• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Skripsi - Unud

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF Skripsi - Unud"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

ii

NI KADEK CITRA PATMALA

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI PROGRAM STUDI FISIOTERAPI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

2017

(2)

ii

SKRIPSI

PERBEDAAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL ANTARA PEMAHAT KAYU DAN PELUKIS DI UBUD

NI KADEK CITRA PATMALA 1302305037

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI PROGRAM STUDI FISIOTERAPI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

2017

(3)

ii

NIM : 1302305037

Judul Skripsi :“Perbedaan Keluhan Muskuloskeletal Antara Pemahat Kayu Dan Pelukis Di Ubud”

Skripsi ini telah disetujui oleh Dosen Pembimbing untuk diajukan ke Sidang Ujian Skripsi.

Denpasar, 21 Juni 2017 Komisi Pembimbing

(4)

iii

PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

Denpasar, 21 Juni 2017 Pembimbing I,

(5)

iv

KAYU DAN PELUKIS DI UBUD OLEH:

NI KADEK CITRA PATMALA NIM: 1302305037

TELAH DIUJIKAN DIHADAPAN TIM PENGUJI PADA HARI:

TANGGAL: 21 JUNI 2017 MENGETAHUI

DEKAN KETUA

FK UNIVERSITAS UDAYANA PS FISIOTERAPI FK UNUD

Prof.Dr.dr. Putu Astawa, Sp. OT (K).M.Kes Prof. Dr. dr. I.N. Adiputra, MOH,PFK

NIP. 19530131 198003 1 004 NIP. 19471211 197602 1 001

(6)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunianya, penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul

”Perbedaan Keluhan Muskuloskeletal Antara Pemahat Kayu Dan Pelukis Di Ubud”. Skripsi ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana fisioterapi. Penulis menyadari bahwa keberhasilan dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari batuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang terkait dalam penulisan proposal ini, yaitu kepada :

1. Prof. Dr.dr. Putu Astawa,Sp.OT(K)., M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

2. Prof. Dr.dr. I Nyoman Adiputra, PFK, MOH, selaku Ketua Program Studi Fisioterapi Universitas Udayana.

3. Anak Ayu Nyoman Trisna Narta Dewi, SSt. FT, M. Fis, selaku pembimbing yang telah banyak memberikan petunjuk dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini

4. Dr. dr. I Made Muliarta, M. Kes, selaku pembimbing yang telah banyak memberikan petunjuk dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini

5. Dosen-dosen pengajar dan staf Program Studi Fisioterapi yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

(7)

vi

7. Bapak I Gusti Bagus Agung McCormack yang selalu memberikan dukungan finansial dan semangat agar penulis dapat menyelesaikan skripsi dan pendidikan Sarjana Fisioterapi

8. Seluruh teman- teman Mesophryon yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Teman- teman KKN-PPM XIII Universitas Udayana Desa Bebandem yang selalu memberikan semangat agar penulis bisa menyelesaikan skripsi dan pendidikan Sarjana Fisioterapi

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan.

Denpasar, 21 Juni 2017

Penulis

(8)

vii

Perbedaan Keluhan Muskuloskeletal Antara Pemahat Kayu Dan Pelukis Di Ubud

ABSTRAK

Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada sistem otot (muskuloskeletal) seperti tendon, pembuluh darah, sendi, tulang, saraf dan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas kerja. Pemahat kayu dan Pelukis adalah pekerja yang masih dominan bekerja dengan sistem manual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan keluhan muskuloskeletal antara pemahat kayu dan pelukis dan membuktikan kebenaran hipotesis penelitian yang sudah dirumuskan. Penelitian ini adalah penelitian observasi, analitik kategorik tidak berpasangan dengan pendekatan potong lintang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah simpel random sampling. Sampel penelitian ini berjumlah 96 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok Pemahat kayu dan kelompok Pelukis. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengisian kuesioner Nordic Body Map. Uji statistik menggunakan Chi- Square dan Independent T-test. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan keluhan muskuloskeletal yang bermakna pada pemahat kayu dan pelukis, dengan nilai rerata skor pada pemahat kayu 40,7 ± 5,3 dan nilai rerata skor pada pelukis 43,2 ± 6,2, sehingga p= 0,038 (p<0,05), maka terdapat perbedaan keluhan muskuloskeletal antara pemahat kayu dan pelukis, dimana keluhan muskuloskeletal pada pelukis lebih besar dari pemahat kayu. Analisis perbedaan keluhan muskuloskeletal setiap ekstremitas mendapatkan hasil pada ekstremitas atas dengan nilai rerata skor pada pemahat kayu 17,1 ± 0,38, dan pada pelukis 17,3 ± 2,5, sehingga p= 0,692 (p>0,05). Pada trunkus dengan nilai rerata skor pada pemahat kayu 8,3 ± 1,69 dan pada pelukis 10,5 ± 2,50, sehingga p= 0,000 (p<0,05). Pada ekstremitas bawah dengan nilai rerata skor pada pemahat kayu 15,1 ± 2,69 dan pada pelukis 15,1 ± 3,33, sehingga p= 0,973 (p>0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan keluhan muskuloskeletal yang bermakna antara pemahat kayu dan pelukis pada trunkus dan tidak terdapat perbedaan keluhan muskuloskeletal yang bermakna antara pemahat kayu dan pelukis pada ekstremitas atas dan ekstremitas bawah.

Kata kunci: keluhan muskuloskeletal, Nordic Body Map, pemahat kayu, pelukis

(9)

viii

(musculoskeletal) system such as tendons, blood vessels, joints, bones, nerves and others caused by work activity. Wood carvers and painters are workers who still dominant work with the manual system.The purpose of this study was to know the difference of musculoskeletal disorder between woodcarvers and painters and to justify the hypothesis of purpose that has been formulated.This research was observational research, categorical analytics unpaired with cross sectional approach. Sampling technique in this research was simple random sampling. The sample of this study amounted to 96 people divided into 2 groups, namely groups of wood carvers and painters. Data collection was done by filling the Nordic Body Map questionnaire. Statistical test using Chi-Square and Independent T-test. The results showed significant differences in musculoskeletal disorder on wood carver and painter, with woodcarvers mean value of 40,7 ± 5,3 and painters mean value of 43,2 ± 6,2, so p = 0,038 (p <0,05) , then there are differences in musculoskeletal disorder among woodcarvers and painters, where musculoskeletal disorders at greater painter than woodcarver. Analysis of the difference each extremity musculoskeletal disorders in the upper extremities get results with woodcarvers mean value of 17.1 ± 0.38 and painters mean value of 17,3 ± 2,5, so p= 0,692 (p> 0,05), on the trunk with woodcarvers mean value of 8,3 ± 1,69 and painters mean value of 10,5 ± 2,50, so p = 0,000 (p <0,05) and in the lower extremities with woodcarvers mean value of 15,1 ± 2,69 and the average value of the painters 15.1 ± 3.33, so p = 0.973 (p> 0.05). The results of the analysis of each extremity musculoskeletal disorders in woodcarvers and painters, it can be concluded that there are significant differences in musculoskeletal disorder among woodcarvers and painters on the trunk and there are no significant differences in musculoskeletal disorder among woodcarvers and painters in the upper extremities and the lower extremities.

Keywords: musculoskeletal disorder, Nordic body map, wood carver, painter

(10)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. ... .1

1.2 Rumusan Masalah ... .4

1.3 Tujuan Penelitian ... .4

1.3.1 Tujuan Umum ... 4

1.3.2 Tujuan Khusus ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... .5

1.4.1 Manfaat Teoritis ... 5

1.4.2 Manfaat Praktis... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pemahat Kayu ... .6

2.2 Pelukis ... 8

(11)

x

2.3.2 Faktor Internal Penyebab Keluhan Pada Sistem Muskuloskeletal

... 11

2.4 Nordic Body Map ... 13

2.5 Edukasi Fisioterapi ... 16

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, HIPOTESIS 3.1 Kerangka Berpikir. ... 17

3.2 Konsep. ... 19

3.3 Hipotesis. ... 20

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian. ... 21

4.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian. ... 22

4.3 Populasi Dan Sampel. ... 22

4.3.1 Populasi Target ... 21

4.3.2 Populasi Terjangkau ... 21

4.3.3 Sampel... 22

4.3.4 Besaran Sampel... 23

4.3.5 Teknik Pengambilan Sampel ... 25

4.4 Variabel Penelitian. ... 25

(12)

xi

4.5 Definisi Operasional Variabel. ... 25

4.6 Instrumen Penelitian. ... 29

4.7 Prosedur Penelitian. ... 30

4.7.1 Persiapan Penelitian... 30

4.7.2 Prosedur Pelaksanaan ... 31

4.8 Alur Penelitian. ... 32

4.9 Analisis Data... 33

BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Data Karakteristik Sampel. ... 35

