BAB III METODE PENELITIAN
E. Fokus Penelitian
1. Solidaritas sosial yang terjalin oleh etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja di kampus Unismuh Makassar..
2. Keharmonisan hubungan antara etnis bugis dan etnis makassar jika dihadakan pada perbedaan etnis.
F. Informan Penelitian
Untuk memperoleh data penelitian ini, maka digunakan instrument penelitian berupa pedoman wawancara. Wawancara atau interview adalah sejumlah daftar pertanyaan yang diberikan kepada responden secara lisan dan dijawab secara lisan pula dari responden.
Sedangkan sasaran penelitian ini merupakan seluruh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar yang terdiri dari tujuh fakultas. Kemudian diambil sepuluh orang mahasiswa sebagai informan untuk mengetahui tujuan penelitian yang akan diuraikan secara jelas di hasil penelitian. Untuk lebih jelasnya, adapun informan penelitian tercantum dalam dalam sebagai berikut:
Tabel 3.1: Daftar informan penelitian
No. Nama Umur Angkatan Fakultas
1 Nurjannah Azis 21 2011 FKIP
2 Thamrin Pratama 23 2011 Tekhnik
3 Sriwahyuni Kadir 22 2011 FKIP
4 Fatmawati Dg. Ranyu’ 21 2011 FKIP
5 Muhammad Syafiq 22 2012 Ekonomi dan Bisnis
6 Nurrahmah Arifin 22 2011 FKIP
7 Idhil Maulana Ilham 22 2012 FKIP
8 Alam Budi Kusuma 21 2011 Agama Islam
9 Amhar Saputra 21 2012 Ilmu Sosial dan Politik
10 Muhammad Taqwa 22 2011 FKIP
G. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Teknik observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan sistematis dari fenomena-fenomena yang diselidiki (Agustang, 2011). Teknik ini dilakukan untuk mengamati mahasiswa yang termasuk etnik bugis dan etnik makassar yang menuntut ilmu di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar. Selama masa penelitian, peneliti akan mengamati berbagai bentuk fenomena yang terjadi dalam bentuk solidaritas sosial dan keharmonisan antar etnis bugis dan etnis Makassar di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Observasi langsung adalah cara mengumpulkan data yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada obyek penelitian yang pelaksanaannya langsung pada tempat dimana suatu peristiwa, keadaan atau situasi sedang terjadi (Hadari Nawawi, 2005:94). Peristiwa, keadaan atau situasi itu dapat pula yang sebenarnya. Sedang pengamatan dapat dilakukan dengan alat atau tanpa bantuan alat.
Cartwright & Cartwright mendefenisikan observasi sebagai suatu proses melihat, mengamati dan mencermati serta mereka meperilaku secara sistematis
untuk suatu tujuan tertentu Cartwright & Cartwright, (dalam Uhar Suharsaputra, 2012). Jadi observasi dapat dilakukan hanya pada perilaku/suatu yang tampak, sehingga potensi perilaku seperti sikap, pendapat jelas tidak dapat diobservasi.
2. Wawancara (interview)
Wawancara atau interview dapat di artikan yaitu sebagai metode pengumpulan data atau informasi dengan cara Tanya jawab sepihak, dikerjakan secera sitematik dan berlandaskan kepada tujuan penyelidikan (Agustang, 2011).
Tujuan dari wawancara ini untuk mengumpulkan data atau informasi penting baik itu mengenai pendapat, keadaan, serta keterangan dari suatu pihak tertentu.
Interview adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan, untuk di jawab secara lisan pula (Hadari Nawawi, 2005:111). Ciri utama dari intiview adalah kontak langsung dengan tatap muka (face to face relationship) antara pencari informasi (interviewer atau information hunter) dengan sumber informasi (interviewee). Secara sederhana interview di artikan sebagai alat pengumpul data dengan mempergunakan tanya jawab antar pencari informasi dan sumber informasi. Pewawancara diharapkan menyampaikan pertanyaan kepada responden, merangsang responden untuk menjawabnya, menggali jawaban lebih jauhbila dikehendaki mencatatnya. Bila semua tugas ini tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya maka hasil wawancara menjadi kurang bermutu. Syarat menjadi pewawancara yang baik adalah keterampilan mewawancarai, motivasi yang tinggi, dan rasa aman, artinya tidak ragu dan takut menyampaikan pertanyaan.
H. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk menganalisis, mempelajari serta mengolah data tertentu. Sehingga dapat diambil kesimpulan yang konkret tentang persoalan yang diteliti. Penelitian yang akan dilakukan adalah tergolong tipe penelitian deskriptif kualitatif analisis. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensitesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2007 : 248).
Dalam penelitian ini setelah memperoleh data dari observasi, wawancara dan dokumentasi, maka peneliti memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelolah. Kemudian peneliti mengelompokkannya sesuai dengan masalah yang diteliti dan menyajikannya dengan kata-kata yang dapat diceritakan kepada orang lain sebagai hasil penelitian.
I. Keabsahan Data
Pembuktian penelitian ini bersumber dari data-data yang ada di dalam buku referensi yang dikumpulkan oleh peneliti sesuai dengan judul penelitian yang diangkat. Semua itu telah tercantum dalam daftar pustaka dan juga beberapa kutipan yang tersaji di dalam materi penelitian itu sendiri. Waktu penelitian yang digunakan peneliti dalam merampungkan penelitian ini yaitu selama satu bulan.
Sedangkan,tempat penelitian disesuaikan dengan judul penelitian ini yang berfokus di kampus Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dalam penelitian di lakukan pengecekan keabsahan data melalui :
1. Kredibilitas yaitu penetapan hasil penelitian kualitatif yang kredibel atau dapat dipercaya dari perspektif partisipan dalam penelitian.
2. Defendabilitas yaitu memperhitungkan konteks yang berubah-ubah dalam penelitian yang di lakukan.
3. Konfirmabilitas yaitu tingkat kemampuan hasil penelitian yang di konfirmasikan oleh orang lain.
4. Transferabilitas yaitu tingkat kemampuan hasil penelitian kualitatif untuk dapat digeneralisasikan atau di transfer pada konteks atau setting yang lain.
42 A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Kota Makassar
Kota Makassar dari tahun 1971 hingga 1999 secara resmi dikenal sebagai Ujung Pandang adalah salah satu kota besar yang mendiami negara kesatuan republik Indonesia, dan merupakan kota besar di kawasan timur Indonesia.
Makassar juga merupakan ibukota provinsi Sulawesi selatan, salah satu provinsi yang ada di pulau Sulawesi. Kota Makassar terletak antara koordinat 119o24’17’38’ Bujur Timur dan koordinat 5o8’6’19’ Lintang Selatan, dimana kota Makassar terdiri atas 15 kecamatan dan 153 kelurahan dengan luas wilayah 175,77 Km2. Sedangkan batas-batas wilayah administratif dari letak kota Makassar, antara lain:
a. Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Pangkaje’ne dan kepulauan.
b. Sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Maros.
c. Sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Gowa.
d. Sebelah barat berbatasan dengan selat Makassar.
Secara geografis, letak kota Makassar berada di tengah diantara pulau- pulau besar yang ada di wilayah kepulauan nusantara. Sehingga menjadikan kota Makassar merupakan kota “anging mammiri” dan menjadikan pusat pergerakan
spasial dari wilayah barat ke bagian timur atau sebaliknya dan dari utara ke selatan Indonesia atau sebaliknya. Posisi ini menyebabkan kota Makassar memiliki daya tarik kuat bagi para imigran, baik dari Sulawesi selatan itu sendiri
maupun dari provinsi lain terutama dari kawasan timur Indonesia. Datang untuk menetap dan mencari pekerjaan atau menetap sementara untuk menuntut ilmu.
Wilayah kota Makassar cukup unik dengan bentuk menyudut dibagian utara, sehingga mencapai dua sisi pantai yang saling tegak lurus dibagian uatara dan barat. Disebelah utara kawasan pelabuhan hingga sungai Tallo telah berkembang kawasan campuran termasuk armada angkutan laut, perdagangan, pelabuhan rakyat dan samudera, sebagian rawa-rawa, tambak dan empang, dengan perumahan kumuh hingga sedang. Kawasan pesisir dari arah tengah hingga ke bagian selatan berkembang menjadi pusat kota dengan fasilitas perdagangan, pemukiman, pendidikan, fasilitas rekreasi, dan resort yang menempati pesisir pantai membelakangi laut yang menggunakan lahan hasil reklamasi pantai.
