BAB V. PENUTUP
MATERI 4 PEMBUATAN PREPARAT
43 BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jamur merupakan mikroorganisme yang dapat hidup pada kondisi yang lembab seperti pada media tanam yang lembab dan lain-lain. Jamur juga ada yang merugikan dan ada juga yang menguntungkan bagi tanaman. Jamur yang menguntungkan bagi tanaman seperti mikoriza karena jamur ini mensuplai unsur haradan mineral bagi tanaman, sedangkan yang merugikan tanaman adalah jamur yangdapat menjadi inang penyakit tanaman. Jamur dapat menghasilkan suatu enzim yang berguna bagi makluk hidup lainnya maupun dapat juga merugikan bagi makluk hiduptersebut. Salah satu enzim yang dihasilkan jamur adalah inulinase.
Inulinase adalah enzim hidrolitik yang mengkatalisis reaksi hidrolisis polisakarida inulin menjadi fruktosa dan atau fruktooligosakarida. Pembuatan preparat jamur ini digunakansebagai mengetahui morfologi jamur dan cara menginfeksi pada inangnya baik bagi yang menguntungkan maupun merugikan tanaman (Haryanto, 2014).
Mikroorganisme tanah dapat menguntungkan bagi tanaman karenamikroorganisme ini dapat menyediakan unsur dan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman. Salah satu mikroorganisme yang menguntunggkan bagi tanaman adalah jamur mikoriza yang melakukan simbiosis oleh akar tanaman dan menyediakan unsur P yang dimanfaatkan oleh tanaman. Untuk mengisolasi mikroorganisme tanah dapatdilakukan dengan cara prosedur bakteriologis biasa dan menggunakan media yang sederhana (Haryanto, 2014).
Medium adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroorganisme. Tanah juga meruppakan medium tempat mikroorganisme tanah tinggal. Berdasarkan sumber karbon maka mikrobia dapat dibedakan atas mikrobia yang dapat mensintensis semua komponen sel dari karbondioksida yang disebut dengan autotrof. Sedangkan mikrobia yang memerlukan satu atau lebih senyawa organik sebagai sumber karbon disebut heterotrof. Akar tanaman merupakan salah satu tempat yang dapat digunakan mikroorganisme tanah untuk menyerang tanaman. Pertumbuhan bulu akar akan dibatasi oleh kondisi tanah (terutama kelembapan) dan aktifitas mikroorganismetanah. Kelembapan juga dapat merangsang bagi jamur dan bakteri untuk tumbuh (Haryanto, 2014).
Jamur dapat dipelajari dengan dan tanpa mikroskop. Untuk mempelajarinya dengan mikroskop diperlukan pembuatan preparat. Bila jamur yang akan diamati berasal dari suatu biakan, biasanya preparat dibuat dengan meletakkan bagian soma dan reproduksinya pada setetes media di atas kaca objek.Untuk jamur yang bertubuh buah besar atau untuk meneliti parasitisme suatu cendawan pada inangnya perlu dibuat irisan-irisan yang tipis, baik dengan pisau maupun dengan mikrotom.
Makin tipis irisannya makin jelas struktur yang dapat diamati (Kurniawan, 2013).
44 Pembuatan preparat maka memudahkan dalam mempelajari morfologinya.
Mikroorganisme tanah merupakan salah satu makluk hidup yang berhabitat didalam tanah. Mikroorganisme tanah ada yang menguntungkan bagi tanaman dan ada juga yang merugikan bagi tanaman. Mikroba yang menguntungkan bagi tanaman biasanya mensuplay kebutuhan tanaman seperti unsur hara yang tidak dapat langsung diserap oleh tanaman dalam bentuk senyawa sedangkan mikroba yang merugikan tanaman biasanya menyerang organ tanaman seperti daun, akar, dan batang tanaman. Jamur merupakan unsur golongan yang penting dari golongan populasi dalam tanah, tersebar secara luas, bentuk-bentuk tertentu merupakan karakteristik dari suatu tipe tanah sebagai medium alami bagi perkembangannya.Untuk memperbandingkan berlimpahnya bakteri dan jamur secara relatif pada tanah dengan kegiatan potensialnya dalam tanah memang tidak ada dasarnya, terutama kalau tidak diketahui mengenai jamur tersebut menampilkan miselium atau spora. Sehingga diperlukannya identifikasi lebih lanjut mengenai jamur dan bakteri denganmenggunakan dasar preparatnya (Kurniawan, 2013).
