• Tidak ada hasil yang ditemukan

Solidaritas Sosial Antar Etnis di Universitas

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Solidaritas Sosial Antar Etnis di Universitas

dalam satu wilayah telah membuktikan bahwa keempat etnis ini mampu menunjukan rasa solidaritas yang tinggi. Dari sebuah sikap solidaritas yang tinggi telah menumbuhkan keharmonisan hubungan dan rasa saling memiliki antar elompok etnis. Dari keempat etnis, terkhusus etnis bugis dan etnis Makassar banyak yang meyakini bahwa dua etnis ini merupakan etnis yang sama, sehingga muncul berbagai asumsi yang menggabungkan kedua etnis ini menjadi Bugis- Makassar. Tapi pada dasarnya jika kita menoleh pada bukti sejarah masa lalu, kadua etnis ini bukanlah etnis yang sama. Melainkan hanya dipersatukan oleh sikap solidaritas yang tinggi, hingga mampu menjaga keharmonisan hubungan antar etnis dan memiliki rasa saling memiliki satu sama lain. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang solidaritas sosial dan keharmonisan etnis bugis dan etnis makassar, maka penulis melakukan observasi atau pengamatan dan melakukan wawancara.

Mengenai hubungan solidaritas antara etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar, dan etnis toraja selama ini baik baik saja. Itu disebabkan karena masing- masing individu yang mempunyai tujuan yang sama pada saat masuk di Universitas Muhammadiyah Makassar yaitu menuntut ilmu di bangku perkuliahan sampai mendapatkan gelar sarjana. Hubungan keempat etnis ini di Universitas Muhammadiyah Makassar sangat akrab dan sama seperti keluarga sendiri. Dapat dilihat setelah melihat hubungan keempat etnis ini di dalam kelasnya sendiri.

Dijelaskan pula bahwa dari dahulu keempat etnis ini memang telah hidup dan berbaur dalam satu wilayah. Bahkan sampai saat ini sudah ada yang saling mengikat antara kedua etnis ini, seperti ikatan pernikahan. Meskipun diliputi

perbedaan seperti dalam hal bahasa, keempat etnis ini tidak terlalu mempengaruhi keakraban dan rasa kekeluargaannya. Terlebih lagi karena masing-masing memiliki tujuan yang sama. Sesuai dengan yang dikatakan informan berikut ini:

“hubungan etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja baik-baik saja, bahkan kalau seperti di kelasku itu hubungan orang bugis, Makassar, mandar, dan toraja itu sudah sangat akrab dan sudah seperti mi keluarga. Kulihat juga dari mahasiswa yang ada di kampus Unismuh kita ini saling akrab ji, mungkin karena dari dulu memang keempat etnis ini sering mi hidup sama di kota makassrar, sampai- sampai adami yang saling menikah. Berbeda memang tapi kan satu daerah jaki, lagian juga kalo cerita-ceritaki pakai bahasa Indonesia jaki juga”.(wawancara, Nurjannah Azis 30 agustus 2015).

Hubungan solidaritas yang terjalin antara etnis bugis, Makassar, mandar dan toraja merupakan hubungan solidaritas yang murni diperlihatkan karena kesamaan nasib dalam menuntut ilmu di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Hal ini sesuai dengan pandangan Dukheim mengenai solidaritas sosial yang merupakan perasaan saling percaya antara anggota dalam suatu kelompok atau komunitas. Jika orang saling percaya maka mereka akan menjadi satu atau menjadi persahabatan, mejadi saling hormat meghormati dan menjadi terdorong untuk bertanggung jawab dan memperhatikan kepentingan sesamanya.

Hasil dari sebuah kepercayaan antar etnis yang dihasilkan dalam sebuah solidaritas memang meberikan sebuah hasil positif dalam kehidupan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar. Sehingga terjalin pula sikap saling menghargai diantara etnis yang dapat menunjang kuatnya sikap solidaritas sosial antar etnis. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh salah seorang informan:

“solidaritas itu tidak bisa terbangun tanpa adanya sikap saling menghargai. Karena adanya sikap saling menghargai sehingga apa yang dicita-citakan dalam bentuk keharmonisan dan solidaritas sosial

pasti akan berjalan dengan indah dan damai”. (wawancara, Amhar Saputra 10 agustus 2015).

