• Tidak ada hasil yang ditemukan

Literasi Matematika a. Pengertian Literasi

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Hasil Penelitian

2. Literasi Matematika a. Pengertian Literasi

Literasi yang dalam bahasa Inggrisnya literacy berasal dari bahasa Latin littera (huruf) yang pengertiannya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi-konvensi yang menyertainya (Septiani, 2017). Namun demikian, literasi utamanya berhubungan dengan bahasa dan bagaimana bahasa itu digunakan. Adapun sistem bahasa tulis itu sifatnya sekunder.

Manakala berbicara mengenai bahasa, tentunya tidak lepas dari pembicaraan mengenai budaya karena bahasa itu sendiri merupakan bagian dari budaya. Sehingga, pendefinisian istilah literasi tentunya harus mencakup unsur yang melingkupi bahasa itu sendiri, yakni situasi social budayanya. Berkenaan dengan ini Kern (dalam Septiani, 2017) mendefinisikan istilah literasi secara komprehensif sebagai berikut:

Literacy is the use of socially-, and historically-, and culturallysituated practices of creating and interpreting meaning through texts. It entails at least a tacit awareness of the relationships between textual conVentions and their context of use and, ideally, the ability to reflect critically on those relationships. Because it is purpose-sensitiVe, literacy

is dynamic – not static – and Variable across and within discourse communities and cultures. It draws on a wide range of cognitiVe abilities, on knowledge of written and spoken language, on knowledge of genres, and on cultural knowledge.

Artinya, literasi adalah penggunaan praktik-praktik situasi sosial, dan historis, serta kultural dalam menciptakan dan menginterpretasikan makna melalui teks. Literasi memerlukan setidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap tentang hubungan- hubungan antara konvensi-konvensi tekstual dan konteks penggunaanya serta idealnya kemampuan untuk berefleksi secara kritis tentang hubungan-hubungan itu. Karena peka dengan maksud/ tujuan, literasi itu bersifat dinamis – tidak statis – dan dapat berVariasi di antara dan di dalam komunitas dan kultur diskursus/ wacana.

Sementara itu, Maulidi (2016) menjelaskan pengertian literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa literasi memerlukan kemampuan yang kompleks, yaitu serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre dan kultural. Berkaitan dengan pendapat Maulidi yang menjelaskan bahwa literasi adalah membaca, maka perintah mebaca juga terdapat dalam surah Al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi :

Artinya :

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah ,menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahui.

Iqra’ (Bacalah)! merupakan bentuk lain dari literasi yang dinisbatkan kepada kaum terpelajar. Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap manusia diperintahkan untuk banyak membaca agar mereka dapat mengetahui apa yang tidak diketahui.

b. Kemampuan Literasi Matematika

Menurut Wahyudin dan Kusumah (dalam Abidin, Mulyati, Yunansah, 2017:103), literasi matematika adalah kemampuan untuk mengeksplorasi, menduga, dan bernalar secara logis, serta menggunakan berbagai metode matematika secara efektif untuk menyelesaikan masalah. Sementara itu, menurut Kusumah, literasi matematika adalah kemampuan menyusun serangkaian pertanyaan (problem posing), merumuskan, memecahkan, dan menafsirkan permasalahan yang didasarkan pada konteks yang ada.

Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memecahkan suatu permasalahan tidak boleh tergesa-gesa. Mereka harus memiliki kemampuan dalam memahami, menganalisa, dan merumuskan

permasalahan yang ada. Di era digital sekarang ini, merupakan momentum “banjir” literasi, sehingga banyak sumber-sumber yang beredar yang belum jelas kebenarannya. Dalam memperoleh pengetahuan, maka diperlukan penelaahan lebih lanjut dari suatu informasi tersebut. Dalam bahasa arab disebut tabayyun atau menganalisa kebenaran terhadap informasi atau juga bisa dikatakan dengan mencari kejelasan hakikat informasi atau ilmu atau kebenaran suatu fakta dan informasi dengan cermat, teliti, seksama dan tidak tergesa-gesa. Seperti yang tertera dalam QS.

Al-Anbiya ayat 37 yang berbunyi yang berbunyi :

Artinya :

“Manusia telah dijadikan bertabiat tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.

