• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

MATERI 3 TANAMAN PERKEBUNAN

B. Kelapa Sawit

Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang ada di Indonesia.

Perkebunan kelapa sawit semula berkembang di daerah Sumatera Utaradan Nanggroe Aceh Darussalam. Namun, sekarang telah berkembang ke berbagai daerah, seperti Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Papua dan Kalimantan. Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang sangat toleran terhadap kondisi lingkunganyang kurang baik. Namun, untuk menghasilkan pertumbuhan yang sehat danjagur, serta menghasilkan produksi yang tinggi dibutuhkan kisaran kondisi lingkungantertentu (disebut juga syarat tumbuh tanaman kelapa sawit). Kondisi iklim, tanahdan bentuk wilayah merupakan faktor lingkungan utama yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan tanaman kelapa sawit (Hidayanti. et al, 2014)

Asal-usul tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) tidak dapat dipastikan dengan pasti. Namun, dugaan kuat menunjukkan bahwa tanamanini berasal dari dua wilayah, yaitu Amerika Selatan dan Afrika (Guinea). Spesies Elaeis melanococca Gaertn. atau Elaeis guineensis, berasal dari wilayah Afrika (Guinea). Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) menjadi salah satujenistanaman perkebunan yang mendominasi di Indonesia. Tanaman ini memiliki peran signifikan dalam meningkatkan devisa negara dan menciptakan lapanganpekerjaan bagi masyarakat.

Kelapa sawit memiliki nilai ekonomis yang tinggi, dan minyak nabati yang dihasilkannya menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Oleh karena itu, permintaan terhadap produk kelapa sawit terus meningkat, memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian Indonesia.

Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan di Indonesia sebagai penghasil minyak selain kelapa yang berasal dari hutan hujan tropis di daerah Afrika Barat terutama di Kamerun, Pantai Gading, dan Liberia. Kelapa sawit pertama kali ditemukan oleh Nicholaas Jacquin pada tahun 1763 oleh karena itu sawit diberi nama latin Elaeis guineensis jacq (Hidayanti. et al, 2014)

32 Di Indonesia sendiri kelapa sawit dikenalkan pertama kali sebagai tanaman hias di Kebun Raya Bogor pada tahun 1884. Kelapa sawit memiliki banyak potensi pemanfaatan baik dari batang digunakan untuk pembuatan pulp, bahan kontruksi, dan sumber energi. Buah sawit sendiri memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan dapat menjadi penyumbang pendapatan bagi negara, dimana buah sawit dimanfaatkan sebagai minyak pangan ataupun minyak non pangan. Bagian lain dari tanaman sawit yang dapat dimanfaatkan adalah sabut, bahkan tandan kosong.

Seperti tanaman pada umumnya, kelapa sawit memiliki beberapa syarat tumbuh untuk memperoleh hasil yang maksimal dan memiliki daya jual tinggi. Kelapa sawit merupakan jenis tanaman dengan waktu penyinaran pendek yaitu sekitar 5-7 jam/hari, untuk memperoleh penyinaran yang cukup maka jarak tanam antar kelapa sawit adalah 9m x 9m x 9m (hidayati, 2014).

Curah hujan optimal untuk kelapa sawit 2000-2500 mm/tahun, dengan suhu optimal 24-28°C. Tanaman ini tumbuh pada ketinggian 0-500 mdpl. Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol, tanah gambut saprik. Produksi kelapa sawit lebih tinggi jika ditanam di daerah bertanah Podzolik jika dibandingkan dengan tanah berpasir dan gambut.

Nama latin dari kelapa sawit adalah Elaeis guineensis jacq, sedangkan secara internasional kelapa sawit lebih dikenal dengan nama African Oil Palm. Berikut merupakan klasifikasi dari kelapa sawit, Kingdom: Plantae; Sub Kingdom:

Viridiplantae; Infra Kingdom: Streptophyta; Super Divisi: Embryophyta; Divisi:

Tracheophyta; Sub Divisi: Spermatophytina; Kelas: Magnoliopsida; Ordo:

Arecales; Family: Arecaceae; Subfamili: Cocoideae; Genus: Elaeis jacq; Spesies:

E. guineensis jacq (Hafip, 2020).

Indonesia membudidayakan beberapa varietas tanaman kelapa sawit yang dapat memberikan nilai ekonomi tinggi untuk negara. Varietas utama yang dibudidayakan antara lain, E.guineensis dan E.oleifera. Pada umumnya dari kedua jenis kelapa sawit ini memiliki keunggulan masing-masing namun yang sering dibudidayakan di Indonesia adalah E.Guineensis. Keunggulan yang dimiliki oleh E.guineensis adalah produksivitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman minyak nabati lainnya. Sedangkan keunggulan dari jenis E.oleifera adalah bentuk fisik yang lebih rendah yaitu berdasarkan pada ukuran dan tinggi pokok tanaman.

