• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fiskal

Dalam dokumen ISSN 2580-2518 (Halaman 47-57)

II. PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA

2.3 Fiskal

45

46 Baru, serta mulai membaiknya ekonomi negara-negara mitra dagang utama Indonesia secara umum.

Namun demikian, secara keseluruhan kinerja perpajakan masih melambat.

Hingga akhir Juni 2020, Pajak penghasilan (PPh) mencapai Rp330,3 triliun atau lebih rendah 12,5 persen dibanding periode yang sama tahun 2019. Lebih rendahnya penerimaan PPh ini ditengarai karena menurunnya serapan tenaga kerja terutama pada sektor-sektor yang terdampak langsung oleh pandemi Covid-19, serta akibat pemanfaatan insentif fiskal PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP). Dari sisi komponennya, PPh Migas turun paling dalam yaitu sebesar 40,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. PPh Nonmigas juga mengalami penurunan sebesar 10,1 persen (YoY). Kondisi yang sama juga terjadi pada penerimaan PPN &

PPnBM yang tumbuh negatif sebesar 10,7 persen.

Selanjutnya, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan pajak lainnya juga mengalami penurunan sebesar 18,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi positif tampak pada kinerja penerimaan cukai pada akhir Juni 2020 yang mencapai Rp75,4 triliun atau tumbuh 13,0 persen. Sementara itu Bea masuk dan Bea keluar mengalami penurunan masing-masing sebesar 4,6 persen dan 18,2 persen

dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tabel 14 Realisasi Komponen PNBP Komponen PNBP

TA 2020

(triliun Rp) Growth YoY

(%) APBN

Perpres 72/2020

Realisasi s.d. 30

Juni

PNBP 294,1 184,5 -11,8

Penerimaan SDA 79,1 54,5 -22,9 Pendapatan KND 65,0 46,2 -32,7

PNBP Lainnya 100,1 53,2 9,9

Pendapatan BLU 50,0 30,6 43,8 Sumber: Kementerian Keuangan Realisasi PNBP sampai dengan semester I 2020 mencapai Rp184,5 triliun atau 62,7 persen dari target dalam Perpres 72 Tahun 2020, namun capaian tersebut lebih rendah 11,8 persen (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp209,1 triliun. Penurunan ini utamanya dipengaruhi oleh menurunnya penerimaan PNBP SDA dan PNBP KND masing-masing sebesar 22,9 persen dan 32,7 persen.

Faktor penyebab turunnya penerimaan SDA antara lain turunnya rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) dan rata-rata Harga Batu Bara Acuan (HBA) karena melambatnya perekonomian global akibat pandemi Covid-19. Rata-rata ICP periode Desember 2019 – Mei 2020 sebesar USD44,9 per barel jauh dibawah rata- rata ICP periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD62,1 per barel. Sementara itu, rendahnya realisasi PNBP KND disebabkan adanya penundaan pelaksanaan RUPS

47

Belanja Pemerintah Pusat

Transfer Ke Daerah dan Dana Desa

sebagian besar BUMN sehingga sebagian deviden belum dapat disetorkan dan karena adanya penurunan setoran sisa surplus Bank Indonesia.

Dari sisi Belanja negara, hingga triwulan II tahun 2020, belanja negara menunjukkan peningkatan. Sampai akhir Juni 2020, realisasi Belanja Negara mencapai Rp1.068,94 triliun.

Realisasi tersebut terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat (BPP) yang mencapai Rp668,5 triliun dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) yang mencapai Rp400,4 triliun. Dari sisi BPP, terjadi pertumbuhan sebesar 6,0 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019.

Peningkatan penyerapan BPP dipengaruhi oleh pertumbuhan belanja Kementerian/ Lembaga (K/L) yang tumbuh 2,3 persen (YoY) dan belanja non-K/L yang tumbuh 10,3 persen (YoY).

Gambar 25 Perkembangan Komponen Belanja Negara

Sumber: Kementerian Keuangan

Belanja K/L tumbuh positif, dimana realisasinya hingga Juni 2020 mencapai Rp350,40 triliun.

