• Tidak ada hasil yang ditemukan

Edukasi Fisioterapi

Dalam dokumen PDF Skripsi - Unud (Halaman 30-33)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.5 Edukasi Fisioterapi

Masalah keluhan muskuloskeletal yang terjadi pada Pemahat kayu dan Pelukis di Ubud erat kaitannya dengan profesi fisioterapi. Fisioterapi dapat memberikan intervensi sesuai dengan keluhan yang dialami oleh pekerja. Selain memberikan intervensi, fisioterapi juga dapat memberikan edukasi sebagai upaya preventif dan rehabilitatif sesuai dengan keluhan. Contohnya ketika pekerja mengeluhkan sakit punggung bawah yang merupakan salah satu contoh dari kasus muskuloskeletal yang sering dikeluhkan oleh Pemahat kayu dan Pelukis, fisioterapi dapat memberikan edukasi berupa cara duduk saat bekerja yang benar, perbanyak minum air putih dan lain sebagainya. Intervensi yang dapat diberikan berupa pemanasan dengan modalitas fisioterapi, memberikan massage, terapi latihan dan lain- lain.

17 3.1 Kerangka Berpikir

Pemahat kayu dan Pelukis merupakan dua pekerjaan yang bergerak di bidang kesenian. Masing – masing pekerjaan tersebut memerlukan keterampilan khusus, kesabaran, dan konsentrasi yang penuh agar tidak terjadi kesalahan dalam pengerjaannya. Waktu yang diperlukan untuk membuat dan menyelesaikan suatu karya bisa mencapai beberapa hari lamanya, hal ini disebabkan oleh peralatan yang dipakai oleh pemahat masih sangat sederhana. Pada umumnya Pemahat kayu bekerja dengan posisi duduk begitu pula dengan melukis, Pelukis juga melakukan pekerjaannya dengan posisi duduk. Posisi duduk yang digunakan berbeda- beda tergantung pada bidang yang akan dikerjakan, akan tetapi Pemahat kayu dan Pelukis cenderung mengambil posisi duduk yang tidak sesuai dengan kaidah – kaidah ergonomi.

Posisi duduk yang tidak sesuai dengan kaidah- kaidah ergonomi mempengaruhi terjadinya keluhan muskuloskeletal, posisi yang dimaksud seperti duduk membungkuk, duduk dengan kaki terlipat, duduk pada tempat duduk dengan sudut sandaran yang tidak sesuai, duduk dengan tinggi tempat duduk yang tidak sesuai dengan tinggi tubuh. Duduk yang terlalu lama dengan posisi yang tidak sesuai akan menyebabkan terjadinya ketegangan otot- otot dan ligamentum pada pada tulang belakang yang akan memicu timbulnya rasa nyeri.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya keluhan muskuloskeletal adalah umur, jenis kelamin, kesehatan jasmani, kekuatan fisik, indek masa tubuh,

18

kebiasaan merokok, trauma, lingkungan kerja, posisi kerja dan durasi kerja.

Tingkat keluhan muskuloskeletal akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya umur, hal ini terjadi karena kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun sehingga risiko terjadinya keluhan muskuloskeletal meningkat. Keluhan muskuloskeletal akan jarang ditemui pada orang yang memiliki waktu istirahat yang cukup, orang yang cukup dengan waktu istirahat cenderung memiliki kesehatan jasmani yang bagus dan sebaliknya pada orang yang bekerja dengan kekuatan otot yang tinggi dan memiliki waktu istirahat yang kurang akan mengalami keluhan muskuloskeletal.

