetrisan, apakah ada penggunaan otot bantu nafas, palpasi yang dilakukan dengan vokal premitus yaitu menyebutkan angka “Tujuh puluh tujuh” apakah getaran antar dada yang satu dengan lain sama, perkusi yang dilakukan pada semua lapang paru mulai dari klavikula kebawah pada setiap spasium intercostalis, dan auskultasi untuk menilai bunyi, suara nafas.

h. Abdomen:

Biasanya pada pasien kanker serviks terdapat adanya nyeri abdomen atau nyeri pada punggung bawah akibat tumor menekan saraf lumbosakralis (Padila, 2015).

i. Genetalia:

Pemeriksaan genetalia untuk melihat apakah terdapat hematoma, oedema, tanda-tanda infeksi, pemeriksaan pada lokhea meliputi warna, bau, jumlah, dan konsistensinya. Biasanya pada pasien kanker serviks mengalami sekret berlebihan, keputihan, peradangan, pendarahan dan lesi (Brunner &

suddarth, 2013). Pada pasien kanker serviks post kemoterapi biasanya mengalami perdarahan pervaginam.

j. Ekstermitas:

Pemeriksaan integumen meliputi warna, turgor, kelembapan, suhu tubuh, tekstur, hiperpigmentasi. Pemeriksaan ekstremitas untuk melihat apakah ada tidaknya oedema, varises, reflek bisep, trisep, patela, reflek babinski, nyeri tekan, dan pemeriksaan human sign. Biasanya pada pasien kanker serviks yang stadium lanjut mengalami udema dan nyeri. Pada pasien kanker serviks post kemoterapi biasanya mengalami kesemutan atau kebas pada tangan dan kaki.

9. Pemeriksaan penunjang.

Sitologi dengan cara pemeriksaan pap smear, koloskopi, servikografi, pemeriksaan visual langsung, gineskopi (Padila, 2015). Selain itu bisa juga dilakukan pemeriksaan hematologi karna biasanya pada pasien kanker serviks post kemoterapi mengalami anemia karna penurunan hemaglobin. Nilai normalnya hemoglobin wanita 12-16 gr/dl (Brunner, 2013).

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosis Keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons manusia terhadap gangguan kesehatan/proses kehidupan , atau kerentanaan respons dari seorang individu, keluarga, kelompok, atau komunitas. Diagnosis keperawatan biasanya berisi dua bagian: 1) deskripsi atau pengubah, dan 2) fokus diagnosis, atau konsep kunci dari diagnosis (NANDA Internasional, 2015). Masalah keperawatan yang mungkin muncul pada klien kanker serviks menurut SDKI tahun 2017, adalah sebagai berikut :

2.3.2.1 SDKI, 2017 Kategori : Psikologis

Subkategori : Nyeri dan Kenyamanan

Kode : D.0077 Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (neoplasma)

2.3.2.2 SDKI, 2017 Kategori : Fisiologis

Subkategori : Nutrisi dan Cairan

Kode : D.0019 Defisit nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat akibat adanya mual muntah

2.3.2.3 SDKI, 2017 Kategori : Psikologis Subkategori : Integritas Ego

Kode : D.0080 Ansietas berhubungan dengan status kesehatan

menurun 2.3.2.4 SDKI, 2017 Kategori : Fisiologis

Subkategori : Aktivitas/Istirahat

Kode : D.0054 Gangguan mobilitas fisik dengan agens farmaseutikal

2.3.2.5 SDKI, 2017 Kategori : Fisiologis Subkategori : Nutrisi/Cairan

Kode : D.0036 Resiko ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (perdarahan) 2.3.2.6 SDKI, 2017

Kategori : Lingkungan

Subkategori : Keamanan dan Proteksi

Kode : D.0142 Resiko infeksi berhubungan dengan imunitas tidak adekuat

2.3.2.7 SDKI, 2017 Kategori : Perilaku

Subkategori : Penyuluhan dan Pembelajaran

Kode : Defisit pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi proses penyakit dan terapi yang akan dijalan