Peningkatan Belanja K/L utamanya disumbangkan oleh kenaikan realisasi belanja sosial dan belanja modal.

Belanja modal mengalami pertumbuhan pada periode sampai dengan Juni 2020, yakni tumbuh 8,70 persen (yoy). Peningkatan kinerja belanja modal didorong oleh percepatan realisasi belanja modal yang utamanya terjadi di belanja modal peralatan dan mesin yang dilaksanakan oleh Kemenhan dan Polri. Meskipun demikian, realisasi belanja modal jalan, irigasi, dan jaringan mengalami perlambatan realisasi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebagai dampak kebijakan refocusing/

realokasi/penundaan kegiatan serta adanya pembatasan sosial.

Bantuan sosial hingga Juni 2020 tumbuh sebesar 41,0 persen (YoY) dengan realisasi mencapai Rp99,4 triliun. Peningkatan realisasi bantuan sosial terutama dipengaruhi oleh kebijakan penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh Kementerian Sosial dalam rangka penanganan dampak pandemi Covid- 19, melalui penyaluran: (a) bantuan program Kartu Sembako yang telah diperluas cakupannya dan dinaikkan nilai manfaatnya dibandingkan tahun sebelumnya; dan (b) bantuan paket sembako Jabodetabek dan bantuan sosial tunai non-Jabodetabek yang disalurkan untuk Jaring Pengaman Sosial pandemi Covid-19. Selain itu, terdapat kenaikan pencairan PBI JKN 2020 karena adanya kebijakan

38,59

%APBN

Juni 2019 Juni 2020 33,80

%APBN Perpres 72

48,86

%APBN

52,40

%APBN Perpres 72

48 penyesuaian iuran PBI JKN yang semula Rp23.000 menjadi Rp42.000, serta kebijakan pencairan dimuka bantuan iuran PBI JKN untuk meningkatkan likuiditas BPJS Kesehatan dalam rangka percepatan pembayaran klaim fasilitas kesehatan.

Realisasi belanja pegawai sampai dengan akhir Juni 2020 mencapai Rp192,1 triliun atau sebesar 47,6 persen dari dari target APBN-Perpres 72/2020. Untuk belanja pegawai K/L sampai dengan 30 Juni 2020 mencapai Rp114,1 turun sebesar 3,3 persen (YoY). Penurunan ini disebabkan perubahan kebijakan pemberian THR tahun 2020, untuk Pejabat Negara, Pejabat Eselon 1 dan 2, dan pejabat lainnya tidak menerima THR sebagaimana tercantum dalam PP Nomor 24 Tahun 2020.

Sementara itu, realisasi Belanja Barang K/L sampai dengan 30 Juni 2020 mencapai Rp99,2 triliun, turun sebesar 16,8 persen (YoY). Penurunan tersebut utamanya dipengaruhi oleh pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial dan mekanisme kerja melalui WFH sehingga sangat mempengaruhi realisasi belanja operasional/non operasional dan belanja perjalanan dinas. Pada masa seperti sekarang ini, kegiatan K/L banyak tertunda pelaksanaannya karena kondisi yang tidak memungkinkan, serta harus mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah dan/atau dibatalkan karena alokasi anggarannya sudah dilakukan

refocusing dan realokasi untuk mendukung kegiatan penanganan Covid-19, antara lain pembayaran insentif dan santunan bagi tenaga kesehatan, serta pengadaan alat/

sarpras kesehatan dalam rangka penanganan Covid-19.

Realisasi Belanja Non-K/L hingga 30 Juni 2020 mencapai Rp318,1 triliun, tumbuh 10,3 persen (YoY), yang digunakan untuk pembayaran bunga utang, subsidi, dan belanja lain-lain.

Realisasi Pembayaran Bunga Utang sampai dengan 30 Juni 2020 sebesar Rp157,6 triliun, naik 16,9 persen (YoY), sejalan dengan tambahan penerbitan utang yang dilakukan untuk menutup peningkatan defisit APBN 2020 dan pengeluaran pembiayaan.

