II. PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA
2.5 Neraca Pembayaran
Neraca Pembayaran Indonesia mengalami surplus.
Neraca pembayaran Indonesia pada triwulan II tahun 2020 surplus sebesar USD9,2 miliar, setelah mengalami defisit pada triwulan sebelumnya.
Surplus yang cukup tinggi didorong oleh berkurangnya defisit transaksi berjalan serta meningkatnya surplus transaksi modal dan finansial.
Gambar 47 Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia
Sumber: Bank Indonesia
Defisit transaksi berjalan kembali turun menjadi USD2,9 miliar atau setara dengan 1,2 persen dari PDB.
Penyusutan defisit transaksi berjalan didorong oleh surplus neraca barang dan turunnya defisit neraca pendapatan primer.
Surplus neraca barang pada triwulan II tahun 2020 sebesar USD4,0 miliar, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai USD4,4 miliar. Penurunan surplus tersebut disebabkan oleh turunnya surplus neraca barang nonmigas, karena berkurangnya defisit neraca migas.
Pelemahan permintaan global akibat Covid-19 berdampak pada penurunan harga komoditas yang menyebabkan penurunan nilai ekspor nonmigas, yang terkontraksi 11,8 (YoY), sedangkan triwulan I tahun 2020 tumbuh 3,3 persen (YoY).
Sementara itu, impor nonmigas mengalami kontraksi lebih dalam pada triwulan II tahun 2020, yaitu sebesar 16,8 persen (YoY), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi mencapai 7,4 persen (YoY). Menurut kelompok barang, impor bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi mengalami kontraksi masing-masing sebesar 10,6; 3,8; dan 1,2 persen (YoY).
Surplus neraca jasa perjalanan menurun signifikan.
Neraca jasa pada triwulan II tahun 2020 mengalami defisit sebesar USD2,2 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang mencapai USD1,9 miliar. Peningkatan defisit ini terutama dipengaruhi oleh defisit neraca jasa perjalanan yang menurun signifikan akibat kebijakan pelarangan -10
-5 0 5 10 15
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020
(miliar USD)
Transaksi Berjalan
Transaksi Modal dan Finansial Neraca Keseluruhan
71 penerbangan internasional untuk mengurangi penyebaran Covid-19.
Gambar 48 Neraca Jasa Perjalanan dan Transportasi
Sumber: Bank Indonesia
Neraca jasa perjalanan mengalami defisit sebesar USD3,0 juta, yang pada kondisi normal selalu mengalami surplus. Defisit neraca jasa perjalanan tersebut dipengaruhi oleh penurunan ekspor perjalanan yang lebih dalam dibandingkan impor perjalanan seiring dengan rendahnya wisatawan mancanegara yang hanya mencapai 484 ribu kunjungan selama triwulan II tahun 2020.
Sementara itu, kinerja neraca jasa transportasi mengalami defisit yang lebih rendah pada triwulan II tahun 2020, terutama disebabkan oleh penurunan pembayaran jasa freight menjadi sebesar USD1,5 miliar. Selain itu, defisit jasa transportasi penumpang juga mengalami penurunan menjadi USD10,0 juta, lebih rendah dibandingkan triwulan
sebelumnya sebesar USD0,1 miliar, sejalan dengan turunnya kunjungan wisatawan nasional ke luar negeri.
Neraca pendapatan primer membaik, neraca pendapatan sekunder menurun.
Defisit neraca pendapatan primer pada triwulan II tahun 2020 sebesar USD6,2 miliar, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai USD7,9 miliar.
Perbaikan defisit neraca pendapatan primer didorong oleh penurunan pembayaran hasil investasi langsung, serta peningkatan penerimaan investasi langsung dan portofolio.
Lebih lanjut, penurunan pembayaran sejalan dengan menurunnya kinerja korporasi migas dan nonmigas akibat kontraksi pertumbuhan ekonomi domestik.
Gambar 49 Neraca Pendapatan Primer dan Sekunder
Sumber: Bank Indonesia -4,0
-3,0 -2,0 -1,0 0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020
(miliar USD)
Ekspor Transportasi Impor Transportasi Ekspor Perjalanan Impor Perjalanan
-12,0 -7,0 -2,0 3,0
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020
(miliar USD)
Penerimaan Pendapatan Primer Pembayaran Pendapatan Primer Penerimaan Pendapatan Sekunder Pembayaran Pendapatan Sekunder
72 Selanjutnya, neraca pendapatan sekunder pada triwulan II tahun 2020 mengalami surplus sebesar USD1,4 miliar, turun dari surplus triwulan sebelumnya sebesar USD1,7 miliar.
Penurunan ini utamanya didorong oleh realisasi penerimaan transfer personal dalam bentuk remitansi yang menurun. Hal ini sejalan dengan turunnya jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri akibat Covid-19 serta penghentian pengiriman PMI ke luar negeri sementara sesuai Kepmenaker No. 151 Tahun 2020.
Likuiditas global meningkat, investasi meningkat.
