• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keharmonisan Sosial Antara Etnis Bugis dan Etnis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Pustaka

2. Keharmonisan Sosial Antara Etnis Bugis dan Etnis

Manusia hidup dalam kebersamaan menunjukkan bahwa manusia adalah umat yang satu. Dengan kebersamaan itu manusia berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan direalisasikan dengan berbagai jenis aktivitas, serta bermacammacam hubungan antara sesama mereka. Kebersamaan merupakan sarana atau ruang gerak bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi tanpa kebersamaan manusia tidak mampu hidup sendiri, dan ketergantungan itu yang menjadikan manusia sebagai makhluk sosial.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa religius dengan berbagai etnis yang ada, maka dapat timbul suatu masalah yang menyangkut masalah keharmonisan masyarakat antar etnis. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan dan memelihara keharmonisan hidup antar etnis, berarti dari masing-masing etnis harus mampu mencerminkan nilai budaya yang baik dalam kehidupan sehari-hari yang

merupakan identitas bangsa Indonesia. Dengan demikian dapat tercipta suatu kerukunan hidup antar etnis yang lebih baik.

Indonesia adalah suatu negara yang berbentuk multi budaya, multi etnis, agama, ras, dan multi golongan, etnis merupakan kebudayaan yang telah ada bahkan sebelum suatu negara merdeka, dengan berbagai nilai dan norma yang mengatur tatanan kehidupan masyarakat sebelum adanya hukum dalam bentuk undang-undang. Etnis di Indonesia sendiri sangat beraneka ragam dan dengan berbagai nilai yang diyakini oleh individu-individu dalam anggota etnis tersebut.

Hingga saat ini, negara Indonesia terkenal dengan kearifan lokal etnis yang sangat majemuk dan penuh dengan nilai seni yang tidak terdapat di negara-negara lain.

Pengendalian diri, etika dan toleransi merupakan pencerminan kehidupan beragama dengan sesama atau antar etnis, baik manusia dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara bahkan dalam hubungan internasional antar bangsa-bangsa. Dengan kekayaan akan perbedaan, seharusnya negara dapat lebih cepat dan berkembang dalam kemajuan etnis dan budaya karena kedewasaan dalam menerima hal-hal baru di sekitar mereka.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika secara de facto mencerminkan multi budaya bangsa dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Wilayah Negara yang terbentang luas dari Sabang Sampai Merauke memiliki sumber daya alam (natural resources) yang melimpah seperti untaian zamrud di khatulistiwa dan juga sumber budaya (cultural resources) yang beraneka ragam bentuknya (Koentjaraningrat, 1980). Kemajemukan di Indonesia merupakan warisan budaya yang tidak ternilai harganya, namun semua itu menjadi berbeda

ketika kemajemukan tidak dihadapi secara dewasa dan penuh dengan pemaknaan positif dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air. Semua kekayaan akan menjadi ancaman bagi keutuhan persatuan suatu negara yang sedang dalam fase berkembang.

Sulawesi selatan merupakan salah satu provinsi yang berada dalam lingkup naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daerah Sulawesi selatan sendiri memiliki beragam etnis besar maupun etnis kecil yang hidup secara berdampingan. Misalnya saja etnis Bugis dan etnis Makassar. Hidup dalam satu wilayah secara berdampingan dengan sebuah keharmonisan yang sudah terjalin sejak nenek moyangnya.

Keharmonisan adalah istilah yang dipenuhi muatan makna “baik” dan

“damai”. Intinya hidup bersama dalam masyarakat dengan kesatuan hati dan bersepakat untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran. Keharmonisan hubungan antar etnis adalah suatu kondisi sosial dimana semua golongan etnis dan budaya bisa hidup berdampingan tanpa mengurangi hak dasar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban kulturnya. Masing-masing hidup sebagai penganut budaya yang baik dalam keadaan harmonis dan damai.

Rukun berarti berada dalam keadaan selaras, tenang dan tentram tanpa perselisihan dan pertentangan, bersatu dalam maksud untuk saling membantu.

Berprilaku rukun berarti menghilangkan tanda-tanda ketegangan dalam masyarakat atau antara pribadi-pribadi sehingga hubungan-hubungan sosial tetap terlihat selaras dan baik. Kata rukun dan kerukunan mempunyai pengertian damai

dan perdamaian dalam kehidupan seharihari. Kerukunan jelas hanya dipergunakan dalam dunia pergaulan atau interaksi sosial dimasyarakat.