Salah satu penyebab rendahnya mutu sawit tersebut adalah dari kualitas bibit yang kurang baik, segala jenis penyakit sering menyerang bibit kelapa sawit yangberdampak pada pertumbuhan dan kualitas buah sawit di ke depannya dan dapat membuat kerugian yang cukup berpengaruh pada tanaman sawit.

Kerugianyangditimbulkan dapat mencapai jutaan rupiah per 1 hektare tanaman sawit di setiaptahunnya. Jamur merupakan penyebab utama yang sering dijumpai pada bibit yang terserang penyakit. Sedangkan bakteri atau virus jarang dijumpai dantidakmenyebabkan masalah yang serius. Salah satu penghambat utama bagi tanamanuntuk menghasilkan produksi optimal sesuai dengan potensinya adalahkeberadaan penyakit pada tanaman kelapa sawit. Penyakit pada tanaman kelapasawit disebabkan oleh hama dan kekurangan unsur hara. Penyakit pada tanamankelapa sawit dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan dan mengurangi

33 hasil pertanian karena menghambat tanaman dalam memperoleh faktor tumbuh(air, cahaya, dan unsur hara) (Hafip, 2020).

Kelapa sawit merupakan tanaman multiguna. Tanaman ini mulai banyakmenggantikan posisi penanaman komoditas perkebunan lain, yaitu tanaman karet. Tanaman sawit kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Tanaman kelapasawit (Elaeis guineensis) berasal dari Nigeria, Afrika Barat. Kelapa sawit merupakanan tanaman monokotil. Tanaman ini berakar serabut yang berfungsi sebagai penyerap unsur hara dalam tanah, respirasi tanaman dan sebagai penyangga berdirinya tanaman. Batangnya tidak mempunyai kambiumdanumumnya tidak bercabang. batang kelapa sawit berbentuk silinder dengan diameter 20-75 cm. pada tanaman muda, batang tidak terlihat karena tertutup oleh pelepah daun (Hafip, 2020).

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dari sejak benih, pembibitan, penanaman, hingga gudang penyimpanan selalu tidak luput dari gangguan hama, patogen, gulma atau karena faktor lingkungan. Akibat dari gangguan itu seorangpeneliti dari India mengatakan bahwa kerugian tanaman akibat gulma 33%, patogen 26%, hama 7%, tikus 6% dan kerusakan penyimpanan sekitar 7%. Penyakit sering menimbulkan kerugian yang cukup berarti pada tanamankelapa sawit. Setiap tahun kerugian yang ditimbulkan oleh serangan penyakit bisamencapai jutaan rupiah setiap hektar tanaman kelapa sawit. Penyakit yang seringdijumpai pada tanaman sawit adalah serangan jamur, sedangkan bakteri atau virus jarang dijumpai dan tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Diulas beberapa jenis penyakit yang menyerang tanaman kelapa sawit di perkebunan yaitu, penyakit busuk pangkal batang, Penyakit busuk pucuk kelapasawit, penyakit layu Fusarium (Marchitez disease), penyakit bercak daun

Glomerella cingulata adalah jamur patogen yang menyebabkan penyakit bercak daun antraknosa pada tanaman kelapa sawit. Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian yang signifikan bagi industri kelapa sawit, karena dapat menurunkan produksi dan kualitas tandan buah segar. Gejala awal penyakit ini adalah munculnya bercak-bercak kecil berwarna coklat tua pada daun. Bercakini kemudian akan melebar dan membentuk lingkaran, Pada tahap lanjut, bercak-bercak tersebut akan berubah menjadi hitam dan mengeluarkan lendir. Daun yang terserang penyakit ini akan menjadi kering dan rontok.

Penyakit pada daun tanaman menyebabkan penurunan produksi besar dankerugian ekonomi negara. Di sisi lain, pekebun kelapa sawit seringkali memiliki pengetahuan terbatas mengenai jenis penyakit dan metode pengendalian yangtepat.