Gambar 50 Neraca Transaksi Finansial
Sumber: Bank Indonesia
Transaksi modal dan finansial pada triwulan II tahun 2020 mencapai surplus yang cukup tinggi sebesar USD10,5 miliar, sedangkan triwulan sebelumnya defisit USD3,0 miliar.
Surplus pada transaksi modal dan finansial utamanya ditopang oleh
aliran masuk neto investasi portofolio dan investasi langsung.
Arus modal asing mulai masuk kembali ke Indonesia terutama dalam bentuk investasi portofolio, setelah sebelumnya sempat terjadi kepanikan di pasar keuangan global akibat Covid-19. Investasi portofolio pada triwulan II tahun 2020 sebesar USD9,8 miliar, setelah pada triwulan sebelumnya mengalami defisit USD6,1 miliar. Peningkatan arus masuk melalui investasi portofolio didorong oleh penerbitan global bonds oleh pemerintah dan korporasi serta pembelian Surat Utang Negara (SUN).
Investasi langsung juga berkontribusi terhadap surplus transaksi modal dan finansial, meskipun terjadi perlambatan pada triwulan II tahun 2020 sebesar USD3,4 miliar. Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan lesunya aktivitas ekonomi dunia, kinerja investasi langsung yang masih surplus merupakan gambaran bahwa ekonomi Indonesia masih terjaga serta masih menarik bagi investor.
Posisi cadangan devisa mengalami kenaikan pada triwulan II tahun 2020 menjadi sebesar USD131,7 miliar atau setara dengan pembiayaan 8,1 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan. Dengan demikian, berbagai indikator NPI secara umum masih menunjukkan sustainablitas eksternal yang terjaga.
-10 -5 0 5 10 15
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020
(miliar USD)
Investasi Langsung Investasi Portofolio Investasi Lainnya
73
Tabel 27 Neraca Pembayaran Tahun 2015 – Triwulan II tahun 2020
(miliar USD)
2015 2016 2017 2018 2019:1 2019:2 2019:3 2019:4 2020:1 2020:2
TRANSAKSI BERJALAN -17,5 -17,0 -16,2 -30,6 -6,6 -8,2 -7,5 -8,1 -3,7 -2,9
BARANG 14,0 15,3 18,8 -0,2 1,3 0,6 1,4 0,3 4,4 4,0
Ekspor 149,1 144,5 168,9 180,7 41,2 40,2 43,7 43,4 41,7 34,7
Impor -135,1 -129,2 -150,1 -181,0 -39,9 -39,6 -42,3 -43,1 -37,4 -30,7
Barang Dagangan Umum 13,3 14,7 17,9 -0,2 0,8 0,2 0,7 0,0 3,1 2,5
Ekspor 147,7 143,1 167,0 178,7 40,4 39,4 42,5 42,7 40,0 33,0
Impor -134,4 -128,4 -149,1 -178,9 -39,6 -39,2 -41,8 -42,7 -37,0 -30,5
a. Nonmigas 19,0 19,5 25,3 11,2 2,9 3,1 2,7 3,2 5,8 3,3
Ekspor 130,5 130,2 151,4 161,1 37,4 36,4 39,5 39,7 37,7 31,2
Impor -111,5 -110,7 -126,2 -149,9 -34,5 -33,3 -36,7 -36,5 -31,9 -27,9
b. Migas -5,7 -4,8 -7,3 -11,4 -2,1 -2,9 -2,1 -3,2 -2,7 -0,8
Ekspor 17,2 12,9 15,6 17,6 3,0 2,9 3,0 3,0 2,3 1,8
Impor -22,9 -17,7 -22,9 -29,0 -5,2 -5,8 -5,1 -6,2 -5,1 -2,6
Barang Lainnya 0,7 0,6 0,9 0,0 0,5 0,3 0,7 0,3 1,3 1,5
Ekspor 1,4 1,4 1,9 2,0 0,8 0,8 1,2 0,7 1,7 1,6
Impor -0,7 -0,8 -1,0 -2,0 -0,3 -0,5 -0,5 -0,4 -0,4 -0,1
JASA-JASA -8,7 -7,1 -7,4 -6,5 -1,6 -1,9 -2,3 -2,0 -1,9 -2,2
Ekspor 22,2 23,3 25,3 31,2 7,5 7,4 8,4 8,4 6,0 2,6
Impor -30,9 -30,4 -32,7 -37,7 -9,0 -9,2 -10,7 -10,4 -7,9 -4,7
PENDAPATAN PRIMER -28,4 -29,6 -32,1 -30,8 -8,1 -8,9 -8,4 -8,3 -7,9 -6,2
PENDAPATAN SEKUNDER 5,5 4,5 4,5 6,9 1,8 2,0 1,8 2,0 1,7 1,4
TRANSAKSI MODAL 0,0 0,0 0,0 0,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