Sementara itu, realisasi subsidi sampai dengan 30 Juni 2020 turun sebesar 1,4 persen (YoY), dengan realisasi mencapai Rp70,8 triliun. Realisasi subsidi tersebut digunakan untuk: (a) subsidi energi sebesar 48,3 triliun, mencakup subsidi BBM dan LPG serta subsidi listrik termasuk diskon listrik;

dan (b) subsidi non energi sebesar Rp22,5 triliun, antara lain untuk subsidi pupuk, subsidi PSO, subsidi bunga kredit program, dan subsidi pajak.

Selain dipengaruhi oleh ICP, CP Aramco, dan kurs, realisasi subsidi juga dipengaruhi oleh proses administrasi dan verifikasi dalam proses penagihan pembayaran subsidi. Dari kinerja penyaluran sampai dengan Mei 2020, penyaluran BBM mencapai 5,8 juta KL, LPG 3 kg mencapai 2.905,9 juta kg, dan

49 listrik bersubsidi mencapai 24,65 TWh.

Kemudian, sampai dengan Juni 2020, penyaluran pupuk bersubsidi mencapai 4,8 juta ton, dan penyaluran KUR sebesar Rp67,7 triliun.

Tabel 15 Realisasi Komponen Belanja Pemerintah Pusat

Belanja Pemerintah

Pusat

APBN Perpres 72/2020*

Realisasi 2020 Juni

2020*

Growth YoY

(%)

Belanja K/L 836,4 350,4 2,4

Belanja

Pegawai 256,6 114,1 -3,3

Belanja Barang 271,7 99,2 -16,8

Belanja Modal 137,4 37,7 8,7

Bantuan Sosial 170,7 99,4 41,0 Belanja Non K/L 1138,9 318,1 10,3 a.l. Pembayaran

Bunga Utang 338,8 157,6 16,9

Subsidi 192,0 70,8 -1,4

Total (neto) 1975,2 668,5 6,0 Sumber: Kementerian Keuangan

*dalam triliun Rp

Meskipun secara keseluruhan belanja negara mengalami peningkatan, namun untuk komponen Transfer Ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) mengalami penurunan sebesar 0,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019. Hingga akhir Juni 2020, TKDD mencapai Rp400,4 triliun atau 52,4 persen dari pagu APBN-Perpres 72/2020 yang meliputi Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp360,2 triliun (52,0 persen) dan Dana Desa Rp40,2 triliun (56,5 persen).

Secara lebih rinci, realisasi TKD tersebut terdiri dari Dana Perimbangan, Dana Insentif Daerah,

serta Dana Otonomi Khusus dan Dana Keistimewaan DIY.

Sampai akhir Juni 2020, Dana Perimbangan telah mencapai Rp344,8 triliun. Sementara itu, Dana Alokasi Umum (DAU) telah terealisasi sebesar Rp226,5 triliun atau 58,9 persen dari pagu alokasi, yang terdiri atas DAU Formula sebesar 224,9 triliun dan DAU Tambahan sebesar Rp1,6 triliun.

Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 7,0 persen (YoY). Hal tersebut disebabkan oleh penyaluran DAU TA 2020 telah berbasis kinerja dimana penyaluran DAU dilakukan oleh Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dengan memperhatikan laporan Belanja Pegawai dan khusus DAU bulan April ditambah laporan Belanja Infrastruktur Daerah, laporan Pemenuhan Indikator Layanan Pendidikan, dan laporan Pemenuhan Indikator Layanan Kesehatan dari Pemerintah Daerah sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 139/ PMK.07/2019 tentang Pengelolaan Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, dan Dana Otonomi Khusus.

Realisasi DAU Formula per 30 Juni 2020 di atas turut dipengaruhi oleh: (i) penundaan penyaluran DAU bulan Juli terhadap 8 daerah dari 12 daerah yang masih mendapat sanksi sampai dengan akhir bulan Juni karena tidak menyampaikan Laporan Penyesuaian APBD dengan benar dan lengkap sesuai PMK Nomor 35/PMIK.07/2020

50 dan (ii) penyaluran kembali DAU bulan Mei kepada 86 daerah dan penyaluran kembali DAU bulan Juni kepada 80 daerah yang telah menyampaikan Laporan Penyesuaian APBD dengan benar dan lengkap.

