• Tidak ada hasil yang ditemukan

humanisme teosentris dalam konteks pendidikan islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "humanisme teosentris dalam konteks pendidikan islam"

Copied!
185
0
0

Teks penuh

(1)

i

HUMANISME TEOSENTRIS

DALAM KONTEKS PENDIDIKAN ISLAM

SKRIPSI

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Siti Nurcholida NIM : T20191167

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SHIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

APRIL 2023

(2)

ii

HUMANISME TEOSENTRIS

DALAM KONTEKS PENDIDIKAN ISLAM

SKRIPSI

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Siti Nurcholida NIM : T20191167

(3)

iii

(4)

iv MOTTO

ۗ

ۗ

ۗ

ۙ ۙ

Artinya: Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.

Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.1 (Q.S. Ar Rum:30)

1 Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: PT. Insan Media Pustaka, 2013), 407

(5)

v

PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkan kepada Toha, Luluk Maisyaroh, dan Nurul Hikmah, keluargaku yang telah mengasihiku dan mendukungku hingga bisa sejauh ini.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Segenap puji syukur penulis sampaikan kepada Allah karena atas rahmat dan karunia-Nya, perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan lancar.

Kesuksesan ini dapat penulis peroleh karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan terima kasih yang sedalam dalamnya kepada:

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM. selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah menerima penulis sebagai mahasiswa UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

2. Prof. Dr. Hj. Mukni‟ah, M.Pd.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keuguruan.

3. Dr. H. Rif‟an Humaidi, M.Pd.I selaku Ketua Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa.

4. Dr. Hj. Fathiyaturrohmah, M.Ag selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam.

5. Dr. Moh. Dasuki, S.Pd.I., M.Pd.I selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing hingga tuntas

Akhirnya, semoga segala amal baik yang telah Bapak/Ibu berikan kepada penulis mendapat balasan yang baik dari Allah.

Jember, 04 April 2023

Penulis

(7)

vii ABSTRAK

Siti Nurcholida, 2023: Humanisme Teosentris dalam Konteks Pendidikan Islam Kata Kunci: Humanisme Teosentris, Pendidikan Islam

Potensi peserta didik saat ini belum dikembangkan secara proporsional dan sistem pendidikan yang ada kurang berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia. Oleh karena itu, konsep humanisme teosentris ini menjadi penting dikembangkan dalam pendidikan, utamanya pendidikan Islam. Hal tersebut dilakukan untuk menghasilkan sebuah sistem pendidikan yang menghargai dan mengembangkan potensi peserta didik sesuai fitrahnya dengan tetap memerhatikan tanggung jawab hablun minallah dan hablun minannas.

Fokus kajian dalam penelitian ini adalah sebagaimana berikut, 1) Bagaimana konsep humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam? 2) Bagaimana implementasi humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam?

3) Bagaimana kritik terhadap konsep humanisme teosentris?

Penelitian ini merupakan riset kepustakaan dengan pendekatan filosofis.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dengan analisis data yang digunakan adalah analisis konten.

Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Konsep humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam ditinjau dari aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pada aspek ontologi, humanisme teosentris merupakan sebuah konsep keseimbangan antara peran manusia sebagai hamba Allah Swt dan sebagai wakil yang dipilih Allah Swt di bumi. Gagasan ini perlu dikembangkan sebab keberagamaan masyarakat cenderung menekankan hubungan vertikal dan kesemarakan ritual, potensi peserta didik belum kembangkan secara proporsional, kemandirian peserta didik belum tercapai dan mewabahnya simotom dikotomik. Pada aspek epistemologi, humanisme teosentris bersumber dari peradaban Yunani dan Romawi. Hal yang perlu dikembangkan adalah akal sehat, individualisme, haus ilmu, pendidikan pluralisme, serta keseimbangan reward dan punishment. Terakhir pada aspek aksiologi, konsep humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam bertujuan untuk menghapuskan sistem dikotomik dan menciptakan sistem pendidikan yang menghargai fitrah manusia sehingga kualitas sumber daya manusia meningkat. (2) Implementasi humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam terbagi dalam aspek pendidik, aspek metode, aspek peserta didik, aspek materi, serta aspek evaluasi. Pada aspek pendidik, pendidik perlu mencurahkan kasih sayang pada peserta didik. Aspek metode, pendidik perlu memilih metode yang aktif dan dapat mengenal peserta didik lebih baik. Aspek peserta didik, pendidik perlu menanamkan sikap menghormati bertanggung jawab, kritis, tekun, dan sebagainya. Aspek materi, materi yang disajikan perlu membuat peserta didik berpikiran terbuka. Terakhir, evaluasi yang dilakukan harus menyeluruh baik dari segi afektif, kognitif, dan psikomotorik. (3) Kritik terhadap konsep humanisme teosentris adalah perlu memaparkan pentingnya pendidikan sepanjang hayat dan kualitas emosi manusia, serta memaparkan aspek materi lebih rinci.

(8)

viii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN ... ii

PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Kajian ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 9

E. Definisi Istilah ... 10

F. Sistematika Pembahasan ... 11

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 13

A. Penelitian Terdahulu ... 13

B. Kajian Teori ... 23

1. Humanisme Teosentris ... 23

2. Pendidikan Islam ... 56

(9)

ix

a. Sejarah Pendidikan Islam ... 56

b. Pengertian Pendidikan Islam ... 58

c. Tujuan Pendidikan Islam ... 64

d. Fungsi Pendidikan Islam ... 67

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 72

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 72

B. Sumber Data ... 73

C. Teknik Pengumpulan Data ... 76

D. Analisis Data ... 76

E. Tahap Tahap Penelitian ... 78

BAB IV PEMBAHASAN ... 81

A. Konsep Humanisme Teosentris dalam Konteks Pendidikan Islam. 81 1. Ontologi Konsep Humanisme Teosentris dalam Konteks Pendidikan Islam………. 81

2. Epistemologi Konsep Humanisme Teosentris dalam Konteks Pendidikan Islam……… 92

3. Aksiologi Konsep Humanisme Teosentris dalam Konteks Pendidikan Islam………... 120

B. Implementasi Humanisme Teosentris dalam Konteks Pendidikan Islam ... 125

1. Aspek Pendidik ... 125

2. Aspek Metode ... 129

3. Aspek Peserta Didik ... 132

4. Aspek Materi ... 139

(10)

x

5. Aspek Evaluasi ... 143

C. Kritik Terhadap Konsep Humanisme Teosentris ... 145

1. Pentingnya Pendidikan Sepanjang Hayat ... 145

2. Pentingnya Kualitas Emosi Manusia ... 148

3. Aspek Materi Kurang Rinci ... 153

BAB V PENUTUP ... 157

A. Kesimpulan ... 157

B. Saran ... 158

DAFTAR PUSTAKA ... 159

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perbandingan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ... 18 Tabel 4.1 Aspek Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dari Konsep

Humanisme Teosentris dalam Konteks Pendidikan Islam ... 123 Tabel 4.2 Implementasi Humanisme Teosentris dalam Konteks

Pendidikan Islam ... 145 Tabel 4.3 Kritik Terhadap Konsep Humanisme Teosentris ... 155

(12)

xii

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Translterasi kata kata Aran yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indoesia Nomor: 18/1987 dan 0543b/U/1987.

