• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proyeksi Perekonomian Indonesia

Dalam dokumen ISSN 2580-2518 (Halaman 90-102)

III. PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI

3.2 Proyeksi Perekonomian Indonesia

88 perekonomian di berbagai negara yang masih belum stabil mendorong peningkatan permintaan investor akan komoditas emas sebagai aset safe haven. Harga rata-rata emas sepanjang tahun 2020 diprediksi mencapai USD1.600 per troy ons.

3.2 Proyeksi Perekonomian

89 Kedua, akselerasi belanja pemerintah dan program Pemulihan Ekonomi Nasional:

• Akselerasi belanja pemerintah yang masih lambat hingga semester I 2020 akan meningkatkan kontribusi baik konsumsi maupun investasi pemerintah terhadap pertumbuhan pada semester II 2020.

• Akselerasi dan perluasan bantuan PEN kepada masyarakat, baik dalam bentuk bantuan sosial atau lainnya, akan mendorong peningkatan konsumsi masyarakat.

• Akselerasi program PEN untuk dunia usaha, UMKM dan korporasi, akan menahan laju penurunan investasi swasta.

Ketiga, berlanjutnya pemulihan ekonomi global. Saat ini risiko terbesar

bersumber dari tanda-tanda terjadinya gelombang kedua Covid-19 di berbagai negara, di antaranya Amerika Serikat, Australia, Spanyol, Jerman, dan Jepang. Penerapan kembali lockdown di negara-negara tersebut akan menghambat proses pemulihan di tingkat global.

Dari sisi PDB lapangan usaha, pemulihan ekonomi pada triwulan III dan IV 2020 akan tergantung pada pemulihan sektor dengan kontribusi besar terhadap PDB, di antaranya industri pengolahan dan perdagangan. Selepas relaksasi PSBB, tanda-tanda pemulihan sektor industri terlihat dari meningkatnya Indeks PMI manufaktur Indonesia. Sementara sektor perdagangan mulai membaik seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat.

Tabel 43 PDB Berdasarkan Lapangan Usaha

Komponen Pengeluaran S1 Q3 Q4 Full Year

Pertanian 1,2 0,8 – 1,2 1,3 – 1,8 1,1 – 1,3

Pertambangan (1,1) (1,5) – (0,3) (0,5) – 0,7 (1,0) – (0,5) Industri Pengolahan (2,1) (3,4) – (2,0) (0,5) – 2,5 (2,4) – (0,5) Pengadaan Listrik (0,8) 0,2 – 0,8 1,2 – 2,9 (0,1) – 0,7

Pengadaan Air 4,6 4,3 – 5,1 4,5 – 5,4 4,6 – 4,8

Konstruksi (1,3) (1,4) – 0,1 (0,4) – 1,5 (0,9 – (0,3) Perdagangan (3,0) (4,8) – (2,1) 0,4 – 1,5 (3,3) – (1,0) Transportasi (15,1) (19,0) – (12,5) (14,7) – (6,4) (15,4) – (12,7) Penyediaan Akomodasi (10,1) (16,7) – (13,7) (6,1) – (3,2) (12,7) – (7,3) Informasi dan Komunikasi 10,3 11,2 – 10,8 12,3 – 11,9 10,7 -11,2 Jasa Keuangan dan Asuransi 5,9 2,5 – 3,2 3,3 – 3,7 4,3 – 4,7

Real Estat 3,0 2,5 – 3,2 3,0 – 3,7 3,0 – 3,2

Jasa Perusahaan (3,5) (1,1) – 2,3 1,0 – 4,4 (1,4) – (0,3) Administrasi Pemerintah (0,1) 0,4 – 3,3 1,4 – 4,4 1,0 – 1,5

Jasa Pendidikan 3,5 2,1 – 3,0 3,1 – 4,1 3,0 – 3,6

Jasa Kesehatan 7,0 4,0 – 5,3 5,1 – 6,4 5,8 – 6,4

Jasa Lainnya (2,9) (4,3) – (1,7) 1,1 – 3,8 (3,0)- (0,2)

PDB (1,3) (2,2) – 0,0 0,3 – 3,1 (1,1) – 0,2

Sumber: Outlook Bappenas, Agustus 2020

90 Terdapat beberapa sektor yang diperkirakan akan tumbuh menguat di tengah pandemi, yakni jasa informasi dan komunikasi serta jasa kesehatan.

Permintaan akan produk sektor informasi dan komunikasi meningkat cukup signifikan, khususnya pada paket data untuk memenuhi kebutuhan selama work from home.

Sementara itu, jasa kesehatan merupakan kebutuhan esensial terutama dalam hal pemenuhan obat- obatan, farmasi, dan alat kesehatan.