Ayat tersebut mengatakan bahwa watak manusia itu tergesa- gesa sehingga bergegas mengambil keputusan atau kesimpulan.

Dalam mendapatkan suatu informasi, maka Al-Qur‟an menganjurkan kaum muslim untuk berpikir dan merenungi informasi tersebut, sehingga jika suatu pengetahuan telah datang dari generasi terdahulu, maka tidak langsung mengaplikasikan kecuali

setelah memikirkan dan merenungi dalam-dalam hingga mendapat bukti kebenaran bahwa pengetahuan tersebut terdapat kebaikan.

Menurut Kusumah (dalam Maryanti, 2012:16) „literasi matematika adalah kemampuan menyusun serangkaian pertanyaan (problem posing), merumuskan, memecahkan dan menafsirkan permasalahan yang didasarkan pada konteks yang ada‟. Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Isnaini (Maryanti, 2012:16) yang mendefinisikan literasi sebagai kemampuan peserta didik untuk dapat mengerti fakta, konsep, prinsip, operasi, dan pemecahan masalah matematika. Sejalan dengan hal tersebut, menurut OECD (2013) literasi matematika adalah kapasitas siswa untuk merumuskan, menerapkan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks.

Sementara itu, Ojose (2011) menyatakan bahwa literasi matematika merupakan pengetahuan untuk mengetahui dan menggunakan dasar matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pengertian ini, siswa yang memiliki kemampuan literasi matematika yang baik memiliki kepekaan konsep-konsep matematika mana yang releVan dengan fenomena atau masalah yang dihadapi. Dari kepekaan ini kemudian dilanjutkan dengan pemecahan masalah dengan menggunakan konsep matematika.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, literasi matematika terkait dengan permasalahan yang terjadi dalam dunia nyata dan

lebih dari sekedar mengingat kembali fakta-fakta dasar, menggunakan algoritme hafalan, dan melakukan perhitngan sederhana. Literasi matematika melibatkan pemahaman terhadap aktiVitas matematis, penggunaan pengetahuan dan kemampuan matematis, penalaran, serta bahasa untuk menyelesaikan masalah dalam berbagai keadaan dan kebutuhan. Lterasi matematika ini sangat penting jika ingin benar-benar memahami informasi yang ada di sekeliling kita dalam kehidupan modern ini. Seseorang tidak dapat dikatakan sebagai literat matematis jika ia tidak dapat menerapkan pengetahuan matematikanya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. Dalam hal ini, ketika seseorang mampu berkomunikasi matematika, baik secara tertulis maupun lisan dengan melibatkan kemampuan membaca, memahami, dan menulis tentang matematika, artinya ia telah menggunakan kemampuan literasi matematikanya (Abidin, Mulyati, Yunansah, 2017:104).

Literasi matematika merupakan salah satu domain yang diukur dalam studi The Programme for International Student Assessment (PISA). Adapun pengertian literasi matematika menurut PISA 2015 adalah sebagai berikut.

“Mathematical literacy is an indiVidual’s capacity to formulate, employ, and interpret mathematics in a Variety of contexts. It includes reasoning mathematically and using mathematical concepts, procedures, facts and tools to describe, explain and predict phenomena. It assists indiViduals to recognise the role that mathematics plays in

the world and to make the well -founded judgments and decisions needed by constructiVe, engaged and reflectiVe citizens.”(OECD dalam Fathani, 2016).

Literasi matematika merupakan kapasitas individu untuk memformulasikan, menggunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Hal ini meliputi penalaran matematik dan pengunaan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan mempresiksi fenomena. Hal ini menuntun indiVidu untuk mengnali peranan matematika dalam kehidupan dan membuat penilaian yang baik dan pengambilan keputusan yang dibutuhkan oleh penduduk yang konstruktif, dan reflektif.

Dalam konteks PISA, literasi matematika dianggap sebagai salah satu komponen penting yang dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan soal-soal PISA. Soal-soal PISA sangat menuntut kemampuan penalaran, komunikasi, dan pemecahan masalah.