A. Konsonan

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan

Ba B Be

Ta T Te

Ṡa ṡ es (dengan titik di atas)

Jim J Je

Ḥa ḥ ha (dengan titik di bawah)

Kha Kh ka dan ha

Dal D De

Żal Ż Zet (dengan titik di atas)

Ra R Er

Zai Z Zet

Sin S Es

Syin Sy es dan ye

Ṣad ṣ es (dengan titik di bawah)

Ḍad ḍ de (dengan titik di bawah)

Ṭa ṭ te (dengan titik di bawah)

(13)

xiii

Ẓa ẓ zet (dengan titik di bawah)

`ain ` koma terbalik (di atas)

Gain G Ge

Fa F Ef

Qaf Q Ki

Kaf K Ka

Lam L El

Mim M Em

Nun N En

Wau W We

Ha H Ha

Hamzah „ Apostrof

Ya Y Ye

B. Vokal

Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

1. Vokal Tunggal

Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

Fathah A A

Kasrah I I

Dammah U U

(14)

xiv 2. Vokal Rangkap

Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf sebagai berikut:

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

Fathah dan ya ai a dan u

Fathah dan wau au a dan u

C. Maddah

Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda sebagai berikut:

Huruf Arab Nama Huruf

Latin

Nama

Fathah dan alif atau ya

ā a dan garis di atas

Kasrah dan ya ī i dan garis di atas Dammah dan wau ū u dan garis di atas

D. Ta’ Marbutah

Transliterasi untuk ta‟ marbutah ada dua, yaitu:

1. Ta‟ marbutah hidup

Ta‟ marbutah hidup atau yang mendapat harakat fathah, kasrah, dan dammah, transliterasinya adalah “t”.

2. Ta‟ marbutah mati

Ta‟ marbutah mati atau yang mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah “h”.

3. Kalau pada kata terakhir dengan ta‟ marbutah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta‟ marbutah itu ditransliterasikan dengan “h”.

(15)

xv Contoh:

- raudah al-atfāl/raudahtul atfāl

- al-madīnah al-munawwarah/al-madīnatul munawwarah

- talhah

E. Syaddah (Tasydid)

Syaddah atau tasydid yang dalam tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda, tanda syaddah atau tanda tasydid, ditransliterasikan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan huruf yang diberi tanda syaddah itu.

Contoh:

- nazzala

- al-birr

F. Kata Sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu لا, namun dalam transliterasi ini kata sandang itu dibedakan atas:

1. Kata sandang yang diikuti huruf syamsiyah

Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf “l” diganti dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu.

2. Kata sandang yang diikuti huruf qamariyah

Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyah ditransliterasikan dengan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya.

Baik diikuti oleh huruf syamsiyah maupun qamariyah, kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikuti dan dihubungkan dengan tanpa sempang.

Contoh:

- ar-rajulu

(16)

xvi

- al-qalamu

- asy-syamsu - al-jalālu G. Hamzah

Hamzah ditransliterasikan sebagai apostrof. Namun hal itu hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Sementara hamzah yang terletak di awal kata dilambangkan, karena dalam tulisan Arab berupa alif.

Contoh:

- ta‟khużu

- syai‟un

- an-nau‟u

- inna

H. Penulisan Kata

Pada dasarnya setiap kata, baik fail, isim maupun huruf ditulis terpisah.

Hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harkat yang dihilangkan, maka penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang mengikutinya.

Contoh:

- Wa innallāha lahuwa khair ar-rāziqīn/

Wa innallāha lahuwa khairurrāziqīn

- Bismillāhi majrehā wa mursāhā

(17)

xvii I. Huruf Kapital

Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam transliterasi ini huruf tersebut digunakan juga. Penggunaan huruf kapital seperti apa yang berlaku dalam EYD, di antaranya: huruf kapital digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri dan permulaan kalimat. Bilamana nama diri itu didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya.

Contoh:

- Alhamdu lillāhi rabbi al-`ālamīn/

Alhamdu lillāhi rabbil `ālamīn

- Ar-rahmānir rahīm/Ar-rahmān ar-rahīm

Penggunaan huruf awal kapital untuk Allah hanya berlaku bila dalam tulisan Arabnya memang lengkap demikian dan kalau penulisan itu disatukan dengan kata lain sehingga ada huruf atau harakat yang dihilangkan, huruf kapital tidak dipergunakan.

Contoh:

- Allaāhu gafūrun rahīm

- Lillāhi al-amru jamī`an/Lillāhil-amru jamī`an J. Tajwid

Bagi mereka yang menginginkan kefasihan dalam bacaan, pedoman transliterasi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Ilmu Tajwid.

Karena itu peresmian pedoman transliterasi ini perlu disertai dengan pedoman tajwid.

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penelitian ini membahas mengenai humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam. Humanisme sendiri pada Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan sebagai : aliran yang memiliki tujuan untuk menghidupkan rasa kemanusiaan dan bercita cita menciptakan pergaulan hidup yang lebih baik;

paham yang memiliki anggapan bahwa manusia adalah objek studi terpenting;

aliran zaman Renaissance yang menjadikan sastra klasik sebagai dasar seluruh peradaban manusia; kemanusiaan.1 Sehingga humanisme bisa diartikan sebagai salah satu paham dari aliran filsafat yang bertujuan untuk menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia, dan menjadikan manusia sebagai tolok ukur dari penilaian, kejadian, serta gejala gejala di bumi.

Adapun teosentris merupakan sebuah paham bahwa Tuhan adalah segala dari ada. Tiada ada kecuali Tuhan. Tuhan menjadi poros modus berfikir, dari tuhan dan untuk Tuhan.2 Sehingga, Tuhan menjadi penguasa mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa teosentris adalah menempatkan Tuhan sebagai tingkat tertinggi dalam segala hal karena Dia lah merupakan pusat dari alam semesta.

Saat humanisme dan teosentris dikolaborasikan menjadi satu maka akan menjadi suatu hal yang seimbang. Sebab humanisme pada dasarnya merupakan

1 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat (Jakarta:

Gramedia, 2008), 533.

2 Rohmani, Satu Anak Satu Kurikulum (Indramayu: CV. Adanu Abimata, 2022), 18.

(19)

cara berpikir yang berfokus dan bertujuan pada konsep peri kemanusiaan.3 Adapun teosentris berkebalikan dari humanisme. Penganut paham teosentris seringkali bersifat statis sebab terjebak dalam kepasrahan mutlak kepada Tuhan. Sikap kepasrahan tersebut membuatnya tidak punya pilihan sebab segala perbuatannya pada hakikatnya adalah aktivitas Tuhan.4 Oleh karena itu, humanisme dan teosentris perlu dihimpun menjadi satu untuk menyeimbangkan dan saling melengkapi serta saling memberi batas satu sama lain. Humanisme yang menjunjung tinggi aspek kemanusiaan dikolaborasikan dengan teosentris yang terlalu berpasrah kepada Tuhan hingga tidak menyadari adanya kuasa manusia terhadap dirinya sendiri, sehingga muncullah konsep humanisme teosentris. Humanisme teosentris merupakan sebuah ajaran yang menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan, namun tetap tidak melanggar batas ajaran ajaran Tuhan yang telah ditetapkan.

Humanisme teosentris sendiri telah terkandung di dalam ajaran Islam.

Sebab pada hakekatnya, ajaran Islam memang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan manusia, bukan untuk kebutuhan Tuhan. Sehingga Islam merupakan agama fitrah.5 Islam yang merupakan agama fitrah itu sesuai dengan firman Allah di dalam Al Qur‟an pada surat Ar Rum ayat 30, yakni:

ۗ ۗ ۗ

ۙ

ۙ

3 M. Hadi Purnomo, Pendidikan Islam: Integrasi Nilai Nilai Humanis, Liberasi, dan Transendensi (Yogyakarta: Absolute Media, 2016), 22.

4 Mubaedi Sulaeman, Teologi Islam (Malang: CV Prabu Dua Satu, 2020) ,75.

5 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), 11.

(20)

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam);

(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,6 Sesuai dengan makna pada surat Ar Rum ayat 30 tersebut, meskipun ajaran Islam diperuntukkan manusia bukan berarti manusia tidak butuh untuk mendekati Tuhan, malah sebaliknya. Manusia tetap butuh mendekati Tuhan karena harkat, martabat, serta kemuliaan manusia akan semakin tinggi apabila ia mampu mendekati Tuhan Yang Maha Tinggi. Termasuk melibatkan nilai nilai ketuhanan atau ilahiyah dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam aspek pendidikan, terutama pendidikan Islam.