Kesehatan jasmani juga dipengaruhi oleh kebiasaan merokok, dimana kebiasaan merokok akan dapat menurunkan kapasitas paru-paru, sehingga kemampuan paru- paru untuk menghirup oksigen menurun dan sebagai akibatnya tingkat kesehatan jasmani juga menurun. Apabila yang bersangkutan harus melakukan pekerjaan yang menuntut pengerahan tenaga, maka akan mudah lelah karena kandungan oksigen dalam darah rendah, pembakaran karbohidrat terhambat, terjadi tumpukan asam laktat dan akhirnya timbul rasa nyeri otot. IMT (Indek Masa Tubuh) juga akan mempengaruhi tejadinya keluhan muskuloskeletal, dimana orang yang memiliki IMT yang dikategorikan overweight atau IMT> 23 beban pada sendi penumpu berat badan akan meningkat sehingga memungkinkan terjadinya kelelahan dan nyeri.

3.2 Konsep

Gambar 3.1 Kerangka konsep penelitian Keterangan:

= Variabel yang diteliti

= Variabel yang tidak diteliti Keluhan Muskuloskeletal

Faktor Internal

 Kelelahan

 Ketidaknyamanan

 Stres

 Nyeri

 Spasme otot

 Kelainan struktur tulang

 Kesehatan jasmani

 IMT

 Kebiasaan Merokok

Faktor Eksternal

 Trauma

 Lingkungan kerja

Posisi kerja

Durasi kerja

Usia

Jenis kelamin

Keluhan Muskuloskeletal pada Pemahat kayu dan Pelukis

20

3.3 Hipotesis

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka konsep di atas, maka hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut Keluhan Muskuloskeletal pada Pelukis Lebih Besar Daripada Keluhan Muskuloskeletal Pemahat kayu di Ubud.

21 4.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian observasional, analitik kategorik tidak berpasangan dengan pendekatan cross sectional, dengan melakukan pengumpulan data baik variabel dependen dan independen secara bersamaan, untuk melihat hubungan antara variabel dependen yaitu keluhan muskuloskeletal dengan variabel independen yaitu Pemahat kayu dan Pelukis. Rancangan penelitian tersebut dapar dilihat pada Gambar 4.1

Gambar 4.1 Rancangan Penelitian 01

S P

02

22

Keterangan:

P : Populasi S : Sampel

01 : Pengukuran keluhan muskuloskeletal pada Pemahat kayu 02 : Pengukuran keluhan muskuloskeletal pada Pelukis

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Gianyar yaitu di Kecamatan Ubud pada Bulan Maret- April 2017

4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Target

Target populasi dalam penelitian ini adalah Pemahat kayu dan Pelukis yang tinggal di Kabupaten Gianyar.

4.3.2 Populasi Terjangkau

Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah semua Pemahat kayu dan Pelukis yang ada di Kecamatan Ubud.

4.3.3 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah semua Pemahat kayu dan Pelukis di Ubud. Pengambilan sampel terdiri dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi.

1. Kriteria Inklusi

a. Sampel berjenis kelamin laki- laki dengan rentang usia 35- 60 tahun b. Bekerja dengan posisi duduk

c. Mampu memahami intruksi dalam penelitian d. Bekerja > 4 jam perhari

e. Bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini 2. Kriteria Eksklusi

a. Sampel yang menderita penyakit infeksi (tumor, kanker)

b. Sampel yang menderita penyakit penyerta (asam urat, kolesterol tinggi)

3. Kriteria Drop Out

a. Sampel yang tidak mau mengisi kuisioner secara lengkap b. Sampel yang mengundurkan diri saat penelitian berlangsung c. Sampel dalam keadaan sakit saat berlangsungnya penelitian 4.3.4 Besaran Sampel

Perhitungan besar sampel pada penelitian ini di hitung berdasarkan rumus besar sampel penelitian analitik komparatif kategorik tidak berpasangan (Sastroatmojo & Ismael, 2014) :

𝑛 = 𝑛

2

= 2 [

(𝑍𝛼+𝑍𝛽) 𝑠

𝑥1− 𝑥2

]

2

Keterangan :

Zα = kesalahan tipe 1 ditetapkan 5% hipotesis satu arah yaitu 1,96

24

Zβ = kesalahan tipe II ditetapkan 20% yaitu 0,84

X1 = rerata skor varian populasi 1 (dilakukan penelitian pendahuluan) X2 = rerata skor varian populasi 2 (dilakukan penelitian pendahuluan) S = simpang baku kedua kelompok (dari penelitian sebelumnya)

