2.1. Kompetensi Auditor Forensik
2.1.1. Pengetahuan Dasar (Knowledge)
2.1.1.1. Fungsi Auditing
Seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan bisnis bahwa makin dirasakan perlunya audit yang independen untuk meyakinkan adanya ketelitian dan keandalan pencatatan
61 yang diselenggarakan oleh berbagai perusahaan dan organisasi. Undang undang Perusahaan di Inggris (British Companies Act) tahun 1862 dan periode sebelumnya dimana terdapat pengakuan umum bahwa perlu sistem akuntansi yang standar, telah mendorong timbulnya audit profesional.
Dari tahun 1862 sampai 1905 audit professional telah berkembang di Inggris dan mulai diperkenalkan di Amerika Serikat kira kira dalam tahun 1900 (Kosasih,1981).
Profesi akuntan sebenarnya sudah lama berkembang di negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Belanda, Jepang. Bagi Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang dimana pembangunan ekonomi mendapat prioritas utama dan dengan semakin banyaknya dan besarnya perusahaan serta semakin rumitnya persoalan yang dihadapi, maka profesi akuntanpun semakin memegang peranan penting terutama dalam pemberian bantuan audit laporan keuangan, bantuan dalam bidang akuntansi lainnya dan pemberian nasehat di bidang manajemen. Dalam tahun-tahun terakhir ini, tidak hanya terbatas pada audit atas laporan keuangan historis, namun mencakup juga jasa profesi yang memberikan pendapat tingkat keyakinan (level of assurance) di bawah tingkat keyakinan yang diberikan oleh auditor di dalam audit atas laporan keuangan historis (IAI 2001) dan berkembang pula audit forensik yaitu sebagai ilmu mengenai pengumpulan dan pengujian informasi dalam bentuk dan format yang dapat diterima oleh sistem hukum di pengadilan dalam melawan para pelaku kejahatan ekonomi seperti tindak pidana korupsi.
2.1.1.1.1. Pengertian Auditing
Terdapat beberapa definisi yang menguraikan arti pemeriksaan (Auditing). Menurut kamus Eric L Kohler (1972), auditing adalah inspeksi yang dilakukan oleh pihak ketiga atas catatan akuntansi termasuk analisa, pengujian (test) konfirmasi dan pembuktian lainnya. Dalam kamus ini pemeriksaan diartikan pula sebagai suatu review dan penyelidikan yang dilakukan oleh akuntan publik yang mendasarkan pada pengendalian intern dan catatan akuntansi suatu
62 perusahaan atau unit ekonomi lainnya sebelum diberikannya pernyataan akuntan atas kelayakan laporan keuangan. Pendapat Kohler (1972) ini sejalan dengan pendapat Mautz (1961) bahwa audit adalah verifikasi data akuntansi untuk menentukan ketelitian dan dapat diandalkannya (dipercayanya) laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen.
Selanjutnya menurut Arens dan K.Loebecke (1994), memperkuat pendapat terdahulu bahwa audit adalah suatu proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti yang diintegrasikan yang dilakukan oleh orang yang independen dan kompeten yang menyangkut informasi yang dapat dihitung dari suatu satuan ekonomi tertentu dengan tujuan untuk menentukan dan melaporkan tingkat hubungan antara informasi yang dapat dihitung dan kriteria yang telah ditetapkan. Seiring dengan kebutuhan pengguna informasi akan handalnya informasi yang disampaikan oleh berbagai jenis usaha, dewasa ini akuntan publik telah mengembangkan jenis-jenis jasa yang mereka berikan (Aren, 2003) seperti: (1) jasa assurance yaitu jasa professional independen yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas informasi bagi para pembuat keputusan, (2) jasa atestasi yaitu suatu jenis jasa assurance di mana pada akhir proses audit, kantor akuntan publik akan menerbitkan suatu komunikasi tertulis yang menggambarkan suatu kesimpulan akan keandalan dari asersi tertulis yang telah dibuat oleh pihak lain. Terdapat tiga kategori jasa atestasi yaitu; (1) audit atas laporan keuangan histories, adalah merupakan bentuk jasa atestasi yang mana si auditor menerbitkan laporan tertulis berisi pendapat atau opininya mengenai apakah laporan keuangan histories tersebut telah disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku secara umum, (2) tinjauan (reviu) atas`laporan keuangan histories adalah jasa atestasi lainnya yang dapat dilakukan oleh kantor akuntan publik, (3) dan jasa-jasa atestasi lainnya adalah merupakan suatu pengembangan alami dari audit atas laporan keuangan historis akibat dari keinginan para pengguna informasi untuk mencari rasa keandalan dari pihak independen tentang berbagai jenis informasi sesuai kebutuhannya.