Pendidikan dalam Islam sesungguhnya memiliki makna sentral yang berarti proses pencerdasan secara utuh dalam rangka mencapai kebahagian dunia dan akhirat atau keseimbangan antara materi dan religius-spiritual.

Demikian pendidikan diharapkan dapat menciptakan iklim pendidikan yang demokratis dan humanis.7

Akan tetapi, umat Islam saat ini memiliki kecenderungan untuk menekankan pada status quo atau kemapanan dan menolak perubahan perubahan yang dapat menimbulkan perbedaan. Sifat keberagaman menjadi begitu kaku. Ajaran halal dan haram, pahala dan dosa, surga dan neraka begitu mendominasi dan mengakibatkan segala hal terlihat hitam dan putih. Alhasil pendidikan Islam cenderung bersifat normatif, deduktif, dan tekstual hingga sisi kedemokratisan dan kehumanisan menjadi semakin tersingkirkan.

6 Al-Qur‟an dan Terjemahannya (Jakarta: PT. Insan Media Pustaka, 2013), 407.

7 Ida Nurjannah, “Paradigma Humanisme Religius Pendidikan Islam”, Jurnal Misykat 03, No 01 (Juni 2018): 157, https://media.neliti.com/media/publications/271155-paradigma- humanisme-religius-pendidikan-b1f28407.pdf

(21)

Pendidikan Islam memiliki kesan di mata publik sebagai sesuatu hal yang identik dengan kejumudan, kemandekan, dan kemunduran.8 Kesan tersebut didasarkan pada kenyataan mayoritas umat Islam hidup di negara negara dunia ketiga dalam keterbelakangan ekonomi dan pendidikan.9 Menurut Shofan yang dikutip oleh Fiska Ilyasir, kemandekan dan kejumudan tersebut merupakan imbas kemunduran di bidang politik dan budaya. Pada saat itu, umat Islam terperosok pada romantisme masa lalu. Mereka cenderung melihat kejayaan mereka pada abad pertengahan. Sehingga para sarjana Barat mengatakan bahwa romantisme masa lalu itu membuat para sarjana muslim tidak menganggapi tantangan baru yang nyata.10

Kondisi tersebut kemudian diperparah dengan cara berpikir yang serba dikotomis seperti Islam versus non Islam, Timur versus Barat, ilmu agama versus ilmu non agama dan bentuk bentuk dikotomi lainnya. Paradigma ini dipengaruhi bahwa sains dan teknologi sebagai lambang peradaban dewasa ini berkembang di dunia Barat yang notabene negara non muslim. Akibatnya, pemahaman penjajahan Barat atas Timur semakin menguat dan dominasinya telah menyisihkan umat Islam yang semakin terbelakang.11

Problematika tersebut membuat pendidikan Islam kurang seimbang dalam tanggung jawab hablun minallah dan hablun minannas. Hal ini tentu berimbas pula terhadap peserta didik. Potensi peserta didik belum

8 “Guru Perlu Kembangkan Pendidikan Islam Paradigma Humanisme”, Republika, April 03, 2009, https://www.republika.co.id/berita/41655/guru-perlu-kembangkan-pendidikan-islam- paradigma-humanisme

9 Purnomo, Pendidikan Islam, 28.

10 Fiska Ilyasir, “Pengembangan Pendidikan Islam Integratif di Indonesia”, Jurnal Literasi VIII, No 1 (2017):40, https://ejournal.almaata.ac.id/index.php/LITERASI/article/view/440

11 Purnomo, Pendidikan Islam, 29.

(22)

dikembangkan secara proporsional dan belum berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia pula. Kemandirian dan tanggung jawab peserta didik juga masih jauh dari capaian. Padahal peserta didik diharapkan menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak mulia, Pendidikan juga diharapkan dapat memberikan hasil yang dapat bertahan lama dan merupakan investasi jangka panjang untuk membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Agar dapat menghasilkan SDM yang berkualitas, baik material maupun spiritual diperlukan sistem pendidikan yang integral dan berorientasi pada aspek teo-antroposentris secara dinamis, dan berorientasi pada pengembangan seluruh potensi dan dimensi peserta didik secara proporsional.12 Hal tersebut senada dengan tujuan pendidikan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan nasional diselenggarakannya pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.13

Demikian humanisme teosentris ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam menyelesaikan problem atau masalah yang sedang dihadapi di dalam dunia pendidikan Islam. Adanya humanisme teosentris dapat menyeimbangkan kembali antara ilmu agama dan ilmu umum dengan tetap

12 Agus Retnanto, “Integrasi Keilmuan dalam Pendidikan Islam”, Jurnal Elementary 5,

No. 2 (Juli-Desember 2017): 234,

https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/elementary/article/download/2988/pdf

13 Sekretariat Negara RI, Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

(23)

memerhatikan tanggung jawab hablun minallah dan hablun minannas serta mengembalikan fitrah manusia sebagai „abdullah sekaligus khalifatullah.

Konsep humanisme teosentris ini perlu diterima dengan tangan terbuka sebab pemikiran tersebut pada intinya mengarah ke upaya untuk memajukan pendidikan. Pendidikan Islam yang baik adalah yang bersifat integratif serta berupaya memadukan dan mengharmoniskan kembali relasi antar tuhan-alam dan wahyu-akal.14

Terdapat beberapa penelitian penelitian terdahulu mengenai nilai nilai humanisme teosentrris. Seperti pada skripsi Yerri Satria Putra yang berjudul Humanisme Teosentris dalam Sastra Islam Minangkabau. Skripsi tersebut menelaah konsep humanisme teosentris pada nazam nazam minangkabau.

Sehingga penelitian ini merupakan penelitian terhadap karya sastra. Selain itu topik humanisme teosentris juga pernah ditelaah pada skripsi lain oleh Ibniyanto pada skripsinya yang berjudul Humanisme Teosentris sebagai Paradigma Ideologi Pendidikan Islam. Skripsi Ibniyanto tersebut melakukan penjabaran mengenai humanisme teosentris dalam Pendidikan Islam dengan menghadirkan konsep teosentrisme sebagai nilai inti sekaligus ghayatul hayat (tujuan hidup). Sehingga penelitian Ibniyanto tersebut terfokus pada kajian konseptual paradigma humanisme teosentris tersebut. Sarjana lainnya yang juga telah melakukan penelitian dengan topik yang cukup mirip dengan penelitian ini adalah M. Imam Syarifuddin dengan skripsinya yang berjudul Konsep Humanisme Religius dalam Pendidikan Islam. Skripsi tersebut

14 Ahmad Muthohar, “Konsep Pendidikan Islam Integratif”, Jurnal yang diseminarkan di acara Transformasi UIN, Maret 2021.

(24)

menelaah dan membahas bagaimana pemikiran Abdurrahman Mas‟ud mengenai humanisme religius dalam pendidikan Islam. Skripsi tersebut juga memiliki kemiripan dengan skripsi Ahmad Multazam dengan judul Pendidikan Islam Berbasis Humanisme Religius yang juga mengulas pemikiran Abdurrahman Mas‟ud dengan humanisme religiusnya. Terakhir, ada Ikhwan Fanani dengan skripsinya yang berjudul Pendidikan Humanis dalam Perspektif Ibnu Khaldun dan Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam.

Berbeda dengan penelitian terahulu tersebut, penulis pada penelitian ini lebih fokus pada analisa secara filosofis kajian humanisme teosentris. Analisa secara filosofis dilakukan untuk bertujuan mendalami secara kritis dan radikal mengenai humanisme teosentris pada pendidikan Islam dengan landasan epistemologis, ontologis, dan aksiologis. Selain itu, penelitian ini memiliki titik fokus yang tidak hanya sekadar membahas konsep humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam saja, namun mengambil point of view bagaimana implementasi humanisme teosentris, seperti pada aspek metode, pendidik, peserta didik, evaluasi, dan sebagainya.

