5. Penilaian aset yang tak tepat (Improper Asset Valuation)
2.2.2. Temuan Audit Forensik
Temuan audit adalah suatu pernyataan berdasarkan fakta-fakta. Temuan yang baik mencakup pertimbangan auditor menyangkut sebab dan akibat dari kondisi tersebut. Fakta yang lebih spesifik dan terukur akan lebih memudahkan untuk menentukan dan menggambarkan suatu kondisi yang ada. Mengacu pada literature teori agensi, dimana auditor diharapkan menjadi mediator yang menjamin pengungkapan yang perlu guna mengurangi kesimetrian informasi, Williams (1988) kemudian membangun the stewardship hypothesis. Hipotesa tersebut mengatakan bahwa secara logis perusahaan akan mencari auditor yang akan memuaskan kepentingan investor sehingga saham perusahaannya senantiasa direspon positif dimata investor.
Akan tetapi disamping itu, perlu diwaspadai bahwa manajer juga berusaha untuk memilih auditor
110 yang akan merefleksikan manajer sebagai the good steward. Manajer cenderung memilih auditor yang memberi keleluasaan pada manajer guna memilih prosedur akuntansi dan opini tertentu yang menguntungkan (Churchill & Webaneth,1979).
Pada hakekatnya audit dimaksudkan untuk menilai kewajaran laporan keuangan yang didasarkan pada ketaatannya terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku (Harahap:1994). Hal berarti pula bahwa laporan keuangan yang disajikan harus bebas dari kemungkinan kesalahan yang material.
Disisi lain investor dan calon investor juga mengharapkan agar perusahaan menyeleksi dan memilih auditor yang berkompeten dalam (1) melakukan audit sesuai dengan prinsip-prinsip audit yang diterima secara umum, (2) mendeteksi suatu penyimpangan yang material, dan (3) memberikan saran bisnis yang bermanfaat bagi manajemen perusahaan.
Dengan kata lain, investor senantiasa menghendaki auditor yang berkualitas. Demikian juga masyarakat terhadap unit organisasi yang mengelola uang negara mengharapkan auditor yang berkualitas. Untuk itu auditor diwajibkan untuk melakukan usaha-usaha pemeriksaan untuk memastikan bahwa laporan keuangan tidak nengandung kesalahan material
Temuan-temuan hasil audit, baik dari hasil audit keuangan maupun audit operasional yang perlu ditindak lanjuti dengan audit forensik dengan kegiatan audit investigatif apabila temuan-temuan tersebut memenuhi salah satu unsur-unsur sebagai berikut:
a. Perbuatan melawan hukum dan pelanggaran terhadap peraturan perundangan undangan yang dilakukan dengan niat untuk berbuat curang dan dilakukan dengan sengaja demi keuntungan atau kerugian suatu organisasi oleh orang dalam atau juga oleh orang diluar organisasi tersebut. Perbuatan melawan hukum tersebut antara lain seperti yang termuat dalam UU Nomor 31 tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi .
111 b. Uang/Barang Negara/Badan Usaha Milik Negara/Daerah diambil secara melawan
hukum untuk kepentingan pribadi/orang lain/korporasi
c. Pelanggaran terhadap prosedur dan tata kerja organisasi pemerintah, BUMN dan BUMD
d. Pengeluaran fiktif (pengeluaran tanpa imbalan barang atau jasa bagi Negara/Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah
e. Penyimpangan dari ketentuan pelaksanaan anggaran seperti penyimpangan dari Keppres Pelaksanaan Pedoman APBN dan APBD
f. Harga pengadaan/pelaksanaan pekerjaan lebih tinggi dari yang semestinya (mark up) sehingga perlu ada pengembalian uang
g. Pembayaran yang tidak syah, seperti penyuapan, pemberian komisi, donasi politis, pembayaran kepada pejabat, pelanggan atau pemasok.
h. Fraud dibidang perpajakan.
