BAB IV PEMBAHASAN
A. Konsep Humanisme Teosentris dalam Konteks Pendidikan Islam. 81
2. Epistemologi Konsep Humanisme Teosentris dalam
Epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang berfokus pada ruang lingkup pengetahuan, seperti sumber dari pengetahuan, dalam hal ini adalah sumber humanisme teosentris. Namun, sebelum memaparkan sumber humanisme teosentris, maka tidak boleh melewatkan asal mula dari humanisme. Humanisme sendiri berasal dari Yunani dan Romawi kuno, seperti yang disampaikan oleh Abdurrahman Mas‟ud bahwa:
Kultur humanisme adalah tradisi rasional dan empirik yang mula mula sebagian besar berasal dari Yunani dan Romawi kuno, kemudian berkembang melalui sejarah Eropa. Humanisme menjadi sebagian dasar pendekatan Barat dalam pengetahuan, teori politik, etika, dan hukum.146
Berdasarkan penjelasan Abdurrahman Mas‟ud tersebut bahwa humanisme merupakan sebuah tradisi yang bersifat rasional dan empirik dari Yunani dan Romawi kuno. Kemudian, melalui sejarah Eropa humanisme mengalami perkembangan hingga pada akhirnya menjadi sebagian dasar pendekatan Barat pada bidang pengetahuan, teori politik, etika, dan hukum.
Hardiman pun juga menjelaskan bahwa humanisme dimulai dari zaman antik yakni bangsa Yunani kuno yang mengolah bakat bakat kodrati manusia dengan sistem pendidikannya yakni paidea serta bangsa Romawi kuno yang dipandang sebagai peletak dasar humanisme universal
146 Mas‟ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, 129.
oleh karena gagasannya tentang manusia sebagai animal rationale. Akan tetapi humanisme kritis baru dimulai abad ke-14 sampai abad ke-16 pada zaman Renaisans dan memuncak pada abad ke-18 pada humanisme Pencerahan Eropa.147
Filsafat humanisme tersebut memiliki dua subkategori, yakni humanisme Kristen dan humanisme modern. Abdurrahman Mas‟ud menjelaskan:
Humanisme Kristen didefinisikan oleh Webster di dalam kamusnya yang berjudul Third New International Dictionary (Kamus Internasional Baru Ketiga) sebagai penganjur filsafat pemenuhan sendiri manusia dalam prinsip prinsip Kristen. Ini lebih berorientasi pada kepercayaan manusia yang sebagian besar merupakan produk pencerahan dan bagian dari apa yang membuat humanisme pencerahan.
Humanisme modern yang juga disebut humanisme naturalistic/alam, humanisme scientific/ilmiah, humanisme etik, dan humanisme demokratis ini didefinisikan oleh seorang pemimpin pendukungnya, yaitu Charles Lamont sebagai berikut,
“Sebagai Filsafat Alam, aliran ini menolak seluruh aliran supranatural dan menyepakati utamanya di atas alasan dan ilmu, demokrasi dan keharuan pada manusia.” Humanisme modern ini mempunyai dua sumber yaitu sekuler dan agama, dan di sana ada subkategori.148
Abdurrahman Mas‟ud mengutip dari Webster bahwa humanisme Kristen merupakan penganjur filsafat pemenuhan diri manusia berdasarkan prinsip prinsip Kristen. Sedangkan untuk humanisme modern Abdurrahman Mas‟ud mengutip dari Charles Lamont bahwa humanisme modern merupakan filsafat alam yang menolak seluruh aliran supranatural serta sepakat bahwa manusia merupakan hal utama sebagai alasan dari
147 F. Budi Hardiman, Humanisme dan Sesudahnya, (Jakarta: KPG, 2012), 8.
148 Mas‟ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, 129-130.
ilmu dan demokrasi. Humanisme modern tersebut memiliki dua sumber utama yakni sekuler dan agama. Sehingga, humanisme modern ini terbagi menjadi dua yakni humanisme sekuler dan humanisme agama.