Seseorang dikatakan mampu menyelesaikan masalah apabila mampu menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal (Lencher dalam Abidin, Mulyati, Yunansah, 2017:101). Dalam menyelesaikan soal-soal PISA, diperlukan kemampuan matematika yang melibatkan beberapa kemampuan antara lain mengomunikasikan masalah, matematisasi, representasi, menalar dan member alas an, menggunakan strategi untuk memecahkan masalah,

menggunakan operasi dan bahasa symbol, bahasa formal,dan bahasa teknis, serta menggunakan alat-alat matematika (OECD, 2013). Oleh sebab itu, soal-soal PISA menuntut kemampuan dalam menerapkan konsep-konsep matematika dalam berbagai bentuk dan situasi, serta kemampuan dalam bernalar dan memberi alasan tentang bagaimana soal itu dapat diselesaikan.

Literasi matematika dibagi menjadi beberapa dimensi, antara lain literasi numerik, literasi spasial, dan literasi data yang digambarkan dalam diagram berikut.

Sumber : de Lange (dalam Abidin, Mulyani, Yunansah, 2017) Gambar 2.1 Bidang Literasi Matematika

Literasi numerik adalah kemampuan seseorang untuk terlibat dalam penggunaan penalaran. Penalaran berarti menganalisis suatu pernyataan, melalui aktivitas memanipulasi bahasa matematika (simbol) yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari,

Literasi Matematika

Literasi Numerik

Literasi Spasial Literasi Data

Geometri dan

Pengukuran Bilangan

Aljabar Peluang

serta mengungkapkannya baik secara tulisan maupun lisan. Literasi spasial adalah kemampuan menggunakan kemampuan berpikir spasial untuk memvisualisasikan ide-ide, situasi, dan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan dunia di sekitar kita. Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, memahami, membuat, dan mengomunikasikan data sebagai sumber informasi yang disajikan dalam berbagai konteks (Abidin, Mulyani, & Yunansah, 2017:107).

Menurut OECD (dalam Abidin, Mulyani, & Yunansah, 2017) dalam PISA terdapat tujuh kemampuan matematika yang menjadi pokok dalam proses literasi matematika. Kemampuan pokok tersebut diuraikan sebagai berikut.

1) Komunikasi (communication). Literasi matematika melibatkan kemampuan dalam komunikasi, baik tertulis maupun lisan untuk menunjukkan bagaimana soal itu dapat diselesaikan.

2) Mematematisasi (mathematizing). Literasi matematika melibatkan kegiatan matematisasi, yaitu kemampuan mengubah masalah dalam konteks dunia nyata ke dalam kalimat matematika atau menafsirkan hasil penyelesaian atau model matematika ke dalam masalah konteks dunia nyata.

3) Representasi (representation). Literasi matematika melibatkan kemampuan merepresentasi suatu objek dan situasi matematika melalui aktiVitas memilih, menafsirkan, menerjemahkan, dan menggunakan berbagai bentuk representasi untuk menyajikan

suatu situasi. Misalnya, representasi dalam bentuk grafik, tabel, diagram, gambar, persamaan, rumus, atau benda-benda konkret.

4) Penalaran dan pemberian alasan (reasoning and argument).

Literasi matematis melibatkan kemampuan penalaran dan memberi alasan, yaitu kemampuan matematis yang berakar dari kemampuan berpikir.

5) Strategi untuk memecahkan masalah (devising strategies for solving problems). Literasi matematika memerlukan kemampuan dalam memilih atau menggunakan berbagai strategi dalam menerapkan pengetahuan matematis untuk dapat menyelesaikan masalah.

6) Penggunaan operasi dan bahasa simbol, bahasa formal, dan bahasa teknis (using symbolic, formal, and technical language and operations). Literasi matematika memerlukan penggunaan operasi dan bahasa simbol, bahasa formal, dan bahasa teknis yang melibatkan kemampuan memahami, menafsirkan, memanipulasi, dan memakai dari penggunaan ekspresi simbolik di dalam konteks matematika.

7) Penggunaan alat matematika (using mathematical tools).

Literasi matematika memerlukan penggunaan alat-alat matematika sebagai bentuan atau jembatan agar dapat menyelesaikan masalah. Hal ini melibatkan pengetahuan dan

ketermapilan dalam menggunakan berbagai alat-alat yang membantu aktiVitas matematis, misalnya dalam penggunaan alat ukur dan kalkulator.

