BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
A. Gambaran Objek Penelitian
1. Letak Geografis
Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Bustanul Ulum merupakan lembaga non formal yang terletak di Perumahan Bumi Mangli Permai, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. TPA yang berlokasi di komplek perumahan, tepatnya di blok I/11-12 RT 01 RW 15 ini mengambil tempat dari rumah pendiri yang memiliki simpati yang besar dalam menyediakan lembaga untuk anak-anak menuntut ilmu. Lembaga ini bukan hanya memfokuskan pada pembelajaran Al-Qur’an saja, tetapi juga mengajarkan para santri untuk berakhlak yang baik kepada Allah dan sesama makhluk ciptaan-Nya. TPA Bustanul Ulum diapit oleh rumah-rumah warga sehingga memudahkan masyarakat untuk mencarinya. Lingkungan TPA sangat nyaman yang terdiri dari dua lantai menjadikan proses belajar mengajar antara pengajar dan santri terlihat kondusif.
Lembaga ini terdaftar secara resmi di kantor notaris pada tanggal 2 Agustus 1999, sesuai dengan Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor: AHU-0014509.AH.01.04.52 TPA Bustanul Ulum mengalami kemajuan, dibuktikan dengan meningkatnya jumlah santri tiap tahunnya. Maka untuk memudahkan proses pembelajaran,
52 Ustadzah Hidayati, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 14 Maret 2023.
lembaga ini membagi santri menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok Ula, Wustho dan ‘Aly.53
TPA Bustanul Ulum yang terdiri dari dua lantai, dibagi menjadi dua bagian. Lantai satu yang merupakan teras TPA Bustanul Ulum digunakan sebagai area pembelajaran untuk kelompok Ula. Sedangkan pada lantai dua digunakan sebagai area pembelajaran untuk kelompok Wustho dan ‘Aly. Pemilihan tempat belajar tersebut dimaksudkan agar santri kelompok Ula yang rata-rata masih berusia kanak-kanak tidak naik turun tangga mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan. Selain itu, lembaga ini juga dilengkapi dengan kamar mandi yang tepatnya di lantai satu. Kamar mandi tersebut cukup bersih sehingga membuat santri yang ingin buang air kecil merasa nyaman.
Suasana tempat belajar yang tenang, penerangan yang cukup dan sejumlah kipas angin yang dipasang diatas menyebabkan santri merasa tenang dan nyaman dalam proses pembelajaran. Pada lantai dua, terdapat dua ruangan yang menjadi tempat menyimpan barang-barang TPA.
Adapun barang-barang yang terdapat di dalam lembaga sebagai penunjang pembelajaran TPA adalah satu buah lemari yang berfungsi sebagai penyimpanan Al-Qur’an dan penjualan kebutuhan belajar santri, seperti buku tartila, buku prestasi, kitab-kitab, dan sebagainya.
Kemudian terdapat tiga buah papan tulis sesuai dengan masing-masing kelompok yang memudahkan pengajar dalam memaparkan materi. Santri
53 Ustadz Niam, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 13 Maret 2023.
juga difasilitasi meja sebagai aktivitas santri dalam menulis materi. Ada juga mic dan sound system yang digunakan santri dalam mempersiapkan kegiatan sholat ashar berjamaah dengan adzan, puji-pujian dan iqomah.
Pengajar juga sering menggunakan alat tersebut agar proses pembelajaran berjalan dengan maksimal tanpa terganggu dengan suara santri yang lebih besar.
2. Sejarah Berdirinya TPA Bustanul Ulum
Lembaga TPA Bustanul Ulum didirikan pada tahun 1997 atas inisiatif ustadzah Hidayati, seorang yang hidup dalam lingkungan pesantren dan memiliki keinginan yang kuat untuk mencerdaskan generasi bangsa serta mengurangi tingkat buta huruf Al-Qur’an.
Awalnya, tempat tinggal orang tua beliau di desa Badean Panti, pada tahun 1957 juga didirikan pesantren yang juga diberikan nama Bustanul Ulum. Setelah pesantren Bustanul Ulum tidak lagi beroperasi, kemudian didirikanlah lembaga pendidikan RA (Raudhatul Athfal) dan MI (Madrasah Ibtidaiyah). Sebagai hasilnya, TPA ini merupakan bagian dari yayasan yang sama dengan lembaga tersebut. Pada tahun 1999, lembaga- lembaga tersebut berhasil mendaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM.54
Dalam sejarah perjalanannya, TPA Bustanul Ulum telah memberikan kontribusi yang besar dalam memperkaya pemahaman masyarakat sekitar terhadap agama Islam. Banyak alumni yang telah
54 Ustadzah Hidayati, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 14 Maret 2023.
melewati pendidikan di lembaga ini. Awalnya, TPA ini dijalankan dengan bantuan empat orang pengajar yang memiliki pemahaman pembelajaran Al-Qur’an. Namun, seiring berjalannya waktu, para pengajar tersebut semakin sibuk dengan tanggung jawab pekerjaan dan keluarga, sehingga sulit bagi mereka untuk meluangkan waktu yang cukup untuk mengajar di TPA.
Sebagai solusi, pengajar TPA Bustanul Ulum digantikan secara estafet oleh anak-anak dan menantu dari ustadzah Hidayati. Selain itu, dengan semakin bertambahnya jumlah santri yang bergabung, lembaga ini juga merasa perlu untuk menambah jumlah pengajar guna memastikan kelancaran proses pembelajaran. Oleh karena itu, ustadzah Hidayati memutuskan untuk merekrut beberapa alumni sebagai pengajar.
