PANDUAN PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI TEMPAT KERJA
EDITOR
DR. Dr. Astrid B Sulistomo, MPH, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K) Dr. Nusye Edithe Zamsiar, MS, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K)
Dr. Maya Setyawati, MKK, Sp.Ok, MARS
PERHIMPUNAN SPESIALIS KEDOKTERAN OKUPASI INDONESIA 2023
i
PANDUAN PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI TEMPAT KERJA Jakarta 2023
EDITOR
1. DR. Dr. Astrid B Sulistomo, MPH, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K) 2. Dr. Nusye Edithe Zamsiar, MS, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K) 3. Dr. Maya Setyawati, MKK, Sp.Ok, MARS
PENYUSUN
1. DR. Dr. Astrid B Sulistomo, MPH, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K) 2. Dr. Nusye Edithe Zamsiar, MS, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K) 3. Dr. Maya Setyawati, MKK, Sp.Ok, MARS
4. Dr. Rima Melati, MKK, Sp.Ak, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K) 5. Dr. Agustina Puspitasari, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K)
6. Dr. Raymos Parlindungan Hutapea, MKK, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K) 7. Dr. Dyah Purwaning Rahayu, Sp.Ok
8. Dr. Muhammad Ilyas, Sp.Ok, Subsp.ToksiKO (K) 9. Dr. Iwan Rivai Alam Siahaan, Sp.Ok
Ukuran 15 x 24
Halaman romawi i – xiv Halaman isi 1 - 129
PENERBIT:
Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia Sekretariat Perdoki
Jl. Dr.GSSY Ratulangi Nomor 29 Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350 Indonesia Telepon : +62 811 1437 455
Email : [email protected] Website : www.perdoki.or.id
ISBN : 9786238841509
ii
KATA PENGANTAR
KETUA UMUM PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat- Nya buku “Panduan Penanggulangan TBC di Tempat Kerja” telah selesai disusun oleh PERDOKI.
Seperti kita ketahui bersama bahwa penanggulangan Tuberkulosis (TBC) merupakan program nasional dan juga menjadi sasaran MDGs. Berbeda dengan pelayanan medis terhadap penyakit lainnya, pelaksanaan pelayanan TBC memiliki kekhususan, karena pelayanan medis TBC membutuhkan tatalaksana diagnosis yang benar, pengobatan sesuai pedoman nasional, serta risiko terjadinya MDR, XDR dan lain-lain.
Semua orang memiliki risiko untuk tertular TBC. TBC mudah menular di tengah masyarakat, sehingga dapat menyebabkan angka kesakitan dan angka kematian yang tinggi. TBC juga paling banyak terjadi pada kelompok usia produktif, yaitu pada kelompok pekerja, dengan demikian akan berdampak pada penurunan produktivitas pekerja apabila tidak dilakukan upaya penangggulangan terhadap permasalahan ini. Pihak manajemen perusahaan atau pemberi kerja perlu turut serta aktif untuk melakukan upaya penanggulangan TBC di tempat kerja, agar tempat kerja tidak menjadi tempat penularan TBC.
Tempat kerja merupakan tempat yang ideal untuk melakukan intervensi terhadap penanggulangan masalah kesehatan seperti TBC. Panduan Penanggulangan TBC di Tempat Kerja ini dapat dijadikan panduan untuk implementasi penanggulangan TBC di tempat kerja. Di dalam buku ini juga dicantumkan implementasi di tempat kerja yang berbeda-beda seperti di perusahaan, rumah sakit, maupun fasilitas pelayanan kesehatan lain.
Dengan demikian, kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik terbitnya buku panduan ini, sehingga diharapkan kita dapat bersama-sama mengimplementasikan program penanggulangan TBC di tempat kerja agar tercapai target eliminasi TBC tahun 2030.
iii PRAKATA
KETUA UMUM PERHIMPUNAN SPESIALIS KEDOKTERAN OKUPASI INDONESIA (PERDOKI)
Assalamu’alaikum Wr.Wb, Salam sejahtera buat kita semua.
Saya mengucapkan syukur Alhamdulillah, atas diterbitkannya buku “Panduan Penanggulangan TBC di Tempat Kerja”, yang merupakan buku PERDOKI pertama pada tahun 2023 ini. Indonesia selama ini belum menunjukkan keberhasilan yang berarti dalam penanggulangan TBC, khususnya TBC paru, karena kompleksnya permasalahan yang dihadapi. Sehingga Indonesia masih selalu menempati peringkat ke 2 hingga 3 teratas dalam jumlah kasus TBC.
Prevalensi TBC di Indonesia paling banyak terjadi pada usia produktif, yang juga merupakan kelompok usia pekerja. Jumlah angkatan kerja berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2022 sebanyak 143,72 juta orang, naik 3,57 juta orang dibanding Agustus 2021. Oleh karena itu komunitas pekerja perlu menjadi kelompok sasaran khusus dalam penanggulangan TBC di Indonesia, sebab bila TBC bisa ditanggulangi pada komunitas pekerja akan dapat memberikan kontribusi bermakna terhadap pencapaian program penanggulangan TBC di Indonesia.
Tempat kerja dapat memberi kesempatan luas untuk edukasi mengenai penyakit TBC, deteksi dini TBC, juga tempat kerja dapat ikut melakukan pengawasan terhadap pengobatan yang diberikan. Sehingga kesempatan-kesempatan ini perlu dimanfaatkan dalam program penanggulangan TBC. Di lain pihak ada pekerja-pekerja yang lebih berisiko tinggi untuk tertular TBC, juga pengobatan TBC pada pekerja dengan silikosis perlu mendapat perhatian khusus.
Buku panduan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi tenaga kesehatan maupun pengampu kebijakan, serta mitra bestari lain dalam menanggulangi TBC di tempat kerja, karena ada beberapa hal khusus yang perlu dilakukan bagi pekerja.
Kepada sejawat yang telah meluangkan waktu dan pikirannya untuk menulis buku ini, serta semua yang terlibat, saya ucapkan banyak terima kasih. Semoga dapat bermanfaat untuk Indonesia.
Jakarta, Juli 2023 Ketua Umum PERDOKI,
DR.Dr. Astrid B Sulistomo, MPH, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K)
iv
KATA SAMBUTAN
DEPUTI BIDANG KOORDINASI PENINGKATAN KUALITAS KESEHATAN DAN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN RI
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karuniaNya sehingga Buku Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Tempat Kerja ini telah diterbitkan.
Sebagaimana kita ketahui, saat ini Indonesia memiliki beban kasus penyakit TBC tertinggi kedua di dunia setelah India. Kasus TBC di Indonesia terbanyak mengenai usia produktif yaitu sebesar 68%. Studi menunjukkan bahwa 36% orang yang mengalami TBC menjadi kehilangan produktifitas, dan 47% keluarga jatuh miskin akibat TBC. Dampak ekonomi akibat terjangkit TBC setara dengan hilangnya waktu produktif 3-4 bulan atau setara dengan 20-30% pendapatan rumah tangga dalam setahun. Upaya penanggulangan TBC, selain dapat mencegah terjadinya kesakitan dan kematian, juga mencegah bertambahnya jumlah penduduk miskin akibat TBC di Indonesia.
Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menghapus kemiskinan ekstrim di tahun 2024. Oleh karena itu penanggulangan TBC perlu dilakukan massif dan melibatkan semua sektor dan pemangku kepentingan terkait.
Buku Penanggulangan TBC di Tempat Kerja ini sangat mendukung upaya percepatan eliminasi TBC, mengingat kasus TBC terbanyak pada usia produktif, serta sesuai amanah Perpres No. 67 Tahun 2021 Tentang Penanggulangan TBC dan Permenaker No. 13 Tahun 2022 Tentang Penanggulangan TBC di Tempat Kerja. Buku ini memberikan informasi permasalahan TBC pada pekerja, program penanggulangan TBC di tempat kerja, diagnosis dan tatalaksana TBC di tempat kerja termasuk deteksi dini TBC pada pekerja, TBC akibat kerja, serta silikotuberkulosis yang dapat dialami oleh pekerja, yang selama ini belum banyak didiagnosis dan diberikan tatalaksana yang seharusnya. Kami berharap dengan adanya buku ini pencegahan dan penanganan orang dengan TBC di tempat kerja akan semakin baik dan komprehensif serta tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan TBC.
Kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada PERDOKI sebagai anggota Wadah Kemitraan Penanggulangan Tuberkulosis (WKPTB), yang telah berinisiatif menyusun buku ini. Semoga Buku ini dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan terkait dan dunia usaha dalam berkolaborasi meningkatkan kesehatan, produktifitas, dan kesejahteraan pekerja serta dunia usaha.
“Kolaborasi melalui aksi PROTEKSI (Program Terpadu Kemitraan Penanggulangan TBC) dalam mewujudkan eliminasi TBC di Indonesia tahun 2030 serta SDM unggul, Indonesia maju dan makmur tahun 2045”
Jakarta, Agustus 2023
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan
Selaku Ketua WKPTB
Y.B. Satya Sananugraha
v
KATA SAMBUTAN
DIREKTUR JENDERAL PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT KEMENTERIAN KESEHATAN RI
Upaya mencapai eliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030 telah diamanahkan melalui Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis (Perpres 67/2021). Menindaklanjuti amanah dalam Perpres tersebut, Kemenaker telah menerbitkan Permenaker Nomor 13 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja. Melalui Permenaker tersebut, dimuat jaminan pemenuhan hak pekerja untuk mendapatkan dukungan dari perusahaan atau pemberi kerja dalam pelayanan dan tata laksana TBC sesuai standar tanpa diskriminasi dan stigma.
TBC bukan hanya menjadi masalah di sektor kesehatan, namun juga berdampak dan menjadi tantangan untuk pembangunan Indonesia karena 75% pasien TBC merupakan kelompok usia produktif. Menurunnya produktivitas, pengeluaran biaya medis, dan biaya langsung non-medis dapat berdampak pada beban ekonomi pekerja dengan TBC, yang selanjutnya berpotensi menjadi beban sosial kemasyarakatan.
Strategi ke-5 Penanggulangan TBC yang telah tertuang dalam Perpres 67/2021 adalah peningkatan peran serta komunitas, Pemangku Kepentingan, dan multisektor lainnya dalam Penanggulangan TBC. Dengan demikian Organisasi Profesi dalam hal ini PERDOKI yang merupakan salah satu pemangku kepentingan penanggulangan TBC mempunyai peran penting dalam mewujudkan amanah yang telah dituangkan dalam Permenaker Nomor 13 Tahun 2022. Buku Panduan Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja ini merupakan salah satu wujud kontribusi PERDOKI.
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada PERDOKI dan semua pihak yang telah bekerja sama untuk menyusun buku panduan ini. Semoga panduan ini bermanfaat bagi semua pemangku kepentingan terkait dalam hal penanggulangan TBC, khususnya di tempat kerja.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI
Dr.dr.Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS
vi
KATA SAMBUTAN
DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN DAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN RI
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua, Syalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam
Kebajikan.
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang sampai saat ini masih menjadi salah satu masalah utama kesehatan di dunia dan Indonesia. Data Global TB Report 2022 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan beban TBC tertinggi ke-2 di dunia setelah India dengan estimasi kasus sebanyak 969.000. Berdasarkan data jumlah kasus TBC tersebut, diketahui pula bahwa sebagian besar kasus TBC yang ditemukan termasuk ke dalam kelompok usia produktif.
Indonesia telah berkomitmen dan bersepakat bersama dengan para pemimpin dunia untuk berusaha mencapai eliminasi TBC pada tahun 2030, juga termasuk dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penanggulangan TBC dan menggalang kontribusi serta dukungan dari multipihak, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021. Komitmen Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia dalam penanggulangan TBC tertuang di dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Permenaker) Nomor 13 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja. Sebagai upaya mencegah dan mengendalikan TBC di tempat kerja agar lebih efektif dan menyeluruh, yang merupakan bagian dari upaya keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Sasaran pelaksanaan Permenaker ini adalah pengusaha dan pengurus perusahaan, dokter perusahaan, serta pekerja/buruh.
Saya mengapresiasi dan berterima kasih atas kerja keras Perdoki dengan terbitnya buku Panduan Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja ini. Semoga buku panduan ini memberikan manfaat, menginspirasi untuk lebih banyak melibatkan pemangku kepentingan, khususnya di tempat kerja dalam penanggulangan TBC di Indonesia. Ayo Bersama Akhiri TBC, Indonesia Bisa! Semangat Eliminasi TBC.
K3 Unggul, Indonesia Maju!
Salam K3!
Wallahul muwaffiq illa aqwamit-thariq,
wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Dr. Haiyani Rumondang, M.A
vii
KATA SAMBUTAN
DIREKTUR PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR KEMENTERIAN KESEHATAN RI
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah, rahmat dan karunia-Nya, sehingga buku Panduan Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja ini dapat diselesaikan dengan baik.
Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia termasuk Indonesia. Data WHO secara global mencatat saat ini terdapat sebanyak 20,6 juta kasus TBC di seluruh dunia dengan angka kematian sebanyak 1,4 juta. Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk ke dalam 10 peringkat negara dengan beban kasus tertinggi di dunia. Berdasarka tingginya beban kasus TBC, Indonesia telah menandatangani kesepakatan bersama dengan para pimpinan dunia untuk berusaha mencapai eliminasi TBC pada tahun 2030, yang juga termasuk dalam tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) terkait kesehatan.
Tempat kerja merupakan salah satu tempat berisiko terjadinya penularan TBC dikerenakan salah satu tempat berkumpulnya orang dalam jumlah banyak dengan kurun waktu tertentu. Pekerja di tempat kerja juga dihadapkan dengan berbagai potensi bahaya (hazard) diantaranya potensi bahaya secara biologi dan kimia yang terkait dengan kesehatan kerja dan Penyakit Akibat Kerja (PAK). Oleh karena itu, upaya penanggulangan TBC di tempat kerja perlu dimaksimalkan.
Peraturan Presiden No.67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis juga sudah memuat kewajiban dan tanggungjawab penggaulangan TBC di tempat kerja. Hal tersebut juga sudah ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.13 tahun 2022 tentang Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja. Sehingga urgensi untuk implementasi Upaya penanggulangan TBC di tempat kerja sudah tidak bisa dielakkan lagi sebagai bagian dari upaya mencapai eliminasi TBC 2030.
Upaya penanggulangan TBC di tempat kerja tentunya memerlukan kontribusi seluruh pihak baik pihak pemerintah maupun swasta, termasuk dari organisasi profesi sebagai tenaga ahli/klinis dalam disiplin ilmu terkait. Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI) sebagai tenaga ahli/klinis yang berfokus kepada peningkatan status kesehatan dan produktivitas pekerja, telah berkontribusi dalam mendukung upaya penanggulangan TBC di tempat kerja salah satunya melalui penyusunan buku Panduan Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja yang memuat tatalaksana TBC pada pekerja sesuai pedoman kedokteran okupasi yang nantinya menjadi rujukan bagi berbagai pihak baik pihak manajemen tempat kerja, tim Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), dokter perusahaan atau dokter/tenaga kesehatan pengelola klinik tempat kerja, termasuk pada asosiasi pengusaha.
Dengan demikian, kami mengapresiasi dan menyambut baik terbitnya buku panduan ini, sehingga diharpakan kita dapat bersama-sama mengimplementasikan program penanggulangan TBC di tempat kerja agar tercapai target eliminasi TBC tahun 2030.