TRANSAKSI FINANSIAL 16,8 29,3 28,7 25,1 9,9 6,8 7,4 12,6 -3,0 10,5
Aset -21,5 15,9 -18,4 -19,2 -6,9 -4,0 -4,0 -0,5 -4,7 -0,8
Kewajiban 38,3 13,4 47,1 44,3 16,8 10,8 11,5 13,1 1,7 11,3
INVESTASI LANGSUNG 10,7 16,1 18,5 12,5 6,0 6,0 5,4 3,2 4,1 3,4
Aset -9,1 11,6 -2,0 -6,4 -0,8 -1,6 -0,6 -1,4 -0,7 -0,7
Kewajiban 19,8 4,5 20,5 18,9 6,8 7,6 6,0 4,6 4,7 4,1
74
Lanjutan Tabel 27 Neraca Pembayaran Tahun 2015 – Triwulan II tahun 2020
(miliar USD)
2015 2016 2017 2018 2019:1 2019:2 2019:3 2019:4 2020:1 2020:2
INVESTASI PORTFOLIO 16,2 19,0 21,1 9,3 5,5 4,6 4,6 7,3 -6,1 9,8
Aset -1,3 2,2 -3,4 -5,2 0,1 0,0 0,0 0,3 -0,1 -0,2
Kewajiban 17,5 16,8 24,4 14,5 5,4 4,6 4,7 6,9 -6,0 9,9
DERIVATIF FINANSIAL 0,0 0,0 -0,1 0,0 0,1 0,0 0,1 0,0 -0,3 0,1
INVESTASI LAINNYA -10,1 -5,8 -10,7 3,3 -1,7 -3,8 -2,6 2,1 -0,7 -2,7
TOTAL -0,7 12,4 12,5 -5,4 3,3 -1,4 0,0 4,5 -6,8 7,6
NERACA KESELURUHAN -1,1 12,1 11,6 -7,1 2,4 -2,0 0,0 4,3 -8,5 9,2
Posisi Cadangan Devisa 105,9 116,4 130,2 120,7 124,5 123,8 124,3 129,2 121,0 131,7
Dalam Bulan Impor 7,4 8 8 6,4 6,7 6,7 6,9 7,3 7,0 8,1
Transaksi Berjalan/PDB (%) -2,03 -2 -2 -3,7 -2,5 -3,0 -2,6 -2,8 -1,4 -1,2
Sumber: Bank Indonesia, diolah
75
Neraca Perdagangan
Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus.
Pada triwulan II tahun 2020, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD2,9 miliar dengan ekspor total sebesar USD34,6 miliar dan impor total sebesar USD31,7 miliar. Namun demikian, ekspor total dan impor total mengalami penurunan baik secara triwulanan maupun tahunan. Neraca perdagangan ekspor turun sebesar 17,1 persen (QtQ) dan 12,5 persen (YoY). Sedangkan, neraca perdagangan impor turun sebesar 19,0 persen (QtQ) dan 23,5 persen (YoY). Penurunan ekspor total maupun impor total tersebut disebabkan adanya penurunan baik pada jenis migas maupun non migas.
Tabel 28 Neraca Perdagangan Uraian
2019 2020
Q2 Q1 Q2
juta USD
Neraca Total -1.917,9 2.591,9 2.892,658 Ekspor Total 39.583,3 41.760,8 34.626,8 Impor Total 41.501,2 39.169,0 31.734,2 Neraca Nonmigas 1.756,1 5.658,7 3.383,7 Ekspor Nonmigas 37.126,8 39.486,4 32.932,9 Impor Nonmigas 35.370,7 33.827,7 29.549,2 Neraca Migas -4.728,4 -3.066,9 -495,219 Ekspor Migas 1.402,2 2.274,4 1.693,8 Impor Migas 6.130,6 5.341,3 2.188,9
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
Neraca perdagangan migas
Memasuki tahun 2020, perdagangan migas mengalami tekanan yang disebabkan oleh tertekannya perekonomian dunia karena pandemi
COVID-19, serta penyesuaian produksi minyak mentah. Permintaan minyak mentah yang turun tajam, sedangkan produksi minyak mentah melimpah, menyebabkan penurunan harga minyak mentah dunia sejak awal tahun 2020, dan mencapai harga terendahnya pada bulan April 2020.
Pada triwulan II tahun 2020, defisit neraca perdagangan migas mengalami penurunan menjadi USD0,5 miliar dimana ekspor migas Indonesia mengalami kontraksi sebesar 25,5 persen (QtQ), sedangkan dibandingkan tahun sebelumnya, ekspor migas dapat tetap terjaga dan tumbuh sebesar 20,8 persen (YoY).
Dengan tertekannya perekonomian domestik akibat pandemi Covid-19, impor migas Indonesia juga mengalami penurunan sebesar 59,0 persen (QtQ) dan 64,3 persen (YoY).