63 2.1.1.1.2. Konsepsi Auditing
Dalam setiap pelaksanaan audit auditor harus memperhatikan dan menerapkan lima konsep utama dalam pekerjaan auditing yaitu evidence, due audit care, fair presentation, independence, and ethical conduct. (Mautz, 1961) yaitu:
2.1.1.1.2.1.Pembuktian (Evidence)
Sebagian besar pekerjaan auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan terdiri dari usaha untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti audit. Ukuran keabsahan (validity) bukti tersebut untuk tujuan audit tergantung pada pertimbangan auditor;
dalam ini bukti audit (audit evidence) berbeda dengan bukti hukum (legal evidence) yang diatur secara tegas dalam KUHAP.
Bukti audit sangat bervariasi pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan. Relevansi, objektivitas, ketapatan waktu, dan keberadaan bukti audit lain yang menguatkan kesimpulan, seluruhnya berpengaruh terhadap kompetensi bukti. Seperti yang dijelaskan dalam standar pekerjaan lapangan ketiga berbunyi;
“Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan”
Pengumpulan bukti yang kompeten dan cukup harus dilakukan untuk mendukung asersi manajemen mengenai yang terkandung dalam laporan keuangan terkait dengan: (a) keberadaan atau kejadian (existence or occurrence) (b) kelengkapan (completeness), (c) hak dan kewajiban (right and obligation), (d) penilaian/valuation atau alokasi, (e) penyajian yang wajar (presentation
64 and disclosure). Untuk maksud ini auditor merumuskan tujuan audit spesifik ditinjau dari sudut asersi tersebut.
Dalam merumuskan tujuan audit, auditor mempertimbangkan kondisi khusus entitas, termasuk sifat aktivitas ekonomi dan praktik akuntansi yang khas dalam industrinya. Auditor tidak perlu secara satu persatu menghubungkan tujuan audit dengan prosedur audit. Beberapa prosedur audit dapat dikaitkan dengan lebih dari satu tujuan audit. Dalam memilih pengujian substantif tertentu untuk mencapai tujuan audit yang telah ditetapkan, auditor mempertimbangkan, antara lain ; risiko salah saji yang material dalam laporan keuangan, termasuk tingkat risiko pengendalian taksiran, serta efisiensi dan efekivitas pengujian yang diharapkan dari pengujian tersebut. Dalam hal ini auditor mempertimbagkan sifat dan materialitas unsur-unsur yang diuji, jenis dan kompetensi bukti audit yang tersedia, dan sifat tujuan audit yang hendak dicapai. Tujuan audit spesifik yang dirumuskan auditor tidak mengalami perubahan apakah diterapkan dalam pengolahan data dengan manual maupun dengan komputer. Namun, metode penerapan prosedur audit untuk mengumpulkan bukti dapat dipengaruhi oleh metode pengolahan data yang digunakan klien. Auditor dapat menggunakan prosedur audit manual, teknik audit berbantuan komputer (computer- assisted audit technique), atau kombinasi kedua metode tersebut untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup.
Bukti audit yang mendukung laporan keuangan terdiri dari data akuntansi dan semua informasi penguat yang tersedia bagi auditor. Data akuntansi seperti : Jurnal, Buku Besar dan Buku Pembantu, dan buku pedoman akuntansi yang berkaitan, serta catatan seperti lembaran kerja yang mendukung alokasi biaya, perhitungan, dan rekonsiliasi. Sedangkan bukti penguat meliputi baik informasi tertulis maupun elektronik, seperti cek, catatan electronic fund transfer, faktur, surat kontrak, notulen rapat, konfirmasi dan representasi tertulis dari pihak yang mengetahui ; informasi yang diperoleh auditor melalui permintaan keterangan, pengamatan, inspeksi dan
65 pemeriksaan fisik, serta informasi lain yang dikembangkan oleh atau tersedia bagi auditor yang memungkinkannya menarik kesimpulan berdasarkan alasan yang kuat.
