B. Penegakan Diagnosis Klinis TBC
C.3. Diagnosis Okupasi: Silikotuberkulosis Akibat Kerja Kode
73
6. Prognosis (prediksi mengenai perkembangan suatu penyakit) Ad vitam, ad functionam dan ad sanationam bonam, jika tidak ada komplikasi
C.3. Diagnosis Okupasi: Silikotuberkulosis Akibat Kerja
74
paparan debu silika menjadi silikosis akut masih sedikit studinya tapi diperkirakan 1-10 mg/m3/tahun. Accelerated silicosis dapat terjadi setelah 2-10 tahun dengan gejala penurunan fungsi paru dan banyak berkembang infeksi mycobacterium, sering disertai penyakit autoimun (scleroderma atau sclerosis sistemik). Silikosis kronis dapat asimptomatik atau mengakibatkan dyspnea atau batuk yang progresif, umumnya dengan riwayat pajanan silika lebih 10 tahun atau lebih sejak awal paparan.
Secara umum gejala silikotuberkulosis paru adalah batuk produktif lebih dari 2 minggu yang disertai:
- Gejala pernapasan (nyeri dada, sesak napas, hemoptisis) dan/atau
- Gejala sistemik (demam, tidak nafsu makan, penurunan berat badan, keringat malam dan mudah lelah)
Infeksi bakteri berulang seperti pada bronkiektasis dapat terjadi.
Pneumothoraks akibat paru-paru yang fibrotik merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita silikotuberkulosis, yang bersifat mengancam jiwa. Hipoksia akibat gagal nafas karena kor pulmonale merupakan fase terminal yang umum terjadi. Pada awal perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan. Pada auskultasi didapatkan suara napas bronkial/amforik/suara napas melemah/ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum.
Pemeriksaan Penunjang yang dilakukan untuk penegakan diagnosis silikotuberkulosis adalah : Tes Cepat Molekuler (TCM), pemeriksaan bakteri tahan asam, pencitraan (rontgen torax PA dengan high kV technique, 300mA, 70-125kV), CT scan paru dan bronchoalveolar lavage (BAL).
75
Tabel 5.3. Tujuh Langkah Diagnosis Okupasi: Silikotuberkulosis Akibat Kerja Langkah 1: Menentukan diagnosis klinis Keterangan Silikotuberkulosis paru
Diagnosis klinis sudah
ditegakkan Langkah 2: Menentukan pajanan yang ada di lingkungan kerja Keterangan Diketahui adanya riwayat pajanan debu silika pada lingkungan
kerja atau riwayat pajanan debu silika pada lingkungan kerja di negara endemic TBC. Pekerja dengan riwayat silikosis serta adanya riwayat kontak erat dengan pasien tuberkulosis aktif atau specimen (sputum, cairan lambung, cairan serebrospinal, urin, jaringan, cairan pleura dan bronkus) dari pasien tuberkulosis aktif.
Dokumen
Pendukung, bila ada:
-Surat Tugas -Jadwal Dinas -Data sumber pajanan
-Data kesehatan (kasus)
Langkah 3: Menentukan apakah ada hubungan antara pajanan di
lingkungan kerja dengan penyakitnya Keterangan
Silikotuberkulosis merupakan penyakit akibat paparan silika dan banyak ditemukan di negara endemik TBC. Pekerja yang terpapar debu silika yang intensitas tinggi dalam waktu beberapa minggu sampai kurang 5 tahun dapat menyebabkan terjadinya silicosis akut. Sebuah studi menyebutkan insiden tuberculosis pada pasien dengan silicosis 21,8 kali lebih tinggi dibanding populasi umum.
Studi lain mendapatkan pekerja dengan silikosis memiliki risiko relatif lebih tinggi 2,8 kali terinfeksi tuberkulosis dan 3,7 kali terinfeksi tuberkulosis ekstra paru dibandingkan tanpa silikosis.
Langkah 4: Menentukan kecukupan pajanan untuk dapat
menyebabkan terjadinya penyakit tersebut Keterangan Tidak ada dosis minimal untuk pajanan biologi.
Hasil data pengukuran debu silika di lingkungan kerja : NIOSH REL respirable crystalline silika 0.05mg/m3 (50µg/m3), OSHA PEL crystalline silika (quartz) 10mg/m3, ACGIH TLV 0.1mg/m3 . Silikosis akut dapat berkembang beberapa minggu sampai kurang 5 tahun sejak paparan silika dengan intensitas tinggi. Lama bekerja dengan pajanan silika >10 tahun meningkatkan risiko terinfeksi tuberkulosis. Risiko ini meningkat 4 kali, bila lama bekerja dengan pajanan silika >15 tahun.