Tabel 29 Nilai Ekspor dan Impor Migas Uraian Q2 2020 Nilai
(juta USD)
Growth (%) Share thd Total*
QtQ YoY (%)
Ekspor Migas 1.693,8 -25,5 20,8 4,9 Minyak
Mentah 78,8 -59,5 -50,5 0,2 Hasil Minyak 346,6 -13,6 -0,9 1,0 Gas 1.268,4 -24,4 -28,1 3,6 Impor Migas 2.188,9 -59,0 -64,3 6,9
Minyak
Mentah 329,4 -80,0 -78,3 1,0 Hasil Minyak 1.312,4 -54,3 -65,4 4,1 Gas 547,1 -33,4 -32,8 1,7
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
* share thd total ekpor/impor
Neraca perdagangan Nonmigas Pada triwulan II tahun 2020, ekspor dan impor nonmigas mengalami
76 penurunan dibandingkan triwulan I tahun 2020 maupun triwulan II tahun 2019. Namun demikian, penurunan pada impor nonmigas jauh lebih dalam dibandingkan penurunan ekspor nonmigas, sehingga neraca perdagangan nonmigas pada triwulan II tahun 2020 masih mengalami surplus sebesar USD3,4 miliar. Pada triwulan II tahun 2020, ekspor nonmigas sebesar USD32,9 miliar, dan impor nonmigas sebesar USD29,5 miliar.
Neraca perdagangan ekspor Nonmigas
Nilai ekspor nonmigas didorong oleh nilai ekspor pada industri pengolahan, pertambangan dan lainnya, serta pertanian dengan nilai ekspor masing- masing sebesar USD27,8 miliar, USD4,4 miliar, dan USD0,8 miliar.
Berdasarkan golongan barang HS 2 digit, nilai ekspor nonmigas terutama didukung oleh nilai ekspor pada golongan lemak dan minyak hewan/nabati.
Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas turun sebesar 16,6 persen (QtQ) dan 11,3 persen (YoY), terutama disebabkan adanya penurunan yang dalam pada ekspor pertambangan dan lainnya, serta ekspor industri pengolahan. Ekspor pertambangan dan lainnya mengalami kontraksi sebesar 21,5 persen (QtQ) dan 28,7 persen (YoY),. sSedangkan, industri pengolahan terkontraksi sebesar 15,9 persen (QtQ) dan 8,1 persen (YoY).
Namun demikian, ekspor sektor pertanian mengalami peningkatan sebesar 2,9 persen (YoY) meskipun menurun sebesar 12,1 persen (QtQ).
Tabel 30 Nilai Ekspor Nonmigas berdasarkan Sektor Uraian
Nilai Q2 2020 (juta USD)
Growth (%) Share thd Total*
QtQ YoY (%) Ekspor
Nonmigas 32.932,9 -16,6 -13,3 83,2 Pertanian 799,6 -12,1 2,9 2,0 Industri
Pengolahan 27.764,4 -15,9 -80,1 70,1 Pertambangan
dan lainnya 4.378,7 -21,5 -28,7 11,1 Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
*share thd total ekpor
Berdasarkan 10 golongan barang dengan HS 2 digit, hampir seluruh golongan barang baik pada sektor industri pengolahan, sektor pertambangan, dan sektor pertanian mengalami penurunan. Hanya golongan barang besi dan baja yang mengalami peningkatan pada triwulan II tahun 2020 dibandingkan triwulan I tahun 2020. Tumbuhnya ekspor nonmigas golongan barang besi dan baja didorong oleh kenaikan harga logam dunia terutama bijih besi yang mengalami peningkatan sekitar 12,8 persen sepanjang tahun 2020 dengan tetap stabilnya permintaan dari Tiongkok dan terhambatnya pengiriman dari Brazil sebagai salah satu produsen utama.
Pada triwulan II tahun 2020, ekspor nonmigas berdasarkan golongan barang HS 2 digit mengalami
77 peningkatan pada golongan barang perhiasan/permata; besi dan baja; alas kaki; dan lemak dan minyak hewan/nabati yang tumbuh masing- masing sebesar 38,4; 31,6; 10,6; dan 10,4 persen (YoY). Peningkatan ekspor nonmigas tersebut terutama didorong oleh peningkatan harga komoditi dunia untuk logam mulia, bijih besi, dan produk pertanian.
Sedangkan, peningkatan ekspor nonmigas pada golongan barang alas kaki terutama didukung adanya pengalihan permintaan alas kaki dari Tiongkok akibat pandemi ke Indonesia.
Tabel 31 Nilai Ekspor Nonmigas 10 Golongan Barang HS 2 Digit Terbesar Kode HS: Uraian Q2 2020 Nilai
(juta USD)
Growth (%) Share thd Ekspor Nonmigas QtQ YoY (%)
15 Lemak &
minyak hewan/nabati
4.150,6 -13,4 10,4 12,6
27 Bahan bakar mineral
3.921,4 -28,1 -31,4 11,9 72 Besi dan Baja 2.281,9 0,8 31,6 6,9 87 Kendaraan dan
Bagiannya
2.055,2 -10,7 -55,5 6,2 71 Perhiasan /
Permata
1.791,2 -20,9 38,4 5,4 62 Pakaian jadi
bukan rajutan
1.159,0 -12,9 -30,6 3,5 40 Karet dan
Barang dari Karet
1.053,5 -29,7 -32,4 3,2 84 Mesin-mesin
/Pesawat Mekanik
1.036,2 -24,8 -20,9 3,2 85 Mesin/peralatan
listrik
809,6 -59,9 -14,8 2,5 64 Alas kaki 709,4 -38,0 10,6 2,2
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
2 Dihitung melalui proksi data impor Tiongkok dan Amerika Serikat, sumber: Trademap (2020).
Negara tujuan ekspor nonmigas terbesar adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang.
