• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fusarium oxysporum

Dalam dokumen LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT TANAMAN UTAMA (Halaman 65-71)

BAB III. METOLOGI

MATERI 5 SLIDE CULTURE

A. Fusarium oxysporum

Penyakit Menurut Kristiana (2014), bahwa jamur penyebab layu Fusarium ini termasuk dalam forma-ordo Moniliales forma-famili Tuberculariaceae.

Klasifikasinya sebagai berikut: Kingdom : Fungi Divisio : Eumycota Classis : Deuteromycetes Ordo : Moniliales Family : Teberculariaceae Genus : Fusarium Spesies : Fusarium Oxyporum Jamur F. oxysporum dalam perkembang biakannya membentuk dua jenis spora aseksual yaitu spora mikrokonidium spora makrokonidium.

Penyakit layu Fusarium oxysporum salah satu penyakit utama yang sangat berbahaya. Pada tahun 1997 penyakit ini bukanlah merupakan penyakit utama bawang merah dan tidak dianggap berbahaya. Namun penyebaran penyakit ini terus meluas, dari tahun 2003 hingga 2007 dilaporkan serangan penyakit F. oxysporum meningkat hingga 8 kali lipat. Data Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura mencatat pada 2003 luas serangan hanya 48,2 hektar. Tahun 2007 meluas hingga 404,9 hektar (Fadhilah et al., 2014).

Jamur F. oxysporum merupakan salah satu jenis jamur yang sangat penting untuk diketahui dalam melaksanakan budidaya tanaman. Jamur jenis ini, menjadi inang demikian banyak jenis tanaman, mulai dari tanaman yang strategis sampai tanaman pagar di kebun petani. F. oxysporum mempunyai variasi spesies yang tinggi, yaitu sekitar 100 jenis dan menyebabkan kerusakan secara luas dalam waktu singkat dengan intensitas serangan mencapai 35%. Jamur F. oxysporum adalah salah satu jenis patogen tular tanah yang mematikan, karena patogen ini mempunyai strain yang dapat dorman selama 30 (tiga puluh) tahun sebelum melanjutkan virulensi dan menginfeksi tanaman (Fadhilah et al., 2014).

F. oxysporum merupakan salah satu cendawan patogen yang mampu bertahan di jaringan tanaman yang hidup atau mati. Gejala awal penyakit ditandai dengan adanya perubahan warna pada bagian pucuk tanaman yang terserang menjadi cokelat kemerahan, kemudian bagian tersebut akan menjadi layu. Kelayuan tanaman dapat terjadi secara bertahap pada beberapa daun danakan berkembang ke seluruh bagian tanaman. Gejala tanaman yang terserang parah ditandai oleh tanaman layu dan mati secara cepat. Akar tanaman sakit mengalami pembusukan.

Sumber infeksi berasal dari tanah yang terkontaminasi patogen selama beberapa tahun, sampah, tanaman sakit atau alat pertanian. Patogen ini sering menyerang pada musim hujan, terutama di daerah-daerah berkelembapan tinggi dan beriklim basah. Penularan penyakit melalui aliranair yang terkontaminasi patogen sehingga jangkauan penyebarannya menjadi luas (Fadhilah et al., 2014).

Peningkatan intensitas serangan penyakit F. oxysporum diduga disebabkan oleh perubahan iklim yang tidak menentu akhir-akhir ini. Perubahan iklim mempengaruhi perkembangan cendawan patogen secara fisiologis dan molekuler.

Pengaruh itu bisa berdampak pada meningkatnya keganasan patogen. Selain itu meningkatnya serangan F. oxysporum juga disebabkan oleh kebiasaan petani yang

60 secara terus menerus menanam tanpa pergiliran tanaman. Penggunaan bibit yang tidak selektif, menggunakan bibit terinfeksi serta kandungan organik tanah yang rendah juga memicu meningkatnya serangan Fusarium (Azzamy, 2017).

Faktor yang berpengaruh adalah cuaca lembab sehingga penyakit banyak dijumpai di kebun yang terlalu rapat, terutama pada musim hujan karena banyak terjadi infeksi baru.Kebun yang peteduhnya ringan kurang mendapat gangguan penyakit. Jamur F. oxysporum juga dapat bertahan lama di dalam tanah. Tanah yang sudah terinfeksi sukar dibebaskan kembali dari jamur ini (Semangun, 2013).

