27 D. Deteksi Dini TBC pada Pekerja
Dengan berlakunya Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 2/1980, tentang pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dalam penyelenggaraan Keselamatan Kerja, maka deteksi dini TBC dapat dilakukan pada calon pekerja maupun pekerja.
Pada calon pekerja dapat dilakukan deteksi dini TBC pada saat melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, yang pada umumnya diharuskan bagi setiap calon pekerja pada saat akan melamar pekerjaan, namun saat ini belum semua pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja yang dilakukan dapat mendeteksi TBC, karena terbatasnya pemeriksaan kesehatan yang dilakukan.
Pada pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, yang bertujuan untuk mendeteksi juga adanya TBC, seperti yang dipersyaratkan oleh beberapa perusahaan menengah/besar, juga untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI), bila terdeteksi ada TBC atau suspek TBC, seringkali pekerja hanya ditolak dan tidak ada tindak lanjutnya. Padahal pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja sangat potensial untuk mendeteksi adanya TBC pada populasi yang cukup besar, yang bila ditindak lanjuti dan ditangani dengan baik dapat menambah jumlah individu yang mendapat pengobatan TBC secara bermakna.
28
4. Upaya pemantauan perlu dilakukan oleh pihak tempat kerja agar pekerja menjalankan pengobatan dengan baik;
5. Bila pekerja mau masuk kembali kerja, setelah menjalani masa istirahat, perlu dilakukan penilaian kelaikan kerja.
Sedangkan pada keluarga, komunitas pekerja dan lingkungan tempat kerja perlu dilakukan upaya:
1. Tracing dan skrining pada keluarga dan rekan kerja, untuk mendeteksi sumber penularan atau orang lain yang sudah tertular TBC;
2. Apabila TBC akibat kerja atau akibat lingkungan kerja, maka perlu dilakukan perbaikan pada proses kerja, ventilasi ruangan maupun penerapan protokol kesehatan;
3. Perlu dilakukan upaya surveillance agar pekerja dengan TBC dapat terdeteksi secara dini;
4. Perlu identifikasi kelompok pekerja yang rentan tertular TBC, sehingga bisa diprioritaskan untuk deteksi dini TBC.
29 BAB IV
PENGEMBANGAN PROGRAM PENANGGULANGAN TBC DI TEMPAT KERJA
Definisi tempat kerja menurut Permenaker No 13 tahun 2022 tentang Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja, adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya termasuk semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.
Tempat kerja merupakan tempat berkumpulnya pekerja dalam kurun waktu tertentu, sehingga lebih memudahkan dalam memberikan edukasi, melakukan sosialisasi, mengkomunikasikan suatu permasalahan, dan melakukan intervensi untuk meningkatkan derajat kesehatan. Tetapi kondisi lingkungan kerja dan pajanan yang ada di tempat kerja juga dapat mempermudah terjadinya penularan penyakit, atau memperburuk kondisi penyakit yang diderita pekerja, misalnya pada kondisi lingkungan kerja padat karya dengan posisi kerja berdekatan, ventilasi ruangan yang tidak memadai, adanya pajanan bahaya potensial yang dapat memperberat atau menimbulkan kerentanan, serta kondisi lain yang dapat memperburuk kesehatan pekerja dan memudahkan terjadinya penyakit. Dengan demikian perlu dikembangkan program penganggulangan TBC di tempat kerja agar pekerja tetap sehat dan produktif.
Pengembangan program ini memerlukan kerjasama dan dukungan dari semua pihak, yaitu dari pihak pemerintah, pimpinan/manajemen, serikat pekerja, pekerja, serta lintas sektor terkait lainnya. Untuk itu diperlukan kebijakan dan strategi dalam penerapan program tersebut.
