BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
B. Penyajian Data dan Analisis
Penilaian bacaan santri kemudian ditulis dalam buku prestasi.
Apabila bacaan santri sudah lancar, maka asatidz menuliskan “naik”
artinya santri dapat melanjutkan ke halaman berikutnya. Akan tetapi, jika bacaan santri kurang lancar, maka asatidz menulis “ulang” yang berarti santri masih tidak diperbolehkan melanjutkan ke halaman berikutnya.
Bagi santri yang akan naik ke jilid selanjutnya, asatidz akan melakukan kegiatan “pendalaman” yang berarti santri diminta untuk mengulang bacaan dari halaman awal hingga akhir. Apabila sudah benar-benar lancar, maka santri diizinkan untuk naik ke jilid berikutnya. Namun, jika dinyatakan kurang lancar, maka pendalaman akan terus dilanjutkan kedua hingga ketiga kalinya.
1. Implementasi Metode Joyfull Learning pada Pembelajaran Ilmu Tajwid di TPA Bustanul Ulum
Semua lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal tentu menginginkan agar mencetak generasi yang bermutu, baik kualitas maupun kuantitas. Kunci dalam mencapai tujuan tersebut, salah satunya dengan memiliki pengajar yang berkualitas. Komponen utama dalam proses pembelajaran pendidikan non formal adalah hadirnya sosok ustadz dan ustadzah.
Ustadz dan ustadzah adalah figur yang membentuk dan membimbing ilmu seputar pengetahuan tentang Islam. Selain harus mampu melafadzkan Al-Qur’an dan hadits secara fasih, ustadz dan ustadzah juga harus memahami dan menguasai ilmu tajwid serta harus memiliki sebuah peran yang baik agar dapat dijadikan contoh yang baik dalam kehidupan para santri.56
TPA Bustanul Ulum memiliki jadwal kegiatan mengaji yang dilaksanakan lima kali dalam seminggu, mulai dari hari Senin hingga Jum’at. Kegiatan belajar mengajar dimulai pada sore hari pukul 15.00- 17.00 WIB. Dimulai dari sholat ashar berjamaah yang diikuti oleh semua santri. Masing-masing santri dijadwal untuk menjadi muadzin dan imam sholat ashar. Seusai adzan dikumandangkan, santri terlebih dahulu membacakan puji-pujian yang telah menjadi kurikulum khusus lembaga ini. Santri yang bertugas menjadi muadzin merupakan santri dari
56 Risma Choirul Imamah dan Muhammad Saparuddin, “Peran Ustadz dan Ustadzah Pelaksanaan Pendidikan Karakter Para Santri di TPA Baitussolihin Tenggarong.” Jurnal Tarbiyah
& Ilmu Keguruan Borneo 1, no 3 2020, 216.
kelompok wustho dan ‘aly. Sedangkan yang bertugas menjadi imam adalah santri kelompok ‘aly. Setelah usai, dilanjutkan dengan dzikir sesudah sholat. Kemudian santri bersama-sama membaca asma’ul husna, ayat kursi dan do’a sebelum belajar. Setelah itu, para santri berkumpul sesuai dengan kelompoknya masing-masing untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya.
Adapun program-program kegiatan yang dilaksanakan oleh TPA Bustanul Ulum adalah:
Tabel 4. 1
Jadwal Pelajaran TPA Bustanul Ulum
HARI KELOMPOK
ULA WUSTHO ‘ALY
SENIN
Shalat Ashar Berjamaah
Mengaji Tartila Mengaji Tartila Mengaji Al-Qur’an Hafalan surat juz
30
Hafalan surat juz
30 Kitab ‘Alala
SELASA
Shalat Ashar Berjamaah
Mengaji Tartila Ilmu Tajwid Mengaji Al-Qur’an Gambar 4.2 Kegiatan dzikir setelah sholat berjamaah
HARI KELOMPOK
ULA WUSTHO ‘ALY
Hafalan do’a
harian Tafsir surat
RABU
Shalat Ashar Berjamaah
Mengaji Tartila Mengaji Tartila Mengaji Al-Qur’an Hafalan hadits Hadits Aqidatul awam
KAMIS
Shalat Ashar Berjamaah
Mengaji Tartila Mengaji Tartila Mengaji Al-Qur’an Praktek sholat Aqidatul awam Hafalan/Murojaah JUM’AT
Shalat Ashar Berjamaah PENGAJIAN CILIK
Pembelajaran dibuka oleh ustadz/ustadzah dengan salam.