Jakarta, Juli 2023
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular,
Dr. Imran Pambudi, MPHM
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 : Target of End TBC Strategy, WHO 2015 Gambar 2.2 : Target Eliminasi Tuberkulosis Tahun 2020
Gambar 2.3 : Target Penanggulangan TBC di Indonesia tahun 2024 dan 2030 Gambar 2.4 : Proyeksi penurunan insidensi TBC tahun 2030 menurut pemodelan
TIME Impact
Gambar 3.1 : Kejadian TBC menurut kelompok umur di Indonesia
Gambar 4.1 : Bagan Kemitraan/Jejaring Penanggulangan TBC di Tempat Kerja Gambar 4.2. : Proses Manajemen Risiko
Gambar 4.3 : Pengendalian Risiko
Gambar 4.4 : Arah Ventilasi Alami atau Lokasi Kerja yang Baik Gambar 4.5 : Jejaring Internal TBC di Rumah Sakit
Gambar 4.6 : Jejaring Eksternal TBC di FKRTL dan FKTP Gambar 4.7 : Jejaring Internal TBC di Puskesmas
Gambar 5.1 : Bagan Alur Penegakan Diagnosis TBC Paru Gambar 5.2 : Alur Diagnosis TBC RO
Gambar 5.3 : Alur Rujukan Kasus TBC RO Gambar 5.4 : Alur Pengobatan TBC RO
Gambar 5.5 : Algoritma Pemeriksaan ILTBC dan Pemberian TPT pada Individu Berisiko
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 : Tujuh Langkah Diagnosis Okupasi Tuberkulosis Paru Akibat Kerja
Tabel 5.2 : Tujuh Langkah Diagnosis Okupasi Tuberkulosis Ekstra Paru Akibat Kerja
Tabel 5.3 : Tujuh Langkah Diagnosis Okupasi Silikotuberkulosis Akibat Kerja Tabel. 5.4 : Dosis OAT untuk Pengobatan TBC Menggunakan Tablet
Kombinasi Dosis Tetap (KDT)
Tabel 5.5 : Panduan Terapi Pencegahan Tuberkulosis
x
DAFTAR SINGKATAN
ACH : Air change perhours APD : Alat Pelindung Diri BAL : Bronchoalveolar Lavage BTA : Bakteri Tahan Asam
DOTS : Direct Observed Treatment Short-Course DPM : Dokter Praktik Mandiri
D-PPM : District Base Public Private Mix Fasyankes : Fasilitas Pelayanan Kesehatan FKTP : Fasilitas Kesehatan Tingkat Primer
FKRTL : Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan HVAC : Heating, Ventilation, and Air Conditioning IGRA : Interferon Gamma Release Assay
IL TBC : Infeksi Laten Tuberkulosis JKK : Jaminan Kecelakaan Kerja
K3RS : Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit KDT : Kombinasi Dosis Tetap
MDR : Multi Drug Resistant OAT : Obat Anti Tuberkulosis
P2K3 : Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja PAK : Penyakit Akibat Kerja
PMO : Pengawas Menelan Obat PPK : Panduan Praktik Klinis
PNPK : Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Pre-XDR : pre-Extensively Multi Drug Resistant SITB : Sistem Informasi Tuberkulosis TBC : Tuberkulosis
TBEP : Tuberkulosis Ekstra Paru TBC RO : Tuberkulosis Resistan Obat
xi
TBC RR : Tuberkulosis Resistan Rifampisin TCM : Tes Cepat Molekular
TPT : Terapi Pencegahan Tuberkulosis TST : Tuberculin Skin Test
WIFI TB : Wajib Notifikasi Tuberkulosis XDR : Extensively Multi Drug Resistant
xii DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang ... 1
B.Permasalahan ... 3
C. Dasar Hukum... 3
D. Tujuan ... 5
D.1 Tujuan Umum ... 5
D.2 Tujuan Khusus ... 5
E. Sasaran ... 5
F. Ruang Lingkup ... 6
G. Pengertian... 6
BAB II PROGRAM PENANGGULANGAN TBC DI INDONESIA ... 9
A. Komitmen Global dalam Penanggulangan Tuberkulosis... 9
B. Komitmen Nasional dalam Penanggulangan Tuberkulosis ... 10
C. Tujuan dan Target Penanggulangan TBC ... 11
D.Strategi Program Penanggulangan TBC di Indonesia ... 13
E. Sasaran Populasi dan Kelompok Berisiko Tuberkulosis ... 14
F. Pemodelan Epidemiologi Tuberkulosis ... 14
G.Pendekatan Intervensi Penanggulangan Tuberkulosis tahun 2020-2026 ... 16
BAB III PERMASALAHAN TUBERKULOSIS PARU PADA PEKERJA . 24 A. Epidemiologi ... 24
B.Kategori TBC pada pekerja ... 25
C. Silikosis dan Silikotuberkulosis ... 25
D. Deteksi Dini TBC pada Pekerja ... 27
E. Penanganan TBC pada Pekerja ... 27
BAB IV PENGEMBANGAN PROGRAM PENANGGULANGAN TBC DI TEMPAT KERJA ... 29
A. Manajemen TBC di Tempat Kerja ... 30
A.1 Kebijakan Internal ... 30
xiii
A.2 Komitmen Perusahaan ... 30
A.3 Integrasi dalam Pelayanan Kesehatan Kerja ... 31
A.4 Peran Serta Pihak-Pihak Terkait ... 33
A.5 Sumber Daya, Sarana, Prasarana dan Logistik ... 34
A.6 Jejaring Pelayanan ... 35
B. Program Penanggulangan TBC di Tempat Kerja (Perusahaan) ... 35
B.1. Manfaat program penanggulangan TBC di tempat kerja ... 35
B.2 Prinsip Dasar Kebijakan Program Penanggulangan TBC di Tempat Kerja ... 36
B.3 Strategi Persiapan Program Penanggulangan TBC di Tempat Kerja .... 37
B.4 Komunikasi, Informasi dan Edukasi Program Penanggulangan TBC di Tempat Kerja ... 38
B.5 Penemuan Kasus TBC di Tempat Kerja ... 39
B.6 Satgas Penanggulangan TBC di Tempat Kerja ... 40
B.7 Kemitraan/Jejaring Penanggulangan TBC di Tempat Kerja ... 41
B.8 Penerapan Program Penanggulangan TBC di Tempat Kerja ... 42
BAB V DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA TBC DI TEMPAT KERJA ... 57
A.Deteksi Dini TBC pada Pekerja ... 57
B.Penegakan Diagnosis Klinis TBC ... 59
B.1. Gambaran klinis ... 60
B.2. Pemeriksaan fisik : ... 61
B.3 Pemeriksaan bakteriologis ... 61
B.4 Pemeriksaan Radiologis ... 61
B.5 Pemeriksaan lain ... 62
B.6 Alur Penegakan Diagnosis TBC Paru ... 63
C. Penegakan Diagnosis Okupasi ... 64
C.1.Diagnosis Okupasi : Tuberkulosis Paru Akibat Kerja ... 64
C.2.Diagnosis Okupasi: Tuberkulosis Ekstra Paru Akibat Kerja ... 68
C.3.Diagnosis Okupasi: Silikotuberkulosis Akibat Kerja ... 73
D. Tatalaksana Tuberkulosis Sensitif Obat ... 78
D.1. Pengobatan Tuberkulosis ... 78
D.2. Tatalaksana Okupasi ... 80
xiv
D.3. Kelaikan Kerja ... 81
D.4. Kembali Bekerja ... 82
D.5. Penilaian Kecacatan ... 83
E. Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) ... 83
E.1. Kategori resistan terhadap obat anti TBC (OAT) ... 83
E.2. Deteksi Dini TBC RO ... 84
E.3. Penegakan diagnosis TBC RO ... 85
E.4 Alur diagnosis TBC RO ... 86
E.5. Alur rujukan kasus TBC RO ... 86
E.6. Tatalaksana TBC RO ... 88
BAB VI PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI ... 95
A. Pencatatan ... 95
B. Pelaporan ... 95
C. Surveillance ... 98
D. Monitoring dan Evaluasi ... 99
D.1. Indikator Penemuan : ... 100
D.2. Indikator Pengobatan TBC ... 101
E. Supervisi ... 101
BAB VII PENUTUP ... 103
Daftar Pustaka ... 104
Lampiran ... 108
1 BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tuberkulosis (TBC) sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya penanggulangannya telah dilaksanakan di banyak negara sejak tahun 1995. Berdasarkan data WHO pada Global Tuberculosis Report (GTR) 2022, Indonesia berada pada posisi kedua dengan jumlah penderita tuberkulosis terbanyak di dunia setelah India. Menurut data SITBC (Sistem Informasi TBC) Kementerian Kesehatan 2021-2022 per 6 November 2022, estimasi kasus baru TBC berdasarkan GTR 2022 adalah 969.000 kasus dengan cakupan pengobatan 72% pada tahun 2022 (dashboard TBC pada website Tuberkulosis Indonesia). Berdasarkan data-data tersebut, untuk mencapai target eliminasi TBC tahun 2030 sesuai Peraturan Presiden nomor 67 tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, masih banyak upaya yang harus dilakukan. Presiden RI telah mencanangkan slogan TOSS TBC (Temukan, Obati Sampai Sembuh TBC) melalui acara Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC Tahun 2030, pada Hari Tuberkulosis Sedunia 24 Maret 2016 .