Dari hasil perhitungan di atas, nilai zα = 1,96 dengan kesalahan tipe I = 5%, dan untuk nilai zβ = 0,84 dengan kesalahan tipe II = 20%, x1 dari penelitian pendahuluan sebesar 36,6 dan x2 dari penelitian pendahuluan sebesar 40,2. Maka hasil perhitungan adalah sebagai berikut :

𝑛 = 𝑛

2

= 2 [

(1,96+0,842) 10 36,6− 40,2

]

2

= 2 [ (1,65032) 10 3,6 ]2

= 2 [ 16,5032

3,6 ]2

= 2[ 4,5842 ]2

= 2[ 21,014]

= 42, 028

= 43 orang

Untuk antisipasi adanya drop out besar sampel di tambah 10% menjadi 48 orang perkelompok. Dalam penelitian ini terdapat dua kelompok yaitu Pemahat kayu dan Pelukis, sehingga didapatkan besar sampel 48 x 2 = 96 orang

4.3.5 Teknik Pengambilan Sampel

Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel dilakukan secara probabilitas atau simple random sampling, yaitu dengan memberikan peluang atau kesempatan kepada seluruh anggota populasi untuk menjadi sampel. Para Pemahat kayu dan Pelukis yang memenuhi kriteria inklusi diberikan kuisioner Nordic Body Map.

4.4 Variabel Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa variabel antara lain a. Variabel bebas : Pemahat kayu dan Pelukis b. Variabel tergantung : Keluhan muskuloskeletal

c. Variabel kontrol : Usia, jenis kelamin, posisi kerja dan durasi d. Variabel perancu : Suhu, kelembaban udara, dan intensitas cahaya

4.5 Definisi Operasional Variabel 1. Posisi Kerja

Posisi kerja merupakan posisi di mana seseorang melakukan aktivitas atau pekerjaan, yang diketahui dengan melakukan wawancara. Dalam penelitian ini, posisi kerja pekerja yang akan diteliti adalah posisi kerja duduk karena sebagian besar Pemahat kayu dan Pelukis bekerja dengan posisi duduk.

26

2. Keluhan muskuloskeletal

Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian otot-otot skeletal yang dirasakan seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai berat. Keluhan muskuloskeletal di ukur menggunakan kuisioner Nordic Body Map terdapat dua puluh delapan komponen yang diukur yaitu :

1. Sakit/kaku di leher bagian atas 2. Sakit/kaku di leher bagian bawah 3. Sakit di bahu kiri

4. Sakit di bahu kanan 5. Sakit pada lengan atas kiri 6. Sakit di punggung

7. Sakit pada lengan atas kanan 8. Sakit pada pinggang

9. Sakit pada bokong 10. Sakit pada pantat 11. Sakit pada siku kiri 12. Sakit pada siku kanan

13. Sakit pada lengan bawah kiri 14. Sakit pada lengan bawah kanan 15. Sakit pada pergelangan tangan kiri 16. Sakit pada pergelangan tangan kanan 17. Sakit pada tangan kiri

18. Sakit pada tangan kanan 19. Sakit pada paha kiri 20. Sakit pada paha kanan 21. Sakit pada lutut kiri 22. Sakit pada lutut kanan 23. Sakit pada betis kiri 24. Sakit pada betis kanan

25. Sakit pada pergelangan kaki kiri 26. Sakit pada pergelangan kaki kanan 27. Sakit pada kaki kiri

28. Sakit pada kaki kanan

Penilaian dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map dapat dilakukan dengan menggunakan skala Likert maka setiap skor atau nilai haruslah mempunyai definisi operasional yang jelas dan mudah dipahami oleh sampel Penilaian metode NBM menggunakan 4 skala likert, yaitu :

