Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia yang tidak akan terpisahkan dari setiap individunya.
Setiap manusia juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung didalam HAM. Tidak seorangpun yang dapat merampas hak tersebut dari orang lain, oleh karena itu kewajiban untuk menghormati, menjaga dan melindungi HAM adalah tugas kita bersama.
Beberapa pasal sebagai hasil deklarasi dan program aksi Wina yang berkaitan dengan hakasasi manusia, khususnya yang berkaitan dengan perdagangan manusia (perempuan) :
1. Pasal 5
Semua hak asasi adalah universal; tidak dapat dipisah- kan; serta saling bergantung dan berkait. Masyarakat internasional secara umum harus memperlakukan hak asasi manusia di seluruh dunia secara adil dan seimbang, dengan menggunakan dasar dan penekanan yang sama.
Sementara kekhususan nasional dan regional serta berbagai latar belakang sejarah budaya, dan agama adalah suatu yang penting dan harus terus menjadi pertimbangan, merupakan tugas Negara apapun system politik, ekonomi, dan budayanya untuk memajukan dan melindungi semua hak asasi manusia dan kebebasan asasi.
2. Pasal 18
Hak asasi manusia dari perempuan adalah bagian dari hak asasi manusia yang tidak dapat dicabut, integral, dan tidak dapat dipisahkan. Partisipasi perempuan yang seutuhnya sejajar dalam kehidupan politik, sipil, ekonomi, social, budayapada tingkatan nasional, re- gional, dan Internasional. Serta pemberantasan semua bentuk diskriminasi berdasarkan jenis kelamin adalah tujuan utama bagi masyarakat Internasional.
Kekerasan berbasis gender dan semua bentuk pelang- garan dan pelecehan seksual, termasuk yang terjadi karaena prasangka kebudayaan dan perdagangan internasional, tidaklah sesuai dengan martabat dan harga diri seorang manusia dan harus dihapuskan. Ini dapat dicapai dengan tindakan-tindakan hukum dan melalui tindakan di tingkat nasional serta kerjasama internasional pada bidang-bidang seperti pembangunan ekonomi dan social, pendidikan, keselamatan dalam bersalin dan pemeliharaan kesehatan, serta dukungan social. Hak
asasi, manusia dari perempuan harus merupakan bagian integral dari kegiatan hak asasi manusia PBB, termasuk pemajuan semua instrument hak asasi manusia yang terkait dengan perempuan. Konferensi Dunia Hak Asasi Manusia mendesak semua pemerintah, lembaga, organisasi antar pemerintah maupun organisasi non pemerintah untuk menggalakkan usaha mereka dalam melindungi dan memajukan hak asasi manusia bagi perempuan dan anak perempuan.
Manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa secara kodrati dianugerahi hak dasar yang disebut hak asasi, tanpa ada perbedaan satu dengan yang lainnya. Artinya bahwa setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama dihadapan Tuhan Yang Maha Esa, oleh karenanya hak asasi yang melekat pada setiap manusia harus dihormati oleh segenap manusia. Dengan hak asasi tersebut setiap manusia mampu mengembangkan pribadinya, serta eksistensinya dimuka bumi ini guna kesejahteraan hidup manusia.
Dalam mengembangkan pribadinya, setiap individu harus memiliki tatanan nilai, aturan yang berlaku dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara. Tatanan nilai ini ditentukan oleh pandangan hidup dan kepribadian yang dimiliki oleh masyarakat atau Negara tersebut. Pandangan hidup dan kepribadian bangsa Indonesia sebagai wujud nilai- nilai luhur bangsa Indonesia menempatkan manusia pada harkat dan martabat yang dimilikinya sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana tertuang dalam UUD 1945.
Bangsa Indonesia menghormati setiap upaya suatu bangsa untuk menjabarkan dan mengatur Hak Asasi Manusia sesuai dengan system nilai dan pandangan hidup bangsa
Indonesia yang menjunjung tinggi dan menerapkan HAM sesuai dengan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.
Berkaitan dengan munculnya tindak pidana per- dagangan terhadap perempuan, maka hal tersebut merupa- kan pelanggaran terhadap HAM. Dan hal ini merupakan tindak pidana yang harus diberantas dari negeri ini, karena bertentangan dengan pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yaitu merampas kemerdekaan perempuan sebagai korban dari perbudakan modern, selain itu juga tidak sesuai dengan keadilan dan kemanusiaan sebagaimana amanat konstitusi.
Terjadi peningkatan kasus tindak pidana perdagangan orang dari tahun ke tahun khususnya terhadap perempuan dan anak, termasuk anak yang masih bayi. Laporan UNAFEI tahun 2004 menunjukan bahwa sepertiga dari jumlah perdagangan manusia di seluruh dunia adala perempuan dan anak. Dengan jumlah berkisar 200.000-225.000 orang tiap tahun.67
Seiring dengan kompleksnya permasalahan HAM, khususnya tehadap tindak pidana perdagangan perempuan maka Indonesia telah meratifikasi Convention the Elimination of all Forms of Discrimination Againt Women melalui UU No. 7 Tahun 1948 Tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention the Elimination of all Forms of Discrimination Againt Women) atau biasa disingkat CEDAW.
Konvensi ini berupaya menjunjung tinggi hak asasi perempuan dengan mewajibkan Negara peserta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.
67 Romany Sihite, perempuan, kesetaraan, dan keadilan gender: suatu tinjauan berwawasan gender, raja grafindo persada, Jakarta, 2007, hlm 197
Perhatian dunia terhadap masalah HAM ditunjukkan dengan adanya deklarasi dan program aksi wina 1993 yang bersepakat antara lain menghimbau negara-negara PBB untuk secepatnya mengesahkan perangkat-perangkat Internasional yang sangat penting dibidang Hak Asasi Manusia, termasuk konvensi menentang penyiksaan. Sesuai dengan isi deklarasi Wina 1993, pemerintah Indonesia telah menyusun Rencana Aksi Nasional HAM Indonsia 1998-2003 yang berisi kegiatan- kegiatan prioritas dalam rangka pemajuan dan perlindungan HAM. Prioritas kegiatan tahun pertama rencana aksi tersebut mencakup pengesahan tiga perangkat Internasional dibidang HAM, termasuk Konvensi tentang Penyiksaan.
Perhatian dunia terhadap masalah HAM ditunjukkan dengan adanya deklarasi dan program aksi wina 1993 yang bersepakat antara lain menghimbau negara-negara PBB untuk secepatnya mengesahkan perangkat-perangkat Internasional yang sangat penting dibidang Hak Asasi Manusia, termasuk konvensi menentang penyiksaan. Sesuai dengan isi deklarasi Wina 1993, pemerintah Indonesia telah menyusun Rencana Aksi Nasional HAM Indonsia 1998-2003 yang berisi kegiatan- kegiatan prioritas dalam rangka pemajuan dan perlindungan HAM. Prioritas kegiatan tahun pertama rencana aksi tersebut mencakup pengesahan tiga perangkat Internasional dibidang HAM, termasuk Konvensi tentang Penyiksaan.
Pada akhirnya Indonesia telah menunjukkan kesungguhannya dalam upaya penegakan HAM, khususnya terhadap tindak pidana perdagangan perempuan dengan melahirkan payung hukumnya, yaitu UU No. 21 Tahun 2007 Tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang.
B. Problematika Sosial Perempuan dalam Penegakan HAM