Bukti audit dapat disediakan oleh klien, diperoleh dari pihak luar auditan dan diciptakan sendiri oleh auditor selama berlangsungnya audit.
Menurut Holmes (1975) bukti biasanya terdiri dari :
1) Bukti hasil review auditor atas sistem pengendalian intern yang cukup
2) Semua buku auditan, baik buku-buku harian, buku jurnal, buku besar maupun buku tambahan yang dipergunakan oleh auditan
3) Dokumen pembukuan, baik yang dibuat pihak ektern (diterima dari luar) maupun intern termasuk sertifikat saham dan surat obligasi, surat wesel serta kertas berharga lainnya yang dimiliki oleh auditan
4) Bukti kesaksian, berupa informasi yang diperoleh dari pihak luar yang independen, baik secara tertulis maupun lisan yang dikumpulkan oleh auditor
5) Bukti secara fisik. Yaitu berupa bukti eksistensi seperti, uang kas, persediaan, aktiva tetap lainnya yang diperoleh auditor dengan jalan observasi atau inspeksi
6) Pernyataan tertulis atau keterangan lisan yang diperoleh auditor dari para pegawai dan pejabat auditan
7) Bukti analisis, yaitu berupa perhitungan, kalkulasi, perbadingan dan analisa serta penalaran auditor atas data yang diperolehnya.
Hampir sama dengan Holmes (1975), Arens (2003) membagi bukti kedalam tujuh jenis pula yaitu:
1) Pengujian fisik (physical examination) 2) Konfirmasi (confirmation)
3) Dokumentasi (documentation)
4) Prosedur analitis (analytical procedures)
5) Wawancara kepada klien (inquiries of the client) 6) Hitung uji (reperformance)
7) Observasi (observation)
66 Sementara itu Mautz (1961) secara garis besar mengelompokkan bukti audit kedalam tiga kelompok besar yaitu :
1) Natural evidence.
2) Created Evidence 3) Rational argumentation
Natural evidence, sudah tersedia disekitar kita dan berkaitan dengan transaksi keuangan yang terjadi, dapat juga dilihat keberadaannya seperti bukti persediaan dapat dilakukan observasi untuk membuktikannya. Sementara created evidence, tidak selalu tersedia. Untuk mendapatkannya membutuhkan keahlian khusus, misalnya bukti hasil analisis melalui hasil laboratarium.
Sedangkan rational argumentation adalah sesuatu yang bisa dijadikan bukti dengan memerlukan keahlian khusus. Misalnya hakim memperoleh bukti dari menghubungkan beberapa fakta yang terungkap di pengadilan dan dari fakta-fakta tersebut secara logika dan argumentasi yang rasional menjadikan nya sebagai bukti untuk mengungkapkan kasus yang ditanganinya.
2.1.1.1.2.2. Kecermatan audit (Due audit Care)
Auditor dalam segala kegiatan audit harus menerapkan kecermatan dan keterampilan yang layaknya dilakukan oleh seorang auditor yang prudent dan kompeten, yang menghadapi situasi yang sama. Oleh karenanya, kecermatan professional harus sesuai dengan kompleksitas penugasan yang sedang dilaksanakan. Auditor harus waspada atas adanya kemungkinan kesalahan yang disengaja, kesalahan dan penghilangan, inefisiensi, inefektivitas, dan konflik kepentingan. Auditor juga harus waspada terhadap kondisi dan kegiatan yang mengandung pelanggaran & ketidak beresan. Dalam pekerjaanya auditor juga harus mengidentifikasi adanya ketidak cukupan pengendalian dan rekomendasi perbaikan yang diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan dengan prosedur dan praktik praktik akuntansi yang diterima umum. Kecermatan mengandung arti hati-hati dan kompeten. Tidak dimaksudkan sebagai kesempurnaan (tanpa
67 kesalahan) atau kinerja yang luar biasa. Kecermatan mengharuskan auditor untuk melaksanakan pengujian dan verifikasi pada tingkat yang layak, tetapi tidak mengharuskan review yang terinci atas semua transaksi. Karena itu auditor tidak dapat memberikan jaminan mutlak bahwa tidak terdapat ketidak patuhan atau pelanggaran. Meskipun begitu, kemungkinan adanya pelanggaran atau ketidak patuhan yang material harus dipertimbangkan oleh auditor dalam pelaksanaan tugasnya.