Meskipun humanisme sekuler dan humanisme agama sama sama humanisme modern, tetapi kedua hal tersebut muncul dari asal mula yang berbeda, seperti yang dijelaskan oleh Abdurrahman Mas‟ud bahwa:
Humanisme sekuler adalah salah satu hasil perkembangan abad ke- 18, pencerahan rasionalisme, dan kebebasan pemikiran pada abad ke-19. Banyak kelompok sekuler, seperti Dewan Demokrasi dan Humanisme Sekuler, Federasi Rasionalis Amerika, dan banyak kelompok lain yang tidak berafiliasi pada filsuf filsuf akademisi/ilmuwan, yang menyokong filsafat ini.
Humanisme religius muncul dari etika kebudayaan, unitarianisme, dan universalisme. Sekarang ini banyak kumpulan unitarian- universalis dan seluruh etika kebudayaan masyarakat yang menggambarkan diri mereka sendiri sebagai humanis bernuansa modern.149
Humanisme sekuler berasal dari produk perkembangan abad ke-18, pencerahan rasionalisme, serta kebebasan dalam berpikir pada abad ke-19.
Sedangkan humanisme religius atau teosentris berasal dari etika kebudayaan yang ada serta unitarianisme dan universalime.
Namun, humanisme sekuler dan humanisme teosentris tersebut nyatanya memiliki hubungan yang tidak baik karena adanya silang pendapat antara keduanya. Humanisme sekuler memiliki anggapan bahwa agama tidak bisa diharapakan untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan sehingga gerakan mereka merupakan aksi pemberontakan terhadap agama.
Sedangkan humanisme agama menganggap aksi kemanusiannya
149 Mas‟ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, 130.
disebabkan konsistensi mereka terhadap ajaran agama. Sebenarnya dua kubu tersebut bisa didamaikan asal mereka fokus pada nilai substansi agama, seperti yang dinyatakan oleh Abdurrahman Mas‟ud:
Kalau kita bisa mengembalikan nilai kritis dan substansi dasar agama, seperti dalam nilai nilai Islam yakni al-„adalah (keadilan), al-musawwah (egalitarian), asyuro (musyawarah), dan al- khurriatul ikhtiyar (kebebasan memilih dalam konteks) khifdhul mal atau perlindungan harta), khifdhul nafs (perlindungan jiwa), khifdhul din (perlindungan agama), khifdhul „aql (perlindungan akal), dan khifdhul nasl (perlindungan keturunan), niscaya tidak ada saling sengketa lagi antara humanisme agama dan sekuler.150 Berdasarkan pernyataan Abdurrahman Mas‟ud tersebut maka sudah jelas bahwa secara substansi agama tidaklah berseberangan dengan nilai nilai kemanusiaan, malah sebaliknya agama ada untuk memenuhi dan membantu kehidupan manusia di muka bumi. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Allah Swt. dalam surat Al Anbiya‟ ayat 107:
ٓ
Artinya: Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.151
Islam sebagai agama yang dibawa serta disebarluaskan oleh Nabi Muhammad SAW bertujuan untuk memberikan pedoman hidup bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya sehingga dapat memberikan rahmat bagi seluruh alam.
Adanya humanisme teosentris ini mewujudkan ajaran agama dengan membawa nilai nilai spiritual, cinta kasih, kebenaran, dan keadilan
150 Mas‟ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik , 134.
151 Al Qur‟an dan Terjemahannya, 331.
ke dalam diri manusia. Nilai nilai tersebut bertujuan untuk dipahami dan dikembangkan oleh manusia untuk mendapatkan kehidupan yang baik dalam dirinya dan masyarakatnya. Oleh sebab itu yang dikedepankan di sini adalah manfaat spiritual dalam kehidupan manusia, bukan tentang kesucian agama.152 Oleh karena itu, humanisme teosentris merupakan sebuah paradigma yang menghantarkan pendidikan Islam kepada perkembangan dan kemajuan, serta tidak terus terjebak pada kelemahan kelemahan yang tidak semestinya.