5.2 Uji Hipotesis. ... 36

BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Sampel... 38

6.2 Keluhan Muskuloskeletal Pada Pemahat Kayu Dan Pelukis ... 39

6.3 Perbedaan Posisi Kerja Pada Pemahat Dan Pelukis ... 40

6.4 Kelemahan Penelitian ... 42

BAB VII Simpulan Dan Saran 7.1 Simpulan. ... 43

7.2 Saran . ... 44 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(13)

xii

Gambar 2.2 Aktivitas Memahat . ... 7

Gambar 2.3 Aktivitas Melukis ... 8

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 19

Gambar 4.1 Rancangan Penelitian ... 21

Gambar 4.2 Alur Penelitian. ... 31

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Definisi Operasioal Skala Likert... 15 Tabel 2.2 Klasifikasi Subjektivitas Tingkat Risiko Otot Skeletal Berdasarkan Total

Skor Individu ... 16 Tabel 5.1 Distribusi Data Sampel Berdasarkan Usia Pada Kelompok Pemahat

Kayu Dan Pelukis ... 35 Tabel 5.2 Uji Normalitas dan Homogenitas ... 35 Tabel 5.3 Distribusi Data Sampel Berdasarkan Keluhan Muskuloskeletal Pada

Ekstremitas Atas, Trunkus, Ekstremitas Bawah ... 36 Tabel 5.4 Keluhan Keluhan Muskuloskeletal Pada Pemahat dan Pelukis

Menggunakan Chy- Square ... 36 Tabel 5.5 Keluhan Muskuloskeletal Pada Pemahat Kayu Dan Pelukis

Menggunakan Uji Independent T-test ... 37

(15)

1 1.1 Latar Belakang

Peranan manusia dalam dunia industri sebagai sumber tenaga kerja masih dominan dalam menjalankan pekerjaannya, terutama kegiatan yang bersifat manual. Pekerjaan manual, khususnya yang berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan manusia dalam melakukan pekerjaannya dapat menyebabkan masalah yang selama ini sering diabaikan, yaitu masalah ergonomi, di antaranya adalah nyeri punggung, nyeri leher, nyeri pada pergelangan tangan, siku dan kaki yang disebut gangguan muskuloskeletal (Putri & Adhiarta, 2016).

Kerajinan pahat kayu banyak diproduksi oleh industri rumah tangga yang masih menggunakan alat yang sederhana dengan kapasitas produksi yang tidak terlalu besar. Pada seni pahat kayu terdapat banyak sekali motif- motif dan seringkali motif tersebut merupakan ciri khas dari berbagai daerah. Pembuatan sebuah karya seni pahat kayu membutuhkan sebuah keterampilan yang khusus, kesabaran, ketelitian, dan konsentrasi yang penuh agar tidak terjadi kesalahan dalam pembuatan pahatan. Proses pembuatan satu buah karya akan terselesaikan dalam kurun waktu beberapa hari, hal itu disebabkan oleh karena para pengrajin pahatan kayu menggunakan peralatan yang masih sederhana atau secara manual.

Sama halnya dengan melukis pengerjaan lukisan memerlukan waktu yang tidak singkat, namun tergantung pada tingkat kerumitan suatu lukisan. Pelukis setidaknya memerlukan waktu yang lebih banyak untuk menghasilkan lukisan yang sesuai dengan imajinasi atau pesanan pelanggan. Dalam melukis dibutuhkan

(16)

2

konsentrasi dan ketelitian serta kesabaran oleh karena itu diperlukan keterampilan khusus dalam bidang seni tersebut (Utami, 2014)

Pekerjaan dalam waktu lama dengan posisi yang tetap, baik berdiri maupun duduk akan menyebabkan ketidaknyamanan. Sikap kerja berdiri dalam waktu lama akan membuat pekerja selalu berusaha menyeimbangkan posisi tubuhnya sehingga menyebabkan terjadinya beban kerja statis pada otot-otot punggung dan kaki. Kondisi tersebut juga menyebabkan mengumpulnya darah pada anggota tubuh bagian bawah. Sikap kerja duduk dalam waktu lama tanpa adanya penyesuaian bisa menyebabkan melembeknya otot-otot perut, melengkungnya tulang belakang dan gangguan pada organ pernapasan dan pencernaan (Nurjanah, 2012 ; Pangaribuan, 2009)

Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada sistem otot (muskuloskeletal) seperti tendon, pembuluh darah, sendi, tulang, saraf dan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas kerja. Keluhan muskuloskeletal sering juga dinamakan MSD (Muskuloskeletal Disorder), RSI (Repetitive Strain Injuries), CTD (Cumulative Trauma Disorders) dan RMI (Repetitive Motion Injury) (Nurjanah, 2012 ; OHSCOs, 2007). Kemampuan untuk meningkatkan produktivitas kerja manusia dipengaruhi oleh sikap, gerakan, aktivitas, struktur fisik tubuh manusia. Sikap yang tidak tepat akan menyebabkan gangguan, stres, rasa malas bekerja, ketidaknyamanan, dan kelelahan sebagai penyebab rasa sakit dan kelainan pada struktur tubuh manusia. Duduk lama dengan posisi yang salah dapat menyebabkan otot-otot punggung menjadi tegang dan dapat merusak jaringan lunak sekitarnya (Ginting, 2013)

(17)

Hasil studi Departemen Kesehatan Indonesia dalam profil masalah kesehatan di Indonesia tahun 2005, menunjukkan bahwa sekitar 40,5% penyakit yang diderita pekerja sehubungan dengan pekerjaannya. Gangguan kesehatan yang dialami pekerja, menurut penelitian yang dilakukan terhadap 9.482 pekerja dewasa yang pada umumnya berusia antara 25- 60 tahun di 12 kabupaten atau kota di Indonesia, umumnya berupa penyakit muskuloskeletal disorders (16%), kardiovaskuler (8%), gangguan saraf (3%) dan gangguan THT (1,5%) dengan durasi kerja lebih dari 4 jam (Maijunidah, 2010 ; Sumiati, 2007).

Kecamatan Ubud merupakan salah satu Kecamatan yang terletak di Kabupaten Gianyar, luas wilayah 42,38 Km2 dengan jumlah penduduk 67.064 jiwa. 86% dari jumlah keseluruhan masyarakat yang bertempat tinggal di Ubud bekerja di bidang kesenian, seperti Pemahat kayu, Pelukis, pengrajin buah tangan khas Bali dan pengrajin batu paras. Pengrajin pahat kayu umumnya bekerja dengan cara duduk dengan tempat duduk yang berbeda- beda, ada yang duduk di kursi tinggi, kursi rendah maupun duduk di lantai. Pelukis biasanya melukis dengan posisi duduk tegak di kursi tinggi, duduk tegak di kursi pendek, duduk bersila tegak di lantai dan duduk membungkuk tergantung pada kemampuan Pelukis dan bidang lukis yang dikerjakan. Pemahat kayu dan Pelukis melakukan pekerjaannya setiap hari dengan rata- rata waktu ±7 jam perhari. Sikap duduk yang tidak ergonomis dan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan pekerja mengalami keluhan muskuloskeletal terutama pada bagian leher, bahu, punggung, dan pantat.

(18)

4

Berdasarkan uraian di atas maka penulis ingin melakukan penelitian mengenai “Perbedaan Tingkat Keluhan Muskuloskeletal Antara Pemahat kayu Dan Pelukis di Ubud sehingga hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi dan informasi bagi masyarakat, sesama profesi kesehatan maupun penelitian lainnya.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu, bagaimana perbedaan keluhan muskuloskeletal antara Pemahat kayu dan Pelukis di Ubud ?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu:

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk menganalisi perbedaan keluhan muskuloskeletal antara Pemahat kayu dan Pelukis dan membuktikan kebenaran hipotesis penelitian yang sudah dirumuskan.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk menganalisis perberbedaan keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas atas antara Pemahat kayu dan Pelukis.

2. Untuk menganalisi perberbedaan keluhan muskuloskeletal pada trunkus antara Pemahat kayu dan Pelukis.

(19)

3. Untuk menganalisi perberbedaan keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas bawah antara Pemahat kayu dan Pelukis

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Menambah referensi keilmuan mengenai perbedaan keluhan muskuloskeletal antara Pemahat kayu dan Pelukis

2. Menambah referensi ilmu dalam dunia pendidikan pada umumnya dan fisioterapi pada khususnya.

3. Digunakan sebagai acuan atau referensi bagi penelitian selanjutnya yang akan membahas hal yang sama.

1.4.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai keluhan muskuloskeletal yang terjadi antara Pemahat kayu dan Pelukis.