Mengenai sikap saling menghargai antara etnis ini sesuai dengan yang diutaran oleh informan lain, yaitu:

“hubungan yang terjalin antara etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja sangat baik, itu disebabkan karena kebanyakan mahasiswa keempat etnis ini mengerti sifat saling menghargai perbedaan dalam mewujudkan keharmonisan”

(wawancara, Muhammad Taqwa 30 agustus 2015).

Sesuai dengan penuturan informan di atas diatas bahwa solidaritas sosial hanya mampu dibangun jika mahasiswa dari etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja memiliki sikap saling menghargai. Dalam hal itu sudah mampu diwujudkan di dalam kampus Universitas Muhammadiyah Makassar sampai saat ini. Sehingga rasa aman dan damai sudah mampu terwujud sebagai cita-cita bersama setiap individu di Universitas Muhammadiyah Makassar. Sikap saling menghargai perbedaan mampu melebur menjadi sebuah persaudaraan yang sangat erat dikalangan etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja.

Sifat saling menghargai antara mahasiswa etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja seringkali ditemui di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Makassar. Sebagian mahasiswa sudah mampu mengontrol sifat emosionalnya terhadap kejadian yang tidak disengaja oleh sebagian mahasiswa.

Sifat saling menghargai ini seperti pada kejadian dimana mahasiswa saling bertabrakan ketika berjalan. Mahasiswa saling memaafkan dan tidak menganggap itu menjadi hal serius yang bisa mengubah situasi menjadi panas. Sifat saling menghargai itu menjadi modal besar bahwa setiap kejadian sepele seharusnya

diselesaikan dengan kepala dingin, bukan dengana kekerasan yang berakibat konflik.

Solidaritas sosial yaitu keadaan saling percaya dan sikap saling menghargai antar anggota dalam suatu kelompom atau komunitas. Jika orang saling menghargai mereka akan menjadi satu, menjadi sahabat, menjadi saling menghormati, menjadi terdorong untuk bertanggung jawab dan memperhatikan kepentingan bersama. Hal itu dikemukakan oleh Dukheim sebagai solidaritas mekanik yang diperlihatkan masyarakat desa. Sikap saling menghargai itu juga dibawa oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar yang sebagian besar berasal dari desa. Sehingga kemungkinan bahwa solidaritas sosial atas dasar sikap saling menghargai mampu terwujud pada mahasiswa meskipun dibedakan oleh etnis.

Selain saling menghargai, saling membantu juga merupakan salah satu penunjang dalam membentuk sebuah solidaritas sosial dalam lingkup Universitas Muhammadiyah Makassar. Dalam beragam perbedaan etnis yang ada di Universitas Muhammadiyah Makassar, terutama empat etnis besar ini akan memperkuat solidaritasnya ketika saling membantu satu sama lain. Dalam mencapai satu tujuan yang sama sebagai mahasiswa dibutuhkan jiwa yang saling peduli antar sesama. Dengan demikian memberi bantuan terhadap mahasiswa yang memerlukannya pasti akan sangat memperkuat solidaritas sosial. Tertama jika mahasiswa yang terbantu itu merupakan mahasiswa yang berbeda etnis.

Misalnya dari keempat etnis besar yang ada di Sulawesi selatan ini.

Berkaitan dengan sikap saling membantu antar mahasiswa yang dilakukan di Universitas Muhammadiyah Makassar, salah satu informan mengatakan bahwa:

“nakke anjo riolo waktuku maba langsung jai kuagangi akrab, apa na sebenarnya anjo para katte ji. Lagiang teai maki anne anak-anak ero’

siri’-siri’. Nia’ tong tau mangkasara’, tau bugisi’, dan lain-lain.

Walaupun nampaiki sibuntulu’ tapi langsung maki akrab, kerjasama, saling menghargai na baku bantu-bantu punna nia’ susah”

(wawancara, Idhil Maulana Ilham 10 agustus 2015).

Solidaritas sosial antar etnis itu tidak pernah lepas dari sikap saling membantu. Ketika sikap saling membantu sudah tertanam erat dalam hati manusia, pastinya hubungan dengan orang lain akan selalu harmonis dan damai.

Etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja yang ada di Universitas Muhammadiyah Makassar juga telah mampu mewujudkan hubungan keharmonisan. Terbukti bahwa informan diatas mengalami hal seperti itu. Sejak menjadi mahasiswa baru pada tahun 2012 sudah mampu akrab dengan berbagai mahasiswa baik dari etnis sesama Makassar maupun dengan beberapa etnis besar yang ada di Sulawesi selatan, juga beberapa mahasiswa dari etnis luar yang mengambil fokus pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar. Selain memiliki keakraban dengan mahasiswa dari etnis bugis, kerjasama dan sikap saling membantu menjadi penunjang solidaritas sosial antar etnis di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Sesuai dengan apa yang dipaparkan informan dalam hal sikap saling membantu meskipun berbeda etnis, itu juga sesuai dengan pandangan Dukheim bahwa solidaritas sosial terjadi karena beberapa faktor sehingga dalam bersolidaritas benar-benar memiliki rasa untuk saling membantu satu sama lain.

Salah satu sumber solidaritas sosial adalah saling membantu, sikap saling

membantu mengacu pada sikap gotong royong atau saling menolong antar mahasiswa meskipun berneda etnis.

Solidaritas sosial sangat diperlukan di dalam sebuah institusi, eperti institusi kampus. Karena pada umumnya mahasiswa kampus mempunyai tujuan yang sama dalam menempuh pendidikan. Hal itu disebabkan karena mahasiswa dalam kampus memiliki segala perbedaan-perbedaan yang mendasar meskipun memiliki tujuan yang sama. Perbedaan itu dapat berupa perbedaan etnis, agama, fakultas, jurusan dan sebagainya. Sehingga harus ditanamkan rasa solidaritas sosial agar mahasiswa bisa saling peduli dan saling membantu jika ada mahasiswa yang memerlukan.

Setelah saling membantu, juga diperlukan sikap saling menghormati antara mahasiswa. Apalagi jika masing-masing memiliki perbedaan seperti perbedaan etnis. Karena pada dasarnya dalam membentuk sebuah solidaritas sosial juga harus mampu mewujudkan sikap saling menghormati sesama. Jika melihat kenyataan dalam lingkup Universitas Muhammadiyah Makassar, hubungan baik sudah mampu terjalin antara etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja. Sudah mampu terlihat sikap saling membantu diperagakan oleh keempat etnis besar ini yang menunjang terjalinnya solidaritas sosial antar etnis. Sehingga dengan sendirinya sikap saling menghormati juga selalu mengiringi hubungan solidaritas antar etnis besar ini di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Sesuai dengan pendapat informan yang telah didapatkan oleh peneliti bahwa:

“pelangi telah mengajarkan kita indahnya sebuah perbedaan. Seperti pelangi yang terangkai oleh berbagai macam warna tapi mampu

mewujudkan sebuah keindahan dari perpaduannya. Sama halnya kita orang bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja meskipun berbeda tetapi harus tetap saling menghormati dalam menciptakan kedamaian dalam hubungan kekerabatan”. ( wawancara, Fatmawati Dg. Ranyu’10 agustus 2015).

Sesuai dengan yang dikatakan informan di atas bahwa etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja tetap harus saling menghormati antar etnis agar tercipta kedamaian dalam hubungan kekerabatan dalam bahasa kiasan. Lain hal yang telah di ungkapkan oleh informan lainnya bahwa:

“orang dari etnis makassar, etnis mandar dan etnis toraja memang cuek orangnya, tapi walaupun cuek de’ to ma na engka sibombe’- bombe’. Apalagi sampai ada baku berkelahi. Jadi bisa dikatakan hubungan interaksi etnis bugis dan Makassar di kampus tetap aman dan terkendali”. (wawancara, Nurrahmah Arifin 10 agustus 2015).

N.A menuturkan bahwa mahasiswa etnis Makassar, etbis mandar dan etnis toraja itu merupakan tipe orang yang cuek terhadap sesuatu. Hidup dalam sistem individualitas yang sangat tinggi. Hanya mementingkan diri sendiri dibandingkan harus akrab dengan orang-orang yang baru mereka kenal. Hal yang dialami oleh informan ini ketika dia masih berada pada tingkat semester pertama 3 tahun yang lalu. Sikap mementingkan diri sendiri sering diperlihatkan oleh etnis makassar ketika bertemu dengan mahasiswa lain yang belum dikenalnya. Hal itu membuat informan biasanya jenuh dalam kelas ketika perkuliahan.

“Orang Makassar, mandar dan toraja itu cuek, egp orangnya.