Achmadi pada bukunya yang berjudul Ideologi Pendidikan Islam menyatakan:
Implementasi ajaran ini (humanisme teosentris) dalam praktik kehidupan dan pendidikan dapat fleksibel atau luwes, selama substansinya tetap terpelihara yaitu: menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan karena hakikatnya ajaran Islam (agama fitrah) memang untuk memenuhi kebutuhan manusia, bukan untuk kepentingan Tuhan. Akan tetapi martabat dan kemuliaan manusia akan terwujud manakala manusia mampu mendekati Tuhan karena ia berasal dari Tuhan sebagai Zat yang Maha Mulia dan Maha Tinggi.153
Berdasarkan pernyataan Achmadi tersebut maka semakin mempertegas bahwa implikasi humanisme teosentris jika diterapkan dalam pendidikan maka akan menghasilkan manusia mulia yang sesuai dengan nilai nilai keislaman. Humanisme teosentris akan membentuk suatu pendidikan yang tidak kaku dan bersifat luwes, namun tetap tidak mengubah substansi ajaran dalam agama Islam sendiri. Sebab secara substansi agama Islam menunjukkan bahwa merupakan agama yang fitrah.
152 Musthofa, Humanisasi Pendidikan Pesantren, (Depok: Rajawali Pers, 2020), 19.
153 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, 11.
Bukti bahwa agama Islam merupakan agama yang fitrah sudah nampak sejak diturunkannya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah membaca yang terdapat pada surat Al Alaq ayat pertama sudah menunjukkan perhatian kepada nasib dan kondisi manusia.
Achmadi menyatakan:
Perintah membaca yang tertulis dalam surat Al Alaq ayat pertama tersebut bukan sebatas membaca tulisan, tetapi membaca fenomena alam dan peristiwa dalam kehidupan, termasuk kejadian manusia.
Berdasarkan hal tersebut semakin memperkuat konsep humanisme teosentris sebab kemampuan membaca merupkan bagian dari unsur humanisme didasari dengan kekuatan spiritual ilahiyah yaitu
“membaca dengan nama Tuhan yang menciptakan manusia”.154 Demikian humanisme teosentris dikembangkan dengan membentuk proses pembelajaran yang memperhatikan potensi fitrah yang dimiliki oleh peserta didik. Mengetahui fitrah peserta didik berupa bakat dan minat, kecenderungan, kecerdasan dan lainnya, maka seorang pendidik dapat merencanakan program pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan latar belakang fitrahnya tersebut. Hal itu akan menciptakan proses pembelajaran yang aktif, menarik dan penuh gairah, sebab berlandaskan pada keinginan, bakat, dan kecenderungan peserta didik.
Tetapi fakta di lapangan tidak menunjukkan hal yang demikian.
Dunia pendidikan masih jauh dari harapan karena terdapat beberapa masalah yang sebenarnya perlu diatasi segera. Masalah masalah tersebut seperti pola keberagamaan yang lebih menekankan hubungan vertikal dan kesemarkan ritual sehingga kesalehan sosial menjadi terabaikan, potensi
154 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, 33.
peserta didik belum dikembangkan secara proporsional, serta sikap mandiri dan tanggung jawab belum tertanam pada diri peserta didik.