Oleh karena itu pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua referensi acuan yaitu pemikiran humanisme teosentris oleh Achmadi dalam bukunya yang berjudul Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris serta pemikiran humanisme religius oleh Abdurrahman Mas‟ud dalam bukunya yang berjudul Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam.

(25)

Berdasarkan dari pemikiran tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengadakan sebuah penelitian kualitatif berbasis library research dengan menggunakan pendekatan filosofis untuk melihat, mengamati, mendeskripsikan, serta menganalisis lebih jauh mengenai humanisme teosentris dalam konteks Pendidikan Islam.

B. Fokus Kajian

Perumusan masalah pada penelitian pustaka disebut dengan istilah fokus kajian. Pada bagian tersebut merupakan pengembangan dari uraian latar belakang masalah yang mencantumkan semua masalah yang akan ditelaah memang belum terjawab atau belum dipecahkan secara memuaskan.15

Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah dipaparkan di atas, maka fokus kajian yang akan dibahas dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.

1. Bagaimana konsep humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam?

2. Bagaimana implementasi humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam?

3. Bagaimana kritik terhadap konsep humanisme teosentris.

15 Zainal Abidin, dkk., Pedoman Karya Tulis Ilmiah UIN Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember (Jember: UIN Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember, 2021), 50.

(26)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.16 Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis konsep humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam.

2. Untuk menganalisis implementasi humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam.

3. Untuk memaparkan kritik terhadap konsep humanisme teosentris.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Manfaat penelitian terdiri atas manfaat teoritis dan praktis, seperti manfaat bagi peneliti, instansi dan masyarakat secara keseluruhan. Manfaat penelitian harus realistis.17 Terdapat beberapa manfaat yang didapat dari penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

1. Secara teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumbangan khazanah ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan Islam, lebih khusus lagi pada topik humanisme teosentris yang dilihat dari sudut pandang Pendidikan Islam.

16 Abidin, dkk., Pedoman Karya Tulis Ilmiah UIN Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember, 51.

17 Abidin,dkk., Pedoman Karya Tulis Ilmiah UIN Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember, 51.

(27)

2. Secara praktis

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi:

a. Peneliti

1) Penelitian ini memberikan pengalaman tersendiri bagi peneliti dalam penulisan karya ilmiah baik secara teori maupun secara praktek.

2) Penelitian ini memperkaya wawasan pengetahuan peneliti mengenai humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam.

b. Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember Hasil penelitian bagi UIN Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember berguna sebagai bahan informasi dan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan terutama yang bersangkutan dengan humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam.

c. Masyarakat

Penelitian ini diharapkan daat dijadikan informasi dan dapat menambah wawasan serta kesadaran masyarakat mengenai humanisme teosentris dalam konteks pendidikan Islam.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak

(28)

terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.18

1. Humanisme Teosentris

Definisi humanisme teoentris yang dimaksud oleh peneliti dalam penelitian ini adalah suatu konsep yang menjunjung kemanusian, menghormati harkat dan martabat manusia, dan bertujuan untuk mencapai tingkat kemuliaan yang tinggi dengan diiringi dengan nilai nilai ilahiah.

2. Pendidikan Islam

Definisi pendidikan Islam yang dimaksud oleh peneliti dalam penelitian ini adalah sebuah sistem pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan bakat seorang peserta didik agar ia dapat menjadi manusia yang mulia sesuai dengan ajaran dalam Islam.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup. Berikut ini akan dipaparkan penjelasan dari bab satu hingga bab terakhir, yakni sebagai berikut:

Bab Satu berisi latar belakang masalah, fokus kajian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi instilah, serta sistematika pembahasan. Fungsi bab ini untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai pembahasan dalam skripsi.

Bab Dua berisi kajian pustaka, pada bab ini akan dipaparkan terkait kajian terdahulu serta literatur yang berhubungan dengan judul skripsi.

18 Abidin, dkk., Pedoman Karya Tulis Ilmiah UIN Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember, 52.

(29)

Penelitian terdahulu ini mencamtumkan penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya, kemudian dilanjutkan dengan kajian teori yang memuat tentang humanismte teosentris dalam konteks pendidikan Islam.

Bab Tiga berisi metode penelitian, pada bab ini memuat metode yang digunakan. Fungsi bab ini adalah untuk acuan atau pedoman dalam penelitian, berupa langkah langkah yang harus diikuti untuk menjawab pertanyaan dalam fokus kajian.

Bab Empat berisi pembahasan yang merupakan jawaban dari pertanyaan pertanyaan yang berada pada fokus kajian.

Bab Lima berisi kesimpulan, bab ini merupakan bab terakhir yang memaparkan tentang kesimpulan dan penelitian yang dilengkapi dengan saran saran dari penulis dan diakhiri dengan penutup.

(30)

13 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Peneliti pada bagian ini mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah terpublikasikan atau belum terpublikasikan (skripsi, tesis, disertasi, artikel yang dimuat pada jurnal ilmiah, dan sebagainya). Dengan melakukan langkah ini, akan dapat dilihat sampai sejauh mana orisinalitas dan posisi penelitian yang hendak dilakukan.19

Sepanjang pengetahuan peneliti sudah ada beberapa individu yang melakukan kajian mengenai humanisme teosentris. Adapun literatur tersebut berupa skripsi skripsi yang dapat dijumpai di jejaringan pencarian.

Skripsi pertama yang dimaksud adalah skripsi milik M. Imam Syarifuddin, mahasiswa Fakultas Tarbiyah angkatan tahun 2008, dengan judul Konsep Humanisme Religius dalam Pendidikan Islam (Telaah atas Pemikiran Abdurrahman Mas‟ud dalam Buku Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik). Penelitian Syarifuddin tersebut bertujuan untuk mendeskripsikan konsep humanisme religious dalam pendidikan islam menurut Abdurrahman Mas‟ud yang terdapat dalam buku karangan Mas‟ud.

Syarifuddin dari penelitiannya ini menarik kesimpulan bahwa konsep humanisme religius pada aplikasi dan implikasi menawarkan empat

19 Abidin, dkk., Pedoman Karya Tulis Ilmiah UIN Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember, 46.

(31)

komponen inti yaitu aspek guru, aspek siswa, aspek materi, dan aspek evaluasi. Dari keempat aspek tersebut diharapkan ada komunikasi dan interaksi yang saling melengkapi.

Persamaan penelitian yang telah dilakukan oleh Syarifuddin dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah persamaan jenis penelitiannya yaitu library research, pendekatan penelitiannya yang digunakan yaitu pendekatan filosofis dan penggunaan data primer yang sama, serta jenis analisis data yang menggunakan analisis konten. Meskipun memiliki beberapa kesamaan, tetap ada perbedaan antara penelitian Syarifuddin dengan penelitian ini yaitu Syarifuddin menggunakan istilah humanisme religius, sedangkan peneliti menggunakan istilah humanisme teosentris. Meskipun begitu dari segi konten humanisme religius dan humanisme teosentris memang tidaklah berbeda jauh. Perbedaan lainnya adalah penelitian ini menggunakan dua data primer yakni buku karya Achmadi yang berjudul Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris dan buku karya Abdurrahman Mas‟ud dalam bukunya yang berjudul Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam.20

Skripsi lainnya yakni skripsi Ibniyanto yang berjudul Humanisme Teosentris sebagai Paradigma Ideologi Pendidikan Islam yang telah selesai pada tahun 2011. Penelitian yang dilakukan oleh Ibniyanto ini merupakan penelitian library research yang terfokus pada kajian mengenai humanisme

20 M. Imam Syarifuddin, “Konsep Humanisme Religius dalam Pendidikan Islam (Telaah atas Pemikiran Abdurrahman Mas‟ud dalam Buku Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik)” (Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, 2008), vii.

