5. Values[nilai-nilai]
3.2. Kerangka Pemikiran
Komitmen dan kesungguhan pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi tidak diragukan lagi, terutama sejak bergulirnya reformasi telah banyak membawa perubahan yang lebih baik dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. Sebagai bukti nyata impelementasi dari UU No.31 tahun 1999 jo 20 Tahun 2001 tentang peberantasan tindak pidana korupsi, UU nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, sudah banyak kasus-kasus korupsi yang selama ini tersembunyi terungkap dan ditindak sesuai hukum yang berlaku. Dampaknya angka Indek Persepsi Korupsi Indonesia pun makin membaik dari 1,7 pada tahun 1999 menjadi 2,8 pada tahun 2009. Keberhasilan ini, disebabkan disamping adanya political will pemerintah bertindak secara kensekuen berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku juga tak kalah pentingnya karena adanya partisipasi masyarakat untuk melaporkan kasus-kasus tindak pidana korupsi yang diketahuinya kepada instansi penegak hukum. Demikian juga peran Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) melalui hasil audit reguler, melaporkan temuan audit yang mengandung unsur fraud atau ketidak patuhan institusi terhadap perundang-undangan yang berlaku kepada instansi penegak hukum. Kemudian untuk menindaklanjuti laporan pengaduan masyarakat dan temuan audit regular tersebut, Instansi Penegak Hukum (Kejaksaan RI, Kepolisian Negara RI dan KPK) juga memerlukan keahlian di bidang audit forensik baik dalam tahap penyelidikan maupun tahap penyidikan bahkan sampai tahap penuntutan dan pemeriksaan perkara tindak pidana korupsi di
196 sidang pengadilan. Untuk dapat membuktikan adanya kerugian keuangan negara yang melekat pada perbuatan melawan hukum, auditor forensik memeriksa bukti-bukti, baik bukti atau dokumen-dokumen yang telah disita oleh penyidik maupun bukti-bukti surat yang belum disita penyidik, namun diperlukan auditor untuk dapat mengambil kesimpulan.
Selanjutnya untuk penuntutan di pengadilan, dalam pembuktian tuntutannya, Penuntut Umum mengajukan lima jenis alat bukti yaitu (1) Keterangan Saksi, (2) Keterangan Ahli, (3) Alat Bukti Surat (4) Alat bukti pentunjuk (5) Keterangan Terdakwa, yang akan diperiksa di sidang pengadilan untuk dijadikan pertimbangan hakim dalam memutuskan bersalah atau tidak bersalahnya terdakwa.
Apabila dilihat dari hukum pembuktian yang kita anut sekarang, sistem pembuktian dapat diberi batasan sebagai suatu kebulatan atau keseluruhan dari berbagai ketentuan perihal kegiatan pembuktian yang saling kait mengait dan berhubungan satu dengan yang lain
Dalam praktiknya, pembuktian Tindak Pidana Korupsi sangat tergantung kepada alat bukti antara lain bukti surat berupa laporan hasil audit dari auditor forensik yang memberikan pendapatnya di bawah sumpah dan keterangan auditor forensik selaku ahli di bidang akunting dan auditing khususnya dalam pembuktian unsur “kerugian keuangan negara”. Oleh karena itu menurut Muhammad Yusuf, Asisten Tindak Pidana Khusus pada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta (2008) peranan audit forensik yang dilakukan oleh auditor forensik sangatlah menentukan dalam membuktikan Tindak Pidana Korupsi, khususnya pada saat pembuktian unsur kerugian keuangan negara. Dari laporan penelitian Puslitbang BPKP tahun 2007 menyatakan “Kerjasama BPKP – POLRI (Instansi Penyidik) menghasilkan dua alat bukti yaitu alat bukti surat dan alat bukti keterangan ahli. Kedua alat bukti ini merupakan andalan penuntut umum (PU) karena dipersidangan kedua alat bukti ini diakui oleh hakim sebagai alat bukti utama disamping alat bukti lain, yaitu keterangan saksi, keterangan tersangka dan petunjuk.
197 Disamping itu dengan hasil audit forensik, Penuntut Umum dapat mengajukan tuntutan yang maksimal, khususnya dalam upaya pembuktian dan recovery kerugian yang timbul karena perbuatan terdakwa. Selanjutnya jika terdakwa melarikan diri atau kabur, maka hasil audit forensik tersebut dapat pula digunakan sebagai dasar atau sumber referensi pengajuan gugatan perdata dalam rangka perampasan harta atau asset terdakwa, oleh karena audit yang bersifat forensik tersebut sifatnya menyeluruh, termasuk memuat informasi distribusi atau aliran dana atau uang yang dikorupsi, maka gugatan perdata tersebut akan dengan mudah dapat dibuktikan.