(20)

6

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pemahat Kayu

Pemahat kayu adalah orang yang pekerjaannya memahat kayu. Memahat kayu berarti mengurangi volume kayu dengan membentuknya sesuai pola yang diinginkan menggunakan alat pahat. Memahat menggunakan dua tangan, tangan kiri memegang pahat sedangkan tangan kanan memegang palu, bisa juga sebaliknya jika pemahat kidal. Ketika ujung pahat sudah ditempelkan pada permukaan kayu yang akan dipahat, maka atur kemiringan pahat agar mendapatkan posisi dan kedalaman pahatan yang benar selanjutnya pangkal pahat dipukul dengan palu, maka terjadinya proses pahat (Ginting, 2013).

Gambar 2.1 Alat Pahat

Saat Pemahat kayu bekerja, pemahat cendrung memahat dengan posisi duduk. Posisi duduk yang digunakan dipengaruhi oleh bidang kayu yang akan dipahat, jika bidang kayu berada di lantai maka pemahat akan bekerja dengan posisi duduk di lantai dengan kaki bersila, meluruskan satu atau dua kakinya,

(21)

tergantung kenyamanan pemahat. Ada juga bidang kayu yang terletak di atas permukaan yang lebih tinggi seperti meja, maka pemahat akan bekerja dengan posisi duduk di kursi dengan kaki menggantung atau bertumpu pada lantai (Yudha, 2015)

Gambar 2.2 Aktivitas memahat kayu

Saat bekerja dengan posisi duduk sering kali pemahat akan merubah posisi duduk dari posisi tegak menjadi posisi membungkuk, hal ini dipengaruhi oleh posisi kayu yang di pahat lebih rendah dan penurunan stamina dan ketahanan tubuh berkurang. Duduk membungkuk dapat menyebabkan peregangan otot- otot pada bagian belakang tubuh secara berlebih, sehingga akan menyebabkan terjadinya keluhan muskuloskeletal. Gerakan tangan saat memahat akan dapat meningkatkan keluhan muskuloskeletal pada pemahat, gerakan tangan yang berulang- ulang saat memahat seperti memukul pahat dengan palu.

(22)

8

2.2 Pelukis

Pelukis adalah orang yang menciptakan karya seni dua dimensi berupa lukisan. Melukis berarti mencurahkan ide, gagasan, dan perasaan yang dituangkan ke dalam media dua dimensi. Melukis memerlukan keterampilan khusus, ketelitian, dan konsentrasi yang penuh, oleh sebab itu Pelukis memerlukan waktu yang banyak untuk menyelesaikan lukisannya. Melukis bisa menggunakan satu atau dua tangan, jika menggunakan satu tangan Pelukis hanya memegang kuas warna, sedangkan jika menggunakan dua tangan, tangan satunya dipakai untuk memegang palet cat warna (Utami, 2014)

Gambar 2.3 Aktivitas Melukis

Pelukis cenderung melukis dengan posisi duduk, posisi duduk yang digunakan dipengaruhi oleh letak bidang yang akan dilukis, jika bidang lukis berada pada posisi rendah maka Pelukis akan duduk dilantai dengan posisi duduk bersila. Ada juga bidang lukis yang terletak lebih tinggi, maka Pelukis akan duduk di kursi tinggi saat melukis (Utami, 2014).

Pelukis saat membuat karya seni mengikuti mood atau suasana hatinya, posisi kerja juga tergantung bidang yang akan di lukis. Sebagian besar Pelukis bekerja dengan posisi duduk, posisi duduk dipengaruhi oleh bidang yang akan di

(23)

lukis. Jika Pelukis sedang fokus mengerjakan lukisannya, Pelukis cendrung mempertahankan posisi duduknya seperti awal, hal tersebut akan menyebabkan terjadinya kekakuan pada otot- otot di sekitar belakang tubuh. Menurut Utami, (2014) keahlian Pelukis sangat tergantung pada kelincahan pergerakan pergelangan tangan saat pengaplikasian pensil, spidol maupun kuas warna. Saat melukis terjadilah gerakan berulang- ulang pada pergelangan tangan, hal tersebut akan memicu terjadinya keluhan muskuloskeletal pada tangan Pelukis.

2.3 Keluhan Muskuloskeletal

Menurut Nurjanah (2012) dalam Tarwaka (2010) keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai pada yang sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, maka dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen, dan tendon.

Keluhan hingga kerusakan ini disebut juga muskuloskeletal disorders (MSDs) atau cedera pada sistem muskuloskeletal (Tarwaka, 2010).

2.3.1 Faktor Eksternal Penyebab Keluhan pada Sistem Muskuloskeletal : a. Kesalahan Dan Lamanya Waktu Duduk

Sakit pinggang merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang terjadi karena kesalahan dan lamanya waktu duduk. Saat bekerja tubuh dituntut untuk berada dalam posisi yang sama untuk waktu yang lama terutama pekerja dalam bidang manufaktur. Jika kondisi tidak nyaman terjadi,

(24)

10

maka tubuh akan tertekan dan berakibat timbulnya sakit pinggang atau pegal- pegal (Nurjanah, 2012 ; Suma’mur, 2009).

b. Pengaruh Kursi Kerja

Kursi yang ergonomi adalah kursi yang dapat diatur agar sesuai dengan kondisi badan baik tinggi maupun sandarannya. Hal ini akan membuat bagian belakang tubuh seseorang merasakan rileks sebab terdapat sandaran untuk menopang bagian punggungnya. Jika kursi terlalu tinggi kita dapat menggunakan bantalan atau pijakan untuk kaki agar kaki kita tidak menggantung. Kita juga dapat menggunakan kursi yang empuk dengan meletakkan busa pada letak dudukan, hal Ini akan menyebabkan pinggang kita merasakan nyaman. Terakhir jika kita menggunakan kursi yang memiliki sandaran tangan kita harus memperhatikan bentuk sandaran itu agar posisi tangan tidak ketinggian. Dalam bekerja faktor tempat duduk sangat penting karena dengan tempat duduk yang nyaman kita akan dapat bekerja dengan baik dan sehat (Jalajuwita & Paskarini, 2015).

c. Sikap Kerja Tidak Alamiah

Posisi bagian tubuh yang bergerak menjauhi posisi alamiah, misalnya pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk, kepala terangkat, dan sebagainya dapat menyebabkan keluhan pada otot skeletal (Kusuma, Hasan & Hartanti, 2014).

(25)

d. Tekanan

Terjadinya tekanan langsung pada jaringan otot yang lunak. Sebagai contoh, pada saat tangan harus memegang alat, maka jaringan otot tangan yang lunak akan menerima tekanan langsung dari pegangan alat, dan apabila hal ini sering terjadi dapat menyebabkan rasa nyeri otot menetap (Rachmawati, 2008).

e. Getaran

Getaran dengan frekuensi tinggi akan menyebabkan kontraksi otot bertambah. Kontraksi statis ini menyebabkan peredaran darah tidak lancar, penimbunan asam laktat meningkat dan akhirnya timbul rasa nyeri otot (Nurjanah, 2012 ; Suma’mur, 2009).

2.3.2 Faktor Internal Penyebab Keluhan pada Sistem Muskulosekeletal : a. Umur

Pada umumnya keluhan otot skeletal mulai pertama dirasakan pada umur 30 tahun dan tingkat keluhan akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Hal ini terjadi karena pada umur setengah baya, kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun sehingga risiko terjadinya keluhan otot meningkat (Nurjanah, 2012 ; Chaffin, 1987).

b. Jenis kelamin

Beberapa hasil penelitian secara signifikan menunjukkan bahwa jenis kelamin sangat mempengaruhi tingkat risiko keluhan otot. Hal ini terjadi karena secara fisiologis bahwa kemampuan otot wanita memang lebih rendah daripada pria. Dalam penelitian Nurjanah (2012) dalam Astrand (1997)

(26)

12

menjelaskan bahwa kekuatan otot wanita hanya sekitar dua pertiga dari kekuatan otot pria, sehingga daya tahan otot pria pun lebih tinggi dibandingkan dengan wanita.

c. Kebiasaan Merokok

Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi merokok, semakin tinggi pula tingkat keluhan otot yang dirasakan. Kebiasaan merokok akan dapat menurunkan kapasitas paru-paru, sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen menurun dan sebagai akibatnya, tingkat kesegaran tubuh juga menurun. Apabila yang bersangkutan harus melakukan tugas yang menuntut pengerahan tenaga, maka akan mudah lelah karena kandungan oksigen dalam darah rendah, pembakaran karbohidrat terhambat, terjadi tumpukan asam laktat dan akhirnya timbul rasa nyeri otot (Siswiyanti & Luthfianto, 2014) d. Kesegaran Jasmani

Pada umumnya keluhan otot lebih jarang ditemukan pada seseorang yang dalam aktivitas kesehariannya mempunyai cukup waktu untuk istirahat.

