• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Risiko Diabetes Melitus

Dalam dokumen pengaruh pemberian ekstrak kulit batang (Halaman 31-42)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Tinjauan Umum

2.3.5 Faktor Risiko Diabetes Melitus

Berdasarkan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pengendalian Penyakit Tidak Menular di Puskesmas (2012) melalui kegiatan deteksi dini faktor risiko diharapkan dapat dilakukan penangananya sesegera mungkin, sehingga angka kesakitan, kecacatan dan kematian dapat diturunkan serendah mungkin. Deteksi dini Diabetes Melitus dapat dilakukan dengan mengenali faktor – faktor yang berisiko, yaitu :

1. Usia

Peningkatan risiko diabetes seiring dengan umur, umumnya pada usia lebih dari 40 tahun, disebabkan karena pada usia tersebut dapat memulai terjadi peningkatan intoleransi glukosa. Adanya proses penuaan yang menjadikan berkurangnya kemampuan sel β pankreas dalam memproduksi insulin. Selain dari itu pada individu yang berusia lebih tua dapat penurunan aktivitas mitokondria di sel-sel otot sebesar 35%. peristiwa ini terjadi dengan peningkatan kadar lemak di otot sebesar 30% dan dapat menimbulkan terjadinya resistensi insulin (Trisnawati, 2013).

2. Riwayat Keluarga penderita Diabetes Melitus

Riwayat keluarga atau genetik memainkan peran yang cukup kuat dalam pengembangan Diabetes Mellitus tipe 2, olehkarena itu hal ini dipengaruhi juga pada faktor lingkungan. Gaya hidup juga mempengaruhi perkembangan DM tipe

2. Jika seseorang memiliki riwayat keluarga DM tipe 2, mungkin sulit dapat mengetahuinya apakah disebabkan karena faktor gaya hidup atau kerentanan genetik. Keluarga mempunyai peranan penting untuk generasi selanjutnya, hal ini dikarenakan ada berbagai macam penyakit yang dapat terjadi karena riwayat keluarga.

Seseorang yang menderita Diabetes Melitus mempunyai gen Diabetes. Bakat diabetes adalah gen resesif. Hanya orang yang memiliki sifat homozigot dengan gen resesif tersebut yang menderita Diabetes Melitus. DM tipe 2 bersumberl dari interaksi genetis dan berbagai faktor mental, penderita ini sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial. Risiko empiris dalam hal terjadinya DM tipe 2 dapat meningkat dua sampai enam kali lipat bila orang tua atau saudara kandungnya menderita Diabetes (Restyana, 2015)

3. Obesitas

Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah metode antropometri yang cukup mudah untuk memantau status gizi seseorang dewasa, khususnya berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Obesitas adalah komponen utama dari sindrom metabolik dan secara signifikan berhubungan dengan resistensi insulin (Restyana, 2015).

Menurut Kariadi (2009) dalam Fathmi (2012), obesitas dapat membuat sel kurang bahkan tidak sensitif terhadap insulin (resisten insulin).

Semakinmeningkat jumlah jaringan lemak pada tubuh, maka tubuh semakin resisten dalam kerja insulin, terutama jika lemak tubuh terkumpul di daerah sentral maupun perut (central obesity).

4. Kurang Aktivitas Fisik

Kurangnya bergetak aktif adalah salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya Diabetes Melitus. Dengan melakukan aktivitas fisik dapat mengontrol kadar gula dalam darah. Glukosa akan diubah menjadi energi pada saat beraktivitas fisik. Aktivitas fisik dapat menyebabkan insulin semakin meningkat sehingga kadar gula dalam darah akan berkurang. Jika seseorang yang jarang berolahraga, zat makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak mampu dibakar namun ditimbun dalam tubuh sehingga terbentuk lemak dan gula. Jika insulin tidak mencukupi untuk mengubah glukosa menjadi energi maka akan timbul DM (Kemenkes, 2010)

Aktivitas fisik digunakan untuk menggambarkan gerakan tubuh manusia sebagai hasil kerja otot rangka menggunakan sejumlah energi. Perilaku yang tidak aktif dapat menyebabkan faktor risiko penting yang dapat menyebebkan kematian, penyakit kronik salah satunya adalah Diabetes, dan disabilitas (Nani Cahyo Sudarsono, 2015).