Temankupun banyak yang seperti itu. Jadi biasanya malaska juga bergaul sama mereka di kelas, apalagi di luar kelas”. (wawancara, Nurrahmah Arifin 10 agustus 2015).

Informan kembali menuturkan bahwa walaupun etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja bersikap cuek dalam berinteraksi dengan beberapa etnis

yang ada pada lingkungan kampus, tidak terkecuali etnis bugis tetapi hubungan kekerabatan antara etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja masih berjalan dengan damai.

Selanjutnya mengenai sikap saling menghormati informan lain mengatakan bahwa:

“kalau berbicara tentang hubungan emosional orang bugis dengan etnis lain di kampus itu menurut saya baik baik ji. Tidak pernah ja dengar ada orang bugis bermasalah dengan dari etnik lain, atau orang Makassar dengan orang bugis, mandar dengan bugis atau toraja dengan bugis. Semua aman-aman saja. Kalaupun ada masalah di kampus itu biasanya bentrok organda ji, bukan ji karena beda etnis.

Malah biasanya ada juga yang provokatori supaya bentrok. Makanya itu masalah bentrok organda tidak kunjung bisa selesai. Tapi satu hal yang pasti bahwa orang bugis, orang Makassar, orang mandar dan orang toraja menurut saya tidak pernah ji ada masalahnya. Lagian hampirma empat tahun juga kuliah disini, tidak pernah ja dengar bugis-makassar ribut-ribut”. (wawancara, Alam Budi Kusuma 10 agustus 2015).

Informan inimenuturkan bahwa hubungan antara etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja jika berada dalam lingkup Universitas Muhammadiyah Makassar masih terjada dengan baik. Tidak pernah ada masalah yang mengusik perdamain hubungan keempat etnis ini. Bahkan jika terjadi konflik di area kampuspun tidak pernah dilandasi oleh perbedaan etnis. Hanya pergolakan daerah yang dimotori oleh organda dengan dibmbuhi oleh provokator yang membuat masalah menjadi makin runyam dan sulit untuk diredam. Informan kembali menjelaskan bahwa selama hampir empat tahun terakhir ini tidak pernah ada masalah antara etnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja mengenai permasalahan etnis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan

emosional antara etnis di universitas Muhammadiyah Makassar masih tetap terjaga kedamaiannya dan solidaritas sosialnya.

Sesuai dengan pemaparan di atas mengenai sikap saling menghormati dalam menunjang terciptanya solidaritas sosial antar etnis, Emile Dukheim yang dikutip oleh Robert M.Z Lawang, solidaritas merupakan keadaan saling percaya antar anggota kelompok atau komunitas. Jika orang saling percaya mereka akan menjadi satu atau menjadi sahabat dan saling menghormati satu sama lain dalam memenuhi kebutuhan antar sesama. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa solidaritas adalah keadaan saling percaya antar anggota suatu kelompok sehingga tercipta rasa persatuan, saling menghormati, serta saling membantu dalam memenuhi kebutuhan antar sesama.

Kemudian jika dilihat dari segi historis, solidaritas sosial antar etnis di Universitas Muhammadiyah Makassar tercipta karena adanya kesatuan emosional.

Karakteristik masyarakat Sulawesi selatan yang berkuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar sangat beragam, meliputi keragaman etnis.

Kebersatuan etnis terjalin karena dalam perkembangannya terjadi sikap saling membantu. Dalam bahasa Dukheim, solidaritas semacam ini disebut dengan solidaritas mekanik.

Universitas Muhammadiyah Makassar dibaratkan sebagai sebuah telur dimana di dalam telur terdapat putih telur dan kuning telur, keduanya sangatlah rapuh dan mugah hancur tanpa cangkang yang melindunginya. Itulah kampus yang memiliki keanekaragaman. Cangkang disini diibaratkan sebagai solidaritas antar etnis. Semakin kuat solidaritas antar etnis, semakin kuat pula persatuan

bangsa. Sehingga semakin saling menghormati mahasiswa dengan mahasiswa yang lain walaupun berbeda etnis, begitupun sebaliknya.

Dari sikap saling menghargai, saling membantu dan saling menghormati maka akhirnya hubungan kerjasama antar etnis di Universitas Muhammadiyah Makassar semakin besar. Kerjasama yang diperlihatkan oleh mahasiswa Makassar di Universitas Muhammadiyah Makassar membuktikan bahwa solidaritas sosial antar etnis telah terjalin erat diantara mereka. Ketika mahasiswa telah berada dalam lingkup Universitas Muhammadiyah Makassar, etnisitas sudah tidak dominan dalam menentukan hubungan solidaritas sosial diantara mahasiwa.