Sementara itu, realisasi DAU Tambahan yang terdiri atas DAU Tambahan Bantuan Pendanaan Kelurahan Tahap I sebesar Rp1.449,65 miliar telah disalurkan kepada 399 daerah dan DAU Tambahan Bantuan Penyetaraan Siltap Kepala Desa dan Perangkat Desa Tahap I sebesar Rp183,2 miliar telah disalurkan kepada 23 daerah penerima alokasi

Sampai dengan akhir Juni 2020, Dana Bagi Hasil (DBH) telah terealisasi sebesar Rp41,6 triliun atau 48,1 persen dari pagu alokasi. Realisasi DBH tersebut terdiri dari penyaluran DBH TA 2020 sebesar Rp30,4 triliun dan penyaluran kurang bayar (KB) DBH sebesar Rp11,1 triliun. Realisasi tersebut mengalami penurunan sebesar 1,9 persen (YoY). Hal ini selain diakibatkan adanya kebijakan penyesuaian alokasi DBH regular TA 2020 dalam Peraturan Presiden nomor 78 Tahun 2019 tentang Rincian APBN TA 2020, juga karena terdapat perubahan alokasi DBH dari semula Rp117,6 triliun dalam Peraturan Presiden No. 78 Tahun 2019 tentang Rincian APBN TA 2020 menjadi sebesar Rp86,4 triliun, sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Presiden No. 72 Tahun 2020.

Selanjutnya terkait Dana Transfer Khusus, sampai dengan akhir Juni 2020, realisasi DTK mencapai Rp76,7 triliun. Realisasi tersebut terdiri dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dan DAK Non Fisik. Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik sampai dengan 30 Juni 2020 telah terealisasi sebesar Rp5,3 triliun atau 9,9 persen dari pagu alokasi. Realisasi tersebut menunjukkan adanya kenaikan sebesar 6,8 persen (YoY) yang disebabkan beberapa hal. Pertama, adanya percepatan penyelesaian Rencana Kegiatan (RK). Kedua, adanya percepatan penyaluran DAK Fisik Bidang Kesehatan yang terkait kegiatan pencegahan dan/atau penanganan Covid-19, dimana untuk menu kegiatan tersebut disalurkan secara sekaligus setelah revisi RK untuk kegiatan pencegahan dan/atau penanganan Covid-19 yang telah disetujui oleh Kementerian Kesehatan.

Ketiga, percepatan penyaluran sekaligus atas rekomendasi Kementerian/ Lembaga, yang semula baru bisa dilakukan pada bulan Agustus dimajukan menjadi bulan April.

Sementara itu, untuk mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) akibat dampak Covid-19, telah dialokasikan Cadangan DAK Fisik sebesar Rp8,7 triliun dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Rincian

51 APBN Tahun Anggaran 2020.

Cadangan DAK Fisik ditujukan untuk mendanai kegiatan yang memiliki daya dukung tinggi terhadap pemulihan perekonomian Daerah;

mendukung ketahanan pangan;

dan/atau mendukung pengembangan

kawasan strategis pariwisata nasional.

Pelaksanaan kegiatan dapat dilakukan secara padat karya, menggunakan material dan tenaga kerja lokal; dan dapat diselesaikan pada sisa Tahun Anggaran 2020.

