BAB 4 PEMBAHASAN
4.2 Diagnosa Keperawatan
kepalanya terasa mbliyur, serta ditemukan adanya gangguan pada saraf nervus XI yaitu penurunan fungsi musculoskeletal.
Diagnosa keperawatan yang tidak muncul pada klien antara lain : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disfagia sekunder akibat cedera serebrovaskuler karena klien tidak mengalami masalah pada pemenuhan nutrisi dan tidak mengalami kesulitan menelan, mengunyah, Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik otot – otot bicara akibat cedera serebrovaskular karena pada saraf Nervus VII klien tidak mengalami penurunan atau perubahan fungsi, Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakmampuan kekuatan dan ketahanan sekunder akibat paralisis parsial atau total karena klien menjalani bedrest di atas tempat tidur dan tidak dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik, Resiko jatuh berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik karena pagar tempat tidur klien selalu terpasang dan ada keluarga yang menjaga klien serta perawat yang selalu mengobservasi klien.
Pada diagnosa keperawatan dimunculkan diagnosa baru sesuai kondisi klien yaitu Hambatan mobilitas di tempat tidur berhubungan dengan neuromuskular karena klien mengalami penurunan fungsi anggota gerak dan tida bisa melakukan aktivitas fisik seperti biasanya.
4.3 Intervensi Keperawatan
Pada perumusan perencanaan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus terjadi kesenjangan yang cukup berarti karena perencanaan pada tinjauan kasus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pasien.
Pada intervensi keperawatan dimunculkan diagnosa tambahan Hambatan mobilitas di tempat tidur berhubungan dengan gangguan neuromuscular yang pada tinjauan pustaka tidak ditemukan diagnosa ini karena pada tinjauan kasus disesuaikan dengan kebutuhan klien. Pada diagnosa ini dilakukan tindakan keperawatan Bina hubungan saling percaya, Jelaskan tentang pentingnya latihan gerak aktif dan pasif, Anjurkan klien membantu menyokong pergerakan ekstremitas yang sakit dengan yang sehat, Ajarkan klien latihan rentang gerak aktif dan pasif, Observasi kekuatan otot klien, Kolaborasi dengan ahli fisioterapi secara aktif.
Pada diagnosa Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan embolisme dilakukan tindakan keperawatan Posisikan klien terlentang, Observasi tingkat kesadaran klien, Observasi status neurologis klien, Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi obat.
4.4 Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan adalah perwujudan dari perencanaan yang telah disusun.
Pelaksanaan pada tinjauan pustaka belum dapat diwujudkan karena hanya membahas teori asuhan keperawatan. Sedangkan pada tinjauan kasus pelaksanaan telah disusun dan diwujudkan pada pasien dan ada pendokumentasian serta intervensi keperawatan.
Pada diagnosa keperawatan hambatan mobilitas di tempat tidur berhubungan dengan neuromuskular, semua perencanaan tindakan keperawatan telah dilakukan seperti membina hubungan saling percaya (mengucapkan salam dengan sopan, perkenalan diri, menanyakan nama dan memberitahukan tujuan pertemuan), menjelaskan pentingnya dan cara melakukan latihan gerak aktif dan
pasif untuk meminimalisir atrofi otot, menganjurkan klien membantu menyokong pergerakan ekstremitas yang sakit dengan yang sehat (meminta klien membantu pergerakan tangan kiri dan kaki kiri yang sakit dengan di sokong tangan kanan), mengajarkan klien latihan gerak rentang aktif dan pasif (menggerakkan tangan dan kaki yang sehat dengan cara di naik turunkan dengan posisi bedrest, membantu klien menggerakkan tangan dan kaki yang sakit dengan cara di naik turunkan dengan posisi bedrest), mengobservasi kemampuan klien dalam melakukan mobilitas (mengamati klien saat melakukan mobilisasi, sebagian besar aktifitas klien di bantu keluarga), mengobservasi kekuatan otot klien (adanya kelemahan otot pada tangan kiri dan kaki kiri). Sedangkan pada tindakan keperawatan berkolaborasi dengan ahli fisioterapi tidak terlaksana hal ini disebabkan karena tidak tersedia layanan fisioterapi di ruang krisan RSUD Bangil.