Berlimpahnya sumber daya di kota Makassar menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan penduduk semakin meningkat. Terbukti bahwa bukan hanya masyarakat asli kota Makassar kini yang berdomisili penuh. Akan tetapi, banyak masyarakat pendatang yang menetap di kota Makassar dari dulu hingga kini.
Masyarakat kota Makassar bahkan sudah mampu melebur dengan masyarakat pendatang, seperti masyarakat Bugis, Toraja, Mandar, Buton, Flores, dan lain sebagainya.
Dari aspek pembangunan dan infrastruktur, kota Makassar tergolong salah satu kota metropolitan di Indonesia, yaitu urutan kedua terbesar diluar pulau Jawa setelah kota Medan. Kota Makassar memiliki luas wilayah 175,77 Km2 dan penduduk sebesar 1,27 juta jiwa, termasuk warga pendatang yang menetap dalam
waktu yang cukup lama di kota Makassar. Dalam jumlah penduduk sebesar itu menyebabkan differensiasi sosial antar etnis.
Secara demografis, kota Makassar tergolong tipe kota multi etnik atau multikultur dengan beragam suku bangsa yang menetap di dalamnya. Diantaranya yang signifikan jumlahnya adalah etnis Bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis Toraja, dan etnis pendatang yang lain. Terkhusus solidaritas dan keharmonisan etnis Bugis dan etnis Makassar sebagai etnis besar dan terdekat yang berada di kota Makassar.
2. Universitas Muhammadiyah Makassar
Solidaritas dapat terwujud pula dengan adanya wadah yang mampu mempersatukan etnis, budaya, agama, dan tujuan individu dalam suatu wilayah seperti kota Makassar ini. Salah satu wadah yang sangat mendukung terwujudnya solidaritas dan keharmonisan yaitu kehadiran perguruan tinggi. Perguruan tinggi ini bisa dalam bentuk universitas negeri maupun swasta, dan juga bisa berupa sekolah tinggi. Salah satu universitas yang ada di kota Makassar adalah Universitas Muhammadiyah Makassar. Sebagaimana halnya sebuah perguruan tinggi swasta, Universitas Muhammadiyah Makassar juga merupakan sebuah lembaga pendidikan tinggi yang bernaung di bawah organisasi, yaitu perserikatan Muhammadiyah. Dalam hal ini, Universitas Muhammadiyah Jakarta sebagai bagian dari usaha penyelenggaraan pendidikan, menjadi salah satu amal usaha perserikatan Muhammadiyah selain bidang sosial dan agama. Bahkan sejak berdirinya, perserikatan Muhammadiyah telah mencanangkan bahwa salah satu bentuk pengabdiannya adalah berupa amal nyata dibidang pendidikan dalam
semua jenjang. Termasuk universitas dan sekolah tinggi yang memiliki ciri perserikatan Muhammadiyah.
Universitas Muhammadiah Makassar didirikan pada tanggal 19 Juni 1963 sebagai cabang dari Universitas Muhammadiyah Jakarta. Pendiri perguruan tinggi ini adalah sebagai realisasi dari hasil musyawarah wilayah Muhammadiyah Sulawesi selatan dan tenggara ke-21 di kabupaten Bantaeng. Pendirian tersebut di dukung oleh perserikatan Muhammadiyahsebagai organisasi yang bergerak dibidang dan pengajaran dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Universitas
Muhammadiyah Makassar dinyatakan sebagai Perguruan Tinggi Swasta terdaftar sejak 1 Oktober 1965. Secara otomatis mengembangkan tugas dan peran yang sangat besar bagi agama, bangsa dan negara. Baik dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang.
Universitas Muhammadiyah Makassar terletak di jalan Sultan Alauddin No. 259 Makassar. Di atas tanah seluas 5 Ha di daerah Tala’ Salapang.
Sebelumnya Universitas Muhammadiyah Makassar telah memiliki dua kampus, yang kini terletak di jalan Ranggong Dg. Romo No. 21 di atas tanah seluas 1.600 M2. Kampus Tala’ Salapang sedang dalam proses pembangunan fisik dengan arsitektur bernuansa akademik yang islami dengan rancangan modern dan ramah pengembangan kepribadian dan keilmuan.
Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan melalui peta kota Makassar mengenai Universitas Muhammadiyah Makassar, sebagai berikut.
Gambar 4.1 Peta Universitas Muhammadiyah Makassar.
Gambar 4.2 Denah kampus Universitas Muhammadiyah Makassar.
