• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Manajemen Kurikulum

Dalam dokumen manajemen-lembaga-pendidikan-islam.pdf (Halaman 131-144)

Sedangkan menurut Nasution, evaluasi kurikulum merupa- kan hal yang kompleks karena banyaknya aspek yang harus die- valuasi, banyaknya orang yang terlibat, dan luasnya kurikulum yang harus diperhatikan. Disamping itu, evaluasi kurikulum juga berhubungan dengan definisi kurikulum yang diberikan, apakah berupa bahan pelajaran menurut disiplin ilmu ataukah dalam arti yang luas meliputi pengalaman anak di dalam maupun di luar kelas. Istilah evaluasi biasanya merujuk kepada proses membuat penilaian, menetapkan nilai atau memutuskan yang baik. Selain itu, evaluasi dilakukan untuk menilai efisiensi, efektivitas, manfa- at, dampak, dan keberlanjutan dari suatu program atau kegiatan.

Efisiensi adalah pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai hasil yang optimal. Efektivitas adalah keberhasilan suatu organisasi pendidikan dalam mencapai tujuannya. Manfaat adalah nilai atau hasil lebih yang diperoleh dari hasil pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang sudah dilakukan. Selanjutnya, dampak adalah hasil atau keuntungan se- bagai akibat dari program atau kegiatan yang dilaksanakan.

Keberadaan kurikulum sebagai kumpulan konseptual ten- tang tujuan, materi, metode, media dan evaluasi proses dan ha- sil menjadi pedoman pelaksanaan pembelajaran bagi anak didik, khususnya yang dijadikan guru sebagai pedoman untuk mem- belajarkan anak didik, sehingga potensi mereka berkembang se- cara maksimal. Oleh sebab itu, kurikulum dari waktu ke waktu menghadapi lingkungan internal dan eksternal. Karena dalam manajemen pendidikan, bidang kurikulum merupakan bagian integral dari manajerial yang harus mendapat peninjauan terus menerus sejalan dan dinamika perkembangan zaman. Dalam pengembangan kurikulum evaluasi merupakan salah satu kom- ponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan kurikulum. Hasil yang diperoleh dapat dijadikan balikan (feed back) bagi guru dalam memperbaiki dan menyempurnakan kurikulum.31

31 Zainal Arifin.Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, ( Bandung: Remajaros- dakarya, 2012), .263.

Pemantauan dan penilaian kurikulum merupakan salah satu fungsi manajemen kurikulum sebagai tugas yang harus dikerjakan seorang manajer mulai dari tingkat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai perancang, pelaksana, dan evaluator sistem pendidikan nasional, tingkat provinsi, kabupaten dan kota serta kecamatan dalam ruang lingkup kewilayahan pendidikan, pada semua jenjang pendidikan baik formal maupun non formal.32

Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para perencana, dan peng- embang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijaksa- naan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan mo- del kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pen- didikan lainnya. Sukmadinata juga berpendapat bahwa evaluasi kurikulum sukar dirumuskan secara tegas, hal itu disebabkan be- berapa faktor:

1. Evaluasi kurikulum berkenan dengan fenomena-feno- mena yang terus berubah.

2. Objek evaluasi kurikulum adalah sesuatu yang beru- bah-ubah sesuai dengan konsep kurikulum yang digu- nakan.

3. Evaluasi kurikulum merupakan suatu usaha yang dila- kukan oleh manusia yang sifatnya juga berubah.

Menurut S Hamid Hasan yang dikutip oleh Rusman, eva- luasi kurikulum dan pendidikan memiliki karakteristik yang tak terpisahkan. Karakteristik itu adalah lahirnya berbagai definisi untuk suatu istilah teknis yang sama. Demikian dengan evaluasi yang diartikan oleh berbagai pihak dengan berbagai pengertian.

Hal tersebut disebabkan filosofi keilmuan yang dianut seseorang berpengaruh metodologi evaluasi, tujuan evaluasi, dan pada gi-

32 Oemar Hamalik.Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Ros- dakarya, 2008) . 217.

lirannya terhadap pengertian evaluasi. Sementara itu menurut Morrison evaluasi adalah perbuatan pertimbangan berdasarkan seperangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggung- jawabkan. Dalam hal ini ada tiga faktor utama yaitu: 1) pertim- bangan; 2) deskripsi objek penilaian; 3) kriteria yang dapat diper- tanggungjawabkan.33

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa eva- luasi merupakan proses menilai keberhasilan dari suatu program yang dilaksanakan, apakah sudah mencapai tujuan atau belum dalam rangka memberikan masukan dan membuat keputusan untuk perbaikan program yang dilak-sanakan lebih lanjut. Den- gan begitu, evaluasi kurikulum dapat dilakukan oleh semua level manajemen kementerian pendidikan nasional, termasuk yang di- berikan kewenangan adalah Pusat Kurikulum Nasional sebagai unit pelaksana teknis penyusunan dan pengembangan kurikulum pendidikan.