Lebih jelasnya problematika yang dihadapi oleh pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
a. Pendidikan Islam seringkali dikesankan sebagai pendidikan yang tradisional dan konservatif, hal ini wajar karena orang memandang bahwa kegiatan Pendidikan Islam dihinggapi oleh lemahnya penggunaan metodologi pembelajaran yang cenderung tidak menarik perhatian dan memberdayakan.
b. Pendidikan Islam terasa kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi suatu “makna dan nilai” yang perlu di internalisasikan dalam diri seseorang lewat berbagai cara, media dan forum.
c. Metodologi pengajaran agama berjalan secara konvensional tradisional, yakni menitikberatkan pada aspek korespondensi tekstual yang lebih menekankan yang sudah ada pada kemampuan anak didik untuk menghafal teks-teks keagamaan daripada isu-isu sosial keagamaan yang dihadapi pada era modern seperti kriminalitas, kesenjangan sosial dan lain lain.
d. Pengajaran agama yang bersandar pada bentuk metodologi yang bersifat statis indoktrinatif-doktriner.155
155 Moh. Wardi, “Problematika Pendidikan Islam dan Solusi Alternatifnya”, Jurnal Tadris
8, No 1 (Juni 2013) : 59-60, https://core.ac.uk/download/229880897.pdf
Upaya pembaharuan demi kemajuan pendidikan Islam pun dilakukan oleh tokoh tokoh seperti Muhammad Abdurh, Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Ali Pasya, Sayid Ahmad Khan, dan sebagainya.
Upaya pembaharuan itu pun terus berlanjut dengan diikuti oleh para tokoh yang berasal dari negara negara mayoritas muslim seperti Indonesia dan Malaysia. Achmadi menjelaskan terkait dengan gerakan pembaharuan tersebut bahwa “Kerangka landasan epistemologi yang dikermbangkan oleh gerakan pembaharuan tersebut ialah memadukan kembali wawasan ilmu intelektual dan agama yang selama beberapa abad di masa kemunduran telah terdikotomi dengan dominasi ilmu pengetahuan agama.”156
Gerakan pembaharuan tersebut mencoba untuk menyeimbangkan kembali antara ilmu intelektual dengan ilmu agama yang selama ini umat Islam lebih fokus terhadap dengan ilmu agamanya saja. Memang problematika semacam ini perlu diatasi dengan upaya yang sungguh sungguh.
Upaya yang dilakukan adalah dengan diselenggarakannya konferensi internasional pendidikan Islam di Islamabad, Pakistan.
Konferensi tersebut menghasilkan klasifiikasi ilmu pengetahuan yang dibagi menjadi dua yakni pengetahuan abadi (perenial knowledge) dan ilmu pengetahuan perolehan (acquired knowledge). Atas klasifikasi ilmu pengethaun ini, Achmadi menegaskan bahwa “Pada dasarnya semua ilmu
156 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, 150.
pengetahuan berasal dari Allah. Oleh karena itu pembagian tersebut sekedar membedakan cara atau proses mendapatkan ilmu pengetahuan.”157
Upaya selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengembangkan paradigma baru untuk pendidikan Islam. Paradigma baru pendidikan Islam yang dimaksud di sini adalah pemikiran yang terus menerus harus dikembangkan melalui pendidikan untuk mendapatkan kembali masa kejayaan di masa lalu. Paradigma baru pendidikan Islam ini berdasar pada filsafat teosentris dan antroposentris sekaligus.158 Oleh karena itulah, humanisme teosentris sebagai paradigma baru pendidikan Islam diperkenalkan. Achmadi menyatakan:
Istilah humanisme teosentris sesungguhnya perpaduan antara humanisme dan teosentrisme, namun karena teosentrisme dimaksudkan untuk memberi sifat humanisme, maka menjadi humanisme teosentris. Artinya, humanisme yang teosentris, sehingga secara eksplisit berbeda dengan humanisme naturalistic, huamanisme scientific, atau humanisme rasional yang sekuler.159 Berdasarkan pernyataan Achmadi tersebut dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan humanisme teosentris adalah perpaduan antara konsep humanisme dan teosentris. Konsep teosentris yang ada tersebut bertujuan untuk memberikan sifat humanisme sehingga menjadi humanisme teosentris.