Solidaritas sudah mampu terjalin karena adanya tujuan yang sama dalam menempuh focus pendidikan.

Meskipun demikian, hubungan kerjasama yang terjalin dalam lingkup Universitas Muhammadiyah Makassar lebih erat dalam lingkup jurusan jika dibandingkan dengan lingkup fakultas. Hal itu diakibatkan bahwa lingkup jurusan lebih memungkinkan untuk memberikan pertemuan yang lebih dibandingkan dengan dalam lingkup fakultas. Sehingga hubungan solidaritas sosial antar mahasiswa sejurusan masih lebih erat lagi daripada berbeda jurusan bahkan berbeda fakultas.

Solidaritas sosial yang terpelihara dalam pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar selain dalam lingkup persamaan jurusan, juga dalam sebuah organisasi kampus. Jika dilihat dalam lingkup organisasi, kerjasama lebih dapat secara jelas terlihat dalam mewujudkan solidaritas sosial. Dalam sebuah organisasi, etnisitas juga tidak lagi menjadi hal yang dominan, tetapi sebuah

tujuan yang sama dalam memajukan harapan organisasi. Selain itu, perkenlan juga mampu memberi sebuah pengaruh dalam menunjukan sikap kerjasama sehingga mewujudkan sebuah solidaritas sosial. Sebuah kutipan penulis dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa:

“Kita bungkuk sama-sama, berdiri sama-sama, dan menuai hasil bersama“.(wawancara, Thamrin Pratama 10 agustus 2015).

Pada dasarnya semua orang punya hak untuk berbaur dan bergaul dengan siapa saja, tanpa memandang etnis, suku, agama, ataupun bangsa. Kemudian jika berbicara tentang kerjasama mahasiswa meskipun berbeda etnis itu sudah pasti ada. Apalagi karena berada di wilayah kampus yang telah kita ketahui bahwa beragam etnis ada di dalamnya. Jangankan dari etnis makassar, dari etnis mandar, toraja, tolaki, kajang, dan etnis yang berada diluar Sulawesi selatan yang berada di lingkungan Universitas Muhammadiyah Makassar, terkhusus di Fakultas Teknik sebagian besar informan kenal. Itu juga tidak lepas dari sikap informan yang suka berbaur dengan orang baru dan juga tergabung dalam beberapa organisasi kampus maupun di luar kampus Univesitas Muhammadiyah Makassar.

Kemudian selanjutnya, hubungan antar etnis terutama di Universitas Muhammadiyah Makassar itu tidak lepas dari kenal atau tidaknya seseorang dengan orang lain yang berbeda etnis. Jika yang seseorang saling kenal pasti hubungannya akan baik dan harmonis, karena didasari dengan keakraban dan sikap persaudaraan. Tapi lain halnya apabila tidak saling kenal, tentu tidak ada hubungan interaksi yang terjadi. Walaupun perlu kita ketahui bahwa meskipun tidak terjadi hubungan interaksi, bukan berarti ada masalah. Akan tetapi hanya persoalan kurangnya pergaulan antar mahasiswa untuk mempererat persaudaraan

mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar. Informan juga menuturkan bahwa keharmonisan itu dapat terwujud melalui kerjasama dan saling menghargai satu sama lain.

Sesuai dengan apa yang telah di kemukakan oleh informan dari Fakultas Tekhnik, informan lain menuturkan pula mengenai kerjasa dan saling menghargai satu sama lain bahwa:

“nakke anjo riolo waktuku maba langsung jai kuagangi akrab, apa na sebenarnya anjo para katte ji. Lagiang teai maki anne anak-anak ero’

siri’-siri’. Nia’ tong tau mangkasara’, tau bugisi’, dan lain-lain.

Walaupun nampaiki sibuntulu’ tapi langsung maki akrab, kerjasama, saling menghargai na baku bantu-bantu punna nia’ susah”

(wawancara, Idhil Maulana Ilham 10 agustus 2015).

Sikap kerjasama dalam yang ditunjukan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar memang sudah terjadi pada saat pertemuan pertama kali sebagai mahasiswa baru. Kerjasama yang tidak memandang etnis telah memberikan sebuah kejelasan bahwa solidaritas sosial dalam area kampus Universitas Muhammadiyah Makassar sudah mengesampingkan etnisitas.