Tabel 16 Komposisi Transfer ke Daerah dan Dana Desa Keterangan

Maret 2019 Maret 2020

Nominal

(triliun Rupiah) % APBN Nominal (triliun Rupiah)

% APBN Perpres 72/2020

Transfer Ke Daerah 362,1 47,9 360,2 52,0

Dana Perimbangan 352,3 48,6 344,8 52,8

Dana Bagi Hasil 42,4 39,9 41,6 48,1

Dana Alokasi

Umum 243,5 58,3 226,5 58,9

Dana Transfer

Khusus 66,4 33,2 76,7 41,9

Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang

4,7 21,0 6,9 33,2

Dana Insentif

Daerah 5,2 51,8 8,5 45,9

Dana Desa 41,8 59,8 40,2 56,5

Total 403,9 48,9 400,4 52,4

Sumber: Kementerian Keuangan Penyaluran DAK Nonfisik per 30 Juni 2020 telah mencapai sebesar Rp71,4 triliun atau 55,45 persen dari pagu alokasi. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 16,2 persen (YoY) yang utamanya disebabkan oleh penyaluran Dana BOS untuk dua tahap sebesar 70,0 persen, serta penyaluran dana Tunjangan Profesi Guru (TPG) Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) pada akhir bulan Juni yang pada tahun sebelumnya dilakukan pada awal bulan Juli.

Penyaluran Dana Desa sampai dengan akhir Juni 2020 telah terealisasi

sebesar Rp40,2 triliun atau 56,5 persen dari pagu alokasi. Realisasi tersebut menunjukkan pencapaian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran Dana Desa yang telah masuk ke Rekening Kas Desa (RKD) pada periode yang sama tahun 2019 yang hanya mencapai 27,45 persen dari pagu alokasi. Capaian tersebut merupakan hasil dari perubahan kebijakan dalam penyaluran Dana Desa dengan adanya penyederhanaan proses penyaluran Dana Desa dari Rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke Rekening Kas Umum Daerah

52 (RKUD) dan transfer dari RKUD ke RKD pada waktu yang bersamaan sehingga Dana Desa dapat lebih cepat sampai ke desa.

Berdasarkan capaian Pendapatan dan Belanja Negara, hingga akhir Juni 2020, defisit anggaran mencapai Rp257,8 triliun atau sekitar 1,6 persen terhadap PDB. Besaran defisit ini lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019 yang mencapai 0,85 persen dari PDB.

Sementara itu posisi keseimbangan primer pada Juni 2020 berada pada posisi negatif Rp100,2 triliun dari yang sebelumnya hanya negatif 0,4 triliun pada Juni 2019. Sementara itu, dari sisi pembiayaan anggaran, realisasi hingga Juni 2020 sebesar Rp416,2 triliun.

Gambar 26 Perkembangan Realisasi Defisit APBN

Sumber: Kementerian Keuangan

Dengan kondisi defisit anggaran tersebut, posisi utang Pemerintah per akhir Maret 2020 sebesar Rp5.264,1 triliun, dengan rasio utang pemerintah terhadap PDB sebesar 32,7 persen.

Secara nominal, posisi utang Pemerintah Pusat mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, hal ini disebabkan oleh peningkatan kebutuhan pembiayaan untuk menangani masalah kesehatan dan pemulihan ekonomi nasional akibat Covid-19.

Dalam mengelola keuangan negara, Pemerintah menerapkan strategi kebijakan countercyclical yaitu APBN digunakan sebagai buffer untuk mengakselerasi pembangunan negara. Sumber pembiayaan APBN dipenuhi melalui salah satunya penerbitan Surat Utang Negara yang kebutuhan penerbitannya sesuai target yang ditetapkan dalam APBN.

Namun, sebagai salah satu tanggung jawab pengelolaan keuangan negara, dalam upaya memperoleh sumber pembiayaan khususnya dalam penerbitan surat utang Pemerintah juga menerapkan strategi oportunistik, yaitu diutamakan saat suku bunga sedang bergerak turun agar biaya yang dikeluarkan semakin efisien.