1. Tidak ada keluhan atau kenyerian atau tidak ada rasa sakit sama sekali yang dirasakan oleh pekerja (tidak sakit)

2. Dirasakan ada sedikit rasa keluhan atau kenyerian pada otot skeletal (agak sakit)

3. Adanya keluhan atau nyeri atau sakit pada otot skeletal (sakit)

4. Keluhan sangat sakit atau sangat nyeri pada otot skeletal (sangat sakit)

28

Skor keluhan pada Pemahat kayu dan Pelukis dibedakan berdasarkan ekstremitas, di antaranya adalah:

1. Ekstremitas atas terdiri dari bahu kiri- kanan, lengan atas kiri- kanan, siku kiri- kanan, lengan bawah kiri- kanan, pergelangan tangan kiri- kanan dan tangan kiri- kanan.

2. Trunkus terdiri dari leher atas, leher bawah, punggung, pinggang dan bokong.

3. Ektremitas bawah terdiri dari pantat, paha kiri- kanan, lutut kiri- kanan, betis kiri- kanan, pergelangan kaki kiri- kanan dan kaki kiri- kanan.

Setelah dilakukan perhitungan skor keluhan maka skor akhir akan dikategorikan sesuai dengan jumlah skor akhir, kategori skor keluhan muskuloskeletal adalah sebagai berikut:

1. Skor 28- 49 dikategorikan rendah 2. Skor 50- 70 dikategorikan sedang 3. Skor 71- 91 dikategorikan tinggi

4. Skor 92- 122 dikategorikan sangat tinggi

3. Usia

Usia merupakan umur sampel dalam tahun sesuai dengan kartu tanda penduduk, usia yang digunakan dalam penelitian ini adalah 35- 60 tahun, yang berjenis kelamin laki- laki.

4. Suhu

Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer.

5. Kelembaban Udara

Kelembaban udara adalah konsentrasi uap air dalam udara. Alat untuk mengukur kelembaban disebut higrometer.

6. Intensitas Cahaya

Intensitas cahaya adalah jumlah energi radiasi yang dipancarkan sebagai cahaya ke suatu arah tertentu. Alat untuk mengukur besaran cahaya adalah candle meter.

4.6 Instrumen Penelitian

Instrument atau peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah terdiri dari :

1. Nordic Body Map

2. Alat tulis (bolpoint, buku tulis)

3. Kamera handphone untuk dokumentasi kegiatan penelitian

30

4.7 Prosedur Penelitian 4.7.1 Persiapan Penelitian

a. Menghadap Kaprodi Fisioterapi Universitas Udayana untuk mendapatkan ijin awal penelitian. Setelah itu menyerahkan surat ijin penelitian resmi dan memberikan penjelasan mengenai jadwal dan jalannya penelitian.

b. Mengajukan proposal penelitian ke komisi Ethical Clearance Litbang Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan memohon surat ijin melakukan penelitian

c. Penelitian membuat surat persetujuan atau Informed Consent yang harus ditandatangani oleh sampel, dan disetujui oleh pengawas fisioterapi, yang isinya bahwa sampel bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini sampai selesai.

d. Pendekatan formal kepada sampel yang akan diteliti, menjelaskan maksud dan tujuan penelitian, meminta sampel untuk menandatangani lembar persetujuan menjadi sampel penelitian. Apabila sampel bersedia kemudian akan dijadikan subjek penelitian, dan apabila subjek menolak untuk dijadikan subjek penelitian maka peneliti tidak memaksa dan menghormati hak sampel.

e. Penandatanganani informed consent oleh subjek (Terlampir)

4.7.2 Prosedur Pelaksanaan

a. Peneliti melakukan pemeriksaan kriteria inklusi dan eksklusi

b. Setelah subjek peneliti terpenuhi, peneliti memberikan kuisioner Nordic Body Map

Awalnya peneliti menjelaskan apa fungsi dari kuisioner ini dan menjelaskan prosedur pengisiannya,

1. Pertama membaca surat persetujuan menjadi sampel dan jika setuju sampel harus menandatangani pada bagian pojok kanan bawah.