Berbagai pihak harus berpartisipasi aktif, baik pemerintah, puskesmas/RS pemerintah, organisasi profesi, rumah sakit/klinik swasta maupun dokter praktik mandiri (DPM) yang telah dicanangkan dengan peningkatan jejaring layanan TBC melalui D-PPM (District Base Public Private Mix) pelayanan TBC terpadu, pemerintah dan swasta dengan pembentukan tim koalisi profesi dalam penanggulangan TBC (KOPI TBC) pada tahun 2018 yang terdiri dari Dinkes provinsi/ kabupaten-kota bersama pewakilan organisasi-organisasi profesi yaitu IDI, PDPI, PAPDI, PERDOKI, IDAI, PDUI, PDS PATKLIN, PDSRI, IAI, PPNI, IBI, PAEI , IDKI, PDKI, PAFI, PATELKI, IAKMI, dan organisasi profesi lainnya. Selain itu, Puskesmas juga bekerjasama dengan
2
klinik-klinik dan dokter praktik mandiri untuk meningkatkan temuan kasus dan pengobatan. Dukungan Ikatan Dokter Indonesia diterapkan dengan pemberian SKP (Satuan Kredit Partisipasi) bagi DPM, klinik, puskesmas dan rumah sakit dalam penatalaksanaan pasien TBC.
Tempat kerja merupakan lingkungan dengan populasi yang terkonsentrasi pada tempat dan waktu yang sama, sehingga merupakan salah satu lingkungan potensial dalam penularan TBC. Dengan demikian maka kondisi lingkungan kerja dan tingkat penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja sangat mempengaruhi penularan TBC diantara para pekerja. Pencegahan dan pengendalian TBC di tempat kerja dapat diintegrasikan dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan kerja khususnya dan pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada umumnya.
Prinsip dasar pengobatan TBC di tempat kerja tidak berbeda dengan pengobatan TBC pada umumnya. Namun demikian tatalaksana TBC di tempat kerja mempunyai karakteristik tersendiri dalam hal hubungan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. Beberapa pekerjaan tertentu dapat menyebabkan penyakit TBC akibat kerja. Selain itu, pajanan bahan-bahan kimia di lingkungan kerja dapat menjadi komorbid seperti silikosis (silikotuberkulosis).
Adanya hubungan timbal balik antara pekerjaan dengan kejadian TBC memerlukan pendekatan tambahan dalam tatalaksana yaitu untuk menetapkan diagnosis TBC akibat kerja, penetapan kelaikan kerja dan kembali bekerja setelah mengalami TBC. Lingkungan kerja sebagai penyebab atau pemberat TBC dan komorbidnya memerlukan perhatian tersendiri untuk pengendaliannya.
Sehubungan dengan hal tersebut, Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI) menyusun buku Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja sebagai acuan bagi pelaksana pengendalian TBC di tempat kerja dan pihak-pihak terkait lainnya.
3 B. Permasalahan
Hal-hal yang masih menjadi permasalahan terkait penyakit TBC di Indonesia diantaranya ialah :
1. Kasus TBC banyak terjadi pada anak-anak dan dewasa, termasuk usia produktif;
2. Temuan kasus dan pelaporannya belum sesuai yang diharapkan (under reported) termasuk tuberkulosis akibat kerja belum ada data nasional;
3. Panduan Praktik Klinis (PPK) tuberkulosis akibat kerja belum masuk dalam Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) tuberkulosis;
4. Kesadaran pasien untuk pengobatan rutin belum optimal;
5. Masih banyak masyarakat yang belum menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan (bagi pekerja);
6. Masih kurangnya sosialisasi alur pelaporan dan klaim penjaminan kasus tuberkulosis akibat kerja bagi peserta Jaminan Kecelakaan Kerja Penyakit Akibat Kerja (JKK-PAK) BPJS Ketenagakerjaan, PT. Taspen, PT.
ASABRI dan fasilitas pelayanan kesehatan baik primer maupun rujukan;
7. Tatalaksana okupasi kasus TBC pada pekerja belum dijaminkan oleh BPJS Kesehatan dan Badan Penyelenggara JKK-PAK.
8. Pandemi COVID-19 yang dimulai tahun 2020 menyebabkan menurunnya temuan kasus, pasien tidak rutin kontrol/minum obat, dan risiko terjadi TBC Resistan Obat (TBC RO) meningkat.
C. Dasar Hukum
1. Undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;
2. Undang-undang nomor 17 tahun 2023 tentang Kesehatan ; 3. Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular;
4
5. Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2014 tentang Sistem Informasi Kesehatan;
6. Peraturan pemerintah Nomor 66 tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan;
7. Peraturan Pemerintah nomor 88 tahun 2019 tentang Kesehatan Kerja;
8. Peraturan Presiden nomor 7 tahun 2019 tentang Penyakit Akibat Kerja;
9. Peraturan Presiden nomor 67 tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis;
10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 2 tahun 1980 Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja;
11. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor Per.03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja;
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 tahun 2014 tentang Penanggulangan Penyakit Menular;
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis;
14. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 70 tahun 2016 tentang Kesehatan Lingkungan Kerja Industri;
15. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 5 tahun 2018 tentang K3 Lingkungan Kerja;
16. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 11 tahun 2022 tentang Pelayanan Kesehatan Penyakit Akibat Kerja;
17. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2022 tentang Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja;
18. Surat Edaran Menteri Kesehatan nomor HK.02.01/Menkes/660/2020 tentang Kewajiban Fasilitas Kesehatan dalam melakukan Pencatatan Pelaporan Kasus Tuberkulosis;
19. Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan R.I nomor HK.02.02/1/2270/2022 tentang Kewajiban Klinik dan
5
Dokter Praktik Mandiri untuk Melakukan Registrasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Pelaporan Penanganan Kasus Tuberkulosis melalui Sistem Informasi (SI) Tuberkulosis;
20. Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan R.I nomor PM.01.01/III/3726/2022 tentang Kewajiban Rumah Sakit Swasta untuk melakukan Pencatatan dan Pelaporan Penanganan Kasus Tuberkulosis melalui Sistem Informasi (SI) tuberkulosis.
D. Tujuan
D.1 Tujuan Umum
Panduan ini merupakan acuan penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja D.2 Tujuan Khusus
1. Sebagai panduan bagi manajemen perusahaan dalam penanggulangan TBC di tempat kerja;
2. Panduan bagi dokter dan petugas kesehatan lainnya dalam penyusunan dan pelaksanaan program TBC di tempat kerja;
3. Panduan bagi Tim P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja), serikat pekerja di tempat kerja dalam pelaksanaan program TBC di tempat kerja.
E. Sasaran
1. Dokter/tenaga kesehatan lainnya di klinik tempat kerja/pelayanan kesehatan kerja;
2. Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi dan dokter spesialis lainnya terkait TBC pada pekerja;
3. Manajemen perusahaan;
4. Tim K3 perusahaan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan tempat kerja lainnya;
5. Asosiasi pengusaha.
6 F. Ruang Lingkup
Ruang lingkup buku panduan ini meliputi pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang dan permasalahan; dasar hukum, tujuan serta sasaran.
Uraian selanjutnya adalah mengenai program penanggulangan TBC di tempat kerja, permasalahan TBC pada pekerja, pengembangan, implementasi, serta pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TBC di tempat kerja.
G. Pengertian
1. Tuberkulosis yang selanjutnya disingkat TBC adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium
tuberculosis);
2. Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan Xpert MTBC/RIF merupakan metode deteksi molekuler berbasis nested real-time PCR untuk diagnosis TBC.