Kemudian para santri secara bergantian dipanggil untuk mengaji satu persatu yang disimak oleh ustadz/ustadzah. Santri yang lain yang belum mendapatkan giliran mengaji diminta untuk menghafal atau menulis materi yang sebelumnya sudah disiapkan oleh asatidz sesuai dengan jadwal yang telah diterapkan. Setelah pembelajaran inti selesai, asatidz menutup pembelajaran dengan do’a kafaratul majelis yang dibacakan bersama-sama oleh santri dan diakhiri dengan salam.
Santri yang tergolong kelompok wustho, akan mengikuti pendalaman materi tajwid yang dilaksanakan seminggu sekali pada hari Selasa. Di hari tersebut, santri kelompok wustho tidak melaksanakan kegiatan mengaji, tetapi difokuskan untuk mempelajari ilmu tajwid.
Ketentuan ini dipertimbangkan untuk bekal para santri kelompok wustho jika naik ke tingkat selanjutnya.
Khusus bagi santri kelompok ‘aly yang telah menyelesaikan hafalan juz 30 dengan bacaan yang sudah sesuai kaidah ilmu tajwid, akan di wisuda. Kegiatan wisuda ini diselenggarakan sekali setahun, tepat pada acara maulid nabi dan milad TPA Bustanul Ulum. Santri yang telah diwisuda, akan terus melanjutkan menghafalkan Al-Qur’an yang menjadi program utama dari lembaga ini, yaitu program tahfidz. Selanjutnya, santri akan menghafalkan surat-surat pilihan, seperti Surat Yasin, Surat Al-Waqi’ah, Surat Ar-Rahman, Surat Al-Mulk dan Surat As-Sajdah kemudian mereka baru dapat melanjutkan hafalan dari juz 1. Hingga saat ini, terdapat santri yang telah mencapai hafalan 5 juz.57
Salah satu aspek penting yang diajarkan dalam adalah ilmu tajwid, yang merupakan ilmu yang mempelajari aturan dan teknik dalam membaca Al-Qur’an yang baik dan benar. Dalam mengajarkan ilmu tajwid, pengajar di TPA Bustanul Ulum menerapkan metode joyfull learning atau metode pembelajaran yang menyenangkan. Metode ini dipilih dengan alasan bahwa pembelajaran yang menyenangkan dapat memberikan dampak positif pada motivasi dan minat belajar santri.
Melalui metode yang menyenangkan, para pengajar berharap santri dapat lebih antusias dan aktif dalam mempelajari ilmu tajwid.
Sebenarnya ketika menerapkan metode mengajar yang menyenangkan, itu memberikan dampak pemahaman anak-anak
57 Ustadz Niam, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 13 Maret 2023.
meningkat. Khususnya pada materi ilmu tajwid. Anak-anak itu ketika jadwalnya materi tajwid, mukanya sudah susah duluan.