2. Mengisi data demografi yang berisi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, status pekerjaan, durasi bekerja perhari, dan penyakit penyerta yang diderita.

3. Mengisi kuisioner Nordic Body Map

4. Setelah sampel mengerti, sampel bisa mengisi form tersebut 5. Setelah sampel selesai mengisi form dikembalikan kepada peneliti

6. Semua data yang di dapatkan diolah dengan statistik menggunakan komputer

32

4.8 Alur Penelitian

Gambar 4.1 Alur Penelitian Populasi

Pengukuran keluhan musuloskeletal dengan kuisoner Nordic Body Map

Analisis data

Pelaporan Pemahat kayu

Hasil

Sampel (simple ramdom sampling)

Pelukis Pengukuran keluhan muskuloskeletal

dengan kuisoner Nordic Body Map

4.9 Analisis Data

Dalam menganalisis data yang didapat dari hasil pengukuran keluhan muskuloskeletal dengan kuisioner Nordic Body Map, akan terlihat perbedaan keluhan muskuloskeletal antara Pemahat kayu dan Pelukis dengan menggunakan komputer.

Data yang diperoleh dianalisis dengan langkah- langkah sebagai berikut : 1. Uji Deskriptif

Uji deskriptif adalah uji dengan menggunakan data statistik univariat seperti rata- rata, median, standar deviasi, modus, varians dan sebagainya. Uji statistik deskriptik dilakukan pada usia Pemahat kayu dan usia Pelukis.

2. Uji Normalitas

Uji normalitas adalah uji statistik yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana sebaran sebuah data. Jika data berdistribusi normal maka dilakukan uji statistik parametrik dan jika data tidak berdistribusi normal maka dilakukan uji statistik non parametrik.

3. Uji Homogenitas

Uji homogenitas adalah pengujian mengenai sama tidaknya variansi- variansi dua buah distribusi data atau lebih. Uji homogenitas juga dilakukan untuk mengetahui data bersifat homogen atau tidak. Jika data berdistribusi homogen maka dilakukan uji statistik parametrik dan jika data tidak berdistribusi homogen maka dilakukan uji statistik non parametrik.

34

4. Uji Hipotesis

Uji Hipotesis pada kategori skor Pemahat kayu menggunakan uji Chi- Square Test dan uji hipotesis pada skor keluhan muskuloskeletal secara keseluruhan dan skor keluhan muskuloskeletal setiap ekstremitas menggunakan Independent T-test.

Adapun dasar pengambilan keputusannya adalah jika nilai signifikan p> 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Jika nilai signifikan p< 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hipotesis yang saya ajukan adalah Ho jika tidak ada perbedaan rerata keluhan muskuloskeletal antara Pemahat kayu dan Pelukis dan Ha jika adanya perbedaan rerata keluhan muskuloskeletal antara Pemahat kayu dan Pelukis.

35 5.1 Data Karakteristik Sampel

Berikut ini adalah pemaparan deskripsi data berupa karakteristik sampel penelitian dalam bentuk tabel. Deskripsi karakteristik sampel berdasarkan umur yang hasilnya tertera pada Tabel 5.1

Tabel 5.1 Distribusi Data Sampel Berdasarkan Usia Pada Pemahat Kayu Dan Pelukis

Dari Tabel 5.1 menunjukkan bahwa subjek penelitian kelompok Pemahat kayu memiliki rerata usia 45,0 tahun dan kelompok Pelukis memiliki rerata usia 47,9 tahun.