Pada triwulan II tahun 2020, Tiongkok, ASEAN, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang, merupakan negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai masing-masing sebesar USD6,9; USD6,4; USD3,8; dan USD2,9 miliar. Namun demikian, nilai ekspor nonmigas kepada negara-negara tersebut mengalami penurunan baik secara triwulanan maupun tahunan, kecuali ekspor nonmigas ke Tiongkok.
Hal tersebut disebabkan perekonomian negara-negara tersebut mengalami kontraksi di masa pandemi Covid-19, sedangkan, perekonomian Tiongkok telah kembali pulih dengan tumbuh sebesar 3,2 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2020.
Ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok tumbuh sebesar 14,9 persen (QtQ) dan 11,3 persen (YoY).
Pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh kenaikan ekspor besi dan baja sebesar 193,7 persen (YoY), tembaga sebesar 130,5 persen (YoY), dan ekspor bahan bakar mineral sebesar 4,4 persen (YoY)2.
Sementara untuk ekspor nonmigas ke Amerika Serikat turun sebesar 22,1 persen (QtQ) dan 9,7 persen (YoY).
Namun demikian, terdapat beberapa golongan barang nonmigas yang
78 mengalami peningkatan ekspor ke Amerika Serikat, antara lain ekspor mesin/peralatan listrik sebesar 49,0 persen (YoY) dan ekspor furnitur sebesar 23,6 persen (YoY)2.
Tabel 32 Nilai Ekspor Nonmigas di Beberapa Negara Mitra Dagang Utama
Uraian Nilai Q2 2020 (juta USD)
Growth (%) Share thd Ekspor Nonmigas QtQ YoY (%)
Tiongkok 6.857,1 14,9 11,3 20,8 Jepang 2.861,3 -16,5 -13,0 8,7 Amerika
Serikat 3.760,6 -22,1 -9,7 11,4 India 1.778,1 -39,9 -33,2 5,4 Australia 623,7 23,3 17,4 1,9 Korea Selatan 1.341,6 -7,2 -5,9 4,1
Taiwan 879,4 2,5 -6,5 2,7
ASEAN 6.423,9 -29,0 -26,9 19,5 Singapura 1.878,8 -31,2 -16,8 5,7 Malaysia 1.291,6 -25,7 -35,7 3,9 Thailand 887,8 -35,0 -33,0 2,7 Uni Eropa 2.952,2 -15,6 -17,8 8,9
Jerman 522,9 -18,6 -7,0 1,6
Belanda 739,9 -2,1 -1,9 2,2
Italia 397,2 -18,6 -15,7 1,2 Sumber: Badan Pusat Statistik
Neraca Perdagangan Impor Nonmigas
Total impor Indonesia turun 23,5 persen (YoY).
Berdasarkan penggunaan barang, penurunan impor pada triwulan II tahun 2020 terjadi pada semua jenis barang. Impor bahan baku/penolong turun sebesar 22,3 persen (QtQ) dan 25,6 persen (YoY); impor barang modal turun sebesar 12,5 persen (QtQ) dan 20,0 persen (YoY); serta impor
barang konsumsi yang turun sebesar 1,7 persen (QtQ) dan 12,0 persen (YoY). Penurunan yang tinggi pada impor bahan baku/penolong serta barang modal menunjukkan tertekannya perekonomian domestik pada masa pandemi.
Tabel 33 Nilai Impor berdasarkan Golongan Penggunaan Barang Uraian
Nilai Q2 2020 (juta USD)
Growth (%) Share thd Total(%) QtQ YoY
Impor Total 31.734,2 -19 -23.5 100,0 Barang
Konsumsi 3.557,7 -1,7 -12.0 11,2 Bahan Baku /
Penolong 23.064,6 -22,3 -25.6 72,7 Barang Modal 5.131,0 -12,5 -20,0 16,2 Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Impor nonmigas terbesar adalah golongan Mesin/Pesawat Mekanik (HS 84) serta Mesin/Peralatan Listrik (HS 85).
Kedua golongan barang tersebut memiliki peran 30,5 persen terhadap total impor nonmigas. Dari sisi pertumbuhan, baik triwulanan maupun tahunan, hampir seluruh golongan barang HS 2 digit pada 10 barang impor nonmigas utama mengalami penurunan terutama pada mesin/pesawat mekanik; besi dan baja; serta kendaraan dan bagiannya;
kecuali impor perangkat optik yang mengalami peningkatan. Hal tersebut sejalan dengan perkembangan ekonomi pada sektor industri pengolahan mesin/perlengkapan dan industri pengolahan alat angkut yang menurun.