Tujuan evaluasi adalah mengukur capaian kegiatan, yaitu sejauh mana kegiatan dapat dilaksanakan. Arikunto, sebagai- mana dikemukakan oleh Teguh Triwiyanto, menyatakan bahwa agar pengukuran tujuan dapat diketahui secara cermat dan teliti sampai diketahui bagian mana dari kegiatan yang dapat diimple- mentasikan dan bagian mana yang tidak dapat diimplementasi- kan beserta penyebabnya sehingga tujuan evaluasi tersebut perlu dirinci.34 Untuk dapat mengadakan rincian terhadap tujuan eva- luasi, evaluator harus mampu mengenali komponen-komponen kegiatan.

Dengan melakukan evaluasi dapat diketahui sejauh mana tujuan pendidikan melalui komponen kurikulum telah dicapai.

Dalam konteks ini, evaluasi yang dikembangkan berdasarkan pandangan filosofis fenomenologi yang melahirkan pendekatan kualitatif dalam evaluasi kurikulum bertujuan untuk menekan- kan cita-cita demokratis karena segenap anggota masyarakat dan

33 Rusman.Manjemen Kurikulum, ( Jakarta: Raja Grapinfo,2010).91.

34 Teguh Triwiyanto. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015) .183.

stakeholders lain memiliki wewenang untuk mengambil keputu- san dari evaluasi. Itu artinya evaluasi bukan milik sekelompok orang yang dinamakan pengambil keputusan tetapi dimiliki se- tiap orang yang memiliki kepentingan dan kepedulian terhadap kurikulum.35

Di sisi lain dipahami bahwa evaluasi kurikulum adalah me- nyempurnakan kurikulum dengan cara mengungkapkan proses pelaksanaan kurikulum yang telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk meme- riksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria, indikator kinerja yang dievaluasi adalah efektivitas, efisi- ensi, relevansi dan kelayakan program.

Dalam konteks kurikulum, evaluasi kurikulum didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), proses, keluaran (output) dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar kurikulum. Oleh sebab itu, evaluasi kuriku- lum berfungsi untuk menilai keberhasilan pelaksanaan dari suatu kurikulum yang diterapkan pada pendidikan. Evaluasi kurikulum bertujuan untuk menilai efisiensi, efektivitas, manfaat, dampak dan keberlanjutan dari suatu kurikulum.

Evaluasi kurikulum menjadi tugas para manajer, perencana, pengembang dan pengawas pendidikan. Menurut Hamid Hasan, tujuan evaluasi kurikulum adalah sebagai berikut:36

1. Menyediakan infromasi mengenai pelaksanaan peng- embangan dan pelaksanaan suatu kurikulum sebagai masukan bagi pengambilan keputusan.

2. Menentukan tingkat keberhasilan dan kegagalan suatu kurikulum serta faktor-faktor yang berkontribusi dalam suatu lingkungan tertentu.

3. Mengembangkan berbagai alternatif pemecahan masa- lah yang dapat digunakan dalam upaya perbaikan kuri- kulum.

35 Zainal Arifin. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung: Remajarosda- karya, 2012).263.

36 Dinn Wahyudin.Manajemen Kurikulum, (Bandung: Remajarosdakarya,2014).148.

4. Memahami dan menjelaskan karakteristik suatu kuri- kulum dan pelak-sanaan suatu kurikulum.

Evaluasi kurikulum memiliki fungsi sebagai suatu langkah menyempurnakan kurikulum pada level nasional, daerah, dan sa- tuan pendidikan secara berkelanjutan. Evaluasi kurikulum memi- liki tujuan untuk memperoleh informasi mengenai kesamaan an- tar:

1. Ide dan desain

2. Desain dan dokumen

3. Dokumen dan implementasi 4. Gagasan

5. Hasil

6. Dampak kurikulum

Ide kurikulumialah gagasan pokokdari kurikulumyang me- liputi:

1. Filosofi 2. Sosiologis

3. Psiko-pedagogis 4. Teoritis

5. Yuridis 6. Sistem

7. Model kurikulum yang dimanfaatkan sebagai landasan 8. Pengembangan kurikulum

Rancangan rencana dan aturan mengenai tujuan, isi, materi pembelajaran dan metode yang dipergunakan sebagai petunjuk pelaksanaan kegiatan dalam melaksanakan program. Pembel- ajaran merupakan desain kurikulum, yang dibuat dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Dan yang dimaksud dengan doku- men kurikulum ialah kumpulan dokumen yang memiliki fungsi sebagai instrumen kurikulum operasional, yaitu

1. Dokumen kurikulum untuk setiap satuan pendidikan 2. Dokumen kurikulum tiap mata pelajaran;

3. petunjuk implementasi kurikulum;

4. buku teks

5. buku pedoman guru

6. dokumen kurikulum yang lain.