Tabel 5.2 Uji Normalitas dan Homogenitas

Shapiro- Wilk Test Levene’s Test

Pemahat Kayu Pelukis p

Statistik p Statistik p

0,250

Skor Keseluruhan 0,971 0,267 0,968 0,208

Ekstremitas Atas 0,968 0,202 0,950 0,242 0,087

Trunkus 0,906 0,101 0,926 0,207 0,117

Ekstemitas Bawah 0,919 0,213 0,972 0,111 0,107

Tabel 5.2 menunjukkan hasil dari uji normalitas dan homogenitas, hasil dari uji normalitas pada Pemahat kayu dengan nilai pada skor keseluruhan p=0,267, ekstremitas atas p=0,202, trunkus p=0,101, dan ekstremitas bawah

Karakteristik

Pemahat Kayu Pelukis

n Rerata ±

Simpang Baku n Rerata ±

Simpang Baku

Usia 48 45,0 ±6,3 48 47,9 ±7,7

36

p=0,213 sedangkan pada Pelukis nilai pada skor keseluruhan p= 0,208, ekstremitas atas p=0,242, trunkus p=0,207 dan ektremitas bawah p=0,111 sehingga p> 0,05 maka data berdistribusi normal. Hasil dari uji homogenitas pada skor keseluruhan dengan nilai p= 0,250, ekstremitas atas p=0,087, trunkus p=

0,117 dan ekstremitas bawah p=0,107, sehingga p> 0,05 maka data berasar dari kelompok yang memiliki varian homogen.

Tabel 5.3 Distribusi Data Sampel Berdasarkan Keluhan Muskuloskeletal Pada Ekstremitas Atas, Trunkus, Ekstremitas Bawah

Dari Tabel 5.3 menunjukkan bahwa subjek penelitian memiliki rerata keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas atas pada Pemahat yaitu 17,1± 0,38 dan pada Pelukis 17,3± 2,52, keluhan muskuloskeletal pada trunkus pada Pemahat yaitu 8,3± 1,69 dan pada Pelukis 10,5± 2,50, dan keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas bawah pada Pemahat yaitu 15,1± 2,69 dan pada Pelukis 15,1± 3,33.

5.2 Uji Hipotesis

Keluhan Muskuloskeletal

Pemahat Pelukis

p Rerata ±

Simpang Baku

Rerata±

Simpang Baku

Ekstremitas Atas 17,1 ± 0,38 17,3 ± 2,52 0,692

Trunkus 8,3 ± 1,69 10,5 ± 2,50 0,000

Ekstremitas Bawah 15,1 ± 2,69 15,1 ± 3,33 0,973

Tabel 5.4 Keluhan Muskuloskeletal Pada Pemahat Kayu Dan Pelukis Menggunakan Chi- Square

Perbedaan Keluhan Muskuloskeletal

Total Rendah Sedang p

F % F % N %

Pemahat Kayu 44 91,6 4 8,4 48 100

0,271

Pelukis 40 83,4 8 16,6 48 100

Jumlah 84 87,5 12 12,5 96 100

Berdasarkan Tabel 5.4, dapat dilihat bahwa pada Pemahat yang memiliki keluhan muskuloskeletal dengan tingkat rendah yaitu sebanyak 44 orang (91,6 %) dan dengan tingkat sedang sebanyak 4 orang (8,4%) dan pada Pelukis yang memiliki keluhan muskuloskeletal dengan tingkat rendah yaitu sebanyak 40 orang yaitu (83,4%) dan dengan tingkat sedang sebanyak 8 orang (16,6%).

Tabel 5.5 Keluhan Muskuloskeletal Pada Pemahat dan Pelukis Menggunakan Uji Independent T- test

Dari Tabel 5.5 menunjukkan bahwa keluhan muskuloskeletal secara keseluruhan pada Pemahat yaitu dengan rerata 40,7± 5,3 dan pada Pelukis 43,2±

6,2, diperoleh nilai p sebesar 0,038 sehingga p<0,05. Berdasarkan hasil uji secara statistik maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan keluhan muskuloskeletal yang bermakna pada Pemahat dan Pelukis.