79 Tabel 34 Nilai Impor Nonmigas 10
Golongan Barang HS 2 Digit Terbesar Kode HS: Uraian Q2 2020 Nilai
(juta USD)
Growth (%) Share thd Impor Nonmigas QtQ YoY (%)
84 : Mesin- mesin/Pesawat Mekanik
4.809,9 -20,2 -20,7 16,3 85 :
Mesin/peralatan listrik
4.209,1 -6,9 -10,1 14,2 72 : Besi dan Baja 1.430,1 -32,4 -32,6 4,8 39 : Plastik dan
Barang dari
Plastik 1.658,7 -17,8 -20,3 5,6 87 : Kendaraan
dan Bagiannya 1.007,4 -35,9 -42,1 3,4 29 : Bahan kimia
organik 1.190,4 -15,5 -17,5 4,0 73 : Benda-benda
dari Besi dan Baja 661,0 -17,3 -61,9 2,2 10 : Serealia 749,5 -15,9 -11,2 2,5 90 : Perangkat
Optik 1265,5 14,3 2,7 4,3
23 : Ampas/Sisa
Industri Makanan 598,4 -12,2 -7,8 2,0 Sumber: Badan Pusat Statistik
Impor nonmigas terbesar berasal dari Tiongkok dan Jepang.
Meskipun impor nonmigas asal Tiongkok mengalami kontraksi sebesar 9,5 persen (YoY), namun Tiongkok masih menjadi negara asal impor nonmigas utama Indonesia dengan kontribusi sebesar 31,2 persen. Kontraksi impor Tiongkok utamanya berasal dari penurunan impor golongan barang mesin- mesin/pesawat mekanik serta golongan besi dan baja, yang masing-
3 Dihitung melalui proksi data ekspor Tiongkok dan Jepang, sumber: Trademap (2020).
masing turun sebesar 9,7 persen dan 27,4 persen (YoY)3
Impor nonmigas asal Jepang juga mengalami penurunan pada triwulan II tahun 2020, terutama berasal dari
golongan barang mesin-
mesin/pesawat mekanik serta besi dan baja, yang masing-masing turun sebesar 47,9 dan 44,1 persen (YoY)3. Hanya dengan Belanda terjadi kenaikan impor nonmigas pada triwulan II tahun 2020, yaitu sebesar 3,3 persen (YoY).
Tabel 35 Nilai Impor Nonmigas di Beberapa Negara Mitra Dagang Utama
Uraian Q2 2020 Nilai (juta USD)
Growth (%) Share thd Impor Nonmigas QtQ YoY (%)
Tiongkok 9.232,31 3,6 -9,5 31,2 Jepang 2.496,25 -30,6 -32,1 8,4 Amerika
Serikat 1.996,21 8,9 -0,9 6,7 India 763,84 -21,1 -21,8 2,6 Australia 934,19 -12,7 -25,4 3,2 Korea Selatan 1.330,81 -24,5 -24,2 4,5 Taiwan 74,51 -26,6 -11,6 2,5 ASEAN 5.106,80 -28,8 -26,9 21,7 Singapura 1.972,75 -11,8 -12,3 6,7 Malaysia 897,13 -37,2 -33,6 3,0 Thailand 1.479,96 -34,4 -32,7 5,0 Uni Eropa 2.390,90 -8,4 -16,0 9,9 Jerman 750,24 -5,9 -7,2 2,5 Belanda 215,89 -2,2 3,3 0,7 Italia 288,99 -29,8 -21,9 1,0
Sumber: Badan Pusat Statistik
80
Kerjasama Ekonomi Internasional
Trade Policy Review Indonesia ke-7 di World Trade Organization.
Trade Policy Review (TPR) adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh World Trade Organization (WTO) terhadap negara-negara anggota WTO untuk review dan mengkaji kesesuaian kebijakan terkait perdagangan dan investasi yang diterapkan di negara-negara tersebut, dengan prinsip-prinsip keterbukaan dan perdagangan internasional yang diusung oleh WTO. Kegiatan ii dilaksanakan setiao tujuh tahun.
Tahun ini Indonesia akan menjalani TPR yang ketujuh. Kementerian PPN/Bappenas berkontribusi menjadi anggota dalam Tim Persiapan dan Pelaksanaan TPR Indonesia ke-7 yang dipimpin oleh Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Perundingan Multilateral.
Hingga saat ini, Tim Persiapan dan Pelaksanaan TPR Indonesia ke-7 telah mengumpulkan masukan dari berbagai K/L untuk menyusun Government Report. Draft Government Report telah disusun dan sedang dalam tahap finalisasi oleh Kementerian Perdagangan, serta akan diserahkan pada 23 September 2020.
Secretariat Report yang disusun oleh Trade Policy Review Division (TPRD) WTO masih dalam tahap pengumpulan bahan-bahan dan masukan yang dibutuhkan dari berbagai K/L terkait.