Fasilitas layanan kesehatan yang dilengkapi dengan TCM dapat menggunakan alat tersebut untuk diagnosis TBC Sensitif Obat dan TBC Resistan Obat (RO). Pada kondisi dimana pemeriksaan TCM tidak memungkinkan (misalnya alat TCM melampui kapasitas pemeriksaan, alat TCM mengalami kerusakan, dll), penegakan diagnosis TBC dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis.
3. Basil Tahan Asam yang selanjutnya disingkat BTA adalah kuman Mycobacterium tuberculosis, berbentuk batang dan tahan dalam suasana asam pada pengecatan metode Ziehl Neelsen (ZN);
4. Program Pengendalian TBC Nasional adalah pengendalian tuberkulosis dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course) yang mengikutsertakan seluruh fasyankes untuk berperan aktif;
5. Penanggulangan tuberkulosis yang selanjutnya disebut Penanggulangan TBC adalah segala upaya kesehatan yang mengutamakan aspek promotif dan preventif, tanpa mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif yang ditujukan untuk melindungi kesehatan masyarakat, menurunkan angka
7
kesakitan, kecacatan atau kematian, memutuskan penularan, mencegah resistensi obat dan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan akibat tuberkulosis.;
6. District Based Public Private Mix (DPPM) adalah jejaring layanan tuberkulosis dalam satu kabupaten/kota yang melibatkan seluruh fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten;
7. Obat Anti TBC yang selanjutnya disingkat OAT adalah obat yang dipergunakan untuk pengobatan TBC;
8. TBC Resistan Obat (TBC RO) adalah penyakit TBC yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang sudah mengalami resistansi atau kebal terhadap obat anti TBC yang digunakan saat ini;
9. TBC Multidrug Resistant (TBC MDR) adalah penyakit TBC yang sudah mengalami resistansi terhadap isoniazid dan rifampisin, dengan atau tanpa OAT lini pertama yang lain, misalnya resistan HR, HRE, HRES;
10. TBC Rifampicin Resistant (TBC-RR) adalah penyakit TBC yang sudah mengalami resistansi terhadap rifampisin dengan atau tanpa resistansi terhadap OAT lain;
11. TBC Extensively Drug Resistant (TBC XDR) adalah penyakit TBC MDR disertai resistansi terhadap fluorokuinolon dan obat injeksi lini kedua;
12. TBC Akibat Kerja adalah TBC yang diakibatkan oleh proses kerja, alat kerja dan lingkungan kerja yang sesuai dengan uraian tugas. Termasuk di sini adalah silikotuberkulosis, yang merupakan Penyakit Akibat Kerja (PAK) khusus dan terjadi pada pekerja yang mengalami silikosis terlebih dahulu;
13. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) menurut Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja adalah manfaat berupa uang tunai dan/atau pelayanan kesehatan yang diberikan pada saat peserta mengalami kecelakaan kerja atau penyakit yang
8
disebabkan lingkungan kerja. Badan penyelenggara JKK adalah BPJS Ketenagakerjaan, Taspen serta Asabri ;
14. Pengawas Menelan Obat yang selanjutnya disingkat PMO adalah orang yang bertugas memastikan pasien TBC menelan obat anti tuberkulosis sesuai instruksi petugas kesehatan sampai selesai pengobatan;
15. Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber-sumber bahaya termasuk di dalamnya semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut;
16. Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disingkat K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja;
17. Pelayanan kesehatan kerja unit kesehatan di tempat kerja yang menjalankan program peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit; termasuk pengendalian faktor risiko, penanganan/pengobatan penyakit dan pemulihan (rehabilitasi) pada pekerja;
18. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi TBC (PPI TBC) adalah upaya mencegah terjadinya infeksi TBC terhadap petugas pelayanan kesehatan, pasien, keluarganya dan pengunjung lainnya.
9 BAB II
PROGRAM PENANGGULANGAN TBC DI INDONESIA
A. Komitmen Global dalam Penanggulangan Tuberkulosis
World Health Organization pada tahun 2015 membuat The End TBC Strategy dengan tujuan dunia bebas dari penyakit tuberkulosis dan mengakhiri epidemi TBC secara global dengan prinsip keberhasilan strategi dalam menurunkan kematian dan sakit akibat TBC tergantung dari negara-negara yang mengelola kunci prinsip implementasi intervensi yang telah diuraikan dalam masing-masing pilar.
Pilar-pilar yang dilakukan pada End TBC Strategy yaitu :
1. Penanganan dan pencegahan tuberkulosis yang terintegrasi dan berpusat pada pasien;
2. Sistem pendukung serta kebijakan-kebijakan yang tegas;
3. Inovasi dan penelitian yang intensif.
Komitmen global dalam mengakhiri tuberkulosis dituangkan dalam End TBC Strategy yang menargetkan penurunan kematian akibat tuberkulosis hingga 90% pada tahun 2030 dibandingkan tahun 2015, pengurangan insiden tuberkulosis sebesar 90% pada tahun 2035 dibandingkan dengan tahun 2015, dan tidak ada rumah tangga yang mengalami biaya katastropik akibat TBC pada tahun 2030. Oleh karena itu disepakati di dalam pertemuan WHO Global Ministerial Conference di Moskow tahun 2017 untuk melakukan peningkatan kerjasama multisektoral, evaluasi ketercapaian target dan membangun akuntabilitas dalam pencapaian target End TBC Strategy di tahun 2030.
10
Gambar 2.1. Target of End TBC Strategy, WHO 2015 Sumber : The End TBC Strategy, World Health Oganization 2015
Pada Pertemuan Tingkat Tinggi Negara, United Nations High Level Meeting (UNHLM) tahun 2017 yang dihadiri oleh pemimpin negara dan pejabat tinggi pemerintah dari negara-negara dengan beban kasus tuberkulosis tinggi, didapatkan suatu kesepakatan berupa komitmen untuk meningkatkan skala penerapan pengobatan pencegahan tuberkulosis di negara-negara dengan beban kasus tuberkulosis yang tinggi supaya bisa menjangkau total 30 juta orang di seluruh dunia, termasuk 4 juta anak di bawah lima tahun, 20 juta kontak tuberkulosis dan 6 juta orang dengan HIV pada tahun 2022.
B. Komitmen Nasional dalam Penanggulangan Tuberkulosis
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menyusun Peta Jalan Eliminasi Tuberkulosis di Indonesia 2020-2030 dimana dalam dokumen tersebut disebutkan target penurunan insidensi tuberkulosis sebesar 65 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2030. Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia tahun 2020-2024 disusun secara sinergi dengan mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) tahun 2020-2024. RPJMN 2020-2024 merupakan fase keempat dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang telah
11
ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2007. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024 adalah penjabaran dari RPJMN 2020-2024, yang diwujudkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2020.
Pada dokumen kebijakan tersebut, program penanggulangan tuberkulosis nasional adalah salah satu tujuan pembangunan kesehatan, yaitu peningkatan pengendalian penyakit.
Komitmen ini diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Hal ini memberikan acuan bagi Kementerian atau Lembaga, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah kabupaten/kota, dan Pemangku Kepentingan dalam melaksanakan Penanggulangan TBC yang dilakukan secara komprehensif, terpadu dan berkesinambungan. Kebijakan penanggulangan TBC ini kemudian didukung oleh Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia No.13 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja. Hal ini merupakan upaya mencegah dan mengendalikan timbulnya tuberkulosis di tempat kerja yang merupakan bagian dari upaya keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja serta mendorong efektivitas penanggulangan tuberkulosis secara menyeluruh.
C. Tujuan dan Target Penanggulangan TBC
Secara umum, penanggulangan tuberkulosis tahun 2020-2026 bertujuan untuk mempercepat upaya Indonesia untuk mencapai eliminasi tuberkulosis pada tahun 2030, serta mengakhiri epidemi tuberkulosis di tahun 2050.