Preparat adalah tindakan atau proses pembuatan maupun penyiapan sesuatumenjadi tersedia, specimen patologi maupun anatomi yang siap dan diawetkan untuk penelitian dan pemeriksaan. Pada umumnya dalam pengamatan preparat awetan parasitology di lakukan dengan menggunakan pengamatan langsung secaramikroskopik, oleh sebab itu pengamatan ini tiidak terlepas dengan mikroskop.Sedangkan pada penggunaan mikroskop harus memperhatikan dua hal penting yaitukemampuan memisahkan, artinya jarak terkecil antara dua titik objek jika keduanyamassih terlihat sebagai titik yang terpisah. Kemudian pembesaran yang artinyasebagai rasio ukuran bayangan terhadap ukuran objek dalam istilah jarak linear (Kustawaf, 2013).
Preparat adalah kaca obyek (object glass) berisi sampel penelitian yang selanjutnya diamati menggunakan mikroskop (Latifa, 2015). Preparat dapat berbentuk basah atau kering yang berupa sayatan atau tanpa sayatan. Preparat kering merupakan preparat yang diawetkan, sedangkan preparat basah merupakan preparat yang dibuat secara langsung dan digunakan dalam satu kali pengamatan (Moebadi et al.,2015).
B. Tujuan
Tujuan praktikum pembuatan preparat ini dilakukan adalah untuk mengetahui cara pembuatan preparat, mengetahui dan dapat mengidentifikasi morfologi patogen yang menyerang tanaman yang bergejala secara mikroskopis.
45 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kacang Tanah (Arachis hypogea L.)
Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman palawija yang menduduki urutan ketiga setelah tanaman jagung dan kedelai yang berasal dari Amerika serikat. Penanaman pertama kali dilakukan oleh orang India (suku asli bangsa Amerika). Kacang tanah masuk ke Indonesia pada abad ke-17, yang dibawa oleh pedagang Cina dan Portugis. Kacang tanah termasuk komoditas pangan yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan tanaman pangan lainnya, seperti tanaman padi, jagung dan kacang-kacangan lainnya dilahan kering.
Hal itu terlihat dari kontribusi komoditas ini terhadap petani, (Rozi et al., 2016).
Menurut Santoso, (2013) dalam (Nasution, 2019) klasifikasi tanaman kacang tanah yaitu kingdom Plantae, divisio Spermatopyhta, kelas Dikotiledoneae, ordo Polipetales, famili Leguminoceae, genus Arachis, dan spesies Arachis hypogaea L.
Kacang tanah termasuk tanaman herba semusim, berakar tunggang, memiliki empat helaian daun (tetrafoliate) dengan daun bagian atas yang lebih besar dari bagian bawah. Berdasarkan bentuk atau letak cabang lateral. Kacang tanah termasuk tanaman yang menyerbuk sendiri dan penyerbukan terjadi beberapa saat sebelum bunga mekar sehingga jarang terjadi penyerbukan silang (Nasution, 2019). Suhu untuk pertumbuhan optimum kacang tanah berkisar antara 27 oC dan 30 oC tergantung pada macam varietas. Suhu optimum masa percabangan dan pembungaan berkisar antara 32–34 °C (Rahmianna et al., 2013).
Tanaman kacang tanah termasuk dalam golongan tanaman leguminosa yang mampu memfiksasi nitrogen dari udara melalui bintil akarnya. Kebutuhan hara nitrogen sebagian dipasok melalui fiksasi N dari udara menyebabkan penurunan kebutuhan hara N yang dipasok dari pupuk, atau bahkan tidak merespon lagi apabila dilakukan pemupukan N. Pertumbuhan kacang tanah secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam tipe, yaitu tipe tegak dan menjalar (Fatimah, 2017).
Dengan 100 g yang mengandung 525 kkal energi, 27,9 g protein, 17,4 g karbohidrat, 42,7 g lemak, 315 miligram kalsium, 456 mg fosfor, dan 5,7 mg zat besi, kacang tanah adalah makanan dengan kandungan gizi yang besar. Setiap tahun, permintaan kacang tanah naik 900.000 ton, atau hampir 87,01%, dari produksi rata-rata tahunan sebesar 783.110 ton. Hasil panen kacang tanah Indonesia telah meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. memiliki nilai yang lebih rendah pada tahun 2018. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2018) nilai produksi kacang tanah di Indonesia sebesar 512.198 ton lebih rendah dibandingkan tahun 2014 sebesar 638.896 ton.
Rendahnya produksi kacang tanah di Indonesia disebabkan karena beberapa faktor. Salah satunya adalah terserang patogen seperti cendawan,bakteri dan nematoda. Organ tanaman kacang tanah yang rentan terserang patogen yaitu akar.