Langkah 5: Menentukan adanya faktor individu Keterangan
76
Faktor risiko individu misalnya merokok, pneumokoniosis, diabetes melitus, PPOK, HIV, autoimun, gizi kurang. Adanya keadaan tersebut tidak menyingkirkan kemungkinan silikotuberkulosis akibat kerja.
Langkah 6: Menentukan faktor di luar pekerjaan yang dapat
menyebabkan penyakit tersebut Keterangan
Adanya faktor di luar pekerjaan tidak menyingkirkan kemungkinan silikotuberkulosis akibat kerja.
Langkah 7: Menentukan penyakit akibat kerja atau bukan akibat
kerja Keterangan
Bila kriteria langkah 1, 2, 3 dan 4 terpenuhi diagnosis okupasi silikotuberkulosis akibat kerja.
Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) pada kasus silikotuberkulosis akibat kerja terdiri dari :
1. Klinis : sesuai dengan tatalaksana klinis tuberkulosis Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (bab mengenai tuberkulosis paru pada dewasa);
2. Okupasi: sesuai dengan Ilmu Kedokteran Okupasi, meliputi:
a. Individu: pekerja dengan silikotuberkulosis paru berisiko menularkan, sehingga harus restriksi tugas selama minimal 2 minggu pengobatan OAT untuk mencegah penularan di tempat kerja. Evaluasi ulang risiko penularan dilakukan dengan pemeriksaan bakteriologis setelah pengobatan 2 minggu. Adapun penilaian kelaikan kerja selanjutnya menggunakan 7 langkah penilaian kelaikan kerja (Perdoki) termasuk mempertimbangkan risiko penularan di lingkungan kerja dan risiko memperburuk kondisi kesehatan jika terpapar kembali silika, organ yang terkena serta gejala yang ada, komplikasi penyakit, efek samping obat (ESO)
b. Komunitas: upaya pengendalian pajanan di tempat kerja, berupa:
77
b.1) Pengendalian teknik: Misalnya pengaturan aliran udara dan ventilasi pada area kerja dengan pajanan debu silika &
pengukuran kualitas udara secara berkala, menyediakan ruang isolasi khusus pasien tuberkulosis, penggunaan HEPA filter, dll.
b.2) Pengendalian administratif:
- Edukasi mengenai pencegahan pajanan silika dan infeksi (standard precaution), cara kerja yang aman pada pekerja untuk mencegah penularan penyakit tuberkulosis;
- SPO diagnosis dini pekerja lain dengan pajanan yang sama melalui pemeriksaan kesehatan (tracing);
- Edukasi etika batuk dan SPO kebersihan tangan, ketaatan minum obat cara kerja yang aman pada pekerja, serta edukasi dan skrining keluarga yang kontak erat;
- Pemantauan lingkungan kerja terutama debu silika secara berkala;
- SPO pembuangan limbah pasien ke tempat sampah infeksius.
- Ketersediaan reagen laboratorium pemeriksaan penunjang TB serta OAT
- Pemberi kerja mengikutsertakan pekerja menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan untuk non ASN/TNI/Polri untuk Jaminan Penyakit Akibat Kerja, adapun ASN dijaminkan oleh PT. Taspen dan TNI/Polri oleh PT. Asabri
b.3) Penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi pekerja terpapar debu silika serta petugas yang kontak dengan
78
pasien tuberkulosis atau spesimen tuberkulosis sesuai tingkat risiko, misalnya penggunaan masker N95.
3. Deteksi Dini/Skrining
Diagnosis dini/skrining pemeriksaan kesehatan pekerja dengan riwayat pajanan silika dan yang berisiko tinggi tertular tuberkulosis termasuk skrining ILTB ( Infeksi Laten Tuberkulosis)
4. Kriteria dan Tatalaksana Rujukan
Rujuk jika ada komplikasi untuk tatalaksana klinis dan tatalaksana okupasi lanjutan dalam hal penilaian laik kerja, program kembali kerja, dan penilaian kecacatan. Rujuk balik dilakukan jika sudah selesai dilakukan tatalaksana klinis dan okupasi lanjutan.
5. Rencana Tindak Lanjut dan Pelaporan
Temuan ini dilaporkan oleh fasyankes dan pekerja kepada pemberi kerja, Dinas Kesehatan, dan Dinas Ketenagakerjaan mengikuti peraturan perundangan yang berlaku. Agar pekerja yang bersangkutan mendapatkan haknya sesuai peraturan dan perundangan yang berlaku, perlu dilaporkan kepada BPJS Ketenagakerjaan/ PT.
ASABRI/PT. Taspen sesuai kepesertaan.
6. Prognosis (prediksi mengenai perkembangan suatu penyakit)
Ad vitam, ad functionam dan ad sanationam bonam, jika tidak ada komplikasi seperti atelektasis, hemoptisis, fibrosis, bronkiektasis, penumothoraks, gagal napas, kor pulmonale.
D. Tatalaksana Tuberkulosis Sensitif Obat