Seperti halnya dengan universitas lain, Universitas Muhammadiyah Makassar juga memiliki beberapa Fakultas. Diantaranya yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Sosial Politik, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian dan Fakultas Agama Islam. Adapun pimpinan Universitas saat ini, Ketua BPH yaitu Ir. H. M. Syaiful Saleh, M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yaitu Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Sedangkan Wakil Rektor I yaitu Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE., MM., Wakil Rektor II yaitu Dra. Hj. Rosleny Babo, M.Si., Wakil Rektor III yaitu Dra. Samhi Muawan Djamal, M.Ag., dan Wakil Rektor IV yaitu Ir. Abd. Rakhim Nanda, MT.
Visi dan Misi serta Tujuan Universitas Muhammadiyah Makassar (Rauf, 2013), yaitu:
- Visi
“Menjadi Perguruan Tinggi Islam Terkemuka, Unggul, Terpercaya, dan Mandiri”
- Misi
1. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
2. Meningkatkan kualitas pembelajaran.
3. Menumbuhkembangkan penelitian yang inovatif, unggul, dan berdaya saing.
4. Meningkatkan kualitas dan kehidupan masyarakat.
- Tujuan
1. Menciptakan suasana kondusif mewujudkan Universitas Muhammadiyah Makassar sebagai kampus islami.
2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (dosen dan karyawan).
3. Meningkatkan peran lembaga dalam upaya peningkatan kualitas lulusan.
4. Meningkatkan pembinaan, pengawasan, dan pemanfaatan sarana prasarana.
5. Meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil penelitian dosen.
6. Meningkatkan kuantitas dan kualitaspengabdian dan pelayanan pada masyarakat.
3. Profil Informan
Informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar itu sendiri yang dibagi dalam beberapa fakultas, seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Teknik, dan Fakultas Agama Islam. Adapun informan yang dipilih adalah mereka yang aktif sepenuhnya sebagai mahasiswa di kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, sehingga dapat memberikan informasi yang valid dan memadai mengenai hubungan antara etnis bugis dan etnis makassar itu sendiri, terkhusus yang menyangkut masalah penelitian. Alasan memilih beberapa fakultas tersebut di atas adalah untuk menjaring informasi secara konprehensif mengenai kondisi solidaritas sosial antara etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja karena informan yang memilih jurusan dari beberapa fakultas ini masih terdaftar dan aktif sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar. Untuk mendapatkan gambaran mengenai
informan dalam penelitian maka berikut ini akan diuraikan mengenai identitas dari informan yang dipilih.
1) N.A
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini merupakan mahasiswa yang berasal dari kabupaten Takalar. Berjenis kelamin perempuan dan berusia 21 tahun. Mahasiswi ini mengambil salah satu jurusan yang dinaungi oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2011. Jika melirik ke daerah asalnya, mahasiswi ini masuk dalam kategori etnis Makassar, dimana kabupaten Takalar merupakan daerah yang kuat sistem budaya suku makassar.
Kabupaten Takalar juga masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Makassar.
Jadi tidak heran jika informan ini merupakan keturunan asli etnis makassar.
2). T.P
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini merupakan mahasiswa yang berasal dari kabupaten/kota Pare-Pare. Berjenis kelamin laki-laki dan berusia 23 tahun. Mahasiswa ini mengambil salah satu jurusan yang dinaungi oleh Fakultas Tehnik angkatan 2011. Jika kita melihat dari daerah asalnya, tentu sudah dapat disimpulkan bahwa mahasiswa ini merupakan keturunan bugis dan masuk dalam kategori etnis bugis. Kota Pare-pare tidak hanya dihuni oleh etnis bugis saja, etnis Makassar, mandar dan tionghoa merupakan etnis yang ikut berbaur dan berdomisili di kota ini. Tetapi informan ini masuk dalam etnis bugis sebagai suku asli yang mendiami kota Pare-pare.
2) S.K
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini merupakan mahasiswa yang berasal dari kabupaten Bone. Berjenis kelamin perempuan dan berusia 22 tahun. Mahasiswi ini mengambil salah satu jurusan yang dinaungi oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2011. Mahasiswa ini termasuk dalam etnis bugis karena merupakan masyarakat asli kabupaten Bone. Kabupaten Bone merupakan daerah yang kuat dalam sistem budaya suku bugis sampai saat ini. Kabupaten yang pernah menjadi pusat kerajaan besar yang menguasai Sulawesi selatan bagian timur ke tenggara. Jadi tidak diragukan lagi jika informan ini memang asli dari etnis bugis.