Apabila humanisme teosentris ini dihubungkan dengan pendidikan Islam maka hal yang ingin ditekankan pada reformasi pendidikan Islam adalah demokratisasi sistem pendidikan Islam secara konsisten,
157 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, 150.
158 Mujammil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2005), 256.
159 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, 89.
berkelanjutan, dan menyeluruh untuk menghasilkan „abdullah sekaligus khalifatullah sebagai sumber daya manusia yang ideal dengan mengkolaborasikan ajaran ajaran Islam dengan konsep konsep modern sehingga menghasilkan proses pembelajaran yang menjadi peserta didik sebagai pusat proses belajar mengajar.
Implementasi humanisme teosentris dalam pendidikan perlu dilaksanakan dengan pemberian stimulus dan dilakukan secara demokratis, seperti yang dijelaskan oleh Achmadi bahwa:
Pendidikan yang sebenarnya adalah pendidikan yang memberikan stimulus dan dilaksanakan secara demokratis. Bukan memberikan ilmu atau nilai nilai, seakan akan guru sebagai sumber ilmu dan gudang nilai, sedangkan anak (peserta didik) ibarat botol kosong yang siap diisi. Pendekatan demokratis sesuai dengan fitrah manusia karena murid mendapatkan kebebasan yang bertanggung jawab dalam interaksi pendidikan.160
Pendidikan yang seharusnya adalah pendidikan yang membuat peserta didik ditempatkan sebagai sosok yang aktif dan reaktif sedangkan pendidik hanya perlu menyajikan situasi dan kondisi yang memancing peserta didik untuk mengeksplorasi materi pembelajaran secara bebas namun bertanggung jawab. Sebab demi tercapainya tujuan pendidikan maka peserta didik perlu terlibat secara aktif, tidak hanya pendidik saja.
Allah Swt dalam firman-Nya pun mengenalkan konsep jihad dan memerintahkan manusia untuk selalu berikhtiar untuk mencapai tujuannya, seperti yang dijelaskan pada surat An Najm ayat 39-41:
ۙ
ࣖ
ۖ
ۙ
160 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, 74.
Artinya:. bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna,161 Berdasarkan ayat tersebut maka manusia perlu berusaha jika ingin mencapai sesuatu, begitu juga dalam pendidikan. Jika peserta didik ingin terlepas dari belenggu kebodohan maka mereka perlu berusaha untuk itu.
Pada hal ini sebenarnya manusia telah dianugerahi kapasitas belajar oleh Allah Swt.
Adanya kapasitas belajar ini disebabkan Allah Swt.
menganugerahkan kebebasan dan akal dalam diri manusia. Selain dua hal tersebut, ada hal lain yang mendukung kapasitas belajar manusia, seperti yang dijelaskan oleh Achmadi bahwa:
Pertama, fisik atau struktur anatomi manusia sejak alat indra, anggota badan, susunan syaraf otak yang sangat canggih, semuanya memberikan kapasitas untuk belajar dan menjadikan manusia.
Kedua, kepekaan manusia terhadap rangsangan dari luar. Bukan hanya rangsangan yang bersifat fisik-indrawi seperti panas, dingin, terang dan gelap, tetapi juga rangsangan yang bersifat spiritual dan sosio-kultural seperti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan adanya kepakaan semacam ini manusia termotivasi untuk belajar.
Ketiga, plastisitas atau modifiabilitas. Manusia dalam perkembangannya sanggup melakukan perubahan perubahan atau modifikasi yang sangat luas dan luwes. Apalagi ditunjang dengan proses pencapaian kedewasaan yang panjang memberikan kesempatan yang panjang pula untuk melakukan perubahan dan adaptasi psikologis yang variatif.