Sebaliknya, bagi yang dalam kesehariannya melakukan pekerjaan yang memerlukan pergerahan tenaga yang besar, di sisi lain tidak mempunyai waktu yang cukup untuk istirahat, hampir dapat dipastikan akan terjadi keluhan otot. Tingkat keluhan otot juga sangat dipengaruhi oleh tingkat kesegaran tubuh (Setyaningsih, 2014).

e. Indek Masa Tubuh (IMT)

Walaupun pengaruhnya relatif kecil, berat badan, tinggi badan dan massa tubuh merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan

(27)

sistem muskuloskeletal. Apabila dicermati, keluhan sistem muskuloskeletal yang terkait dengan ukuran tubuh lebih disebabkan oleh kondisi keseimbangan struktur rangka di dalam menerima beban, baik berat tubuh maupun beban tambahan lainnya (Sujono, 2015).

2.4 Nordic Body Map

Metode Nordic Body Map merupakan metode penilaian yang sangat subjektif artinya keberhasilan aplikasi metode ini sangat tergantung dari kondisi dan situasi yang dialami pekerja pada saat dilakukannya penelitian dan juga tergantung dari keahlian dan pengalaman peneliti yang bersangkutan. Kuesioner Nordic Body Map ini telah secara luas digunakan oleh para ahli ergonomi untuk menilai tingkat keparahan gangguan pada sistem muskuloskeletal dan mempunyai validitas dan reabilitas yang cukup (Maijunidah, 2010).

Pengaplikasian metode Nordic Body Map menggunakan lembar kerja berupa peta tubuh (body map) merupakan cara yang sangat sederhana, mudah dipahami, murah dan memerlukan waktu yang sangat singkat ± 5 menit per individu. Peneliti dapat langsung mewawancarai atau menanyakan kepada responden otot – otot skeletal atau bagian- bagian tubuh mana saja yang mengalami gangguan/nyeri atau sakit dengan menunjuk langsung pada setiap otot skeletal sesuai yang tercantum dalam lembar kerja kuesioner Nordic Body Map. Kuesioner Nordic Body Map meliputi 28 bagian otot – otot skeletal pada kedua sisi tubuh kanan dan kiri. Dimulai dari anggota tubuh bagian atas yaitu otot leher sampai dengan otot pada kaki. Melalui kuesioner ini akan dapat

(28)

14

diketahui bagian – bagian otot mana saja yang mengalami gangguan kenyerian atau keluhan dari tingkat rendah (tidak ada keluhan/ cedera) sampai dengan keluhan tingkat tinggi (keluhan sangat sakit).

Pengukuran gangguan otot skeletal dengan kuesioner Nordic Body Map digunakan untuk menilai tingkat keparahan gangguan otot skeletal individu dalam kelompok kerja yang cukup banyak atau kelompok sampel yang mewakili populasi secara keseluruhan. Penilaian dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan menggunakan 2 jawaban sederhana yaitu Ya (adanya keluhan atau rasa sakit pada otot skeletal) dan Tidak (tidak ada keluhan atau tidak ada rasa sakit pada otot skeletal). Tetapi lebih mudah untuk menggunakan desain penelitian dengan skoring (misalnya; 4 skala Likert). Apabila menggunakan skala Likert maka setiap skor atau nilai haruslah mempunyai definisi operasional yang jelas dan mudah dipahami oleh responden (Maijunidah, 2010). Penilaian metode Nordic Body Map menggunakan 4 skala likert, yaitu :

(29)

Tabel 2.1 Definisi Operasional Skala Likert Skor Definisi Operasional Skala Likert

1 2 3 4

Tidak ada keluhan nyeri atau tidak ada rasa sakit sama sekali yang dirasakan oleh pekerja (tidak sakit)

Dirasakan ada sedikit rasa keluhan atau nyeri pada otot skeletal (agak sakit)

Adanya keluhan nyeri atau sakit pada otot skeletal (sakit)

Keluhan sangat sakit atau sangat nyeri pada otot skeletal (sangat sakit)

Selanjutnya setelah selesai melakukan wawancara dan pengisian kuesioner maka langkah berikutnya adalah menghitung total skor individu dari seluruh otot skeletal (28 bagian otot skeletal) yang diobservasi. Pada desain 4 skala Likert akan diperoleh skor individu terendah adalah sebesar 28 dan skor tertinggi adalah 112. Langkah terakhir dari metode ini adalah maupun sikap kerja, jika diperoleh hasil tingkat keparahan pada otot skeletal yang tinggi. Tindakan perbaikan yang harus dilakukan tentunya sangat bergantung dari resiko otot skeletal mana yang mengalami adanya gangguan. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat presentase jumlah skor pada setiap bagian otot skeletal dan kategori tingkat resiko.

Penentuan tingkat risiko berdasarkan total skor individu dapat dilihat pada tabel berikut :

(30)

16

Tabel 2.2 Klasifikasi Subjektivitas Tingkat Risiko Otot Skeletal Berdasarkan Total Skor Individu

Tingkat Aksi

Skor Individu Tingkat Risiko

Tindakan Perbaikan

1 28- 49 Rendah Belum diperlukan adanya tindakan

perbaikan

2 50- 70 Sedang Mungkin diperlukan tindakan

dikemudian hari

3 71- 91 Tinggi Diperlukan tindakan segera

4 92- 112 Sangat tinggi Diperlukan tindakan menyeluruh sesegera mungkin

2.5 Edukasi Fisioterapi

Masalah keluhan muskuloskeletal yang terjadi pada Pemahat kayu dan Pelukis di Ubud erat kaitannya dengan profesi fisioterapi. Fisioterapi dapat memberikan intervensi sesuai dengan keluhan yang dialami oleh pekerja. Selain memberikan intervensi, fisioterapi juga dapat memberikan edukasi sebagai upaya preventif dan rehabilitatif sesuai dengan keluhan. Contohnya ketika pekerja mengeluhkan sakit punggung bawah yang merupakan salah satu contoh dari kasus muskuloskeletal yang sering dikeluhkan oleh Pemahat kayu dan Pelukis, fisioterapi dapat memberikan edukasi berupa cara duduk saat bekerja yang benar, perbanyak minum air putih dan lain sebagainya. Intervensi yang dapat diberikan berupa pemanasan dengan modalitas fisioterapi, memberikan massage, terapi latihan dan lain- lain.

(31)

17 3.1 Kerangka Berpikir

Pemahat kayu dan Pelukis merupakan dua pekerjaan yang bergerak di bidang kesenian. Masing – masing pekerjaan tersebut memerlukan keterampilan khusus, kesabaran, dan konsentrasi yang penuh agar tidak terjadi kesalahan dalam pengerjaannya. Waktu yang diperlukan untuk membuat dan menyelesaikan suatu karya bisa mencapai beberapa hari lamanya, hal ini disebabkan oleh peralatan yang dipakai oleh pemahat masih sangat sederhana. Pada umumnya Pemahat kayu bekerja dengan posisi duduk begitu pula dengan melukis, Pelukis juga melakukan pekerjaannya dengan posisi duduk. Posisi duduk yang digunakan berbeda- beda tergantung pada bidang yang akan dikerjakan, akan tetapi Pemahat kayu dan Pelukis cenderung mengambil posisi duduk yang tidak sesuai dengan kaidah – kaidah ergonomi.

Posisi duduk yang tidak sesuai dengan kaidah- kaidah ergonomi mempengaruhi terjadinya keluhan muskuloskeletal, posisi yang dimaksud seperti duduk membungkuk, duduk dengan kaki terlipat, duduk pada tempat duduk dengan sudut sandaran yang tidak sesuai, duduk dengan tinggi tempat duduk yang tidak sesuai dengan tinggi tubuh. Duduk yang terlalu lama dengan posisi yang tidak sesuai akan menyebabkan terjadinya ketegangan otot- otot dan ligamentum pada pada tulang belakang yang akan memicu timbulnya rasa nyeri.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya keluhan muskuloskeletal adalah umur, jenis kelamin, kesehatan jasmani, kekuatan fisik, indek masa tubuh,

(32)

18

kebiasaan merokok, trauma, lingkungan kerja, posisi kerja dan durasi kerja.

Tingkat keluhan muskuloskeletal akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya umur, hal ini terjadi karena kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun sehingga risiko terjadinya keluhan muskuloskeletal meningkat. Keluhan muskuloskeletal akan jarang ditemui pada orang yang memiliki waktu istirahat yang cukup, orang yang cukup dengan waktu istirahat cenderung memiliki kesehatan jasmani yang bagus dan sebaliknya pada orang yang bekerja dengan kekuatan otot yang tinggi dan memiliki waktu istirahat yang kurang akan mengalami keluhan muskuloskeletal.

