• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Hasil Penelitian

3. Gaya Kognitif

bawah yang mengukur kompetensi reproduksi. Soal-soal disusun berdasarkan konteks yang cukup dikenal oleh siswa dengan operasi matematika yang sederhana. Soal literasi matematis level 3 dan 4 termasuk kelompok soal dengan skala menengah yang mengukur kompetensi koneksi. Soal-soal skala menengah memerlukan interpretasi siswa karena situasi yang diberikan tidak dikenal atau bahkan belum pernah dialami oleh siswa. Sedangkan, soal literasi matematis level 5 dan 6 termasuk kelompok soal dengan skala tinggi yang mengukur kompetensi refleksi. Soal-soal ini menuntut penafsiran tingkat tinggi dengan konteks yang sama sekali tidak terduga oleh siswa. (Maryanti, 2012).

kecenderungan perbedaan tingkat inteligensi dan kemampuan yang dimilikinya lebih besar.

Blackman dan Goldstain seperti dikutip oleh Hallahan, Kauffman, dan Lloyd (dalam Abdurrahman Mulyono, 2012:134), mengemukakan bahwa gaya kognitif terkait dengan bagaimana seseorang berfikir (how of thinking). Mereka berpandangan bahwa tiap orang memiliki gaya kognitif (cognitive style) yang berbeda- beda dalam menghadapi tugas-tugas pemecahan masalah.

Berbagai gaya kognitif tersebut merupakan suatu sifat kepribadian yang relatif menetap, sehingga dengan demikian dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku seseorang dalam menghadapi berbagai situasi.

Sementara itu, Slameto (2010) mengemukakan bahwa gaya kognitif merupakan Variabel penting yang mempengaruhi pilihan- pilihan siswa dalam bidang akademik, kelanjutan perkembangan akademik, bagaiamana siswa belajar serta bagaimana siswa dan guru berinteraksi di depan kelas.

Desmita (2009:146) menyimpulkan berdasarkan beberapa definisi tersebut bahwa yang dimaksud dengan gaya kognitif adalah karakteristik siswa dalam dalam penggunaan fungsi kognitif (berpikir, mengingat, memecahkan masalah, membuat keputusan, mengorganisasi, dan memproses informasi) yang bersifat konsisten dan berlangsung lama. Jadi, setiap siswa memiliki gaya kognitif

yang berbeda dalam memproses informasi atau menghadapi suatu tugas dan masalah.

Gaya kognitif mempunyai hubungan positif atau negatif dengan motiVasi dan prestasi akademik, tergantung pada sifat belajarnya.

Witkin (dalam Fadiana, 2016) menguraikan empat karakteristik gaya kognitif. Pertama, lebih menaruh perhatian pada bentuk daripada isi aktivitas kognitif. Hal ini mengacu pada perbedaan idiVidu bagaimana merasa, memiliki, memecahkan masalah, belajar, dan berhubungan dengan orang lain. Kedua, gaya kognitif merupakan dimensi yang menembus. Ketiga, gaya kognitif bersifat tetap, tetapi bukan berarti tidak dapat berubah. Pada umumnya jika orang memiliki gaya kognitif tertentu pada suatu saat tertentumaka gaya kognitif tersebut pada hari, bulan, dan bahkan tahun berikutnya relatif tetap. Keempat, dengan mempertimbangkan nilai, gaya kognitif bersifat bipolar (dua kutub). Karakteristik ini penting untuk membedakan antara kemampuan intelektual dengan kemampuan yang lainnya.

b. Jenis-jenis Gaya Kognitif

Nasution (2010) membedakan gaya kognitif secara lebih spesifik dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar, meliputi:

1) Field dependent – field independent.

Peserta didik yang field dependent sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau bergantung pada lingkungan dan pendidikan

sewaktu kecil, sedangkan field independent tidak atau kurang dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan masa lampau.

2) Impulsif – refleksif.

Orang yang impulsif mengambil keputusan dengan cepat tanpa memikirkan secara mendalam. Sebaliknya orang yang reflektif mempertimbangkan segala alternatif sebelum mengambil keputusan dalam situasi yang tidak mempunyai penyelesaian yang mudah.

3) Perseptif – reseptif.

Orang yang perseptif dalam mengumpulkan informasi mencoba mengadakan organisasi dalam hal-hal yang diterimanya, ia menyaring informasi yang masuk dan memperhatikan hubungan- hubungan diantaranya. Orang yang reseptif lebih memperhatikan detail atau perincian informasi dan tidak berusaha untuk membulatkan informasi yang satu dengan yang lain.