Keluhan Muskuloskeletal

Rerata ± Simpang Baku p

Pemahat 40,7 ± 5,3

0,038

Pelukis 43,2 ± 6,2

38 BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Sampel

Karakteristik sampel pada penelitian ini yaitu dibagi menjadi kelompok 1 dan kelompok 2, sampel berjenis kelamin laki- laki dengan jumlah total sampel sebanyak 96 orang dan terdiri dari 2 kelompok, dimana masing- masing kelompok berjumlah 48 orang, kelompok 1 adalah kelompok Pemahat kayu sebanyak 48 orang dan kelompok 2 adalah kelompok Pelukis sebanyak 48 orang. Menurut Panengah, (2012) prevalensi nyeri muskuloskeletal pada pekerja berkisar antara 6-76 % selama satu tahun. Angka prevalensi Low Back Pain antara 7,6-37% yang terjadi pada pekerja aktif.

Berdasarkan usia menunjukkan bahwa rerata usia sampel penelitian kelompok 1 memiliki rerata 47,9 tahun dan kelompok 2 memiliki rerata usia 45,0 tahun. Dengan usia termuda 35 tahun dan usia tertua 60 tahun. Usia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya keluhan muskuloskeletal (Nurjanah, 2012 ; Chaffin, 1987). Berdasarkan rerata keluhan muskoloskeletal pada ekstremitas atas pada Pemahat yaitu 17,1 ± 3,0 dan pada Pelukis 17,3 ± 2,5, keluhan muskuloskeletal pada trunkus pada Pemahat yaitu 8,3 ± 1,6 dan pada Pelukis 10,5 ± 2,5 dan keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas bawah pada Pemahat yaitu 15,1 ± 2,6 dan pada Pelukis 15,1 ±3,3. Menurut Kusmayanitha, (2016) terdapat 5 bagian tubuh dengan keluhan muskuloskeletal paling tinggi yaitu pinggang bawah (84,6%), bahu (61,5%), lutut (48,1%), pergelangan tangan (25,0%), betis dan kaki (21,2%).

Berdasakan keluhan muskuloskeletal didapatkan hasil bahwa persentase terbanyak pada ekstremitas atas pada Pemahat dengan rerata 17,1, pada Pelukis 17,3. Menurut Rozana & Adiatmika (2014) lokasi keluhan muskuloskeletal yang paling sering terjadi pada responden adalah sakit atau kaku pada leher bawah, punggung, dan pinggang dengan persentase yang sama sebanyak 86,05%.

6.2 Keluhan Muskuloskeletal pada Pemahat Kayu dan Pelukis

Berdasarkan keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas atas pada Pemahat dengan rerata 17,1 ± 3,0 dan pada Pelukis 17,3 ± 2,5, keluhan muskuloskeletal pada trunkus pada Pemahat yaitu 8,3 ± 1,6 dan pada Pelukis 10,5 ± 2,5 dan keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas bawah pada Pemahat yaitu 15,1 ± 2,6 dan pada Pelukis 15,1 ± 3,3. Rerata keluhan keluhan muskuloskeletal secara keseluruhan pada Pemahat yaitu dengan rerata 40,7 ± 5,3 dan pada Pelukis 43,2 ± 6,2. Menurut Susihono, (2014) keluhan sakit pada bagian atas tubuh atau kepala yang terdiri dari sakit pada leher bagian atas adalah sebesar 2,80 %, dan sakit pada leher bagian bawah adalah sebesar 3,48 %. Keluhan sakit pada tangan kiri adalah sebesar (3,61%) dan tangan kanan adalah sebesar (5,48%) hal ini diakibatkan oleh karena pekerjaannya memerlukan ke dua tangan, keluhan sakit pada bagian bahu sebesar (3,48%) dan keluhan sakit pada bagian lengan atas. Keluhan pada kaki yang paling dominan terdapat pada bagian lutut (4,01%) kemudian sakit pada pergelangan kaki sebesar (3,88%), dan sakit pada paha (3,74%).