Keempat, Motivasi atau dorongan. Secara kodrati manusia memiliki tiga dorongan pokok yaitu: dorongan lapar-perlu makan, dorongan proteksi, dan dorngan seks. Dalam psikologi ketiga dorongan itu disebut propotent reflexes yang sangat memengaruhi
161 Al Qur‟an dan Terjemahannya, 527.
sikap dan perilaku seseorang, termasuk memberikan dorongan untuk belajar.162
Banyak hal yang mendukung kapasitas belajar manusia selain anugerah kebebasan dan akal yakni mulai dari segi fisik. Secara fisik, manusia dilengkapi oleh alat indra, anggota badan, hingga susunan syaraf yang dapat memmbantu dalam proses pembelajara. Pun dengan kepekaan manusia yang mampu peka terhadap perubahan yang tidak hanya pada hal fisik namun juga non fisik merupakan salah satu penunjang kapasitas belajar manusia. Selain itu, keluwesan manusia dalam membuat perubahan dan motivasi yang dimiliki dalam diri manusia juga berpartisipasi dalam kapasitas belajar yang dimiliki manusia. Oleh karena itu, peserta didik dapat mendayagunakan anugerah yang telah diberikan oleh Allah Swt.
tersebut untuk keberhasilan belajarnya.
Selain pemberian stimulus dan pelaksanaan pendidikan yang demokratis, pendidikan perlu membangun kebijakan yang mempertimbangkan empiris. Achmadi menjelaskan bahwa “Implikasi fitrah manusia dalam pendidikan Islam dapat disimpulkan bahwa jasa pendidikan dapat diharapkan sejauh menyangkut development dan becoming sesuai dengan citra manusia menurut pandangan Islam.”163 Berdasarkan hal tersebut, pendidikan Islam diharapkan dapat membantu peserta didik dalam perkembangannya dan proses aktualisasi mereka hingga sesuai dengan citra manusia yang sesuai dengan nilai nilai Islam.
162 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, 70-71.
163 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, 75.
Namun, proses terbentuknya pribadi seperti yang diharapkan tersebut tidak mudah, sebab peserta didik sebagai manusia tentu memiliki kelemahan. Achmadi menjelaskan bahwa:
Pertama; Tuhan telah memperingatkan bahwa manusia di samping memiliki fitrah dan potensi potensinya juga disampiri dengan berbagai kelemahan yang dapat menjadi gangguan dan hambatan internal, dari dalam dirinya sendiri. Karena itu tugas pendidikan adalah menetralisasi faktor faktor penghambat ini.
Kedua; Pribadi manusia tidak dapat dilihat sekedar sebagai
“realitas abstrak yang subyektif”, tetapi sebagai realitas objektif yang senantiasa berhadapan dengan faktor faktor objektif di lingkungannya, berupa alam dan hasil karya budidaya manusia sendiri yang di satu sisi, dapat menjadi penunjang pembentukan pribadi, tetapi di sisi lain mungkin dapat menjadi penghambat.164 Peserta didik sebagai manusia di samping memiliki potensi potensi dalam dirinya, tetap memiliki kekurangan yang dapat menghambat proses pembelajaran. Selain itu, lingkungan sekitar yang dapat menjadi faktor pendukung keberhasilan pendidikan di sisi lain dapat menjadi penghambat keberhasilan tersebut. Dengan demikian, pendidikan tidak mungkin dibentuk dengan gagasan ideal dan melupakan kelemahan kelemahan tersebut. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan perlu pertimbangan pertimbangan empirik serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi suatu masyarakat.
Sedangkan Abdurrahman Mas‟ud memaparkan bahwa paling tidak terdapat enam hal pokok yang perlu dikembangkan lebih lanjut berdasarkan humanisme teosentris dalam pendidikan Islam, yakni sebagai berikut:
164 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, 75.
a. Common sense atau akal sehat
Akal sehat menjadi hal pertama yang perlu dikebambangkan dalam duni pendidikan sebab masih banyak permasalahan menyangkut hal ini. Abdurrahman Mas‟ud menyatakan:
Realitas yang ada ialah masyarakat yang tidak mendengar dan tidak mendengar dan tidak menggunakan akal sehat, yakni tradisi tangan dan mulut dan jauh lebih dominan daripada tradisi teling dan mata. Karena budaya yang belum cultivated ini, simbol simbol yang semestinya memerlukan pembacaan dari setiap orang, tidak ada yang membacanya.165
Kesadaran masyarakat untuk mendengar dan memahami terlebih dahulu sebelum berbicara dan bertindak masih rendah.