30 A. Manajemen TBC di Tempat Kerja
Dalam menerapkan manajemen TBC di tempat kerja perlu melibatkan peran serta P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang menjadi wadah kerjasama bipartit antara pihak perusahaan dan pekerja. P2K3 akan membantu pengembangan program penanggulangan TBC di tempat kerja sesuai dengan kondisi di perusahaan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan program sebagai berikut:
1. Kebijakan internal yang mendukung program;
2. Komitmen perusahaan dalam mendukung program;
3. Integrasi dalam pelayanan kesehatan kerja;
4. Peran serta dari pihak-pihak terkait seperti pemerintah, pemberi kerja, dan pekerja itu sendiri sesuai dengan perannya masing-masing;
5. Sumber daya, sarana dan prasarana; dan 6. Jejaring pelayanan
A.1 Kebijakan Internal
Kebijakan internal yang mendukung program penanggulangan TBC di tempat kerja. Dalam kebijakan tersebut memuat komitmen pimpinan perusahaan dan perwakilan pekerja untuk bersama-sama mendukung program yang akan dijalankan, serta mencegah stigmatisasi dan diskriminasi pada pekerja terduga TBC.
A.2 Komitmen Perusahaan
Diperlukan komitmen dari pimpinan perusahaan untuk mendukung program yang akan dijalankan agar kesinambungan program dapat berjalan dengan baik, serta mendukung upaya-upaya perbaikan lingkungan kerja dan layanan kesehatan kerja yang bertujuan untuk penanggulangan TBC tersebut.
31
A.3 Integrasi dalam Pelayanan Kesehatan Kerja
Sesuai dengan Permenakertrans No. 3 tahun 1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja, tugas pokok pelayanan kesehatan kerja yang dapat diintegrasikan dengan program penanggulangan TBC di tempat kerja adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus.
- Deteksi dini pekerja dengan TBC - Monitoring dan evaluasi
2. Pembinaan dan pengawasan atas penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja.
Penyesuaian pekerjaan diperlukan pada kondisi kesehatan tertentu, dan dilakukan dengan penilaian kelaikan kerja, yaitu terutama pada:
- Kasus-kasus khusus yang perlu dilakukan penilaian terhadap dampak pajanan di tempat kerja terhadap perkembangan penyakit;
- Kasus kecacatan dan penurunan fungsi paru;
- Kasus TBC dengan resistan obat; dan
- Kasus-kasus yang menyebabkan penurunan kapasitas kerja.
3. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja.
4. Ventilasi di lingkungan kerja yang kurang memadai akan berpotensi mempermudah penularan penyakit
5. Pajanan bahaya potensial di lingkungan kerja dapat memperberat penyakit, seperti adanya pajanan debu silika, bahan-bahan kimia dan debu yang berpotensi menurunkan fungsi paru, dapat memperburuk kondisi kesehatan dan menghambat penyembuhan
6. Kondisi lingkungan kerja dengan jumlah pekerja yang banyak, dengan pengaturan jarak antar pekerja yang berdekatan, akan berpotensi mempermudah penularan
32
7. Beban kerja berlebihan, waktu kerja melebihi standar jam kerja, shift kerja, dan kondisi yang dapat menurunkan imunitas pekerja
8. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan untuk kesehatan tenaga kerja.
- Sarana dan prasarana pengendalian bahaya di tempat kerja
- Penyediaan alat pelindung diri yang disesuaikan dengan pajanan di tempat kerja
9. Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit umum dan penyakit akibat kerja.
- Program pencegahan dan tatalaksana pengobatan TBC di tempat kerja
- Upaya pencegahan penularan pada pekerja lain 10. Pendidikan kesehatan untuk tenaga kerja
- Promosi kesehatan, pola hidup bersih sehat, gizi, kebugaran
- Preventif terhadap penularan di tempat kerja, pekerja dengan komorbid yang rentan, dan dampak perburukan penyakit
- Mencegah stigma dan diskriminasi pada penderita
- Kesadaran untuk segera melaporkan bila tertular, dan mendapat pengobatan secara dini
11. Memberikan nasihat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan di tempat kerja.
12. Membantu usaha rehabilitasi akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Upaya rehabilitasi diperlukan pada kondisi tertentu seperti adanya kecacatan dan penurunan fungsi paru, dan menjadi salah satu upaya dalam program kembali bekerja pada pekerja dengan kondisi khusus.