Dalam menerapkan kecermatan professional auditor perlu mempertimbangkan : 1) Ruang lingkup penugasan
2) Kompleksitas dan materialitas yang dicakup dalam penugasan
3) Kecukupan dan efektivitas manajemen risiko, pengendalian dan proses good corporate governance atau good government.
4) Biaya dan manfaat penggunaan sumber daya penugasan
5) Penggunaan teknik-teknik audit berbantuan komputer dan teknik teknik analisis lainnya.
Berkaitan dengan penerapan kecermatan audit, dalam standar umum pertama auditing menyatakan:
”Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditior” Kemudian dalam standar umum ketiga dinyatakan
“Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama” (SPAP-IAI: 2005)
Standar ini menuntut bahwa seorang auditor independen untuk merencanakan dan melaksanakan pekerjaannya dengan menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama. Penggunaan kemahiran professional dengan kecermatan dan keseksamaan menekankan tanggungjawab setiap professional yang bekerja dalam organisasi auditor independen untuk mengamati standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan
Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama ini menyangkut apa yang dikerjakan auditor dan bagaimana kesempurnaan pekerjaannya tersebut. Untuk menjaga tercapai
68 penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama, para auditor harus ditugasi dan disupervisi sesuai dengan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan sedemikian rupa sehingga mereka dapat mengevaluasi bukti audit yang mereka peroleh. Auditor dengan tanggungjawab akhir untuk suatu perikatan harus mengetahui, pada tingkat minimum, standar akuntansi dan auditing yang relevan dan harus memiliki pengetahuan tentang kliennya
2.1.1.1.2.3. Kewajaran Penyajian (Fair Presentation)
Tujuan umum pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi keuangan yang bermanfaat untuk membantu pengambilan keputusan ekonomi. Agar hal tersebut dapat dicapai diperlukan suatu pengungkapan yang jelas mengenai data akuntansi dan informasi lainnya yang relevan. Kepada siapa informasi keuangan disajikan, apa yang perlu diungkapkan, tujuan pengungkapan dan bagaimana informasi tersebut diungkapkan merupakan bagian penting dalam pelaporan keuangan.
Mautz (1961) mengungkapkan bahwa dalam laporan yang wajar harus meliputi tiga konsepsi yang saling berhubungan yaitu :
1) Ketepatan akuntansi (accounting properiety) 2) Pengungkapan yang cukup (adequate disclosure) 3) Kewajiban pemeriksaan (audit obligation)
Pertama, ketepatan akuntansi berhubungan erat dengan prinsip prinsip akuntansi yang lazim. Prinsip-prinsip ini meliputi dua bidang akuntansi yang luas yaitu (1) metode akuntansi dan (2) penyajian laporan keuangan.
Metode akuntansi termasuk praktik-praktik seperti klasifikasi perkiraan, analisa transaksi, praktik kapitalisasi untuk aktiva yang berumur panjang berikut depresiasinya, penggunaan cara accrual dan penangguhan biaya, pertimbangan persediaan dalam penentuan laba, metode penilaian persediaan dan sebagainya.
69 Penyajian laporan keuangan berkaitan dengan klasifikasi neraca, perlakuan terhadap laba atau rugi yang luar biasa dalam perhitungan rugi laba, pengungkapan utang bersyarat/contingent, penjelasan dasar penilaian dalam neraca dan sebagainya. Data yang dapat dipercaya, tetapi penyajian dalam laporan keuangannya tidak memuaskan, dapat mengakibatkan manfaat informasi menjadi berkurang ataupun bahkan menyesatkan. Data dapat dipercaya bila didasarkan pada metode akuntansi yang dapat diterima.
Metode akuntansi yang dapat diterima adalah cara yang realistis dalam pencatatan transaksi suatu organisasi dan pengaruhnya pada saat terjadi. Metode ini dengan memakai dasar accrual (timbulnya hak dan kewajiban) dapat menghubungkan biaya pengorbanan (cost) dengan pendapatan (revenue) yang tepat di dalam suatu periode tertentu. Penyajian laporan keuangan yang dapat diterima adalah cara penyajian yang tidak menceng, tidak dipengaruhi oleh rasa suka atau tidak suka dan melaporkan sewajarnya mungkin sesuai dengan data faktual yang diperoleh melalui metode akuntansi yang dapat diterima.