Pada saat melaksanakan aktivitas fisik, otot-otot akan memakai kadar glukosa darah yang lebih banyak dari pada waktu tidak melakukan aktivitas fisik, oleh sebab itu konsentrasi glukosa darah akan mengalami penurunan. Melalui aktivitas fisik, insulin akan bekerja lebih baik sehingga glukosa dapat masuk ke dalam sel untuk dibakar menjadi tenaga (Soegondo, 2008). Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan seseorang rentan terhadap kondisi prediabetes.

Penelitian Soewondo dan Pramono (2011) menyebutkan bahwa kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko sebesar 23%. Aktivitas fisik dapat meningkatkan sensitivitas insulin sehingga meningkatkan kerja insulin dalam mengontrol kadar

glukosa dalam darah. Selain itu aktivitas fisik juga dapat membakar lemak dalam tubuh, seseorang yang mempunyai nilai status gizi normal memberikan efek protektif pada peningkatan kadar glukosa dalam darah.

WHO merekomendasikan agar tetap melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang selama 30 menit per hari dalam satu minggu atau 20 menit perhari selama lebih kurang 5 hari dalam satu minggu dengan intensitas berat untuk mendapatkan hasil yang maximal dari aktivitas fisik atau olahraga (Rumiyati, 2008).

5. Hipertensi

Hipertensi adalah terjadinya dengan meningkatnya tekanan darah secara persisten dalam dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit pada saat kondisi cukup istirahat/tenang dimana tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Peningkatan tekanan darah dalam jangka waktu yang lama dan tidak dideteksi secara dini dapat menyebabkan gagal ginjal, penyakit jantung koroner dan stroke (Kemenkes RI, 2014).

Pada pasien diabetes tipe 2, penderita hipertensi pada umumnya bagian dari sindrom metabolik dari resistensi insulin. Hipertensi juga dapat memicu muncul selama beberapa tahun pada pasien tersebut sebelum Diabetes Melitus muncul.

Hiperinsulinemia dapat memperluas patogenesis hipertensi dengan menurunkan ekskresi sodium pada ginjal, aktivitas stimulasi dan respon dari jaringan pada sistem saraf simpatetik, akan meningkatkan resistensi sekeliling vaskular melalui hipertrofi vaskular (Puput, 2016).

Apabila kondisi hipertensi pada seseorang dibiarkan tanpa perawatan, makan kondisi dapat menyebabkan penbengkakan pada pembuluh darah arteri yang dapat mempengaruhi diameter pembuluh darah menjadi sempit. Hal ini dapat menyebabkan proses pengangkutan glukosa dari dalam darah menjadi terganggu (Zieve, 2017).

6. Diet tidak sehat dengan tinggi gula, garam dan rendah serat (pola makan).

Perilaku diet yang tidak sehat yaitu kurang olahraga, menekan nafsu makan, sering mengkonsumsi makan siap saji. Perilaku makan yang buruk seperti terlalu banyak mengkonsumsi makanan berlemak dan makanan manis ternyata bisa merusak kerja organ pankreas. Organ tersebut mempunyai sel beta yang berfungsi menghasilkan insulin berperan membantu mengangkat glukosa dari aliran darah ke dalam sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai energi. Glukosa yang tidak dapat diserap oleh tubuh karena lemahnya hormon insulin mengangkutnya sehingga insulin tidak terangkut , menyebabtkan terus berkumpul dalam aliran darah, sehingga kadar gula menjadi tinggi (Abdurrahman, 2014). Kebutuhan kalori basal per hari untuk perempuan sebesar 25 kal/kg bb sedangkan untuk pria sebesar 30 kal/kg bb (Perkeni, 2015).

7. Merokok

Rokok merupakn suatu produk tembakau yang ditujukan untuk dibakar dan dihisap dan atau dengan menhirup asapnya, berikut adalah rokok yang termasuk dalam golongan rokok kretek, rokok putih, cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotiana tabacum, nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan tambahan (PP No. 109 tahun 2012).