Jadi, saya berikan alternatif agar mereka senang ketika belajar ilmu tajwid.58
Dalam praktiknya, pengajaran ilmu tajwid dengan metode joyfull learning di TPA Bustanul Ulum dilakukan melalui berbagai kegiatan yang menggabungkan antara pembelajaran dan hiburan. Salah satu contoh kegiatan yang dilakukan adalah menyampaikan materi tajwid dengan menggunakan lagu. Selain itu, dalam metode joyfull learning pengajar juga menggunakan berbagai metode interaktif seperti permainan atau aktivitas kelompok untuk melibatkan santri secara aktif dalam proses pembelajaran. Tujuannya adalah agar santri tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis tentang tajwid, tetapi juga dapat mengaplikasikan langsung dengan membaca Al-Qur’an.
a. Pra Pembelajaran Ilmu Tajwid
Kesiapan pengajar dalam menguasai materi yang akan disampaikan kepada santri sangat penting. Seorang pengajar diharapkan memiliki pemahaman yang mendalam tentang materi yang diajarkan agar dapat menyampaikannya dengan efektif dan efisien. Dengan memahami materi dengan baik, pengajar dapat menjelaskan konsep-konsep yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami oleh santri.
Selain itu, pengajar juga perlu memahami karakteristik dan kebutuhan masing-masing santri. Setiap individu memiliki gaya
58 Ustadzah Hidayati, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 14 Maret 2023.
belajar yang berbeda-beda serta memiliki keunikan dan kebutuhan yang spesifik. Oleh karena itu, pengajar diharapkan mampu menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik santri.
Perencanaan pembelajaran juga merupakan hal yang penting bagi seorang pengajar. Pengajar perlu memiliki ide-ide yang kreatif dan pengetahuan yang memadai. Dengan memiliki ide-ide yang kreatif, pengajar dapat merancang kegiatan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi santri. Pengetahuan yang memadai tentang metode pembelajaran dan materi yang diajarkan juga akan mendukung pengajar dalam menyusun perencanaan yang efektif.
Dalam praktiknya, terdapat pengajar yang cenderung menyiapkan materi pembelajaran sebelum sesi pembelajaran dimulai. Disisi lain, ada juga pengajar yang spontan, dimana mereka memberikan materi pembelajaran berdasarkan kebutuhan dan tanggapan santri dalam sesi pembelajaran.
Pilihan antara menyiapkan materi atau dengan spontan dalam perencanaan pembelajaran merupakan keputusan yang diambil oleh masing-masing pengajar, tergantung pada konteks pembelajaran.
Yang terpenting, baik metode yang direncanakan sebelumnya maupun spontan harus tetap mengacu pada tujuan pembelajaran dan kebutuhan santri. Pernyataan yang disampaikan oleh ustadz Niam bahwa “Di TPA ini sudah ada kurikulum khusus yang menjadi acuan
dalam mengajar. Biasanya ketika mau ngajar, ya saya lihat lagi kurikulum tersebut kemudian menyampaikan kepada santri.”59
Pengajar di kelompok ‘Aly cenderung tidak menyiapkan materi sebelumnya dan lebih memilih untuk mengajar secara spontan. Pengajar merasa menemukan kepuasan dalam menjelaskan materi secara spontan. Beliau mengandalkan kurikulum khusus yang telah ditetapkan di lembaga ini sebagai acuan dalam pengajaran.
Meskipun tanpa persiapan materi sebelumnya, pengajar tetap mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan untuk memastikan santri menerima materi yang relevan dan sesuai dengan program pembelajaran yang ada.
Disisi lain, ustadzah Hidayati sebagai pengajar di kelompok wustho memiliki pandangan yang berbeda. Beliau menyadari pentingnya perencanaan dalam mengajar materi tajwid.
Ya, kalo saya sangat butuh perencanaan. Fokusnya kan membelajarkan anak-anak tajwid dengan lagu dan permainan. Dan tentunya saya harus menyiapkan itu semua.
Misalnya minggu ini belajar tentang hukum idzhar. ya saya buat lagu idzhar yang sekiranya santri cepet bisa.60
Ustadzah Hidayati mengakui bahwa perencanaan menjadi krusial ketika mengajar materi tajwid, termasuk menyiapkan lagu yang sesuai dengan kondisi santri. Dengan menyusun perencanaan, ustadzah Hidayati dapat mempersiapkan materi dengan lebih matang, termasuk memilih lagu-lagu yang relevan dan dapat
59 Ustadz Niam, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 13 Maret 2023.
60 Ustadzah Hidayati, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 14 Maret 2023.
membantu santri memahami konsep tajwid dengan lebih baik.
