• Tidak ada hasil yang ditemukan

Subjek Penelitian Impulsif Dua (SPID)

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hasil Penelitian

2) Subjek Penelitian Impulsif Dua (SPID)

nak ?

SPIS : karena di dalam penghapus itu ada ruang bu, ruang itu adalah volumenya yang di dapat dari panjang x lebar x tinggi bu. Jadi berapa banyaknya ruang yang di tempati itu penghapus bu

PSI : begitu ya nak SPIS : iye bu

PSI : kalau pengahpusnya bentuknya kubus, rumusnya masih sama tidak

?

SPIS : beda mi bu

PSI ; baik, wawancaranya sudah selesai, terima kasih nak untuk waktunya

SPIS : iye bu sama-sama

Setelah melakukan wawancara kepada SPIS, dari hasil wawancara tersebut dapat dipaparkan bahwa pada soal nomor satu, SPIS dapat menjawab pertanyaannya dengan baik dan menjelaskan alasan dari jawabannya dengan jelas. SPIS dapat mengidentifikasi gambar penghapus tersebut dengan baik sesuai dengan apa yang dia kenali dari gambar tersebut berdasarkan instruksi yang jelas. Selain itu, dia juga dapat menjelaskan dengan baik kepanjangan dari setiap rumus yang dituliskan dan dapat menunjukkan yang mana panjang, lebar, dan tinggi dari gambar penghapus tersebut sesuai dengan stimulasi yang diberikan serta dapat menjelaskan apa itu volume. SPIS juga dapat membedakan rumus yang digunakan ketika gambarnya berbentuk balok dan persegi.

Matematika tersebut. Setelah diberikan soal tes literasi Matematika kepada subjek kedua siswa impulsif NL , hasil tes menunjukkan bahwa SPID (NL) hanya mampu mengerjakan satu soal dengan benar, yaitu soal nomor satu yang mengukur kemampuan literasi Matematika level 1. Soal tersebut menyajikan sebuah gambar penghapus dan meminta siswa untuk menentukan rumus volume dari penghapus tersebut. Di sisi lain, terdapat satu soal yang belum dapat dikerjakan dengan baik, yaitu soal nomor dua yang mengukur kemampuan literasi level 2. Dimana, SPID melakukan kesalahan pada hasil akhir perkalian, jawaban yang diperoleh adalah 160 dan jawaban yang benar adalah 1.600 . Sedangkan untuk soal nomor tiga sampai nomor enam yang mengukur kemampuan literasi level 3, 4, 5, dan sampai 6, SPID tidak dapat mengerjakannya dengan benar. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah jawaban SPID untuk nomor satu.

Gambar 4.8 Jawaban SPID untuk Soal Nomor 1

Dari hasil pengerjaan SPID tersebut, dapat dilihat bahwa jawaban siswa tersebut terkesan sangat singkat. SPID dapat mengerjakan soal nomor satu dengan benar. Siswa tersebut dapat

menjawab rumus volume penghapus dengan benar, yaitu p x l x t atau panjang x lebar x tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa SPID dapat menjawab pertanyaan dengan konteks yang dikenal dan dapat mengidentifikasinya bahwa itu adalah gambar penghapus yang berbentuk balok, sehingga jawaban yang dtuliskan adalah rumus balok bukan rumus bangun ruang yang lainnya.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat mengenai kemampuan literasi SPID, peneliti melakukan wawancara terkait hasil tesnya dalam menyelesaikan soal nomor satu yang mengukur kemampuan literasi Matematika level 1. Wawancara tersebut dilakukan pada tanggal 12 Maret 2020. Adapun hasil wawancara terkait jawaban SPID (Subjek Penelitian Impulsif Dua) yang dilakukan oleh PSI (Peneliti Subjek Impulsif) pada soal nomor satu adalah sebagai berikut :

PSI : baik kalau begitu kita ke nomor satu , apa yang kita tau di nomor satu ?

SPID : itu bu ada gambar penghapus faber castell PSI : mau di apakan penghapus itu nak ?

SPID : tunggu bu…. Disuruhki cari rumus volumenya bu PSI : trus apa jawaban ta?

SPID : v = p x l x t bu

PSI : apa itu p, l, dan t nak ?

SPID : p itu panjang, l itu lebar, dan t itu tinggi bu PSI : kenapa kita pake rumus itu nak ?

SPID : karena itu penghapus bu

PSI : kenapa kalo itu penghapus nak ?

SPID : kan penghapusnya itu berbentuk balok bu, jadi pake rumus itu mi PSI : baik, coba kita tunjukkan di gambarnya nak yang mana panjangnya,

lebarnya, dan tingginya !

SPID : yang ini ke sini panjangnya bu, yang ini lebarnya, dan yang ini tingginya bu

PSI : kalau volumenya itu yang mana nak ?