40

6.3 Perbedaan Posisi Kerja Pada Pemahat Dan Pelukis

Hasil penelitian setelah dilakukan uji Independent T-Test diperoleh nilai p sebesar 0,038 sehingga p<0,05. Berdasarkan hasil uji secara statistik maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan keluhan muskuloskeletal yang bermakna pada Pemahat dan Pelukis. Berdasarkan rerata keluhan muskuloskeletal secara keseluruhan didapatkan bahwa rerata keluhan pada Pelukis lebih besar dari rerata keluhan Pemahat kayu, hal ini dapat diartikan bahwa keluhan muskuloskeletal pada Pelukis lebih besar daripada keluhan muskuloskeletal pada Pemahat kayu.

Sikap kerja antara Pemahat kayu dan Pelukis menjadi faktor resiko terjadinya keluhan muskuloskeletal seperti contoh durasi kerja, beban kerja, dan stress saat bekerja.

Posisi kerja pada Pemahat kayu yaitu posisi tubuh pada saat proses Pemahat an dilakukan dengan posisi duduk di lantai dengan kepala yang terkadang menunduk dan menengadah, posisi tubuh yang tekadang membungkuk ke depan dan tegak, dan ke dua tangan bekerja memegang palu dan alat pahat dengan posisi memahat tergantung pada tinggi bidang yang sedang dipahat dengan durasi kerja memahat kayu yaitu 7-8 jam, dengan waktu istirahat 1 jam.

Posisi kerja pada Pelukis yaitu duduk di lantai dengan melukis di atas meja, dengan kepala yang terkadang menunduk, menengadah dan tegak, posisi tubuh membungkuk ke depan dan tegak, dan salah satu tangan mengerjakan lukisan. Waktu untuk mengerjakan seni lukis ini biasanya lebih dari 8 jam dengan jeda waktu untuk istirahat yang sekitar 1 jam, hal ini menyebabkan para Pelukis lebih mudah mengalami kelelahan, baik fisik maupun psikologis contohnya stress.

Jam kerja Pelukis yang tidak teratur yang mengakibatkan Pelukis bekerja lebih lama dibandingkan dengan jam kerja Pemahat . Dari hasil wawancara ketika Pelukis sedang fokus mengerjakan lukisannya, Pelukis tidak jarang akan melewatkan jam istirahatnya, hal ini akan menyebabkan Pelukis bekerja dengan posisi statis yang lebih lama dibandingan dengan Pemahat kayu yang beristirahat sesuai waktu yang sudah ditentukan. Beban kerja sangat berpengaruh pada keluhan muskuloskeletal, beban kerja pada Pemahat tidak seberat beban kerja Pelukis yang sangat bergantung pada mood Pelukis itu sendiri. Pemahat yang akan memulai pekerjaannya sudah diberikan pola khusus berdasarkan bentuk pahatan yang akan dibuat, sedangkan Pelukis seringkali hanya diberikan tema lukisan sehingga Pelukis perlu berpikir lebih banyak mengenai lukisan yang akan dibuat hal tersebut akan menimbutkan stress yang lebih besar pada Pelukis. Hal ini sejalan dengan penelitian Susianingsih, Hartanti, & Sujono (2014) yang menyebutkan bahwa stres dapat menyebabkan penurunan fungsi muskuloskeletal.

Perbedaan keluhan muskuloskeletal pada trunkus antara Pemahat kayu dan Pelukis disebabkan oleh sikap kerja antara Pemahat kayu dan Pelukis, dimana pada saat Pemahat kayu memahat mereka lebih santai bisa bekerja sambal berbincang- bincang sesama pekerja dan mengikuti jam kerja yang sudah ditentukan. Sedangkan Pelukis saat melukis akan melihat hasil lukisannya dari berbagai sudut pandang sebelum melanjutkan lukisannya, Pelukis lebih berkonsentrasi untuk menyelesaikan lukisannya sebelum inspirasi untuk lukisannya hilang, sehingga Pelukis seringkali tidak mengikuti jam kerja yang sudah ditentukan. Menurut hasil penelitian Subagya (2010) dalam Samara (2004))

Dalam dokumen PDF Skripsi - Unud (Halaman 30-33)

Dokumen terkait