Perencanaan ini membantu ustadzah Hidayati dalam menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan efektif bagi santri di kelompok wustho.
Pernyataan yang senada disampaikan oleh ustadzah Lilik selaku pengajar kelompok ula:
Kalau saya tetap menyiapkan materi. Kelompok ula itu rata- rata masih anak-anak ya, bahkan ada yang masih umur 4 tahun. Di umur mereka kan masih suka-sukanya main, ya saya sebisa mungkin mengajarkan pakai nyanyian, seperti bernyanyi macam-macam surga dan neraka, nama-nama nabi dan rasul.61
Santri di TPA Bustanul Ulum memiliki kebiasaan yang telah menjadi rutinitas sebelum dimulainya kegiatan pembelajaran.
Meskipun kegiatan mengaji dijadwalkan mulai pukul 15.00, santri biasanya tiba di TPA sekitar pukul 14.30. Waktu ini dimanfaatkan oleh santri untuk berinteraksi dan bercanda satu sama lain, menciptakan suasana yang ramai dan penuh kegembiraan sebelum memulai pembelajaran.62
Ketika salah satu pengajar tiba di TPA, semua santri segera bersiap-siap untuk melaksanakan shalat ashar berjamaah. Shalat ashar berjamaah merupakan bagian penting dalam rutinitas keagamaan di TPA Bustanul Ulum. Setelah shalat, dilanjutkan dengan kegiatan dzikir bersama yang dipimpin oleh imam.
61 Ustadzah Lilik, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 15 Maret 2023.
62 Observasi di TPA Bustanul Ulum, 6 Maret 2023.
Setelah sesi dzikir, para santri melanjutkan dengan membaca ayat kursi dilanjutkan dengan melantunkan asma’ul husna dan membaca do’a sebelum mengaji secara bersama-sama. Setelah do’a, santri langsung bergabung dengan kelompoknya masing-masing.
Rutinitas sebelum pembelajaran ini mencerminkan kegiatan keagamaan yang diintegrasikan dengan proses pembelajaran di TPA Bustanul Ulum. Dengan memulai pembelajaran dengan kegiatan religius, santri diajak untuk menanamkan nilai-nilai agama dalam setiap aspek kehidupan mereka, termasuk dalam proses belajar mengajar.
b. Pelaksanaan Pembelajaran
Pembelajaran di TPA Bustanul Ulum dimulai setelah do’a bersama dan santri menyesuaikan tempat dengan berkumpul sesuai dengan kelompoknya. Bagi santri yang masih berada dalam kelompok ula, mereka diwajibkan oleh ustadzah untuk menulis apa yang akan dibaca. Sesi menulis ini bertujuan agar santri terbiasa menulis dengan bahasa Arab sejak dini sebagai persiapan untuk kemajuan mereka ke kelompok yang lebih tinggi.63
Selama sesi menulis, santri secara bergantian dipanggil oleh ustadzah untuk mengaji terlebih dahulu. Setelah mereka selesai menulis apa yang akan dibaca, tulisan-tulisan tersebut diserahkan kepada ustadzah untuk dinilai. Ustadzah yang mengajar kelompok
63 Ustadzah Lilik, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 15 Maret 2023.
Ula juga memanfaatkan waktu sebelum pulang untuk mengajarkan hafalan surat-surat, do’a harian dan hadits kepada santri.64
Sementara itu, pembelajaran untuk kelompok ‘aly diawali dengan membaca Al-Qur’an satu per satu di depan para asatidz.
Setiap santri akan mendapatkan giliran membaca Al-Qur’an, sedangkan santri yang belum mendapat giliran akan membaca Al- Qur’an sendiri terlebih dahulu. Setelah semua santri selesai mengaji, pengajar akan memberikan penjelasan materi yang akan dipelajari.