SPID : itu bu yang di dalam penghapus, yang ini

Setelah melakukan wawancara kepada SPID, dari hasil wawancara tersebut dapat dipaparkan bahwa pada soal nomor satu siswa tersebut dapat menjelaskan dengan baik jawaban yang dituliskan. Ketika diwawancarai, SPID dapat menjelaskan rumus volume dari penghapus tersebut. Dia menjelaskan bahwa penghapus tersebut berbentuk balok sehingga rumus yang digunakan adalah rumus volume balok, yaitu p x l x t, dimana p adalah panjang, l adalah lebar, dan t adalah tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa SPID dapat menjawab pertanyaan dengan konteks yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari yang dalam hal ini adalah penghapus. Selain itu, ketika siswa tersebut diminta untuk menunjukkan bagian dari panjang, lebar dan tinggi dari penghapus tersebut, dia dapat menunjukkan dengan benar bagian panjang, lebar, dan tingginya pada gambar penghapus tersebut.

Berdasarkan hasil analisis kemampuan literasi Matematika kedua siswa yang bergaya kognitif reflektif dan kedua siswa yang bergaya kognitif impulsif tersebut, maka kesimpulan dari hasil temuan dilapangan adalah bahwa siswa yang memiliki gaya kognitif relektif cenderung lebih akurat dan selalu berhati-hati dalam mengerjakan soal. Ketika diberikan tes literasi Matematika, siswa reflektif membaca berulang-ulang soal yang diberikan dan berpikir

lama untuk mencari jawaban dari permasalahan soal tersebut sampai menemukan strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah pada soal. Selain itu, ketika dilakukan wawancara terkait jawabannya siswa relektif tidak langsung memberikan jawaban, tetapi tampak berpikir terlebih dahulu sambil memperhatikan dengan seksama jawabannya kemudian menjawab pertanyaan dari peneliti.

Sehingga dari hasil pengerjaan tes literasi Matematika dan wawancara kepada kedua siswa reflektif tersebut, maka diperoleh bahwa kedua siswa tersebut memiliki kemampuan literasi Matematika yang berbeda. Subjek pertama memiliki kemampuan literasi Matematika level 2, hal tersebut terlihat dari kemampuan siswa dalam menjawab soal dengan situasi konteks yang dikenal oleh siswa serta siswa tersebut dapat menafsirkan dan mengenali situasi dengan konteks yang memerlukan kesimpulan langsung.

Sedangkan, subjek kedua memiliki kemampuan literasi Matematika level 3. Hal tersebut terlihat dari kemampuan siswa menjawab soal dengan prosedur yang jelas secara berurutan, dan mampu mampu menafsirkan serta menggunakan representasi berdasarkan informasi yang diperoleh dari soal sehingga dapat mengambil strategi yang tepat untuk menyelesaikan soal tersebut.

Kemampuan literasi Matematika yang berbeda dari kedua siswa relektif tersebut menunjukkan bahwa tidak semua siswa yang

bergaya kognitif reflektif memiliki kemampuan literasi Matematika yang sama. Subjek kedua lebih matang dalam mengambil keputusan dan menggunakan strategi untuk menyelesaikan masalah pada soal, dan bersikap tenang ketika mengerjakan soalnya. Sedangkan subjek pertama kurang matang dalam berpikir dan hanya mengandalkan rumus yang dihafalnya ketika mengerjakan soal, meskipun siswa tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan soal literasi Matematika tersebut. Hal demikian terjadi karena kedua siswa tersebut memiliki perbedaan usia 1 tahun, dimana subjek kedua memiliki usia 13 tahun dan subjek pertama memiliki usia 12 tahun. Selain itu, kedua siswa tersebut juga memiliki kemampuan intelektual yang berbeda.

Sementara itu, siswa yang bergaya kognitif impulsif kelihatan lebih tergesa-gesa dalam mengerjakan soal dan jawabannya cenderung salah karena sering kali memberikan jawaban yang kurang akurat. Ketika siswa impulsif tersebut mengerjakan soal literasi Matematika, pada awal mengerjakan soal siswa tersebut masih tenang dan nampak sedang memikirkan jawabannya.

Namun, ketika sudah menghabiskan waktu 15-20 menit siswa impulsif tersebut sudah gelisah ingin menyelesaikan jawabannya.

Siswa tersebut selalu melihat keluar kelas dan berbicara dengan temannya. Hal ini menunjukkan bahwa siswa impulsif tidak fokus

pada apa yang dikerjakan, sehingga akan berdampak pada hasil dari jawaban yang diberikan.

Sehingga dari hasil pengerjaan tes literasi Matematika dan wawancara kepada kedua siswa impulsif tersebut, maka diperoleh bahwa kedua siswa tersebut memiliki kemampuan literasi Matematika yang sama. Subjek pertama dan kedua memiliki kemampuan literasi Matematika level 1. Hal tersebut terlihat dari kemampuan siswa menyelesaikan soal dengan konteks yang dikenal serta semua informasi yang relevan tersedia dengan pertanyaan yang jelas. Selain itu, kedua siswa impulsif tersebut dapat mengidentifikasi informasi yang diperoleh dari soal dan ketika diberikan stimulus terkait dengan gambar penghapus, siswa impulsif tersebut dapat menunjukkan bagian-bagian dari penghapus tersebut dengan tindakan.

Dokumen terkait