Tujuan khusus penanggulangan tuberkulosis tahun 2020-2026 yaitu:
1. Memperkuat manajemen program penanggulangan tuberkulosis yang responsif mulai dari pusat, provinsi, kabupaten, kota dan fasyankes;
12
2. Meningkatkan kualitas pelayanan tuberkulosis yang berpusat kepada kebutuhan masyarakat;
3. Meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan tuberkulosis;
4. Meningkatkan kebutuhan dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya penanggulangan tuberkulosis.
Gambar 2.2 Target Eliminasi Tuberkulosis Tahun 2020
Sumber : Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2020-2024, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020
Gambar 2.3 Target Penanggulangan TBC di Indonesia tahun 2024 dan 2030 Sumber : Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2020-2024,
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020
13
D. Strategi Program Penanggulangan TBC di Indonesia
Penanggulangan tuberkulosis di Indonesia 2020-2024 dilaksanakan dengan 6 strategi, yaitu:
1. Penguatan komitmen dan kepemimpinan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota untuk mendukung percepatan eliminasi tuberkulosis 2030;
2. Peningkatan akses layanan tuberkulosis bermutu dan berpihak pada pasien;
3. Optimalisasi upaya promosi dan pencegahan, pemberian pengobatan pencegahan tuberkulosis dan pengendalian infeksi;
4. Pemanfaatan hasil riset dan teknologi skrining, diagnosis, dan tatalaksana tuberkulosis;
5. Peningkatan peran serta komunitas, mitra dan multisektor lainnya dalam eliminasi tuberkulosis;
6. Penguatan manajemen program melalui penguatan sistem kesehatan.
Enam strategi di atas terdiri dari tiga strategi fungsional dan tiga strategi pemungkin. Strategi fungsional (Strategi 2,3,5) adalah strategi yang bersifat teknis yang fokus pada area intervensi: penemuan kasus, pengobatan, dan pencegahan. Strategi pemungkin (Strategi 1,4,6) merupakan strategi yang fokus pada faktor kontekstual yang dapat menjadi daya ungkit ketercapaian strategi fungsional.
Keenam strategi tersebut sejalan dengan tiga pilar End TBC Strategy.
Strategi 2 dan Strategi 3 merupakan strategi yang harmoni dengan pilar 1 End TBC strategy (penanganan dan pencegahan tuberkulosis yang terintegrasi dan berpusat pada pasien). Strategi 1 dan Strategi 5 merupakan dua strategi yang mengarah kepada pilar 2 End TBC strategy (Sistem pendukung serta kebijakan- kebijakan yang tegas). Strategi 6 mendukung pilar 1 dan 2. Pilar terakhir dalam End-TBC strategy yakni inovasi dan penelitian yang intensif selaras dengan strategi 4 yakni pemanfaatan hasil riset dan teknologi skrining, diagnosis, dan tatalaksana tuberkulosis.
14
E. Sasaran Populasi dan Kelompok Berisiko Tuberkulosis
Sasaran populasi pada Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis 2020-2026 ialah semua orang terduga tuberkulosis. Sedangkan intervensi penanggulangan tuberkulosis akan difokuskan pada:
1. Populasi berisiko tinggi, yaitu perokok, orang yang mengalami malnutrisi, pasien diabetes mellitus, kelompok lanjut usia, orang dengan HIV/AIDS, serta petugas kesehatan;
2. Congregate setting seperti lapas/rutan, wilayah padat kumuh, tempat kerja (sektor formal dan informal), tambang tertutup, barak pengungsi, asrama dan pondok pesantren.
F. Pemodelan Epidemiologi Tuberkulosis
Pencapaian target eliminasi tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2030 dioptimasi dengan pemodelan epidemiologi tuberkulosis menggunakan perangkat Tuberculosis Impact Model and Estimates (TIME). Pemodelan menggambarkan proyeksi insidensi tuberkulosis pada beberapa waktu yang akan datang berdasarkan kondisi program saat ini (diistilahkan sebagai bussiness as usual atau BAU) dengan penerapan intervensi kunci. Pemodelan untuk menuju eliminasi tuberkulosis tahun 2030 menggambarkan lima intervensi kunci sebagai berikut:
1. Pengelolaan tuberkulosis laten, dengan target cakupan terapi pencegahan hingga 80% pada seluruh individual dengan infeksi laten pada tahun 2030;
2. Skrining pada kelompok-kelompok dengan risiko tinggi tuberkulosis dan memperluas jangkauan layanan pada orang-orang dengan tuberkulosis di masyarakat yang selama ini tidak terdeteksi;
3. Mencapai cakupan diagnosis terkonfirmasi bakteriologis yang tinggi pada terduga tuberkulosis pada tahun 2030;
15
4. Ekspansi diagnosis bakteriologis dengan penggunaan tes cepat molekuler (TCM) hingga 80% pada seluruh terduga tuberkulosis pada tahun 2030;
5. Meningkatkan investasi sumber daya untuk memperkuat layanan tuberkulosis sehingga dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan tuberkulosis sensitif dan resistan obat.
Dengan penerapan intervensi kunci tersebut maka diperkirakan terjadi pengurangan insidensi tuberkulosis sebesar 73% pada tahun 2030 dibandingkan dengan tahun 2017. (Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2020-2026).
Gambar 2.4 Proyeksi penurunan insidensi TBC tahun 2030 menurut pemodelan TIME Impact Sumber :Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2020-2024, Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2020
Sejalan dengan pemodelan tersebut, maka intervensi-intervensi yang termasuk dalam dokumen Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia tahun 2020-2026 akan dioptimasi menggunakan pemodelan TIME yang berdasarkan situasi kondisi dan sumber daya yang tersedia terkini. Ada intervensi kunci sebagai basis pemodelan TIME untuk Strategi Nasional Penanggulangan TBC di Indonesia 2020-2026 yaitu:
1. Cakupan kasus TBC yang terkonfirmasi bakteriologis dengan TCM tercapai hingga 75% pada tahun 2024;
16
2. Cakupan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) hingga 68%
pada semua kontak serumah kasus TBC;
3. Penemuan kasus TBC secara aktif pada kelompok penduduk risiko tinggi;
dan
4. Tersedianya sumber daya yang dialokasikan untuk penguatan layanan TBC hingga kabupaten/kota melalui advokasi kepada pemerintah kabupaten/kota seperti yang tercantum dalam Standar Pelayanan Minimum (SPM).
G. Pendekatan Intervensi Penanggulangan Tuberkulosis tahun 2020-2026 Berdasarkan pencapaian target Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia tahun 2020-2026, maka Program Tuberkulosis Nasional akan melakukan intervensi supaya sebagian besar kabupaten/kota dapat mencapai target penemuan dan pengobatan kasus TBC (Treatment Coverage) 90% pada tahun 2024. Upaya utama yang diperlukan untuk meningkatkan jumlah penemuan dan cakupan pengobatan tuberkulosis yaitu:
1. Mewajibkan pelaporan penemuan kasus tuberkulosis di semua fasyankes;
2. Melakukan penemuan kasus secara aktif (Active Case Finding) terutama pada kelompok berisiko seperti pada orang dengan HIV-AIDS (ODHA), pasien DM dan pasien malnutrisi;
3. Memaksimalkan kegiatan investigasi kontak;
4. Memperbaiki kualitas pencatatan dan pelaporan di semua fasyankes;
5. Memperkuat jejaring fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta dalam penemuan, tatalaksana, dan pengobatan;
6. Mempeluas dan memperkuat layanan diagnostik dan pengobatan tuberkulosis;
7. Pemantauan pengobatan untuk TBC Sensitif Obat dan Resistan Obat sesuai standar;
8. Pendampingan konsumsi Obat Anti Tuberkulosis sampai selesai dan sembuh; dan
17
9. Mengoptimalkan komunikasi, informasi, dan edukasi tentang tuberkulosis kepada masyarakat.
Target dan strategi nasional dalam eliminasi TBC juga diatur dalam Peraturan Presiden No 67 tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, yang memberikan acuan bagi kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten kota, pemerintah desa, dan pemangku kepentingan dalam melaksanakan penanggulangan TBC. Ketentuan-ketentuan yang diatur di dalam Perpres tersebut diantaranya :
Pasal 3
a. Target dan strategi nasional eliminasi TBC;
b. Pelaksanaan strategi nasional eliminasi TBC;
c. Tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah;
d. Koordinasi percepatan penanggulangan TBC;
e. Peran serta masyarakat;
f. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan; dan g. Pendanaan.