Pada kelompok wustho, kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Pengajar akan menyiapkan materi terlebih dahulu, kemudian santri dipanggil untuk mengaji secara bergantian. Setelah semua santri selesai mengaji, pengajar akan menjelaskan materi yang telah mereka tulis di buku masing-masing. Namun, pada hari Selasa pembelajaran kelompok wustho difokuskan pada pemahaman ilmu tajwid. Pada minggu pertama, materi ilmu tajwid akan dijelaskan dan santri akan bernyanyi bersama. Sementara pada minggu kedua, dilakukan evaluasi melalui permainan yang sesuai dengan materi yang telah dijelaskan pada minggu sebelumnya.
Setidaknya ada beberapa tahap yang dilakukan oleh asatidz dalam proses pembelajaran di semua kelompok, diantaranya yaitu:
64 Observasi di TPA Bustanul Ulum, 6 Maret 2023.
1) Kegiatan Awal
Kegiatan awal atau pembukaan merupakan bagian penting dalam pembelajaran. Pada tahap ini, asatidz menciptakan suasana belajar yang memungkinkan santri siap mengikuti aktivitas pembelajaran secara fisik dan psikis.
Kegiatan awal ini melibatkan beberapa elemen, seperti salam dan yel-yel yang membantu mengkondisikan santri agar siap dan fokus untuk belajar.
Pada awal pembelajaran, asatidz biasanya membuka sesi dengan memberikan salam kepada santri.65 Salam ini melambangkan adanya hubungan yang baik antara asatidz dan santri. Salam juga dapat menjadi tanda dimulainya pembelajaran dan mengajarkan kepada santri tentang pentingnya sopan santun dalam berinteraksi.
Selanjutnya, pengajar menggunakan yel-yel sebagai bagian dari kegiatan awal. Yel-yel ini bertujuan untuk mengkondisikan para santri, membangkitkan semangat dan motivasi mereka untuk belajar.66 Yel-yel ini dapat berupa rangkaian kata atau kalimat yang melibatkan santri lebih aktif, seperti:
Pengajar : Santri TPA Bustanul Ulum Santri : Cinta Qur’an, Hebat!
65 Observasi di TPA Bustanul Ulum, 6 Maret 2023.
66 Ustadzah Hidayati, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 14 Maret 2023.
Melalui kegiatan awal ini, pengajar berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, memotivasi dan penuh semangat. Dengan memperkenalkan salam dan melibatkan santri dalam yel-yel, diharapkan santri dapat merasa terhubung dengan pembelajaran dan siap untuk berpartisipasi secara aktif. Kegiatan awal ini juga dapat membantu meningkatkan keterlibatan dan minat belajar santri sejak awal pembelajaran.
2) Kegiatan Inti
Implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid sesuai dengan hasil observasi dan wawancara dengan ustadzah Hidayati melibatkan serangkaian proses pembelajaran. Langkah-langkah penerapan metode tersebut yaitu:67
a) Menulis materi lagu: pembelajaran dimulai dengan menuliskan satu materi tajwid dalam bentuk lagu di papan tulis. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian santri dan memperkenalkan materi tajwid melalui lagu.
b) Membacakan dan mendengarkan: ustadzah membacakan lagu secara berulang dengan irama sambil santri memperhatikan terlebih dahulu. Tujuan dari langkah ini adalah memperkenalkan irama lagu tajwid kepada santri.