Sidang TPR WTO Indonesia dijadwalkan akan dilaksanakan pada 9 dan 11 Desember 2020. Sebelum itu, Government Report Indonesia akan diedarkan oleh WTO kepada negara- negara anggota dan Indonesia akan mendapatkan daftar pertanyaan dari negara anggota.
81
Perkembangan Perjanjian Internasional Indonesia
Tabel 36 Perkembangan Perjanjian Internasional Indonesia
No Perjanjian / Kerjasama Status Tahun
1 ASEAN Free Trade Area Signed and In Effect 1993
2 ASEAN-Australia and New Zealand Free Trade Agreement
Signed and In Effect 2010
3 ASEAN-Canada FTA Proposed/Under
consultation and study
2017
4 ASEAN-EU Free Trade Agreement Proposed/Under
consultation and study
2015 5 ASEAN-Eurasian Economic Union Free Trade
Agreement
Proposed/Under consultation and study
2016 6 ASEAN-Hong Kong, China Free Trade Agreement Signed but not yet In Effect 2017 7 ASEAN-India Comprehensive Economic
Cooperation Agreement
Signed and In Effect 2010 8 ASEAN-Japan Comprehensive Economic
Partnership
Signed and In Effect 2008 9 ASEAN-Pakistan Free Trade Agreement Proposed/Under
consultation and study
2009 10 ASEAN-People's Republic of China Comprehensive
Economic Cooperation Agreement
Signed and In Effect 2005 11 ASEAN-[Republic of] Korea Comprehensive
Economic Cooperation Agreement
Signed and In Effect 2007 12 Indonesia-Australia Comprehensive Economic
Partnership Agreement
Signed and in Effect 2012 13 Comprehensive Economic Partnership for East Asia
(CEPEA/ASEAN+6)
Proposed/Under consultation and study
2005 14 East Asia Free Trade Area (ASEAN+3) Proposed/Under
consultation and study
2004 15 Eurasian Economic Union-Indonesia Proposed/Under
consultation and study
2016 16 Free Trade Area of the Asia Pacific Proposed/Under
consultation and study
2014 17 India-Indonesia Comprehensive Economic
Cooperation Arrangement
Negotiations launched 2011 18 Indonesia-Chile Free Trade Agreement Signed but not yet In Effect 2017 19 Indonesia-Colombia Free Trade Agreement Proposed/Under
consultation and study
2019 20 Indonesia-European Free Trade Association Free
Trade Agreement
Signed but not yet In Effect 2018 21 Indonesia-European Union Comprehensive
Economic Partnership Agreement Negotiations launched 2016 22 Indonesia-Gulf Cooperation Council Free Trade
Agreement
Proposed/Under consultation and study
2018 23 Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement Signed and In Effect 2008 24 Indonesia-Kenya Free Trade Agreement Proposed/Under
consultation and study
2018 25 Indonesia-Morocco Preferential Trade Agreement Negotiations launched 2019
82
No Perjanjian / Kerjasama Status Tahun
26 Indonesia-Mozambique Free Trade Agreement Negotiations launched 2018 27 Indonesia-Nigeria Preferential Trade Agreement Propesed/Under
Consultation and study
2017 28 Indonesia-Pakistan Free Trade Agreement Signed and In Effect 2013
29 Indonesia-Peru FTA Proposed/Under
consultation and study
2014 30 Indonesia-Republic of Korea Free Trade Agreement Negotiations launched 2012 31 Indonesia-South Africa Free Trade Agreement Proposed/Under
consultation and study
2018 32 Indonesia-Sri Lanka Free Trade Agreement Proposed/Under
consultation and study
2018
33 Indonesia-Taipei,China FTA Proposed/Under
consultation and study
2011 34 Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement Negotiations launched 2018
35 Indonesia-Turkey FTA Negotiations launched 2017
36 Indonesia-Ukraine Free Trade Agreement Proposed/Under consultation and study
2016 37 Indonesia-United States Free Trade Agreement Proposed/Under
consultation and study
1997 38 Preferential Tariff Arrangement-Group of Eight
Developing Countries
Signed and In Effect 2011 39 Regional Comprehensive Economic Partnership Negotiations launched 2013 40 Trade Preferential System of the Organization of the
Islamic Conference
Signed but not yet In Effect 2014 Sumber: Asia Regional Integration Center (ADB)
Secara umum, kinerja perdagangan Indonesia dengan negara mitra FTA pada triwulan II tahun 2020 menurun.
Ekspor maupun impor ke hampir seluruh negara mitra menurun sebagai dampak Covid-19. Ekspor yang meningkat meskipun di tengah kondisi pandemi hanya terjadi pada ekspor ke Tiongkok yang meningkat sebesar USD1,45 milliar.