Kesehatan jasmani juga dipengaruhi oleh kebiasaan merokok, dimana kebiasaan merokok akan dapat menurunkan kapasitas paru-paru, sehingga kemampuan paru- paru untuk menghirup oksigen menurun dan sebagai akibatnya tingkat kesehatan jasmani juga menurun. Apabila yang bersangkutan harus melakukan pekerjaan yang menuntut pengerahan tenaga, maka akan mudah lelah karena kandungan oksigen dalam darah rendah, pembakaran karbohidrat terhambat, terjadi tumpukan asam laktat dan akhirnya timbul rasa nyeri otot. IMT (Indek Masa Tubuh) juga akan mempengaruhi tejadinya keluhan muskuloskeletal, dimana orang yang memiliki IMT yang dikategorikan overweight atau IMT> 23 beban pada sendi penumpu berat badan akan meningkat sehingga memungkinkan terjadinya kelelahan dan nyeri.

(33)

3.2 Konsep

Gambar 3.1 Kerangka konsep penelitian Keterangan:

= Variabel yang diteliti

= Variabel yang tidak diteliti Keluhan Muskuloskeletal

Faktor Internal

 Kelelahan

 Ketidaknyamanan

 Stres

 Nyeri

 Spasme otot

 Kelainan struktur tulang

 Kesehatan jasmani

 IMT

 Kebiasaan Merokok

Faktor Eksternal

 Trauma

 Lingkungan kerja

Posisi kerja

Durasi kerja

Usia

Jenis kelamin

Keluhan Muskuloskeletal pada Pemahat kayu dan Pelukis

(34)

20

3.3 Hipotesis

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka konsep di atas, maka hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut Keluhan Muskuloskeletal pada Pelukis Lebih Besar Daripada Keluhan Muskuloskeletal Pemahat kayu di Ubud.

(35)

21 4.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian observasional, analitik kategorik tidak berpasangan dengan pendekatan cross sectional, dengan melakukan pengumpulan data baik variabel dependen dan independen secara bersamaan, untuk melihat hubungan antara variabel dependen yaitu keluhan muskuloskeletal dengan variabel independen yaitu Pemahat kayu dan Pelukis. Rancangan penelitian tersebut dapar dilihat pada Gambar 4.1

Gambar 4.1 Rancangan Penelitian 01

S P

02

(36)

22

Keterangan:

P : Populasi S : Sampel

01 : Pengukuran keluhan muskuloskeletal pada Pemahat kayu 02 : Pengukuran keluhan muskuloskeletal pada Pelukis

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Gianyar yaitu di Kecamatan Ubud pada Bulan Maret- April 2017

4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Target

Target populasi dalam penelitian ini adalah Pemahat kayu dan Pelukis yang tinggal di Kabupaten Gianyar.

4.3.2 Populasi Terjangkau

Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah semua Pemahat kayu dan Pelukis yang ada di Kecamatan Ubud.

4.3.3 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah semua Pemahat kayu dan Pelukis di Ubud. Pengambilan sampel terdiri dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi.

(37)

1. Kriteria Inklusi

a. Sampel berjenis kelamin laki- laki dengan rentang usia 35- 60 tahun b. Bekerja dengan posisi duduk

c. Mampu memahami intruksi dalam penelitian d. Bekerja > 4 jam perhari

e. Bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini 2. Kriteria Eksklusi

a. Sampel yang menderita penyakit infeksi (tumor, kanker)

b. Sampel yang menderita penyakit penyerta (asam urat, kolesterol tinggi)

3. Kriteria Drop Out

a. Sampel yang tidak mau mengisi kuisioner secara lengkap b. Sampel yang mengundurkan diri saat penelitian berlangsung c. Sampel dalam keadaan sakit saat berlangsungnya penelitian 4.3.4 Besaran Sampel

Perhitungan besar sampel pada penelitian ini di hitung berdasarkan rumus besar sampel penelitian analitik komparatif kategorik tidak berpasangan (Sastroatmojo & Ismael, 2014) :

𝑛 = 𝑛

2

= 2 [

(𝑍𝛼+𝑍𝛽) 𝑠

𝑥1− 𝑥2

]

2

Keterangan :

Zα = kesalahan tipe 1 ditetapkan 5% hipotesis satu arah yaitu 1,96

(38)

24

Zβ = kesalahan tipe II ditetapkan 20% yaitu 0,84

X1 = rerata skor varian populasi 1 (dilakukan penelitian pendahuluan) X2 = rerata skor varian populasi 2 (dilakukan penelitian pendahuluan) S = simpang baku kedua kelompok (dari penelitian sebelumnya)

Dari hasil perhitungan di atas, nilai zα = 1,96 dengan kesalahan tipe I = 5%, dan untuk nilai zβ = 0,84 dengan kesalahan tipe II = 20%, x1 dari penelitian pendahuluan sebesar 36,6 dan x2 dari penelitian pendahuluan sebesar 40,2. Maka hasil perhitungan adalah sebagai berikut :

𝑛 = 𝑛

2

= 2 [

(1,96+0,842) 10 36,6− 40,2

]

2

= 2 [ (1,65032) 10 3,6 ]2

= 2 [ 16,5032

3,6 ]2

= 2[ 4,5842 ]2

= 2[ 21,014]

= 42, 028

= 43 orang

Untuk antisipasi adanya drop out besar sampel di tambah 10% menjadi 48 orang perkelompok. Dalam penelitian ini terdapat dua kelompok yaitu Pemahat kayu dan Pelukis, sehingga didapatkan besar sampel 48 x 2 = 96 orang

(39)

4.3.5 Teknik Pengambilan Sampel

Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel dilakukan secara probabilitas atau simple random sampling, yaitu dengan memberikan peluang atau kesempatan kepada seluruh anggota populasi untuk menjadi sampel. Para Pemahat kayu dan Pelukis yang memenuhi kriteria inklusi diberikan kuisioner Nordic Body Map.

4.4 Variabel Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa variabel antara lain a. Variabel bebas : Pemahat kayu dan Pelukis b. Variabel tergantung : Keluhan muskuloskeletal

c. Variabel kontrol : Usia, jenis kelamin, posisi kerja dan durasi d. Variabel perancu : Suhu, kelembaban udara, dan intensitas cahaya

4.5 Definisi Operasional Variabel 1. Posisi Kerja

Posisi kerja merupakan posisi di mana seseorang melakukan aktivitas atau pekerjaan, yang diketahui dengan melakukan wawancara. Dalam penelitian ini, posisi kerja pekerja yang akan diteliti adalah posisi kerja duduk karena sebagian besar Pemahat kayu dan Pelukis bekerja dengan posisi duduk.

(40)

26

2. Keluhan muskuloskeletal

Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian otot-otot skeletal yang dirasakan seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai berat. Keluhan muskuloskeletal di ukur menggunakan kuisioner Nordic Body Map terdapat dua puluh delapan komponen yang diukur yaitu :

1. Sakit/kaku di leher bagian atas 2. Sakit/kaku di leher bagian bawah 3. Sakit di bahu kiri

4. Sakit di bahu kanan 5. Sakit pada lengan atas kiri 6. Sakit di punggung

7. Sakit pada lengan atas kanan 8. Sakit pada pinggang

9. Sakit pada bokong 10. Sakit pada pantat 11. Sakit pada siku kiri 12. Sakit pada siku kanan

13. Sakit pada lengan bawah kiri 14. Sakit pada lengan bawah kanan 15. Sakit pada pergelangan tangan kiri 16. Sakit pada pergelangan tangan kanan 17. Sakit pada tangan kiri

(41)

18. Sakit pada tangan kanan 19. Sakit pada paha kiri 20. Sakit pada paha kanan 21. Sakit pada lutut kiri 22. Sakit pada lutut kanan 23. Sakit pada betis kiri 24. Sakit pada betis kanan

25. Sakit pada pergelangan kaki kiri 26. Sakit pada pergelangan kaki kanan 27. Sakit pada kaki kiri

28. Sakit pada kaki kanan

Penilaian dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map dapat dilakukan dengan menggunakan skala Likert maka setiap skor atau nilai haruslah mempunyai definisi operasional yang jelas dan mudah dipahami oleh sampel Penilaian metode NBM menggunakan 4 skala likert, yaitu :

1. Tidak ada keluhan atau kenyerian atau tidak ada rasa sakit sama sekali yang dirasakan oleh pekerja (tidak sakit)

2. Dirasakan ada sedikit rasa keluhan atau kenyerian pada otot skeletal (agak sakit)

3. Adanya keluhan atau nyeri atau sakit pada otot skeletal (sakit)

4. Keluhan sangat sakit atau sangat nyeri pada otot skeletal (sangat sakit)

(42)

28

Skor keluhan pada Pemahat kayu dan Pelukis dibedakan berdasarkan ekstremitas, di antaranya adalah:

1. Ekstremitas atas terdiri dari bahu kiri- kanan, lengan atas kiri- kanan, siku kiri- kanan, lengan bawah kiri- kanan, pergelangan tangan kiri- kanan dan tangan kiri- kanan.