Jamur F. oxysporum juga dapat bertahan lama di dalam tanah. Tanah yang sudah terinfeksi sukar dibebaskan kembali dari jamur ini. F. oxysporum adalah cendawan tanah yang dapat bertahan lama dalam tanah sebagai klamidospora yang terdapat banyak dalam akar-akar yang sakit. Cendawan dapat bertahan juga pada akar bermacam-macam rumput, dan pada tanaman jenis Heliconia. F. oxysporum menyerang melalui akar, terutama akar yang luka. Baik luka mekanis maupun luka yang disebabkan nematode Radophulus similis. Tetapi tidak bisa masuk melalui batang atau akar rimpang, meskipun bagian ini dilukai (Semangun, 2013).

F. oxysporum mengalami fase patogenesis dan saprogenesis. Pada fase patogenesis, cendawan hidup sebagai parasit pada tanaman inang. Apabila tidak ada tanaman inang, patogen hidup di dalam tanah sebagai saprofit pada sisa tanaman dan masuk fase saprogenesis, yang dapat menjadi sumber inokulum untuk menimbulkan penyakit pada tanaman lain. Penyebaran propagul dapat terjadi melalui angin, air tanah, serta tanah terinfeksi dan terbawa oleh alat pertanian dan manusia (Semangun, 2013).

Pengendalian penyakit yang disebabkan oleh Fusarium yang umum dianjurkan ialah perlakuan tanah secara fisik atau kimiawi dan penggunaan varietas tahan.

Rotasi dengan tanaman bukan inang selama 4 tahun atau lebih dapat mengurangi peluang terjadinya infeksi oleh patogen. Beberapa varietas resisten sudah diketahui menjadi salah satu alternatif dalam pengendalian penyakit ini di Iran. Secara kimiawi, penggunaan garam natrium fluorida dan natrium metabisulfit dapat menekan perkembangan patogen melalui perlakuan medium tanam (Türkkan dan Erper 2014).

61 BAB III. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada 5 November 2023 yang bertempat di Laboratorium Fitopatologi, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum ini yaitu cawan petri, mikroskop, object glass, cover glass, pipet tetes, batang U/sedotan, jarum ose, bunsen, spatula, kamera handphone, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu media PDA, isolat Fusarium oxysporum, alkohol, aquades, kertas saring/tissue, plastic wrap, pewarna Lactophenol Cotton Blue.

C. Cara kerja

Adapun cara kerja pada praktikum ini yaitu disterilkan alat dan bahan yang akan digunakan. Kemudian dituangkan PDA ke cawan petri. Setelah padat, dipotong media 1x1 cm. Diletakkan kertas saring/tissue sebanyak 2 lembar pada cawan petri dan dilembabkan dengan aquades. Diletakkan batang U/sedotan diatas kertas saring. Selanjutnya media 1x1 cm tadi diletakkan diatas object glass, kemudian diinokulasi hifa dari patogen F. oxysporum dipinggi potongan media. Setelah itu ditutup dengan cover glass. Terakhir petri dibungkus dengan plastic wrap agar tidak terjadi kontaminasi, dan diinkubasi selama 3-7 hari. Setelah 7 hari diamati morfologinya menggunakan mikroskop dan diidentifikasi dengan dibandingkan dengan literatur. Setelah itu didokumentasikan dan dituliskan pada logbook praktikum, serta dipresentasikan.

62 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 5 Hasil pengamatan Slide Culture

No Patogen Mikroskopis Keterangan

1 Fusarium oxysporum Memiliki

makrokonidia yang bersekat 2- 5 atau lebih.

B. Pembahasan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan bentuk mikroskopis dari patogen jamur Fusarium oxysporum. Pada Tabel 5. dapat dilihat adanya makrokonidia dan mikrokonia . Makrokonidia memiliki bentuk seperti sabit dan pada bagian ujungnya meruncing, serta terdapat pedicellate yaitu adanya bekas tangkai konidiofor pada bagian makrokonidium. Makrokonidia F. oxysporum memiliki dua sampai 5 sel atau sekat, sedangkan mikrokonidia hanya satu atau dua sel.

Menurut Sutejo et al., (2013) F. oxysporum terdapat konidiofor (monofialid) yang memiliki tangkai pendek yang pada bagian ujungnya terikat 3-5 mikrokonidium atau disebut false head, sedangkan makrokonidiumnya dapat terbentuk pada aerial miselium seperti pada isolat F. oxysporum jahe. Namun terdapat pengecualian pada isolat F. oxysporum yang menyerang pertanaman cabai menunjukkan bahwa konidium terbentuk pada konidiofor monofialid dengan tangkai yang sangat panjang mirip dengan konidiofor pada isolat Fusarium sp.