Nikotin yang terdapat pada asap rokok memiliki pengaruh terhadap terjadinya DM tipe 2. Pengaruh nikotin yang di tangkapoleh sel beta berpengaruh terhadap insulin diantaranya menyebabkan menurunnya pelepasan insulin akibat aktivasi hormon katekolamin, pengaruh negatif pada kerja insulin, gangguan pada sel beta pankreas dan perkembangan ke arah resistensi insulin (M. Dwi Ario, 2014)

Selain banyaknya nikotin, lama pajanan nikotin juga dapat berpengaruh dengan kerja insulin, sehingga lamanya merokok juga dapat berkontribusi dengan peristiwa kejadian TGT. Semakin lama individu menggunakan merokok maka semakin banyak radikal bebas yang terakumulasi dalam tubuh. Zat- zat tersebut yang nantinya dapat mengganggu kerja insulin dan merusak sel beta pankreas, sehingga menyebabkan kadar gula dalam darah tidak terkontrol (Khadziyatul, 2017)

8. Bahan-bahan kimia dan obat-obatan

Bahan kimia tertentu yang dapat menyebabkan iritasi pankreas yang menyebabkanperadangan pada pankreas. Peradangan pada pankreas dapat menimbulkan keadaan pankreas yang tidak berfungsi secara optimal dalam mensekresikan hormone yang diperlukan dalam metabolisme dalam tubuh, termasuk denagan hormone insulin.

9. Penyakit dan infeksi pada pankreas

Mikroorganisme yang dapat menginfeksi sel beta pankreas berupa bakteri dan virus sehingga dapat menimbulkan rperadangan pada pankreas. Hal itu menyebabkan sel β pada pankreas tidak dapat bekerja secara optimal dalam mensekresi insulin sesuia yang dibutuhkan tubuh.

2.3.6.Diagnosa Diabetes (Dharma, 2016)

1. Glukosa darah sewaktu lebih dari 200 mg/dL disertai dengan gejala diabetes yang sering muncul yaitu poliuria, polidipsia, dan penurunan berat badan.

2. Glukosa darah puasa lebih dari 126 mg/dL. Puasa diartikan tidak adanya asupan kalori selama minimal 8 jam.

3. Glukosa darah 2 jam lebih dari 200 mg/dL selama tes toleransi glukosa oral (TTGO). Asupan glukosa yang direkomendasikan pada tes ini adalah 75 gram.

2.3.7.Terapi Diabetes Mellitus

2.3.7.1. Terapi Non Farmakologi (Dharma, 2016) 1. Pengaturan Diet

Diet yang baik berperan dalam keberhasilan penatalaksanaan diabetes.

Penderita diabetes dianjurkan makan dengan komposisi seimbang sesuai kecukupan gizi yang baik, yaitu karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, dan lemak 20-25%. Asupan kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut dan kegiatan fisik untuk dapat mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. Penurunan berat badan telah terbukti dapat mengurangi resistensi insulin serta memperbaiki respon sel β terhadap stimulus glukosa. Selain jumlah kalori, jenis bahan makanan yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan. Asupan kolesterol tidak lebih dari 300 mg, dengan sumber yang berasal dari bahan nabati karena mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh dibanding asam lemak jenuh. Masukan serat minimal 25 g per hari, karena dapat membantu

mengatasi rasa lapar yang biasa dirasakan pasien DM tanpa khawatir masukan kalori berlebihan.

2. Olahraga

Olahraga dapat memperbanyak jumlah serta meningkatkan aktivitas reseptor insulin dalam tubuh, juga akan meningkatkan penggunaan glukosa. Olahraga yang disarankan bagi penderita diabetes yaitu bersifat CRIPE (Continuous, Rhythmic, Interval, Progressive, Endurance Training). Zona sasaran olahraga yang dilakukan yaitu 75-85% denyut nadi maksimal (220-umur), yang disesuaikan pula dengan kemampuan dan kondisi penderita. Olahraga yang disarankan antara lain jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang, dan lainnya yang dilakukan selama total 30-40 menit per hari diawali pemanasan 5-10 menit dan diakhiri pendinginan selama 5-10 menit.

2.3.7.2. Terapi Farmakologi (Dharma, 2016) 1. Obat Antidiabetik Oral (ADO)

A. Golongan Sulfonilurea

Mekanisme utamanya adalah peningkatan sekresi insulin. Sulfonilurea dapat meningkatkan reseptor sulfonilurea spesifik pada sel β-pankreas.

Ikatan dapat menutupi saluran K+ yang tergantung pada ATP, dari hal berikut dapat terjadi penurunan keluarannya kaliumsehingga terjadi depolarisasi membran, saluran kalsium terbuka dan kalsium masuk.

Peningkatan angka kalsium intraseluler dapat menimbulkan pengeluaran insulin. Efek samping sulfonilurea yang paling sering adalah hipoglikemia dan peningkatan berat badan (~2kg).