3. Perencanaan Keperawatan

Intervensi keperawatan didefinisikan sebagai “berbagai perawatan, berdasarkan penilaian klinis dan pengetahuan, yang dilakukan oleh seorang perawat untuk mengingkatkan hasil klien/pasien” (CNC, n.d). Nursing Interventions Classification (NIC) adalah sebuah taksonomi tindakan komprehensif berbasis bukti yang perawat lakukan diberbagai tatanan keperawatan (NANDA Internasional, 2015). Penyusunan perencanaan keperawatan diawali dengan melakukan pembuatan tujuan dari asuhan keperawatan. Tujuan yang dibuat dari tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Perencanaan juga memuat kriteria hasil. Pedoman dalam penulisan tujuan keperawatan berdasarkan SMART,yaitu:

S : Spesific (tidak menimbulkan arti ganda).

M : Measurable (dapat diukur, dilihat, didengar, diraba, dirasakan ataupun dibau).

A : Achievable (dapat dicapai).

R : Reasonable (dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah).

T : Time (punya batasan waktu yang jelas).

Tabel 2.1 Perencanaan Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisiologis (neoplasma) (D.0077)

NOC :

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam pasien mampu untuk mengontrol dan menunjukkan tingkat nyeri dengan Kriteria Hasil:

1. Mengenal faktor-faktor penyebab nyeri

2. Mengenal onset nyeri 3. Melakukan tindakan

pertolongan non-analgetik 4. Menggunakan analgetik 5. Melaporkan gejala-gejala

kepada tim kesehatan

6. Melaporkan nyeri, frekuensi, dan lamanya

7. Tanda-tanda vital dalam rentang normal

8. Klien melaporkan nyeri berkurang dengan skala 1-3 dari 10 atau nyeri ringan 9. Ekspresi wajah tenang 10. Klien dapat istirahat dan tidur

NIC :

1.1 Lakukan pengkajian nyeri komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus (PQRST).

1.2 Observasi adanya petunjuk nonverbal mengenai ketidaknyamanan terutama pada mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif.

1.3 Ajarkan teknik non farmakologi

1.4 Berikan informasi mengenai nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur.

1.5 Evaluasi keefektifan dari tindakan pengontrol nyeri yang dipakai selama pengkajian nyeri dilakukan.

1.6 Dukung istirahat dan tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri.

1.7 Kolaborasi pemberian analgetik yang tepat.

Defisit nutrisi

berhubungan dengan intake yang tidak adekuat akibat adanya mual muntah (D.0019)

NOC :

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam pasien terhindar dari adanya malnutrisi dengan Kriteria Hasil :

1. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan 2. Berat badan ideal sesuai

dengan tinggi badan

3. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

4. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

NIC :

2.1 Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

2.2 BB pasien dalam batas normal

2.3 Monitor adanya penurunan berat badan

2.4 Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe 2.5 Anjurkan pasien untuk

meningkatkan protein dan vitamin C

2.6 Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian

2.7 Berikan informasi kesehatan tentang kebutuhan nutrisi 2.8 Kolaborasi dengan ahli gizi

untuk menentukan jumlah

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

Ansietas berhubungan dengan status kesehatan menurun (D.0080)

NOC :

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam pasien terhindar dari adanya kecemasan dengan Kriteria Hasil :

1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.

2. Mengidentifikasi,

mengungkapkan dan

menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas.

3. Vital sign dalam batas normal.

4. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivfitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.

NIC :

3.1 Kaji tingkat kecemasan pasien

3.2 Gunakan pendekatan yang menenangkan

3.3 Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien

3.4 Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur

3.5 Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut

3.6 Dengarkan dengan penuh perhatian

3.7 Identifikasi tingkat kecemasan

3.8 Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan

3.9 Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi

3.10 Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi

Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan agens farmaseutikal (D.0054)

NOC :

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam pasien dapat menunjukkan untuk melakukan aktivitas mandiri dengan Kriteria Hasil :

1. Klien meningkat dalam aktivitas fisik

2. Mengerti tujuan dan peningkatan mobilitas

3. Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan berpindah

4. Memperagakan penggunaan alat

5. Bantu untuk mobilisasi (walker)

NIC :

4.1 Kaji tingkat kekuatan otot pasien

4.2 Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan

4.3 Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai dengan kebutuhan 4.4 Ajarkan pasien tentang teknik

ambulasi

4.5 Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi

4.6 Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan

4.7 Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan ADLs pasien.