Fakta sosial yang dikemukakan oleh Emile Dukheim menjelaskan bahwa dalam masyarakat terdapatadanya cara bertindak manusia yang umumnya terdapat pada masyarakat tertentu yang sekaligus memiliki eksistensnya sendiri dengan cara dan dunianya terlepas dari manifestasi-manifestasi individu. Solidaritas mekanik didasarkan atas persamaan. Persamaan dan kecenderungan untuk berseragam inilah yang memebentuk struktur sosial mahasiswa, dimana mahasisa bersifat homogen dan mirip satu sama lain. Ciri mahasiswa dengan solidaritas mekanik ini ditandai dengan adanya kesadaran kolektif dimana mereka

mempunya kesadaran untuk hormat pada ketaatan karena nilai-nilai keagamaan masih sangat tinggi. Karena ketaatan itu yang membuat solidaritas menjadi semakin kuat.

Jika dikaitkan dengan solidaritas sosial antar etnis dalam lingkup Universitas Muhammadiyah Makassar sudah jelas bahawa hubungan solidaritas karena sebuah kerjasama di dasarkan pada hubungan solidaritas mekanik.

Hubungan yang saling membutuhkan satu sama lain dalam melakukan sesuatu.

Sehingga antara mahasiswa yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan meskipun memiliki latar belakang yang berbeda seperti perbedaan etnis.

Antaraetnis bugis, etnis Makassar, etnis mandar dan etnis toraja mampu mengesampingkan perbedaan etnis jika dihadapkan pada kerjasama dalam kampus. Dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan atau kegiatan tidak tampak bahwa kerjasama mereka bukan didasari pada kesamaan etnis tetapi keran persamaan tujuan dalam menyelesaikan sesuatu secara maksimal. Itu merupukan tujuan bersama dalam mewujudkan keberhasilan bersama. Begitu pula dapat memperkuat solidaritas sosial antar etnis antara mereka di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Solidaritas mekanik merupakan ciri yang menandai masyarakat yang masih sederhana (oleh Durkheim dinamakan segmental). Dalam lingkup Universitas Muhammadiyah Makassar yang diutamakan adalah persamaan perilaku dan sikap, sehingga perbedaan tidak dibenarkan. Seluruh mahasiswa diikat oleh apa yang dinamakan collective conscience yaitu suatu kesadaran bersama yang mencakup keseluruhan kepercayaan dan perasaan etnisitas.

Sehingga solidaritas sosial antar etnis dapat terjaga dan terpelihara menumbuhkan sebuah keharmonisan sosial antar etnis.

Solidaritas sosial antar etnis sesungguhnya mengarah pada keakraban atau kekompakan (kohesi) antar kelompok etnis. Dalam perspektif sosiologi, keakraban hubungan antara kelompok etnis itu tidak hanya merupakan alat dalam rangka usaha mencapai atau mewujudkan cita-citanya, akan tetapi justru keakraban hubungan sosial tersebut sekaligus merupakan salah satu tujuan utama dari kehidupan kehidupan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Keadaan kelompok etnis yang semakin kokoh selanjutnya akan menimbulkan sense of belongingness diantara anggotanya.

Solidaritas juga merupakan kesetiakawanan antar kelompok etnis.

Terdapatnya solidaritas yang tinggi dalam kelompok etnis bergantung pada kepercayaan setiap anggota akan kemampuan anggota lain untuk melaksanakan tugas dengan baik. Pembagian tugas dalam kelompok sesuai dengan kecakapan masing-masing anggota dengan keadaan tertentu akan memberikan hasil kerja yang baik. Dengan demikian, akan makin tinggi pula solidaritas kelompok etnis itu dan makin tinggi pula sense of belonging (Huraerah dan Purwanto, 2006:7).

Lebih lanjut solidaritas sosial merupakan kohesi yang ada antara mahasiswa suatu kelompok etnis, fakultas atau jurusan dan diantara berbagai pribadi, kelompok maupun kelas-kelas membentuk mahasiswa atau bagian-bagiannya. Solidaritas sosial melahirkan persamaan, saling ketergantungan, dan pengalaman yang sama merupakan unsur pengikat dalam unit-unit kolektif seperti keluarga, kelompok, dan komunitas.

Dokumen terkait