B. Golongan Meglitinide (Glinid)

Mekanisme kerja obat ini sama dengan sulfonilurea, menutup ATP sensitive potassium channel, yang kemudian menyebabkan depolarisasi, influks kalsium dan meningkatkan sekresi insulin. Obat diabsorbsi cepat setelah pemberian per oral dan dieliminasi secara cepat melalui hati. Efek samping obat golongan ini adalah hipoglikemia, tetapi pada tingkat yang lebih rendah. Contoh obat ini yaitu repaglinid dan nateglinid.

C. Golongan Biguanid

Contoh obat ini adalah metformin, dengan mekanisme kerjanya dapat meningkatkan kepekaan tubuh terhadap insulin yang diproduksi oleh pankreas, tidak merangsang peningkatan produksi insulin sehingga pemakaian tunggal tidak berakibat hipoglikemia. Metformin tidak memiliki efek langsung pada sel β-pankreas, meskipun kadar insulin menurun. Dapat dikenali bahwa efek utama obat ini adalah menurunkan produksi glukosa hepatik melalui aktivasi enzim AMP-activated protein kinase dan meningkatkan stimulasi ambilan glukosa oleh otot skelet dan jaringan lemak. Efek samping dari obat ini yaitu timbulnya rasa tidak nyaman pada bagian perut atau diare pada 30% pasien. Anoreksia, mual, rasa logam dan rasa penuh pada perut juga dilaporkan terjadi. Obat diberikan pada saat atau sesudah makan.

D. Golongan Thiazolidinedione

Golongan ini bekerja dengan cara berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma (PPAR Gamma), yaitu salah atu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Obat ini memiliki efek samping

menurunnyan resistensi insulin dengan meningkatkan pengambilan glukosa di perifer. Contohnya antara lain pioglitazon (actos), rosiglitazone (avandia). Obat ini mempunyai efek samping retensi cairan.

E. Golongan α-glukosidase Inhibitor

Akarbose dan miglitol secara kompetitif dapat menurunkan kerja enzim (maltase, isomaltase, sukrosa dan glukoamilase) pada usus kecil sehingga menunda pemecahan sukrosa dan karbohidrat. Efek dari obat ini yaitu dapat menurunkan kadar glukosa postprandial. Efek samping yang sering terjadi yaitu flatulen, kembung, ketidaknyamanan terhadap kondisi perut dan diare.

F. Golongan DPP-IV Inhibitor

Golongan ini menghambat degradasi glucagon like peptide 1 (GLP-1) dan GIP, sehingga dapat meningkatkan efek kedua incretin pada fase awal sekresi insulin dan penghambatan glukagon. Efek samping obat ini yaitu risiko infeksi saluran pernafasan atas, sakit kepala dan hipersensitivitas.

2. Pemberian Insulin

Insulin merupakan obat tertua untuk diabetes, paling efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah. Bila digunakan dalam dosis adekuat, insulin dapat menurunkan setiap kadar HbAIC, sampai mendekati target teraupetik.

Gambar 4. Struktur insulin

Tidak seperti obat antihiperglikemik lain, insulin tidak memiliki dosis maksimal dan efek samping dari insulin dapat meningkatkan berat badan dan menimbulkan hipoglikemia. Insulin meupakan hormon alami yang dikeluarkan oleh pankreas, yang di perlukan oleh sel tubuh untuk mengubah glukosa darah.

Glukosa dalam sel dapat membentuk energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsinya.

Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat memproduksi insulin sehingga pemberian insulin diperlukan bagi tubuh. Sedangkan pada diabetes tipe 2, dapat memproduksi insulin, tetapi sel tubuh tidak merespon insulin dengan normal (resistensi insulin). Pemberian insulin pada diabetes tipe 2 untuk mengatasi kekurangan sekresi insulin akibat kerusakan sebagian sel-sel β pankreas. Setelah pemberian insulin terjadi peningkatan peningkatan pengambilan glukosa oleh sel, kadar glukosa darah akan menurun, sehingga dapat mencegah dan mengurangi komplikasi lebih lanjut dari diabetes seperti pada kerusakan pembuluh darah, perlemakan pada hati, retina mata, ginjal dan saraf. Insulin diberikan dengan cara penyuntikan dibawah kulit secara subkutan, jaringan subkutan perut merupakan penyerapan yang tercepat, kemudian diikuti oleh lengan dan paha.

Dalam dokumen pengaruh pemberian ekstrak kulit batang (Halaman 31-42)

Dokumen terkait