4.8 Ajarkan pasien bagaimana

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan.

Resiko ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (perdarahan) (D.0036)

NOC :

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam pasien terhindar dari ketidakseimbangan cairan dengan Kriteria Hasil :

1. Mempertahankan output sesuai dengan usia dan BB, HT normal

2. Vital sign dalam batas normal 3. Elistisitas turgor baik,

membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.

NIC :

5.1 Kaji adanya perdarahan 5.2 Monitor vital sign

5.3 Monitor masukan

makanan/cairan dan hitung intake kalori harian

5.4 Monitor status nutrisi

5.5 Monitor tingkat Hb dan Hematokrit

5.6 Kolaborasi jika tanda cairan berlebih muncul memburuk 5.7 Atur kemungkinan untuk

tranfusi.

Resiko infeksi

berhubungan dengan imunitas tidak adekuat (D.0142)

NOC :

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam pasien tidak mengalami infeksi dengan Kriteria Hasil :

1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

2. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi

3. Jumlah leukosit dalam batas normal

4. Menunjukkan perilaku hidup sehat

5. Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam batas normal

NIC :

6.1 Pertahankan teknik aseptif 6.2 Tingkatkan intake nutrisi 6.3 Monitor tanda dan gejala

infeksi sitemik dan lokal 6.4 Dorong masukan cairan 6.5 Dorong istirahat klien 6.6 Ajarkan pasien dan keluarga

tanda dan gejala infeksi 6.7 Kaji suhu badan pasa kloen

setiap 4 jam

6.8 Kolaborasi pemberian terapi antibiotik

Defisit pegetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi proses penyakit dan terapi yang akan dijalani (D.0111)

NOC :

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam pasien dan keluarga menunjukkan pengetahuan tentang proses penyakit dengan Kriteria Hasil : 1. Pasien dan keluarga

menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan

2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar 3. Pasien dan keluarga mampu

menjelaskan kembali apa yang

NIC :

7.1 Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga

7.2 Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat

7.3 Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat 7.4 Identifikasi kemungkinan

penyebab, dengan cara yang tepat

7.5 Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat 7.6 Sediakan bagi keluarga

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

dijelaskan perawat informasi tentangkemajuan pasien dengan cara yang tepat

4. Pelaksanaan Keperawatan a. Fase orientasi/Orientasi

Fase orientasi terapeutik dimulai dari perkenalan pasien pertama kalinya bertemu dengan perawat untuk melakukan validasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan keadaan pasien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilakukan.Tujuan perawat dalam tahapan ini adalah membina hubungan saling percaya, merumuskan kontrak (waktu, tempat, topic pembicaraan) bersama-sama dengan pasien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali kontrak yang telah disepakati bersama, Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah pasien yang umumnya dilakukan dengan menggunkan teknik komunikasi pertanyaan terbuka, Merumuskan tujuan interaksi dengan pasien.

b. Fase kerja

Fase kerja merupakan inti dari fase komunikasi terapeutik, dimana perawat mampu memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan, maka dari itu perawat diharapakan mempunyai

pengetahuan yang lebih mendalam tentang pasien dan masalah kesehatanya.

c. Fase terminasi

Pada fase terminasi adalah fase yang terakhir, dimana perawat meninggalkan pesan yang dapat diterima oleh pasien dengan tujuan, ketika dievaluasi nantinya pasien sudah mampu mengikuti saran perawat yang diberikan, maka dikatakan berhasil dengan baik komunikasi terapeutik perawat-pasien apabila ada umpan balik dari seorang pasien yang telah diberikan tindakan atau asuhan keperawatan yang sudah direncanakan.