Dua diantara mereka yang memutuskan untuk mengabdi adalah ustadzah Galuh dan ustadzah Marita. Dengan kehadiran pengajar-pengajar dalam lembaga ini, diharapkan TPA Bustanul Ulum dapat terus memberikan pengajaran berkualitas tinggi kepada santri-santrinya.
3. Metode Pembelajaran yang digunakan di TPA Bustanul Ulum
Dalam proses pembelajaran, metode umum yang digunakan oleh para pengajar di TPA Bustanul Ulum yaitu: metode ceramah, metode bercerita, metode tanya jawab, metode menghafal, metode pemberian tugas, metode bernyanyi dan metode permainan.55
55 Ustadzah Hidayati, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 14 Maret 2023.
Diantara berbagai jenis metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, metode ceramah merupakan metode yang sering diterapkan dan tidak dapat ditinggalkan untuk menyampaikan sebagian besar materi pelajaran. Karena jika metode ini ditinggalkan, maka materi yang disampaikan oleh asatidz tidak akan tersampaikan dengan sempurna kepada santri.
Metode bercerita digunakan oleh para pengajar untuk menceritakan kisah-kisah Nabi zaman dahulu, seperti kisah nabi Nuh, nabi Musa, nabi Muhammad, dan nabi-nabi lainnya. Selain itu, ketika ada momentum hari besar Islam, misalnya Isra’ Mi’raj dan Idul ‘Adha, para pengajar juga menceritakan yang melatarbelakangi kejadian tersebut. Pengajar mampu membawa suasana menarik saat bercerita sehingga membuat santri antusias untuk mendengarkan isi cerita yang disampaikan. Lebih dari itu, asatidz juga memberikan ibrah atau pelajaran yang dapat diambil dari kisah yang diceritakan agar santri juga dapat mencontoh sesuatu yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan mereka.
Metode tanya jawab digunakan para asatidz saat pelaksanaan atau di akhir pembelajaran. Ketika penjelasan materi, pengajar memberikan waktu kepada santri untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Hal ini tentu akan menjadikan santri lebih aktif dan kritis saat mengajukan pertanyaan. Ketika di akhir pembelajaran, terkadang pengajar juga memanfaatkan waktu tersebut untuk memberikan
pertanyaan kepada santri. Jika benar dalam menjawab pertanyaan, santri diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu. Semangat santri terlihat saat mereka semangat berebut untuk mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pengajar.
Menghafal merupakan program unggulan dari lembaga ini. Setiap kelompok pasti diberikan kegiatan menghafal. Dari hafalan Al-Qur’an, hafalan hadits, mahfudzot, bacaan sholat dan do’a-do’a harian. Para asatidz telah menjadwalkan setiap kegiatan menghafal tersebut dengan tujuan proses pembelajaran lebih efektif dan efisien. Bagi santri yang menghafal, akan disimak langsung dan ditulis pada buku hafalan santri.
Metode bernyanyi dan permainan dilakukan untuk mengasah kemampuan para asatidz menggunakan berbagai metode agar santri lebih tertarik terhadap materi yang dijelaskan. Selain diterapkan pada pembelajaran ilmu tajwid, metode ini juga dapat diterapkan untuk mengenalkan anak-anak terhadap hal-hal yang belum mereka ketahui, seperti lagu nama-nama anggota tubuh dalam bahasa arab, nama-nama kitab, nama-nama surga dan neraka, dan lain sebagainya.
Asatidz memberikan tugas ketika santri belum selesai mencatat materi yang tertulis di papan tulis, sementara waktunya sangat terbatas.
Selain itu, metode ini dilaksanakan oleh asatidz kepada santri yang tugasnya kurang agar dipenuhi di rumah masing-masing, seperti memberikan tugas mencari contoh bacaan tajwid tertentu. Para santri harus menyelesaikan tugas mereka dan dapat mengumpulkan pada
pertemuan berikutnya. Karena keterbatasan waktu yang tersedia untuk setiap sesi, tentunya tidak semua metode dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Ada asatidz yang menggunakan hanya satu metode, namun ada yang mengkombinasikan berbagai metode tersebut tergantung pada kebijakan masing-masing asatidz.
Metode khusus yang digunakan lembaga ini dalam pembelajaran Al-Qur’an yaitu metode tartila dengan cara talaqqi. Yang dimaksud talaqqi adalah santri dengan asatidz berhadapan secara langsung. Asatidz membacakan terlebih dahulu kemudian santri mengikutinya. Metode ini digunakan untuk menerapkan membaca huruf dengan tepat melalui mulutnya dan santri akan menyaksikan latihan keluarnya huruf dari mulut asatidz dan ditiru secara langsung. Sehingga santri mampu menyampaikan materi berdasarkan dengan apa yang diajarkan oleh asatidz. Pembelajaran dengan metode seperti ini lebih relevan dan mudah dipahami oleh santri. Karena ketika santri mengalami kesalahan, maka langsung diperbaiki oleh asatidz.
Gambar 4.1 Buku tartila jilid 1-6
Penilaian bacaan santri kemudian ditulis dalam buku prestasi.
Apabila bacaan santri sudah lancar, maka asatidz menuliskan “naik”
artinya santri dapat melanjutkan ke halaman berikutnya. Akan tetapi, jika bacaan santri kurang lancar, maka asatidz menulis “ulang” yang berarti santri masih tidak diperbolehkan melanjutkan ke halaman berikutnya.
Bagi santri yang akan naik ke jilid selanjutnya, asatidz akan melakukan kegiatan “pendalaman” yang berarti santri diminta untuk mengulang bacaan dari halaman awal hingga akhir. Apabila sudah benar-benar lancar, maka santri diizinkan untuk naik ke jilid berikutnya. Namun, jika dinyatakan kurang lancar, maka pendalaman akan terus dilanjutkan kedua hingga ketiga kalinya.