Dari hasil pengamatan morfologi secara mikroskopis juga dapat diketahui bahwa morfologi antar sesama isolat F. oxysporum tidak menunjukkan perbedaan yang jelas baik dari bentuk konidium (makro dan mikrokonidium) maupun konidiofor. Semua isolat memiliki karakter yang sama seperti konidium yang terbentuk pada konidiofor monofialid dengan tangkai yang pendek (false head), mikrokonidium yang melimpah, dan makrokonidium yang terbentuk pada aerial miselium (Sutejo et al., 2013).

63 BAB V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa identifikasi patogen khususnya jamus menggunakan metode slide culture mendapatkan hasil yang cukup bagus dalam pengamatan morfologi patogen.

Patogen yang didapat pada praktikum ini yaitu Fusarium oxysporum yang memiliki makrokonidia yang berbentuk sabit dengan dua sampai lima sel atau sekat dan mikrokonidia yang hanya memiliki satu atau dua sekat.

B. Saran

Untuk praktikum selanjutnya diharapkan praktikan lebih hati-hati dan teliti dalam melakukan rangkaian tahap praktium agar mendapatkan hasil yang sesuai diharapkan.

64 DAFTAR PUSTAKA

Azzamy.2017.pengendalian penyakit layu F. oxysporum pada tanaman bawang merah. Buletin Palawija.

Basava, S. P. R., Jithendra, K., Premanadham, N., & Reddy, P. S. 2016. Efficacy Of Iodine-Glycerol Versus Lactophenol Cotton Blue For Identification Of Fungal Elements In The Clinical Laboratory. International Journal of Current Microbiology and Applied Sciences, 5, 536-541

Fadhilah, S., Wiyono dan Surahman. 2014. Pengembangan Teknik Deteksi Fusarium Patogen Pada Benih Umbi Bawang Merah (Allium ascalonicum) di Laboratorium. J. Horti. 24(2): 171-178, 2014

Himedia. 2019. Lactophenol Cotton Blue Technical Data. Himedia Laboratories Kristiana, Riajeng. 2004. Integrasi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium Pada

Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) Dengan Binucleate Rhiozoctonia, Dolomit, dan Kalium Fosafat. Skripsi. Fakultas Pertanian.

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Ningsih, R., Mukarlina, dan R. Linda. 2013. Isolasi dan Identifikasi Jamur dari Organ Bergejala Sakit pada Tanaman Jeruk Siam (Citrus nobilis var.

microcarpa). Protobiont, 1(1):1-7.

Rahayu, M. 2016. Patologi dan Teknis Pengujian Kesehatan Benih Tanaman Aneka Kacang. Buletin Palawija, 14(2):78-88.

Sastrahidayat, I.R. 2013. Mikologi Ilmu Jamur. Malang: UB Press Semangun, H. 2013. Penyakit

Penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada University.

Yogyakarta

Situmeang, M., Purwantoro, A., dan Sulandari, S. 2014. Pengaruh PemanasanTerhdap Perkecambahan dan Kesehatan Benih Kedelai (Glycine max (L.) Merrill). Vegetalika, 3 (3):27– 37

Sutejo, A., Priyatmojo, A., Wibowo, A. 2013. Identifikasi Morfologi Beberapa Varietas Spesies Jamur Fusarium. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, 14(1): 7-13

Tshikhudo, P., R. Nnzeru., K. Ntushelo., and F. Mudau. 2013. Bacterial Species Identification Getting Easier. Biotechnology. 12 (41): 5975-5982

Türkkan M, Erper I. 2014. Evaluation of antifungal activity of sodium salts against onion basal rot caused by F. oxysporum f. sp. cepae. Plant Protect Sci.

50(1):19–25.

Uthayasooriyan, M., S. Pathmanathan, N. Ravimannan, and S. Sathyaruban.

2016.Formulation of Alternative Culture Media for Bacterial and Fungal Growth. Der Pharmacia Lettre, 8(1): 431-436.

Vignesh, R., C. Swathiraja, S.Solomon, Shankar, G. Murugavel, Paul, Waldrop, Balakrishnan. 2013. Iodine Glycerol as an Alternative to Lactophenol Cotton Blue for Identification of Fungal Elements in Clinical Laboratory.

Indian Journal of Medical Microbiology 3(1):93-94.

Dalam dokumen LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT TANAMAN UTAMA (Halaman 65-71)

Dokumen terkait