(32)

teosentris sebagai paradigma ideologi Pendidikan Islam. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa humanisme teosentris hadir sebagai pemikian alternatif paradigmatik dalam pergumulan ideologi ideologi pendidikan kontemporer, dengan menghadirkan konsep teosentrisme (tauhidi) sebagai core value, sekaligus ghayatul hayat (tujuan hidup).

Adapun persamaan penelitian yang dilakukan oleh Ibniyanto dengan penelitian ini adalah persamaan pembahasannya yaitu mengenai humanisme teosentris serta jenis penelitiannya yaitu penelitian pustaka. Sedangkan perbedaan penelitiannya terdapat pada metode analisis data dan fokus penelitiannya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Ibniyanto, metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan fokus penelitiannya adalah mengenai bagaimana paradigma humanisme teosentris sebagai ideologi pendidikan Islam. Sedangkan penelitian ini menggunakan metode analisis konten dengan pendekatan filosofis yang dikaji dari segi ontologi, epistemlogi, dan aksiologi serta fokus penelitiannya adalah konsep dan implementasi humanisme teosentris dalam konteks Pendidikan Islam dari segi kurikulumnya serta kritik mengenai humanisme teosentris.21

Peneliti selanjutnya adalah Yerri Satria Putra, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya angkatan tahun 2015 dengan judul skripsi Humanisme Teosentris dalam Sastra islam Minangkabau: Kajian atas Nazam Nazam Minangkabau. Penelitian Putra ini merupakan kajian terhadap pandangan humanisme teosentris yang terdapat dalam nazam-nazam Minangkabau

21 Ibniyanto, “Humanisme Teosentris sebagai Paradigma Ideologi Pendidikan Islam”

(Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, 2011), viii.

(33)

dengan menggunakan teknik analisa hermeneutika Georg Gadamer. Nazam sendiri merupakan salah satu jenis puisi yang sarat dengan muatan nilai humanisme teosentris. Sehingga pada penelitiannya itu, Putra menemukan bahwa nilai nilai humanisme teosentris terutama humanisme dalam Islam adalah sebuah gerakan pembinaan dan pengajaran nilai-nilai akhlak. Terdapat tiga unsur akhlak yang diajarkan dalam humanisme teosentris atau humanisme Islam, yakni pertama, akhlak terhadap Allah SWT., kedua, akhlak terhadap diri sendiri, serta ketiga, akhlak terhadap orang lain dan lingkunan sosialnya.

Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Putra dengan penelitian ini adalah memiliki pembahasan yang sama yakni humanisme teosentris dan juga merupakan penelitian pustaka. Sedangkan perbedaannya terdapat pada variabel penelitiannya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Putra, variabel penelitiannya adalah humanisme teosentris dan Sastra Islam Minangkabau.

Sedangkan variabel penelitian ini adalah humanisme teosentris dan pendidikan Islam.22

Skripsi lainnya adalah skripsi Ahmad Multazam yang telah diselesaikan pada tahun 2015 dengan judul Pendidikan Islam Berbasis Humanisme Religius (Studi Pemikiran Abdurrahman Mas‟ud). Penelitian Multazam tersebut merupakan penelitian pustaka yang mengkaji mengenai pendidikan Islam dalam basis humanisme religius menurut Abdurrahman Mas‟ud. Hasil pada penelitian Multazam menunjukkan bahwa implementasi

22 Yerri Satria Putra, “Humanisme Teosentris dalam Sastra islam Minangkabau: Kajian atas Nazam Nazam Minangkabau” (Skripsi, Universitas Gajah Mada, 2015), vii.

(34)

humanisme religius pada Pendidikan islam menekankan pada aspek akal sehat, individualisme menuju kemandirian, semangat mencari ilmu, pendidikan pluralisme, serta lebih menekankan fungsi daripada simbol dan sebagainya.

Persamaan penelitian Multazam dengan penelitian ini adalah persamaan pada jenis penelitiannya yakni penelitian pustaka dengan data primer yang sama dengan salah satu data primer pada penelitian ini yakni buku karya Abdurrahman Mas‟ud dalam bukunya yang berjudul Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam. Kemudian, perbedaan penelitian Multazam dengan penelitian ini adalah bahwa penelitian Multazam berfokus mengkaji pemikiran Abdurrahman Mas‟ud mengenai konsep humanisme religius apabila diterapkan pada pendidikan Islam, sedangkan penelitian ini mengkaji konsep humanisme teosentris dalam pendidikan Islam dengan dua buku sebagai data primer yakni Abdurrahman Mas‟ud dan Achmadi.23

Peneliti terakhir lainnya adalah Ikhwan Fanani, mahasiswa Fakultas Tarbiyah angkatan tahun 2018 dengan judul skripsinya Pendidikan Humanis dalam Perspektif Ibnu Khaldun dan Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam. Penelitian Fanani tersebut merupakan sebuah penelitian pustaka mengenai pendidikan humanis menurut Ibnu Khaldun dan Ki Hajar Dewantara beserta relevansinya dengan tujuan pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam

23 Ahmad Multazam, “Pendidikan Islam Berbasis Humanisme Religius (Studi Pemikiran Abdurrahman Mas‟ud)” (Skripsi, UIN Walisongo, 2015), vi.

(35)

mengenai pendidikan humanis menurut Ibnu Khaldun dan Ki Hajar Dewantara serta perbedaan dan persamaan dari pemikiran dua tokoh tersebut yang kemudian dikaji relevansi antara pemikiran kedua tokoh tersebut dengan tujuan pendidikan Islam.

Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Fanani dengan penelitian ini adalah pendekatan penelitian yakni penelitian pustaka serta persamaan pembahasannya yakni humanisme. Adapun untuk perbedaannya terletak pada fokus kajiannya. Penelitian yang dilakukan Fanani fokus mengkaji konsep pendidikan humanis oleh Ibnu Khaldun dan Ki Hajar Dewantara beserta relevansinya dengan tujuan pendidikan Islam, sedangkan penelitian ini mengkaji mengenai huamanisme teosentris pada pendidikan Islam dengan berdasarkan pada buku karya Achmadi yang berjudul Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris dan buku karya Abdurrahman Mas‟ud dalam bukunya yang berjudul Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam.24

Tabel 2.1

Tabel perbandingan penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti No Nama Peneliti dan

Judul Peneltian

Fokus Penelitian

Persamaan Perbedaan

1. M. Imam

Syarifuddin. 2008.

Konsep Humanisme Religius dalam Pendidikan Islam.

Konsep Humanisme Religius dalam pendidikan Islam menurut Abdurrahman Mas‟ud yang

Persamaan ada pada jenis penelitiannya yaitu library research,

pendekatan penelitiannya

Perbedaan dengan

penelitian ini terletak pada penggunaan istilah yang digunakan. M.

24 Ikhwan Fanani, “Pendidikan Humanis dalam Perspektif Ibnu Khaldun dan Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam” (Skripsi, IAIN Ponorogo, 2018), 2.

(36)

No Nama Peneliti dan Judul Peneltian

Fokus Penelitian

Persamaan Perbedaan terdapat dalam

buku menggagas format

pendidikan nodikotomik.

yaitu pendekatan filosofis dan penggunaan data primer yang sama, serta jenis analisis data yang

menggunakan analisis konten.

Imam Syarifuddin menggunakan istilah

humanisme religius, sedangkan penulis pada penelitian ini menggunakan istilah

humanisme teosentris.

Perbedaan lainnya adalah penelitian ini menggunakan dua data primer yakni buku karya Achmadi yang berjudul Ideologi

Pendidikan Islam:

Paradigma Humanisme Teosentris dan buku karya Abdurrahman Mas‟ud dalam bukunya yang berjudul

Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik:

Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam.