Di sisi lain, sektor transportasi dan pergudangan serta penyediaan akomodasi dan makanan minum merupakan dua sektor yang merasakan dampak negatif terbesar COVID-19 pada tahun 2020.

Pemulihan kedua sektor tersebut juga diperkirakan akan membutuhkan waktu yang lebih panjang jika dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.

91

POLICY BRIEF

MENGAMANKAN KESEHATAN DAN MENGGERAKKAN EKONOMI:

PEMETAAN SEKTOR EKONOMI DI TENGAH COVID-19 (M. Firman Hidayat, Wening Ayu S, Sekar Sanding K) LATAR BELAKANG

Gambar 51 Menyeimbangkan Kesehatan dan Ekonomi

Kebijakan physical distancing dan penerapan PSBB yang diterapkan hingga awal Juni menyebabkan kontraksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II mencapai 5,32 persen (YoY). Relaksasi kebijakan PSBB yang dilakukan secara bertahap sejak Juni diharapkan mampu untuk menggerakkan ekonomi. Akan tetapi, kasus COVID-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan selama periode relaksasi kebijakan PSBB.

Dihadapkan pada situasi tersebut, perlu ada alternatif kebijakan yang tetap memprioritaskan sisi kesehatan, tetapi di saat yang bersamaan mampu menggerakkan ekonomi.

Gambar 52 Kerangka Pemetaan Sektor Ekonomi

92

Studi ini melakukan pemetaan sektor ekonomi sebagai dasar pertimbangan untuk menjaga keseimbangan antara kesehatan dan ekonomi. Pemetaan sektor dilakukan terhadap tiga aspek: (1) risiko infeksi terhadap penyakit; (2) tingkat esensialitas; (3) relevansi ekonomi berdasarkan jumlah tenaga kerja, mengikuti pendekatan Rio- Chanona et al (2020). Pemetaan sektor yang dihasilkan dapat digunakan sebagai panduan untuk pembukaan dan penyusunan protokol sektor ekonomi.

STUDI LITERATUR

Berbagai studi telah dilakukan untuk melihat dampak Covid-19 terhadap ekonomi.

Barrot et al. (2020) dalam studinya melihat bagaimana perubahan supply pada level industri akibat pemberlakuan social distancing dengan memperhatikan tingkat esensialitas sektor dan kemampuan untuk dapat bekerja dari rumah. Dengan menggunakan model Input-Output, studi ini menunjukkan bahwa pemberlakuan social distancing selama 6 minggu di Prancis akan menurunkan PDB sebesar 5,6 persen. Studi yang dilakukan oleh Rio-Chanona et al (2020) melakukan pemetaan sektor dengan memperhitungkan supply shock dan demand shock akibat kebijakan social distancing. Studi ini menunjukkan bahwa Covid-19 berdampak pada penurunan PDB Amerika Serikat (AS) sebesar 22 persen.

Kebijakan social distancing atau lockdown yang berkepanjangan akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap perekonomian sehingga perlu secepatnya dilakukan pembukaan kembali kegiatan ekonomi. Pembukaan kembali ekonomi harus tetap sesuai dengan protokol kesehatan sebagaimana yang dianjurkan oleh WHO. Penggunaan masker ketika melakukan kegiatan di luar rumah menjadi mutlak untuk dilakukan. Meneliti 9 negara, studi dari Chen dan Qiu (2020) menunjukkan langkah Non Pharmaceutical Intervention (NPI) yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran wabah Covid-19 di luar kebijakan lockdown adalah kombinasi penutupan sekolah, karantina terpusat, dan memakai masker. Hasil studi L Tian et al (2020) juga menunjukkan bahwa apabila lebih dari 80 persen masyarakat menggunakan masker dengan kualitas yang baik (minimal masker bedah), maka penyebaran Covid-19 dapat ditekan secara signifikan.

Studi yang dilakukan Baqaee et al (2020) mengombinasikan model epidemiologi dan ekonomi untuk menjawab berbagai pertanyaan terkait pembukaan ekonomi di AS.

Temuan studi ini di antaranya: (1) pembukaan ekonomi secara bertahap akan memberikan dampak ekonomi dan kesehatan yang sedang tapi bermanfaat secara keseluruhan; (2) pembukaan ekonomi secara langsung akan berisiko pada munculnya gelombang kedua penyebaran virus; dan (3) langkah memperkuat kapasitas testing, tracing, dan isolasi mampu memberikan dukungan bagi upaya pembukaan ekonomi.