Kontribusi ekspor Indonesia ke kawasan Asia Timur yang terdiri dari Jepang, Korea Selatan, Tiongkok termasuk Hongkong mencapai 32,8
persen dari total ekspor Indonesia ke dunia. Pada saat yang sama, Indonesia juga mengimpor 41,2 persen produk dari negara-negara tersebut. Negara- negara di kawasan Asia Tenggara berkontribusi terhadap 22,6 persen dari total ekspor Indonesia, dan 21,5 persen dari impor Indonesia.
Sementara itu, negara-negara mitra FTA di kawasan Asia Selatan yang terdiri dari India, Bangladesh, dan Pakistan menjadi tujuan ekspor dari 8,5 persen produk Indonesia, dan sumber 2,7 persen dari total impor Indonesia.
83
Tabel 37 Kinerja Perdagangan Indonesia dengan Negara Mitra FTA
Kawasan / Negara Q2 2019 Q2 2020
Ekspor Impor Ekspor Impor
Indonesia terhadap Dunia 80.847,7 82.718,1 76.387,6 70.903,2 KAWASAN ASIA TIMUR
Jepang 8.053,2 7.702,0 6.736,6 6.124,2
Korea Selatan 3.808,1 4.237,0 3.291,1 3.367,2
R. R. Tiongkok 12.327,1 20.827,1 13.773,8 18.357,2
Hongkong, Tiongkok 1.307,1 1.611,7 1.273,4 1.357,6
Kontribusi terhadap total 31,54% 41,56% 32,83% 41,19%
KAWASAN ASIA TENGGARA
Thailand 3.204,3 4.656,2 2.485,8 3.756,3
Singapura 6.168,3 8.303,3 5.651,7 6.414,4
Filipina 3.278,2 401,3 2.584,6 283,0
Malaysia 4.120,6 3.614,9 3.545,2 3.046,6
Myanmar 397,0 79,3 503,6 108,9
Kamboja 269,9 21,4 286,2 26,1
Brunei Darussalam 38,8 14,8 55,0 64,4
Laos 3,1 14,6 2,7 22,4
Vietnam 2.372,5 1.827,4 2.151,6 1.544,3
Kontribusi terhadap total 24,56% 22,89% 22,60% 21,53%
KAWASAN ASIA SELATAN
India 5.802,4 2.256,7 4.748,4 1.759,0
Pakistan 930,8 222,7 959,7 113,8
Bangladesh 953,5 43,6 822,5 38,5
Kontribusi terhadap total 9,51% 3,05% 8,55% 2,70%
KAWASAN AMERIKA SELATAN
Chili 69,9 72,7 59,2 57,5
Kontribusi terhadap total 0,09% 0,09% 0,08% 0,08%
KAWASAN EROPA
Turki 579,7 167,1 501,3 150,8
Kontribusi terhadap total 0,72% 0,20% 0,66% 0,21%
KAWASAN AFRIKA
Mesir 508,5 81,6 499,9 72,0
Nigeria 203,9 1.004,6 169,4 685,5
Kontribusi terhadap total 0,88% 1,31% 0,88% 1,07%
KAWASAN OCEANIA
Australia 1.077,5 2.612,3 1.136,3 2.384,3
Selandia Baru 224,1 386,4 220,2 396,2
Kontribusi terhadap total 1,61% 3,63% 1,78% 3,92%
KAWASAN TIMUR TENGAH
Iran 224,1 386,4 220,2 396,2
Kontribusi terhadap total 0,28% 0,47% 0,29% 0,56%
Sumber: Kementerian Perdagangan
84 Perkembangan perdagangan berdasarkan FTA menunjukkan bahwa FTA yang melibatkan negara ASEAN berkontribusi lebih dari 20 persen total ekspor dan impor Indonesia. FTA
dengan kontribusi terbesar adalah ASEAN-People’s Republic of China Comprehensive Economic Cooperation Agreement.
Tabel 38 Kontribusi Nilai Perdagangan Indonesia
Berdasarkan FTA terhadap Total Perdagangan Indonesia dengan Dunia FTA
Q2 2019 Q2 2020
Ekspor Impor Ekspor Impor
(persen)
ASEAN FTA 24,56 22,89 22,60 19,99
ASEAN-Australia and New Zealand
FTA 26,17 26,51 24,38 23,63
ASEAN-Hong Kong, China FTA 26,17 24,84 24,27 21,76
ASEAN-India CECA 31,73 25,62 28,82 22,29
ASEAN-Japan CEP 34,52 32,20 31,42 28,00
ASEAN-People’s Republic of China
CECA 39,80 48,07 40,63 44,02
ASEAN-Republic of Korea CECA 29,27 28,01 26,91 24,39
Indonesia-Australia CEPA 1,33 3,16 1,49 3,36
Indonesia-Chile FTA 0,09 0,09 0,08 0,08
Indonesia-Japan EPA 9,96 9,31 8,82 8,02
Indonesia-Pakistan FTA 1,15 0,27 1,26 0,15
Preferential Tariff Arrangement-
Group of Eight Developing Countries 9,08 6,23 8,61 5,39
Sumber: Kementerian Perdagangan