Keharmonisan hubungan antar etnis pada dasarnya adalah Keharmonisan yang terwujud di antara beberapa etnis di dalam kehidupan sosial tanpa mempersoalkan agama, kepercayaan, atau etnis yang dianut oleh anggota masyarakat. Sedangkan etnis yang dianut oleh masig-masing orang dalam masyarakat tersebut tentu saja tidak bisa harmonis atau diharmoniskan karena masing-masing etnis memiliki ajaran yang berbeda dan khas. Dengan Keharmonisan hubungan antar etnis, masyarakat menyadari bahwa negara adalah milik dan tanggung jawab bersama.

Oleh karena itu, keharmonisan antar etnis adalah kerukunan hakiki yang dilandasi dan dijiwai oleh nilai-nilai etnis masing-masing. Dengan adanya Keharmonisan hubungan antar etnis akan terjamin dan terpelihara stabilitas sosial sebagai syarat mutlak untuk berhasilnya pembangunan. Selain itu dengan adanya kerukunan hidup antar etnis, maka potensi etnis yang demikian besar dapat dimanfaatkan untuk memperlancar pembangunan. Keharmonisan akan mudah diwujudkan apabila ada persamaan latar belakang sejarah, penderitaan, cita-cita, dan keserasian dalam banyak hal.

Usaha ini tidak dapat dijalankan oleh 1 atau 2 orang saja, akan tetapi harus dilakukan oleh masing-masing kita atau setiap individu masyarakat. Sebab, ini mengenai satu segi dari ideologi pancasila yang harus kita dukung, kita tumbuh suburkan dalam masyarakat seluruh bangsa kita umumnya. Karena kita bangsa Indonesia sering membanggakan atau dibanggakan sebagai bangsa yang

bertoleransi dan berkerukunan yang tinggi. Hal-hal rinci seperti ekspresi-ekspresi simbolik dan formalistik, tentu sulit dipertemukan. Masing-masing etnis dan budaya bahkan sesungguhnya masingmasing kelompok intern suatu etnis tertentu sendiri mempunyai idiomnya yang khas dan bersifat esoterik, yakni hanya berlaku secara intern. Karena itulah ikut campur etnis lain atau pemaksaan doktrin etnis dalam internal orang dari etnis lain adalah tidak rasional dan absurd.

Suku Bugis-Makassar adalah salah satu suku di antara sekian banyak suku di Indonesia, mereka bermukim di Pulau Sulawesi bagian selatan, namun dalam perkembangannya, komunitas ini telah menyebar luas ke seluruh nusantara, sebab sebagian dari mereka lebih suka merantau dengan bermata pencaharian sebagai pedagang, passompe (perantau) dan nelayan, keadaan ini pula menjadi ciri bagi suku Bugis-Makassar yang oleh dunia dikenal sebagai pelaut ulung. Mengenai keberadaan prajurit Bugis-Makassar dalam hubungan mereka dengan orang portugis, buku “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008” menguraikan sebagai berikut ;

“….kedua suku bangsa ini sangat terkenal karena reputasi mereka sebagai prajurit-prajurit yang paling ditakuti di Nusantara. Mereka juga prajurit-prajurit yang paling profesional. Terdapat naskah- naskah yang memuat terjemahan karangan-karangan berbahasa Spanyol dan Portugis mengenai pembuatan meriam kedalam bahasa Bugis-Makassar dan tidak ada satupun terjemahan semacam itu dalam bahasa Indonesia lainya…”(M.C.Ricklefs,2008)”.

Keharmonisan hubungan persaudaraan yang terjalin antara etnik bugis dan etnik Makassar tidak dapat diragukan lagi. Tidak hanya di wilayah Sulawesi selatan, akan tetapi sampai di daerah perantauan etnik bugis dan etnik Makassar masih memelihara hubungan keharmonisannya. Sehingga kebanyakan orang tidak

dapat membedakan antara orang bugis dan orang Makassar. Selain itu, karena hubungan persaudaraan yang teramat dekat,kata Bugis dan Makassar sangat sering disandingkan sehingga banyak yang mengira kata Bugis dan Makassar adalah sinonim. Ilmuwan sendiri sangat berperan menghilangkan perbedaan kedua suku tersebut menjadi kata majemuk Bugis-Makassar.(Mattulada,

“Kebudayaan Bugis Makassar”, “Bugis-Makassar”, Hamid Abdullah, “Manusia Bugis Makassar”).

Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar merupakan salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang merupakan amal usaha Muhammadiyah dalam mengembangkan pendidikan khususnya dalam jenjang pendidikan tinggi.

Mahasiswa yang menuntut ilmu di kampus Unismuh ini datang dari seluruh penjuru Sulawesi Selatan, bahkan sampai di Sulawesi Barat, Tengah dan Tenggara.Bahkan ada juga dari Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Semuanya tergabung dalam satu atap Universitas Muhammadiyah Makassar dengan tujuan mencapai kesarjanaan.

Mahasiswa dari berbagai daerah yang mendiami kampus Unismuh memiliki latar belakang etnik, suku, budaya, bahasa yang berbeda. Dua etnik besar yang mendiami kampus Unismuh, diantaranya yaitu etnis Bugis dan etnis Makassar. Kedua etnis ini merupakan etnis asli di jazirah Sulawesi Selatan yang memiliki sifat persaudaraan yang tinggi dan terjalin sejak zaman dahulu. Seperti yang telah dikatakan oleh Sultan Hasanuddin, Raja Kerajaan Makassar bahwa

“Bugis dan Makassar adalah saudara, Aku dan Raja Bone bukanlah Musuh”

(Andaya, 1980).

Hal ini terjadi dan dibawa sampai di perguruan tinggi dimana sejumlah mahasiswa dari etnis Bugis dan Makassar menjalin sebuah keharmonisan persaudaraan jika saling berjumpa. Mekipun di bedakan oleh bahasa yang mencolok, tetapi komunikasi dalam bahasa Indonesia merupakan sebuah bahasa pemersatu yang mampu memberikan pemaknaan setiap kata dalam interaksinya sehari-hari.

Keharmonisan tercapai karena adanya sikap saling memahami antara satu sama lain, tidak saling menjelekkan atau memprovokatori setiap masalah kecil sehingga berkembang menjadi gesekan-gesekan yang serius. Sehingga keharmonisan tetap dapat terjaga dengan baik sesuai dengan yang kita harapkan bersama. Sesuai dengan keharmonisan yang di bangun nenek moyang kita dahulu antara Bugis dan Makassar. Selain itu, juga beberapa etnik besar dan kecil yang mendiami Sulawesi selatan tidak lepas tangan untuk mewujudkan keharmonisan antar etnis di daratan Sulawesi selatan.

Perlu diketahui bahwa yang mengawali sebuah keharmonisan tidak pernah lepas dari kesalahpahaman sampai pada terjadinya sebuah gesekan. Seperti yang kerap kali terjadi di kampus Unismuh Makassar, gesekan sering terjadi hanya karena berawal dari kesalahpahaman individu hingga terjadi sebuah gesekan yang terbawa dari organisasi daerah.

Gesekan yang biasanya dilatar belakangi oleh daerah atau organisasi daerah itu kadangkala membuat mahasiswa lepas kendali, sehingga tidak mengenali dan seakan buta terhadap persaudaraan antar etnis. Baik itu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Tapi untuk Etnis Bugis dan Etnis Makassar sendiri

sangat jarang ditemui gesekan yang berarti yang membawa nama etnis. Bahkan hampir tidak ada sama sekali. Gesekan yang terjadi biasanya muncul hanya membawa daerah tertentu yang menganggap dirinya mayoritas dalam kampus itu sendiri. Seakan ingin memperlihatkan kekuatan massa yang dimiliki dan menunjukan eksistensi dari daerahnya sebagai kebanyakan mahasiswa dari daerah tersebut.

B. Kerangka Pikir

Sehubungan dengan rumusan masalah yang akan dijawab pada penelitian ini, yaitu solidaritas sosial antar etnis dan keharmonisan etnis bugis dan etnis Makassar di Universitas muhammadiyah Makassar, maka dijadikan sebagai landasan teori adalah teori Emile Dukheim mengenai solidaritas sosial yang membagi solidaritas menjadi dua tpe, yaitu tipe solidaritas mekanik dan tipe solidaritas organik. Dalam hal etnisitas, teori solidaritas Dukheim lebih mengarah kepada tipe solidaritas mekanik dimana ditandai oleh kesadaran kolektif dan didasarkan pada tingkat homogenitas yang tinggi dalam sebuah kebersamaan dalam mencapai tujuan yang sama. Kesamaan tujuan dalam mencapai civitas akademik membuat kebersaan tumbuh mengalahkan etnisitas yang berasala dari etnis berbeda. Jika kesamaan itu tumbuh menjadi sebuah solidaritas yang tinggi, akhirnya akan membentuk sebuah keharmonisan yang akan mampu meredam segala masalah etnisitas dalam kampus Universitas Muhammadiyah Makassar.