Pemerintah terus berupaya untuk mendorong pembiayaan yang inovatif, fleksibel dan sustainable untuk mendukung pertumbuhan

ekonomi. Dalam rangka

pengembangan instrumen dan basis investor, Pemerintah berencana menerbitkan surat utang yang khusus ditujukan untuk masyarakat Indonesia di luar negeri atau Diaspora Indonesia -135,1

-257,8

-0,85

-1,57

-1,8 -1,3 -0,8 -0,3 0,2 0,7

-400 -350 -300 -250 -200 -150 -100 -50 0

Juni 2019 Juni 2020

Rp Triliun %PDB

53 yang terdiri dari Eks WNI, anak Eks WNI, dan WNA yang orang tuanya WNI atau lebih dikenal dengan Diaspora Bonds. Diaspora Bonds memberikan peluang bagi investor Diaspora Indonesia untuk turut serta berpartisipasi dalam pembangunan negara dan menjadi salah satu alternatif investasi yang dapat digunakan dan bermanfaat bagi diaspora atau anggota keluarga yang ada di Indonesia. Selain itu, Pemerintah dan BI telah bersepakat untuk melakukan pembagian beban (burden sharing) agar penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional dapat terealisasi dengan cepat, tepat, dan akurat.

Tabel 17 Perkembangan Komponen Pembiayaan

Jenis Pembiayaan

Juni-2019 Juni-2020 Nominal

(triliun Rp)

% APBN

Nominal (triliun

Rp)

% APBN Utang

(neto)

180,5 50,2 421,6 -

Investasi -6,5 8,6 - -

Pinjaman 1,4 -58,8 -8,9 -

Penjaminan - 0,0 - -

Lainnya 0,01 0,1 - -

Sumber: Kementerian Keuangan

Gambar 27 Perkembangan Utang Pemerintah Pusat

Sumber: Kementerian Keuangan 3.515,5

4.010,3 4.418,3

4.756,1 5.264,1 28,30

29,51 29,98 29,87 32,67

15,00 20,00 25,00 30,00

2000 3000 4000 5000 6000

2016 2017 2018 2019 Juni 2020

(persen PDB)

(triliun Rp)

Utang Pemerintah Pusat Rasio utang (%PDB)

54

Tabel 18 Realisasi APBN s.d 30 Juni 2019 dan 2020

(triliun rupiah)

2019 2020

Uraian APBN Realisasi s.d.

30 Juni %APBN

APBN (Perpres 72/2020)

Realisasi s.d.30 Juni

% APBN Perpres 72/2020

A. Pendapatan Negara 2165,1 899,6 41,55 1699,9 811,2 47,7

I. Pendapatan Dalam Negeri 2164,7 899,0 41,53 1698,6 809,4 47,7

1. Penerimaan Perpajakan 1786,4 689,9 38,62 1404,5 624,9 44,5

2. Penerimaan Negara Bukan Pajak 378,3 209,1 55,28 294,1 184,5 62,7

II. Hibah 0,4 0,5 120,59 1,3 1,7 133,8

B. Belanja Negara 2461,1 1034,7 42,04 2739,2 1068,9 39,0

I. Belanja Pemerintah Pusat 1634,3 630,8 38,59 1975,2 668,5 33,8

1. Belanja K/L 855,4 342,4 40,02 836,4 350,4 41,9

2. Belanja Non K/L 778,9 288,4 37,03 1138,9 318,1 27,9

II. Transfer Ke Daerah dan Dana Desa 826,8 403,9 48,86 763,9 400,4 52,4

1. Transfer ke Daerah 756,8 362,1 47,85 692,7 360,2 52,0

2. Dana Desa 70 41,8 59,76 71,2 40,2 56,5

C. Keseimbangan Primer -20,1 -0,4 -700,4 -100,2

D. Surplus/(Defisit) Anggaran (A-B) -296,0 -135,1 45,65 -1039,2 -257,8 24,8

% Surplus/(Defisit) Anggaran thd PDB -1,84 -0,85 -6,34 -1,57

E. Pembiayaan Anggaran 296,0 176,3 59,57 1039,2 416,2 40,0

al. Pembiayaan Utang 359,2 180,5 50,20 1220,4 421,55 34,54

Sumber: Kementerian Keuangan, 2020

55

2.4 Moneter dan Jasa

Dalam dokumen ISSN 2580-2518 (Halaman 47-57)

Dokumen terkait