2. Ibniyanto. 2011.

Humanisme

Teosentris sebagai

Kajian mengenai humanisme

Persamaan pada pembahasannya yaitu mengenai

Pada penelitian yang dilakukan oleh Ibniyanto,

(37)

No Nama Peneliti dan Judul Peneltian

Fokus Penelitian

Persamaan Perbedaan Paradigma Ideologi

Pendidikan Islam.

teosentris sebagai paradigma ideologi pendidikan Islam.

humanisme teosentris serta jenis

penelitiannya yaitu library research.

metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan fokus

penelitiannya adalah mengenai bagaimana paradigma humanisme teosentris sebagai ideologi pendidikan Islam.

Sedangkan penelitian ini menggunakan metode analisis konten dengan pendekatan filosofis dan fokus

penelitiannya adalah konsep dan

implementasi humanisme teosentris dalam konteks

pendidikan Islam pada aspek pendidik, metode, peserta didik, materi dan evaluasi, serta kritik mengenai humanisme teosentris.

3. Yerri Satria Putra.

2015. Humanisme

Kajian terhadap pandangan

Persamaan penelitian ini

Pada penelitian yang dilakukan

(38)

No Nama Peneliti dan Judul Peneltian

Fokus Penelitian

Persamaan Perbedaan Teosentris dalam

Sastra islam Minangkabau:

Kajian atas Nazam Nazam

Minangkabau.

humanisme teosentris yang ada di dalam nazam-nazam Minangkabau.

adalah memiliki pembahasan yang sama yakni humanisme teosentris dan juga sama sama penelitian

pustaka.

Yerri Satria Putra, variabel penelitiannya adalah humanisme teosentris dan Sastra Islam Minangkabau.

Sedangkan variabel

penelitian ini adalah

humanisme teosentris dan pendidikan Islam.

4. Ahmad Multazam.

2015. Pendidikan Islam Berbasis Humanisme Religius (Studi Pemikiran Abdurrahman

Mas‟ud).

Penelitian Ahmad

Multazam ini merupakan penelitian

pustaka yang mengkaji

mengenai konsep humanisme religius oleh Abdurrahman Mas‟ud pada Pendidikan Islam

Persamaan penelitian Ahmad Multazam dengan

penelitian ini adalah

persamaan pada jenis

penelitiannya yakni penelitian pustaka dengan data primer yang sama dengan salah satu data primer pada penelitian ini yakni buku karya

Abdurrahman Mas‟ud yang berjudul

Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik:

Humanisme Religius sebagai

Perbedaan penelitian Ahmad Multazam dengan

penelitian ini adalah bahwa penelitian

Ahmad Multazam berfokus mengkaji pemikiran Abdurrahman Mas‟ud mengenai konsep humanisme religius apabila diterapkan pada pendidikan Islam, sedangkan penelitian ini mengkaji

konsep humanisme teosentris dalam

(39)

No Nama Peneliti dan Judul Peneltian

Fokus Penelitian

Persamaan Perbedaan Paradigma

Pendidikan Islam.

Pendidikan Islam dengan menggunakan

dua buku

sebagai data primer yakni buku karya Abdurrahman Mas‟ud dan Achmadi.

5. Ikhwan Fanani.

2018. Pendidikan Humanis dalam Perspektif Ibnu Khaldun dan Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam.

Penelitian Ikhwan Fanani merupakan sebuah penelitian pustaka mengenai pendidikan humanis

menurut Ibnu Khaldun dan Ki Hajar

Dewantara beserta relevansinya dengan tujuan pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam mengenai

pendidikan humanis

menurut Ibnu Khaldun dan Ki Hajar

Dewantara serta perbedaan dan

Persamaan penelitian yang dilakukan

Ikhwan Fanani dengan

penelitian ini adalah

pendekatan penelitian yakni penelitian

pustaka serta persamaan pembahasannya yakni

humanisme.

Perbedaan penelitian yang dilakukan

Ikhwan Fanani dengan

penelitian ini adalah

penelitian

Ikhwan Fanani fokus mengkaji konsep

pendidikan humanis oleh Ibnu Khaldun dan Ki Hajar Dewantara beserta relevansinya dengan tujuan pendidikan Islam, maka penelitian ini mengkaji

mengenai huamnisme teosentris pada pendidikan Islam.

(40)

No Nama Peneliti dan Judul Peneltian

Fokus Penelitian

Persamaan Perbedaan persamaan dari

pemikiran dua tokoh tersebut.

Kemudian juga mengkaji

relevansi

pemikiran kedua tokoh tersebut dengan tujuan pendidikan Islam.

Berdasarkan tabel tersebut, maka posisi penelitian ini, merupakan penelitian yang sifatnya memperluas dan memperdalam kajian humanisme teosentris, khususnya dari sudut pandang pendidikan Islam.

B. Kajian Teori

1. Humanisme Teosentris

Humanisme teosentris dapat dipahami dan didasarkan pada dua kata yakni humanisme dan teosentris, sebab sesungguhnya humanisme teosentris merupakan perpaduan antara humanisme dan teosentris.

Sehingga menjadi humanisme yang teosentris atau teosentris yang humanisme. Oleh karena itu, humanisme teosentris berbeda dengan humanisme yang sekuler dan berbeda pula dengan teosentris biasanya.

Pengertian humanisme secara etimologis memiliki kaitan yang erat dengan kata Latin klasik, humus, yang berarti tanah atau bumi.

Berdasarkan istilah tersebut kemudian muncul kata homo yang berarti manusia (makhluk bumi) dan humanus yang lebih menunjukkan sifat

„membumi‟ dan „manusiawi‟. Sehingga terdapat tiga istilah penting untuk

(41)

menyingkap makna kata humanisme tersebut, yang maknanya saling terkait, yakni humanismus, humanista, dan humanitaris.

Istilah humanismus diciptakan pada 1908 oleh ahli pendidikan yang berasal dari Jerman yakni F.J. Niethammer untuk menunjukkan tekanan pengajaran yang diberikan pada karya karya klasik berbahasa Yunani dan Latin di sekolah sekolah menengah sebagai lawan dari tuntutan pendidikan pada masa itu yang pengajarannya lebih berorientasi pada ilmu pengetahuan dan sains yang bersifat praktis. Istilah humanismus ini diturunkan dari istilah humanista (humanist), yang muncul pada saat puncak kejayaan Renaisans untuk menunjukkan pada kelompok yang menyebut diri mereka sebagai umanisti (para penerjemah, guru guru, serta para professor humanisme di universitas universitas Italia). Istilah humanista diturunkan dari istilah studia humanitatis, yang untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Aulus Gellius. Menurut Gellius istilah studia humanitattis menunjuk pada gerakan paidea (seni mendidik) dalam budaya Yunani klasik. 25

Humanisme muncul sebagai gerakan reaksioner akibat dari belenggu kekuasaan lembaga lembaga agama di Eropa pada Abad Pertengahan. Pada masa itu, kebebasan manusia beserta daya rasionalitasnya berada dalam situasi gelap sehingga disebut dengan abad kegelapan. Abad kegelapan tersebut tergambar dengan kematian daya nalar manusia yang ditandai dengan munculnya pemisah yang pasti antara

25 Ashadi, Humanisme dalam Sorotan (Jakarta: Arsitektur UMJ Press, 2021), 27-28.

(42)

ranah agama-spiritualitas dan ranah duniawi. Agamawan memiliki otoritas absolut hingga menghambat perkembangan penemuan penemuan para ilmuwan, bahkan teori teori yang berseberangan dengan dogma agama akan dianggap sesat. Gambaran kehidupan keagamaan yang seperti itu kemudian mendorong para pemikir intelektual untuk bersikap kritis.