93

Sebuah survei yang dilakukan oleh Mlive (202), perusahaan media di Michigan, mencoba memetakan risiko penyebaran Covid-19 pada sektor yang lebih spesifik, yakni terkait dengan pariwisata dan hiburan. Hasil survei menunjukkan risiko penyebaran virus semakin bervariasi ketika analisis dilakukan pada sektor yang lebih rinci. Sebagai contoh, risiko penyebaran untuk restoran bergantung pada layanan yang diberikan. Restoran dengan layanan take away atau outdoor memiliki risiko penyebaran yang lebih rendah dibandingkan dengan restoran indoor atau prasmanan.

METODOLOGI

Rio-Chanona et al (2020) menggunakan penggolongan sektor yang telah dilakukan oleh pemerintah Italia dalam menentukan sektor esensial dan tidak esensial. Sektor yang dibutuhkan selama masa pandemi seperti sektor jasa kesehatan dan pertanian dikategorikan sebagai sektor esensial. Penggolongan tersebut tersedia dalam klasifikasi NAICS 4-digit. Untuk menyesuaikan klasifikasi tersebut dalam konteks Indonesia, studi ini melakukan konversi klasifikasi NAICS menjadi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI). Selanjutnya, penyesuaian terhadap beberapa sektor dilakukan untuk lebih menggambarkan keadaan di Indonesia.

Adapun perhitungan risiko infeksi dilakukan dengan mengadopsi indeks risiko terpapar penyakit oleh O*NET yang didasarkan pada kuesioner konteks pekerjaan di AS. Indeks risiko infeksi ini menggunakan klasifikasi standar pekerjaan AS, sehingga perlu dikonversikan ke dalam Klasifikasi Jabatan Indonesia (KJI) 1982 dan Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI) 2009 3-digit. Untuk melihat risiko berdasarkan sektor, studi ini melakukan tabulasi silang antara jumlah tenaga kerja pada setiap KJI 1982 terhadap Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI) 2009 dan menghitung rerata tertimbang masing-masing lapangan usaha.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar di bawah menunjukkan hasil pemetaan 17 sektor ekonomi yang dibagi ke dalam 4 kuadran:

• Kuadran I merupakan sektor-sektor dengan tingkat esensialitas dan risiko infeksi di atas rata-rata: jasa kesehatan, jasa pendidikan, pertanian, transportasi pergudangan, konstruksi, dan pengadaan listrik. Meski memiliki risiko infeksi yang tinggi, sektor-sektor yang masuk kuadran I harus tetap beroperasi, tetapi dengan protokol kesehatan yang ketat.

• Kuadran II merupakan sektor-sektor dengan tingkat esensialitas di atas rata- rata, tetapi risiko infeksi di bawah rata-rata: perdagangan dan reparasi, informasi dan komunikasi, keuangan, jasa perusahaan, administrasi pemerintahan, dan pengadaan air. Sektor-sektor yang ada di kuadran II tetap

94

dapat beroperasi dengan protokol kesehatan standar mengingat risiko infeksi yang relatif rendah.

• Kuadran III merupakan sektor-sektor dengan tingkat esensialitas dan risiko infeksi di bawah rata-rata: industri pengolahan dan real estat. Meski tingkat esensialitasnya di bawah rata-rata, tetapi sektor-sektor di kuadran III tetap dapat beroperasi dengan protokol kesehatan standar mengingat risiko infeksi yang relatif rendah.

• Kuadran IV merupakan sektor-sektor dengan tingkat esensialitas di bawah rata-rata dan risiko infeksi di atas rata-rata: pertambangan, penyedia akomodasi makan minum, dan jasa lainnya. Sektor-sektor yang masuk dalam kuadran IV menjadi prioritas terakhir untuk dibuka. Jikapun dibuka, sektor ini harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat, salah satunya pengurangan kapasitas.

Gambar 53 Pemetaan Sektor Ekonomi

Berdasarkan Risiko Infeksi, Tingkat Esensialitas, dan Tenaga Kerja

Pemetaan terhadap 17 sektor ekonomi memberikan gambaran awal yang dapat dijadikan panduan bagi Pemerintah dalam menyeimbangkan antara kesehatan dan ekonomi di tengah wabah Covid-19. Sektor-sektor pada kuadran II dan III dapat mulai beroperasi di masa relaksasi PSBB sehingga penurunan aktivitas ekonomi tidak terlalu dalam. Pemetaan yang dilakukan juga memberikan panduan terhadap Pemerintah mengenai sektor-sektor mana yang harus menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat dibandingkan sektor lainnya.

-0.20 0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20

-10 0 10 20 30 40 50 60 70

TETAP BEROPERASI DENGAN PROTOKOL KESEHATAN YANG KETAT

PALING AKHIR DIBUKA.