Adapun untuk model model evaluasi kurikulum, itu terdiri dari tiga model yaitu model penelitian, model objektif dan model campuran:

1. Evaluasi Model Penelitian

Model evaluasi kurikulum yang menggunakan model pe- nelitian berdasarkan pada teori dan metode test psikologi dan eksperimen lapangan. Test psikologi/test psikometri pada umumnya mengambil 2 bentuk, yaitu test kecerdasan yang bertujuan untuk mengukur kemampuan bawaan, dan test hasil belajar yang mengukur perilaku skolastik.

Pendekatan komparatif untuk evaluasi. Salah satu pen- dekatan dalam evaluasi yang menggunakan eksperimen lap- angan ialah membuat perbandingan antar dua kelompok anak yang berbeda, misalnya yang menggunakan dua meto- de pembelajaran yang berbeda. Terdapat berbagai hambatan yang didapatkan dalam percobaan ini, yakni.

a. Hambatan dalam administratif, sangat sedikit sekolah yang mau dijadikan eksperimen.

b. Permasalahan teknis dan logika, yaitu sulitnya membuat kondisi kelas yang sama untuk kelompok yang diujikan.

c. Sulitnya mencampurkan pendidik yang mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, pen- garuh pendidik tersebut sulit dikendalikan.

d. Terdapat batasan tentang eksperimen manipulasi yang dapat dilakukan.

Pada botani pertanian, tanaman yang dirancang dengan sempurna dapat memanipulasi percobaan hingga dua puluh lima perawatan, tetapi dalam penelitian pendidikan tidak mungkin untuk melaksanakan banyak perawatan.

2. Evaluasi Model Objektif

Model ini asalnya dari Amerika Serikat. Perbedaannya antara model objektif dan model komparatif, yaitu

a. Pada model objektif

Evaluasi ialah bagian yang sangat penting dalam proses pengembangan kurikulum. Para evaluator juga penting berperan untuk mengumpulkan pendapat dari pihak luar tentang inovasi kurikulum yang sedang diterapkan.

b. Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum la- innya namun diukur dengan perangkat tujuan.

Pencapaian penerapan kurikulum diukur dengan pen- ugasan peserta didik pada tujuan tersebut. Pengembang kurikulum yang menggunakan sistem model objektif menggunakan standar untuk mencapai tujuan tersebut.

Tujuan dari pendekatan komparatif berguna dalam me- nilai apakah kegiatan yang dicoba oleh kelompok ek- sperimen lebih baik dari pada kelompok kontrol. Oleh karena itu, kedua kelompok harus setara, tetapi dalam model objektif itu tidak masalah.

Terdapat persyaratan yang wajib dicapai oleh tim peng- embangan model objektif, yakni

a. Adanya kesepakatan mengenai tujuan kurikulum

b. Merumuskan tujuan tersebut dalam perbuatan peserta didik

c. Menyusun materi kurikulum yang sesuai dengan tujuannya

d. Mengukur kesesuaian antar perilaku peserta didik den- gan hasil yang diharapkan.

Test untuk mengetahui hasil belajar peserta didik adalah bagian penting dari kurikulum. Setiap item test sesuai den- gan keterampilan tertentu, unit/tingkatan tujuan tertentu.

Untuk memasuki program pendidikan, peserta didik harus mengikuti test penempatan terlebih dahulu, guna mengeta- hui di mana mereka harus memulai belajar. Kemajuan pe- serta didik dipantau oleh pendidik dengan memberikan test yang mengukur tingkat penguasaan tujuan tertentu melalui pre test dan post test. Peserta didik dianggap memahami sua-

tu satuan jika mendapat nilai minimal 80. Jika telah dikuasai berarti penguasaan peserta didik sesuai dengan kriteria.

