1. Menurut Undang-Undang Nomor 42 tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia
Sebelum lanjut dalam pembahasan eksekusi maka hal yang perlu kita ketahui terlebih dahulu dalam perjanjian jaminan fidusia, status objek fidusia bukanlah sebagai milik kreditur itu sendiri namun hanya sebagai suatu alat atau proses peralihan hak. 44
Eksekusi jaminan fidusia dapat dilakukan dalam hal pemberi fidusia (debitur) berada dalam keadaan cidera janji (wanprestasi). Pemberi Fidusia wajib menyerahkan benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia dalam rangka pelak- sanaan eksekusi Jaminan Fidusia. Apabila pemberi fidusia tidak menyerahkan benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia pada waktu eksekusi dilaksanakan, penerima fidusia berhak mengambil benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia dan apabila perlu dapat meminta bantuan pihak yang berwenang. Pelaksanakan eksekusi jaminan fidusia diatur di dalam pasal 29 sampai dengan pasal 34 Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
Pada saat eksekusi telah sah untuk dilakukan, maka undang-undang memberi hak kepada Penerima Fidusia dalam kedudukan dan kapasitasnya sebagai legal owner untuk mengambil penguasaan obyek Jaminan Fidusia. Tata cara eksekusi jaminan fidusia dilakukan melalui:45
43 Munir Fuady, Hukum Tentang Pembiayaan Dalam Teori Dan Praktek, Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti, 2000, hal. 50.
44 Mariam Darus Badrulzaman, Bab-Bab Tentang Creditverband, Gadai Dan Fidusia, Bandung: Citra Aditya, 1991, hal. 98.
45 Salim Hs, Op. Cit, hal. 89.
1. Pelaksanaan Titel Eksekutorial Oleh Penerima Fidusia Yang dimaksud dengan titel eksekutorial (alas hak eksekusi), yaitu tulisan yang mengandung pelaksanaan putusan pengadilan yang memberikan dasar untuk penyitaan dan lelang sita (executorial verkoop) tanpa perantaraan hakim.
2. Pelelangan Umum
Undang-Undang Fidusia melindungi hak penerima fidusia untuk menjual benda obyek fidusia atas kekuasaannya sendiri sehingga tidak diperlukan adanya klausul eigenmachtige verkoop sebagaimana terdapat dalam eksekusi hak tanggungan. Eksekusi obyek jaminan fidusia dilaksanakan oleh penerima fidusia tanpa inter- vensi dari Pengadilan Negeri. Penerima Fidusia dapat langsung melakukan penjualan obyek jaminan fidusia.
Penjualan tersebut harus dilakukan melalui pelelangan umum oleh kantor lelang/ pejabat lelang. Penerima Fidiusia berhak mengambil pelunasan utang dari hasil penjualan tersebut dengan mengesampingkan kreditur konkuren berdasarkan hak preference yang dimilikinya.
3. Penjualan di Bawah Tangan
a. Syarat dalam melakukan eksekusi obyek jaminan fidusia melalui penjualan di bawah tangan, yaitu : Penjualan tersebut harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (pemberi dan penerima fidusia);
b. Dapat diperoleh harga tertinggi yang meng- untungkan para pihak;
c. Pelaksanaan penjualan hanya dapat dilakukan setelah lewat 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis kepada pihak-pihak yang berke- pentingan;
d. Diumumkan sedikit-dikitnya melalui 2 (dua) surat kabar setempat.
Dalam pelaksanakan eksekusi Jaminan Fidusia, Pemberi Fidusia diwajibkan untuk menyerahkan benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia. Sebaliknya apabila Pemberi Fidusia tidak menyerahkan benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia pada waktu eksekusi dilaksanakan, Penerima Fidusia berhak mengambil benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dan apabila perlu dapat meminta bantuan pihak yang berwenang. Terdapat larangan janji berkaitan dengan eksekusi terhadap benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia, yaitu:46
a. Janji untuk melaksanakan eksekusi terhadap benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dengan cara yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dan Pasal 31 Undang-Undang Jaminan Fidusia; dan
b. Janji yang memberi kewenangan kepada Penerima Fidusia untuk memiliki benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia apabila debitur cidera janji.
Bilamana terdapat janji yang demikian, maka setiap janji tersebut diancam dengan batal demi hukum. Artinya bahwa dari semula perjanjian itu dianggap tidak ada.
Dalam proses eksekusi, perjanjian yang penjaminannya dilakukan di bawah tangan tidak dapat eksekusi. Proses eksekusi harus dilakukan dengan cara mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri melalui proses hukum acara yang normal hingga turunnya putusan pengadilan. Inilah
46 Rachmadi Usman, Op. Cit, hal. 296.
pilihan yang prosedural hukum formil agar dapat menjaga keadilan dan penegakan terhadap hukum materiil yang dikandungnya.47
2. Menurut Putusan Mahkamah Konstitusi No. 18/PUU- XVII/2019
Pada tanggal 6 Januari 2020 yang lalu, Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi mengucapkan sebuah Putusan Perkara pengujian Peraturan Perundangan-undangan, yaitu Undang- Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Putusan Mahkamah Konstitusi No.
18/PUU-XVII/2019 mengenai perubahan eksekusi objek jaminan fidusia. Adapun Permohonan Pengujian Undang- Undang (Judicial Review) ke Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 15 ayat (2) dan (3).
Atas permohonan tersebut hakim Mahkamah Konstitusi memberikan putusan dengan memberi penafsiran terhadap frasa kekuatan eksekutorial dan frasa sama dengan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, serta frasa cidera janji dalam Pasal 15 ayat (2) dan (3) UU Jaminan Fidusia. Pada pokoknya, putusan Mahkamah Konstitusi berisi 3 (tiga) hal berikut, yaitu:
a. Terhadap jaminan fidusia yang tidak ada kesepakatan tentang cidera janji (wanprestasi) dan debitur keberatan menyerahkan secara sukarela objek yang menjadi jaminan fidusia, maka segala mekanisme dan prosedur hukum dalam pelaksanaan eksekusi Sertifikat Jaminan Fidusia harus dilakukan dan berlaku sama dengan
47 RM. Leonardo Charles Wahyu Wibowo, Tesis; Eksekusi Jaminan Fidusia Dalam Penyelesaian Kredit Macet Di Perusahaan Pembiayaan Kendaraan Sepeda Motor PT. Adira Finance Kota Makasar, Semarang: Studi Magister Kenotariatan Program Pasca Sarjana Universitas Diponogoro, 2010, hal. 30.
pelaksanaan eksekusi putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
b. Adanya cidera janji tidak ditentukan secara sepihak oleh kreditur melainkan atas dasar kesepakatan antara kreditur dengan debitur atau atas dasar upaya hukum yang menentukan telah terjadinya cidera janji.
c. Terhadap jaminan fidusia yang tidak ada kesepakatan tentang cidera janji dan debitur keberatan menyerahkan secara sukarela objek yang menjadi jaminan fidusia, maka segala mekanisme dan prosedur hukum dalam pelak- sanaan eksekusi Sertifikat Jaminan Fidusia harus dilaku- kan dan berlaku sama dengan pelaksanaan eksekusi putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. 48
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa jaminan fidusia yang tidak ada kesepakatan tentang cidera janji (wanprestasi) dan debitur keberatan menyerahkan secara sukarela objek yang menjadi jaminan fidusia, maka segala mekanisme dan prosedur hukum dalam pelaksanaan eksekusi Sertifikat Jaminan Fidusia harus dilakukan dan berlaku sama dengan pelaksanaan eksekusi putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.