Kedua, pengungkapan yang cukup, mengandung ide bahwa auditor tidak perlu melaksanakan fungsinya untuk menjelaskan informasi laporan keuangan kepada pihak ketiga, kecuali bila:
1) Meyakinkan dirinya, bahwa informasi telah cukup diperoleh untuk keputusan investment sesuai dengan kondisi pasaran yang berlaku
2) Menunjukkan kemampuannya dan kemauannya sebagai seorang ahli, bahwa informasi tersebut telah diperiksanya dan telah menyatakan pendapatnya sesuai dengan keandalannya.
3) Mengambil langkah-langkah yang perlu untuk melindungi kepentingan para penanam modal (investors) sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan profesionalnya.
Ketiga, kewajiban pemeriksaan (auditing) dapat dilaksanakan oleh auditor setelah ia mengambil langkah-langkah seperlunya untuk melindungi para pemakai/pembaca laporan hasil auditnya; agar
70 jangan sampai menyesatkan, baik pada luas dan sifat audit maupun pada sifat pernyataan pendapat yang diberikan. Auditor berkewajiban untuk menyakinkan dirinya bahwa laporan keuangan yang disajikan manajemen telah disajikan secara lengkap (full disclosure) dan wajar (fair).
Pengungkapan secara full disclosure mengandung arti bahwa laporan keuangan harus memberikan informasi dan penjelasan yang cukup mengenai hasil aktivitas suatu unit usaha. Dengan demikian, informasi tersebut harus lengkap, jelas, dan dapat mengambarkan secara tepat mengenai kejadian- kejadian ekonomi yang berpengaruh terhadap hasil operasi unit usaha tersebut. Lebih lanjut informasi yang diungkapkan harus berguna dan tidak membingungkan pemakai laporan keuangan dalam mengambil keputusan ekonomi. Sedangkan pengugkapan secara wajar menunjukkan tujuan etis agar dapat memberikan perlakuan yang sama dan bersifat umum bagi semua pemakai laporan keuangan.
2.1.1.1.2.4. Independensi (Independence)
Seperti yang dikemukakan dalam standar umum kedua bahwa ”Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor” (SPAP-IAI:2005) maka jelaslah bahwa standar ini menghendaki agar dalam praktik untuk masyarakat, auditor harus lurus tidak memihak kepada siapapun, selain memihak kepada kebenaran menurut pertimbangan keahliannya. Tetapi sikap mental yang independen, tidak mengandung arti bahwa auditor bersikap seperti penuntut umum. Sikap independen ini lebih mendekati ketidak-memihakan yudisial yang mengakui suatu kewajiban kewajaran (fairness) tidak saja kepada manajemen dan pemilik perusahaan, tetapi juga kepada para kreditor dan kepada pihak lainnya yang mungkin mengandalkan atas laporan akuntan publik. Hal sangat penting diperhatikan bagi profesi akuntan adalah bahwa masyarakat pada umumnya tetap yakin mengenai adanya independensi akuntan publik. Keyakinan publik akan dilemahkan dengan bukti adanya kekurangan independen dan hal ini juga akan dirugikan dengan adanya keadaan dimana orang
71 dengan cukup alasan percaya ada yang mempengaruhi independensi. Untuk dapat menjadi independen, auditor harus benar-benar jujur. Untuk dapat diakui sebagai independen, auditor harus bebas dari kewajiban apapun atau bebas dari kepentingan apapun dengan klien, kepentingan manajemen atau para pemiliknya.
Auditor yang independen bukan saja ia harus independen dalam kenyataan (independen in fact), tetapi juga harus menghindarkan situasi bahwa pihak luar akan meragukan independensinya atau dengan perkataan lain independen dalam penampilan (independen in appearance). Sikap independen merupakan salah satu dari 10 (sepuluh) Standar Profesional Akuntan Publik/SPAP (Generally Accepted Auditing Standards/GAAS) yang merupakan panduan umum bagi auditor dalam memenuhi tanggungjawab profesinya untuk melakukan audit atas laporan keuangan historis (Aren, 2003).