Namun, dalam proses penyiapan alat bukti tersebut, instansi penyidik mengalami kesulitan terutama dalam hal kasus yang terkait dengan transaksi keuangan sehingga penyelesaian kasus menjadi berlarut-larut. Hal ini terjadi kerena penyidik tidak memiliki kompetensi di bidang akunting dan auditing. Untuk mengatasi hal ini penyidik memerlukan keahlian dari akuntan yang berprofesi sebagai auditor. Dimulai tahun 1992, Kejaksaan Agung melakukan kerjasama dengan BPKP dalam mengungkap tindak pidana korupsi. Dipilihnya BPKP, karena di BPKP terhimpun akuntan-akuntan yang tugas utamanya mengaudit instansi pemerintah dan terbebas dari kegiatan pengelolaan (manajemen) keuangan suatu instansi. Dalam kerjasama tersebut auditor BPKP memberikan bantuan kepada instansi penyidik dalam proses penyiapan alat bukti tindak pidana korupsi yaitu dengan melakukan audit forensik melalui :
1. Audit investigatif. Auditor forensik membantu aparat penegak hukum dalam tahap penyelidikan dengan mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti akuntansi yang kompeten, relevan dan cukup serta menggali modus operandi penyimpangan dengan teknik wawancara kepada pihak-pihak terkait sehingga ditemukannya penyimpangan yang berindikasi tindak pidana korupsi, sebab-sebab hakiki penyimpangan, pihak-pihak yang bertangungjawab serta jumlah kerugian keuangan negara yang ditimbulkan oleh perbuatan pelaku yang berindikasi tindak pidana korupsi tersebut.
198 2. Audit Dalam Rangka Penghitungan Kerugian Keuangan Negara. Auditor forensik membantu aparat penegak hukum dalam tahap penyidikan atas suatu kasus tindak pidana korupsi yang sudah jelas unsur melawan hukum dan pihak-pihak yang bertanggungjawab.
Auditor forensik membantu aparat penegak hukum dengan penghitungan kerugian keuangan negara melalui teknik audit investigative mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti audit yang kompeten, relevan dan cukup untuk mendukung kesimpulan dalam menghitung besarnya kerugian keuangan negara sebagai akibat dari dugaan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh tersangka. Dengan demikian auditor forensik harus mengaudit bukti-bukti surat untuk meyakinkan jaksa penyidik bahwa tersangka telah melakukan perbuatan melawan hukum terutama hukum material dan atas perbuatannya negara telah dirugikan.
3. Pemberian Keterangan Ahli. Auditor forensik membantu aparat penegak hukum dalam tahap penuntutan untuk memperkuat dakwaan. Dalam hal ini aparat penegak hukum melalui Penuntut Umum mengajukan Laporan Hasil Penghitungan Kerugian Keuanga Negara (LHPKKN) sebagai alat bukti “surat” dan atas hasil audit penghitungan kerugian keuangan negara tersebut, auditor forensik untuk memberikan keterangan ahli di depan sidang pengadilan sebagai alat bukti “keterangan ahli” yang menjelaskan proses penghitungan kerugian keuangan negara dan besarnya kerugian keuangan negara sehingga perkara tersebut menjadi terang dan jelas.
199 Gambar 3.1
Model Proses Penyiapan Alat Bukti Tindak Pidana Korupsi
Sumber: diolah
PROSES PENYIAPAN ALAT BUKTI TPK
Hipotesis, Pengumpulan
Bukti-bukti, Evaluasi bukt
Wawancara Oleh Auditor Forensik
yang Kompeten
Jenis Penyimpangan Pengungkapan Fakta-fakta
Bukti-bukti Audit Pihak Terkait &
Bertanggungjawab Penyebab dan Dampak penyimpangan.
Pengumpulan Bukti Bukti
Hukum Oleh Penyidik Pendampingan Pengumpulan & Evaluasi Bukti Kerugian Keuangan
Oleh Auditor Forensik
yang Kompeten
Penetapan unsur melawan hukum
Penetapan Tersangka Pemeriksaan Saksi-saksi
Jumlah Kerugian Keuangan Negara Pemberian Keterangan Ahli
(PKA) kepada Penyidik
Pemberkasan Surat Dakwaan
Keterangan Saksi Keterangan Ahli
Petunjuk Surat
Ket. Terdakwa
A L A T B U K T I L
H A I
Pemeriksaan Di sidang Pengadilan Negeri atau
Pengadilan Tipikor
PUTUSAN PENGADILAN K
E Y A K I N A N H A K I M
1
2
3
L H P K K N
Minimal 2 AB 5 4