13. Pembinaan dan pengawasan terhadap tenaga kerja yang mempunyai kelainan tertentu dalam kesehatannya.
33
Pekerja dengan komorbid seperti DM, HIV, dan kondisi kesehatan lain yang menyebabkan kerentanan untuk tertular TBC, perlu diberikan perhatian khusus termasuk juga dengan pemberian TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis)
14. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada pengurus.
Program TBC di tempat kerja dapat dimasukkan sebagai salah satu program pelayanan kesehatan kerja yang dilaporkan juga.
A.4 Peran Serta Pihak-Pihak Terkait A.4.1 Pemerintah
Pemerintah berperan penting dalam menyediakan pelayanan TBC yang mendukung upaya eliminasi TBC secepatnya. Peran pemerintah dalam pelayanan TBC diantaranya meliputi:
a. Penguatan komitmen dan kepemimpinan dari tingkat pusat hingga daerah untuk koordinasi percepatan penanggulangan TBC;
b. Peningkatan akses layanan TBC yang bermutu dan mudah dijangkau pasien;
c. Anggaran untuk penanggulangan TBC;
d. Ketersediaan sumber daya, sarana, prasarana dan logistik; dan e. Monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan pelaksanaan
program
A.4.2 Pemberi Kerja/Perusahaan
Komitmen dan dukungan dari pemberi kerja/perusahaan penting dalam penyelenggaraan program penanggulangan TBC di tempat kerja.
Komitmen dan dukungan ini dituangkan dalam bentuk kebijakan tertulis yang memuat hal-hal sebagai berikut:
34
a. Komitmen untuk penanggulangan TBC di tempat kerja dengan melibatkan seluruh pihak terkait seperti pihak manajemen, tim P2K3, serikat pekerja dan pekerja;
b. Program penanggulangan TBC di tempat kerja;
c. Tidak ada diskriminasi dan stigma pada pekerja yang menderita TBC;
dan
d. Prinsip kerahasiaan
Kebijakan yang dibuat harus disosialisasikan, dan diinformasikan kepada semua pihak terkait agar dapat dipahami secara komprehensif dan dilaksanakan sepenuhnya.
A.4.3 Pekerja
Serikat pekerja dan pekerja perlu dilibatkan secara aktif dalam program yang dilakukan di tempat kerja, sehingga dapat berperan serta secara aktif dan berkomitmen dalam mensukseskan program yang dijalankan.
Edukasi, sosialisasi dan informasi tentang penyakit dan program yang dijalankan perlu terus menerus dilakukan agar mendapatkan pemahaman yang jelas mengenai upaya pencegahan dan pengobatan, serta tidak melakukan tindakan diskriminasi dan stigma kepada rekan kerja yang menderita TBC.
A.5 Sumber Daya, Sarana, Prasarana dan Logistik
Penguatan sumber daya manusia dilakukan dengan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dan kemampuan dalam mengelola program melalui pelatihan, pemetaan tenaga kesehatan terlatih, serta mengintegrasikan dalam pendidikan tenaga kesehatan. Penguatan dari sumber daya dan pendanaan perlu juga dilakukan untuk menunjang dalam pendanaan pelayanan, pengelolaan spesimen dan pemeriksaan penunjang. Sarana dan prasarana untuk pelayanan dan pemeriksaan perlu diperkuat untuk
35
menunjang pelaksanaan program. Termasuk juga ketersediaan logistik untuk keperluan pelayanan, pemeriksaan dan pengobatan, termasuk dalam penyediaan TPT.
A.6 Jejaring Pelayanan
Jejaring pelayanan internal dan eksternal perlu diperkuat agar terjalin sinergitas antara program yang dijalankan di tempat kerja dengan ketersediaan layanan penunjang program di luar tempat kerja, termasuk dalam hal ini adalah jejaring untuk rujukan pemeriksaan serta tatalaksana pengobatan.
B. Program Penanggulangan TBC di Tempat Kerja (Perusahaan)