4) Sistematis – intuitif.

Orang yang sistematis mencoba melihat struktur suatu masalah dan bekerja sistematis dengan data atau informasi untuk memecahkan suatu persoalan. Orang yang intuitif langsung mengemukakan jawaban tertentu tanpa menggunakan informasi sistematis.

Berdasarkan beberapa jenis gaya kognitif tersebut, yang menjadi fokus penelitian peneliti adalah gaya kognitif reflektif dan impulsif.

c. Gaya Kognitif Reflektif

Dewey (dalam Priyatni, Hamidah, dan Adi, 2017:17) memaknai berpikir reflektif sebagai pemberian pertimbangan, aktif, gigih, dan hati-hati terhadap keyakinan atau bentuk pengetahuan dan mendukung konsekuensi yang ditimbulkan atau yang muncul dari pemberian pertimbangan tersebut. Sementara itu, Santrock (dalam Desmita, 2009:146) menjelaskan siswa yang memiliki gaya kognitif reflektif mempunyai karakteristik cenderung menggunakan lebih banyak waktu untuk merespon dan merenungkan akurasi jawaban.

Individu reflektif sangat lamban dan berhati-hati dalam memberikan respons, tetapi cenderung memberi jawaban secara benar.

Individu dengan gaya belajar reflektif ini adalah bila orang tersebut lebih menyukai, elisitasi, diskusi, debat, dan seminar dalam proses pembelajaran. Seorang reflektor sangat mempertimbangkan pengalaman dan memandang dari beberapa perspektif yang berbeda. Pengumpulan data menjadi sangat penting bagi para reflektor karena hal tersebut menjadi pertimbangan utamanya dalam membuat sebuah kesimpulan. Para reflektor menyukai, mengobservasi oaring lain dalam beraktivitas, mereka mendengarkan orang lain, mendapatkan inti-inti dari

pembicaraannya tersebut dan membuat poun-poinnya sendiri.

Dengan begitu, mereka cenderung terlihat low profile dan memiliki toleransi yang tinggi (Ghufron & Risnawati, 2014:106).

d. Gaya Kognitif Impulsif

Siswa yang memiliki gaya impulsif cenderung memberikan respons secara cepat. Individu impulsif sejati adalah individu yang memberikan respons sangat cepat, tetapi juga melakukan sedikit kesalahan dalam proses tersebut (Desmita, 2009:14).

Sementara itu, Philip (dalam Dian Septi Nur Afifah, 2013 :17) mendefinisikan siswa impulsif adalah siswa yang dengan cepat merespon situasi, namun respon pertama yang diberikan sering salah. Siswa yang impulsif ialah siswa yang mempunyai karakteristik cepat dalam menyelesaikan soal, tetapi kurang cermat sehingga jawaban cenderung salah.

e. Perbedaan Gaya Kognitif Reflektif dan Impulsif

Gaya kognitif relektif dan impulsif memiliki beberapa perbedaan.

Perbedaan gaya kognitif reflektif dan gaya kognitif impulsif tersebut dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut.

Tabel 2.2 Perbedaan Sifat Siswa Reflektif dan Impulsif

Siswa Reflektif Siswa Impulsif

1) Untuk menjawab digunakan waktu lama.

2) Jawaban lebih tepat (akurat).

3) Menyukai masalah analog.

4) Menggunakan paksaan dalam mengeluarkan berbagai

1) Cepat memberikan jawaban tanpa mencermati terlebih dahulu.

2) Pendapat kurang akurat.

3) Tidak menyukai jawaban masalah yang analog.

kemungkinan.

5) Menggunakan strategis dalam menyelesaikan masalah.

6) Reflektif terhadap kesusastraan IQ tinggi.

7) Berpikir sejenak sebelum menjawab.

8) Berargumen lebih matang.

4) Menggunaka hypothesis- scaning, yaitu merujuk pada satu kemungkinan saja.

5) Kurang strategis dalam menyelesaikan masalah.

Sumber : Kagan (1965)

Mencermati perbedaan siswa reflektif dan impulsif pada tabel tersebut, siswa reflektif memiliki banyak aspek positif yang bisa bisa menunjang kesuksesan belajar. Siswa impulsif memiliki banyak sapek negatif dalam menunjang kesuksesan belajar. Perbedaan ini akan berakibat pada cara belajar dari masing-masing siswa.