2. Trunkus terdiri dari leher atas, leher bawah, punggung, pinggang dan bokong.

3. Ektremitas bawah terdiri dari pantat, paha kiri- kanan, lutut kiri- kanan, betis kiri- kanan, pergelangan kaki kiri- kanan dan kaki kiri- kanan.

Setelah dilakukan perhitungan skor keluhan maka skor akhir akan dikategorikan sesuai dengan jumlah skor akhir, kategori skor keluhan muskuloskeletal adalah sebagai berikut:

1. Skor 28- 49 dikategorikan rendah 2. Skor 50- 70 dikategorikan sedang 3. Skor 71- 91 dikategorikan tinggi

4. Skor 92- 122 dikategorikan sangat tinggi

(43)

3. Usia

Usia merupakan umur sampel dalam tahun sesuai dengan kartu tanda penduduk, usia yang digunakan dalam penelitian ini adalah 35- 60 tahun, yang berjenis kelamin laki- laki.

4. Suhu

Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer.

5. Kelembaban Udara

Kelembaban udara adalah konsentrasi uap air dalam udara. Alat untuk mengukur kelembaban disebut higrometer.

6. Intensitas Cahaya

Intensitas cahaya adalah jumlah energi radiasi yang dipancarkan sebagai cahaya ke suatu arah tertentu. Alat untuk mengukur besaran cahaya adalah candle meter.

4.6 Instrumen Penelitian

Instrument atau peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah terdiri dari :

1. Nordic Body Map

2. Alat tulis (bolpoint, buku tulis)

3. Kamera handphone untuk dokumentasi kegiatan penelitian

(44)

30

4.7 Prosedur Penelitian 4.7.1 Persiapan Penelitian

a. Menghadap Kaprodi Fisioterapi Universitas Udayana untuk mendapatkan ijin awal penelitian. Setelah itu menyerahkan surat ijin penelitian resmi dan memberikan penjelasan mengenai jadwal dan jalannya penelitian.

b. Mengajukan proposal penelitian ke komisi Ethical Clearance Litbang Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan memohon surat ijin melakukan penelitian

c. Penelitian membuat surat persetujuan atau Informed Consent yang harus ditandatangani oleh sampel, dan disetujui oleh pengawas fisioterapi, yang isinya bahwa sampel bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini sampai selesai.

d. Pendekatan formal kepada sampel yang akan diteliti, menjelaskan maksud dan tujuan penelitian, meminta sampel untuk menandatangani lembar persetujuan menjadi sampel penelitian. Apabila sampel bersedia kemudian akan dijadikan subjek penelitian, dan apabila subjek menolak untuk dijadikan subjek penelitian maka peneliti tidak memaksa dan menghormati hak sampel.

e. Penandatanganani informed consent oleh subjek (Terlampir)

(45)

4.7.2 Prosedur Pelaksanaan

a. Peneliti melakukan pemeriksaan kriteria inklusi dan eksklusi

b. Setelah subjek peneliti terpenuhi, peneliti memberikan kuisioner Nordic Body Map

Awalnya peneliti menjelaskan apa fungsi dari kuisioner ini dan menjelaskan prosedur pengisiannya,

1. Pertama membaca surat persetujuan menjadi sampel dan jika setuju sampel harus menandatangani pada bagian pojok kanan bawah.

2. Mengisi data demografi yang berisi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, status pekerjaan, durasi bekerja perhari, dan penyakit penyerta yang diderita.

3. Mengisi kuisioner Nordic Body Map

4. Setelah sampel mengerti, sampel bisa mengisi form tersebut 5. Setelah sampel selesai mengisi form dikembalikan kepada peneliti

6. Semua data yang di dapatkan diolah dengan statistik menggunakan komputer

(46)

32

4.8 Alur Penelitian

Gambar 4.1 Alur Penelitian Populasi

Pengukuran keluhan musuloskeletal dengan kuisoner Nordic Body Map

Analisis data

Pelaporan Pemahat kayu

Hasil

Sampel (simple ramdom sampling)

Pelukis Pengukuran keluhan muskuloskeletal

dengan kuisoner Nordic Body Map

(47)

4.9 Analisis Data

Dalam menganalisis data yang didapat dari hasil pengukuran keluhan muskuloskeletal dengan kuisioner Nordic Body Map, akan terlihat perbedaan keluhan muskuloskeletal antara Pemahat kayu dan Pelukis dengan menggunakan komputer.

Data yang diperoleh dianalisis dengan langkah- langkah sebagai berikut : 1. Uji Deskriptif

Uji deskriptif adalah uji dengan menggunakan data statistik univariat seperti rata- rata, median, standar deviasi, modus, varians dan sebagainya. Uji statistik deskriptik dilakukan pada usia Pemahat kayu dan usia Pelukis.

2. Uji Normalitas

Uji normalitas adalah uji statistik yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana sebaran sebuah data. Jika data berdistribusi normal maka dilakukan uji statistik parametrik dan jika data tidak berdistribusi normal maka dilakukan uji statistik non parametrik.

3. Uji Homogenitas

Uji homogenitas adalah pengujian mengenai sama tidaknya variansi- variansi dua buah distribusi data atau lebih. Uji homogenitas juga dilakukan untuk mengetahui data bersifat homogen atau tidak. Jika data berdistribusi homogen maka dilakukan uji statistik parametrik dan jika data tidak berdistribusi homogen maka dilakukan uji statistik non parametrik.

(48)

34

4. Uji Hipotesis

Uji Hipotesis pada kategori skor Pemahat kayu menggunakan uji Chi- Square Test dan uji hipotesis pada skor keluhan muskuloskeletal secara keseluruhan dan skor keluhan muskuloskeletal setiap ekstremitas menggunakan Independent T-test.

Adapun dasar pengambilan keputusannya adalah jika nilai signifikan p> 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Jika nilai signifikan p< 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hipotesis yang saya ajukan adalah Ho jika tidak ada perbedaan rerata keluhan muskuloskeletal antara Pemahat kayu dan Pelukis dan Ha jika adanya perbedaan rerata keluhan muskuloskeletal antara Pemahat kayu dan Pelukis.

(49)

35 5.1 Data Karakteristik Sampel

Berikut ini adalah pemaparan deskripsi data berupa karakteristik sampel penelitian dalam bentuk tabel. Deskripsi karakteristik sampel berdasarkan umur yang hasilnya tertera pada Tabel 5.1

Tabel 5.1 Distribusi Data Sampel Berdasarkan Usia Pada Pemahat Kayu Dan Pelukis

Dari Tabel 5.1 menunjukkan bahwa subjek penelitian kelompok Pemahat kayu memiliki rerata usia 45,0 tahun dan kelompok Pelukis memiliki rerata usia 47,9 tahun.

Tabel 5.2 Uji Normalitas dan Homogenitas

Shapiro- Wilk Test Levene’s Test

Pemahat Kayu Pelukis p

Statistik p Statistik p

0,250

Skor Keseluruhan 0,971 0,267 0,968 0,208

Ekstremitas Atas 0,968 0,202 0,950 0,242 0,087

Trunkus 0,906 0,101 0,926 0,207 0,117

Ekstemitas Bawah 0,919 0,213 0,972 0,111 0,107

Tabel 5.2 menunjukkan hasil dari uji normalitas dan homogenitas, hasil dari uji normalitas pada Pemahat kayu dengan nilai pada skor keseluruhan p=0,267, ekstremitas atas p=0,202, trunkus p=0,101, dan ekstremitas bawah

Karakteristik

Pemahat Kayu Pelukis

n Rerata ±

Simpang Baku n Rerata ±

Simpang Baku

Usia 48 45,0 ±6,3 48 47,9 ±7,7

(50)

36

p=0,213 sedangkan pada Pelukis nilai pada skor keseluruhan p= 0,208, ekstremitas atas p=0,242, trunkus p=0,207 dan ektremitas bawah p=0,111 sehingga p> 0,05 maka data berdistribusi normal. Hasil dari uji homogenitas pada skor keseluruhan dengan nilai p= 0,250, ekstremitas atas p=0,087, trunkus p=

0,117 dan ekstremitas bawah p=0,107, sehingga p> 0,05 maka data berasar dari kelompok yang memiliki varian homogen.

Tabel 5.3 Distribusi Data Sampel Berdasarkan Keluhan Muskuloskeletal Pada Ekstremitas Atas, Trunkus, Ekstremitas Bawah

Dari Tabel 5.3 menunjukkan bahwa subjek penelitian memiliki rerata keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas atas pada Pemahat yaitu 17,1± 0,38 dan pada Pelukis 17,3± 2,52, keluhan muskuloskeletal pada trunkus pada Pemahat yaitu 8,3± 1,69 dan pada Pelukis 10,5± 2,50, dan keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas bawah pada Pemahat yaitu 15,1± 2,69 dan pada Pelukis 15,1± 3,33.