3) F.D.R
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini merupakan mahasiswa yang berasal dari kabupaten Jeneponto. Berjenis kelamin perempuan dan berusia 21 tahun. Mahasiswi ini mengambil salah satu jurusan yang dinaungi oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2011. Kabupaten Jeneponto merupakan daerah yang hampir seluruh masyarakatnya berasal dari suku makassar. Tidak tekecuali informan ini yang merupakan masyarakat asli kabupaten Jeneponto. Hidup ditengah-tengah masyarakat yang masih memegang erat budaya makassar. Kabupaten Jeneponto sendiri juga merupakan daerah yang masih mempertahankan kentalnya budaya makassar sampai saat ini. Bisa dipastikan bahwa informan ini merupakan asli etnis makassar.
4) M.S
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini merupakan mahasiswa yang berasal dari kabupaten Maje’ne Provinsi Sulawesi Barat. Berjenis
kelamin laki-laki dan berusia 22 tahun. Mahasiswa ini mengambil salah satu jurusan yang dinaungi oleh Fakultas Ekonomi angkatan 2011. Kabupaten Maje’ne merupakan daerah yang didominasi oleh suku mandar. Hampir semua
masyarakatnya masih menguasai secara utuh sistem kebudayaan suku mandar.
Maka dari itu sistem kebudayaan suku mandar masih bisa bertahan sangat kuat di daerah ini. Terlebih kepada informan yang lahir dan besar di kabupaten maje’ne yang merupakan keturunan asli etnis mandar.
5) N.A
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini merupakan mahasiswa yang berasal dari kabupaten Pangkajene dan kepulauan. Berjenis kelamin perempuan dan berusia 22 tahun. Mahasiswi ini mengambil salah satu jurusan yang dinaungi oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2011.
Informan ini merupakan masyarakat asli kabupaten Pangkajene dan kepulauan. Hidup diantara masyarakat yang masih kental dengan budaya bugis.
Karena perlu diketahui bahawa kabupaten Pangkajene dan kepualauan merupakan daerah campuran dua etnis besar Sulawesi selatan, etnis bugis dan etnis makassar. Akan tetapi informan ini masih tergolong dalam etnis bugis karena memang asli keturunan masyarakat bugis pangkep.
6) I.M.I
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini merupakan mahasiswa yang berasal dari kabupaten/kota Makassar. Berjenis kelamin laki-laki dan berusia 22 tahun. Mahasiswi ini mengambil salah satu jurusan yang dinaungi oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2012. Sebenarnya informan ini bukan merupakan asli etnis makassar. Dia merupakan keturunan Makassar-Flores. Akan tetapi, informan ini sudah menetap sebagai warga masyarakat kota Makassar. Bahkan karena memiliki darah keturunan etnis makassar dan telah lama berdomisili di kota makassar, informan ini sudah dapat di kategorikan sebagai etnis makassar, meskipun tidak sepenuhnya.
7) A.B.K
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini merupakan mahasiswa yang berasal dari kabupaten Maros. Berjenis kelamin laki-laki dan berusia 22 tahun. Mahasiswa ini mengambil salah satu jurusan yang dinaungi oleh Fakultas Agama Islam angkatan 2011. Informan ini sebenarnya memiliki darah campuran dua etnis besar Sulawesi selatan, yaitu etnis bugis dan etnis makassar. Akan tetapi mengacu kepada daerah asalnya, informan ini lebih mahir dan mengerti mengenai suku bugis dari pada suku makassar. Hal itu dikarenakan informan ini telah lama menetap di kabupaten maros dan berbaur dengan masyarakat setempat yang didominasi oleh masyarakat bugis Maros.
karena alasan itu banyak orang yang menganggap bahwa informan ini bisa dikategorikan sebagai etnis bugis daripada etnis makassar.
8) A.S
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini merupakan mahasiswa yang berasal dari kabupaten Tana Toraja. Berjenis kelamin laki-laki dan berusia 21 tahun. Mahasiswa ini mengambil salah satu jurusan yang dinaungi oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik angkatan 2012. Informan ini merupakan masyarakat asli Tana Toraja. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa informan ini tergabung dalam etnis Toraja.