Pasal 4
Target eliminasi TBC pada tahun 2030:
1) Penurunan angka kejadian (incidence rate) TBC menjadi 65 (enam puluh lima) per 100.000 (seratus ribu) penduduk; dan
2) Penurunan angka kematian akibat TBC menjadi 6 (enam) per 100.000 (seratus ribu) penduduk.
Pasal 5
1) Pencapaian target eliminasi TBC sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dilaksanakan melalui penerapan strategi nasional eliminasi TBC;
18
2) Strategi nasional eliminasi TBC sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a) Penguatan komitmen dan kepemimpinan pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/ kota;
b) Peningkatan akses layanan TBC yang bermutu dan berpihak pada pasien;
c) Intensifikasi upaya kesehatan dalam rangka penanggulangan TBC;
d) Peningkatan penelitian, pengembangan, dan inovasi di bidang penanggulangan TBC;
e) Peningkatan peran serta komunitas, pemangku kepentingan, dan multisektor lainnya dalam penanggulangan TBC; dan
f) Penguatan manajemen program.
Pasal 13
Dalam rangka memastikan keberhasilan pengobatan pasien TBC sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (6) dilakukan:
a. Optimalisasi upaya penanganan kasus TBC sesuai standar untuk meningkatkan kualitas pelayanan;
b. Upaya penyediaan layanan TBC yang ramah dan berpihak pada kebutuhan pasien;
c. Sistem pelacakan aktif untuk pasien TBC yang mangkir dan berhenti berobat sebelum waktunya;
d. Peningkatan jejaring pelacakan dengan melibatkan kader kesehatan dan tokoh masyarakat; dan
e. Pelaporan hasil pengobatan kasus TBC oleh fasilitas pelayanan kesehatan menggunakan format atau sistem yang standar.
Pasal 15
1) Pemberian obat pencegahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf e ditujukan kepada kontak dengan pasien TBC, orang dengan Human
19
Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) yang terbukti tidak menderita TBC, dan orang yang mengalami penurunan fungsi sistem imun;
2) Pemerintah daerah harus memastikan pemberian obat pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan sesuai standar;
3) Obat pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan obat yang disediakan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Kementerian Ketenagakerjaan juga telah mengatur tekait penanggulangan tuberkulosis, melalui Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2022, tentang Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja, yang menjelaskan mengenai kewajiban pengusaha serta langkah-langkah dalam penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja, sebagai berikut:
Pasal 2
1) Pengusaha dan pengurus wajib melaksanakan penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja.
2) Penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja yang diselenggarakan oleh unit pelayanan kesehatan kerja.
3) Penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja dilakukan melalui:
a. Penyusunan kebijakan penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja;
b. Sosialisasi, penyebaran informasi dan edukasi tuberkulosis di tempat kerja;
c. Penemuan kasus tuberkulosis;
d. Penanganan kasus tuberkulosis; dan e. Pemulihan kesehatan.
4) Dalam hal penemuan kasus tuberkulosis dan penanganan kasus tuberkulosis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf (c) dan huruf (d) ditemukan
20
tuberkulosis yang merupakan PAK maka harus ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam Bab II dari Permenaker ini dijelaskan langkah-langkah penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja yang sebelumnya disebutkan dalam pasal 2, sebagai berikut:
Bagian Kesatu Penyusunan Kebijakan Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja
Pasal 3
1) Pengusaha dan pengurus wajib menyusun kebijakan penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja.
2) Kebijakan penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal memuat:
a. Komitmen dalam melakukan penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja;
b. Program kerja penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja; dan c. Penghapusan stigma dan diskriminasi pada pekerja/buruh yang
menderita tuberkulosis.
Bagian Kedua Sosialisasi, Penyebaran Informasi dan Edukasi Tuberkulosis di Tempat Kerja
Pasal 4
Pengusaha dan pengurus melakukan sosialisasi, penyebaran informasi, dan edukasi tuberkulosis di tempat kerja kepada seluruh pekerja/buruh berupa:
a. Kebijakan penanggulangan tuberkulosis;
b. Membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat;
c. Membudayakan perilaku etika batuk;
21
d. Peningkatan daya tahan tubuh melalui perbaikan gizi kerja dan peningkatan kebugaran;
e. Edukasi dampak penyakit penyerta terhadap perburukan tuberkulosis; dan f. Melakukan pemeliharaan dan perbaikan kualitas tempat kerja.
Bagian Ketiga Penemuan Kasus Tuberkulosis Pasal 5
1) Penemuan kasus tuberkulosis di lakukan melalui upaya pelayanan kesehatan kerja yang meliputi:
a. Pemeriksaan kesehatan awal dan berkala bagi pekerja/buruh;
b. Pemeriksaan kesehatan khusus, terutama dilakukan pada pekerja/buruh yang termasuk dalam kelompok berisiko; dan
c. Investigasi dan pemeriksaan kasus kontak erat di tempat kerja.
2) Pemeriksaan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf (a) dan huruf (b) dapat dilakukan secara mandiri atau bekerja sama dengan balai atau unit pelaksana teknis keselamatan dan kesehatan kerja serta pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3) Kelompok berisiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Pekerja/buruh dengan penyakit penyerta;
b. Pekerja/buruh yang terpajan faktor bahaya lingkungan kerja; dan/atau c. Pekerja/buruh yang terpajan bakteri tuberkulosis karena pekerjaannya.
4) Selain berdasarkan upaya pelayanan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penemuan kasus tuberkulosis juga dapat berdasarkan diagnosis dari fasilitas pelayanan kesehatan.
5) Pekerja/buruh yang menderita tuberkulosis atau yang mengetahui adanya kemungkinan kasus tuberkulosis di tempat kerja wajib melaporkan kepada pengusaha atau pengurus untuk ditindaklanjuti dengan pemeriksaan kesehatan sesuai dengan pedoman penanggulangan tuberkulosis nasional.
22
Bagian Keempat Penanganan Kasus Tuberkulosis Pasal 6
1) Berdasarkan hasil penemuan kasus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, pengusaha dan pengurus wajib memastikan pekerja/buruh mendapatkan pengobatan sesuai dengan pedoman penanggulangan tuberkulosis nasional;
2) Untuk pencegahan penularan tuberkulosis, pengusaha dan pengurus dapat memberikan istirahat sakit kepada pekerja/buruh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 2 (dua) minggu pada tahap awal pengobatan dan/atau sesuai rekomendasi dokter perusahaan atau dokter yang merawat;
3) Pengusaha dan pengurus melakukan pemantauan kepatuhan minum obat, kemajuan pengobatan, dan hasil pengobatan.
Pasal 7
Pekerja/buruh yang menderita tuberkulosis wajib mematuhi semua tahapan dalam penanganan kasus tuberkulosis sesuai dengan pedoman penanggulangan tuberkulosis nasional.
Pasal 8
1) Pengusaha dan pengurus melakukan pemantauan lingkungan kerja pada tempat kerja dengan temuan kasus tuberkulosis;
2) Berdasarkan hasil pemantauan lingkungan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengusaha dan pengurus melakukan upaya pengendalian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kelima Pemulihan Kesehatan Pasal 9
1) Pengusaha dan pengurus harus memberikan dukungan upaya rehabilitasi yang dibutuhkan pekerja/buruh setelah penanganan penyakit tuberkulosis sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
23
2) Pekerja/buruh yang menderita tuberkulosis di upayakan kembali bekerja sesuai dengan penilaian kelaikan kerja oleh dokter perusahaan atau dokter yang merawat.
24 BAB III
PERMASALAHAN TUBERKULOSIS PARU PADA PEKERJA
A. Epidemiologi
Data Kementerian Kesehatan tahun 2021, menunjukkan, sekitar 89% TBC diderita oleh orang dewasa, dan 11% diderita oleh anak-anak. Jika dibandingkan dari jenis kelamin, jumlah kasus pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan baik secara nasional maupun provinsi. Secara nasional jumlah kasus pada laki-laki sebesar 57,5% dan 42,5% pada perempuan. Sedangkan berdasarkan proporsi umur, didapatkan bahwa pada tahun 2021 kasus TBC terbanyak ditemukan pada kelompok umur 45 – 54 tahun yaitu sebesar 17,5%, diikuti kelompok umur 25 – 34 tahun sebesar 17,1% dan 15 – 24 tahun 16,9%.