Kajian kritis tersebut berakhir dengan menilik kembali nilai nilai luhur kebudayaan Yunani-Romawi kuno sebagai zaman ketika kebebasan manusia dan rasionalitas mendapatkan tempat yang terhormat.26

Hardiman pun juga menjelaskan bahwa humanisme dimulai dari zaman antik yakni bangsa Yunani kuno yang mengolah bakat bakat kodrati manusia dengan sistem pendidikannya yakni paidea serta bangsa Romawi kuno yang dipandang sebagai peletak dasar humanisme universal oleh karena gagasannya tentang manusia sebagai animal rationale. Akan tetapi humanisme kritis baru dimulai abad ke-14 sampai abad ke-16 pada zaman Renaisans dan memuncak pada abad ke-18 pada humanisme Pencerahan Eropa.27 Berdasarkan hal inilah konsep humanisme dibangun.

Sedangkan kata teosentris berasal dari bahasa Yunani yaitu theos berarti Tuhan, serta bahasa Inggris yaitu center berarti pusat. Sehingga dapat dipahami bahwa teosentris mengacu pada sistem keyakinan bahwa nilai terkait ketuhanan secara moralitas dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan sistem lainnya. Teosentris adalah sebuah pandangan dimana

26 Sumasno Hadi, “Konsep Humanisme Yunani Kuno dan Perkembangannya dalam Sejarah Pemikiran Filsafat”, Jurnal Filsafat 22, No 2 (Agustus 2012) : 107-108, https://jurnal.ugm.ac.id/wisdom/article/view/129

27 F. Budi Hardiman, Humanisme dan Sesudahnya (Jakarta: KPG, 2012), 8.

(43)

segala proses kehidupan di muka bumi ini akan kembali pada Tuhan.28 Atau dengan kata lain yang dimaksud dengan teosentris merupakan sebuah karakteristik yang memusatkan segala hal pada Tuhan.29

Demikian yang dimaksud dengan humanisme teosentris merupakan konsep yang bertujuan meningkatkan dimensi dan potensi manusia yang positif sesuai dengan petunjuk ilahi dan sesuai dengan fitrah manusia.30 Humanisme Islam sebagai humanisme teosentris tentu bersumber dari ajaran Islam. Humanisme teosentris merupakan sebuah upaya untuk menyatukan nilai nilai agama dan kemanusiaan.31 Sehingga humanisme teosentris sangat mengedepankan sisi kemanusiaan dan sisi ketuhanan. Sisi kemanusiaan berfungsi untuk memanusiakan manusia dan sisi ketuhanan berfungsi untuk menjaga pengabdian manusia kepada Tuhan.

Humanisme teosentris ini bertolak dari tujuh prinsip dasar kemanusiaan, yakni sebagai berikut:

a. Manusia sebagai makhluk mulia yang asli dan mempunyai substansi mandiri.

b. Manusia adalah memiliki free will.

28 Nurul Hikmah, Perkembangan dan Stimulan Anak Usia Dini Berbasis Fitrah (Tangerang Selatan: Bait Qur‟any Multimedia, 2022), 91.

29 Jaja Jamaludin, Dinamika Pendidikan: Gagasan dan Solusi Masalah (Magelang: Tidar Media, 2020), 22.

30 Muhammad Abdul Halim Sani, Manifesto Gerakan Intelektual Politik (Bantul:

Samudra Biru, 2011), 49.

31 Ahmad Yusuf, Pesantren Multikultural Model Pendidikan Karakter Humanis-Religius di Pesantren Ngalah Pasuruan (Depok: Rajawali Press, 2020), 35.

(44)

c. Manusia adalah makhluk yang bisa berpikir dan sadar atas apa yang diperbuatnya.

d. Manusia adalah makhluk yang sadar akan kemampuannya dalam mendapatkan pengetahuan dan membangun peradaban.

e. Manusia merupakan makhluk yang kreatif

f. Manusia sebagai makhluk yang memiliki cita cita dan mengharapkan sesuatu yang ideal

g. Manusia adalah makhluk moral.32

Adapun dalam konteks pendidikan Islam, humanisme merupakan proses pendidikan yang lebih memperhatikan aspek potensi manusia yang telah diberikan oleh Allah Swt. untuk mengembangkan potensi dalam diri.33 Konsep humanisme tersebut didasarkan pada pandangan bahwa manusia merupakan satu satunya makhluk ciptaan Allah Swt. yang mendapatkan Ruh Ilahi (jiwa Tuhan). Ruh Ilahi-lah yang menyebabkan manusia memiliki akal dan membedakannya dari makhluk lain. Ruh Ilahiah yang menyatu dengan jasad manusia kemudian membentuk kesatuan hingga dinyatakan sebagai puncak segala makhluk Allah Swt.

yang disebut sebut sebagai sebaik baiknya ciptaan.34 Selain itu, penguatan aspek humanisme dalam Islam berangkat dari konsep fitrah yang merupakan aspek paling mendasar yang menjadi landasan dalam pendidikan Islam. Hal tersebut muncul dari asumsi bahwa Islam memiliki

32 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2010), 305.

33 R. Kholisol Mukhlis “Humanisasi Pendidikan di Era 4.0,” in proceeding of the The First International Conference on Islamic Thought (Pamekasan: IAIN Al Khairat, 2020), 189.

34 Yusuf, Pesantren Multikultural, 37.

(45)

konsep ketauhidan yang menjadi bagian nilai inti dalam kehidupan umat Islam. Lebih lanjut lagi, Islam juga memiliki kosep rahmatan lil „alamin yang menjadi parameter hubungan antar manusia. Segala aturan dan ajaran ajaran Islam tidak terlepas dari kemaslahatan manusia,35 pada hal ini termasuk pula dalam bidang pendidikan.

Pendidikan yang humanis berorientasi pada pengembangan manusia, menekankan norma norma kemanusiaan, dan nilai budaya dalam pendidikan. Target pendidikan humanis yaitu menghasilkan sesosok manusia yang ideal berjiwa demokratis, bertanggung jawab, kreatif, inovatif, objektif, tapi di sisi lain fleksibel terhadap perubahan dan pembaharuan serta dapat mengatur waktu dengan baik.36

Setidaknya ada dua akar utama orientasi pendidikan yang sudah berkembang sejak abad pertengahan sampai sekarang. Pertama, orientasi mencari kebenaran. Pendidikan dilakukan untuk mencari kebenaran sesungguhnya. Kedua, orientasi pengabdian masyarakat, pendidikan ditempatkan sebagai jalan untuk menyejahterahkan masyarakat.

Pengabdian kepada masyarakat juga bisa berarti pendidikan dilakukan untuk kepentingan manusia.37 Sebab problematika yang dihadapi oleh masyarakat masih sama dan terus berkembang. Hal ini bisa dilihat dari sifat masyarakat yang masih memiliki sifat sifat seperti mentalitas yang

35 Fathor Rohman, Modernisasi Manajemen Pendidikan Islam (Yogyakarta: IRCiSoD, 2021), 201.

36 Moh, Muslih, dkk, Pendidikan Humanis: Penilaian Pendidikan di Sekolah (Pekalongan: PT. Nasya Espanding Management, 2022), 143.

37 Saifullah Idris dan Tabrani ZA, Realitas Konsep Pendidikan Humanisme dalam Konteks Pendidikan Islam”, Jurnal Edukasi 3, no 1 (2017): 96-113, https://jurnal.ar- raniry.ac.id/index.php/cobaBK/article/view/1420/1038

(46)

meremehkan mutu, tidak percaya diri, suka menerabas, tidak berdisiplin, dan suka mengabaikan tanggung jawab. Tegasnya masyarakat masih terpolusi dengan berbagai macam penyakit.38 Inilah yang menjadi visi dasar humanisme dalam pendidikan, utamanya pendidikan Islam.