5.2 Uji Hipotesis

Keluhan Muskuloskeletal

Pemahat Pelukis

p Rerata ±

Simpang Baku

Rerata±

Simpang Baku

Ekstremitas Atas 17,1 ± 0,38 17,3 ± 2,52 0,692

Trunkus 8,3 ± 1,69 10,5 ± 2,50 0,000

Ekstremitas Bawah 15,1 ± 2,69 15,1 ± 3,33 0,973

(51)

Tabel 5.4 Keluhan Muskuloskeletal Pada Pemahat Kayu Dan Pelukis Menggunakan Chi- Square

Perbedaan Keluhan Muskuloskeletal

Total Rendah Sedang p

F % F % N %

Pemahat Kayu 44 91,6 4 8,4 48 100

0,271

Pelukis 40 83,4 8 16,6 48 100

Jumlah 84 87,5 12 12,5 96 100

Berdasarkan Tabel 5.4, dapat dilihat bahwa pada Pemahat yang memiliki keluhan muskuloskeletal dengan tingkat rendah yaitu sebanyak 44 orang (91,6 %) dan dengan tingkat sedang sebanyak 4 orang (8,4%) dan pada Pelukis yang memiliki keluhan muskuloskeletal dengan tingkat rendah yaitu sebanyak 40 orang yaitu (83,4%) dan dengan tingkat sedang sebanyak 8 orang (16,6%).

Tabel 5.5 Keluhan Muskuloskeletal Pada Pemahat dan Pelukis Menggunakan Uji Independent T- test

Dari Tabel 5.5 menunjukkan bahwa keluhan muskuloskeletal secara keseluruhan pada Pemahat yaitu dengan rerata 40,7± 5,3 dan pada Pelukis 43,2±

6,2, diperoleh nilai p sebesar 0,038 sehingga p<0,05. Berdasarkan hasil uji secara statistik maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan keluhan muskuloskeletal yang bermakna pada Pemahat dan Pelukis.

Keluhan Muskuloskeletal

Rerata ± Simpang Baku p

Pemahat 40,7 ± 5,3

0,038

Pelukis 43,2 ± 6,2

(52)

38 BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Sampel

Karakteristik sampel pada penelitian ini yaitu dibagi menjadi kelompok 1 dan kelompok 2, sampel berjenis kelamin laki- laki dengan jumlah total sampel sebanyak 96 orang dan terdiri dari 2 kelompok, dimana masing- masing kelompok berjumlah 48 orang, kelompok 1 adalah kelompok Pemahat kayu sebanyak 48 orang dan kelompok 2 adalah kelompok Pelukis sebanyak 48 orang. Menurut Panengah, (2012) prevalensi nyeri muskuloskeletal pada pekerja berkisar antara 6-76 % selama satu tahun. Angka prevalensi Low Back Pain antara 7,6-37% yang terjadi pada pekerja aktif.

Berdasarkan usia menunjukkan bahwa rerata usia sampel penelitian kelompok 1 memiliki rerata 47,9 tahun dan kelompok 2 memiliki rerata usia 45,0 tahun. Dengan usia termuda 35 tahun dan usia tertua 60 tahun. Usia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya keluhan muskuloskeletal (Nurjanah, 2012 ; Chaffin, 1987). Berdasarkan rerata keluhan muskoloskeletal pada ekstremitas atas pada Pemahat yaitu 17,1 ± 3,0 dan pada Pelukis 17,3 ± 2,5, keluhan muskuloskeletal pada trunkus pada Pemahat yaitu 8,3 ± 1,6 dan pada Pelukis 10,5 ± 2,5 dan keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas bawah pada Pemahat yaitu 15,1 ± 2,6 dan pada Pelukis 15,1 ±3,3. Menurut Kusmayanitha, (2016) terdapat 5 bagian tubuh dengan keluhan muskuloskeletal paling tinggi yaitu pinggang bawah (84,6%), bahu (61,5%), lutut (48,1%), pergelangan tangan (25,0%), betis dan kaki (21,2%).

(53)

Berdasakan keluhan muskuloskeletal didapatkan hasil bahwa persentase terbanyak pada ekstremitas atas pada Pemahat dengan rerata 17,1, pada Pelukis 17,3. Menurut Rozana & Adiatmika (2014) lokasi keluhan muskuloskeletal yang paling sering terjadi pada responden adalah sakit atau kaku pada leher bawah, punggung, dan pinggang dengan persentase yang sama sebanyak 86,05%.

6.2 Keluhan Muskuloskeletal pada Pemahat Kayu dan Pelukis

Berdasarkan keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas atas pada Pemahat dengan rerata 17,1 ± 3,0 dan pada Pelukis 17,3 ± 2,5, keluhan muskuloskeletal pada trunkus pada Pemahat yaitu 8,3 ± 1,6 dan pada Pelukis 10,5 ± 2,5 dan keluhan muskuloskeletal pada ekstremitas bawah pada Pemahat yaitu 15,1 ± 2,6 dan pada Pelukis 15,1 ± 3,3. Rerata keluhan keluhan muskuloskeletal secara keseluruhan pada Pemahat yaitu dengan rerata 40,7 ± 5,3 dan pada Pelukis 43,2 ± 6,2. Menurut Susihono, (2014) keluhan sakit pada bagian atas tubuh atau kepala yang terdiri dari sakit pada leher bagian atas adalah sebesar 2,80 %, dan sakit pada leher bagian bawah adalah sebesar 3,48 %. Keluhan sakit pada tangan kiri adalah sebesar (3,61%) dan tangan kanan adalah sebesar (5,48%) hal ini diakibatkan oleh karena pekerjaannya memerlukan ke dua tangan, keluhan sakit pada bagian bahu sebesar (3,48%) dan keluhan sakit pada bagian lengan atas. Keluhan pada kaki yang paling dominan terdapat pada bagian lutut (4,01%) kemudian sakit pada pergelangan kaki sebesar (3,88%), dan sakit pada paha (3,74%).

(54)

40

6.3 Perbedaan Posisi Kerja Pada Pemahat Dan Pelukis

Hasil penelitian setelah dilakukan uji Independent T-Test diperoleh nilai p sebesar 0,038 sehingga p<0,05. Berdasarkan hasil uji secara statistik maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan keluhan muskuloskeletal yang bermakna pada Pemahat dan Pelukis. Berdasarkan rerata keluhan muskuloskeletal secara keseluruhan didapatkan bahwa rerata keluhan pada Pelukis lebih besar dari rerata keluhan Pemahat kayu, hal ini dapat diartikan bahwa keluhan muskuloskeletal pada Pelukis lebih besar daripada keluhan muskuloskeletal pada Pemahat kayu.

Sikap kerja antara Pemahat kayu dan Pelukis menjadi faktor resiko terjadinya keluhan muskuloskeletal seperti contoh durasi kerja, beban kerja, dan stress saat bekerja.

Posisi kerja pada Pemahat kayu yaitu posisi tubuh pada saat proses Pemahat an dilakukan dengan posisi duduk di lantai dengan kepala yang terkadang menunduk dan menengadah, posisi tubuh yang tekadang membungkuk ke depan dan tegak, dan ke dua tangan bekerja memegang palu dan alat pahat dengan posisi memahat tergantung pada tinggi bidang yang sedang dipahat dengan durasi kerja memahat kayu yaitu 7-8 jam, dengan waktu istirahat 1 jam.

Posisi kerja pada Pelukis yaitu duduk di lantai dengan melukis di atas meja, dengan kepala yang terkadang menunduk, menengadah dan tegak, posisi tubuh membungkuk ke depan dan tegak, dan salah satu tangan mengerjakan lukisan. Waktu untuk mengerjakan seni lukis ini biasanya lebih dari 8 jam dengan jeda waktu untuk istirahat yang sekitar 1 jam, hal ini menyebabkan para Pelukis lebih mudah mengalami kelelahan, baik fisik maupun psikologis contohnya stress.