Tindakan fisioterapi pada klien dilaksanakan oleh perawat.
Pada diagnosa keperawatan resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan embolisme, semua perencanaan tindakan keperawatan telah dilakukan seperti memposisikan klien terlentang (bed klien didatarkan dan meminta klien untuk bedrest dengan posisi terlentang tanpa bantal), mengobservasi tingkat kesadaran klien (kesadaran klien composmentis, GCS 4-5- 6, keadaan umum baik, klien kooperatif), mengobservasi status neurologis klien (melakukan pemeriksaan pada 12 saraf nervus, ditermukan adanya penurunan fungsi pada saraf nervus XI), berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi obat.
Pada pelaksanaan tindakan keperawatan tidak ditemukan hambatan dikarenakan pasien dan keluarga kooperatif dengan perawat, sehingga rencana tindakan dapat dilakukan.
4.5 Evaluasi Keperawatan
Pada tinjauan pustaka evaluasi belum dapat dilaksanakan karena merupakan kasus semu sedangkan pada tinjauan kasus evaluasi dapat dilaksanakan karena dapat diketahui keadaan pasien dan masalahnya secara langsung.
Pada akhir evaluasi diagnosa keperawatan hambatan mobilitas di tempat tidur berhubungan dengan neuromuskular disimpulkan bahwa masalah keperawatan pasien teratasi sebagian karena sampai 3x24 jam klien mengalami peningkatan kekuatan otot pada esktremitas kanan atas 5 dan bawah 5, pada ekstremitas kiri atas 3 dan bawah 2. Sedangkan kekuatan otot pada ekstremitas yang mengalami penurunan fungsi hingga mencapai skor 5 membutuhkan waktu 5-7 hari dan tujuan yang ditetapkan oleh perawat yaitu peningakatan kekuatan otot klien. Hal ini sesuai dengan teori menurut Nurarif & Kusuma (2015), bahwa tujuan keperawatan dari diagnosa keperawatan hambatan mobilitas di tempat tidur berhubungan dengan neuromuskular yaitu peningkatan kekuatan otot klien.
Pada akhir evaluasi diagnosa keperawatan resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan embolisme pembuluh darah otak disimpulkan bahwa masalah keperawatan pasien teratasi karena sudah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan oleh perawat yaitu tidak terjadi penurunan kesadaran, GCS 4-5-6, rasa mbliyur hilang. Hal ini sesuai dengan teori menurut Nurarif & Kusuma (2015), bahwa tujuan keperawatan dari diagnosa keperawatan resiko ketifakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan embolisme
yaitu fungsi serebral membaik atau meningkat, dan tidak terjadi penurunan fungsi serebral.
Hasil evaluasi pada Tn. T masih ada yang belum sesuai dengan harapan karena ada satu masalah yang teratasi sebagian tetapi kondisi Tn. T suduh cukup baik dari sebelumnya sehingga Tn. T dianjurkan untuk KRS.
BAB 5 PENUTUP
Setelah penulis melakukan pengamatan dan melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung pada klien dengan kasus Cva Infark di RSUD Bangil Pasuruan maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sekaligus saran yang dapat bermanfaat dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan klien dengan Cva Infark
5.1 Simpulan
Dari hasil uraian yang telah menguraikan tentang asuhan keperawatan pada klien Cva Infark, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
5.1.1 Pada pengkajian klien didapatkan data fokus pada sistem muskuloskeletal dan integumen dengan data sebagai berikut terdapat penurunan kekuatan otot pada ekstremitas kiri atas 1 dan bawah 0, kemampuan ADL parsial, klien BAK, BAB, berganti pakaian, duduk, seka dibantu keluarga, klien hanya bisa makan sendiri.
5.1.2 Masalah keperawatan yang muncul adalah hambatan mobilitas di tempat tidur dan resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral.