10). M.T
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini merupakan mahasiswa yang berasal dari kabupaten Gowa. Berjenis kelamin laki-laki dan berusia 22 tahun. Mahasiswa ini mengambil salah satu jurusan yang dinaungi oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2011. Informan ini merupakan masyarakat asli kabupaten Gowa yang didominasi masyarakat dari etnis makassar. Hidup ditengah-tengah masyarakat dari etnis makassar merupakan sesuatu hal yang mampu membuktikan bahwa informan ini mampu dikategorika sebagai etnis makassar. Selain karena pembauran dengan masyarakat, juga ditunjang dengan penggunaan bahasa Makassar yang aktif saat berjumpa dengan teman-temannya sesama etnis makassar.
B. Solidaritas Sosial Antar Etnis di Universitas Muhammadiyah Makassar
Dalam setiap kehidupan bersama, solidaritas sosial dan keharmonisan hubungan diantara orang-orang yang hidup bersama itu sangat dibutuhkan.
Adanya solidaritas sosial dan keharmonisan hubungan antar kelompok etnis akan melahirkan kesadaran kolektif diantara mereka. Solidaritas sosial diartikan sebagai suatu keadaan hubungan antar individu dan kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama diperkuat oleh pengalaman emosional bersama (Paul Johnson, 1986:181). Apabila dalam kelompok etnis tersebut terjalin solidaritas sosial diantara masyarakatnya maka akan tercipta iklim yang mendorong tingkat keharmonisan atau persaudaraan pada kelompok etnis dalam suatu wilayah.
Dalam perspektif sosiologi, keakraban hubungan antar kelompok masyarakat itu tidak hanya merupakan alat dalam rangka usaha mencapai atau untuk mewujudkan cita-citanya, akan tetapi justru keakraban hubungan sosial tersebut sekaligus merupakan salah satu tujuan utama dari kehidupan kelompok masyarakat. Keadaan kelompok masyarakat yang semakin kokoh selanjutnya akan menumbuhkan keharmonisan hubungan antar kelompok etnis dalam ikatan kebersamaan hingga menimbulkan sikap saling memiliki (sense of belongingness) diantara individu atau kelompok etnis tersebut.
Sulawesi selatan merupakan salah satu provinsi yang memiliki empat etnis besar yang saling hidup secara berdampingan satu sama lain antara lain etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar, dan etnis toraja. Kelompok etnis yang saling memiliki keterikatan sehingga dapat hidup secara harmonis. Hidup berdampingan
dalam satu wilayah telah membuktikan bahwa keempat etnis ini mampu menunjukan rasa solidaritas yang tinggi. Dari sebuah sikap solidaritas yang tinggi telah menumbuhkan keharmonisan hubungan dan rasa saling memiliki antar elompok etnis. Dari keempat etnis, terkhusus etnis bugis dan etnis Makassar banyak yang meyakini bahwa dua etnis ini merupakan etnis yang sama, sehingga muncul berbagai asumsi yang menggabungkan kedua etnis ini menjadi Bugis- Makassar. Tapi pada dasarnya jika kita menoleh pada bukti sejarah masa lalu, kadua etnis ini bukanlah etnis yang sama. Melainkan hanya dipersatukan oleh sikap solidaritas yang tinggi, hingga mampu menjaga keharmonisan hubungan antar etnis dan memiliki rasa saling memiliki satu sama lain. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang solidaritas sosial dan keharmonisan etnis bugis dan etnis makassar, maka penulis melakukan observasi atau pengamatan dan melakukan wawancara.
Mengenai hubungan solidaritas antara etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar, dan etnis toraja selama ini baik baik saja. Itu disebabkan karena masing- masing individu yang mempunyai tujuan yang sama pada saat masuk di Universitas Muhammadiyah Makassar yaitu menuntut ilmu di bangku perkuliahan sampai mendapatkan gelar sarjana. Hubungan keempat etnis ini di Universitas Muhammadiyah Makassar sangat akrab dan sama seperti keluarga sendiri. Dapat dilihat setelah melihat hubungan keempat etnis ini di dalam kelasnya sendiri.
Dijelaskan pula bahwa dari dahulu keempat etnis ini memang telah hidup dan berbaur dalam satu wilayah. Bahkan sampai saat ini sudah ada yang saling mengikat antara kedua etnis ini, seperti ikatan pernikahan. Meskipun diliputi