2.1.1.1.2.5. Berbuat sesuai kode etik (Ethical Conduct)
Sebagai suatu profesi, ciri utama auditor adalah kesediaan menerima tanggungjawab terhadap kepentingan pihak-pihak yang dilayani. Agar dapat mengemban tanggungjawab ini secara efektif, auditor perlu memelihara standar perilaku yang tinggi secara konsekwen dan konsisten. Oleh karena itu dalam menjalankan tugasnya, auditor atau anggota Kantor Akuntan Publik (KAP) harus selalu mempertahankan sikap mental independen di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam standar profesional akuntan publik yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Sikap mental independen tersebut harus meliputi independen dalam fakta maupun dalam penampilan. Demikian juga auditor juga harus mempertahankan integritas dan objektivitas, harus bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest) dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material (material misstatement) yang diketahuinya atau mengalihkan (mensubordinasikan) pertimbangan kepada pihak lain. Auditor anggota KAP tidak diperkenankan mengungkapkan informasi klien yang rahasia, tanpa persetujuan dari klien.
72 Anggota dalam menjalankan praktik akuntan diperkenankan mencari klien melalui pemasangan iklan, melakukan pemasaran dan kegiatan pemasaran lainnya sepanjang tidak merendahkan profesi. Selain itu auditor anggota KAP wajib memelihara citra profesi, dengan tidak melakukan perkataan dan perbuatan yang dapat merusak reputasi seprofesi. Anggota juga wajib berkomunikasi tertulis dengan akuntan publik pendahulu bila akan mengadakan perikatan audit menggantikan akuntan publik terdahulu atau untuk tahun buku yang sama ditunjuk akuntan publik lain dengan jenis dan periode serta tujuan yang berlainan.
2.1.1.1.3. Karakteristik Auditing
Karakteristik audit baik dalam penugasan general audit, management audit, special audit maupun forensic audit adalah sebagai berikut
2.1.1.1.3.1.Harus ada informasi
Kegiatan audit dapat terlaksana bilamana terlebih dahulu telah ada informasi dalam bentuk yang dapat diuji serta beberapa standar yang dapat digunakan oleh auditor untuk mengevaluasi informasi tersebut. Informasi dapat dan telah tersaji dalam berbagai bentuk. Dalam hal ini auditor secara rutin melaksanakan audit atas informasi yang dapat diukur, seperti informasi yang disajikan dalam laporan keuangan perusahaan dan laporan keuangan instansi pemerintah.
Laporan keuangan merupakan tanggungjawab manajemen (PSA No.02 IAI:2009) Manajemen bertanggungjawab untuk menerapkan kebijakan akuntansi yang sehat dan untuk membangun dan memelihara pengendalian intern, diantaranya mencatat, mengolah, meringkas dan melaporkan transaksi yang konsisten dengan asersi manajemen yang tercantum dalam laporan keuangan.
Dengan demikian, auditing tidak berpijak pada informasi akuntansi yang harus diperiksanya, tetapi harus bersandar pada ide dan metode yang logis untuk menilai keabsahan laporan keuangan yang diperiksanya.
73 Setiap penyajian laporan keuangan dianggap salah, bila dipengaruhi oleh:
1) Prasangka pribadi (personal bias) 2) Kepentingan pribadi (self interest) 3) Kecerobohan (carelessness) 4) Ketidak jujuran (dishonesty)
Dalam audit forensik, informasi awal bisa berasal dari temuan hasil audit keuangan, temuan hasil audit operasional atau hasil audit kinerja dan bisa berasal dari laporan pengaduan masyarakat atas dugaan telah terjadinya tindak pidana korupsi yang disampaikan ke instansi penegak hukum.
2.1.1.1.3.2. Kriteria yang ditetapkan lebih dahulu
Dalam mengevaluasi informasi yang diperoleh auditor dapat menggunakan beragam kriteria tergantung dari informasi yang akan diaudit. Sebagai contoh dalam audit atas laporan keuangan historis dari suatu perusahaan yang go public, auditor akan menggunakan kriteria yang termuat dalam pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) atau GAAP. Dalam audit Laporan Keuangan Pemerintah, kriteria yang digunakan adalah Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) Untuk informasi informasi yang lebih subyektif, seperti audit forensik, kesulitan yang lebih besar akan timbul dalam menetapkan kriteria yang akan digunakan. Secara khusus, auditor serta perusahaan atau entitas ekonomi yang diaudit akan membahas bersama-sama tentang kriteria yang akan digunakan tersebut sebelum proses audit dilakukan. Umpamanya untuk suatu proses kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah. Dalam hal ini kriteria yang digunakan adalah bagaimana penerapan Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang pengadaan barang dan jasa dan juga peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pengelolaan keuangan negara.
Disamping itu juga menggunakan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan di unit kerja organisasi.