Temuan-temuan audit yang berkaitan dengan ketidakpatuhan entitas terhadap peraturan perundang-undangan juga bisa digunakan sebagai informasi awal bagi tindakan audit forensik dalam upaya pengungkapan penyimpangan atau kecurangan dalam transaksi keuangan yang berindikasi tindak pidana korupsi (Stearn:1990), Klitgaard (1998) menyatakan bahwa “ salah satu komponen strategi pemberantasan korupsi adalah dengan kegiatan audit”. Dengan kegiatan audit tersebut sesuai SAS 99 (AICPA :2002) mengharuskan auditor untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam mengidentifikasi risiko material yang memungkinkan timbulnya kecurangan dalam transaksi keuangan atau penyelewengan keuangan negara atau adanya ketidak patuhan terhadap ketentuan per undang-undangan. Ketidak patuhan material didefinisikan sebagai kegagalan mematuhi persyaratan, atau pelanggaran terhadap larangan, batasan dalam peraturan, kontrak, atau bantuan yang menyebabkan auditor berkesimpulan bahwa kumpulan salah saji
112 sebagai akibat kegagalan atau pelanggaran tersebut adalah material bagi laporan keuangan (PSA Nomor 62 IAI :2009). Bila dijumpai ketidak patuhan, auditor harus melaporkan hal-hal atau indikasi unsur perbuatan melawan hukum/ melanggar peraturan yang dapat berakibat kepenuntutan pidana. Dalam hal ini auditor harus melaporkan semua unsur pelanggaran hukum atau kemungkinan unsur melawan hukum yang ditemukan (paragraph 6.21 Standar Audit Pemerintahan)
Berkaitan dengan temuan audit, Tunggal (2008) mengelompokan kedalam lima kelompok pertanyaan yang harus diketahui oleh auditor agar lebih efektif dalam membuat temuan audit sebagai sebagai berikut:
2.2.2.1. Kondisi (Statement of Condition)
Dalam kelompok ini berisikan beberapa pertanyaan yakni; apa yang anda temukan?, apa yang sudah anda observasi/teliti?, apakah hal itu merupakan suatu hal yang tidak sempurna, kekurangan atau kesalahan?
Dalam hal audit forensik memerlukan temuan fakta awal dalam tahap pekerjaan lapangan (field work). Ketika temuan fakta digunakan untuk menyatakan suatu kondisi, auditor perlu memeriksa dan menguji operasi dan data terkait untuk membuat fakta lebih jelas. Pernyataan kondisi ini memberikan titik referensi kepada temuan yang berkaitan dengan kriteria yang ada.
Satu kesulitan dalam melaksanakan audit forensik adalah kondisi yang tampak pada kerja yang terinci dalam tahap pekerjaan lapangan tidak sama persis dengan indikasi awal dalam tahap perencanaan, Meskipun demikian, pengembangan temuan kadang muncul sebagai suatu proses evolusioner dalam praktiknya sehingga membutuhkan program kerja evolusioner juga. Pada tahap pekerjaan lapangan yang membutuhkan perubahan ini, hipotesa dan program kerja harus direvisi sesuai dengan fakta yang ditemukan. Auditor harus mampu membuat kesepakatan dengan manajemen auditan mengenai kebenaran fakta sekalipun manajemen mungkin tidak sependapat.
113 Kegagalan atau ketidak mampuan auditor untuk menyepakati fakta dengan pihak manajemen tidak menghentikan tim audit dari pelaporan sebuah temuan jika anggota tim yakin sepenuhnya bahwa informasi tersebut sesuai dengan fakta dan telah dievaluasi dengan benar.
2.2.2.2. Kriteria (Criteria)
Dalam kelompok ini terdapat beberapa pertanyaan, yakni: bagaimana seharusnya?, dengan apa diukur/dibandingkan, bagaimana standar dan prosedur atau praktik yang berlaku?