DIBUKA DENGAN KAPASITAS

< 100% DENGAN PROTOKOL KESEHATAN YANG KETAT DAPAT BEROPERASI DENGAN

TETAP MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN STANDAR

DAPAT BEROPERASI DENGAN TETAP MENERAPKAN PROTOKOL

KESEHATAN STANDAR KUADRAN II:

- Essensial > rata-rata - Risiko Transmisi < rata-rata

KUADRAN IV:

- Essensial < rata-rata - Risiko Transmisi > rata-rata KUADRAN III:

- Essensial < rata-rata - Risiko Transmisi < rata-rata

KUADRAN I:

- Essensial > rata-rata - Risiko Transmisi > rata-rata

Besar lingkaran menggambarkan jumlah tenaga kerja

46,42%

%Persentase jumlah tenaga kerja

Keterangan:

12,20%

15,0%

26,38%

Tingkat esensialitas

Risiko infeksi Jasa kesehatan

Pertanian Jasa pendidikan Transportasi

pergudangan

Pertambangan

Penyedia Akomodasi Mamin Pengadaan Air

Pengadaan Listrik dan Gas

Jasa lainnya

Real Estat Industri pengolahan Perdagangan dan reparasi

Infokom Jasa perusahaan

Konstruksi Jasa keuangan

Adm. pemerintah

95

Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, pemetaan yang lebih rinci diperlukan.

Gambar 55 menunjukkan hasil pemetaan Kementerian PPN/Bappenas dengan menggunakan KBLI 2 digit. Dalam pemetaan sebelumnya, industri pengolahan secara keseluruhan dikategorikan dalam kuadran III, tetapi jika dilihat lebih rinci, terdapat sektor industri, salah satunya industri makan minuman, yang masuk dalam kuadran II. Contoh lain, di dalam sektor perdagangan dan reparasi, perdagangan eceran masuk dalam kuadran II, sementara reparasi mobil dan motor masuk dalam kuadran IV.

Gambar 54 Pemetaan Sektor Ekonomi KBLI 2 Digit Berdasarkan Risiko Infeksi, Tingkat Esensialitas, dan Tenaga Kerja

Pemetaan yang dilakukan dalam studi ini memiliki setidaknya dua kelemahan.

Pertama, nilai esensialitas dan risiko transmisi sektor ekonomi yang digunakan pada studi ini masih berdasarkan hasil survei yang dilakukan di negara maju. Diperlukan survei khusus untuk Indonesia yang menilai sektor ekonomi berdasarkan tingkat esensialitas dan risiko transmisinya terhadap penyebaran virus Covid-19. Kedua, studi ini hanya mampu melakukan pemetaan terhadap sektor ekonomi hingga KBLI 2 digit.

Pemetaan sektor yang lebih rinci diperlukan untuk memberikan gambaran lebih akurat, sebagaimana terlihat dalam hasil studi oleh Mlive (2020) pada sektor restoran.

REKOMENDASI KEBIJAKAN

Terlepas dari kelemahan yang ada, pemetaan terhadap sektor ekonomi yang dilakukan studi ini dapat dijadikan panduan awal bagi Pemerintah dalam menyusun kebijakan yang dapat menyeimbangkan antara kesehatan dan ekonomi di tengah wabah Covid-19. Sebagai ilustrasi, seandainya sebagian besar pekerja di suatu daerah bekerja di sektor pertanian yang masuk dalam kuadran I, maka Pemerintah Daerah

-0.20 0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20

-10.00 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00

Tingkat esensialitas

Risiko infeksi TETAP BEROPERASI DENGAN PROTOKOL KESEHATAN YANG KETAT

PALING AKHIR DIBUKA.

DIBUKA DENGAN KAPASITAS

< 100% DENGAN PROTOKOL KESEHATAN YANG KETAT DAPAT BEROPERASI DENGAN

TETAP MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN STANDAR

DAPAT BEROPERASI DENGAN TETAP MENERAPKAN PROTOKOL

KESEHATAN STANDAR KUADRAN II:

- Essensial > rata-rata - Risiko Transmisi < rata-rata

KUADRAN IV:

- Essensial < rata-rata - Risiko Transmisi > rata-rata KUADRAN III:

- Essensial < rata-rata - Risiko Transmisi < rata-rata

KUADRAN I:

- Essensial > rata-rata - Risiko Transmisi > rata-rata

Besar lingkaran menggambarkan jumlah tenaga kerja Keterangan:

Industri makanan

Industri minuman

Perdagangan eceran

Perdagangan dan Reparasi mobil dan motor

96

dapat menyusun program pemberian masker gratis bagi petani atau nelayan.