Sedangkan menurut Ojose (2011), kemampuan pokok dalam literasi matematika terdiri dari delapan kemampuan, yaitu :

1) Penalaran dan berpikir matematis.

2) Argumentasi matematis.

3) Komunikasi matematis.

4) Pemodelan.

5) Merumuskan dan menyelesaikan masalah.

6) Representasi.

7) Penggunaan simbol.

8) Penggunaan alat dan teknologi.

Menurut OECD (dalam Setiawan, 2014) terdapat tiga kelompok kompetensi pada PISA terkait dengan literasi matematika, yaitu sebagai berikut.

1) Kelompok reproduksi

Pertanyaan pada PISA yang termasuk dalam kelompok reproduksi meminta siswa untuk menunjukkan bahwa mereka mengenal fakta, objek-objek dan sifat-sifatnya, ekuiValensi, menggunakan prosedur rutin, algoritma standar, dan menggunakan skill yang bersifat teknik. Item soal untuk

kelompok ini berupa pilihan ganda, isian singkat, atau soal terbuka (yang terbatas).

2) Kelompok koneksi

Pertanyaan pada PISA yang termasuk dalam kelompok koneksi meminta siswa untuk menunjukkan bahwa mereka dapat membuat hubungan antara beberapa gagasan dalam matematika dan beberapa informasi yang terintegrasi untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dalam konteks ini siswa diminta untuk menyelesaikan masalah yang non-rutin tapi hanya membutuhkan sedikit translasi dari konteks ke model (dunia) matematika.

3) Kelompok refleksi

Pertanyaan pada PISA yang termasuk dalam kelompok refleksi ini menyajikan masalah yang tidak terstruktur dan meminta siswa untuk mengenal dan menemukan ide matematika dibalik masalah tersebut. Kompetensi refleksi ini adalah kompetensi yang paling tinggi pada PISA, yaitu kemampuan bernalar dengan menggunakan konsep matematika. Mereka dapat menggunakan pemikiran matematikanya secara mendalam dan menggunakannya untuk memecahkan masalah.

Dalam melakukan refleksi ini, siswa melakukan analisis terhadap situasi yang dihadapinya, menginterpretasi, dan mengembangkan strategi penyelesaian mereka sendiri.

Secara sederhana, kemampuan literasi matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bagaimana kemampuan siswa dalam memahami dan menggunakan matematika dalam berbagai konteks untuk memecahkan masalah, serta mampu menjelaskan kepada orang lain bagaimana menggunakan matematika (Abidin, Mulyati, & Yunansah, 2017:100). Dalam hal ini, peneliti ingin melihat bagaimana siswa mampu menyelesaikan soal- soal yang diberikan dengan strategi pemecahan masalah yang diberikan serta bagaimana siswa mampu menjelaskan jawaban yang diberikan secara lisan kepada peneliti.

Adapun soal-soal yang diberikan kepada siswa berdasar pada enam indikator level literasi Matematika yang dikembangkan oleh PISA (OECD dalam Syawahid & Putrawangsa, 2017). Dengan soal- soal yang diberikan kepada siswa, peneliti dapat mengetahui apa- apa saja yang dapat dilakukan oleh siswa sehingga dari jawaban siswa tersebut, diperoleh kemampuan literasi Matematika siswa berada pada level berapa dengan berpedoman pada keenam level literasi Matematika yang dikembangkan oleh PISA. Keenam level tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 2.1 Kriteria Level Literasi Matematika

Level Deskripsi

1 a. Siswa dapat menjawab pertanyaan dengan konteks yang dikenal serta semua informasi yang releVan tesedia dengan pertanyaan yang jelas.

b. Siswa dapat mengidentifikasi informasi, dan

melakukan cara-cara yang umum berdasarkan instruksi yang jelas.

c. Siswa dapat menunjukkan suatu tindakan sesuai dengan stimulasi yang diberikan.