Hal ini terjadi karena tanah, habitat alami bagi berbagai macam mikroorganisme,
46 baik patogen maupun non-patogen, berhubungan erat dengan akar. Karena kekurangan unsur hara yang dibutuhkan untuk membuat metabolit sekunder yang melindungi tanaman terhadap patogen penyakit, tanaman kacang tanah juga rentan terhadap serangan penyakit (Fatimah, 2017). Kurangnya penguasaan teknik budidaya dan pengendalian oleh petani, maka tanaman kacang tanah yang ada rentan terserang serangga hama dan penyakit (patogen). Beberapa organisme penganggu tanaman khusus penyakit pada kacang tanah baik dari masa vegetatif sampai generatif terdiri dari virus, bakteri, jamur, nematoda, akan tetapi mikroorganisme yang paling dominan tersebut diantaranya: Karat daun (Puccinia arachidis), Bercak daun (Cercospora arachidicola), Layu Bakteri (R.
solanacearum), dan Penyakit Belang (Peanut mottle virus) dan virus mosaik (Bean commonm mosaic virus), (Rori, 2014).
Penyakit karat merupakan penyakit penting kedua pada kacang tanah setelah bercak daun. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Puccinia arachidis yang termasuk ke dalam ordo Uredinales, kelas Basidiomycetes. Siklus hidup kelompok cendawan penyebab penyakit karat (Puccinia) dapat berlangsung dua macam, yaitu aseksual dan seksual. Secara aseksual, uredospora akan berkecambah dan membentuk uredospora lagi, sedangkan secara seksual yaitu uredium berubah menjadi telium, kemudian membentuk basidium, basidium membentuk spermogonium (gamet +) dan hifa resesif (gamet -), dari persilangan ini terbentuk aesium, aesium akan berubah menjadi uredium. Pada umumnya, gejala terdapat pada permukaan daun bawah yang berupa pustul berwarna coklat seperti karat besi.
Jika pustul pecah terdapat sejumlah uredospora yang menyerupai tepung. Faktor- faktor yang mempengaruhi penyakit karat yaitu: suhu, kelembaban, kecepatan angin dan curah hujan (Badan Litbang Pertanian, 2013).
Pada kenyataannya, semua penyakit tanaman pada awalnya bermanifestasi sebagai gejala sederhana sebelum menyebar luas. Petani sering mengabaikan kejadian ini karena ketidaktahuannya, dan menganggap bahwa gejala penyakit yang muncul merupakan gejala khas sepanjang fase pertumbuhan, sampai gejala penyakit kacang tanah memburuk dan menyebar luas, sehingga sulit dikendalikan.
Diperlukan teknik klasifikasi pendukung yang dapat mengidentifikasi penyakit kacang tanah dan perbaikan untuk mengendalikan penyakit sedini dan seefisien mungkin sehingga keberadaan penyakit tidak mempengaruhi tanaman kacang tanah karena pemahaman petani tentang penyakit tanaman pada kacang tanah relatif rendah (Kayame Pongtiku, 2016).
47 B. Jagung (Zea mays L.)
Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman rumput-rumputan dan berbiji tunggal (monokotil). Jagung merupakan tanaman rumput kuat, sedikit berumpun dengan batang kasar dan tingginya berkisar 0,6-3 m. Tanaman jagung termasuk jenis tumbuhan musiman dengan umur ± 3 bulan. Kedudukan taksonomi jagung adalah sebagai berikut, yaitu: Kingdom: Plantae, Divisi: Spermatophyta, Subdivisi: Angiospermae, Kelas: Monocotyledone, Ordo: Graminae, Famili:
Graminaceae, Genus: Zea, dan Spesies: Zea mays L. (Paeru dan Dewi, 2017).
Tanaman jagung merupakan salah satu komoditas hortikultura yang telah banyak dibudidayakan (Alatas et al., 2019) dengan prospektif yang baik untuk dikembangkan di Indonesia (Indrawan et al., 2017). Puspadewi et al. (2016) menyatakan bahwa tanaman jagung mengandung karbohidrat tinggi yang berasal dari Amerika dan sudah lama dikembangkan di Indonesia. Jagung memiliki kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional (Dewanto et al., 2013). Tanaman jagung menjadi tanaman pangan yang penting hingga dijadikan sebagai sumber pangan di beberapa daerah seperti Madura dan Nusa Tenggara (Mahdiannoor et al., 2016). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014 produksi jagung sebanyak 19 juta ton dan mengalami peningkatan hingga tahun 2020 dengan produksi sebanyak 30 juta ton.