5.1.3 Hambatan mobilitas di tempat tidur berhubungan dengan neuromuskular sehingga menyebabkan adanya penurunan fungsi pada anggota gerak. Setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan tujuan klien mampu beraktifitas fisik sesuai kemampuannya. Kriteria hasilnya klien mampu menjelaskan kembali tentang pentingnya latihan gerak aktif dan pasif, klien melaporkan mampu menggerakan ekstremitas yang sakit, klien mampu mende-monstrasikan ulang latihan gerak aktif dan pasif, kekuatan otot meningkat. Resiko ketidakefektifan
69
perfusi jaringan serebral berhubungan dengan embolisme. Setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan tujuan tidak terjadi penurunan fungsi serebral pada klien. Kriteria hasilnya kesadaran composmentis, GCS 4-5-6.
5.1.4 Beberapa tindakan mandiri keperawatan pada klien dengan Cva Infark menganjurkan klien membantu menyokong pergerakan ekstremitas yang sakit dengan yang sehat. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, penulis melibatkan klien secara aktif dalam pelaksanaan asuhan keperawatan karena banyak tindakan keperawatan yang memerlukan kerjasama antara perawat dan klien.
5.1.5 Pada akhir evaluasi semua tujuan dapat dicapai karena adanya kerjasama yang baik antara klien dan tim kesehatan. Hasil evaluasi pada Tn.T sudah sesuai dengan harapan dan masalah teratasi.
5.2 Saran
Bertolak dari kesimpulan diatas penulis memberikan saran sebagai berikut:
5.2.1 Bagi akademis, untuk mencapai hasil keperawatan yang diharapkan, diperlukan hubungan yang baik dan keterlibatan klien, keluarga dan tim kesehatan lainnya.
5.2.2 Bagi pelayanan keperawatan di rumah sakit, dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan yang professional alangkah baiknya diadakan suatu penyuluhan atau suatu pertemuan yang membahas tentang masalah kesehatan yang ada pada klien.
5.2.3 Bagi peneliti, pendidikan dan pengetahuan perawat secara berkelanjutan perlu ditingkatkan baik secara formal dan informal khususnya pengetahuan dalam bidang pengetahuan.
5.2.4 Bagi profesi kesehatan, perawat sebagai petugas pelayanan kesehatan hendaknya mempunyai pengetahuan, keterampilan yang cukup serta dapat bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya dengan memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan Cva Infark.
72
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, G. 2009. Manajemen stroke. Yogyakarta: Pustaka Cendikia Press.
Andi Prastowo. 2014. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif.
Yogyakarta: Diva Press.
Ariani, April T. 2012. Sistem Neurobehaviour. Jakarta: Salemba Medika.
Brunner & Suddarth. 2010. Text Book Of Medical Surgical Nursing 12th Edition.
China: LWW.
Christina Whidya Utami. 2010. Manajemen ritel: Strategi dan Implementasi Ritel Modern, Jakarta: Salemba Empat.
Goldstein L., Szarek M., Sillesen H., Rudolph A., Callahan A., Amarenco P., Hennerici M. 2006. Effects of Intense Low-Density Lipoprotein Cholesterol Reduction in Patients With Stroke or Transient Ischemic Attack. American Heart Association. 38: 3198-3204
Junaidi, Iskandar. 2011. Stroke Waspadai Ancamannya. Yogyakarta: ANDI.
Muttaqin, A. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Nurarif. A.H. dan Kusuma. H. 2015. APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta:
MediAction.
Pujianto, Sri. 2008. Menjelajahi Dunia Biologi 1. Jakarta : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
R. A, Nabyl. 2012. Deteksi dini dan pengobatan stroke, solusi hidup sehat bebas stroke. Yogyakarta: Aulia Publishing.
Satyanegara, 2012. Ilmu Bedah Saraf Edisi 4. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wiratmoko, H. 2008. Deteksi Dini Serangan dan Penanganan Stroke di Rumah.
Jurnal Infokes STIKES Insan Unggul, hal. 37-44
Wiwit, S. 2010. Stroke & Penanganannya. Yogyakarta: Katahati.