Penyelamatan Keuangan Negara oleh Bidang Pidana Khusus
3. Upaya Mitigasi Risiko Periode 2016-2020
3.5.6 Direktorat Jenderal Pajak
Berdasarkan dengan ketentuan Pasal 6 Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang menjadi penyidik adalah pejabat Polri dan Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang. Penyidik Polri melakukan penyidikan terhadap tindak pidana umum, sedangkan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) melakukan penyidikan atas tindak pidana yang diatur dalam Undang-Undang yang bersangkutan.
Dalam hal terjadi tindak pidana di bidang perpajakan, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) hanya memberikan wewenang kepada PPNS Direktorat Jenderal Pajak untuk melakukan penyidikan. Hal ini didasarkan pada Pasal 44 ayat (1) yang menyatakan bahwa penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik tindak pidana di bidang
perpajakan. Di samping itu, ada juga Surat Edaran Jaksa Agung nomor SE-001/J.A/5/2000 tentang penanganan perkara tindak pidana di bidang perpajakan yang antara lain menyatakan bahwa kasus-kasus menyangkut masalah perpajakan pada dasarnya akan diselesaikan oleh aparat Direktorat Jenderal Pajak melalui prosedur teknis perpajakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
Tindak pidana di bidang perpajakan merupakan tindak pidana khusus mengingat jenis- jenis perbuatan serta pejabat yang diberi wewenang untuk melakukan penyidikan telah diatur tersendiri dalam undang-undang perpajakan yang merupakan ketentuan khusus (lex specialist).
Di samping itu, mengingat bahwa masalah perpajakan merupakan masalah yang rumit dan diperlukan keahlian khusus maka melalui UU KUP memberikan wewenang hanya kepada PPNS di lingkungan Ditjen Pajak untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dapat melakukan penyidikan terhadap tindak pidana pencucian uang dengan indikasi tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 UU TPPU sesuai dengan kewenangan Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008.
1. Peraturan dan Kebijakan
Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas sebagai lembaga penegak hukum yang berwenang melakukan penanganan perkara pencucian uang telah menetapkan beberapa peraturan dan kebijakan program APUPPT, diantaranya:
a. Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 139/KMK.03/2021 tanggal 5 April 2021 tentang Pembentukan Satuan Tugas Asistensi Penanganan Perkara Tindak Pidana dibidang Perpajkan, Tindak Pidana Pencucian Uang dan Penelusuran Harta Kekayaan Hasil Tindak Pidana.
b. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 239/PMK.03/2014 tentang Tata Cara Pemeriksaan Bukti Permulaan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, yang menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan penegakan hukum di bidang perpajakan.
c. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-29/PJ/2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang merupakan penggabungan dan penyempurna dari SE-06/PJ/2014 terkait penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.
d. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2017 Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Akses Informasi Keuangan Untuk Kepentingan Perpajakan Menjadi Undang-Undang merupakan perwujudan komitmen Indonesia untuk mendukung transparansi dan pertukaran informasi dalam upaya memberantas dan mencegah penghindaran pajak dan pengelakan pajak.
e. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: 32/PJ/2017 terkait Penyidikan TPPU.
Perumusan Nota Dinas atau Surat Kebijakan di bidang penegakan hukum perpajakan termasuk didalamnya rezim anti pencucian uang di bidang perpajakan dengan memperhatikan Rencana Aksi Stranas, Hasil NRA TPPU, dan Evaluasi SRA TPPU di bidang Perpajakan setiap tahun melalui SR-207/PJ.05/2018, NDR-64/PJ.05/2019, ND-446/
PJ.05/2020, NDR-538/PJ.05/2021.
2. Capaian Keberhasilan
Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas sebagai lembaga penegak hukum telah menghasilkan beberapa capaian keberhasilan dalam penanganan perkara pencucian uang, diantaranya:
a. Kasus TPPU dengan tindak pidana asal tindak pidana di bidang perpajakan sebanyak 18 kasus dimana 5 perkara telah memiliki kekuatan hukum tetap dan dilakukan penyitaan aset sebesar Rp103,457,518,777,00 dan masih terdapat aset yang selesai disita ataupun yang belum dilakukan penilaian (appraisal).
b. Berdasarkan KEP Nomor 75/KMA/SK/IV/2021 tanggal 20 April 2021, telah dibentuk POKJA MA dimana DJP bersama Mahkamah Agung sedang mengupayakan penyusunan konsep Surat Edaran Mahkamah Agung untuk penanganan kasus di bidang perpajakan termasuk TPPU-nya, hal ini untuk keseragaman pemahaman dan penanganan di kalangan Hakim dalam memutus kasus di bidang perpajakan.
c. Penerbitan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-29/PJ/2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang merupakan penggabungan dan penyempurna dari SE-06/PJ/2014 terkait penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan dan SE-32/PJ/2017 terkait penyidikan TPPU.