Terkhusus keharmonisan etnis bugis dan etnis Makassar. Pada dasarnya konsep yang dilakukan oleh peneliti untuk memudahkan untuk pengelolaan penelitian adalah menjelaskan tentang solidaritas antar etnis yang ada di Universitas

Muhammadiyah Makassar dan keharmonisan etnis bugis dan Makassar di Universitas Muhammadiyah Makassar. Untuk lebih jelasnya kerangka pikir dalam penelitian ini, maka disajikan dalam bentuk bagan sebagai berikut:

Gambar 2.1: Skema kerangka pikir Solidaritas Sosial

Antar Etnis

Etnik Bugis Etnik Mandar Etnik Toraja Etnik Makassar

Keharmonisan Hubungan

Kampus Unismuh Makasaasr

ETNIK BUGIS

ETNIK MAKASSAR

C. Deskripsi Fokus Penelitan

Menurut skema kerangka fikir di atas dapat diketahui bahwa solidaritas sosial antar etnis itu adalah hubungan pesaudaraan atau kekerabatan antara setiap etnis yang ada. Etnis yang termasuk di dalamnya merupakan empat etnis besar yang ada di Sulawesi Selatan, yaitu etnis Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Ke empat etnis ini hidup dalam daratan di Sulawesi Selatan secara berdampingan sejak zaman dahulu. Bahkan telah banayak ditemukan dewasa ini telah beranak pinak antar keempat etnis besar ini. Begitu pula dengan etnis-etnis kecil yang ada di Sulawesi Selatan.

Empat etnis yang saling terikat sebagai etnis yang mendiami Sulawesi selatan memang diharapkan memiliki sikap solidaritas yang tinggi, yang mampu mengikat kebersamaan etnis ini dalam sebuah tali persaudaraan antar etnis.

Sebuah hubungan solidaritas yang tinggi memungkinkan untuk meredam segala kemungkinan gesekan yang seringkali menghampiri ke empat etnis ini. Sehingga jika sudah mampu meredam, akhirnya mampu mencapai sikap keharmonisan sosial antar etnis besar yang ada di Sulawesi selatan, selain mengikat etnis kecil yang juga memiliki pengaruh dalam mempertahankan adat tradisi asli Sulawesi sealatan.

Karena adanya sebuah hubungan persaudaraan sejak zaman nenek moyang dahulu sehingga keharmonisan sosial juga mengiringi perjalanan hidup keempat etnis ini. Berbagai macam perpaduan etnis telah mewarnai daratan Sulawesi Selatan saat ini. Di daerah utara yang lebih di dominasi oleh etnis Toraja dan

Mandar telah hidup pula berdampingan etnik Bugis maupun Makassar. Meskipun hanya berstatus perantau, tapi keberadaan mereka juga mampu membawa peranan penting bagi etnis asli di wilayah utara. Begitu pula di bagaian timur yang di dominasi etnis Bugis dan di selatan yang di dominasi etnis Makassar, berbagai masyarakat dari etnis Mandar dan Toraja yang mampu hidup rukun dan damai sebagai bentuk sebuah keharmonisan sosial.

Keharmonisan hubungan antara etnis Bugis dan etnis Makassar juga merupakan sebuah pandangan positif bahwa kedua etnis ini mampu menjaga sebuah solidaritas yang diciptakan oleh nenek moyang sejak dahulu. Karena sebuah perpaduan yang sangat mendalam dari kedua etnik ini sehingga bangsa Belanda menggabungkan nama kedua etnis ini menjadi Bugis Makassar. Sebuah keharmonisan yang harus selalu terjaga untuk menciptakan sebuah kedamaian dalam kemajemukan etnis di Indonesia.

Keharmonisan etnis Bugis dan etnis Makassar tidak hanya bisa di jumpai dalam ranah yang lebih luas. Bahkan dalam sebuah institusi kampus juga dapat terlihat sebuah keharmonisan dibangun oleh kedua etnik ini. Di tengah-tengah pergolakan antar daerah yang di latar belakangi oleh organisasi daerah, etnis Bugis dan etnis Makassar mampu menjaga solidaritas sosialnya sehingga keharmonisan masih dapat terbingkai indah dalam ranah kampus Universitas Muhammadiyah ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa gesekan organisasi daerah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap etnis Bugis dan etnis Makassar.

35

Dokumen terkait