Pengembangan humanisme teosentris dalam pendidikan Islam didasarkan atas kepentingan dari beberapa hal sebagai berikut:

a. Pada proses pembelajaran pendidikan Islam, aspirasi dan kebutuhan kurang terakomodasi.

b. Pendidikan Islam tidak kontekstual dengan kebutuhan dan permasalahan kehidupan yang terus berkembang. Sehingga pendidikan Islam menjadi terkesan sangat normatif dan tidak menarik.39

c. Pendidikan Islam seringkali dikesankan sebagai pendidikan yang tradisional dan konservatif, hal ini wajar karena orang memandang bahwa kegiatan pendidikan Islam dihinggapi oleh lemahnya penggunaan metodologi pembelajaran yang cenderung tidak menarik perhatian dan memberdayakan.

d. Pendidikan Islam terasa kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi suatu “makna dan nilai” yang perlu di internalisasikan dalam diri seseorang lewat berbagai cara, media dan forum.

38 Abdurrahman Mas‟ud,”Etika Profesional dan Ruh Agama di Awal Millenium”, Jurnal

Dialog 32, No. 67 (Juli 2009):73,

https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/128

39 Tobroni, Memeperbincangkan Pemikiran Pendidikan Islam: Dari Idealisme Substantif

Hingga Konsep Aktual (Jakarta: Prenadamedia, 2018), 252.

(47)

e. Metodologi pengajaran agama berjalan secara konvensional tradisional, yakni menitikberatkan pada aspek korespondensi tekstual yang lebih menekankan yang sudah ada pada kemampuan anak didik untuk menghafal teks-teks keagamaan daripada isu-isu sosial keagamaan yang dihadapi pada era modern seperti kriminalitas, kesenjangan sosial dan lain lain.

f. Pengajaran agama yang bersandar pada bentuk metodologi yang bersifat statis indoktrinatif-doktriner.40

Humanisme teosentris juga bertujuan untuk memberantas simtom dikotomik yang menyerang pendidikan Islam, terutama di Indonesia.

Penderitaan umat Islam di Indonesia juga disebabkan oleh berkembangnya pola pikir dikotomik tersebut. Istilah santri versus non-santri, modernis versus tradisionalis di Indonesia sudah demikian menguat. Sampai pada tahun 80-an masih terasa kesan bahwa santri adalah orang yang mendalami ilmu agama, sedangkan mereka yang belajar ilmu ilmu “sekuler” adalah mereka yang notabene non-santri. Bahkan dalam masyarakat tertentu dikotomi tersebut masih tajam.41

Oleh sebab itu, pendidikan Islam membutuhkan paradigma baru.

Paradigma baru yang dimaksud di sini adalah pemikiran yang terus menerus harus dikembangkan melalui pendidikan untuk mendapatkan kembali masa kejayaan di masa lalu. Paradigma baru pendidikan Islam ini

40 Moh. Wardi, “Problematika Pendidikan Islam dan Solusi Alternatifnya”, Jurnal Tadris

8, No 1 (Juni 2013) : 59-60, https://core.ac.uk/download/229880897.pdf

41 Abdurrahman Mas‟ud, Paradigma Islam Rahmatan Lil „Alamin (Yogyakarta:IRcISoD, 2021), 236.

(48)

berdasar pada filsafat teosentris dan antroposentris sekaligus. Prinsip prinsip lain yang perlu ditekankan dalam reformasi pendidikan Islam tersebut adalah tidak ada dikotomi antara ilmu dan agama, ilmu tidak bebas nilai tetapi bebas dinilai, mengajarkan agama dengan bahasa ilmu pengetahuan, dan tidak hanya mengajarkan sisi tradisional, tetapi juga sisi rasional. Selain itu bisa ditambahkan lagi dengan penggunaan indera dan akal hanya pada wilayah jelajahnya, wahyu memberikan bimbingan pada akal dan mewarnai pendidikan dengan nilai nilai spiritual.42 Hal tersebut sesuai dengan humanisme teosentris.

Adanya humanisme teosentris dalam pendidikan Islam dapat membawa proses pembelajaran pendidikan Islam lebih baik dengan aspirasi dan kebutuhan terpenuhi. Adanya humanisme teosentris ini mewujudkan ajaran agama dengan membawa nilai nilai spiritual, cinta kasih, kebenaran, dan keadilan ke dalam diri manusia. Nilai nilai tersebut bertujuan untuk dipahami dan dikembangkan oleh manusia untuk mendapatkan kehidupan yang baik dalam dirinya dan masyarakatnya. Oleh sebab itu yang dikedepankan di sini adalah manfaat spiritual dalam kehidupan manusia, bukan tentang kesucian agama.43

Adapun untuk mengembangkan humanisme teosentris dalam pendidikan Islam tidak perlu dibangun sejak awal dari dasar. Sebab pendidikan Islam sejak awal telah dilandasi oleh teosentris dan humanisme yang merupakan dua fundamen yang esensial dan terpadu

42 Mujammil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam (Jakarta: Eerlangga, 2005), 256.

43 Musthofa, Humanisasi Pendidikan Pesantren (Depok: Rajawali Pers, 2020), 19.

(49)

dalam menjawab permasalahan umat. Dengan adanya landasan humanisme dan teosentrisme tersubut maka nilai nilai fundamental dan objektif dapat diaplikasikan dalam kehidupan manusia yaitu nilai kemanusiaan yang fitrah, kesatuan umat manusia, keseimbangan dan Islam sebagai rahmatan lil „alamin.44

Ada beberapa aspek penting yang terdapat dalam humanisme teosentris yakni sebagaimana berikut:

a. Aspek Pendidik

Pendidik memiliki peran penting dalam proses belajar- mengajar. Pada Islam memiliki kedudukan yang istimewa.

Keistimewaan kedudukan pendidik dalam Islam tersebut tidak terlepas dari fakta bahwa semua ilmu pengetahuan bersumber dari Alah Swt.

Sebab ilmu berasal dari Allah Swt., maka pendidik pertama merupakan Allah Swt. pula. Pandangan demikian pula yang melahirkan sikap pada umat Islam bahwa ilmu tidak terpisah dari Allah Swt., ilmu tidak terpisah dari pendidik.45

Pada konteks pendidikan Islam, istilah pendidik sering disebut dengan “murabbi, mu‟allim, mu‟addib, ustadz, mursyid, dan mudarris”. Kata murabbi berasal dari kata rabba, yurabbi istilah ini menekankan pada pengembangan dan pemeliharaan baik dalam aspek jasmaniah maupun ruhaniah. Kata mu‟allim berasal dari kata „alama,

44 Afifudin Haritsah, Filsafat Pendidikan Prinsip dan Dasar Pengembangan (Sleman:

Deepublish, 2018), 156.

Gambar

Tabel 2.1 Perbandingan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian yang  dilakukan oleh peneliti ............................................................

Referensi

Dokumen terkait

Dalam prinsip pendidikan, Ki Hajar Dewantara sangat mengutamakan kemerdekaan lahir dan batin. Yang dimaksud dengan kemerdekaan lahir dan batin adalah kemampuan untuk

Paper ini mengkaji konsep gurau dalam membangu nilai moral dan karakter anak usia dini dala perspektif Pendidikan Islam dan Ki Hajar Dewantara, menggunakan metode

1. Skripsi Ahmad Wahyudi yang berjudul Studi Komparatif Pendidikan karakter Pemikiran KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara, dalam skripsi tersebut menerangkan

Di Indonesia pendidikan karakter sudah lama di tekankan oleh penggagas pertama kali yaitu Ki Hajar Dewantara yang mengemukakan konsep pendidikan karakter dengan

menurut Ki Hajar Dewantara merupakan pusat pendidikan yang pertama

Jauhari, 2020 Penulis bermaksud untuk mengkaji dan menganalisis bagaimana konsep serta pemikiran modernisasi Pendidikan Agama Islam dalam perspektif Ibnu Khaldun, hal tersebut

Oleh karena itu, pendidikan humanistik adalah pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan potensi yang dimiliki setiap orang.7 Pandangan Ki Hajar Dewantara tentang manusia sebagai

Kekurangan konsep pendidikan Ki hajar Dewantara Konsep yang dikemukakan oleh Ki hajar juga memiliki kekuarangan contohnya pada bagian tripusat pendidikan, seperti tidak semua