Gambar 3.1 : Kejadian TBC menurut kelompok umur di Indonesia Sumber: Ditjen P2P, Kementerian Kesehatan RI, 2022
Hal ini menunjukkan, bahwa sebagian besar (+ 68%) penderita TBC adalah usia pekerja. Hal ini kemungkinan disebabkan, karena orang pada usia produktif, lebih aktif bertemu dengan orang banyak dibandingkan dengan golongan usia lainnya, serta adanya faktor-faktor lingkungan kerja yang meningkatkan risiko penularan.
25 B. Kategori TBC pada pekerja
TBC pada pekerja perlu dibedakan atas beberapa kategori, yaitu :
1. TBC Akibat Kerja: TBC yang diakibatkan oleh proses kerja, alat kerja dan lingkungan kerja yang sesuai dengan uraian tugas. Termasuk disini adalah silikotuberkulosis, yang merupakan penyakit akibat kerja khusus dan terjadi pada pekerja yang mengalami silikosis terlebih dahulu
2. TBC bukan akibat kerja, namun akibat lingkungan kerja yang berisiko (padat karya, ventilasi tidak baik) atau tertular TBC pada masyarakat umum (tidak ada hubungan dengan pekerjaan atau lingkungan kerja).
Kedua kategori tersebut, perlu diidentifikasi, karena mempengaruhi penanganan kasus yang perlu dilakukan. Pekerja berisiko tinggi terkena TBC adalah petugas kesehatan, pekerja lapas, pekerja panti serta pekerja yang terpajan silika.
C. Silikosis dan Silikotuberkulosis
Silikosis adalah salah satu jenis pneumokoniosis, yang disebabkan inhalasi dan deposit debu silika bebas di dalam jaringan paru dan menyebabkan inflamasi granulomatosa serta fibrosis paru. Bisa dikatakan, bahwa silikosis itu hanya akibat pajanan okupasional pada populasi pekerja. Pekerja yang berisiko tinggi terpajan debu silika antara lain pekerja di berbagai jenis industri, seperti:
tambang, konstruksi, produksi kaca, semen, pengecoran logam, keramik, marmer, beling atau porselen.
Diperkirakan di dunia ada sekitar 227 juta pekerja yang berisiko tinggi mengalami silikosis, dan terdistribusi di lebih dari 80 negara. Sejak tahun 1995 WHO dan ILO telah menetapkan eliminasi silikosis pada tahun 2030, tetapi tampaknya hal ini hampir tidak mungkin dapat tercapai. Masalah kesehatan yang paling sering terkait dengan silikosis adalah tuberkulosis. Angka kejadian silikotuberkulosis, sangat sulit di dapat di seluruh dunia karena kurangnya pemantauan, khususnya pada pekerja terpajan silika.
26
Pada individu yang mengalami silikosis (biasanya akibat pekerjaan), maka risiko untuk mengalami tuberkulosis paru adalah 2,8 kali, dan TBC ekstra- pulmoner adalah 3,7 kali lebih tinggi dibandingkan yang tidak ada silikosis.
Risiko tetap tinggi meskipun pajanan terhadap silika sudah berhenti selama bertahun-tahun dan tergantung pada tingkat keparahan silikosis yang dialami.
Patofosiologi terjadinya TBC pada orang yang mengalami silikosis adalah karena silika melemahkan aktifasi sel dendritik, yang mengakibatkan menurunnya respon imun. Makrophag yang melawan silika sudah melemah, sehingga mudah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Partikel silika akan meningkatkan replikasi kuman TBC secara intraselular
Diagnosis tuberkulosis pada individu yang ada silikosis biasanya lebih sulit, apalagi karena sebagian besar diagnosis masih tergantung pada foto rontgen toraks dan pemeriksaan sputum BTA. Dengan pemeriksaan rontgen toraks saja sulit membedakan antara gambaran silikosis dan TBC, khususnya pada stadium awal di mana gejala klinis belum jelas. Sehingga dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan ILO radiograph. Pemeriksaan CT scan toraks dapat memberikan gambaran yang lebih jelas. Bila memungkinkan dapat dilakukan bronkoskopi dengan bronchoalveolar lavage (BAL) untuk mendeteksi partikel SiO2.
Gejala klinis silikotuberkulosis pada umumnya sama dengan TBC paru, sedangkan TBC ekstra paru yang paling sering terjadi adalah TBC pleura.
Pengobatan TBC pada individu dengan silikosis lebih sulit karena tidak berfungsinya makrophag akibat adanya silika bebas dan juga kemungkinan sulitnya penetrasi obat melalui nodul fibrotik. Meskipun demikian pemberian obat TBC standar tetap dianjurkan dengan metode DOTS, namun lama pengobatan dianjurkan 8 bulan, untuk mencegah terjadinya relaps. Sebagai upaya pencegahan, selain melindungi pekerja terhadap pajanan silika, juga diperlukan foto rontgen toraks berkala dan bila memungkinkan tes IGRA (Interferon Gamma Release Assay).
27 D. Deteksi Dini TBC pada Pekerja
Dengan berlakunya Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 2/1980, tentang pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dalam penyelenggaraan Keselamatan Kerja, maka deteksi dini TBC dapat dilakukan pada calon pekerja maupun pekerja.
Pada calon pekerja dapat dilakukan deteksi dini TBC pada saat melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, yang pada umumnya diharuskan bagi setiap calon pekerja pada saat akan melamar pekerjaan, namun saat ini belum semua pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja yang dilakukan dapat mendeteksi TBC, karena terbatasnya pemeriksaan kesehatan yang dilakukan.
Pada pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, yang bertujuan untuk mendeteksi juga adanya TBC, seperti yang dipersyaratkan oleh beberapa perusahaan menengah/besar, juga untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI), bila terdeteksi ada TBC atau suspek TBC, seringkali pekerja hanya ditolak dan tidak ada tindak lanjutnya. Padahal pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja sangat potensial untuk mendeteksi adanya TBC pada populasi yang cukup besar, yang bila ditindak lanjuti dan ditangani dengan baik dapat menambah jumlah individu yang mendapat pengobatan TBC secara bermakna.
E. Penanganan TBC pada Pekerja
Setelah seorang pekerja didiagnosis TBC paru tentu perlu segera mendapatkan pengobatan anti-TBC sesuai standar.
Upaya lain yang perlu dilakukan adalah pada individu pekerja:
1. Mengidentifikasi apakah TBC akibat kerja (termasuk apakah silikotuberkulosis), TBC akibat risiko tinggi lingkungan kerja atau bukan;
2. Bila TBC akibat kerja, perlu dibuat laporan PAK agar pekerja bisa mendapatkan JKK;
3. Pada pekerja perlu dilakukan penilaian kelaikan kerja, termasuk dalam hal ini penentuan masa tidak masuk bekerja, dengan menilai keadaan umum pasien, status penularan serta tugas dalam pekerjaannya;
28
4. Upaya pemantauan perlu dilakukan oleh pihak tempat kerja agar pekerja menjalankan pengobatan dengan baik;
5. Bila pekerja mau masuk kembali kerja, setelah menjalani masa istirahat, perlu dilakukan penilaian kelaikan kerja.
Sedangkan pada keluarga, komunitas pekerja dan lingkungan tempat kerja perlu dilakukan upaya:
1. Tracing dan skrining pada keluarga dan rekan kerja, untuk mendeteksi sumber penularan atau orang lain yang sudah tertular TBC;
2. Apabila TBC akibat kerja atau akibat lingkungan kerja, maka perlu dilakukan perbaikan pada proses kerja, ventilasi ruangan maupun penerapan protokol kesehatan;
3. Perlu dilakukan upaya surveillance agar pekerja dengan TBC dapat terdeteksi secara dini;
4. Perlu identifikasi kelompok pekerja yang rentan tertular TBC, sehingga bisa diprioritaskan untuk deteksi dini TBC.