Faktor yang dapat menurunkan produksi tanaman adalah hama dan penyakit dapat menurunkan produksi hasil tanaman jagung (Fadli et al., 2018). Penyakit yang dapat menyerang tanaman jagung dapat disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan cendawan. Proses infeksi mikroorganisme dapat terjadi pada fase benih hingga tanaman memproduksi tongkol jagung. Salah satu penyakit penting pada tanaman jagung adalah penyakit busuk tongkol jagung yang dapat disebabkan oleh Diplodia maydis, Fusarium moniliforme, Fusarium roseum, Rhizoctonia zeae, Nigrospora oryzae, Penicillium oxalicum, Aspergillus flavus, Aspergillus parasiticus, Aspergillus niger, Cladosporium herbarium, Rhizopus sp.
dan Thrichoderma viridae (Sudjono, 2018).
Upaya peningkatan produksi tanaman serealia terutama jagung sebagai bahan pangan, pakan, dan industri, perlu mendapat perhatian yang serius baik petani maupun pengguna prodak. Kenyataannya di lapangan, budidaya jagung dihadapkan pada berbagai penyakit tanaman, sehingga dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil, karena itu masalah penyakit merupakan salah satu faktor pembatas produksi dan mutu jagung. Munculnya penyakit itu sendiri merupakan pengaruh interaksi dari 5 faktor utama, yaitu patogen, inang, lingkungan, waktu dan. Penyakit berkembang dengan tingkat keparahan bervariasi dan diduga berkaitan erat dengan asupan teknologi yang diterapkan petani (Jahuddin et al., 2018).
Kerugian yang ditimbulkan dari penyakit yang disebabkan oleh cendawan tidak hanya pada morfologi dan fisiknya, patogen juga mampu menghasilkan mikotoksin (Jahuddin et al., 2018). Mikotoksin merupakan metabolit sekunder yang diproduksi oleh beberapa cendawan. Jamur yang mampu memproduksi mikotoksin sebelum
48 dan setelah masa panen antara lain adalah dari genus Fusarium dan Alternaria (Noveriza, 2008). Menurut Soenartiningsih, et al., (2016) diperkirakan setiap tahunnya terjadi kontaminasi mikotoksi sebanyak 25- 50% pada komoditas pertanian. Mikotoksin pada Fusarium mulai dikhawatirkan setelah ditemukan aflotoksin penyebab Turkey X disease pada tahun 1960.
Identifikasi penyebab penyakit tanaman penting dilakukan untuk mendapatkan informasi dasar terkait patogen khususnya informasi spesies dari patogen tersebut.
Hal ini diperlukan sebagai dasar pengendalian penyakit yang tepat dan untuk meningkatkan produktivitas tanaman (Debbi et al., 2018). Identifikasi patogen dapat dilakukan secara konvensional dengan pendekatan morfologi maupun secara molekuler dengan pendekatan gen/DNA (Manzar et al., 2022).
Identifikasi patogen tanaman penting dilakukan karena informasi mengenai spesies patogen dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan penyakit (Ghanbarzadeh et al., 2014). Misalnya identifikasi patogen hawar daun jagung biasanya didasarkan pada karakteristik morfologi, namun banyak spesies patogen hawar daun jagung memiliki karakteristik yang sama. Selain itu, bentuk konidianya pun bervariasi tergantung pada isolat dan keadaan kultur (Manamgoda, et al., 2014).
Identifikasi jamur sebagian besar dideskripsikan secara konvensional berdasarkan morfologi. Karakter morfologi yang digunakan untuk identifikasi jamur yaitu penampakan makroskopik dan mikroskopik koloni jamur. Identifikasi secara makroskopik dilakukan dengan mengamati warna, morfologi, serta tepi koloni pada medium padat. Sedangkan pada medium cair penampakan yang diamati yaitu keberadaan endapan (sediment), pelikel (pellicle), cincin (ring), dan pulau- pulau (islets). Identifikasi secara mikroskopik dilakukan dengan mengamati bentuk sel, kisaran ukuran sel, tipe pertunasan, keberadaan miselium palsu maupun sejati, dan tipe reproduksi seksual atau aseksual (Rukmana, 2015).
Patogen yang tidak dapat hilang pada perlakuan fisik dapat membuat terjadinya penularan pada benih sehingga dapat membuat mutu benih menjadi menurun.
Rendahnya mutu benih merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas tanaman (Ibrahim et al., 2014). Selain itu, juga dapat mengakibatkan penurunan viabilitas benih, peningkatan kematian bibit, penurunan hasil, peningkatan pertumbuhan penyakit, dan terjadi peledakan penyakit pada suatu daerah (Hausufa dan Rusae, 2018).
49