(55)

Jam kerja Pelukis yang tidak teratur yang mengakibatkan Pelukis bekerja lebih lama dibandingkan dengan jam kerja Pemahat . Dari hasil wawancara ketika Pelukis sedang fokus mengerjakan lukisannya, Pelukis tidak jarang akan melewatkan jam istirahatnya, hal ini akan menyebabkan Pelukis bekerja dengan posisi statis yang lebih lama dibandingan dengan Pemahat kayu yang beristirahat sesuai waktu yang sudah ditentukan. Beban kerja sangat berpengaruh pada keluhan muskuloskeletal, beban kerja pada Pemahat tidak seberat beban kerja Pelukis yang sangat bergantung pada mood Pelukis itu sendiri. Pemahat yang akan memulai pekerjaannya sudah diberikan pola khusus berdasarkan bentuk pahatan yang akan dibuat, sedangkan Pelukis seringkali hanya diberikan tema lukisan sehingga Pelukis perlu berpikir lebih banyak mengenai lukisan yang akan dibuat hal tersebut akan menimbutkan stress yang lebih besar pada Pelukis. Hal ini sejalan dengan penelitian Susianingsih, Hartanti, & Sujono (2014) yang menyebutkan bahwa stres dapat menyebabkan penurunan fungsi muskuloskeletal.

Perbedaan keluhan muskuloskeletal pada trunkus antara Pemahat kayu dan Pelukis disebabkan oleh sikap kerja antara Pemahat kayu dan Pelukis, dimana pada saat Pemahat kayu memahat mereka lebih santai bisa bekerja sambal berbincang- bincang sesama pekerja dan mengikuti jam kerja yang sudah ditentukan. Sedangkan Pelukis saat melukis akan melihat hasil lukisannya dari berbagai sudut pandang sebelum melanjutkan lukisannya, Pelukis lebih berkonsentrasi untuk menyelesaikan lukisannya sebelum inspirasi untuk lukisannya hilang, sehingga Pelukis seringkali tidak mengikuti jam kerja yang sudah ditentukan. Menurut hasil penelitian Subagya (2010) dalam Samara (2004))

(56)

42

menyebutkan bahwa pekerjaan dengan lama duduk statis 91-300 menit terbukti menjadi faktor resiko untuk terjadinya nyeri punggung yang merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal.

Bekerja dengan posisi statis untuk durasi kerja yang lama akan menimbulkan keluhan muskuloskeletal, contohnya seperti low back pain. Dimana terjadinya spasme pada otot di sekitar leher, punggung, pinggang, dan lain sebagainya akibat otot mempertahankan posisi kerja dalam waktu yang lama. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Utari, Kalsum & Mahyuni (2015) yang menyebutkan bahwa keluhan- keluhan muskuloskeletal pada pekerja dikarenakan oleh saat bekerja tubuh berada dalam posisi statis, hal ini akan mengakibatkan penyumbatan aliran darah, pada bagian tersebut akan kekurangan pasokan oksigen dan glukosa dari darah. Selain itu, tubuh akan menghasilkan sisa metabolisme seperti asam laktat yang tidak dapat diangkut keluar akibat peredaran darah yang terganggu sehingga menumpuk dan menimbulkan rasa nyeri.

6.4 Kelemahan Penelitian

1. Kelemahan penelitian ini terletak pada perbedaan latar belakang sampel, di mana setiap sampel memiliki kegiatan lain di samping pekerjaan pokok sebagai Pemahat kayu atau Pelukis yang akan bisa mempengaruhi timbulnya keluhan muskuloskeletal.

2. Tidak bisa mengontrol suhu, intensitas cahaya, dan kelembaban udara di mana sampel bekerja, di mana hal tersebut dapat mempengaruhi sikap kerja dan resiko terjadinya keluhan muskuloskeletal pada pekerja.

(57)

43 7.1 Simpulan

Berdasarkan analisis penelitian tentang perbedaan keluhan muskuloskeletal pada Pemahat kayu dan Pelukis, dapat disimpulkan bahwa 1. Terdapat perbedaan keluhan muskuloskeletal yang bermakna antara

Pemahat kayu dan Pelukis, dimana rata- rata keluhan muskuloskeletal pada Pelukis lebih besar dari Pemahat kayu di Ubud.

2. Terdapat perbedaan keluhan muskuloskeletal yang bermakna pada trunkus antara Pemahat kayu dan Pelukis di Ubud.

3. Tidak terdapat perbedaan keluhan muskuloskeletal yang bermakna pada ekstremitas atas dan ekstremitas bawah antara Pemahat kayu dan Pelukis di Ubud.

7.2 Saran

Beberapa saran yang dapat diajukan berdasarkan temuan dan kajian dalam penelitian ini adalah:

1. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini, keluhan muskuloskeletal pada Pemahat kayu dan Pelukis dapat digunakan sebagai referensi dan upaya preventif dalam mencegah terjadinya keluhan muskuloskeletal.

(58)

44

2. Diharapkan penelitian selanjutnya lebih memperhatikan faktor - faktor yang mempengaruhi penelitian termasuk mengontrol suhu lingkungan dimana sampel bekerja dan mengontrol shift kerja pada sampel.

3. Diharapkan peneliti selanjutnya memberikan intervensi untuk menangani keluhan muskuloskeletal pada Pemahat kayu dan Pelukis.

(59)

Exercise, Neuromuscular Function. 2nd Edition. New York: McGraw-Hill Book Company.

Chaffin, D. B., dan Anderson, G. B. J. 1987. Occupational Biomechanics Edisi III. New York: John Wiley & Sons.

Ginting, R. 2013, Perancangan Produk, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Jalajuwita, R. N., dan Paskarini, I. 2015. Hubungan Posisi Kerja Dengan Keluhan Muskuloskeletal Pada Unit Pengelasan PT. X Bekasi. (E- jurnal) The Indonesian Journal Of Occupation SafetyAnd Health. Vol. 4, No. 1 Jan- Jun 2015: 33–42.

Kusmayanitha, P. R. 2016. Studi Prevalensi Keluhan Muskuloskeletal Pada Pekerja Pabrik Bata Merah Di Desa Tulikup Gianyar. (Skripsi) Denpasar:

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana .

Kusuma, I. F., Hasan, M., dan Hartanti, R I. 2014. Pengaruh Posisi Kerja Terhadap Kejadian Low Back Pain Pada Pekerja Di Kampung Sepatu, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Jurnal IKESMA Volume 10 Nomor 1 Maret 2014.

Maijunidah, E. 2010. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Keluhan Muskuloskeletal Disorder (MDS) Pada Pekerja Assembling PT. X Bogor Tahun 2010. (Skripsi) Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Nurjanah, S. 2012. Hubungan Sikap Kerja Duduk Dengan Keluhan Muskuloskeletal Pada Pekerja Bagian Reaching PT. Delta Merlin Dunia Textile Kebakkramat Karanganyar. (Skripsi) Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

OHSCOs (Occupational Health and Safety Council of Ontario). 2007. Prevention Musculoskeletal Tool Box. Ontario, USA.

Panengah, Y. I. 2012. Hubungan Antara Beban Kerja dan Pada Pekerja Di Setra Industri Gamelan Wirun Sukoharjo. (Skripsi) Surakarta: Program Studi Diploma IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

Pangaribuan, D. M. 2009. Analisa Postur Kerja dengan Metode RULA pada Pegawai Bagian Pelayanan Perpustakaan USU Medan. (Skripsi) Jurusan Teknik Industri USU, Medan.

Gambar

Gambar  2.1 Alat  Pahat
Gambar  2.2 Aktivitas  memahat  kayu
Gambar  2.3 Aktivitas  Melukis
Tabel  2.2 Klasifikasi  Subjektivitas  Tingkat  Risiko  Otot Skeletal  Berdasarkan  Total  Skor Individu
+7

Referensi

Dokumen terkait

Selain ruam ini, timbul gejala-gejala lainnya, seperti demam, pembesaran kelenjar getah bening, sakit tenggorokan, sakit kepala, kehilangan berat badan, nyeri otot, dan perlu

Subyek malaria vivaks dengan keluhan demam, nyeri otot dan sendi serta sakit kepala hanya terjadi pada 86,3% yang diberi analgetik/ antipiretik, 39,6% dengan

vii ABSTRAK PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM PENGELOLAAN USAHA MIKRO DI DESA REJO BASUKI KECAMATAN SEPUTIH RAMAN LAMPUNG TENGAH ALMA KHOIRUNNISA 1602040061 Pemberdayaan perempuan

vii ABSTRAK PERENCANAAN DRAINASE JALAN SAHABAT RAYA DI KELURAHAN TAMALANREA INDAH Oleh Aan Ahdiah Nur Hadba 45 16 041 216 Pertumbuhan kota menimbulkan dampak yang cukup besar

Tingkat Keluhan Msds Perawat Dari data yang telah diolah, didapat hasil tingkat keluhan otot rangka yang banyak terjadi pada perawat di RSUD Berkah Pandeglang adalah sakit pada leher

vii ABSTRAK Penulisan skripsi ini bertujuan membahas Pajak Penghasilan pada sektor usaha Jasa Konstruksi yang berasal dari Luar Negeri ditinjau dari Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008

vii FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTENSI BERWIRAUSAHA MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Oleh: DESTARI SETYORINI NIM 14804244008 ABSTRAK