Dibandingkan siswa yang impulsif, siswa yang reflektif juga lebih mungkin untuk menentukan sendiri tujuan belajar dan berkonsentrasi pada informasi yang relevan. Murid reflektif biasanya standar kerjanya tinggi. Banyak bukti menunjukkan murid reflektif lebih efektif dan baik dalam pelajaran sekolah dibandingkan dengan murid impulsif (Santrock dalam Desmita, 2009).

Sementara itu, menurut Ghufron dan Risnawati (2014:108) kelebihan yang dimiliki reflektor adalah memiliki tingkat kehati- hatian yang tinggi sehingga hal tersebut juga berdampak pada kemampuannya dalam menyimpulkan sesuatu. Selain itu reflektor juga senang mendengarkan orang lain, kemampuan menjadi pendengar yang baik tersebut membuat reflektor disukai orang lain.

Kekurangan dari reflektor yaitu tidak berani mengambil resiko dan

mereka cenderung lambat dalam mengambil keputusan serta kurang asertif terhadap apa yang dirasaknnya.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat dipahami bahwa gaya kognitif reflektif merupakan karakteristik gaya kognitif yang dimiliki siswa memecahkan masalah dan membuat keputusan dengan waktu yang lama tapi akurat sehingga jawaban cenderung benar.

Sedangkan gaya kognitif impulsif merupakan karakteristik gaya kognitif yang dimiliki siswa dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan dengan waktu yang singkat tetapi kurang akurat sehingga jawaban cenderung salah.

f. Pengukuran Gaya Kognitif Reflektif-Impulsif

Gaya kognitif reflektif dan gaya kognitif impulsif dapat ditentukan dengan menggunakan instrument Matching Familiar Figure Test (MFFT) yang dikembangkan oleh Kagan. MFFT adalah instrument yang khas untuk menilai gaya kognitif reflektif impulsif (Rozencwajg & Corroyer, 2005). MFFT merupakan instrument yang secara luas banyak digunakan untuk mengukur kecepatan kognitif (Kenny, 2007). MFFT terdiri dari satu gambar standar dan enam Variasi gambar yang serupa, tetapi hanya satu gambar yang sama dengan gambar standar. Namun, instrument MFFT yang digunakan pada penelitian ini adalah instrumen yang dikembangkan oleh Warli (2010) yang terdiri dari dua item soal percobaan dan 13 item soal.

Pada tiap-tiap item terdiri dari satu gambar standar dan delapan

Variasi gambar dengan hanya satu gambar yang tepat atau sesuai dengan gambar standar. Adapun 13 gambar MFFT, meliputi : gambar pohon, bangun datar membentuk kepala manusia, baju seragam, bunga matahari, penggaris, burung, kapal, diagram garis, buah jambu mente, anak berseragam sekolah busur tukang becak, dan diagram batang.

Dalam menentukan siswa reflektif dan impulsif, maka digunakan median yang diambil dari nilai tengah siswa setelah diurutkan dari yang terkecil sampai yang terbesar. Kelompok impulsif diambil dari siswa yang menggunakan waktu (t) < batas median yang sudah ditentukan dan frekuensi menjawab (f) > batas median yang ditentukan. Sedangkan kelompok reflektif diambil dari siswa yang menggunakan waktu (t) > batas median yang ditentukan dan frekuensi menjawab (f) < batas median yang ditentukan.

Matching Familiar Figure Test (MFFT) membagi subjek menjadi empat kelompok, yaitu sebagai berikut :

1) kelompok siswa cepat dan cermat (fast accurate) 2) kelompok siswa lambat dan cermat (reflektif);

3) kelompok siswa cepat dan tidak cermat (Impulsif); dan 4) kelompok siswa lambat dan tidak cermat (slow innaccurate)

Berdasakan pembagian kelompok tersebut, ditetapkan batas waktu dan batas kesalahan yang terletak sepanjang sumbu vertikal

dan sumbu horizontal yang berpotongan dan inilah yang membagi indivdu ke dalam kuadran yang meliputi empat kelompok.

Siswa dikatakan cepat menjawab, apabila waktu yang digunakan untuk menjawab adalah lebih kecil dari batas waktu ideal yang telah ditetapkan. Siswa disebut lambat dalam menjawab apabila waktu yang digunakan untuk menjawab lebih besar dari batas waktu ideal yang telah ditetapkan. Siswa dikatakan akurat dalam menjawab, apabila banyaknya kesalahan lebih kecil dari batas kesalahan ideal yang telah ditetapkan. Siswa dikatakan tidak akurat dalam menjawab, apabila banyaknya kesalahan lebih besar dari batas kesalahan ideal yang telah ditetapkan.

Dokumen terkait