Pemberian tes yang rutin pada sektor-sektor dengan risiko tinggi, tetapi esensial juga perlu dilakukan untuk memastikan sektor ini dapat berjalan dengan normal.

Pemerintah perlu lebih berhati-hati dalam membuka kembali sektor-sektor yang masuk dalam kuadran IV. Selain menerapkan protokol kesehatan yang ketat, pada tahap awal pembukaannya, sektor-sektor tersebut dapat beroperasi, tetapi tidak dengan kapasitas 100 persen. Sektor-sektor pada kuadran II dan III merupakan sektor-sektor yang tetap dapat beroperasi jika seandainya kebijakan PSBB kembali diterapkan.

REFERENSI

Barrot, J-N, B Grassi and J Sauvagnat (2020), “Sectoral effects of social distancing”, Covid Economics, 3: 85-102.

Chen, X, and Z Qiu (2020), “Scenario Analysis Of Non-Pharmaceutical Interventions On Global Covid-19 Transmissions”, Covid Economics, 7: 46-67.

del Rio-Chanona, R M, P Mealy, A Pichler, F Lafond and J D Farmer (2020), “Supply and demand shocks in the COVID-19 pandemic: An industry and occupation perspective”, Covid Economics, 6: 65-104.

David Baqaee, et al (2002), “Reopening Scenarios”, NBER Working Paper No. 27244.

Mlive (2020), https://www.mlive.com/public-interest/2020/06/from-hair-salons-to- gyms-experts-rank-36-activities-by-coronavirus-risk-level.html

Tian, L et al (2020), “Calibrated Intervention and Containment of the COVID-19 Pandemic”.

SUSUNAN TIM REDAKSI

Penanggungjawab Ir. Bambang Prijambodo, MA

Pemimpin Redaksi Eka Chandra Buana, SE, MA

Dewan Redaksi

Dr. Ir. Boediastoeti Ontowirjo, MBA Dr. Onny Noyorono, MIA, MA

Leonardo Adypurnama Alias Teguh Sambodo, SP, MS, Ph.D P.N. Laksmi Kusumawati, SE, MSE, MSc, Ph.D

Drs. I Dewa Gde Sugihamretha, MPM Dr. Haryanto, SE, MA

Ir. Sidqy Lego Pangesthi Suyitno, MA Ir. Imarita Trihanda, MS

Redaktur Pelaksana Cut Sawalina, SE, MSi

Mochammad Firman Hidayat, SE, MA Toni Priyanto J, S.Kom, ME Rosy Wediawaty, SE, MSE, MSc

Tari Lestari, S.Si, SE, MS Muhammad Fahlevy, SE, MA

Octal Pramudito, SE, MA Dra. Dwi Martini, ME Yunus Gastanto, SE, PG.Dip Istasius Angger Anindito, SE, MA

Yogi Harsudiono, SE, MPA Ibnu Yahya, SE, M.Ec. Pol

Sukhad, S.IP Drs. Muhammad Arif, Msi

Fajar Hadi Pratama, ST Rufita Sri Hasanah, SE, MEF

SUSUNAN TIM REDAKSI

Penulis Filza Amalia, SE Rakhmi Fadillah, SE Mario Rosario Wisnu Aji, SE

Achmad Rifa’I, S.Pd, M.Sc Haqiqi Masnatin, SE Rahma Hanii Maulida, SE

Rinda Komalasari, SE Firdaussy Yustiningsih, STP, ME

Sharmila Erizaputri, SE

Hillary Tanida Stephany Sitompul, S.HI Richard Lorenz Hasiholan Silitonga, SE

Aris Saputra, SE Aldi Turindra Rachman, SE

Deni Apriyanto, SE Hilda Roseline, SE Mutiara Maulidya, SE Widyastuti Hardaningtyas, SE Widath Chaerunissa Ayuningtyas, SE

Zakka Farisy, SE Imroatul Amaliyah, SE Muhammad Fikri Masteriarsa, S.Stat

Distributor/Sirkulasi Imam Musadad

Tulus Sujadi

Administrasi Dina Fitriani, SPd Riris Karisma Kholid, SE

Editor

Rahma Hanii Maulida, SE

Grafis dan Layout Zaid Fadhlurrahman, S.Kom

Untuk memberikan hasil laporan terbaik,

kami mengharapkan saran dan kritik membangun dari pembaca.

Kritik dan saran harap dikirimkan ke alamat surat elektronik berikut [email protected]

Dalam dokumen ISSN 2580-2518 (Halaman 90-102)

Dokumen terkait