Oleh karena itu, perlu adanya suatu sistem pendamping bagi pekebun sehingga dapat melaksanakan identifikasi dan pengendalian penyakit kelapa sawit yang tepat dengan dampak lingkungan yang minimal. Salah satu langkah pentingdalam pengendalian penyakit pada perkebunan kelapa sawit adalah identifikasi jenis penyakit pada daun tanaman kelapa sawit (Hafip, 2020).

Embun jelaga adalah lapisan tipis berwarna hitam yang muncul di permukaandaun, sementara jaringan daun di bawahnya tetap berwarna hijau.

Lapisanini sebetulnya merupakan miselium fungi yang dapat meluas dan mudah terkelupasoleh angin. Penyakit embun jelaga disebabkan oleh fungi dari jenis

34 Capnodium sp. Penyebaran penyakit embun jelaga di area Perkebunan tergolong mudah dan cepat. Oleh karena itu, diperlukan kontrol penyakit yangbersifat hayati, ramah lingkungan, dan tidak membahayakan kesehatan manusia. Selain menjaga kelestarian lingkungan, pendekatan ini juga mendukungpengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, sehingga produksi hasil pertanian tetap aman untuk dikonsumsi. Saat ini, telah banyak pengembanganyang dilakukan untuk memanfaatkan agen-agen seperti jamur dan bakteri gunamengendalikan serangan patogen pada tanaman.

Pada tanaman kelapa dan kelapa sawit, jamur ini merupakan penyebab utamapenyakit yang menyerang pada tahap pembibitan, yang umumnya dikenal sebagai penyakit bercak daun. Penyakit ini, yang disebabkan oleh Curvularia sp.

Pada pembibitan kelapa sawit, dapat mencapai tingkat prevalensi sebesar 38%.

Jikatidak dikendalikan, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian bibit kelapa sawit. Curvularia sp. juga teridentifikasi sebagai penyebab penyakit bercak daun pada kelapa sawit di Venezuela, Thailand Selatan dan Kamerun. Penyakit Busuk daun (Antraknosa) Penyakit antraknosa merupakan sekumpulan nama infeksi pada daun bibit-bibit muda, yang disebabkan oleh 3 genera jamur patogenik, yaitu Botryodiplodia spp., Melanconi umelaeidis dan Glomerella cingulata. Spora dihasilkan di dalam piknidia atau aservuli, menyebar dengan bantuan angin atau percikan air siraman atau hujan. Penyakit ini telahdilaporkan terdapat di berbagai perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Serangan Glomerella ditandai dengan adanya titik basah pada antar vena dan membesar memanjang mengikuti arah dua vena tersebut. Pada ujung daun selanjutnya akanberubah menjadi coklat atau hitam dan dibatasi oleh lingkaran (halo) kuning pucat. Selanjutnya bagian tengah bercak akan mati, kering dan rapuh (Hafip, 2020).

35 BAB III. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada 2 Oktober 2023 yang bertempat di Laboratorium Fitopatologi, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum ini yaitu gunting, kamera handphone, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu sampel tanaman kakao dan kelapa sawit yang terserang penyakit.

C. Cara Kerja

Adapun cara kerja pada praktikum ini yaitu dicari tanaman yang terserang penyakit di lapangan. Kemudian tanaman atau bagian tanaman yang bergejala dibawa ke Laboratorium Fitopatologi untuk diidentifikasi dengan dibandingkan gejala dan tanda penyakit tanaman dengan literatur. Setelah itu didokumentasikan dan dituliskan pada logbook praktikum, serta dipresentasikan.

36 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 3 Identifikasi penyakit Tanaman Perkebunan

No Tanaman Pathogen Dokumentasi

1

Sawit Pestalotiopsis sp

2

Sawit Capnodium sp

3

Sawit Coconut cadang - cadang viroid

37 4

Kakao Phytopthora palmivora

5

Kakao Oncobasidium

theobromae (VSD)

6

Kakao Capnodium sp

B. Pembahasan

Gejala serangan penyakit pestaloptiopsis sp Mula-mula terjadi bercak-bercak yang tembus cahaya pada daun, kemudian menjadi coklat kekuningan dan akhirnya menjadi kelabu, bagian kelabu ini dikelilingi oleh tepi coklat tua, lama–kelamaan bercak-bercak dapat bersatu sehingga menjadi bercak yang lebih besar, Pada bercak terdapat bintik-bintik yang terdiri atas tubuh buah cendawan (aservulus).