Hal hal yang sebenarnya bisa dipahami apabila masyarakat mau membaca menjadi gagal menyampaikan maksud dan tujuannya karena mereka tidak membacanya. Hal semacam ini terjadi sebab masyarakat yang notabenenya manusia tidak menggunakan akalnya dengan baik.
Padahal akal sehat merupakan hal yang menyebabkan manusia menjadi wakil di muka bumi. Hal yang sama pulalah yang menyebabkan manusia lebih mulia dibandingkan dengan kebanyakan makhluk yang telah diciptakan oleh Allah Swt. seperti yang disampaikan pada surat Al Isra‟ ayat 70 yakni:
۞
ٓ
ࣖ
165 Mas‟ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomi, 155.
Artinya: Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik- baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.166 Penyebab gagalnya penggunaan akal dengan baik oleh masyarakat disebabkan karena pendidikan di Indonesia masih belum menyokong hal tersebut. Sebagaimana pernyataan Abdurrahman Mas‟ud:
Pendidikan di Indonesia yang belum mengembangkan akal sehat bisa terlihat dari pola pendidikan yang lebih berorientasi pada apa (what oriented-education) daripada mengapa (why oriented-education). Pendidikan pola pertama lebih didominasi metode menghafal (memorization) karena siswa harus menghafal sekian materi. Menumpukkan materi dan informasi adalah metode sekaligus tujuan pendidikan model ini. Dengan demikian, ruang berpikir sangat sedikit, apalagi ruang untuk menganalisis. Artinya, hal hal yang berhubungan dengan daya pikir kurang diminati.167
Metode menghafal masih begitu mendominasi pendidikan di Indonesia. Hal ini menyebabkan daya berpikir peserta didik tidak mengalami perkembangan yang signifikan sebab tidak terlatih dan tidak terbiasa menggunakan akalnya untuk menyelesaikan permasalahan permasalahan. Metode pembelajaran yang seperti itu pula menghasilkan pembelajaran yang menempatakan pendidik sebagai pusatnya. Padahal pendidikan merupakan upaya untuk mengembangakan potensi peserta didik, bukan pendidik.
166 Al Qur‟an dan Terjemahannya, 289.
167 Mas‟ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomi, 156.
b. Individualisme menuju kemandirian
Individualisme yang dimaksud di sini bukanlah sikap individual yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak butuh orang lain, namun individualisme yang bermuara pada sikap mandiri. Abdurrahman Mas‟ud menyatakan:
Self reliance atau kemandirian adalah tujuan utama konsep individualism. Dalam Islam, individualism bukanlah sebuah larangan. Jika penekanannya pada kemandirian dan tanggung jawab pribadi, justru menjadi seruan dalam Islam.
Bahwa semua anggota badan manusia akan dimintai pertanggung jawabannya di depan Sang Pencipta nanti, tentu harus ditafsiri sebagai tugas pendidikan dalam melembagakan tanggung jawab pribadi, sosial, dan keagamaan individu.168
Sehingga penekanannya di sini adalah sikap mandiri yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri baik dalam urusan pribadi, sosial, dan keagamaaan. Bahkan dalam firman Allah Swt.
dijelaskan bahwa kelak anggota tubuh masing masing akan memberikan pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt. atas apa yang telah diperbuat. Hal tersebut dijelaskan pada surat Yasin ayat 65:
ٓ
ٓ
Artinya: Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.169
168 Mas‟ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomi, 158.
169 Al Qur‟an dan Terjemahannya, 444.