Di dalam menganalisis kondisi saat ini, auditor harus memperhatikan kondisi apa yang diharapkan untuk dapat mencapai sasaran dan tujuan organisasi. Dalam menentukan kriteria yang tepat untuk suatu kondisi yang spesifik, auditor memadang dari segi hukum dan perundang- undangan yang relevan, kontrak yang ada, kebijakan, sistem dan prosedur, peraturan internal dan eksternal, tanggungjawab dan wewenang, standar, jadwal, rencana dan anggaran, serta dasar-dasar manajemen dan administrasi yang baik.
Di dalam mengevaluasi prosedur dan pelaksanaannya, auditor harus sadar bahwa prosedur adalah metode formal untuk melakukan sesuatu. Prosedur yang dijalankan harus didokumentasikan, biasanya secara tertulis, dan disusun oleh manajemen.
Pada dasarnya, di dalam pengembangan kriteria temuan, auditor membandingkan apa yang terjadi dan bagaimana seharusnya. Misalnya kriteria yang digunakan adalah berupa persyaratan tertulis seperti undang-undang, peraturan-peraturan, instruksi, kebijakan dan manual, perintah dan sebagainya.
2.2.2.3.Penyebab (Cause)
Temuan audit tidaklah lengkap sampai auditor dapat mengidentifikasi dan menentukan penyebab hakiki dari penyimpangan atau kelemahan yang terjadi. Penyebab ini adalah alasan kenapa operasi menjadi tidak efisien, tidak efektif dan tidak ekonomis bahkan merugikan
114 organisasi atau perusahaan. Jika penyebabnya memenuhi unsur melawan hukum maka akan berdampak pada kerugian bagi keuangan negara.
2.2.2.4. Akibat (Effect)
Salah satu tujuan utama dalam melaksanakan audit forensik adalah mendorong manajemen operasional melakukan tindakan positif untuk mengoreksi/memperbaiki temuan atas kekurangan/kelemahan operasional yang diidentifikasi oleh tim audit, termasuk untuk ditindak lanjuti dengan proses hukum perundang undangan yang berlaku untuk penyimpangan yang memenuhi unsur tindak pidana korupsi. Dalam membantu manajemen menentukan seberapa serius kondisi tersebut mempengaruhi operasinya, auditor harus mengukur dan mengidentifikasi akibatnya.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, ekonomis, efisiensi dan efektivitas adalah alat ukur yang bagus terhadap effect. Semuanya secara umum dapat diukur dalam rupiah, waktu, produksi, jumlah barang atau transaksi dan sebagainya. Effect menunjukan hasil akhir dari kondisi yang sebenarnya atau potensil akan terjadi. Effect harus menyakinkan manajemen bahwa kebijakan sudah dijalankan dengan baik dan tujuan/sasaran akan tercapai atau tidak tercapai sehingga sesuatu harus dilakukan.
2.2.2.5. Rekomendasi (Recomendation)
Keberhasilan penyempurnaan suatu temuan audit forensik adalah pengembangan rekomendasi sebagai suatu tindakkan yang harus diambil untuk mengoreksi kondisi yang tidak diinginkan saat ini. Rekomemdasi haruslah masuk akal diikuti dengan sebuah penjelasan kenapa kondisi ini terjadi, peyebabnya, dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah berulangnya hal itu. Rekomendasi auditor seharusnya bersifat praktis (dapat diterapkan) dan masuk akal sehingga menajemen akan dengan mudah menerimanya.
115 Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam pemberian rekomendasi (Tunggal, 2008):
Kalimat harus jelas, sederhana , mudah dimengerti dan tidak bertele-tele
a. Kelengkapan, membuat pembaca mengetahui apa saja yang mereka ingin ketahui mengenai suatu permasalahan. Salah satu metode untuk memperoleh kelengkapan adalah mengantisipasi kemungkinan pertanyaan yang akan diajukan oleh pembaca.
b. Rekomendasi harus singkat dan ringkas
c. Rekomendasi harus saling berhubungan. Hal ini berarti kalimat harus berhubungan dengan paragraf sebelumnya dan paragraf berikutnya.
d. Kalimat harus tegas. Ketegasan diperoleh dengan cara mendapatkan inti subyek sesegera mungkin agar menarik perhatian dan menggunakan kalimat yang baik.