3. Model Campuran Multivariasi

Model evaluasi komparatif dan model Tylor & Bloom me- munculkan model evaluasi campuran multivariat, merupa- kan suatu strategi evaluasi yang menggabungkan unsur dari kedua pendekatan. Strategi ini memungkinkan perband- ingan lebih dari satu kurikulum dan sekaligus pencapaian setiap kurikulum diukur berdasarkan kriteria spesifik dari setiap kurikulum. Tahapan model multivariasi yaitu

a. Mencari sekolah yang berminat dilakukan evaluasi;

b. Implementasi program. Ketika tidak ada sekolahpen- campuran, penekanannya mengarah ke partisipasi yang optimal.

c. Saat itu kelompok menetapkan tujuan yang mencakup seluruh tujuan pengajaran misalnya metode global dan unsur, tes tambahan dapat disiapkan

d. Ketika seluruh informasi yang diinginkan sudah ter- kumpul, baru komputer mulai bekerja

e. Jenis analisa ini dapat dipergunakan agar mengetahui pengaruh bersama dari berbagai variabel yang memiliki perbedaan.

Beberapa hambatan ditemui dalam model campuran multivariat ini, yaitu

a. Test ini diharapkan dapat memberikan test yang signifi- kan secara statistik.

Jadi untuk itu kita membutuhkan seratus kelas dengan sepuluh pengukuran, dan ini lebih memungkinkan dari sepuluh kelas dengan sepuluh pengukuran. Jadi model multivariat ini lebih cocok untuk evaluasi kurikulum skala besar.

b. Terlalu banyak variabel yang perlu dihitung dalam satu waktu

Kemampuan komputer hanya sampai empat puluh va- riabel, sedangkan dengan model ini dapat dikumpulkan tiga ratus variabel.

c. Meskipun model multivariat telah mengurangi perma- salahan kontrol sehubungan dengan eksperimen lap- angan, masih menghadapi permasalahan komparatif.

Sebagai suatu sistem keberadaan kurikulum dalam dunia pendidikan diyakini bermanfaat bagi perubahan perilaku anak didik jika kurikulum tersebut dilaksanakan sesuai dengan aturan dan prosedur yang ditetapkan oleh para manajer pendidikan pada tingkat makro (menteri pendidikan, dirjen pendidikan dasar dan menengah, para direktur), tingkat messo (Gubernur, kepala dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi, kabupaten/ kota) maupun tingkat mikro (kepala sekolah/madrasah, wakil kepala sekolah/

madrasah, pengawas, dan guru-guru) di dalam sistem perseko- lahan. Karena itu, penyelenggara pendidikan bertanggung jawab terhadap pencapaian keberhasilan pelaksanaan kurikulum yang ditetapkan. Oleh sebab itu, program penilaian merupakan se- rangkaian tindakan yang dilakukan dalam rangka penilaian kurikulum sebagai alat pengelola dan evaluator dalam menyel- enggarakan penilaian kurikulum. Program penilaian kurikulum memuat hal-hal berikut:37

a. Penentuan tujuan program penilaian b. Penilaian terhadap instrumen penilaian c. Pengadministrasian penilaian

d. Pengolahan data

e. Penganalisaan penafsiran f. Pendayagunaan hasil penilaian g. Pencatatan dan pelaporan.

S. Hamid Hasan, proses yang dapat dilalui oleh seorang evalua- tor dalam melaksanakan evaluasi adalah:38

37 Oemar Hamalik. (2008). Manajemern Pengembangan Kurikulum, Bandung: Rema- ja Rosdakarya, h.217.

38 Zainal Arifin.Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, ( Bandung: Remajaros- dakarya, 2012), .263.

a. Kajian terhadap evaluan, yaitu langkah pertama yang harus dilakukan evaluator terhadap kurikulum atau bentuk kurikulum yang menjadi evaluannya. Tujuany- nya adalah untuk mendapatkan pemahaman terhadap karakteristik kurikulum. Evaluator harus mempelajari secara mendalam latar belakang kelahiran suatu kuri- kulum, landasan filosofis dan teoretis kurikulum terse- but, ide kurikulum, model kurikulum yang digunakan untuk dokuen kurikulum, proses pengembangan doku- men kurikulum, proses implementasi kurikulum dan evaluasi hasil belajar.

b. Pengembangan proposal evaluasi, berdasarkan kajian yang dilakukan pada langkah pertama maka evaluator kemudian mengembangkan proposalnya. Untuk itu maka evaluator memutuskan pendekatan dan jenis eva- luasi yang akan dilakukan. Evaluator dapat menentukan apakah yang akan digunakannya adalah evaluasi kuanti- tatif ataukah evaluasi kualitatif.