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil akhir dari semua tindakan keperawatan yang telah diberikan. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan pasien dalam mencapai tujuan. Hal ini bisa dilaksanakan dengan mengadakan hubungan dengan pasien.

a. Evaluasi Formatif

Hasil observasi dan analisa perawat terhadap respon pasien segera pada saat setelah dilakukan tindakan keperawatan. Ditulis pada catatan perawat.

b. Evaluasi Sumatif

Rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi dan analisa status kesehatan sesuai waktu pada tujuan. Ditulis pada catatan perkembangan.

Evaluasi dilakukan dengan pendekatan pada SOAP, yaitu:

S: Data subjektif, yaitu data yang diutarakan klien dan pandangannya terhadap data tersebut.

O: Data objektif, yaitu data yang didapat dari hasil observasi perawat, termasuk tanda-tanda klinik dan fakta yang berhubungan dengan penyakit pasien (meliputi data fisiologis, dan informasi dan pemeriksaan tenaga kesehatan).

A: Analisis, yaitu analisa ataupun kesimpulan dari data subjektif dan data objektif.

P: Perencanaan, yaitu pengembangan rencana segera atau yang akan datang untuk mencapai status kesehatan klien yang optimal (Hutahaen, 2010)

Adapun ukuran pencapaian tujuan tahap evaluasi dalam keperawatan meliputi:

1. Masalah teratasi, jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan.

2. Masalah teratasi sebagian, jika klien menunjukkan perubahan sebagian dari kriteria hasil yang telah ditetapkan.

3. Masalah tidak teratasi, jika klien tidak menunjukkan perubahan dan kemajuan sama sekali yang sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan dan atau bahkan timbul masalah/diagnosa keperawatan baru.

34

Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus yakni asuhan keperawatan dimana penulis mengumpulkan data yang dimulai dari pengkajian, menentukan diagnosis, melakukan perencanaan, melaksanakan tindakan dan melakukan evaluasi kepada pasien dengan kanker serviks.

Pengkajian terdiri dari pengumpulan informasi subjektif dan objektif (misalnya, tanda-tanda vital, wawancara pasien/keluarga, pemeriksaan fisik) dan peninjauaan informasi riwayat pasien pada rekam medik. Perawat juga mengumpulkan kekuatan (untuk mengidentifikasi peluang promosi kesehatan) dan resiko (area yang merawat dapat mencegah atau potensi masalah yang dapat ditunda) (NANDA, 2015).

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons manusia terhadap gangguan kesehatan/proses kehidupan, atau kerentanaan respons dari seorang individu, keluarga, kelompok, atau komunitas.

Diagnosis keperawatan biasanya berisis dua bagian: 1) deskripton atau pengubah, dan 2) fokus diagnosis, atau konsep kunci dari diagnosis (NANDA, 2015).

Intervensi keperawatan didefinisikan sebagai “berbagai perawatan, berdasarkan penilaian klinis dan pengetahuan, yang dilakukan oleh seorang

perawat untuk meningkatkan hasil klien/pasien” (CNC, n.d). Nursing Interventions Classification (NIC) adalah sebuah taksonomi tindakan komperhensif berbasis bukti yang perawat lakukan di berbagai tatanan keperawatan (NANDA, 2015).

Implementasi adalah tindakan dari rencana keperawatan yang telah disusun dengan menggunakan pengetahuan keperawatan, perawat melakukan dua intervensi yaitu mandiri/independen dan kolaborasi/interdisipliner (NANDA, 2015).

Evaluasi merupakan sebagai penilaian status klien dari efektivitas tindakan dan pencapaian hasil yang diidentifikasi terus pada setiap langkah dalam proses keperawatan, serta rencana perawatan yang telah dilaksanakan (NANDA, 2015).

B. Subyek Studi Kasus

Subyek dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah 2 pasien dengan masalah kesehatan reproduksi yaitu kanker serviks dengan kasus yang akan dikelola secara rinci dan mendalam. Dengan kriteria subyek:

1. Responden dirawat di Ruang Mawar Nifas RSUD Abdul Wahab Sjahranie dengan diagnosa medis kanker serviks.

2. Responden mampu berbahasa Indonesia dengan baik, kooperatif, serta bisa melakukan aktivitas.

3. Bersedia menjadi responden dan telah menandatangani surat persetujuan (informed consent) sebagai bukti persetujuan.

Dokumen terkait