67 Observasi di TPA Bustanul Ulum, 6 Maret 2023.
c) Bernyanyi bersama: setelah santri memperhatikan, ustadzah mengajak santri untuk ikut serta dalam nyanyian bait per bait. Santri diajak untuk ikut menyanyi lagu tajwid dengan bimbingan ustadzah.
d) Bernyanyi tanpa didampingi: setelah santri terbiasa dengan lagu tajwid, ustadzah memberikan kesempatan kepada santri untuk menyanyikan lagu tersebut secara mandiri tanpa didampingi oleh suara dari ustadzah. Hal ini bertujuan untuk menguji pemahaman santri terhadap materi tajwid dan melatih kepercayaan diri mereka.
e) Penjelasan hukum tajwid: setelah santri memiliki pemahaman dasar melalui lagu, ustadzah menjelaskan hukum tajwid yang terkait dengan materi tersebut. Ustadzah memberikan contoh bacaan yang sesuai dengan materi tajwid yang diajarkan.
f) Mencatat materi: santri diminta untuk menuliskan materi tajwid yang telah diajarkan ke dalam buku tulis mereka.
Langkah ini bertujuan untuk mengaktifkan keterlibatan santri dalam proses pembelajaran dan memperkuat pemahaman mereka melalui kegiatan menulis.
Berikut salah satu contoh lagu materi pembagian hukum nun sukun dan tanwin yang dinyanyikan dengan irama lagu ilir- ilir.
Nun sukun dan tanwin mempunyai lima hukum Yang harus kita amalkan bila ingin baca Al-Qur’an 2x Yang pertama, idzhar halqi
Yang kedua, idgam bigunnah Allah, Allah, Allah
Yang ketiga, idgam bilagunnah Empat iqlab, lima ikhfa’ 2x
Dengan menggunakan lagu dan bernyanyi sebagai bagian dari metode joyfull learning, pembelajaran tajwid menjadi lebih menarik bagi santri. Selama proses pembelajaran, terlihat bahwa santri merasa senang dan antusias saat menyanyikan materi ilmu tajwid. Melalui penggunaan lagu dan bernyanyi, kegiatan ini disukai oleh anak-anak. Melantunkan lagu secara bersama-sama dapat membangkitkan semangat para santri, meningkatkan keterlibatan mereka dan membuat pembelajaran lebih menyenangkan.
3) Kegiatan Penutup
Setelah proses pengajaran dan pembelajaran tajwid dilakukan, asatidz melakukan tahap penutupan yang melibatkan interaksi antara asatidz dan santri. Pada tahap ini, asatidz menyampaikan kesimpulan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Selanjutnya, asatidz memberikan kesempatan kepada santri untuk bertanya jika ada hal yang belum dipahami
atau membutuhkan klarifikasi lebih lanjut.68 Dengan memberikan kesempatan untuk bertanya, asatidz dapat memastikan bahwa santri memiliki pemahaman yang baik tentang materi yang telah diajarkan.
Setelah itu, asatidz memberikan nasihat dan motivasi kepada santri. Tujuannya adalah untuk mendorong semangat dan motivasi belajar santri serta memberikan dorongan agar mereka terus bersemangat dalam mengaji dan memperdalam ilmu. Kemudian, santri bersama-sama membaca do’a kafaratul majlis serta asatidz mengucapkan salam sebagai tanda untuk mengakhiri sesi pembelajaran.
c. Evaluasi Pembelajaran
Pada kelompok aly yang memiliki program khusus dalam membaca kitab, dilakukan evaluasi melalui ujian tulis. Ujian tulis tersebut diadakan setelah menyelesaikan satu bab dalam kitab yang sedang dipelajari. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai sejauh mana pemahaman santri terhadap materi yang telah dipelajari.
Dengan demikian, pengajar dapat memantau perkembangan santri dan memberikan arahan yang sesuai. Berdasarkan wawancara dengan ustadzah Bilqis:
Di kelompok ‘aly itu pembelajarannya lebih khusus dan tingkat kesulitan akan lebih tinggi. Contohnya saja saat ngaji kitab aqidatul awam, kalo di kelompok wustho hanya sebatas menjelaskan mufrodat perkata. Lain lagi di kelompok ‘aly,
68 Observasi di TPA Bustanul Ulum, 6 Maret 2023.
penjelasannya jauh lebih dalam dan setiap selesai satu bab, ada ujiannya.69
Bagi kelompok ula dan wustho, tersedia buku hafalan sebagai penunjang dalam proses naik ke kelompok yang lebih tinggi. Santri yang ingin menghafal dapat menghadap langsung kepada pengajar masing-masing kelompok. Setelah santri benar-benar menghafal dengan baik, pengajar akan memberikan keterangan hafal yang ditandai dengan tanda tangan pengajar.