Selanjutnya ada serangan capnodium sp pada kelapa sawit awalnya ditandai dengan adanya bercak putih pada daun bagian bawah. Bercak putih itu kemudian berkembang cepat dan membentuk lapisan kehitaman dan lengket di permukaan daun. Bercak putih tersebut merupakan jamur penyebab embun jelaga , Capnodium sp. Dapat menghambat pertumbuhan dari tanaman kelepa sawit. Dilapangan cukup banyak daun dari tanaman kelapa sawit yang tertutupi oleh capnodium. Ini dikarenakan embun jelaga dapat disebarkan melalui spora yang diterbangkan oleh angin. Ketika udara cukup kering, selaput hitam embun jelaga dapat terlepas dan kemudian menyebar ke tempat lain karena angin atau tetesan air hujan. Diketahui

38 pula bahwa embun jelaga dapat menyebar melalui serangga pembawa penyakit (vektor). Serangga tersebut yaitu kutu putih dan semut. Terkadang kedua serangga ini berkumpul dan mempercepat tanaman terserang embun jelaga. Biasanya serangga mendatangi pangkal daun atau pangkal buah. Serangga menghisap gula dari tanaman dan bekas hisapan tersebut menjadi tempat tumbuh jamur. Jamur akan tumbuh dan mengambil gula dari tanaman.

Capnodium tidak hanya menyerang kelapa sawit melainkan juga meyerang pada tanaman kakao, gejala serangan capnodium sp pada kakao hampir sama dengan serangan pada tanaman kelapa sawit.

Busuk buah yang disebabkan phytopthora palmivora dapat timbul pada berbagai umur buah, sejak buah masih kecil sampai menjelang masak. Warna buah berubah, umumnya mulai dari ujung buah atau dekat tangkai, yang dengan cepat meluas ke seluruh buah. Buah menjadi busuk dalam waktu 14-22 hari. Akhirnya buah menjadi hitam. Pada permukaan buah yang sakit dan menjadi hitam tadi timbul lapisan yang berwarna putih bertepung, terdiri atas jamur-jamur sekunder yang banyak membentuk spora. Jamur juga masuk ke dalam buah dan menyebabkan busuknya biji-biji. Tetapi kalau penyakit timbul pada buah yang hampir masak, biji-biji masih dapat dipungut dan dimanfaatkan.

Gejala Serangan Buah yang terserang menunjukkan gejala busuk basah berwarna hitam kecokelatan dengan pinggiran yang keras. Infeksi dapat dimulai dari bagian atas, pangkal atau tengah buah.Bercak coklat berkembang cukup cepat, sehingga dalam beberapa hari seluruh permukaan buah busuk, basah dan berwarna coklat kehitaman.Penyebaran dan Penularan Palmivora dapat terbang, hinggap, dan menginfeksi buah kakao sehat yang berada jauh dari tanaman awal.Penyebaran dan penularan penyakit busuk buah kakao juga dapat terjadi karena bantuan semut hitam, tupai, bekicot, dan hewan lain yang sering hidup di sekitar batang dan cabang kakao.Penularan pun dapat terjadi karena sentuhan langsung antara buah yang sehat dan buah yang sakit.

Penyakit embun jelaga disebabkan oleh patogen Capnodium sp. memiliki gejala daun, ranting dan buah terserang dilapisi oleh lapisan berwama hitam. Pada musim kering lapisan ini dapat dikelupas dengan menggunakan tangan dan mudah tersebar oleh angin. Buah yang tertutup lapisan hitam ini biasanya ukurannya lebih kecil dan terlambat matang (masak). Adanya kutu daun jenis aphid Leurodicus sp., Pseudococcus sp., Coccos viridis yang mengeluarkan sekresi embun madu merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan jamur ini. Terdapat pada setiap tanaman jeruk terutama bila dijumpai adanya Aphid yang mengeluarkan embun madu yang mengandung zat gula. Penyakit tanaman yang diduga mengalami defisiensi unsur hara memiliki gejala berupa daun pada ujung pelepah mengeriting, kemudian terjadi klorotik yang diikuti nekrosis dimulai pada ujung daun. Pada gejala lanjut daun akan mengalami nekrosis keseluruhan dan menjuntai

Selanjutnya ada penyikit yang di sebabkan oleh onchobasidium theobramae Gejala yang ditimbulkan penyakit pembuluh kayu ini yaitu terlihat adanya permukaan daun yang menguning disertai bintik hiaju dan serangan pada ranting akan mengakibatkan ranting menjadi kopong.

39

Dalam dokumen LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT TANAMAN UTAMA (Halaman 37-45)

Dokumen terkait