2 a. Siswa dapat menafsirkan dan mengenali situasi dengan konteks yang memerlukan kesimpulan langsung.

b. Siswa dapat memilah informasi yang releVan dari sumber tunggal, dan menggunakan cara penyajian tunggal.

c. Siswa dapat mengerjakan algoritma dasar, menggunakan rumus, melaksanakan prosedur atau kesepakatan.

d. Siswa dapat memberi alasan secara tepat dari hasil penyelesainnya

3 a. Siswa dapat melaksanakan prosedur dengan jelas, termasuk prosedur yang memerlukan keputusa secara berurutan.

b. Siswa dapat memecahkan masalah, dan menerapkan stratregi yag sederhana.

c. Siswa dapat menafsirkan dan menggunakan representasi berdasarkan sumber informasi yang berbeda dan mengemukakan alasannya secara langsung.

d. Siswa dapat mengkomunikasikan hasil interpretasi dan alasan mereka.

4 a. Siswa dapat bekerja secara efektif dengan model dalam situasi yang konkret tetapi kompleks yang mungkin melibatkan pembatasan untuk membuat asumsi.

b. Siswa dapat memilih dan menggabungkan representasi yang berbeda, termasuk pada simbol, menghubungkannya dengan situasi nyata.

c. Siswa dapat menggunakan berbagai keterampilannya yang terbatas dan mengemukakan alasan dengan beberapa pandangan dikonteks yang jelas.

d. Siswa dapat memberikan penjelasan dan mengomunikasikannya disertai argumentasi berdasar pada interpretasi dan tindakan mereka.

5 a. Siswa dapat mengembangkan dan bekerja dengan model untuk situasi kompleks, mengidentifikasi masalah, dan menetapkan asumsi.

b. Siswa dapat memilih, membandingkan, dan

mengeValuasi dengan tepat strategi pemecahan masalah terkait dengan permasalahan kompleks yang berhubungan dengan model.

c. Siswa dapat bekerja secara strategis dengan menggunakan pemikiran dan penalaran yang luas, serta secara tepat menghubungkan representasi simbol dan karakteristik formal dan pengetahuan yang berhubungan dengan situasi.

d. Siswa dapat melakukan refleksi dari pekerjaan mereka dan dapat merumuskan dan mengkomunikasikan penafsiran dan alasan mereka.

6 a. Siswa dapat melakukan pengonsepan, generalisasi dan menggunakan informasi berdasarkan penelaahan dan pemodelan dalam suatu situasi yang kompleks dan dapat menggunakan pengetahuan diatas rata-rata.

b. Siswa dapat menghubungkan sumber informasi berbeda dan merepresentasi, dan menerjemahkan diantara keduanya dengan fleksibel. Siswa pada tingkatan ini memiliki kemampuan berfikir dan bernalar matematika yang tinggi.

c. Siswa dapat menerapkan pengetahuan, penguasaan, dan hubungan dari simbol dan operasi matematika, mengembangkan strategi dan pendekatan baru untuk menghadapi situasi yang baru.

d. Siswa dapat merefleksikan tindakan mereka dan merumuskan dan mengomunikasikan tindakan mereka dengan tepat dan menggambarkan sehubungan dengan penemuan mereka, penafsiran, pendapat, dan kesesuaian dengan situasi nyata.

Sumber : OECD (dalam Syawahid dan Putrawangsa, 2017)

Tabel tersebut menjelaskan tentang level kemampuan matematika yang dikembangkan oleh PISA. Seperti yang ada pada tabel 2.1, bahwa penilaian literasi matematis yang dilakukan oleh studi PISA ini terdiri dari 6 tingkatan atau level. Soal literasi matematis level 1 dan 2 termasuk kelompok soal dengan skala

bawah yang mengukur kompetensi reproduksi. Soal-soal disusun berdasarkan konteks yang cukup dikenal oleh siswa dengan operasi matematika yang sederhana. Soal literasi matematis level 3 dan 4 termasuk kelompok soal dengan skala menengah yang mengukur kompetensi koneksi. Soal-soal skala menengah memerlukan interpretasi siswa karena situasi yang diberikan tidak dikenal atau bahkan belum pernah dialami oleh siswa. Sedangkan, soal literasi matematis level 5 dan 6 termasuk kelompok soal dengan skala tinggi yang mengukur kompetensi refleksi. Soal-soal ini menuntut penafsiran tingkat tinggi dengan konteks yang sama sekali tidak terduga oleh siswa. (Maryanti, 2012).

Dokumen terkait