Dengan adanya buku hafalan yang diberikan, proses penghafalan menjadi lebih terstruktur dan terpantau dengan baik.
Santri memiliki panduan yang jelas untuk menghafal dan dapat memperoleh pengakuan atas usaha dan prestasi mereka dalam menghafal. Ini juga dapat memotivasi santri untuk terus berusaha meningkatkan hafalan mereka.
Adapun ungkapan yang disampaikan oleh ustadzah Hidayati selaku pengajar materi ilmu tajwid yaitu:
69 Ustadzah Bilqis, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 16 Maret 2023.
Gambar 4.3 Buku hafalan santri
Kalau sudah menjelaskan dan mencontohkan materi tajwid yang baru diajarkan, di hari itu saya biasanya menunjuk santri secara acak atau santri bisa angkat tangan kalau tahu jawabannya. Kalau jawabannya benar, ya mereka boleh pulang lebih dulu. Kalau misalnya waktu sudah jam 5 lebih, ya evaluasinya saya lakukan di minggu depannya.70
Dalam pembelajaran tajwid untuk kelompok wustho, evaluasi dapat dilakukan pada hari yang sama setelah penjelasan materi tajwid atau pada minggu kedua dengan menggunakan permainan sebagai sarana evaluasi. Hasil dari observasi dan wawancara menunjukkan bahwa evaluasi pada minggu kedua biasanya dilaksanakan melalui permainan. Ustadzah Hidayati menyampaikan bahwa “Media yang digunakan selain papan tulis, saya membuat sendiri dari kertas gitu. Supaya mudah saja dalam menerapkannya.”71
Permainan yang dilakukan dalam evaluasi masih sederhana, seperti menggunakan kertas tempel dan kartu arisan. Dalam permainan ini, pemahaman santri terhadap materi yang telah dijelaskan diuji. Santri akan diberikan pertanyaan terkait dengan tajwid dan mereka harus menjawab dengan benar. Jika santri memiliki pemahaman yang kurang baik, hal ini akan terlihat ketika mereka memberikan jawaban yang salah.
70 Ustadzah Hidayati, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 14 Maret 2023.
71 Ustadzah Hidayati, diwawancarai oleh Penulis, Jember, 14 Maret 2023.
Dengan menggunakan permainan sebagai bentuk evaluasi, pengajar dapat mengamati sejauh mana pemahaman santri terhadap materi tajwid. Kesalahan dalam menjawab pertanyaan menjadi indikator bagi pengajar untuk mengetahui area pemahaman yang masih perlu diperbaiki. Hal ini memungkinkan pengajar untuk memberikan bimbingan dan penguatan pada area yang masih lemah, sehingga santri dapat memperbaiki pemahaman mereka dalam mengenali dan menerapkan tajwid dengan lebih baik.
Dari pernyataan santri, mereka menyampaikan kegembiraan mereka saat pembelajaran tajwid dilaksanakan melalui lagu dan permainan. Metode tersebut membuat mereka lebih memahami materi dibandingkan dengan metode ceramah biasa. Namun, saat menggunakan game kertas tempel, mereka mengalami beberapa kesulitan terkait dengan media yang sediakan. Santri beranggapan bahwa tulisan pada kertas soal terlalu kecil, sehingga mereka mengalami sedikit kesulitan dalam membaca. Selain itu, mereka merasa bahwa jumlah soal yang diberikan terlalu sedikit, dengan
Gambar 4.4 Media pembelajaran tajwid