3. Upaya Mitigasi Risiko TPPU Periode 2016-2020
Direktorat Jenderal Pajak telah melakukan langkah mitigasi risiko pencucian uang, diantaranya:
a. Penyusunan Penilaian Risiko Pencucian Uang Sektor (SRA) Tindak pidana di bidang perpajakan Tahun 2017.
b. Telah diterbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyidikan TPPU untuk semua unit vertikal di DJP, mengatur antara lain tata cara teknis penyidikan TPPU dan tata cara penelusuran harta kekayaan hasil tindak pidana sehingga penanganannya bisa lebih optimal.
c. Penetapan Indikator Kinerja Utama (IKU) kepada setiap unit vertikal untuk melakukan penyidikan TPPU dalam rangka Pemulihan Kerugian Negara.
d. Penyusunan parameter realisasi penyidikan TPPU yang efektif,
e. Penguatan alokasi sumber daya manusia dan anggaran berdasarkan penilaian risiko (Pulau Jawa dan Bali).
f. Penguatan program peningkatan SDM berupa pelatihan teknis, FGD dan Inhouse Trainning (IHT) terkait penanganan perkara pencucian uang.
4. Kerjasama Domestik
Direktorat Jenderal Pajak telah melakukan kerjasama domestik terkait pencucian uang, diantaranya:
a. Pada tahun 2020 telah dibentuk satuan tugas asistensi penanganan perkara Tindak pidana di bidang perpajakan, TPPU dan Penelusuran Harta Kekayaan Hasil Tindak Pidana bersama Lembaga Penegak Hukum lainnya, seperti Kepolisian, Kejaksaan, PPATK, KemenkumHAM, DJBC.
b. Joint program antara Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
c. Pembangunan Sistem Aplikasi Tax Clearance bagi para expert atau pekerja asing melalui Kerjasama dengan Direktorat Jenderal Imigrasi.
d. Untuk mempererat kerja sama antara lembaga di bidang penegakan hukum, DJP telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara lain:
- Perjanjian kerjasama antara Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Imigrasi Nomor KEP-144/PJ/2018 dan IMI-UM.01.01-2015 tanggal 15 Mei 2018 dan Adendum PKS antara Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Imigrasi
Nomor PRJ-33/PJ/2019 dan IMI-UM.01.01-2444 tanggal 31 Mei 2019;
- Perjanjian kerjasama antara Direktorat Jenderal Pajak dengan PT Telekomunikasi Selular Nomor KEP-40/PJ.05/2019 dan PKS.902/LG.05/CS-01/X/2019 tanggal 30 Oktober 2019;
- Perjanjian kerjasama antara Direktorat Jenderal Pajak dengan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus nomor KEP-174/PJ/2018 dan B-1066/F/Fjp/06/2018 tanggal 29 Maret 2021;
- Perjanjian kerjasama antara Direktorat Jenderal Pajak dengan Kepolisian Negara RI Nomor PKS/7/III/2021 dan PRJ-04/PJ/2021 tanggal 29 Maret 2021.
5. Kerjasama Luar Negeri
Direktorat Jenderal Pajak telah melakukan kerjasama luar negeri terkait pencucian uang, melalui perjanjian-perjanjian Internasional yang memuat klausul Pertukaran Informasi antara lain:
a. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (Tax Treaty/P3B);
b. Persetujuan untuk Pertukaran Informasi Berkenaan dengan Keperluan Perpajakan (Tax Information Exchange Agreement/TIEA).
c. Konvensi tentang Bantuan Administratif Bersama di Bidang Perpajakan (MAC).
d. Berdasarkan Pasal 32A UU PPh terdapat berbagai perjanjian internasional dan hampir semua Perjanjian Internasional yang disepakati DJP memiliki klausul Pertukaran Informasi (Exchange of Information/ EOI). Perjanjian yang memuat klausul pertukaran informasi: Tax treaty (P3B), TIEA, MAC, MCAA, BCAA. EOI ini dapat dimanfaatkan penyidik untuk mencari informasi dari luar negeri.