c. Pertemuan dan diskusi, dengan pengguna jasa evalua- si merupakan langkah penting dan menentukan. Hasil diskusi dengan pengguna jasa akan menentukan apakah proposal yang diajukan akan dapat ditindaklanjuti atau tidak. Jika evaluator berhasil meyakinkan calon peng- guna jasa evaluasi maka proposal yang diajukan mung- kin akan disetujui dan pekerjaan evaluasi akan dapat dilaksanakan. Sebaliknya, jika pada pertemuan terse- but evaluator tersebut tidak berhasil meyakinkan calon pengguna jasa evaluasi maka proposal tersebut tidak terlaksana. Artinya, tidak ada pekerjaan evaluasi yang dilakukan berdasarkan proposal tersebut.

d. Revisi proposal, tidak lanjut dari hasil pertemuan antara pengguna jasa evaluasi dengan evaluator. Apabila dalam pertemuan dan pembicaraan tersebut berbagai kom- ponen harus direvisi maka adalah kewajiban evaluator untuk melakukan revisi tersebut. Hasil revisi harus di-

perlihatkan kembali kepada pengguna jasa evaluasi dan disetujui.

e. Rekruitmen personalia, kegiatan ini bisa saja dilakukan ketika proposal disusun.

f. Pengurusan persyaratan administrasi, setiap kegiatan yang berkenaan dengan evaluasi kurikulum memerlu- kan berbagai formalitas administrasi. Evaluator harus mendapatkan persetujuan dari pengguna kurikulum, pimpinan sekolah atau atasannya dan mungkin juga dari pejabat yang terkait dengan masalah keamanan so- sial politik.

g. Pengorganisasian pelaksanaan, suatu kegiatan manaje- men yang tingkat kerumitannya ditentukan oleh ruang lingkup pekerjaan evaluasi dan jumlah evaluator yang terlibat. Semakin luas objek yang harus dievaluasi maka semakin banyak jumlah evaluator yang dibutuhkan dan akan semakin rumit pula pekerjaan manajemen yang harus dilakukan.

h. Analisis data, merupakan tindak lanjut setelah proses pengumpulan data evaluasi berhasil dilakukan. Ketika model yang digunakan adalah model kuantitatif dan dengan demikian data utama evaluasi adalah data kuan- titatif. Proses selanjutnya dalam pengelolaan data pada umumnya menggunakan jasa komputer. Analisis data adalah pekerjaan professional dan harus dilakukan oleh evaluator utama beserta evaluator. Analisis data merupa- kan bentuk tanggungjawab professional dan memerlu- kan wawasan dan pemahaman terhadap evaluan untuk menghasilkan analisis yang dapat dipertanggungjawab- kan.

i. Penulisan laporan, merupakan langkah yang harus dila- kukan oleh evaluator dan para tim. Pada umumnya ada dua jenis laporan yang dapat dijadikan sebagai bentuk dalam penulisan hasil laporannya, diantaranya adalah (1) laporan eksekutif, yaitu model laporan yang ditu-

lis dan dikembangkan untuk dibaca oleh para eksekutif yang pada umumnya memiliki waktu yang terbatas, (2) laporan lengkap, yaitu model laporan yang dikembang- kan untuk dibaca oleh orang yang memiliki waktu yang luang.

j. Pembahasan laporan dengan pengguna jasa, pembaha- san ini diperlukan untuk melihat kelengkapan laporan.

Dalam pembahasan ini jika pengguna jasa memerlukan tambahan informasi yang memang tercantum dalam kontrak maka adalah kewajiban evaluator untuk mel- engkapi laporan tersebut.

k. Penulisan laporan akhir, sebagai hasil dari revisi yang harus dilakukan evaluator kertika terjadi pembahasan laporan dengan pengguna jasa. Jika dalam pembahasan tersebut pihak pengguna sudah tidak mengajukan revi- si maka laporan awal dapat langsung dijadikan laporan akhir. Jika dari hasil pembahasan diperlukan berbagai revisi maka evaluator harus menulis laporan akhir ber- dasarkan revisi tersebut.

Dalam konteks ini, evaluasi kurikulum yang dilaksanakan akan menghasilkan tindak lanjut dengan melakukan pemben- tukan ulang dan pelaksanaan ulang kurikulum. Proses yang di- tempuh ini mensyaratkan pengaturan ulang dan penyesuaian kebiasaan pribadi cara guru mengajar, cara bekerja, penekanan program, ruang kelas untuk pembelajaran, dan penjadwalan program kurikulum. Itu berarti para penduduk berusaha untuk mengganti dari program sekarang dengan program baru dengan memodifikasi program baru yang dapat mencapai apa yang diin- ginkan dengan temuan bahwa ada penolakan besar atas kuriku- lum sebelumnya.

Dalam dokumen manajemen-lembaga-pendidikan-islam.pdf (Halaman 131-144)